Jam Digital

Senin, 31 Maret 2014

TNI AU tunggu pesawat tempur generasi 4,5



Peremajaan dan modernisasi arsenal perang TNI AU terus dilakukan, di antaranya pesawat tempur pengganti F-5E/F Tiger II yang sekarang tergabung di Skuadron Udara 14, yang berasal dari generasi 4,5 atau 4,5++.

Di antara kontestan yang telah masuk ke dalam daftar pasti pengajuan adalah Sukhoi Su-35 Flanker E (Rusia), JAS-39 Gripen (Swedia), Dassault F1 Rafale (Prancis), dan Boeing-McDonnel Douglas F/A-18E/F Super Hornet (Amerika Serikat). Pengadaan arsenal baru TNI AU itu sesuai Perencanaan Strategis Pertahanan Indonesia Tahap III.

"Kami masih menunggu evaluasi dari Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI. Jika ditanya, kami menginginkan generasi 4,5," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, di Yogyakarta, Minggu.

F-5E/F Tiger II didatangkan langsung dari pabriknya di Amerika Serikat pada awal dasawarsa '80-an, dengan skema pembelian foreign military sales.

TNI AU saat itu adalah pengguna perdana Tiger II di ASEAN dengan kekuatan satu skuadron udara penuh (16 unit).

Angkatan Udara Kerajaan Thailand menjadi negara kedua, yang malah membeli lebih banyak lagi Tiger II itu, dan mengembangkan kemampuan pesawat tempur kelas interseptor itu.

TNI AU sebetulnya bukan tidak mengembangkan kemampuan dan usia pakai F-5EF Tiger II itu, karena sempat ada Program MACAN yang diluncurkan pada akhir dasawarsa '90-an.

Selain Thailand, Angkatan Udara Iran secara sempurna bisa mengembangkan Tiger II mereka.

Dassault F1 Rafale merupakan pesawat terbang tempur bermesin ganda dengan rancangan unik di dunia, berkelas multi peran --Prancis menyebut ini sebagai omnirole capability-- termasuk reconnaissance dan surveillance hingga kemampuan meluncurkan bom nuklir.

Dikembangkan dalam hanya tiga varian (B,C, dan M), komonalitas dan kompatibilitas serta kemudahan perawatan plus pengoperasian menjadi nilai tambah pesawat tempur bersayap delta dengan sayap kanard di depan bawah kokpit.

Sistem avionika dan penginderaan serta persenjataannya memakai teknologi kelas paling canggih di kelasnya, di antaranya integrasi sistem dengan pusat pengendali dan sesama penempur di udara.

Adapun JAS-39 Gripen bersayap delta buatan SAAB Swedia, diketahui memiliki kemampuan tempur multiguna-interseptor berkecepatan di atas 2 Mach, dengan teknologi terkini dan menjadi salah satu arsenal andalan NATO.

JAS-39 Gripen merupakan penyempurnaan JAS-35 Vigen dan JAS-37-Drakken, dan bisa menjadi pamungkas dalam superioritas udara dari Swedia yang dikenal dengan produk-produk berkualitas tinggi itu.

Angkatan Udara Kerajaan Thailand menjadi pengguna perdana JAS-39 Gripen ini di ASEAN, sementara di dunia telah dipergunakan Angkatan Udara Kerajaan Swedia, Angkatan Udara Afrika Selatan, dan Angkatan Udara Hungaria.

Sementara Boeing F/A-18E/F Super Hornet adalah pesawat tempur bermesin ganda yang didedikasikan untuk bertempur secara multiperan.

Dia juga dipergunakan di Angkatan Udara Singapura, yang diimbuhi teknologi lebih canggih ketimbang versi ekspor lain dari pabrikannya.

Sukhoi Su-35 Flanker E buatan  Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association adalah pengembangan dari Su-27 Flanker yang ditingkatkan manuverabilitasnya dari kokpit berkursi tunggalnya dan bermesin jauh lebih kuat dari pendahulunya.

Pertama kali mengudara pada 1988, Angkatan Udara Rusia memakai Su-35 Flanker E (semula dikenal sebagai Su-27M) tim aerobatik mereka, Vityyasii Ruskiyii (Ksatria Rusia), menggantikan MiG-29.

TNI AU sudah sangat akrab dengan sistem Su-27 Flanker ini karena telah memiliki satu skuadron udara berisikan mereka, yaitu Skuadron Udara 11, yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Hasanuddin, Makasssar. 

LHD dan peran strategisnya guna mendorong kekuatan Maritim TNI AL

mistral-warships
Mistral Perancis, pilihan utama bagi TNI AL. Selain sudah teruji, TNI punya pengalaman bertransaksi dengan Perancis.

About LHD
Amphibious Assault Ship atau lebih asyik disebut Landing Helicopter Dock (LHD) adalah sejenis kapal perang yang dilihat dari bentuknya mirip seperti Alter Ego nya Kapal Induk/AirCraft Carrier. Kapal jenis ini dirancang dengan kemampuan serbaguna (multipurpose) seperti mengangkut kendaraan-kendaraan amfibi, Helikopter ,pesawat tempur berkemampuan STOVL seperti AV-8 Harrier,F-35B Lightning II hingga helikopter kawin silang MV-22 Osprey. Tak banyak negara yang mengoperasikan LHD di angkatan lautnya, jumlahnya masih bisa dihitung jari, semisal Amerika (Wasp Class), Perancis (Mistral Class), Korea Selatan (Dokdo Class), Jepang (Hyuga Class), Spanyol (Juan Carlos Class) dan Australia (Canberra Class).
Dalam perkembangan ditubuh AL Amerika Serikat, LHD dapat dimodifikasi menjadi Landing Helicopter Assault (LHA) dimana LHD jenis ini lebih dikhususkan untuk mengangkut alutsista berstatus otensif (menyerang). Untuk pertahanan diri, LHD dapat dilengkapi dengan sejumlah Defensive System misalnya Anti-Torpedo Towed Defense System (Nixie), Close in Weapon Sytem dan Active missile decoy system (ex Nulka) atau bisa juga mendapatan kawalan (escort) dari beberapa Frigate dan Kapal selam layaknya Carrier.

Why Need LHD?
Berkat Pesona yang dipancarkan LHD pulalah, membuat Rusia mengambil keputusan yang mengejutkan dunia militer saat itu. Rusia negara pengekspoer senjata terbesar didunia justru untuk pertama kalinya membeli alutsista diluar negaranya yakni LHD Mistral buatan Perancis. Kabar pembelian ini sempat menghebohkan sekutu Perancis di Nato dan Amerika serikat. Bukan tanpa alasan Rusia memlih Mistral, selain meningkatkan kekuatan armada laut hitam Rusia, Mistral juga memangkas waktu pergelaeran pasukan amfibi dari hitungan jam ke hitungan menit.
Selain disebut sebagai kapal induk helikopter, LHD juga termasuk B√Ętiments de Projection et de Commandement (BPC), kapal komando dan proyeksi kekuatan. kapal BPC akan dilengkapi dengan fasilitas komunikasi canggih yang membuat kapal BPC bisa menjadi kapal komando dan mampu menjalankan operasi gabungan multinasional.
LHD dengan kekuatan penuh, kehadirannya bak monster laut.
LHD dengan kekuatan penuh, kehadirannya bak monster laut. Lihatlah alutsista yang diangkut, ngeri.

Menilik apa yang dilakukan AL Rusia dalam memodernisasi armada lautnya, Indonesia sebagai negara kepulauan juga sudah semestinya memilki tujuan mengembangkan kekuatan AL dengan memakai Alutsista yang sangat strategis. Apalagi kini, Nusantara tengah terkepung pangkalan militer asing yang menyebar melingkar bak sebuah cincin, ditambah negara tetangga selatan yang sebentar lagi akan mengoperasikan LHD Canberra Class dan sejumlah kapal Destroyer maka sebagai negara terbesar di kawasan, Indonesia khususnya TNI AL senantiasa mewaspadai setiap gerakan modernisasi dikawasan dengan berbagai bentuk dan tujuannya. Berikut beberapa keunggulan bila TNI Angkatan Laut bila memiliki kapal LHD dalam jajaran Alutsistanya :
  • Meningkatkan daya pergelaran kekuatan TNI secara umum, dimana sebuah LHD dengan bobot 20.000an ton mampu mengangkut ribuan personil, Helikopter, watercraft termasuk dengan semua senjata, amunisi, kendaraan dan logistik. Sehingga jika dilakukan Operasi Amfibi atau pendeployan pasukan marinir dapat di lakukan secara masif dalam waktu yang tak terlalu lama. Sangat cocok dengan kondisi geografi dan geopolitik wilayah NKRI yang terdiri dari banyak pulau sebagai sebuah medan laga.
  • Mendukung poin diatas, LHD dapat menjadi pusat komando operasi gabungan TNI AL dengan teknologi yang lebih canggih sesuai perannya sebagai BPC (B√Ętiments de Projection et de Commandement )
  • LHD juga sangat luar biasa untuk mengemban misi kemanusiaan, kemampuan angkut yang luar biasa besar ,Tim penyelamat dan pasokan logistik untuk para korban bencana dapat didistribusikan dengan lebih efektif.
  • Memberikan efek penangkal / Deterens sehingga tugas pengawasan dan pengamanan perairan nusantara berserta ZEE lebih bertaji serta menjadi prestige tersendiri jika memilikinya.
LHD spanyol, JuanCarlos beserta akesorisnya yang memukau.
LHD spanyol, JuanCarlos beserta akesorisnya yang memukau.
Tantangan untuk memiliki kapal LHD bagi TNI AL :
  • Ketersediaan anggaran dan prioritas kebutuhan, untuk saat ini mungkin peran kapal komando dan penanganan bencana (non perang) bisa ditambal oleh kapal jenis LPD yang sudah dioperasionalkan TNI AL.
  • Selain problem klasik anggaran, siapun tahu bahwa LHD adalah Alutsista yang sangat strategis, bila sudah memiliki dana belum tentu ada negara produsen LHD yang memberikan lampu hijau. Pilihan negara produsen LHD yang mungkin masih bisa ditembus adalah Perancis dan Spanyol, bisa tidaknya tergantung kemampuan berdiplomasi yang cerdas dan strategis tanpa merugikan salah satu pihak.
  • Reaksi negara kawasan yang terhadap upaya Indonesia memiliki kapal LHD, apalagi bila masih dalam tahap penjajakan muncul reaksi memanas dari negara tetangga, maka perlu upaya khusus untuk meredam gejolak ini sehingga tidak melebar menjadi ajang perlombaan senjata dikawasan (Arm Race).
  • ‘amunisi’ LHD yang harus dimiliki, seperti helikopter tempur, ASW, transport dan kendaraan amfibi menjadi beban tersendiri, apalagi bila ‘amunisi’ ini masih belum dipersiapkan dengan matang seperti merk helikopter yang dipilih, dsb.
  • The Last, Biaya Operasionalnya yang tentu saja akan sangat mencengangkan, dalam hal ini semua kembali pada kondisi ekonomi dan keuangan negara.
At least, meski terlihat sulit diwujudkan untuk saat ini, tetapi memiliki sebuah kapal LHD beserta isinya bukanlah Kemustahilan. Berharap saja, Kemhan dan TNI AL akan melirik dan mewacanakan pembelian LHD dalam daftar MEF mendatang mengingat teknologi dan ancaman militer terus berkembang dinamis. Kita tunggu saja penerus pemerintahan Presiden SBY kelak, semoga akan tetap konsisten untuk meneruskan program modernisasi Alutsista ini, termasuk terus berupaya meningkatkan kemandirian Alutsista bersama BUMN strategis negeri ini.
Bersama LHD, Jales veva Jaya mahe.

Alutsista Misterius TNI dan Kegelisahan Negara Tetangga

575282_20140103080749

Intro
Adanya ajang perlombaan senjata (Arms Race) diantara kawasan yang belum tercipta sebuah aliansi adalah hal yang wajar. Memasuki abad 21, kawasan Asia khususnya Asia Pasifik mulai dimeriahkan dengan perlombaan kepemilikian Alutsista (Alat utama sistem Persenjataan) Canggih, ini tak lepas dari meningkatnya suhu perekonomian dunia yang kini bermigrasi dari Eropa/Amerika ke Asia. Negara negara yang paling antusias dalam kompetisi adu senjata biasanya terdorong oleh adanya permusuhan terselubung atau karena ada ancaman yang sangat serius dari negara sekitarnya, diantaranya Iran, China, India, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Singapura, Pakistan, Vietnam, Australia dan Indonesia. Jika diantara negara ini berencana atau tengah membeli Alutsista Strategis, maka negara sekitarnya akan turut terkompor untuk melakukan hal yang seirama, Jenis Alutsista tandingannya berbeda beda tergantung pada kebijakan politis dan anggaran yang dimiliki.
Terkadang, ajang perlombaan senjata ini dapat dianggap sebagai situasi yang riskan berpotensi meng unstabilkan kedamaian dan keseimbangan kawasan. Beberapa negara berpandangan, bahwa aktivitas saling unjuk gigi senjata strategis sangat tidak direkomendasikan karena akan timbul konsekuensi-konsekuensi yang tak diharapkan, seperti yang tadi dituliskan, mengancam kestabilan dan ketenangan kawasan. Sehingga, Negara tersebut memilih mengambil kebijakan yang bersifat unpublicated, top secret, dan terselubung terkait rencana atau kepemilikan Alutsista Strategis. Kebijakan inilah yang sepertinya dikerjakan oleh militer Indonesia (TNI) semenjak program pengadaan Alutsista (Minimum Essential Forces) Dicanangkan Pemerintahan Presiden SBY.

Alutsista Rahasia TNI
Tak semua pengadaan senjata utama TNI dipublikasikan pada khalayak umum demi menjaga sebuah kepentingan khusus dan strategis, salah satunya adalah menutupi kekuatan TNI yang sebenarnya dengan tujuan membingungkan pihak asing yang ingin bermain main dalam mengganggu kedaulatan dan integritas nasional Republik Indonesia. Program merahasiakan kekuatan strategis TNI tersebut disinyalir berhasil membuat gerah salah satu negara tetangga kita, secara kilat kementrian pertahanan negara tersebut mengadakan program reboisasi Alutsistanya seperti pembelian kapal LHD, Destroyer, Pesawat tempur canggih dan sebagainya. Secara kasat radar, hal ini terindikasi sebagai upaya antisipatif negara tersebut terkait keberadaan alutsista canggih TNI yang sengaja sangat dirahasiakan keberadaannya.
ERNOULT571179
Flashback sejenak ketika Pemerintahan Presiden Megawati berkuasa dan Pemerintahan Jilid satu Presiden SBY, dimasa itu tengah ramai pemberitaan insiden pelanggaran kedaulatan Indonesia oleh negara asing, pengklaiman wilayah dan penerbangan illegal (Black Flight). Kekuatan pertahanan Indonesia serasa ditampar, pasca Reformasi dan riuhnya konflik horizontal dibeberapa daerah, perhatian terhadap kondisi Alutsita TNI belum terlalu intens. Modernisasi dan pengadaan alutsista masih terkesan lambat, sehingga kebutuhan Alutsista TNI masih saja dibawah garis memadai. Dimasa kedua Pemerintahan SBY semuanya berubah, program MEF dicanangkan dengan rapi dan pasti. Insiden-insiden pelanggaran kedaulatan berangsung berkurang drastis, gerakan MEF dapat dianggap berhasil menggetarkan pihak asing, rakyat khususnya warga para military enthusiast bersuka cita. Dimasa MEF inilah kemudian beredar banyak bisikan gaib dan gossip tentang aktvitas rahasia Kementrian Pertahanan/TNI terkait pembelian Alutsista Menakutkan yang masuk dalam daftar kebijakan sangat dirahasiakan. Keberadaan Alutsista ini menjadi topic/bahan perbincangan ramai yang memikat diforum forum militer, saling tebak dan analisa yahud menyeruak dimana mana. Alutsista Ghaib, itulah sebutannya. Barangnya dirasa ada tapi wujudnya dirasa tidak ada. Wonderful !
Conclusion

Pertanyaan yang sangat menarik adalah Benarkah TNI memiliki Alutsista Strategis yang menakutkan lawan? Apa saja Alutsista tersebut?. Dari informasi yang beredar dijagad maya, Alutsista super rahasia tersebut adalah Jet Tempur Canggih, Sistem Pertahanan Udara (SAM) dan Kapal Selam. Penerawangan awam, Jet Tempur yang dimaksud adalah Sukhoi SU35 atau Dassault Rafale, SAM S-300, TD2000 atau HQ-16, Kapal Selam Kilo terbaru atau U216. Ane sendiri berharap bahwa Alutsista ghaib TNI tak hanya ini saja, melainkan ada Pesawat peringatan Dini (AEW&C), Kapal LHD  hingga Kapal Destroyer Aegis Type. Last, entah benar atau tidak informasi ini, yang pasti saat ini Militer Indonesia kembali disegani dikawasan. Rakyat yang penting tahu dan merasakan bahwa Negara ini dilindungi dengan sangat luar biasa, rasa kebanggaan dan nasionalisme semakin berkibar dengan memiliki angkatan bersenjata yang mumpuni.

TEAM AEROABATIK TNI AU

Memang cukup menakjubkan dan menyaksikan atraksi sebuah tim aerobatik yang sedang beraksi dengan berbagai maneuver yang mendebarkan. Dengan latar belakang langit biru, dan jalur asap warna warni yang keluar dari ekor pesawat-pesawat seolah olah sedang melukis langit. Sangat indah sekaligus mendebarkan.
Negeri ini pernah didatangi oleh tim aerobatik terkemuka dunia, seperti The Thunderbirds dari AU AS pada tahun 1987 di Bandara Halim Perdana Kusuma. Demikian pula kehadiran The Red Arrows dari AU Inggris serta The Roulletes dari AU Australia pada Indonesian Air Show 1996 di bandara Soekarno-Hatta. Belum lagi penampilan Tim Aerobatik lokal The Blue Falcon atau Elang Biru serta Tim Jupiter dan Jupiter Blue dari TNI AU. Semuanya menyajikan keindahan yang dihasilkan dari ketrampilan menerbangkan burung-burung besi ini dalam aneka maneuver dan formasi terbang.
Para Diplomat mewakili bangsa dalam urusan hubungan luar negeri, para olahragawan mewakili bangsanya dalam event olahraga, para artis dalam urusan kebudayaan, namun yang mewakili kemampuan militer diwakili oleh apa ? pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah, karena Negara-negara maju di dunia membentuk suatu tim yang dianggap mewakili kemampuan mengelola dan mengoperasikan peralatan perang yang disebut pesawat tempur menjadi sebuah Tim Aerobatic, yang bentindak selaku Duta Bangsa di udara.
Tradisi membentuk Tim Aerobatik sebetulnya sudah dirintis oleh para pendahulu kita sejak AURI masih muda belia hingga berusia lebih dari 50 tahun kini. Dimulai dengan pesawat P-51 Mustang, Mig-17, meningkat ke F-86 Sabre hingga Hawk Mk-53 dan F-16 Fighting Falcon. Pesawatnya bisa beda, tapi semangat dan missinya sama. Membuktikan bahwa kita juga mampu.
Tim Aerobatik Mustang dan Mig 17


Formasi aerobatik yang digunakan terdiri dari empat pesawat MiG-17. Para penerbangnya adalah Roesmin “Elang” Nurjadin, Kapten (Pnb) Sukardi (gugur dalam kecelakaan MiG-17 di Lanudal Juanda), Ibnu “Scorpion”Subroto dan Manetius “Blue Angel” Musidjan. MiG-17 adalah pesawat pertama yang menggunakan after burner, sehingga mampu melakukan aerobatik vertikal dengan baik. Sehingga dengan MiG-17, para penerbang dengan mudah melaksanakan gerakan roll, loop, immelman, cuban, eight, juga bomb burst.
Belakangan pada tahun 1962, tim aerobatik MiG-17 menggunakan formasi lima pesawat dan ditambah personil baru seperti Mayor Rusman “Hell Cat”, Sofyan Hamzah, Saputro, dan Hashari Hasanudin. Team aerobatic ini tampil di depan publik dalam rangka Ulang Tahun ABRI 5 Oktober 1962,
Mereka kerap ditampilkan dalam upacara hari ulang tahun AURI dan hari-hari besar lain pada awal-awal 60-an. Berbagai maneuver seperti Immelman, Cuban Eight dan maneuver formasi aerobatic dasar menjadi andalan mereka untuk mengundang decak kagum masyarakat kita pada masa kejayaan AURI itu.
Spirit 78 (F-86 Sabre TNI-AU)
Walaupun pada era sebelumnya telah terbentuk tim aerobatik, Pangkalan Udara (Lanud) Iswahjudi sendiri belum bisa membentuknya sampai tahun 1978. Pada era selanjutnya, saat pesawat F-86 Sabre memperkuat Iswahjudi, maka terbentuklah Tim Aerobatik Spirit 78.

Sebagai skadron tempur, aerobatik memang sudah tidak asing bagi para penerbang F-86 Sabre. Namun, untuk kegiatan aerobatik air show memang baru dilaksanakan pada tahun 1978. Berbekal dari pengalaman terbang formasi aerobatik, baik saat masih di L-29, T-33, ataupun setelah menggunakan F-86, saat Mayor (Pnb) FX Suyitno menjabat komandan skadron, mulailah dibentuk Tim Aerobatik F-86 Sabre.
Namun menjelang peringatan Hut ABRI tahun 1978 Skadron 14 diperintahkan mempertunjukkan “Advanced Formation”. Apapun namanya, ini berarti kesempatan mengasah keterampilan dan kerjasama dalam sebuah tim aerobatic. Dipimpin oleh komandannya, Mayor Pnb. FX Suyitno maka latihan dimulai dengan melihat folder-folder Manuver tim aerobatic Pasukan Bela Diri jepang “The Blue Impulse” .

Pesawatpun diberi warna tambahan berupa selempang merah sepanjang badannya. Walhasil beranggotakan Mayor.Pnb. FX “Dragon”Suyitno, Kapten.Pnb. Lambert “Taurus” F.Silloy, Mayor.Pnb.Budihardjo “Bison”Surono, Kapten.Pnb.Suprihadi “Vampire”, Kapten.Pnb Teuku “Orca”Syahrial, Kapten.Pnb Zekky”Jackal” Ambadar, Kapten.Pnb Peter”Condor” Wattimena, Lettu.Pnb F.Djoko”Beaver” Poerwoko dan Lettu.Pnb Djoko “Beetle”Soeyanto diadakan latihan-latihan. Mulai dari empat hingga akhirnya enam pesawat. Penerbang yang terbvangpun bergantian, dengan asumsi pada saat hari tampil ada penerbang lain yang siap menggantikan bila ada personil yang sakit atau berhalangan. Walhasil para penerbang yang rata-rata baru memiliki 150 – 600 jam terbang dengan F-86 Sabre ini mulai mencoba aneka maneuver, sperti Diamond Loop, Clover Leaf, Wing Over, Roll In Trail, Calypso Pass dan ditutup dengan Bomb Burst . Semuanya dilatih hanya dalam waktu enam minggu dan latihan yang diikuti dengan lengkap oleh enam pesawat juga hanya dilaksanakan dua kali saja, di Madiun sekali dan di Jakarta sekali., namun pertunjukannya berlangsung spektakuler dan untuk pertama kali disiarkan secara nasional oleh TVRI. Tim ini dinamakan “Spirit’78” yang berarti membawa semangat untuk terus maju.
Selanjutnya team ini masih diminta memperagakan kemahirannya di daerah-daerah lain. Pada bulan desember 1978 mengadakan lawatan ke Denpasar, Baucau, Ambon, Biak, Menado, Ujung Pandang dan Balikpapan. Selanjutnya mereka masih tampil di Hari Armada di Surabaya tanggal 15 januari 1979. dan masih ada beberapa acara lain. Mereka tampil dengan aman dan selamat, walaupun secara kualitas memang belum bisa dibandingkan dengan tim aerobatik luar negeri seperti Red Arrows atau Thunderbirds.. Selanjutnya banyak penerbang Sabre ini yang dikirim ke luar negeri dalam rangka mengambil pesawat F-5 Dan A-4 Skyhawk. Sehingga praktis pada HUT ABRI 5 Oktober 1979m tidak tampil. Namun tim ini beraksi lagi pada acara HUT ABRI 1980 yang dilaksanakan di jalan Tol Jagorawi. Saat itu Tim ini dipimpin oleh Mayor.Pnb Budiharjo.
Tim Aerobatik Spirit’85
Berawal dari Komandan Lanud Iswahjudi Marsma Zainudin Zikado, yang pada suatu ketika menantang para penerbang senior Skadron 15 untuk membentuk sebuah tim aerobatik. Maka para penerbang senior yang semuanya adalah instruktur program Konversi Dasar Taktik Tempur (KDTT) dengan jam terbang tinggi tersebut mulai berlatih kecil-kecilan. Sama seperti Tim Aerobatik Spirit 78, mereka berlatih tanpa instruktur.

Dimulai dari latihan satu pesawat, meningkat menjadi dua pesawat dan seterusnya. Selanjutnya tim Aerobatik Skadron 15, yang saat ini lebih dikenal sebagai Jupiter Aerobatic Team (JAT), sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 1985. Anggota JAT terdiri dari para penerbang senior di Skadron 15 Lanud Iswahjudi, dengan pesawat Hawk Mk-53. Dimulai dari uji coba kecil-kecilan dan latihan otodidak, hingga terbentuklah sebuah tim aerobatik empat pesawat yang dinamakan Spirit 85 pun kemudian dipilih seperti pendahulunya, Spirit 78.. Para penerbangnya adalah instruktur di skadron Udara 15. Terdiri dari empat pesawat, dengan nama “Spirit’85”. Menggunakan pesawat berjenis sama dengan Tim Aerobatik The Red Arrows menghasilkan maneuver-manuver yang cukup impresif. Para penerbangnya adalah Mayor.Pnb Pieter “Condor”Wattimena, Mayor.Pnb Toto”Ibex” Riyanto, Kapten.Pnb Ida Bagus “Agipe” Sanubari dan Kapten.Pnb Basri “Locust”Sidehabi. Setelah melalui berbagai macam latihan, mereka akhirnya mampu tampil pada 5 Oktober 1985. Gerakan yang ditampilkan dalam acara tersebut adalah steep turn left, barrel roll left, loop, lazy eight, combination break, bomb burst, full configuration, wing over split two, carousel cross, dan straight over (fly pass). Para penerbang dengan kemahiran yang sangat tinggi mampu menunjukkan berbagai macam manuver berbahaya dan enak dipandang di atas Kemayoran, Jakarta. Mereka dalam latihan dan pertunjukan selalu ditemani Marsma Zainuddin Sikado, Komandan lanud Iswahjudi yang duduk dibelakang Pieter Wattimena sebagai Leader.
Setahun kemudian mengikuti sukses Tim Aerobatik Spirit 85, maka pada tahun 1986 latihan pun semakin ditingkatkan. tim Hawk ini diperkuat oleh enam pesawat. Komandan Skadron 15, Letkol (Pnb) Agus Suwarno, yang setahun sebelumnya tidak bisa memimpin langsung tim karena sedang sekolah, hadir bersama beberapa penerbang lain. Leader diganti Agus Suwarno, sedangkan Pieter Wattimena tidak ikut dan masuk dua anggota lain yaitu Mayor.Pnb.Teuku “Orca”Syahrial serta mayor.Pnb.Suminar “Buzzard”Hadi. Jadi para penerbang yang memperkuat tim aerobatik di tahun 1986 adalah Letkol (Pnb) Agus Suwarno, Mayor (Pnb) Basri Sidehabi, Mayor (Pnb) Teuku Syahrir, Mayor (Pnb) Suminar Hadi, Mayor (Pnb) Toto Riyanto, dan Mayor (Pnb) Ida Bagus Sanubari. Tim Aerobatik Spirit 85 tampil di Parkir Timur Senayan dalam Ulang Tahun ABRI ke-41 tahun 1986. Dalam hari ABRI 1986 ini mereka menampilkan suguhan atraksi melukis langit selama dua belas menit yang meliputi sepuluh macam maneuver. Setelah itu tim ini bubar karena personilnya masing-masing mendapat penugasan baru. Namun itu hanya beristirahat selama satu dekade, karena MK-53 akhirnya tampil lagi pada tahun 1997 dengan nama Tim Aerobatic Jupiter.
Tim Aerobatik Elang Biru
Nama Elang Biru muncul muncul sebagai nama Indonesia dari The Blue Falcon. Namun dalam perjalanan waktu nama Elang Biru lebih banyak dipakai dan menjadi ikon dari salah satu prestasi Angkatan Udara sebagai duta di angkasa. Lahir dari perintah pimpinan TNI AU pada pertengahan tahun 1994 untuk menyiapkan suatu Tim Aerobatik menggunakan pesawat F-16 dari skadron Udara 3. Bahkan personil F-16 kita dikirim untuk menyaksikan show The Thunderbirdsdi acara HUT Republik Singapura pada Bulan Agustus 1994. Kemudian mengadakan diskusi dengan personil tim aerobatic kondang tersebut. Komandan Skadron udara 3. kesimpulannya untuk membentuk Tim yang professional diperlukan pelatihan dari personil yang sudah pengalaman, dalam hal ini meminta bantuan dari instruktur The Thunderbirds.
Sambil menanti kedatangan instruktur yang dijanjikan, Letkol.Pnb Rodi “Cobra”Suprasodjo segera menyusun tim yang akan menjadi cikal bakal tim aerobatic. Dengan Rodi sebagai leader dimulailah latihan yang hanya mengandalkan kemampuan formasi dan berbekalkan brosur-brosur dari The Thunderbirds, Tim Aerobatic F-16 USAF.

Terdiri dari enam personil, Rodi Suprasodjo sebagai leader, Kapten Pnb.Tatang”Python” Herlyansah dan Kapten.Pnb.Anang “Morgan” Nurhadi pada posisi wingman kanan dan kiri, Mayor.Pnb Dede “Viper”Rusamsi pada posisi slot dan Mayor.Pnb. Bambang “Puffin” Samudro serta Lettu.Pnb.Agung “Sharky” Sasongkojati pada posisi “solo” kiri dan kanan. Meski hanya bermodalkan hasil belajar secara otodidak, namun dengan memaksimalkan kemampuan maneuver, daya belok dan gemuruh mesin-mesin perkasa F-16 mereka bisa tampil impresif pada HUT TNI AU 9 April 1995. Penampilan yang mengundang decak para pengunjung upacara juga disaksikan oleh khalayak Jakarta sehingga memacetkan Tol Cikampek-Jagorawi. Untuk pertama kalinya HUT sebuah angkatan diliput secara luas oleh media massa nasional karena penampilan Tim Aerobatiknya.
Namun belajar sendiri ternyata tidak cukup, pada bulan Mei 1995 itu datanglah tiga orang “suhu” aerobatic lulusan Tim Aerobatik kesohor, The Thunderbirds. Dipimpin Col. Steve “Boss” Trent, mantan Leader The Thunderbird , May. Pete “Abner” McCaffrey, instruktur “Solo” dan Capt. Matthew “Byrdman” E Byrd, instruktur wingman kiri dan kanan. Abner melatih Bambang Samudro dan Agung Sasongkojati, sedangkan Birdman melatih Tatang Herlyansah dan Anang Nurhadi. Rodi mendapat pelatihan dari Boss. Perlu diketahui Boss adalah mantan Komandan Wing Wolfpack di Korea serta veteran perang Vietnam dengan F-4 phantom, sedangkan Abner dan Byrdman masing-masing adalah veteran operasi Badai Gurun dengan pesawat F-16C dan F-117 Night Hawk.
Selain melatih terbang, para instruktur yang dikirim PACAF ini juga menurunkan software yang berkaitan dengan maneuver, manajemen dan safety dalam mengorganisasi sebuah tim aerobatic layaknya The Thunderbirds. Selain penerbang, tiom juga diawaki personil yang bertugas sebagai observer, juru kamera, public relation serta tugas lain yang penting seperti narrator. Semua maneuver dilatih mulai dari dua pesawat, tiga pesawat, empat pesawat hingga formasi lengkap. Maneuver empat pesawat dan maneuver formasi besar dilatih berulang secara bertahap. Secara bersamaan dua penerbang solo dilatih dengan maneuver solo yang spektakuler. Selanjutnya semua maneuver dipadukan dalam rangkaian penampilan yang indah, tepat waktu namun aman. Aneka maneuver yang sebelumnya belum bisa ditiru oleh para penerbang kita dengan bimbingan dari instruktur dan membaca software yang tersedia akhirnya bisa dikerjakan dengan baik. Memang sebetulnya untuk mendapatkan ilmu aerobatic team harus melalui hasil pelatihan dan pembelajaran panjang sebelum sempurna. Namun beruntung kita tidak perlu mencarai sendiri, karena langsung diberi kunci-kuncinya sehingga dalam waktu singkat bisa menyerap ilmu dan skill dari instruktur.
Menyambut HUT ABRI 5 Oktober 1995, kembali Tiga orang Instruktur USAF melatih para penerbang kita, untuk memoles ilmu dan skill yang sudah diturunkan terlebih dahulu. Namun anggota tim Elang Biru sudah berganti. Bambang Samudro menempati posisi slot (ekor). Mayor Pnb.Agus “Dingo” Supriatna dan Kapten Pnb.Mohamad “Wildgeese” Syaugi yang baru pulang dari pendidikan Weapon Course di AS menempati posisi solo kiri dan kanan. Lettu.Pnb.Agung “Sharky”Sasongkojati pada bulan Juni sudah berangkat ke Australia untuk sekolah Instruktur penerbang. Instruktur dari USAF pun ada yang berganti, Byrdman diganti oleh Tim inilah yang tampil spektakuler dihadapan public pada HUT ABRI 1995. Dengan ilmu turunan dari The Thunderbirds masyarakat Jakarta mendapat kesempatan melihat betapa kita bisa menampilkan maneuver yang tidak kalah dengan Tim Aerobatic luar negeri.

Pada penampilan “professional” perdana inipun manuver berhasil dibuat dengan begitu memukau. Seperti manuver loop, roll, clover loop, bomb burst dan juga pass in reviewyang dilakukan dalam formasi-besar dengan empat hingga enam pesawat. Lalu, ada juga formasi diamond (terbang empat pesawat) yang membuat manuver /ow speed pass dalam formasi, dan bon ton roulle, di mana setiap pesawat berputar pada porosnya masingmasing tetapi tetap dalam posisi formasi.
Penerbang solo juga melakukan seiumlah manuver yang tidak kalah menariknya, seperti inverted atau terbang terbalik, inverted to inverted, lalu aileron rolls, fourpointroll, eightpoint roll, knife edge, opposing knife, serta calypso.
Elang Biru juga memperlihatkan kombinasi diamonddan Solo, misalnya dalam manuver high-lowpass di mana empat pesawat berkecepatan rendah dilintasi satu pesawat dengan kecepatan tinggi. Sementara manuver yang langsung dilakukan oleh enam pesawat sekaligus, antara lain line abreast, yakni pesawat seiaiar dalam bentuk satu garis.
Elang Biru dengan personil yang sudah tetap ini akhirnya tampil lagi di HUT emas TNI AU 1996. kali ini sudah lebih matang manuvernya, namun masih di supervise dari bawah oleh para instruktur dari USAF. Kali ini pesawat sudah tampil dengan warna biru mengkilat dengan strip kuning seperti layaknya tim aerobatic professional. Demikian pula baru dua pesawat solo yang memakai system smoke trail baru yang tangki olinya dipasang di ruang amunisi di punggung pesawat. Lainnya masih menggunakan “smoke winder” diujung sayap. Penampilan puncaknya dimulai saat memeriahkan acara Airshow local Gebyar Dirgantara pada tanggal 8-9 Juni 1996 di Lanud Iswahjudi. Langit cerah dan bermanuver dikandang sendiri menghasilkan penampilan terbaik mereka, seperti yang disebutkan oleh para personilnya. Dengan penampilan ini mereka siap tampil di ajang internasional pertama, Indonesia Air Show di bandara Soekarno Hatta, 22-30 Juni 1996. Di arena ini setiap hari mereka tampil disaksikan puluhan ribu pasang mata dan mengundang decak kagum khalayak internasional, karena bersanding dengan tim aerobatic terkemuka seperti The Roullettes (RAAF) dan The Red Arrows RAF).
Tim Aerobatik Jupiter
Setelah absen selama satu decade, pesawat Hawk Mk-53 akhirnya menampilkan kembali tim aerobatiknya. Pada tanggal 23 September 1997 sebuah team aerobatik yang baru milik TNI AU telah terbentuk denggan menggunakan 8 pesawat Hawk Mk 53 dari Skuadron Pendidikan 103, Team aerobatic ini diberi nama dengan Tim Jupiter. Sebagai motor adalah Komandan Skadron Udara 15 saat itu yaitu Letkol.Pnb.Bambang” “Sulistyo. Dengan berbekal kemampuan terbang aerobatic dari para instruktur penerbang Hawk serta brosur dari Tim Aerobatic The red Arrows saat tampil tahun 1986 mereka berlatih secara otodidak. Tidak seperti halnya Tim Elang Biru yang pada tahun 1995 mendapat pelatihan dari luar.

Tidak kalah dengan Elang Biru, pemunculan perdana Tim Aerobatik Jupiter (Jupiteraerobatic Team) saat Hari ABRI ke-52, 5 Oktober 1997, di angkasa Lanud Halim Perdanakusuma juga sangat memukau ‘ Sebagian penonton malah sempat bertanya’ apakah ini tim baru yang dimiliki oleh TNI Angkatan Udara?
Pertanyaan semacam itu waiar saia terlontar mengingat Tim Jupiter, yang sebenarnya sudah dirintis seiak tahun 1985 itu, sebelumnya seringkali hanya muncul dalam arena yang lebih kecil, dengan jumlah penonton yang juga terbatas. Dengan menggunakan pesawat MK-53 HS Hawk buatan lnggris, tim ini beberapakali melakukan pertuniukan dengan empat pesawat, namun lebib sering tampil dalam aerobatik tunggal.
Partisipasi Jupiter sesungguhnya cukup besar dalam berbagai peristiwa di Tanah Air, seperti saat peresmian Lanud Iskandar Muda di DI Aceh, kegiatan Pelangi Nusantara, serta Gebyar Dirgantara di Lanud Iswahyudi Madiun Bulan Juni 1995. Saat Indonesia Air Show/ IAS ’96 di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jupiter turut tampil pula, walau hanya solo aerobatics dengan penerbang Bambang Sulistyo sendiri.
Kesempatan bisa muncul dengan enam pesawat pas Hari ABRI ke-52 tersebut tentu saia langsung dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh tim ini. la mempertuniukkan 12 dari 32 manuver “Red Arrow’, tim aerobatik kebanggaan Royal Air Force (RAF), yang telak dikuasainya dengan baik dan mantap. Mulai dari manuver delta loop opener, head on pass, line abreast loop, mirror, caterpillar, screw roll, right cloverleaf, heart, knife edge, roll backs, four point & vertical roll, hingga vixen break di penutup atraksi.
Manuver-manuver yang ditampilkan secara mengesankan itu sama dengan sajian yang pernah digelar oleh Tim Red Arrow pada saat IAS tahun 1986 di Bandara Kemayoran, Jakar;a. Jupiter ini memang menggunakan buku panduan tim aerobatik lnggris sebagai referensi. Belaiar sendiri dari buku, lalu mempaktekkannya di lapangan secara otodidak , dan akhirnya mampu tampil sukses. Jupiter bahkan kemudian tampil dengan delapan pesawat, seperti Tim Red Arrow (Tim Panah Merah).
Untuk tampil dengan delapan pesawat Hawk itu, telah dituniukkannya pada pucak peringatan Hari TNI AU ke-52, 9 April 1998, di taxi way “Echo” Lanud Halim Perdanakusuma. Disertai asap yang berwarna-warni, sekitar 20 menit Tim Jupiter ini menampilkan 20 manuver di ketinggian 300 hingga 5.000 feet.
Manuver ‘cantik’ namun terkadang juga menegangkan itu adalah diamoncl kid roll, rocket in view, rocket pheasant roll, inverted to inverted, christmast clover, four point roll, big “V loop, aileron roll, roll backs, half cuban, tanggo loop, vertical roll, screw roll, caterpillar, cross over break, barrel split, heart, arrow on delta, knife eclge, dan atraksi penutup dinamyte break, yakni delapan pesawat dari suatu titik tertentu menyebar ke segala penjuru seperti bentuk kipas.
Mengenai kisah awal terbentuknya Tim Jupiter ini , berawal dari saat Bambang Soelistyo tampil dalam aerobatik tunggal di event IAS ’96. Seorang member The Red Arrow, Kelvin Truss, mencari Soelistyo, dan mereka pun berdiskusi. Truss tertarik karena pesawatnya juga dipakai orang lain, meski secara solo. Soelistyo pun ditanya apa rencananya, dan dijawab bahwa ia sebenarnya ingin pula mengembangkon aerobatik formasi dengan pesawat yang sebagai konsultan Cuma cuma. Kalau Soelistyo merasa ada yang kurang, ia bisa-langsung telepon ke Inggris. Kelvin Truss pun lalu mengirimi brosur-brosur.
Sejak saat itu Tim Jupiter dikembangkan dengan empat pesawat seperti Tim Spirit’85. Seperti halnya jaman Mustang dan Mig-17 yang mencoba membentuknya secara diam diam, dengan alasan untuk latihan demo udara bukan aerobatic team. Sementara itu, kiblat Tim Jupiter ini bisa dipastikan adalah The Red Arrow. Pertimbangannya karena memakai pesawat yang sama, meski mesin pesawat tim Inggris i.tu sudah dimodifikasi namun performance tidaki jauh berbeda.
Namun tim demo udara Hawk ini segera meningkat menjadi Aerobatic team sesungguhnya. Kegiatannya diawali pada waktu Gebyar Dirgantara, di Lanud lswahyudi tahun 1996. Setelah itu ‘tim’ ini dalam event Pelangi Nusantara 1996 keliling melakukan show ke Indonesia Bagian Timur dan Indonesia Bagian Barat dengan empat pesawat.
Mereka lalu latihan terus. Pada saat serah terima jabatan Komandan Lanud lswahyudi, tim ini kembali diberi kesempatan untuk turut mengisi acara. Namanya masih demo udara. Tapi malah bisa lebih leluasa, karena dalam demo udara itu bisa fly pass, bisa juga aerobatik. la pun tampil lagi dengan empat pesawat, namun dengan variasi manuver berbeda. Melihat penampilan demo Hawk tadi para pimpinan TNI AUa memerintahkan Soelistyo, untuk mempersiapkan diri pada acara Hari ABRI 5 Oktober 1997.
Ketika leader menjelaskan akan tampil dengan enam pesawat, pimpinan AU sedikit tidak percaya, dan bertanya lagi, apa dalam kurang satu setengah bulan 6isa dikembangkan jadi enam pesawat. Tentu saja bisa, karena sesungguhnya Tim Jupiter sudah berlatih enam pesawat, hanya pada acara itu tidak ditampilkan seluruhnya.
Tim inipun terus latihan hingga akhirnya bisa tampil gemilang pada acara 5 Oktober di Lanud Halim Perdanakusuma. Sebelumnya dalam kurun waktu satu setengah bulan itu mereka banyak diminta tampil, misalnya dala HUT Kodam V di Surabaya dan saat pergantian Kapolda Jatim. Event itu sekaligus dimanfaatkan untuk latihan persiapan 5 Oktober.
Selanjutnya, karena waktu itu sudah resmi mendapat perintah dari Kasau bahwa Hawk harus tampil pada acara Hari ABRI 1997, sang leader kemudian juga berupaya mencari identitas atau nama untuk timnya itu yang akhirnya dinamakan Tim “Jupiter’.
Nama ‘Jupiter’ digunakan karena callsign personel tim yang semuanya adalah para instruktur terbang dari Skadron Pendidikan 103. Semua instruktur di sana memang menggunakan nama Jupiter untuk panggilan sehari-hari. Tujuan lain agar semua orang yang pernah mengaiar atau meniadi instruktur penerbang dengan call sign Jupiter, turut merasa memiliki Tim ini. Jadi bukan hanya miliknya Skadik saia
Para pilot Hawk lainnya yang memperkuat Tim Jupiter adalah Lettu Pnb. Andis “Lavy”Solikhin, Lettu Pnb. Moh.”Cougar” Dadang, Mayor Pnb.Tri”Wild Cat” Budi Satrio, Kapten Pnb. Fahru “Ferret” Zaini, Kapten Pnb. Donny“Osprey” Ermawan, Mayor Pnb. Agoes”Wild Deer” Haryadi, Lettu Pnb. Yudhianto”Grizzly” dan Lettu Pnb. Budi “Boxer” Ramelan.
Setelah penampilannya pada Hari ABRI, Tim Jupiter kembali lagi muncul mengesankan diLanud Sulaiman, Bandung, saat HUT Kodikau, 15 Oktober 1997. Penampilannya waktu itu membuka sejarah baru bagi Tim Aerobatik TNI AU. Karena, kabarnya belum pernah ada tim aerobatik main di Bandung. Alasannya cukup banyak, antara lain karena faktor ketinggian yang cukup tinggi sehingga banyak berpengaruh terhadap performance, serta cuaca yang terkadang kurang mendukung. Jupiter malah berhasil beraksi di sana dengan lancer dan impresif. Demikian pula mereka beraklsi kembali dalam HUT TNI AU tahun 1998 di Halim.
Tradisi ini dilanjutkan dengan tim yang sama namun Leader yang berbeda saat Bambang Sulistyo diganti Letkol Pnb. Barhim “Wild Horse”sebagai Leader. Penampilannya tetap memukau dalam aneka pertunjukan pada tahun 1999 dan 2000. Dalam Tim ini juga bergabung Anang Nurhadi yang mantan personil Elang Biru. Makin mengukuhkan sebagai Tim aerobatic yang terbina dengan baik. Dalam aneka pertunjukannya Jumlah pesawatnya bervariasi antar 6-8 pesawat .
Setelah absen selama satu decade, pesawat Hawk Mk-53 akhirnya menampilkan kembali tim aerobatiknya\ dengan nama Tim Jupiter. Sebagai motor adalah Komandan Skadron Udara 15 saat itu yaitu Letkol.Pnb.Bambang” “Sulistyo. Dengan berbekal kemampuan terbang aerobatic dari para instruktur penerbang Hawk serta brosur dari Tim Aerobatic The red Arrows saat tampil tahun 1986 mereka berlatih secara otodidak. Tidak seperti halnya Tim Elang Biru yang pada tahun 1995 mendapat pelatihan dari luar.
Tidak kalah dengan Elang Biru, pemunculan perdana Tim Aerobatik Jupiter (Jupiteraerobatic Team) saat Hari ABRI ke-52, 5 Oktober 1997, di angkasa Lanud Halim Perdanakusuma juga sangat memukau ‘ Sebagian penonton malah sempat bertanya’ apakah ini tim baru yang dimiliki oleh TNI Angkatan Udara?
Pertanyaan semacam itu waiar saia terlontar mengingat Tim Jupiter, yang sebenarnya sudah dirintis seiak tahun 1985 itu, sebelumnya seringkali hanya muncul dalam arena yang lebih kecil, dengan jumlah penonton yang juga terbatas. Dengan menggunakan pesawat MK-53 HS Hawk buatan lnggris, tim ini beberapakali melakukan pertuniukan dengan empat pesawat, namun lebib sering tampil dalam aerobatik tunggal.
Partisipasi Jupiter sesungguhnya cukup besar dalam berbagai peristiwa di Tanah Air, seperti saat peresmian Lanud Iskandar Muda di DI Aceh, kegiatan Pelangi Nusantara, serta Gebyar Dirgantara di Lanud Iswahyudi Madiun Bulan Juni 1995. Saat Indonesia Air Show/ IAS ’96 di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jupiter turut tampil pula, walau hanya solo aerobatics dengan penerbang Bambang Sulistyo sendiri.
Kesempatan bisa muncul dengan enam pesawat pas Hari ABRI ke-52 tersebut tentu saia langsung dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh tim ini. la mempertuniukkan 12 dari 32 manuver “Red Arrow’, tim aerobatik kebanggaan Royal Air Force (RAF), yang telak dikuasainya dengan baik dan mantap. Mulai dari manuver delta loop opener, head on pass, line abreast loop, mirror, caterpillar, screw roll, right cloverleaf, heart, knife edge, roll backs, four point & vertical roll, hingga vixen break di penutup atraksi.
Manuver-manuver yang ditampilkan secara mengesankan itu sama dengan sajian yang pernah digelar oleh Tim Red Arrow pada saat IAS tahun 1986 di Bandara Kemayoran, Jakar;a. Jupiter ini memang menggunakan buku panduan tim aerobatik lnggris sebagai referensi. Belaiar sendiri dari buku, lalu mempaktekkannya di lapangan secara otodidak , dan akhirnya mampu tampil sukses. Jupiter bahkan kemudian tampil dengan delapan pesawat, seperti TimRed Arrow (Tim Panah Merah).
Untuk tampil dengan delapan pesawat Hawk itu, telah dituniukkannya pada pucak peringatan Hari TNI AU ke-52, 9 April 1998, di taxi way “Echo” Lanud Halim Perdanakusuma. Disertai asap yang berwarna-warni, sekitar 20 menit Tim Jupiter ini menampilkan 20 manuver di ketinggian 300 hingga 5.000 feet.
Manuver ‘cantik’ namun terkadang juga menegangkan itu adalah diamoncl kid roll, rocket in view, rocket pheasant roll, inverted to inverted, christmast clover, four point roll, big “V loop, aileron roll, roll backs, half cuban, tanggo loop, vertical roll, screw roll, caterpillar, cross over break, barrel split, heart, arrow on delta, knife eclge, dan atraksi penutup dinamyte break, yakni delapan pesawat dari suatu titik tertentu menyebar ke segala penjuru seperti bentuk kipas.
Mengenai kisah awal terbentuknya Tim Jupiter ini , berawal dari saat Bambang Soelistyo tampil dalam aerobatik tunggal di event IAS ’96. Seorang member The Red Arrow, Kelvin Truss, mencari Soelistyo, dan mereka pun berdiskusi. Truss tertarik karena pesawatnya juga dipakai orang lain, meski secara solo. Soelistyo pun ditanya apa rencananya, dan dijawab bahwa ia sebenarnya ingin pula mengembangkon aerobatik formasi dengan pesawat yang sebagai konsultan Cuma cuma. Kalau Soelistyo merasa ada yang kurang, ia bisa-langsung telepon ke Inggris. Kelvin Truss pun lalu mengirimi brosur-brosur.
Sejak saat itu Tim Jupiter dikembangkan dengan empat pesawat seperti Tim Spirit’85. Seperti halnya jaman Mustang dan Mig-17 yang mencoba membentuknya secara diam diam, dengan alasan untuk latihan demo udara bukan aerobatic team. Sementara itu, kiblat Tim Jupiter ini bisa dipastikan adalah The Red Arrow. Pertimbangannya karena memakai pesawat yang sama, meski mesin pesawat tim Inggris i.tu sudah dimodifikasi namun performance tidaki jauh berbeda.
Namun tim demo udara Hawk ini segera meningkat menjadi Aerobatic team sesungguhnya. Kegiatannya diawali pada waktu Gebyar Dirgantara, di Lanud lswahyudi tahun 1996. Setelah itu ‘tim’ ini dalam event Pelangi Nusantara 1996 keliling melakukan show ke Indonesia Bagian Timur dan Indonesia Bagian Barat dengan empat pesawat.
Mereka lalu latihan terus. Pada saat serah terima jabatan Komandan Lanud lswahyudi, tim ini kembali diberi kesempatan untuk turut mengisi acara. Namanya masih demo udara. Tapi malah bisa lebih leluasa, karena dalam demo udara itu bisa fly pass, bisa juga aerobatik. la pun tampil lagi dengan empat pesawat, namun dengan variasi manuver berbeda. Melihat penampilan demo Hawk tadi para pimpinan TNI AUa memerintahkan Soelistyo, untuk mempersiapkan diri pada acara Hari ABRI 5 Oktober 1997.
Ketika leader menjelaskan akan tampil dengan enam pesawat, pimpinan AU sedikit tidak percaya, dan bertanya lagi, apa dalam kurang satu setengah bulan 6isa dikembangkan jadi enam pesawat. Tentu saja bisa, karena sesungguhnya Tim Jupiter sudah berlatih enam pesawat, hanya pada acara itu tidak ditampilkan seluruhnya.
Tim inipun terus latihan hingga akhirnya bisa tampil gemilang pada acara 5 Oktober di Lanud Halim Perdanakusuma. Sebelumnya dalam kurun waktu satu setengah bulan itu mereka banyak diminta tampil, misalnya dala HUT Kodam V di Surabaya dan saat pergantian Kapolda Jatim. Event itu sekaligus dimanfaatkan untuk latihan persiapan 5 Oktober.
Selanjutnya, karena waktu itu sudah resmi mendapat perintah dari Kasau bahwa Hawk harus tampil pada acara Hari ABRI 1997, sang leader kemudian juga berupaya mencari identitas atau nama untuk timnya itu yang akhirnya dinamakan Tim “Jupiter’.
Nama ‘Jupiter’ digunakan karena callsign personel tim yang semuanya adalah para instruktur terbang dari Skadron Pendidikan 103. Semua instruktur di sana memang menggunakan nama Jupiter untuk panggilan sehari-hari. Tujuan lain agar semua orang yang pernah mengaiar atau meniadi instruktur penerbang dengan call sign Jupiter, turut merasa memiliki Tim ini. Jadi bukan hanya miliknya Skadik saia
Para pilot Hawk lainnya yang memperkuat Tim Jupiter adalah Lettu Pnb. Andis “Lavy”Solikhin, Lettu Pnb. Moh.”Cougar” Dadang, Mayor Pnb.Tri”Wild Cat” Budi Satrio, Kapten Pnb. Fahru “Ferret” Zaini, Kapten Pnb. Donny“Osprey” Ermawan, Mayor Pnb. Agoes”Wild Deer” Haryadi, Lettu Pnb. Yudhianto”Grizzly” dan Lettu Pnb. Budi “Boxer” Ramelan.
Setelah penampilannya pada Hari ABRI, Tim Jupiter kembali lagi muncul mengesankan diLanud Sulaiman, Bandung, saat HUT Kodikau, 15 Oktober 1997. Penampilannya waktu itu membuka sejarah baru bagi Tim Aerobatik TNI AU. Karena, kabarnya belum pernah ada tim aerobatik main di Bandung. Alasannya cukup banyak, antara lain karena faktor ketinggian yang cukup tinggi sehingga banyak berpengaruh terhadap performance, serta cuaca yang terkadang kurang mendukung. Jupiter malah berhasil beraksi di sana dengan lancer dan impresif. Demikian pula mereka beraklsi kembali dalam HUT TNI AU tahun 1998 di Halim.
Memasuki peralihan milenium, tim aerobatik ini masih tetap bertahan dan melaksanakan latihan-latihan aerobatik disela-sela tugas pokok sebagai skadron operasi tempur taktis. Masih bertahan dengan enam pesawat, tim aerobatik Jupiter kembali menunjukkan aksi-aksinya. Tampil dengan warna cat baru “doreng abu-abu milenium”, mereka berhasil memukau dalam setiap penampilannya.

“Membentuk gerakan-gerakan yang bisa membuat penonton di bawah puas memang memiliki seni tersendiri” ungkap salah satu mantan anggota tim aerobatik tahun 1970-an. “Kadang-kadang manuver yang sulit dilakukan penerbang, penonton justru menganggapnya biasa. Pada saat manuver yang begitu mudah dikerjakan, penonton malah tepuk tangan dan menganggapnya luar biasa,” tambahnya.
Untuk itu sebelum penampilan puncak, pernah dilakukan survei di tengah-tengah penonton, sehingga diketahui manuver-manuver yang dianggap hebat oleh penonton. Dan manuver yang menurut penonton biasa-biasa saja, bisa dikurangi atau dihilangkan.
Tradisi ini dilanjutkan dengan tim yang sama namun Leader yang berbeda saat Bambang Sulistyo diganti Letkol Pnb. Barhim “Wild Horse”sebagai Leader. Penampilannya tetap memukau dalam aneka pertunjukan pada tahun 1999 dan 2000. Dalam Tim ini juga bergabung Anang Nurhadi yang mantan personil Elang Biru. Makin mengukuhkan sebagai Tim aerobatic yang terbina dengan baik. Dalam aneka pertunjukannya Jumlah pesawatnya bervariasi antar 6-8 pesawat .

Para penerbang yang tercatat sebagai anggota JAT di peralihan milenium adalah Letkol (Pnb) Barhim Toka, Letkol (Pnb) Tri Budi Satriyo, Mayor (Pnb) Anang Nurhadi Susilo, Mayor (Pnb) Donny Ermawan, Kapten (Pnb) Andis Solihin, dan Lettu (Pnb) Budi Ramelan.

Tim Aerobatic Jupiter Blue
Pada awal tahun 2001, Danlanud Iswahjudi Marsma TNI Djoko “ Beaver”Poerwoko, mantan anggota tim aerobatic F-86 Sabre “Spirit’78” mempunyai ide menggabungkan keindahan gerak Hawk dan kegarangan F-16. Jadilah tim aerobatic dengan tiga jenis pesawat. Tiga buah Hawk MK-53, sebuah Hawk MK-109 dan dua buah F-16. Hawk 109 didatangkan dari Lanud Pekanbaru sebagai pesawat slot.

Dengan penerbang Letkol Pnb Barhim dan Kapten Pnb Moh.”Cougar” Dadang, sedangkan Leader beralih ke Mayor Pnb Fahru “Ferret” Zaini dengan dua wingman yaitu Kapten Pnb Andis “Lavy” Solikhin dan Mayor Pnb Donny “Osprey” Ermawan. Sedangkan sebagai penerbang solo adalah Mayor Pnb Fachry “Oryx” Adamy dan Kapten Pnb Moh.”jaguar” Hanafi yang dilatih oleh Letkol.Pnb Moh.Syaugi “Wildgeese”. Cukup menarik, karena sebetulnya filosofi kedua team yang digabung adalah berbeda karena kiblat tim yang dianut berlainan. Campur2 antara F-16, Hawk Mk.53 dan Hawk Mk.109 dalam 1 team aerobatic sebenarnya berbahaya karena karakteristik setiap pesawat yang berbeda. Namun dengan kerja keras selama latihan akhirnya berhasil diwujudkan penampilan pertama yang spektakuler di depan public pada HUT TNI AU di lanud Halim 9 April 2001.

Diawali sebagai pembuka maneuver High Speed Passing dari belakang pengunjung oleh sebuah Pesawat F-16 yang diterbangkan Agung Sasongkojati. Terbang rendah sekali lengkap dengan gelegar Afterburnernya, dilanjutkan roll sambil menanjak ke langit, mengagetkan seluruh pengunjung termasuk Presiden RI KH Abdulrahman Wahid dan Wapres Megawati Sukarnoputri yang nampak hadir sebagai undangan. Jarang terjadi hal seperti ini dalam sebuah HUT Angkatan. Para pemimpin Negara ini berkenan hadir kabarnya karena ingin mengetahui ketrampilan para penerbang aerobatic kita. Selanjutnya Tim Jupiter Blue manampilkan sekuen maneuver yang menimbulkan decak kagum para penonton. Gabungan dari dua tim aerobatic andalan kita Jupiter dan Elang Biru. Juga keheranan sebagaian tamu asing melihat pesawat F-16 kita masih bisa terbang, untuk aerobatic lagi, padahal seharusnya sudah tidak laik terbang karena terkena dampak embargo.
Tim Jupiter Blue dibawah pimpinan Fahru Zaini beraksi kembali dengan spektakuler pada peringatan HUT TNI di Bandara Halim Perdana Kusumah. Kali ini penampilan mereka disiarkan langsung oleh berbagai stasiun TV yang merelai kegiatan HUT TNI tersebut. Penampilan Tim ini makin mengesankan karena suara Leader menyampaikan salam kepada presiden, waktu itu sudah beralih ke Megawati Soekarnoputri disiarkan langsung kepada hadirin. Hal yang sangat langka namun mengesankan. Saat itu penampilan Tim ini merepresentasikan kemapuan TNI mengawaki peralatan tempur canggih yang dipercayakan rakyat. Benar-benar Duta bangsa di Angkasa.
Tahun 2002 Tim Aerobatik Jupiter Blue mengalami musibah. Musibah itu terjadi pada ketinggian 2.000 kaki ketika tiga pesawat Hawk Mk-53 hampir menyelesaikan manuver aerobatik Victory Loop di atas Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur. Manuver tersebut merupakan manuver kedelapan dari sebelas manuver yang bakal mereka suguhkan dalam acara Open day yang rencananya digelar Sabtu, 30 Maret. Tetapi, Tuhan merencanakan lain. Dua Hawk bersenggolan pada hari latihan Kamis 28 Maret dan jatuh, menggugurkan keempat awaknya. Mereka telah berusaha menyelamatkan diri dengan eject dari pesawat, tapi Tuhan menghendaki lain. Sedangkan pesawat Leader yang diterbangkan Letkol.Pnb. Fahru Zaini dengan kehendak Tuhanbisa selamat dari musibah ini.
Telah gugur Kapten (Pnb.) Andis “Lavy” Solikhin Machmud (35) dan Kapten (Pnb.) Weko Nartomo Soewarno (33), awak Hawk nomor ekor TT 5310; Mayor (Pnb.) Syahbudin “Wivern” Nur Hutasuhut (35) dan Kapten (Pnb.) Masrial (33), awak Hawk nomor ekor TT 5311 . Acara open day-pun dibatalkan dan bendera Merah Putih di Lanud Iswahjudi dikibarkan setengah tiang.
Presiden Megawati Soekarnoputri yang sedang berada di Cina waktu itu, begitu mendapat kabar musibah ini, melalui stafnya langsung menelepon Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama F Djoko Poerwoko untuk menyampaikan duka cita atas gugurnya keempat perwira TNI AU tersebut. Megawatijuga berpesan agar musibah tadi tidak mematahkan semangat TNI AU.
Musibah di awal tahun 2001 ini seakan awan gelap yang menutupi sejarah keemasan TNI AU dengan berbagai Tim aerobatiknya.
Tim Aerobatik Jupiter
Team Jupiter yang asli dibentuk kembali pada tahun 2008 menggunakan 4 buah Korean Aerospace KT 1 B Woong Bee dari Skuadron Pendidikan 102 di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta. Pertunjukkan pertama di depan masyarakat umum dilakukan pada tanggal 4 Juli 2008 di Yogyakarta dan yang kedua di Jakarta pada bulan November 2008.

Team aerobatic ini menggunakan nama “JUPITER” sebagai ‘call sign’ (panggilan) para instruktur terbang TNI AU. Semua anggota dari Jupiter Aerobatic Team (JAT) adalah instruktur terbang. Dengan menggunakan pesawat buatan Korea Selatan tahun 2003 itu yang dicat dengan warna abu-abu.

Setelah tahun 2008 Jupiter Aerobatic Team diluncurkan lagi ke bentuk aslinya, Jupiter Aerobatik Team TNI Angkatan Udara kembali diluncurkan. Sebanyak 8 pesawat latih KT-1B Woong Bee buatan Korea Selatan yang dicat dengan warna Merah-Putih, menjadi bagian tim ini. Enam pesawat melakukan 17 kali manuver dalam acara peluncuran tim ini, di Lapangan Udara Adisucipto Yogyakarta, Rabu 16 Maret 2011 petang.

“Warna Merah-Putih lambang keberanian dan kesucian Indonesia, kami ambil dari warna bendera kita, kami bangga, dari bangga dan berusaha membangkitkan Angkatan Udara,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal Imam Sufaat.
Tim aerobatik ini diharapkan tak hanya tampil pada upacara hari Ulang Tahun TNI saja, tapi juga pada acara-acara lain di semua tingkatan. Para pilot yang menerbangkan pesawat latih aerobatik pun dipilih dari penerbang yang berprestasi dan jam terbang tinggi.
Jupiter Aerobatik Team merupakan salah satu tim aerobatik milik TNI AU dalam bentuk skuadron khusus yang terbentuk sejak tahun 1996. Awalnya, tim ini hanya menggunakan 4 pesawat model Hawk MK-53. Namun, Jupiter Aerobatik Team sempat vakum sejak tahun 2002 dan mulai muncul kembali ke permukaan tahun 2008 dengan pesawat latih KT-1B Woong Bee buatan Korsel yang berjumlah 8 buah.

Pesawat jenis ini adalah pesawat yang menggunakan propeler di depannya. Proses perubahan warna dari semula warna abu-abu menjadi warna merah-putih ini berlangsung sejak Februari 2011 lalu. Selain pengecatan, juga dilakukan pemasangan Smoke Trail. Usai menyaksikan manuver pesawat itu, Imam berkomentar, “wonderful.”
Wakil Kepala Penerangan dan Perpustakaan TNI AU, Syaiful M, pada September 2010, Jupiter Aerobatik Team bekerjasama dengan Roulettes mengirim dua orang anggotanya untuk belajar bermanuver. “Tim sudah siap dengan pertunjukan aerobatik yang memukau,” kata dia.
PENUTUP
Elang Biru sangat dipengaruhi oleh Thunderbirds meskipun maneuver yang ditampilkan belum seketat Thunderbirds. Bukan berarti kemampuan pilot kita lebih rendah, tapi realistis sajalah dengan jumlah F-16 yang secuil itu ataupun Hawk Mk.53 pada JAT , otomatis jumlah pilot juga terbatas akan sangat menyulitkan pembagian jadwal antara pelatihan, operasional ataupun pemeliharaan. Jam terbang juga terbatas. Belum lagi soal tersedianya anggaran yang cukup shg membatasi jam terbang. Apalagi mengingat usia Elang Biru dan JAT/Jupiter Blue yang masih muda dan tragisnya “mati” muda juga.
Untuk maneuver cross over break, Elang Biru IMHO setara Thunderbirds. Sedangkan Jupiter Aerobatik Team (JAT) yang lebih muda dan lebih beken dengan nama Jupiter Blue lebih condong dipengaruhi oleh Red Arrows juga lumayan, terutama maneuver high speed roll pass pada ketinggian rendah yang ditampilkan oleh Kapten Pnb. (alm) Andis “Lavi” Solihin. Manuver andalan lainnya Vixen Break With Box Loop JAT juga lumayan mendebarkan.
Kemampuan suatu team aerobatic sering digunakan sebagai barometer kemampuan pilot2 tempur negara yang bersangkutan. Selain memupuk kebanggaan thd angkatan udara juga tak lain sebagai upaya menarik minat kaum muda untuk lebih mencintai dunia kedirgantaraan.
Memang kemampuan melukis langit adalah suatu hal yang tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat. Kemampuan penerbang, kematangan jiwa, kemampuan kerjasama serta pelatihan yang teratur diperlukan untuk menghasilkan penampilan terbaik dengan tingkat safety tinggi. Keperdulian akan segala aspek ini diperlukan agar benar-benar menghasilkan tim aerobatic yang mumpuni. Tanpa dukungan yang memadai, ada aspek yang terabaikan yang pada akhirnya akan menjadi bom waktu bagi keselamatn dan penampilan Tim. Intinya tuntutan kemampuan yang professional memerlukan dukungan yang pantas dan memadai. Darah, keringat dan air mata telah mewarnai sejarah berbagai Tim Aerobatik di TNI AU. Semuanya ditujukan demi menjadi landasan bagi terbentuknya suatu tradisi di Angkatan Udara kita bahwa Tim Aerobatik kita selalu dianggap oleh masyarakat sebagai Duta Bangsa Di Angkasa, “Ambassador In The Sky”.