Jam Digital

Selasa, 22 Oktober 2013

Sikumbang Pesawat Pengintai Ringan Bersenjata Buatan Nurtanio

Jauh sebelum hingar-bingar rencana pembuatan jet tempur KFX/IFX, tepatnya 1 Agustus 1954, sebuah pesawat ringan berkategori tempur sejatinya telah mengudara di tanah air. Itulah pesawat yang kemudian diberi nama NU-200 Sikumbang. Saat ini, monumen pesawat rancangan Mayor Udara Nurtanio ini dapat dilihat di kawasan pabrik PT. Dirgantara Indonesia di Bandung Jawa barat. Mungkin banyak pembaca telah mengetahui tentang pesawat ini. Tapi tahukah anda, filosofi dan hasil uji terbang Sikumbang sesungguhnya? Ternyata Mayor Udara Nurtanio sebagai perancang dan pembuat pesawat ini pernah menulisnya dalam Majalah Angkasa edisi TH.VI Oktober 1955. Berikut ini adalah intisarinya.

Ada salah kaprah dalam penggolongan jenis pesawat Sikumbang. Dalam literatur masa kini, disebutkan Sikumbang adalah jenis pesawat anti gerilya (Counter Insurgency). Namun pada kenyataannya, Nurtanio merancang Sikumbang sebagai pesawat pengintai ringan bersenjata. Dalam benak Nurtanio, pesawat-pesawat yang dioperasikan AURI medio 1950an belum ada yang tepat untuk melakukan misi pengintaian bersenjata. AURI memang sudah mengoperasikan pesawat intai Auster atau L-4J. Namun pesawat itu dinilai terlalu lamban, serta tidak dilengkapi senjata. Alhasil sasaran-sasaran yang telah ditemukan akan dibiarkan terlebih dahulu. Namun, dengan pesawat semacam Sikumbang, maka sasaran bisa langsung ditindak. Sementara, jika pengintaian menggunakan pesawat Mustang atau Jet, maka hasilnya tidak optimal lantaran dinilai terlalu cepat. Lebih daripada itu, Nurtanio juga membayangkan, Sikumbang ini nanti bisa menembak jatuh pesawat intai yang terbang sangat pelan, dimana pesawat sejenis itu justru sukar ditembak pesawat pemburu berkecepatan tinggi.
Selanjutnya, dalam hal perancangan, Nurtanio juga memikirkan banyak hal terkait proses produksi nantinya serta operasional. Nurtanio sangat menggaris bawahi, bahwa pesawat ini harus dapat dibuat sendiri oleh AURI, meski mesin tetap beli dari luar negeri. Lalu ongkos operasional yang lebih murah dari pesawat Harvard atau Mustang. Desain pesawat Sikumbang akan dibuat dengan sederhana, sehingga penerbang-penerbang AURI dapat mudah mengemudikan, tanpa perlu latihan transisi yang panjang dari pesawat lain. Kesederhanaan pesawat juga diperlukan agar pesawar bisa operasional di garis depan tanpa dukungan memadai.  Untuk misi pengintaian, kanopi akan dibuat lebar dan leluasa, sehingga pilot mempunyai bidang pandang yang baik untuk misi pengintaian dan penyerangan. Selain itu, Sikumbang juga bisa digunakan untuk Gerilya Udara maupun Lawan Gerilya. Filosofi demikian ini tentu mengingatkan kita pada pesawat OV-1 Mohawk  atau OV-10 Bronco yang muncul beberapa dekade setelahnya. Sungguh luar biasa pemikiran para pendahulu kita itu.
Untuk memenuhi hal tersebut maka Sikumbang harus memenuhi beberapa syarat.  Diantaranya, konstruksi pesawat musti amat sederhana namun kuat, sehingga bisa mendarat di lapangan kecil dan kasar seukuran 30x350 meter, serta gampang diperbaiki meski di garis depan. Untuk misi pengintaian, pesawat diharapkan dapat terbang cukup pelan dan stabil dengan kecepatan sekitar 80 mil/jam.  Namun demikian, untuk pertahanan diri, serta memburu pesawat intai (capung) musuh, Sikumbang mampu melaju hingga 160 mil/jam. Sikumbang juga dipersyaratkan mudah dikemudikan dan manuverability-nya bagus. Untuk eksekusi sasaran darat dan udara, nantinya Sikumbang akan dilengkapi dengan 2 buah senapan mesin kaliber 7,7mm dan tambahan 4 buah roket atau 2 buah bom napalm. Komunikasi dengan pasukan di darat pun sudah dipikirkan dengan menempatkan radio secukupnya.
Namun demikian, pada saat proses pembuatannya ternyata tidak lah mudah. Hambatan utama datang dari material dan bahan pembuatan pesawat. Untuk membuat prototipe pertama ini, Nurtanio dan kawan-kawan menggunakan bahan-bahan yang sudah tak terpakai oleh AURI, alias rongsokan. Hal ini bisa diduga lantaran situasi negara yang belum benar-benar stabil, sehingga dukungan keuangan untuk mencari bahan ke luar pun sangat terbatas.
Kesulitan utama yang dihadapi tim perancang adalah dari mesin. Menurut literaturnya mesin De Havilland Gipsy Six mampu menyemburkan tenaga sebanyak 200HP. Namun kenyataannya, mungkin lantaran sudah tua dan bekas, saat dipasangkan mesin hanya mampu menggenjot hingga 175HP saja. Ditambah bobot mesin yang cukup berat, yaitu sekitar 450 lbs, maka kemampuan Sikumbang pun melorot jauh dari persyaratan yang diminta. Namun Nurtanio sendiri sudah mencatat kelemahan itu. Ia berharap, pada seri produksi akan digunakan mesin Continental  470-A yang memiliki daya 225HP namun beratnya hanya 350lbs.
Selain mesin, bahan baku body pesawat juga menjadi masalah. Lantaran terbatasnya material, bagian sayap dan bidang ekor harus dibuat menggunakan kayu. Hal ini justru menambah bobot pesawat serta menjadikannya tidak tahan iklim. Selain itu, konstruksi alat pendarat juga lebih berat, lantaran hanya itu yang ada di gudang AURI. Akibatnya, pesawat prototipe mengalami pembengkakan bobot mencapai 200 lbs.
Hasil Uji Terbang
Meski mengalami banyak kekurangan, kesaksian para pilot yang menguji terbang ternyata cukup memuaskan bagi Nurtanio. Karakteristik STOL bisa dilaksanakan dengan baik. Dilaporkan Sikumbang pernah mendarat hanya dalam jarak kurang dari 150 meter dengan muatan secukupnya. Namun untuk take off dengan jarak 350 meter dengan muatan penuh dan tanpa angin masih dirasa berat. Bila mesin Gypsi diganti dengan yang lebih kuat, Nurtanio yakin masalah itu bisa diatasi.
Demikian pula dengan kecepatan terbang. Untuk terbang pelan yaitu sekitar 80 mil/jam, tidak ada masalah berarti. Apalagi stall speed  Sikumbang hanya 55 mil/jam, sehingga dengan kecepatan 80 mil/jam pesawat dapat dikemudikan dengan baik dan stabil. Namun untuk kecepatan maksimum mendatar yaitu 160 mil/jam masih berat dicapai lantaran kurangnya daya mesin. Demikian pula dengan Rate of Climb pesawat. Awalnya Nurtanio menginginkan pesawat memiliki daya tanjak hingga 1200ft/min, namun pada uji terbang, maksimal yang bisa dicapai hanya 650 ft/min.
Sementara untuk persenjataan, belum semuanya bisa dipasang dan diuji coba. Hanya 2 senapan mesin 7,7 mm yang telah dipasang dan diuji dengan hasil cukup memuaskan. Namun demikian, alat pembidik masih harus disempurnakan. Sementara untuk penempatan roket dan bom, baru akan diuji coba pada seri produksi.
Selanjutnya Nurtanio dan kawan-kawan memang mengembangkan Sikumbang menjadi Nu-225. Pada seri ini, terlihat kanopi makin lebar. Namun tidak diketahui mengenai performa pesawat ini. Penulis sendiri belum menemukan catatan mengenai pembuatan dan uji terbang Nu-225. Sayangnya, hingga kini juga belum diketahui apa penyebab dibatalkannya seri produksi Sikumbang. Situasi negara yang masih rawan, kesibukan AURI dimasa itu dimana terjadi banyak pemberontakan, hingga masalah keuangan negara ditengarai menjadi penyebabnya.
Di masa kini, pesawat seperti Sikumbang boleh dibilang jauh ketinggalan jaman. Namun fillosofi dan pemikiran dibalik pembuatannya oleh Mayor Udara Nurtanio dan kawan-kawan, sungguh mengagumkan. Dimasa itu, ia bukan hanya memikirkan sebuah pesawat yang cocok untuk misi-misi AURI namun juga jauh ke depan.
Spesifikasi NU-200 Sikumbang
Data dari  Jane's All The World's Aircraft 1955–56
General characteristics
·    Crew: 1
·    Length: 8.16 m (26 ft 9 in)
·    Wingspan: 10.61 m (34 ft 10 in)
·    Height: 3.35 m (11 ft 0 in)
·    Wing area: 16.9 m2 (182 sq ft)
·    Aspect ratio: 6.6:1
·    Airfoil: NACA 23015 at root, NACA 23009 at tip
·    Empty weight: 795 kg (1,753 lb)
·    Gross weight: 1,090 kg (2,403 lb)
·    Fuel capacity: 205 L (54 US gal; 45 imp gal)
·    Powerplant: 1 × de Havilland Gipsy Six air-cooled inverted six-cyliner inline engine, 150 kW (200 hp)
·    Propellers: 2-bladed fixed pitch
Performance
·    Maximum speed: 256 km/h (159 mph; 138 kn)
·    Cruising speed: 224 km/h (139 mph; 121 kn)
·    Range: 960 km (597 mi; 518 nmi)
·    Service ceiling: 5,030 m (16,503 ft)
·    Rate of climb: 5.1 m/s (1,000 ft/min)