Jam Digital

Sabtu, 26 Oktober 2013

Pengamanan Jakarta dan Penempatan Tank Leopard

Untuk  mendukung pertahanan Ibu Kota, TNI Angkatan Darat membangun garasi tank tempur utama (main battle tank/MBT) Leopard di bawah tanah dekat Monumen Nasional.  Garasi ini untuk mempermudah pergerakan pasukan dan mendukung pertahanan dalam perang kota.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman, mengatakan, garasi tank bawah tanah tersebut akan dibangun dekat kompleks rumah susun TNI AD yang sedang dibangun di Pejambon, Jakarta Pusat. “Batalyon MBT Leopard berpangkalan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Untuk melindungi ibu kota Jakarta dibangun pangkalan berupa garasi bawah tanah dekat Istana Negara dan Monas,” kata Jenderal Budiman optimistis.
Garasi bawah tanah tersebut mempermudah pergerakan pasukan dan mendukung pertahanan dalam perang kota. TNI AD belajar dari situasi kekacauan yang pernah terjadi di Ibu Kota sehingga perlu antisipasi.
Operator MBT Leopard dan tank angkut personel (APC) Marder adalah Divisi I Kostrad di Cilodong, Jawa Barat, dan Divisi II Kostrad di Malang, Jawa Timur.
Proyek tersebut, menurut Budiman, akan bersinergi dengan pembangunan pertahanan ruang udara Jakarta.
TNI AD juga menunggu kedatangan sejumlah peluru kendali darat permukaan (surface to air missile/SAM) terbaru yang didatangkan dari Eropa. Sistem rudal itu adalah Mistral buatan Perancis dan Starstreak buatan Inggris.

Rudal Starstreak
Koordinasi dengan Jokowi
KSAD mengaku sudah berkoordinasi dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk penempatan rudal tersebut di puncak-puncak gedung di kawasan bisnis penting Jakarta kalau suatu saat negara memerlukannya.
“Payung hukumnya adalah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang dan Rencana Wilayah yang mengatur tentang Tata Wilayah Pertahanan. Bahkan, disiapkan gorong-gorong (drainase) yang menjadi sarana pertahanan seperti di luar negeri,” kata Budiman.
Dia meyakini Gubernur Joko Widodo bisa berkordinasi dengan para pemilik gedung demi kepentingan pertahanan negara. Penempatan baterai rudal dan unit-unit helipad di atas gedung itu juga akan digunakan untuk pertahanan keadaan darurat.
Pertahanan gorong-gorong tersebut bukan hal baru. Pada abad ke-19 di Kota Batavia sudah dibangun garis Van den Bosch atau jalur pertahanan berupa gorong-gorong yang menghubungkan titik strategis di Kota Batavia.

Rusun TNI AD
KSAD menambahkan, saat ini ada dua tower rumah susun TNI AD yang selesai dibangun di sebelah selatan Monas. Rumah susun tersebut menampung para perwira TNI AD agar tinggal tidak jauh dari Markas Besar TNI AD.
Setiap hunian yang dibangun itu mampu menampung perwira dengan istri dan dua anak. Satuan rumah susun yang sudah dibangun adalah tipe 70 sebanyak 59 unit dan tipe 47 sebanyak 162 unit. Pembangunan rumah susun empat lantai dengan empat menara tersebut menelan biaya Rp 85 miliar.
Rumah susun tersebut dilengkapi dengan helipad, mess, dan fasilitas seperti apartemen. Biaya pembangunan rumah susun TNI AD tersebut ditekan sedemikian rupa sehingga hanya Rp 2.3 juta per meter persegi.
Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanudin yang dihubungi terpisah berpendapat langkah itu sangat strategis.
“Namun, harus diingat, penempatan MBT Leopard di garasi bawah tanah tersebut berfungsi sebagai basis operasi dan bukan basecamp. Basis operasi itu dalam keadaan damai bisa digunakan untuk kepentingan sipil,” kata Tubagus Hasanudin.
Dia mencontohkan, di bawah Lapangan Merah (Krasnoyarsk Ploshchad) Moskwa pun terdapat ruangan bawah tanah untuk instalasi militer. Bahkan, ada sarang peluru kendali (silo) di lapangan sebelah Kremlin (secara harfiah berarti ‘benteng’) yang menjadi pusat pemerintahan Rusia.
Tubagus Hasanudin mengingatkan, selain menyimpan tank Leopard di bawah tanah, KSAD juga harus memperhitungkan dengan cermat pengaturan pergerakan tank tersebut di Ibu Kota dalam keadaan darurat. (ONG/ Kompas Cetak 23/10/2013)