Jam Digital

Sabtu, 31 Oktober 2015

GPS Jammer TNI AL: Pengacau Sinyal Satelit, Mampu Gagalkan Serangan Rudal dan Pointing Target

corvette_ship

Baru-baru ini ada pemberitaan seputar pelatihan awak personel KRI dalam mengoperasikan GPS (Global Positioning System) jammer yang berlangsung di Lantamal Surabaya, 28 – 30 Oktober 2015. GPS jammer, meski kedengaran canggih, tapi sejatinya telah diadopsi di kapal perang TNI AL sejak tahun 2010. Dan hingga kini ada sekitar 10 kapal perang Satkor (Satuan Kapal Eskorta) yang dilengkapi GPS jammer.

Sesuai dengan perkembangan jaman dan kebutuhan operasi, peran GPS jammer tak lagi sebatas media pengacau sinyal pada serangan rudal anti kapal, melainkan juga upaya menganggu sinyal satelit GPS yang digunakan untuk pointing terhadap target.

Tak bisa dipungkiri, hingga kini GPS mengambil peran stragetis dalam sisi kehidupan sipil dan militer. Di lingkup militer, keberadaan GPS tak melulu dikenal sebagai alat navigasi di kapal perang dan pesawat udara, lagi-lagi koordinat yang berasal dari GPS juga digunakan untuk pointing (penentuan) posisi target yang akan dihancurkan oleh rudal berkemampuan jelajah. Saking pentingnya penggunaan GPS, maka pihak lawan pun tak bisa dipungkiri melakukan hal yang sama terhadap kita.

KRI Hassanudin 366, salah satu korvet SIGMA TNI AL yang dilengkapi GPS jammer.
KRI Hassanudin 366, salah satu korvet SIGMA TNI AL yang dilengkapi GPS jammer.

Nah, untuk mencegah lawan mengetahui posisi keberadaan kapal perang TNI AL, maka hadirlah ‘perisai elektronik’ yang disebut GPS jammer. Perangkat GPS jammer yang berfungsi untuk melaksanakan jammer terhadap frekuensi GPS dari satelit sehingga perangkat GPS tidak bisa menerima sinyal GPS dari satelit. Hal ini mengakibatkan perangkat GPS tidak dapat mentransmisikan data positioning, navigation and timing (PNT) yang dibutuhkan oleh perangkat navigasi lain seperti radar, ECDIS (Electronic Charts and Display Information System), AIS (Automatic Identification System), speedlog, dan gyro navigasi. Data PNT tersebut juga sangat dibutuhkan untuk integrasi dengan perangkat Sensor Weapon and Command (sewaco) yang ada di kapal perang serta sistem senjata yang ada.

large

Dalam simulasi pertempuran, keberadaan rudal anti kapal seperti Yakhont dan Exocet menjadi lumpuh bila tak mendapat asupan informasi tentang pointing koordinat kapal perang lawan, bila nyatanya kapal laman berhasil melaksanakan GPS jamming.

Penggunaan perangkat GPS jammer di TNI Angkatan Laut, khususnya di Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dimulai pada awal tahun 2010 dengan dikirimkannya beberapa personel TNI AL untuk mempelajari doktrin navigation warfare dan aplikasi untuk militer di beberapa negara Eropa. Pada tahun 2011
dimulai pemasangan peralatan tersebut pada dua korvet SIGMA Class KRI Diponegoro 365 dan KRI Sultan Hassanudin 366 serta dilaksanakan pengujian terhadap fungsi peralatan tersebut pada tahun yang sama.

Pada latgab yang dilaksanakan oleh tiga angkatan, peralatan GPS jammer resmi digunakan dalam satu latihan operasi militer dan mampu membuktikan bahwa peperangan navigasi merupakan salah satu bagian dari peperangan elektronika yang mampu memberikan efek hilangnya data posisi, navigasi dan referensi waktu bagi suatu pesawat militer yakni dengan berhasil dilaksanakan surface jamming terhadap KRI lain dalam radius 60 km. Dan hebatnya mampu melaksanakan air jamming terhadap dua pesawat tempur Sukhoi Su-27 dan Su-30MK2 TNI AU pada jarak antara 80 km sampai dengan 120 km dengan ketinggian sampai dengan 12 km.

Jet tempur kebanggaan, Sukhoi Su-30MK2 juga telah menjadi korban GPS jamming.
Jet tempur kebanggaan, Sukhoi Su-30MK2 juga telah menjadi korban GPS jamming.

Dalam sejarahnya, penggunaan dan aplikasi perangkat GPS jammer dalam peperangan navigasi mulai terungkap dengan adanya beberapa laporan perihal hilangnya sinyal GPS di perairan Norwegia pada awal tahun 2002 yangmengakibatkan terjadinya beberapa kesalahan navigasi pada kapal pengangkut barang sehingga beberapa kapal pengangkut barang tersebut karam/kandas. Kemudian berlanjut dengan adanya laporan di pelabuhan San Diego pada tahun 2007, seluruh data GPS pada daerah tersebut hilang selama dua jam. Hal ini mengakibatkan seluruh proses dipelabuhan terhenti dan seluruh jaringan komunikasi tidak berfungsi serta beberapa perindustrian mengalami kegagalan produksi.

Mengemban peran sebagai pointing terhadap sasaran, GPS reciever harus mengunci sinyal minimal tiga satelit untuk menghitung posisi 2D (latitude dan longitude) dan track pergerakan. Jika GPS receiver dapat menerima empat atau lebih satelit, maka dapat menghitung posisi 3D (latitude, longitude dan altitude). Jika sudah dapat menentukan posisi pengguna, selanjutnya GPS dapat menghitung informasi lain, seperti kecepatan, arah yang dituju, jalur, tujuan perjalanan, jarak tujuan, matahari terbit dan matahari terbenam serta masih banyak lagi. (Dikutip dari Jurnal Nasional Teknik Elektro – Maret 2015)
 
 

Kamis, 29 Oktober 2015

Sumpah Pemuda dan Kepak Sayap Pesawat N219

Sumpah Pemuda dan Kepak Sayap Pesawat N219
Pesawat N219 buatan Lapan dan PT Dirgantara Indonesia (www.indonesiadefensenews.blogspot.com)


Sumpah pemuda tahun ini menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan anak bangsa. Salah satunya dengan memamerkan kesuksesan produksi pesawat dalam negeri, N219. Meski hanya memiliki kemampuan daya angkut 19 penumpang namun pesawat ini dianggap mampu membuka pintu sejarah bagi industri pesawat dalam negeri.
 
Pesawat N219 telah dipamerkan hari ini, seiring dengan International Seminar On Aerospace Science Technology (ISAST) di Kuta, Bali. Perkenalan pesawat ini sesuai rencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang memang menggunakan momentum Sumpah Pemuda untuk memperkenalkannya kepada publik.

Dikatakan Kepala Pusat Teknologi Penerbangan Lapan, Gunawan Setyo Prabowo, pesawat ini akan dipasarkan pada 2017, namun baru sebatas pasar lokal karena kebutuhan dalam negeri sendiri cukup tinggi. Pesawat ini ditujukan untuk feeder antarbandara kecil atau perintis, seperti yang terdapat di Indonesia Timur, atau Kalimantan. Rute terbangnya, diklaim Gunawan bisa mencapai radius 5.000 kilometer, seperti dari Cilacap ke Bandung, atau Jakarta ke Purwokerto.

“Pernah juga digunakan uji coba terbang dari Irian ke Sulawesi. Tapi jarak itu untuk ukuran keamanan penerbangan saja. Kalau mau lebih jauh sebenarnya bisa asal sering berhenti,” kata Gunawan kepada VIVA.co.id, Rabu 28 Oktober 2015.

Dilansir dari situs Lapan, Deputi Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa Lapan, Dr. Rika Andiarti, menyatakan jika institusinya, bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), memang telah berkomitmen kepada presiden dan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk melaksanakan roll out pada tanggal 28 Oktober 2015, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda. Pada acara tersebut, komponen airworthiness N219 akan ditampilkan. Komponen tersebut terdiri dari fuselage, wing, ethernet dan control services, serta komponen class one mockup.

“Pengembangan N219 ini bukan hanya bertujuan untuk membangun pesawat transport, melainkan juga untuk menumbuhkembangkan industri kecil Indonesia di bidang penerbangan. Dalam pembuatan N219, tool dan panel jig-nya merupakan hasil produksi industri kecil di Bandung dan Jawa tengah,” tutur Rika.

Dipenuhi Komponen Murni Buatan Dalam Negeri
Dipaparkan Rika, pembuatan pesawat ini terus diupayakan untuk menggunakan komponen dalam negeri. Sesuai target awal, kata dia, prototipe pesawat N219 akan memenuhi 40 persen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Dalam jangka waktu lima hingga 10 tahun mendatang, TKDN akan ditingkatkan menjadi 60 persen.

“Hal ini sejalan dengan dukungan dan semangat dari Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Industri Komponen guna mempersiapkan Airframe Part (Komponen Pesawat Terbang) buatan dalam negeri,” kata dia.
N219 sendiri merupakan hasil kerja sama Lapan yang melibatkan PT DI sebagai pihak yang memproduksi. Selain menumbuhkan industry pesawat dalam negeri, pihak Lapan juga ingin membangkitkan kembali perusahaan produsen pesawat kebanggaan Indonesia, PT DI.

"Ini sebetulnya pesawat yang jauh lebih sederhana. Misi kami sesungguhnya adalah menghidupkan kembali PT DI. Murni tidak ada campur tangan asing. Tidak seperti N250 yang masih menggunakan konsultan asing, N219 murni Indonesia,” ujar Gunawan.
Dipaparkan Gunawan, dengan modal riset Rp200 miliar, Lapan dan PT DI akan memproduksi sekitar 250 unit pesawat N219. Harga per unitnya dibanderol sekitar Rp50 sampai Rp54 miliar. Itu disebutnya sebagai nilai yang cukup kompetitif karena saat masuk ke pasar pada 2017 nanti, N219 harus berhadapan dengan pesawat lain buatan China. Gunawan optimis jika N219 bisa mengangkat nama Indonesia di kancah industri dunia karena Lapan dan PT DI mengaku sangat serius menggarap pesawat tersebut. Bahkan dalam satu tahun, diungkap Gunawan, PT DI bisa memproduksi 12 unit pesawat N219, atau satu bulan satu pesawat.

“April tahun depan kami akan melakukan first test flight. Setelah itu sertifikasi turun. Sekarang pesawatnya sudah ready, utuh dengan sistem lengkap. Bahkan sudah ada pemesanan, sekitar 75 unit dari Lion Air, Aviastar, dan beberapa institusi pemerintah daerah,” kata Gunawan.
Ke depannya, jika pesawat ini laku di pasar, kata dia, Lapan akan melanjutkan dengan produksi N245. Namun harus dengan perhitungan yang matang, termasuk ancaman competitor.
“Investasi di pesawat itu tinggi. Kalau tidak dihitung nanti seperti apa dipasar, laku kebeli atau tidak. Kalau lancar, kita lanjut ke N245. Jika misalnya N219 dipasarkan tahun 2017, terus penjualannya bagus, kita langsung buat N245. Lapan sudah buat programnya. Nanti N245 memiliki kapasitas 45 orang dan lebih besar dari sebelumnya, kemungkinan bisa dipasarkan di 2019,” kata Gunawan.

Spesifikasi Lengkap N219
Dikatakan Gunawan, pesawat ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan transportasi perintis di Indonesia Timur, tepatnya wilayah-wilayah yang tidak bisa ditempuh dengan jalur darat dan laut. Pasalnya, di kawasan Indonesia Timur ada kebutuhan pesawat untuk mendarat di daerah pegunungan, landing dan takeoff yang pendek, serta memiliki fasilitas rendah. Itulah yang akan menjadi fokus pelayanan N219.

“N219 bisa dikonversi untuk beberapa kepentingan. Bisa diubah ke model amfibi, militer, transport, kargo, juga bisa untuk pemadam kebakaran. Tetapi yang lebih penting, pesawat ini ditujukan untuk pemenuhan transportasi perintis di Indonesia Timur. Materinya campur-campur. Ada alumunium seri 2 dan 6. Untuk sementara bahan-bahan tersebut diimpor dari luar, tetapi dimanufaktur di sini,” kata dia.

N219 ini diharapkan bisa menggantikan pesawat Twin Otter yang sempat populer di era 1970-1980. Sayangnya pesawat jenis ini telah usang. Tidak diproduksi lagi, meski beberapa kerap masih ditemui di Indonesia.

Huruf N dalam nama itu adalah Nusantara, menunjukkan bahwa desain, produksi dan seluruh perhitungan dikerjakan di Indonesia. Pesawat N219 merupakan pesawat baru, tidak meniru jenis pesawat manapun.  Bobot bersih pesawat ini 4,7 ton. Telah memenuhi unsur pesawat kecil menurut  standar FAR 23. Bisa menjangkau jarak maksimal 1.111 kilometer. Kurang lebih sama dengan jarak terbang Jakarta ke Balikpapan.


Giraffe AMB: Generasi Penerus Radar Giraffe 40 Arhanud TNI AD

giraffeamb2340x1716test

Nama Giraffe punya arti penting dalam sejarah kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD. Pasalnya inilah radar dengan peran pemandu rudal hanud MANPADS (Man Portable Air Defence System) pertama yang dimiliki TNI. Dirunut dari kehadirannya di Indonesia, radar ‘jerapah’ ini hadir bersamaan dengan paket rudal Bofors RBS-70 pada tahun 1985. Pada periode yang sama juga hadir alutsista rudal Rapier buatan British Aerospace, Inggris.

giraffe-radar-liander_2340_1316

Bila ‘nasib’ Rapier kini telah masuk masa purna tugas, lain halnya dengan rudal RBS-70. Meski konon tinggal tiga pucuk launcher yang masih aktif, sista buatan Saab Bofors Swedia ini hingga kini masih dioperasikan satuan Arhanudri TNI AD. Bahkan PT Pindad bersama Saab tengah melaksanakan program upgrade pada RBS-70 TNI AD. Meski usianya tak bisa dibilang muda, RBS-70 masih mendapat kepercayaan tinggi, dibutkikan dari deploy rudal ini sebagai perangkat pertahanan pada salah satu ajang penting berskala internasional di Bali beberapa tahun lalu.

Giraffe_AFB-radar

Gelar RBS-70 tentu tak lepas dari keberadaan radar Giraffe yang telah menjadi paket duetnya. Versi Giraffe yang digunakan TNI AD saat ini adalah Giraffe 40 yang dibuat semasa perusahaan bernama Ericsson Microwave Systems AB. Dengan antena radar setinggi 13 meter, Giraffe 40 dapat menyapu area sejauh 40 Km. Kemampuan dari radar ini dapat diintegrasikan dengan instrumen IFF (Identification Friend or Foe) subsistem MK XII dan dapat mendeteksi target yang bergerak di ketinggian rendah hingga target di ketinggian 10 Km. Radar ini dapat mengunci 9 sasaran sekaligus. Lebih detai tentang radar Giraffe yang telah digunakan Arhanud TNI AD, silahkan klik pada judul dibawah ini.

Radar Giraffe 40 milik Arhanud TNI AD. Foto: Indonesia_military
Radar Giraffe 40 milik Arhanud TNI AD. Foto: Indonesia_military

Perpaduan Giraffe AMB dengan rudal RBS-70 NG.
Perpaduan Giraffe AMB dengan rudal RBS-70 NG

Nah, seiring modernisasi dan usia perangkat yang sudah tua, adalah wajar bila Giraffe diganti dengan radar yang lebih baru, yang punya kemampuan deteksi lebih handal. Arhanud TNI AD yang punya etalase beragam rudal MANPADS, kini juga mempunyai radar sejenis Giraffe, diantaranya ada Mistral Coordination Post untuk rudal Mistral, Mobile Multibeam Search Radar (MMSR) untuk rudal Grom, dan CONTROLMaster200 untuk rudal Starstreak. Secara usia radar-radar diatas lebih anyar dan teknologinya lebih maju dari Giraffe 40.

Ilustrasi coverage Giraffe AMB
Ilustrasi coverage Giraffe AMB

Melihat masih dipercayanya RBS-70 oleh TNI AD, membuka peluang pihak pabrikan untuk menawarkan generasi lanjutan RBS-70, yakni RBS-70 NG (Next Generation), plus tentunya menawarkan pula radar Giraffe generasi baru, Giraffe AMB (Agile Multi Beam) Multi Mission Surveillance System. Giraffe AMB oleh pihak Saab dirancang sebagai platform radar yang kompak, Kompartemen kendali dan operasi serta ukuran tiang dan kubah kotak radarnya telah ditentukan setara persis dengan ukuran kontainer delapan kaki. Sebagai platform truk pengusung, bisa dipilih dari merek Volvo atau MAN.

bamse_11

Giraffe AMB yang dapat beroperasi di segala cuaca ini dapat digelar dalam waktu yang relatif cepat. Dari mulai kendaraan tiba di lokasi yang ditentukan, hanya diperlukan waktu 10 menit, maka kalkukasi pertahanan sudah dapat tersaji di layar monitor.

Bila Giraffe 40 hanya mampu mengendus target dari jarak 40 km, maka Giraffe AMB mampu mendeteksi sasaran dari jarak 120 km. Radar berkemampuan 3D phased array, digital beam forming ini beroperasi pada frekuensi C (G/H) band. Sudut elevasi radar mencapai 70 derajat dengan kecepatan putaran antena mencapai 60 RPM. Radar yang dioperasikan dua operator ini secara simultan dapat mendeteksi 9 sasaran sekaligus.

Dilihat dari langkah TNI AD yang lebih memilih upgrade RBS-70 ketimbang membeli RBS-70 NG, maka ada peluang menawarkan Giraffe AMB ke Indonesia, mengingat Giraffe 40 yang digunakan saat ini sudah usang. Selain dioperasikan AD Swedia, Giraffe AMB juga telah digunakan oleh Estonia, AU Perancis, Singapura, Thailand, dan Inggris. (Gilang Perdana)
 
 

Selama Saya Panglima, Perpres TNI Tak Akan Pernah Ada

  1

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo membantah adanya pembuatan peraturan presiden yang memperluas wewenang TNI. “Jadi, saya tegaskan, itu tidak ada dan hanya direkayasa,” kata Jenderal Gatot seusai peresmian simbolis perumahan prajurit TNI di Kompleks Batalyon Kavaleri 7, Jakarta, 28 Oktober 2015.

“Selama saya menjadi panglima TNI, perpres itu tidak akan pernah ada,” ucap Panglima TNI.

Jenderal Gatot berujar, perluasan yang dimaksud adalah mengenai organisasi kenaikan jabatan. “Bukan pembesaran organisasi, tapi jabatan organisasi, karena beban tugas itu beda,” tuturnya.


Panglima TNI menjelaskan, yang diminta TNI meliputi organisasi TNI, seperti badan intelijen strategis yang dijabat bintang dua diusulkan menjadi bintang tiga. Selain itu, jabatan akademi militer yang dijabat bintang dua dinaikkan menjadi bintang tiga. “Tapi perpres (perluasan wewenang) tidak ada. Wong itu tidak ada dalam UU TNI Nomor 34 Tahun 2004,” katanya.

Wacana perpres ini, menurut dia, mungkin muncul dari beberapa oknum yang menulis dan membahasnya menjadi obrolan warung kopi. “Niat pun tidak ada. Tugas TNI dalam UU TNI sudah diatur,” ucapnya.

Sebelumnya, muncul wacana pembahasan penerbitan perpres yang memperluas wewenang TNI dalam menjaga keamanan. Beberapa pihak menganggap ini akan mengembalikan TNI seperti masa Orde Baru.

TEMPO.CO

Rabu, 28 Oktober 2015

TNI AD Raih Juara Umum Terjun Payung di Malaysia

Ilustrasi (ist)
Ilustrasi (ist)

Tim terjun payung TNI AD meraih gelar juara umum dalam kejuaraan terjun payung di Malaysia, dalam gelaran bertajuk The Trengganu Challege Parachuting Championship and Malaysian Armed Forces Parachuting Championship Closed 2015.

Informasi tertulis dari Dinas Penerangan Korps Pasukan Khusus TNI AD, diterima di Jakarta, Selasa, empat dari lima nomor perorangan dan tim yang diperlombakan disapu-bersih tim terjun payung gabungan TNI AD ini.

TNI AD berhasil memperoleh empat emas, satu perak, dan satu perunggu. Mereka menyingkirkan 28 tim dari Malaysia dan tim-tim lain yang berlaga. Dalam perlombaan tersebut, TNI AD menerjunkan 22 atlet terjun payung dalam lomba yang digelar sejak 19 September dan ditutup pada Senin (26/10).

Sebelumnya pada bidang lain, yaitu ketepatan menembak, militer Indonesia pernah menjadi juara umum dalam lomba menembak di Australia dan menyingkirkan peserta dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Pasukan Bela Diri Jepang, dan lain-lain.

Senjata organik buatan PT Pindad yang digunakan tim TNI, saat itu, sampai sempat “dicurigai” panitia pelaksana dan tim-tim yang ikut berlomba.

”Tujuan mengikuti kejuaraan di Malaysia untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan para atlet terjun bebas baik sport maupun military didunia Internasional khususnya dikawasan Asia tenggara,” ujar Kepala Dinas Penerangan Komando Pasukan Khusus TNI AD, Mayor Infantri Achmad Munir.

Sebagai pemenang, hadiah diserahkan langsung oleh Panglima Tentara Darat Malaysia, Jenderal Tan Sri Raja Mohammed Affandi bin Raja Mohammed, kepada Komandan Kontingen PTPAD, Mayor Infantri Frangki Susanto.

Nomor-nomor yang diperlombakan itu adalah tim akurasi sport, perorangan akurasi sport, kerja sama di udara, tim akurasi militer, dan kerja sama payung di udara.(Antara)

Super Drone TNI AD: Andalkan Tangki Bahan Bakar Cadangan dan Kendali via BTS


3565_2672_28-Juni-ok--JKT1--BoksPesaw

Meski belum resmi dipinang, masing-masing matra di TNI punya andalan drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle), ada yang sudah operasional seperrti Wulung oleh Skadron Udara 51, tapi ada yang masih prototipe, seperti serial LSU (LAPAN Surveillance UAV) dan OS Waifanusa yang ‘dekat’ dengan litbang TNI AL. Lantas, bagaimana dengan TNI AD? Matra darat tentu telah merilis beberapa tipe drone, termasuk flapping wing (robot burung) dan quadcopter yang dipersenjatai. Lain dari itu, TNI AD tak ingin ketinggalan dengan merilis prototipe Super Drone, yakni jenis UAV pesawat udara propeller.

Sosok Super Drone resmi diperkenalkan oleh mantan KSAD Jenderal Budiman di Jakarta pada 7 April 2014. Seperti halnya pada pengembangan Robot Terbang Flapping Wing (RTFW), Litbang TNI AD juga menggandeng Universitas Surya dalam proyek Super Drone ini. Dari sisi sistem kendali dan navigasi, Super Drone setali tiga uang dengan Wulung, LSU-02 dan LSU-05. Hanya saja, ada kabar bahwa nantinya navigasi dan kendali Super Drone ditambahkan dengan dukungan teknologi Open Base Transceiver System (BTS) yang penggunaannya dapat untuk memantau perbatasan. Selain itu, segera akan digunakan combine open BTS UAV untuk pengamanan perbatasan. Terkait implementasi peran BTS operator seluler dalam gelar operasi drone, dapat Anda lihat pada judul artikel di bawah ini.

t3z99LWGeM246776_kepala-staf-tni-ad-jenderal-budiman_663_382EBNsH2q0VJ

Prototipe SuperDrone yang di cat warna hijau tua mempunyai bentang sayap selebar 6 meter dan panjang bodi 4 meter. Material drone dipilih dari bahan serat karbon. Keunikan Super Drone dibanding rekan-rekannya sesame drone besutan dalam negeri adalah adanya tangki bahan bakar cadangan yang ditempatkan pada sisi kanan dan kiri sayap utama. Total Super Drone dapat membawa muatan 20 liter bahan bakar. Alhasil Super Drone dijagokan dapat terbang dengan endurance antara 6 – 9 jam, atau satu jam lebih unggul dibanding LAPAN LSU-05.

Namun untuk urusan jarak jelajah, prototipe Super Drone masih terbatas di 100 Km. Boleh jadi terbatasnya jangkauan terbang karena sistem transmisi radio ke GCS (Ground Control Station) yang belum sepadan dengan Wulung UAV. Dari sisi payload, Super Drone dengan bobot total 120 kg dapat membawa muatan 45 kg yang bisa diisi kelengkapan sensor dan kamera, seperti kamera thermal. Menjadikan Super Drone dapat mengudara setiap saat, termasuk di malam hari.

Super Drone telah diuji coba terbang di wilayah Batujajar, Bandung Barat, Jawa Barat. Mungkin karena dipandang sebagai cikal bakal alutsista TNI AD yang bernilai strategis, informasi tentang spesifikasi Super Drone ini memang belum dirilis lengkap ke publik. Diantara peran penting yang dijagokan untuk Super Drone adalah peran penindakan, dua tanki bahan bakar pada sayap bisa saja kedepan diganti dengan bom. Sehingga dapat membantu misi BTU (Bantuan Tembakan Udara) bagi pasukan infanteri.

UAV Smart Eagle II
UAV Smart Eagle II

Bila diperhatikan sekilas, Super Drone TNI AD mirip dengan UAV Smart Eagle II besutan PT. Aviator Teknologi Indonesia. Kemiripan nampak pada desain sayap belakang. Smart Eagle II (SE II) dibuat guna kepentingan intelijen negara. Drone ini menggunakan mesin 2 tak 150 cc, SE II mampu terbang hingga 6 Jam. Dilengkapi dengan colour TV Camera, Smart Eagle II mampu beroperasi di malam hari dengan menggunakan Therman Imaging (TIS) kamera untuk penginderaannya. (Bayu Pamungkas)
 
Indomil.

Tiga Kapal Perang TNI AL Jalani “Mutasi”



Ternyata mutasi tak hanya dialami oleh personel, di lini alutsista kapal perang pun terjadi mutasi alias perpindahan penugasan. Seperti baru-baru ini, tiga kapal perang dari Satrol (Satuan Kapal Patroli) Komando Armada Barat (Koarmabar), yakni KRI Boa 807, KRI Viper 820, dan KRI Tarihu 829, telah beralis status dari KRI menjadi KAL (Kapal Angkatan Laut). Dengan ubah status ini, lingkup operasi ketiga kapal hanya akan dibatasi pada pengamanan di sekitar pangkalan angkatan laut, dalam hal ini dipercayakan untuk Lantamal I Belawan, Sumatera Utara.

Dikutip dari koarmabar.tnial.mil.id (15/10/2015), ubah status ketiga kapal perang ini berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut Nomor KEP/1171/VII/2015 tanggal 21 Juli 2015. KRI Boa 807 dibuat di galangan kapal Fasharkan Mentigi pada tahun 2003, diresmikan pada tanggal 12 juli 2004. Sedangkan KRI Viper-820 dibuat di galangan kapal Fasharkan Jakarta pada tahun 2006 dan diresmikan pada tanggal 20 oktober 2006. Dan KRI Tarihu 829 dibuat di galangan kapal Fasharkan Mentigi pada tahun 2009 diresmikan pada tanggal 7 Januari 2009.

KRI Tarihu 829
KRI Tarihu 829

KRI Tarihu 829 dalam perbaikan.
KRI Tarihu 829 dalam perbaikan.

Meski sudah tahunan memperkuat arsenal Satrol, dari segi persenjataan kapal-kapal diatas kurang menunjang untuk standar KRI, apalagi mengemban peran sebagai fungsi patroli seperti di daerah perbatasan yang rawan konflik, termasuk menghadapi aksi perompakan. Seperti KRI Boa 807 dan KRI Tarihu 829, kedua kapal ini hanya mengandalkan kanon Oerlikon 20 mm/70 yang usianya sudah lawas. Belum lagi kanon ini dioperasikan full manual tanpa ada perlindungan bagi operator senjatanya. Senjata lainnya ada SMB (Senapan mesin berat) 12,7 mm pada bagian buritan. Sementara KRI Viper 820 sedikit lebih galak dengan mengadopsi kanon laras ganda 2M3 25 mm peninggalan era Uni Soviet.

KRI Boa 807
KRI Boa 807

KRI Boa 807
KRI Boa 807

Bicara tentang aspek kecepatan kapal, sebagai kapal patroli memang tidak dituntut punya kemampuan secepat kapal di armada di Satkat (Satuan Kapal Cepat). Namun kecepatan maksimum ketiga kapal yang dibawah 30 knots dipandang tak maksimal untuk peran meronda di garis depan.

KRI Viper 820
KRI Viper 820

Dengan langkah ‘mutasi’ ini, boleh jadi akan ada proses susulan, mengingat Satrol TNI AL masih punya beberapa kapal perang di kelas PC-40 dan PC-36 yang dibuat di dalam negeri. Sebelum ini, mutasi pada kapal perang juga sudah pernah terjadi, namun masih dalam lingkup sesama KRI. Seperti unit penyapu ranjau Kondor Class yang dialihkan fungsinya dari Satran (Satuan Kapal Ranjau) ke Satban (Satuan Kapal Bantu), lalu ada mutasi kapal hibah dari Brunei, yaitu KRI Badau dan KRI Salawaku yang awalnya masuk Satkat (Satuan Kapal Cepat) kemudian digeser ke Satrol, mengingat tidak terpasangnya rudal anti kapal MM-38 Exocet. (Bayu Pamungkas)
 
 

Inilah Dilema Pengadaan Jet Tempur: Acquisition Cost Vs Life Cycle Cost

Su-35S-KnAAPO-2P-1S

Proses pembelian jet tempur memang kerap menimbulkan efek tarik ulur yang panjang, terlebih jika yang jadi pembeli adalah negara dengan budget pertahanan serba ngepas dengan seabreg permintaan. Sekalipun punya budget cukup, mengingat banyak faktor yang saling terkait, pengadaan jet tempur kerap memakan waktu lama. Indonesia membutuhkan waktu hampir dua tahunan untuk akhirnya memutuskan memilih Sukhoi Su-35 Super Flanker sebagai pengganti jet tempur F-5 E/F Tiger II. Pun sudah diputuskan, menuju proses deal hingga penandatanganan kontrak pembelian juga butuh waktu.

Potret pengadaan Sukhoi Su-35 Super Flanker Indonesia masih belum seberapa, sebagai perbandingan Saab butuh waktu hingga 15 tahun sampai akhirnya berhasil menjual JAS-39 E/F Gripen ke Brazil. Nah dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi dalam proses pembelian jet tempur, faktor acquisition cost dan life cycle cost menjadi yang paling dominan, tentunya masih ada faktor lain seperti politik dan pertimbangan daya deteren dari si pesawat tersebut. Acquisition cost adalah biaya akuisisi untuk pembelian awal dari unit pesawat yang dimaksud. Sementara life cycle cost merupakan biaya yang digunakan selama siklus operasi pesawat.

su35_10Su-35-Flanker-E-1

Perbandingan antara acquisition cost dan life cycle cost yang ditawarkan pabrikan jelas beda-beda, tentu bergantung pada kandungan teknologi, komposisi material, dan elemen komponen yang digunakan. Kebanyakan kasus yang tejadi di dunia, negara dengan kocek ngepas lebih mengedepankan acquisition cost yang rendah, dan tidak terlalu fokus pada life cycle cost. Alhasil banyak operator jet tempur yang memang bisa mendatangkan jet tempur baru, tapi tak sanggup untuk menerbangkan jet tempur secara maksimal. Hal ini terjadi lantaran biaya operasional pesawat yang besar, sehingga menjadi beban dalam biaya operasional.

Terkait life cycle cost diantaranya ada A/C investment, initial provision package, maintenance dan petrol, oil & lubricants. Jika disarikan lagi, kemudian muncul istilah operational cost per hour (biaya operasi per jam). Elemen operational cost per hour inilah yang jadi pertimbangan penting dalam pengadaan je tempur. Secara teori, jet tempur dengan mesin tunggal lebih irit dan ekonomis ketimbang jet tempur mesin ganda.

Eurofighter Tyhphoon RAF
Eurofighter Tyhphoon RAF

Eurofighter Typhoon dengan bekal senjata lengkap.
Eurofighter Typhoon dengan bekal senjata lengkap.

Berikut ilustrasi harga jual jet tempur yang dirilis defense-aerospace.com dan operational cost per hour dari ketiga jet tempur yang berusaha mendapat tempat di langit Indonesia.

1. Sukhoi Su-35 Super Flanker
Estimasi harga per unit: US$45 – US$80 juta
Operational cost per hour: US$36.000 – US$40.000

2. Eurofighter Typhoon
Estimasi harga per unit: US$118,6 juta
Operational cost per hour: US$14.000

3. Saab Gripen
Estimasi harga per unit: US$68,9 juta
Operational cost per hour: US$3.000 – US$4.000

Dari paparan diatas, menarik dicermati Sukhoi Su-35 punya acquisition cost lebih rendah, namun sangat tinggi dalam biaya operasional per jam. Disamping itu, usia mesin Sukhoi juga kabarnya relatif lebih pendek. Namun, dilihat dari aspek daya deteren, Sukhoi Su-35 adalah yang paling superior, melengkapi keberadaan Sukhoi Su-27/Su-30MK2 yang sudah dimiliki TNI AU. Agak lamanya perjanjian kontrak pembelian pesawat ini diperkirakan terkait skema ToT (transfer of technology) yang belum disepakati kedua belah pihah, terlebih bila Indonesia membeli dengan sistem ngeteng.

1250104gripen-ng

Untuk Eurofighter Typhoon sebenarnya punya peluang besar, mengingat jet tempur ini mendapat dukungan dari PT Dirgantara Indonesia, lebih lagi skema ToT yang ditawarkan sangat jelas dan menguntungkan bagi Indonesia. Biaya operasi per jamnya juga tak setinggi Su-35, namun sayang harga jual per unit Typhoon terbilang sangat tinggi.

Sementara untuk Saab Gripen, jet tempur ini ditawarkan dengan harga yang affordable plus biaya operasional per jam juga ramah bagi negara dengan kocek ngepas seperti Indonesia. Skema ToT pun juga telah dipaparkan untuk industri dalam negeri. Tapi sayang jarak jangkau jet tempur bermesin tunggal ini kalah jauh dibanding Su-35 dan Typhoon. Dari sisi harga, Gripen sejatinya masih mampu mengambil hati pemerintah Indonesia, maka itu Saab terlihat masih bersemangat menjajakan Gripen di Indonesia, setelah sukses menjual jet ini di Thailand. (Haryo Adjie Nogo Seno)
 
 

Foto Mengharukan Dua Anggota TNI Pemadam Asap

  Dua personel TNI saat beristirahat usai memadamkan api di Sumatera. Keduanya terlihat sedang berbagi mie instan untuk bekal makan. (VIVA.co.id/Facebokk)
Dua personel TNI saat beristirahat usai memadamkan api di Sumatera. Keduanya terlihat sedang berbagi mie instan untuk bekal makan. (VIVA.co.id/Facebokk)

Sebuah foto yang menggambarkan dua orang personel TNI pemadam kebakaran hutan di Sumatera membuat haru dan bangga sejumlah netizen.

Bagaimana tidak, di dalam foto yang kini beredar luas di jejaring sosial tersebut, terlihat dua orang anggota TNI sedang beristirahat di tengah kabut asap. Dalam kondisi tubuh lusuh akibat lumpur dan tanah, kedua personel TNI tersebut terlihat sedang berbagi satu bungkus mi instan.

Diduga, kedua personel TNI tersebut kehabisan bekal. Sehingga hanya mengonsumsi mi instan seadanya tanpa menggunakan air hangat.

Tak pelak, tampilan foto tersebut menuai pujian dari netizen. Gambar ini pun disukai lebih dari 18 ribu orang dan telah dibagikan lebih dari 11 ribu orang.

Sperti inilah perjuangan TNI..tapi masih ad aj yg bilang kal TNI gak ad kerjaannya n mkan gaji buta ..astagfirullah..pdhal yg bilang sprti itu blm tentu bisa mnjalankan khdupan sbgai TNI yg slalu brtugas taruhan nyawa meninggalkan anak istri ortu untuk mnjga NKRI diperbtasan ataupun daerah rawan..dan aku bangga jadi istri TNI,” tulis akun bernama Vika Astria seperti dikutip Senin 26 Oktober 2015.

Sumpah demi apapun saya #Merinding kalo liat foto ini…Yaa allah hamba mohon turun kan lah hujan mu itu yaa allah…,” tambah akun facebook bernama Robby Alexander.

Saat ini ribuan personel TNI memang sudah diterjunkan di Sumatera dan Kalimantan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan di daerah itu. Selama 1,5 bulan, personel TNI ini akan dirotasi dan digantikan dengan personel yang baru.

Viva.co.id

Jumat, 23 Oktober 2015

Libatkan Peran Duta Besar Swedia, Saab Genjot Paket Kekuatan Udara Untuk Indonesia

P_20151022_090803

Ibarat menginguti langkah Eurofighter yang melibatkan peran Duta Besar empat negara pembuatnya dalam menggolkan pemasaran jet Typhoon di Indonesia. Saab, manufaktur persenjataan dari Swedia, hari ini menggelar jumpa media di kediaman resmi Duta Besar Swedia di Jakarta dalam paparan update paket kekuatan udara untuk militer Indonesia. Selain tetap mengusung tawaran jet tempur Gripen generasi terbaru, perwakilan Saab yang didampingi Dubes Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog juga memberi paket sistem senjata lain yang lebih menyeluruh.

Paket kekuatan udara yang ditawarkan Saab untuk Indonesia terdiri dari jet tempur Gripen NG, sistem peringatan dini dan kendali udara Erieye, command and control untuk matra darat, tactical data link system, kerjasama industri termasuk program ToT (transfer of technology) dan produksi dalam negeri, serta peluang pembukaan lapangan kerja yang ekstensif. Paket kekuatan udara ini digadang akan membantu Indonesia dalam mengatasi berbagai permasalahan seputar bajak laut, illegal fishing, penyelundupan narkotika, dan beragam tantangan di daerah perbatasan. Kehadiran Dubes dalam acara ini sebagai wujud dukungan pemerintah Swedia atas misi yang dilakukan Saab di Indonesia.

P_20151022_104021

Meski belum berhasil menggolkan penjualan jet tempur Gripen ke Indonesia, Saab di Indonesia tak lantas sepi dari aktivitas, pasalnya Saab telah dipercaya untuk melakukan upgrade pada paket rudal Bofors RBS-70 dan radar hanud Giraffe yang telah dioperasikan Arhanud TNI AD sejak era-80an. “Selain menawarkan upgrade rudal RBS-70, kami juga tengah menawarkan sistem radar yang lebih maju dari Giraffe,” ujar Lars Nielsen, Deputy Head of Saab Indonesia kepada Indomiliter. Di matra laut, Saab juga berpeluang untuk memasok sistem Sewaco dan rudal anti kapal RBS-15 pada KCR (Kapal Cepat Rudal) Klewang Class yang tengah digarap PT Lundin Industry Invest. Masih ada lagi peluang untuk memasok solusi Mine Countermeasures (MCM) bagi TNI AL.

Lars Nielsen, Deputy Head of Saab Indonesia
Lars Nielsen, Deputy Head of Saab Indonesia

“Boleh dibilang klien terbesar kami di sektor pertahanan saat ini adalah Angkatan Darat, tapi kami juga tengah menawarkan solusi di sektor sipil, diantaranya ke PT Pelindo dan PT Angkasa Pura,” kata Lars Nielsen yang sangat fasil berbahasa Indonesia. Saab sampai saat ini juga telah menjalin kerjasama dengan industri di Indonesia, institusi riset dan pengembangan serta universitas terkemuka. Baru-baru ini Saab menandatangani surat perjanjian dengan Unhan, ITB dan BPPT. (Haryo Adjie)
 
 

LAPAN LSU-05: UAV dengan Kemampuan Terbang 8 Jam dan Jarak Jangkau 800 Km!

lsu05-test-flight02-300x200

Dimulai sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014, debut drone alias UAV (Unmanned Aerial Vehicle) seolah terdongkrak lewat niatan Capres Jokowi saat itu untuk memberdayakan peran drone untuk kepentingan intai pertahanan. Dari situlah beberapa instansi yang tekait iptek kian terpacu untuk mewujudkan prototipe drone. LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) menjadi ‘salah satu’ pemain yang diperhitungkan di Tanah Air. Setelah sukses dengan proyek prototipe LSU (LAPAN Surveillance UAV)-02 yang berhasil take off dari dek kapal perang KRI Diponegoro 365.

Berangkat dari kesuksesan LSU-02, berlanjut kemudian ke LSU-03 dan LSU-04, dan paling baru akhirnya hadir LSU-05. LSU-05 dirancang dengan dimensi dua kali lebih besar dari LSU-02, dan mampu mewakili peran dari LSU-03 dan LSU-04. Dari segi rancangan dan kinerja, LSU-05 memang tak punya perbedaan berarti dengan drone Wulung yang dibesut PT Dirgantara Indonesia dan BPPT. Hanya saja tampilan moncong LSU-05 terlihat lebih streamline. Oleh LAPAN, LSU-05 digadang punya keunggulan pada jarak jangkau dan lama terbang (endurance). LSU-05 didesain mampu terbang hingga 8 jam dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam. Artinya jika kecepatan rata-ratanya 100 km/jam, dan mampu terbang selama 8 jam, maka pesawat ini akan mampu terbang secara otomatis sejauh 800 km. Kondisi tersebut jelas berbeda dengan LSU-02 yang hanya mampu terbang otomatis sejauh 200-400 km. Jangkauan terbang LSU-05 pun terbilang lebih jauh ketimbang Wulung yang hanya 200 km.

LSU-051

LSU-05 pun telah berhasil melakukan uji terbang perdana pada 22 Desember 2014 di Balai Produksi dan Pengujian Roket Pameungpeuk, Garut – Jawa Barat. Saat uji perdana, LSU-05 mampu melakukan test high speed taxi dengan kecepatan 80 kilometer per jam.

Awalnya, pesawat yang dirancang sejak akhir 2013 ini, didedikasikan untuk penelitian bersama dengan Chiba University. Pesawat tersebut ditargetkan mampu membawa muatan (payload) yang didesain Tim Chiba University yang berbobot hingga 30 kilogram. Design requirement pesawat cukup menantang. Selain harus mampu membawa muatan, pesawat ini juga dituntut memiliki kemampuan terbang dengan kestabilan tinggi sesuai dengan kebutuhan pemetaan yang menggunakan radar.

konfigurasi_lsujangkauan_ttclsu-05-(2)72lc

Lantas apa yang menjadikan LSU-05 mampu terbang jauh dengan waktun cukup lama? Pertama terletak pada keunggulan desain aerodinamis yang mengandalkan material GFRP (Glass Fiber Reinforced Polymer) dengan menggunakan ply-wood sebagai penguat dengan konsep semi monocoque. Lalu untuk sayap mengadopsi high wing memberikan kestabilan yang lebih baik ditambah dengan penambahan hedral. Sayap memiliki sweep sebesar 0 derajat dan bentuk taper memberikan distribusi lift yang baik. Penempatan engine dengan konfigurasi pusher juga memberikan bagian depan pesawat ruang yang bebas untuk meletakkan payload dan sensor tanpa interferensi dan getaran dari sistem propulsi. Ditambah lagi bagian ekor yang terpasang pada dua boom memberikan kestabilan maksimal. Untuk payload diletakkan pada bagian dalam fuselage dengan pintu bukaan pada bagian atas dengan tambahan untuk dibawa pada bagian bawah fuselage.

Bicara tentang engine, dapur pacu LSU-05 mengandalkan mesin piston dengan 15 hp dan propeller 28 inchi. Teknologi mesin mengacu pada EFI (electronic fuel injection) sebagai perangkat sistem propulsi motor bakar piston di mesin. Teknologi EFI memberikan tenaga maksimal namun tetap hemat bahan bakar, melalui sistem pengaturan penyedia bahan bakar dan oksigen secara elektronik agar mampu menyesuaikan dengan kondisi di sekitarnya. Lepas dari mesin, guna keperluan listrik di drone mengandalkan baterai yang terpasag di pesawat.

nirawak_lsu

Tentang sistem kendali, tak ada yang istimewa LSU-05 masih mengacu pada pilihan kendali jarak jauh dengan sinyal radio dari ground station. Pesawat juga dapat dikendalikan secara otomatis dengan menggunakan sistem autonomous lewat dukungan waypoint GPS (Global Positioning System).

Meski punya keunggulan komparatif dari segi endurance dan jangkauan terbang, namun finalisasi desain pesawat masih membutuhkan waktu lagi. Kabarnya di tahun ini LAPAN akan memaksimalkan desain dengan melakukan performance test flight sebanyak mungkin dan re-manufacture struktur untuk mengurangi bobot pesawat agar lebih efektif.

Dengan keunggulaan daya jelajahnya itu, tepat jika LSU-05 ini diperuntukkanuntuk pengamatan area yang jangkauannya sangat luas. Tinggal dipasangkan perangkat sensor seperti kamera dan FLIR (Forward Looking Infra Red) rasanya drone karya anak bangsa sudah layak menjadin tuan rumah di negeri sendiri. (Gilang Perdana)

Spesifikasi LAPAN LSU-05
Dimensi luar
Span (rentang sayap) : 5,5 m
Lenght (panjang) : 4.1 m
Height (tinggi) : 1,13 m

Berat dan payload
MTOW (Max Take Off Weight) : 120 kg
Berat kosong : 31 kg
Berat payload : 30 kg
Berat fuel : 16 kg

Prestasi terbang
TOG (take off ground run) : 60 m
RoC (climb rate) : 182 meter/menit
Range : 240 – 800 km
Endurance : 8 jam
LG (landing ground run) : 83 meter
Ketinggian terbang max : 3.657 meter
Ketinggian jelajah : 1.000 meter
Kecepatan jelajah : 100 km/h
 

Rabu, 21 Oktober 2015

Indonesia harus optimistis Program Bela Negara berhasil

Indonesia harus optimistis Program Bela Negara berhasil
Dokumentasi sejumlah wartawan melakukan permainan keseimbangan di atas tiang saat Latihan Dasar Bela Negara di Markas Komando Resimen Induk Kodam IV/Diponegoro, di Magelang, Jawa Tengah, Selasa (11/3). Sedikitnya 50 wartawan dari berbagai media mengikuti Latsar Bela Negara yang bertujuan memberikan bekal pendidikan dan latihan guna membentuk sikap disiplin, mental yang kuat, pengetahuan dan ketrampilan kepemimpinan serta kemampuan fisik yang memadai. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
... Malu berbuat cela juga masih jadi nilai yang cukup merata...
Ambon (ANTARA News) - Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin, menegaskan, "Kita harus optimis sisa 33 juta orang dari 67 juta yang sudah ada, dapat tercapai dan kalau mendapat 20 juta tetapi saya yakin bisa melebih target 33 juta, karena banyak masyarakat yang mendaftar mengikuti program bela negara."
Dia katakan itu di sela pembukaan Kursus Singkat Manajemen Pertahanan Negara Bergerak, di Ambon, Rabu. Pembiayaan program ini tidak ditanggung sendirian oleh Kementerian Pertahanan, namun bersama instansi lain.
Data Kementerian Pertahanan, menyatakan, sebanyak 67 juta orang yang sudah mengikuti Program Bela Negara. Target yang ditetapkan adalah 100 juta penduduk Indonesia iku program ini dalam 10 tahun, sehingga kekurangannya tinggal 33 juta orang.
Dulu pernah ada Penataran P4 yang diikuti semua pelajar, pegawai negeri dan swasta, dan lain-lain warga negara Indonesia. Setiap mahasiswa baru, sebagai misal, wajib mengikuti Penataran P4 Pola 100 jam yang menjadi salah satu mata kuliah dasar umum wajib.
Program ini dilaksanakan BP7, yang dibubarkan sejalan kejatuhan Orde Baru.
Pada masa Orde Lama hingga peralihan menuju Orde Baru, siswa di tingkat pendidikan dasar hingga menengah atas mendapat mata pelajaran Kewarganegaraan yang dikenal dengan nama Civics.
Titik beratnya adalah penyadaran peran seorang warga negara Indonesia dalam posisinya bagi bangsa Indonesia. Pelaksananya adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nilai-nilai kebangsaan saat itu mampu diserap cukup baik, dengan salah satu tolok ukur pada kebanggaan melantunkan lagu-lagu daerah sebagai komponen penyusun kebudayaan nasional. Saban ada gelaran kebangsaan, kesertaan masyarakat secara suka-rela sangat tinggi. Malu berbuat cela juga masih jadi nilai yang cukup merata.
Ditanya berapa banyak calon anggota bela negara yang direkrut di setiap daerah, Asrin katakan, Program Bela Negara sifatnya suka rela, tidak wajib tergantung animo masyarakat. Karena itu, masyarakat yang ingin masuk dalam Program Bela Negara silahkan.
Dia berharap masyarakat yang tertarik mengikuti Program Bela Negara segera mendaftar, apalagi masyarakat Indonesia patriotis karena lama dijajah, sehingga anak-anak muda sekarang harus dibangkitkan.
"Kegiatan pelatihan bela negara secara serentak akan dilakukan di seluruh Indonesia pada hari Kamis (22/10) dan ada daerah yang sudah mulai pada hari Senin (19/10)," katanya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, menegaskan, faktor jumlah penduduk untuk pembelaan negara masih menjadi salah satu perhitungan utama dalam pertahanan negara.
"Bela negara bukan wajib militer. Namun, perwujudan hak dan kewajiban warga negara dalam pembelaan negara. Nantinya, disiplin pribadi yang akan membentuk disiplin kelompok, seterusnya akan menjadi disiplin nasional. Tembak-menembak itu nomor dua ratus," ujarnya, di Jakarta, Senin lalu (12/10).
Namun demikian, kata Ryamizard, untuk daerah-daerah tertentu seperti, daerah perbatasan dan pulau terluar, Program Bela Negara yang diberikan bersifat khusus. "Di Natuna perlu bela negara plus, dia (masyarakat) perlu tahu bom meledak, dan sebagainya jadi tidak panik," ucapnya.
Mantan kepala staf TNI AD ini menilai, dalam bela negara ini setiap warga negara diajarkan bagaimana mencintai bangsa dan negaranya, membangun kebersamaan sehingga dapat mewujudkan Indonesia yang kuat, dalam menghadapi kompleksitas ancaman.
"Sistem kesenjataan itu kecil. 100 juta militan itu kekuatan yang luar biasa, kalau terbentuk kita (Indonesia) nomor satu di dunia ini," ucapnya.
Saat itu, dia menyatakan, penyelenggaraan pembentukan kader bela negara akan dilaksanakan secara serentak pada 19 Oktober mendatang di seluruh wilayah Indonesia. Program yang akan berjalan selama sebulan ini akan diisi dengan berbagai materi fisik dan psikis.
"Satu bulan, para ahli sedang membuat kurikulum. Nanti ada latihan fisik dan psikis. Fisik adalah kemampuan awal bela negara. Kalau psikis adalah, mental dan disiplinnya, nanti gubernur, bupati, wali kota sampai lurah akan dilibatkan," katanya.
Pada jangka pendek, Kementerian Pertahanan akan membentuk 4.500 kader pembina bela negara di 45 kabupaten/kota seluruh Indonesia dengan target 100 juta kader hingga 10 tahun ke depan, dan para akan menyebar ke seluruh daerah tersebut untuk membentuk sikap para calon anggota bela negara.
 

Mengintip Prototipe Smart Bomb JSOW dari Litbang Kementerian Pertahanan

P1010084
Entah mungkin karena bukan dianggap sebagai priortitas, hingga kini TNI AU belum juga menggunakan smart bomb (bom pintar) dalam gelar latihan apalagi pada kesiapan operasi. Padahal pihak Litbang TNI AU (Dislitbangau) dan Litbang Kemhan (Kementerian Pertahanan) sudah menciptakan prototipe smart bomb sejak tahun 2012. Pada setiap latihan serangan air to ground dari pesawat tempur TNI AU sampai saat ini masih mengandalkan dumb bomb dalam berbagai tipe. Ironisnya, negara tetangga seperti Singapura dan Australia sudah amat maju dalam adopsi smart bomb ini.
Smart bomb dalam tingkatan yang lebih advanced tak sebatas pada modifikasi mounting dan sisi ekor bom yang biasa digunakan dari basis general purpose bomb MK82. Lebih hebat lagi seperti AGM-154C JSOW (Joint Stand Off Weapon) buatan Raytheon yang memang digunakan AU Australia dan AU Singapura. Tak hanya canggih berkat sistem pemandu, keberadaan sayap dan kemampuan menebar bomblet (taburan bom-bom kecil), sejak tahun 2013 muncul versi JSOW-ER (Extended Range). Pada versi terbaru ini JSOW ditambahkan small jet engine yang mampu menghantarkan maut sejauh 500 km.
JSOW ER milik AU Australia.
JSOW ER milik AU Australia di jet F/A-18 Super Hornet.
Meluncur dari F-16.
Meluncur dari F-16.
Momen JSOW sebelum menghantam target.
Momen JSOW sebelum menghantam target.
Taburan bomblet oleh JSOW.
Taburan bomblet oleh JSOW.
Nah, sejak JSOW dibekali engine, maka banyak yang mengkategorikan senjata ini sebagai rudal, meski sejatinya JSOW masuk klasifikasi sebagai smart bomb, pasalnya pada varian awal JSOW A/B dan C tidak dilengkapi sistem pendorong. JSOW di varian awal ini hanya meluncur lewat navigasi sayap dan sistem pemandu, jarak jangkauan smart bomb ini ditentukan dari ketinggian peluncurannya. Secara teori JSOW tanpa energi pendorong dapat melesat antara 22 – 130 km. Kabarnya Australia sudah menggunakan JSOW-ER pada F/A-18 Super Hornet, sementara Singapura telah ditawarkan paket upgrade JSOW-C ke ER.
Bagaimana dengan Indonesia? Meski sebatas pada tataran prototipe, untuk urusan inovasi kita tidak kalah kreatif. Smart bomb dengan wahana JSOW pun sudah menjadi bagian dari kajian, dan buktinya Litbang Kemhan RI sudah pernah menciptkan prototipe senjata ini. Konsep smart bomb JSOW Litbang Kemhan mencomot platform yang sudah ada, yakni bomb MK81 NATO BTN-125 kg.
IMG_3311
Prototipe smart bomb ini dirancang untuk diluncurkan pada ketinggian 10.000 kaki (3.048 meter). Dengan bobot sekitar 180 kg, bom dapat meluncur pada rentang kecepatan 257 meter per detik. Punya bobot hulu ledak 15 kg, bom dapat meluncur sejauh 20 km. Tidak diketahui persis, apakah prototipe smart bomb ini dirancang untuk menebar bomblet atau tidak.
Dari paparan informasi yang didapat, sayap akan terbentang setelah empat detik bom diluncurkan. Smart bomb JSOW Litbang Kemhan ini punya panjang 1.940 mm, lebar 1.512 mm, diameter 230 mm, dan lebar hidung 228 mm. Smart bomb ini dirancang untuk dilengkapi sensor infra red yang akan mulai mengendus sasaran secara lebih presisi pada jarak 2 – 3 km. Untuk tahap awal, kita semua berharap prototipe ini dapat diwujudkan dalam bentuk utuh, sehingga dapat dilakukan uji penembakkan secara langsung. (Bayu Pamungkas)