Sabtu, 19 Oktober 2013

Kalahkan Amerika, Tentara Vietkong Belajar Dari Buku Nasution

Ada hal yang menarik dari sejarah mengenai peperangan Vietnam. Perang yang terjadi selama kurang lebih 8 tahun ini tercatat sebagai kegagalan terbesar Amerika Serikat dalam menaklukkan sebuah negara.
Bayangkan saja, dengan persenjataan yang lengkap dan suplai materi yang berkesinambungan tidak serta merta membuat negara adidaya ini berhasil menghancurkan tentara Vietkong dan North Vietnam Army (NVA). Sebaliknya , justru AS yang harus kembali pulang ke kampungnya dengan kekalahan.

Menurut catatan, setidaknya ada sekitar 58 ribu tentara AS yang dinyatakan tewas dalam peperangan tersebut. 1.000 tentara dinyatakan hilang dan 150 ribu lainnya terluka.

Dalam peperangan yang berlangsung selama tahun 1965 hingga 1973 ini, tentara AS dibuat kerepotan. Tenaga mereka dikuras, mental mereka diperas, dan dana miliaran dolar pun dibuat amblas.

Yang menarik, salah satu kunci keberhasilan tentara Vietkong dan NVA mempecundangi tentara AS adalah dengan meniru praktik gerilya yang dilakukan oleh TNI semasa perang kemerdekaan Indonesia. Bahkan para komandan Vietkong disebut mempelajari taktik gerilya ini lewat buku yang dikarang oleh mendiang pahlawan revolusi, Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution.

Buku yang berjudul 'Pokok-pokok Perang Gerilya' ini dibuat oleh Jenderal AH Nasution setelah berhasil mengatasi Agresi Militer Belanda II tahun 1949. Saat itu, AH Nasution dan Jenderal Sudirman melakukan siasat berperang non frontal. Mereka bertahan di hutan dan pegunungan, mengepung wilayah perkotaan yang dikuasai tentara Belanda.

Siasat inilah yang kemudian dijalankan tentara Vietnam selama bertahun-tahun. Mereka berperang dengan kesabaran. Menyerang patroli-patroli tentara AS, menyerang pos-pos militer, hingga menanam ranjau di hutan. Mental tentara AS benar-benar diuji harus berperang bertahun-tahun dalam hutan. Vietkong sukses mengubah hutan Vietnam menjadi neraka hijau.
 Dalam buku tersebut, AH Nasution menjelaskan secara lengkap mengenai strategi perang gerilya, lengkap dengan berbagai tantangannya. Bahkan konon buku ini pada akhirnya ikut dipelajari oleh Amerika Serikat.
Hal itu diamini oleh Mayjen Purnawirawan Tb Hasanuddin yang ditemui media. "Buku itu mengajarkan inti perang gerilya. Intinya bagaimana yang tidak punya kekuatan, senjata dan lemah menghancurkan kekuatan yang kuat dan memiliki persenjataan lengkap," katanya seperti yang dikutip Merdeka.com.

Pada akhirnya AS menyerah. Dari yang awalnya superior menjadi sangat inferior. Puncaknya terjadi pada tanggal 29 Maret 1973, pasukan terakhir Amerika Serikat meninggalkan Vietnam Selatan. Tak lama kemudian Saigon jatuh ke tangan Tentara Utara. 

Forum Viva.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar