Jam Digital

Minggu, 22 Mei 2016

TNI AD Juara Umum Lomba Tembak Angkatan Darat di Australia


lomba tembak australia
 
TNI AD kembali menorehkan prestasi gemilang di pentas internasional dengan menjadi Juara Umum Lomba Tembak bergengsi antar Angkatan Darat dari 20 negara yang diselenggarakan oleh Royal Australian Army, dengan event Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM) selama 16 hari dari tanggal 3 sampai 19 Mei 2016, di Puckapunyal Military Range, Victoria, Australia.

lomba tembak australia 4
Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi

Dalam penutupan lomba dan penyerahan medali AASAM, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi turut hadir dalam acara ini serta menyerahkan Medali dan Trophy kejuaraan kepada para peserta AASAM 2016 yang berhasil meraih prestasi serta memberikan apresiasi kepada para prajurit TNI AD yang telah berhasil mempertahankan gelar juara umum. Pangkostrad juga menekankan kepada Tim Lomba AASAM TNI AD agar lebih meningkatkan kemampuannya dan tidak lengah, karena pada AASAM 2017 akan lebih banyak negara yang akan berpartisipasi dan diperkirakan 35 negara akan ikut lomba AASAM 2017.

lomba tembak australia 2

Kepala Bidang Penerangan Umum Puspen TNI Kolonel Czi Berlin G. S.Sos., M.M. di Mabes TNI Cilangkap, (20/05/2016) mengatakan TNI AD keluar sebagai Juara Umum AASAM tahun 2016 setelah meraih 23 medali emas dari 50 medali emas di berbagai materi lomba tembak yang diperebutkan. Sebagai runner up adalah kontingen dari Angkatan Darat Tiongkok dengan perolehan 9 emas disusul peringkat ketiga yaitu kontingen dari Angkatan Darat Jepang yang memperoleh 4 medali emas.

“AASAM 2016 diiikuti 20 negara maupun gabungan negara seperti Kontingen ANZAC (Autralia New Zealand Army Corps). Negara-negara yang ikut berpartisipasi pada lomba tembak internasional tahunan ini antara lain : Amerika Serikat, Perancis, Kanada, United Kingdom, Australia, Tiongkok, Jepang, Uni Emirat Arab, PNG, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Indonesia,” ujar Kabidpenum.

lomba tembak australia 7

Kontingen TNI AD pada AASAM 2016 berjumlah 19 orang dipimpin Mayor Inf Syafruddin (Akmil 2000) yang sehari-hari menjabat Kasiops Sops Divisi 1 Kostrad. Sedangkan sebagai Komandan AASAM 2016 adalah Letkol Angus Bell selaku Perwira Menengah dari Angkatan Darat Australia.


lomba tembak australia 1

“Selama berpartisipasi pada Lomba Tembak AASAM, TNI AD senantiasa menjadi juara umum sejak pertandingan di Puckapunyal 2008, dengan menggunakan senjata jenis SS-2 V4 buatan PT Pindad yang merupakan senjata organik pasukan Kostrad,” ujar Kolonel Czi Berlin.

lomba tembak australia 3

AASAM dimulai tahun 1984 di Singleton Pusat Pendidikan Infanteri Angkatan Darat Australia. Beberapa materi lomba yang diperlombakan meliputi Senapan, Senapan Otomatis (SO), Pistol dan Sniper. Indonesia dalam hal ini TNI AD baru mengikuti AASAM pada tahun 1996/1997. Dalam sejarah AASAM, TNI AD sejak tahun 2008 hingga 2016 selalu menempati peringkat teratas dan sebagai pemenang lomba dengan predikat sebagai juara umum.

lomba tembak australia 5

keberhasilan TNI AD dalam menjuarai Lomba Tembak AASAM menunjukkan profesionalisme prajurit-prajurit TNI tidak kalah dengan prajurit-prajurit negara lain seperti United States Marines Corps (USMC), US Army, Anzac, maupun UK, Perancis, Tiongkok dan Australia sendiri. Dan yang lebih membanggakan lagi bahwa senapan yang digunakan untuk menembak di AASAM adalah jenis SS-2 V4 buatan PT Pindad, salah satu industri strategis dalam negeri kebanggaan anak bangsa Indonesia.

Puspen TNI

Transall C-160: Berstatus Sipil di Indonesia, Moncer Sebagai Pesawat Taktis Militer di Luar Negeri

Foto: Sam Chui
Foto: Sam Chui

Namanya memang kalah kondang dibanding C-130 Hercules, tapi C-160 tergolong pesawat angkut taktis yang kenyang berbagai pengalaman operasi militer. Debutnya sebagai pesawat angkut (kargo) sipil juga tak kalah moncer, bahkan dua dekade lebih C-160 aktif mengundara di langit Nusantara. Meski resminya tak menjadi pesawat militer di Indonesia, C-160 adalah pesawat yang fenomenal, seperti wara wirinya pesawat ini saat mendukung operasi INTERFET (International Force for East Timor) di Timor Timur.

C-160 Transall AU Jerman dalam mendukung operasi INTERFET.
Transall C-160 AU Jerman dalam mendukung operasi INTERFET di Timor Leste

Punya dimensi ruang kargo yang mirip C-130 Hercules. Tampak di foto ranpur Wiesel di pintu rampa Transall.
Punya dimensi ruang kargo yang mirip C-130 Hercules. Tampak di foto ranpur Wiesel di pintu rampa C-160.

Dari segi desain alias penampakan, C-160 terlihat mirip dengan C-130 Hercules buatan Lockheed Martin. Tampak depan (hidung), samping, dan bagian ekor amat kental nuansa Hercules. Tak sedikit orang yang menyangka C-160 adalah Hercules. Bahkan, desain ruang kargo dan pintu rampa juga identik dengan C-130 Hercules, maka itu apa yang muat di perut Hercules, biasanya juga dapat masuk ke kargo C-160.

Letak pembeda C-130 dan C-160 nampak pada mesin, bila C-130 Hercules menggunakan empat mesin, maka C-160 hanya mengadopsi dua mesin. Sebagai imbasnya, C-130 Hercules tentu lebih unggul dalam urusan payload, kecepatan, dan jarak terbang. Di Indonesia, C-160 mulai menapaki sejarahnya pada awal dekade 80-an. Pengguna pertamanya adalah Pelita Air Service, kemudian berlanjut ke tangan Manunggal Air Service.

Karena punya kemampuan STOL (Short Take Off Landing), medan operasi pesawat ini lebih banyak di wilayah Indonesia Timur. C-160 dapat mendarat hanya butuh landasan 400 meter, dan lepas landas hanya butuh landasan 700 meter. Roda dan suspensensinya juga tak kalah kuat dari Hercules, yakni mampu take off and landing di landasan rumput atau tanah. Oleh manufakturnya, C-160 memang dipersiapkan untuk beroperasi di landasan yang semi prepared.

5449_1

Transal-schema

Merujuk ke sejarahnya, C-160 lahir di era berkecamuknya Perang Dingin, maka hadirnya pesawat angkut taktis menjadi kebutuhan penting untuk mendukung mobiltas pasukan dan alat tempur. Produksi C-160 digarap patungan antara Jerman (d/h Jerman Barat) dan Perancis. Perjanjian kerjasama penggarapan pesawat diteken pada tahun 1957. Awalnya Italia juga ikut dalam proyek ini, tapi kemudian mengundurkan diri karena sudah punya pesawat andalan sendiri. Sebagai wujud persiapan produksi, pada tahun 1959 dibentuk konsorsium berupa perusahaan Joint Venture antara Nord Aviation (Perancis), Weser Flugzeugbau (Jerman) dan Hamburger Flugzeugbau (Jerman), dengan label perusahaan Transall (Transporter Allianz). Namun kelanjutan produksinya kemudian di-handle A√©rospatiale (Perancis) dan Messerschmitt-B√∂lkow-Blohm (MBB), manufaktur dirgantara dari Jerman.

Guna mendukung operasi militer NATO, Transall mensyaratkan pesawat harus mampu membawa muatan kargo seberat 16 ton dan terbang sejauh 1.720 Km. Atau membawa muatan kargo 8 ton tapi mampu terbang sejauh 4.540 Km. Syarat bisa STOL di landasan yang kurang apik juga ikut jadi perhatian. Akhirnya prototipe C-160 terbang perdana pada tahun 1963, dan selanjutnya produksi perdana dimulai pada tahun 1965.

2014-08-15T174256Z-60930132-LR1EA8F1D7982-RTRMADP-3-IRAQ-SECURITY-GERMANY

Penyerahan perdana C-160 dilakukan pada tahun 1967. Meski dirancang untuk kebutuhan militer Perancis dan Jerman. Karena terkait bisnis, akhirnya C-160 juga dipasarkan ke negara-negara lain. Pengguna untuk kebutuhan militer diantaranya ada Turki dan Afrika Selatan. Sementara konsumen sipil ada Indonesia, Swiss, Perancis, dan Gabon.

Landing gear dan perangkat APU (Auxiliary Power Unit)
Landing gear dan perangkat APU (Auxiliary Power Unit)

Versi yang digunakan Indonesia adalah C-160NG (Next Generation), masuk dalam kategori generasi kedua. C-160NG mulai diproduksi pada tahun 1981, dengan tambahan kata ‘NG,’ pesawat dapat dilengkapi tangki bahan bakar cadangan pada bagian sayap. C-160NG dapat membawa 28.000 liter bahan bakar. Bahkan dimungkinkan dipasangnya fasilitas probe untuk air refueling. Berbeda dengan versi lainnya, C-160NG telah menghilangkan pintu kargo di bagian depan sebelah kiri. Sistem teknologi avioniknya juag telah diperbaharui. Todal 29 unit C-160NG telah diproduksi, sebagai besar untuk kebutuhan AU Perancis, termasuk konfigurasi untuk pesawat tanker, dan enam diantaranya diproduksi khusus untuk Indonesia.


img00014img_4712

Produksi C-160 resmi ditutup pada tahun 1985, dan total pesawat yang diproduksi mencapai 214 unit. Pengguna utamanya adalah AU Jerman (110 unit) dan AU Perancis (50 unit) . Meski sudah lumayan berumur, rencananya C-160 baru akan dipensiunkan Jerman dan Perancis pada tahun 2018. Perancis terbilang kreatif memoles pesawat ini, diantaranya merilis C-160G (Gabriel). C-160G menyandang gelar sebagai pesawat intai dengan adopsi antena khusus dan perangkat optronic (optical electronic). Ada lagi C-160H Asterte, perannya sebagai Airborne Relay Station For Special Transmissions untuk mendukung operasi kapal selam nuklir AL Perancis.

C-160G (Gabriel)
C-160G (Gabriel)

C-160 (PK-VTQ) milik Manunggal Air di Bandara Wamena
C-160 (PK-VTQ) milik Manunggal Air di Bandara Wamena

Sayangnya debut C-160 telah redup di Indonesia, kabar terakhir tentang pesawat ini adalah saat jatuhnya C-160 (PK-VTQ) milik Manunggal Air di Bandara Wamena, Papua pada 15 Juni 2001. Dikutip dari Wikipedia.org, penyebab kecelakaan adalah kerusakan teknis pada mesin pesawat yang berujung pesawat gagal landing. Dalam musibah ini menewaskan seorang penumpang. (Gilang Perdana)

Spesifikasi Transall C-160NG
– Crew: 3 men
– Length: 32.4 m
– Wing span: 40 meter
– Height: 11,65 meter
– Weight (empty):29 ton
– Weight (maximum take off): 51 ton
– Engines: 2 x Rolls-Royce Tyne Rty.20 Mk.22 turboprop
– Engine power: 2 x 6 100 shp
– Maximum speed: 513 km/h
– Cruising speed: 495 km/h
– Service ceiling: 8.200 meter
– Range (with 8.5 t payload) 5 000 km
– Range (with 16 t payload) 1 850 km
– Ferry range: 8 850 km
– Maximum payload: 16 ton
– Troops: 93 men
– Cargo compartment: 17,2 x 3,15 x 2,98 meter
 
 

Hasil Kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia dan Korsel


russian-president-putin

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan investor Rusia berminat mengembangkan sarana kereta api di Pulau Kalimantan. “Menteri BUMN Rini Soemarno masih di Rusia untuk mengecek bukan cuma mencoba keretanya yang katanya kecepatannya 250 km per jam, tapi juga lihat kompleks pabrik dan industrinya,” ujar Darmin, dalam konferensi pers di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Sabtu (21/5).
Dalam kunjungan ke Rusia, Presiden Jokowi dan rombongan melakukan pertemuan satu per satu dengan perusahaan besar Rusia. “Ada sejumlah perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang misalnya Rusian Railways yang bergerak di perkeretaapian, mereka ada di Kalimantan,” ujar Darmin.

Menurut Darmin, kesempatan untuk mengembangkan kerja sama BUMN kedua negara, termasuk yang khusus bergerak di perkeretaapian, sangat terbuka.

Selain pembicaraan di KTT ASEAN-Rusia, Pemerintah Indonesia dan Rusia juga membahas tentang pekerja kawasan yang disebut Euro-ASEAN.

“Rusia menawarkan agar Indonesia menjalin kerja sama juga dalam Euro-ASEAN itu dan ternyata beberapa negara ASEAN seperti Singapura dan Vietnam sudah menandatangani kesepakatan terkait itu, jadi kita akan mempelajarinya, dan kita tidak boleh ketinggalan kereta,” ujarnya.

Dalam pertemuan satu per satu, investor Rusia juga akan membangun kilang minyak dan pabrik petrokimia. “Investasi dan rencana bisnis akan dilakukan besar-besaran untuk petrokimia, bahkan akan dijadikan sebagai basis ekspor selain untuk kebutuhan dalam negeri,” ujar Menko Perekonomian Darmin Nasution.

Rusia juga berminat bekerja sama dengan Inalum untuk memproses alumina agar menghasilkan produk lebih lanjut menjadi produk hilir.

“Jadi cukup banyak, dan kelihatannya Presiden Rusia Vladimir Putin mengetahui satu per satu proyek ini dengan baik. Karena itu pada dasarnya investor Rusia merupakan BUMN yang bergerak secara nasional di sana,” ujar Darmin.

Menko Perekonomian Darmin Nasution
Menko Perekonomian Darmin Nasution

Banyak peminat serius dari Rusia dan pemerintah menganggap pertemuan kali ini tidak sekedar janji janji, tapi telah mulai direalisasikan seperti sektor pariwisata. Mereka sudah lihat tinggal perlu blessing dari pemerintah.


Untuk kilang dan petrokimia yang akan dibangun itu di Indonesia, pada hari Kamis nanti, akan ditandatangani kesepakatan kerja samanya antara Pertamina dengan perusahaan Rusia.

Adapun hasil kunjungan rombongan Presiden Jokowi ke Korea Selatan, Darmin menyebutkan selain ada forum bisnis yang dihadiri ratusan pengusaha Korea, juga ada pertemuan “business luncheon”.

“Dalam business luncheon kita berbincang-bincang dengan investor yang sudah ada di Indonesia, apa dia mau mengembangkan usahanya di Indonesia atau baru mau memulai bisnis di Indonesia,”ujar Darmin.

Dalam pertemuan itu mereka bersemangat dan ada keinginan besar untuk mengembangkan bisnisnya lebih lanjut di Indonesia. Dalam pertemuan dengan Lotte, perusahaan yang selama ini dikenal bergerak di supermarket, ternyata berminat mengembangkan usaha di sektor lain.

Lotte mau masuk ke petrokimia, karena mereka grup bisnis yang luas yang juga menggarap sektor lain termasuk properti, perhotelan, petrokimia dan lainnya.

Dalam kunjungan ke Korea juga dicapai kesepakatan kerja sama perusahaan baja Korea Posco yang melanjutkan kerja samanya dengan PT Krakatau Steel.

“Ini adalah rencana mengembangkan kapasitas produksi di mana akan ada joint venture antara KS dengan Posco dan kita sangat membutuhkan produk besi baja dalam waktu dekat ini,” katanya.

Pembangunan pembangkit listrik juga harus diikuti dengan pembangunan transmisi yang diperkirakan mencapai sepanjang 43.000 km. “Dan itu pasti memerlukan besi dan baja,” ujar Darmin Nasution.


Sumber : Beritasatu.com

Selasa, 10 Mei 2016

Melihat dari Dekat Platform QW-3 Twin Launcher, Rudal Denhanud Paskhas TNI AU

P_20160416_104713

Bila pada dekade silam, ikon senjata Paskhas TNI AU adalah kanon triple gun, maka saat ini ada dua ikon senjata Paskhas yang terbilang populer, yaitu rudal MANPADS (Man Portable Air Defence System) QW-3 dan kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) Oerlikon Skyshield. Dan bila sebelumnya rudal QW-3 terlihat selalu disuguhkan dalam moda dipanggul, kini QW-3 andalan Korps Baret Jingga juga ditampilkan dalam platform twin launcher.

Melihat QW-3 dalam platform twin launcher, sontak mengingatkan pada jenis rudal hanud Mistral Atlas buatan MBDA, yang dioperasikan Arhanud TNI AD. Twin launcher memang dipersiapkan untuk adopsi rudal pada vehicle mounted. Kebetulan platform QW-3 twin launcher ini sempat kami pergoki saat ditampilkan dalam demo pekan dirgantara HUT TNI AU ke-70 di Lanud Halim Perdanakusuma.

P_20160416_104727

QW-3 twin launcher punya beberapa keunggulan dibanding model panggul, pasalnya posisi penembakan lebih stabil, gunner pun dalam posisi duduk manis, sehingga bisa membidik sasaran lebih fokus dan tenang. Kabar baiknya, twin launcher QW-3 sudah bisa diproduksi di dalam negeri, meski rudalnya sendiri masih di impor dari China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC), Cina. Di artikel terdahulu, kami telah mengupas cukup detail tentang seluk beluk rudal yang juga belakangan digunakan Arhanud TNI AD ini.

Posisi standar penembakkan QW-3 dengan dipanggul.
Posisi standar penembakkan QW-3 dengan dipanggul.

QW-3 milik Paskhas dipasang dalam platform tripod di kendaraan jip
QW-3 milik Paskhas dipasang dalam platform tripod di kendaraan jip

Bagi personel Denhanud (Detasemen Pertahanan Udara) Paskhas, bercerita tentang rudal ini menjadi sangat menyenangkan, pasalnya dalam beberapa kali uji coba penembakkan, rudal yang mampu melesat 750 meter per detik ini memang tak pernah gagal dalam menghajar sasaran berupa target drone. Lepas dari bahasan tentang QW-3 yang sudah pernah kami sajikan, nyatanya ada beberapa poin menarik yang rasanya menarik untuk kami bagi dalam tulisan ini.

Tampilan rudal QW-3 dan tabung peluncur.
Tampilan rudal QW-3 dan tabung peluncur.

Diantara yang menarik adalan proses reload (isi ulang), satu tabung peluncur memang bisa dipakai lebih dari satu kali penggunaan, tapi maksimum hanya bisa sampai tiga kali penggunaan, termasuk penggunaan dalam latihan akan mengurangi masa pakai tabung peluncur. Kemudian waktu untuk reload, rudal memang dapat diisi ulang dengan cepat ke tabung, namun untuk mempersiapkan sensor dan IFF (Identification Friend or Foe) interrogator bisa makan waktu 10 menit. Bila gunner terdesak untuk meluncurkan rudal secara kilat, dengan modal nekat tentu QW-3 dapat siap tembak setiap saat.

Beragam perlengkapan Satuan Tembak QW-3. IFF interrogator nampak berupa tas mini berwarna loreng. Perangkat ini menyambungkan kabel yang berisi data informasi ke sistem rudal atau TDR (target data receiver),
Beragam perlengkapan Satuan Tembak QW-3. Mulai dari helm pembidik, teropong, GPS, dan IFF interrogator. Yang disebut terakhir nampak berupa tas mini berwarna loreng. Perangkat ini menyambungkan kabel yang berisi data informasi ke sistem rudal atau TDR (target data receiver),

Inilah perangkat battery coolant unit.
Inilah perangkat battery coolant unit.

Dalam gelar operasinya, satuan tembak (Satbak) QW-3 akan sangat bergantung pada koordinasi dari radar Smart Hunter. Pasalnya Smart Hunter yang akan menginformasikan data IFF, dan perintah Satbak QW-3 mana yang harus merespon datangnya sasaran di suatu area pertahanan. Adanya informasi dari Smart Hunter juga berperan untuk keselamatan awak Satbak dari potensi serangan udara, dimana arah datangnya lawan dapat diketahui lebih dini.

Tampilan alat pembidik sasaran pada QW-3 twin launcher.
Tampilan alat pembidik sasaran pada QW-3 twin launcher.

Close up QW-3 twin launcher.
Close up QW-3 twin launcher.

Elemen lain yang tak kalah penting adalah battery coolant unit, bentuknya berupa tabung yang terdapat dibawah ujung peluncur rudal. Karena vitalnya baterai ini, dalam operasinya setiap peluncur harus mempersiapkan cadangan sampai empat unit baterai. Agar rudal senatiasa siap digunakan, secara berkala dilakukan jadwal maintenance.

Populasi QW-3 di arsenal Paskhas sendiri lumayan besar, dipercaya ada lebih dari 200 unit, belum lagi QW-3 yang ada dioperasikan Arhanud TNI AD. Boleh jadi saat ini QW-3 adalah tulang punggu rudal hanud di Indonesia, terutama dalam hal kekuatan logistik. (Haryo Adjie)
 

450 Personel Yonif Para Raider 330/TD Kostrad Dikirim Untuk Menjaga Perbatasan RI-Papua Nugini


Pasukan TNI AD penjaga perbatasan. (Bisma/detikcom)
Sebanyak 450 personel dari Satuan Batalyon Infanteri Para Raider 330/Tri Dharma Kostrad dikirim untuk melaksanakan pengamanan perbatasan wilayah Republik Indonesia (RI) – Papua Nugini. Pasukan yang dipimpin oleh Mayor Inf Kamil Bahrain Pasha itu diberangkatkan menggunakan KRI TNI AL Teluk Manado-537.

Panjang perbatasan RI – Papua Nugini yang akan dijaga memiliki panjang sekitar 250 kilometer dan dibagi dalam 16 pos. Pasukan dari satuan Yonif Para Raider 330/Tri Dharma Kostrad itu akan menjaga perbatasan selama sembilan bulan kedepan dan direncanakan kembali ke Jakarta pada bulan Februari 2017.

Dalam Amanat tertulis Panglima Divisi Infanteri 1 Kostrad Mayjen TNI Sudirman yang dibacakan Kepala Staf Divisi Infanteri 1 Kostrad Brigjen TNI Agus Suhardi menyampaikan kepada seluruh prajurit satgas untuk memahami situasi dan kondisi wilayah perbatasan RI – Papua Nugini dengan permasalah dan ancaman yang mungkin timbul, serta lakukan analisa situasi dengan akurat agar terhindar dari kesalahan pengambilan keputusan.

Pada kesempatan tersebut, Panglima Kostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi juga berkesempatan memberikan pengarahan. Pangkostrad mengatakan bahwa tugas pasukan selain melaksanakan Pamtas RI – Papua Nugini adalah melaksanakan tugas teritorial yaitu BinKomsos, Bakti TNI dan Bin Wanwil serta memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Papua, khususnya tempat pasukan bertugas.

poskotanews.com dan detik.com

Senin, 09 Mei 2016

Di Balik Penawaran Kapal Selam Scorpene-1000 Indonesia

scorpene

Kapal selam Scorpene-1000, merupakan keturunan langsung dari Scorpene 2000, yang menggabungkan desain mutakhir tingkat tinggi siluman, manuver dan kecepatan. Ukurannya yang kecil memungkinkan untuk unggul di perairan pantai dan tetap menjadi lawan tangguh di perairan dalam. Scorpene-1000 bisa dibilang merupakan miniatur dari Scorpone 2000 secara keseluruhan.

Sistem tempur generasi terbaru dalam Scorpene-1000 dapat membawa torpedo berat, rudal anti pesawat dan rudal anti–kapal. Berkat senjata yang dibawanya, membuat kapal selam ini memiliki efek deteren yang tinggi dan mematikan.

Scorpene-1000 dapat digunakan untuk membawa pasukan khusus dan dapat membawa modul di kedua sisinya untuk perenang mengirim kendaraan atau peralatan lainnya. Kemampuan dan desain yang melekat dengan adanya penambahan bobot sekitar 10 ton memungkinkan DCNS untuk menawarkan pilihan A3SM Anti-Air Missile Sistem dan Survellance UUVs terpasang di kapal selam Scorpone-1000.

Misi S-1000
Misi kapal selam S-1000 meliputi peperangan anti-kapal selam, peperangan anti-permukaan, pengumpulan intelijen, operasi khusus, ofensif mooring tambang, pelacakan rahasia dari kegiatan ilegal, operasi kapal tunggal dan operasi kerja sama dengan kapal lain atau aset maritim. Scorpene-1000 dapat diintegrasikan untuk berkomunikasi dengan mudah dengan kapal lainnya dan pusat komando .

Desain Hull S-1000
Struktur double- hull memberikan bertahan hidup yang baik dan mampu menjaga karakteristik laut. Sebuah kemudi konfigurasi – X beroperasi secara indepedent untuk tingkat manuver yang tinggi termasuk dalam radius putar yang kecil. Lambungnya yang kecil membantu kapal selam ini memilki karakteristik siluman. Kapal selam Scorpene 1000 memiliki kedalaman menyelam hingga 200m dan daya tahan di dalam air selama 5 hari (tanpa AIP) dan 30 hari (dengan Fuel Cell AIP) sehingga memiliki akustik dan visual yang sangat rendah .

Komando dan Kontrol
Scorpene-1000 dilengkapi dengan sistem tempur DCNS SUBTICS kapal selam taktis yang terintegrasi. (Sistem SUBTICS ini salah satu yang ditawarkan pihak DCNS untuk mengoverhaull KS Cakra Indonesia).

Combat Management System CMS yang ditawarkan sudah terintegrasi dengan sonar dan sensor lainya (Optik, Optronic, Electronic Support Measures dan Radar), mencari lokasi dan mengidentifikasi kapal, pelacakan sasaran, analisis taktis, pengambilan keputusan, Manajemen aksi, pertukaran data taktis via data link, kontrol sistem senjata dan keterlibatan target.

Senjata
Scorpene-1000 dapat mengakomodasi generasi baru torpedo kelas berat seperti: Black Shark/F21 , rudal anti – kapal seperti Exocet SM–39, rudal anti pesawat A3SM dan Mine-Laying system.

Pasukan Khusus
Kapal selam Scorpene-1000, bisa membawa dua penumpang ditambah tim dari enam penyelam, dapat digunakan untuk misi pasukan khusus yang memberikan kemampuan serang sebanding dengan kapal selam yang lebih besar. Kapal selam ini dilengkapi dengan kunci luar / kunci dalam ruang untuk perenang bertempur .

Dari spesikasi kapal selam Scorpon 1000 di atas, bisa dibilang sudah cukup lengkap untuk sebuah kapal selam dengan bobotnya yang kecil. Bahkan sangat mengagumkan jika dilihat dari kemampuan senjata yang dibawa. Memang ada beberapa jenis kapal lain yang sejenis yang bisa dibandingkan seperti: U-210Mod dan Amur 950 (S-1000).

Dari kedua rivalnya yang ada, kapal selam mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. kekurangan yang mencolok Scorpene-1000 jika dibandingkan U-210 Mod dan S-1000 (Rusia-Italia) adalah dari segi endurance. Kemampuan menyelamnya yang hanya 200 meter dan daya tahan menyelam di air yang hanya 5 hari.

Untuk daya tahan sendiri masih tertolong rendah dengan adanya penambahan Fuel Cell AIP. Tapi sebagai kapal selam yang disiapkan untuk dipesisir pantai, kemampuan Scorpone-1000 sudah cukup baik dan hanya selisih 50 meter untuk kemampuan menyelam dengan U-210 Mod. Kelebihan lain dari U-210 Mod adalah speed dalam berenang. U-210Mod sendiri mempunyai kelemahan, yaitu tidak adanya VLS Missile dan anti-ship missile. U-210 Mod sendiri merupakan hasil gado-gado teknologi yang ada di kapal selam jerman (automation level acoustic concept U-209, Propulsion System (Permasyn Motor) U-212A dan Automation Concept Hydroplane Hydrodynamic sall design U-214) yang saat ini teknologinya sudah ada di changbogo class.


image002

Kalo melihat dari kebutuhan TNI AL sebagai User, yang paling mendekati Scorpene-1000 dan Amur 950 / S-1000 (Rusia-Italia). Dimana “kapal selam Indonesia bisa menembakan rudal sejauh 300KM”. Seperti yang kita tahu, Rusia sangat pelit dalam memberikan TOT kepada negara lain. Kalaupun mau memberikan, harga yang harus dibayar sangatlah mahal.

Kita bisa lihat kasus India dalam mengadakan tender kapal selam dan pesawat tempur yang mengharuskan adanya Transfer of Technology (TOT), terlalu mahalnya harga yang dibayarkan dan kurang komitmennya Rusia berbagi teknologi (Program Pakfa) sampai India harus berpaling ke Prancis (tender Rafale dan Scorpene).

Mungkin penawaran Scorpone-1000 ada kaitannya yang seperti bung B. Stephanus bilang, Indonesia sedang negosiasi 4 buah kapal selam selain Kilo (Amur 950 / S-1000). Yang jika gagal hasil negosiasinya akan berpaling ke Scorpene-1000.

Ada yang menarik kenapa pemerintah Indonesia tertarik dengan Scorpene 1000 adalah penawaran ToT DCNS terhadap pemerintah Indonesia. Dimana DCNS 2 bulan sebelum menawarkan ke Indonesia, memberikan penawaran Paket ToT untuk peremajaan kapal selam Polandia di acara International Defence Industry Exhibition di Polandia pada tanggal 1-4 September 2015. DCNS menawarkan proposal untuk angkatan laut Polandia berupa, Highly performing acoustic discreation, meningkatkan kemampuan menyelam dengan teknologi generasi terbaru Air Iindpendent Propulsion ( AIP ) dan Scorpone memiliki kemampuan menggunakan MBDA Naval Cruise Missile (NCM).

image004

Xavier Mesnet, (Surface Ship and Submarines Marketing Director at DCNS) menjelaskan bahwa akan ada Transfer of Technolgy (TOT) untuk pembangunan kapal selam di Polandia. “Kami ingin memberikan Polandia otonomi penuh dan kedaulatan penuh pada kapal selam ini (Scorpene) yang dicover oleh dua aspek : Yang pertama adalah Naval Cruise Missile yang akan memberikan kemampuan pencegahan, dan aspek kedua adalah propulsi otonom dengan AIP sel bahan bakar yang dirancang oleh DCNS”.

Angkatan Laut Polandia rencananya akan menonaktifkan empat kapal selam Kobben Class (Type 207) pada akhir 2016 dan ORP Orzel (kelas Kilo) tahun 2022, DCNS memiliki solusi untuk mempertahankan keterampilan pelaut Angkatan Laut Polandia sampai kapal selam pesanannya beroperasional.

Kalau dilihat dari penawaran yang diberikan ke Polandia, kemungkinan bisa juga ditawarkan kepada Indonesia. Jika tidak adanya ToT, tidak mungkin pemerintah Indonesia tertarik dengan kapal selam ini. Jika memang dibalik penawaran 6 unit Scorpene-1000 ini yang membuat pemerintah Indonesia tertarik, ini merupakan batu lompatan yang besar dengan adanya kerjasama dengan DCNS.

Kalaupun tidak diberikan ijin menggunakan MBDA Naval Cruise Missile (SCALP air-launched cruise missile), setidaknya bisa memberikan ToT untuk sistem VLS rudal lain dan Fuel Cell AIP seperti yang didapat India untuk dipasang di kapal selam Indonesia dan mengintegrasikan antara sistem barat dan timur (Rusia) yang ada di Angkatan Laut Indonesia. Ada kemungkinan juga Korea Selatan tidak mampu / memberikan ToT untuk Fuel Cell AIP yang ada di Chang Bogo. Karena AIP merupakan teknologi terbaru dan baru beberapa negara saja yang mampu membuat Sistem AIP. Di Asia sendiri baru Jepang (hasil kerjasama Swedia), India (hasil ToT DCNS) dan China (sedang mengembangkan sendiri).

Untuk menerima penawaran ini, pemerintah Indonesia harus berani mengocek uang lebih dari hasil ToT ini. Kalau melihat dari pengalaman india, mereka sampai harus mengeluarkan USD 8,1 Milyar untuk pengadaan 6 unit Scorpene 2000 beserta ToT nya. Yang pasti jika penawaran ini diterima, akan mempengaruhi pengadaan kapal selam kilo. Karena biaya yang cukup besar untuk menerima penawaran DCNS ini.

Dengan adanya penawaran baru dari DCNS mudah-mudahan tidak mempengaruhi proses Transfer of Technology yang sedang berjalan dengan Korea Selatan. Dengan adanya penawaran baru dengan DCNS nantinya berharap mampu meningkatkan kapal selam Indonesia yang sedang dibangun sekarang dan sesuai dengan doktrin, kondisi geografis dan geopolitik Indonesia bahkan mampu bersaing dengan negara yang sudah lebih maju dalam industri militer minimal dikawasan.

oleh: AL / JKGR.

Minggu, 01 Mei 2016

NASAMS: Sistem Hanud Jarak Medium Impian Arhanud Indonesia

nasams_3

Dibanding negara lain di Asia Tenggara, boleh dibilang militer Indonesia menjadi yang paling ‘kaya’ dalam keragaman rudal hanud (pertahanan udara). Sebut saja yang saat ini aktif ada RBS-70, SA-7 Strela, Grom, Mistral, QW-3, Chiron, dan Starstreak. Meski masing-masing punya sisi kehandalan tersendiri, namun kesemuanya masuk dalam kategori MANPADS (Man Portable Air Defence Sytem) VSHORAD (Very Short Air Defence). Soal keunggulann mobilitas dan perawatan, tentu tak usah diragukan.

Tapi yang jadi soal, jarak tembak yang amat terbatas tentu tidak sesuai dengan kebutuhan hanud titik secara komprehensif. Taburan MANPADS yang tersebar digunakan oleh TNI AD, TNI AL, dan TNI AU, hanya sanggup meladeni sasaran yang terbang rendah, pada ketinggian maksimum 4.000 meter. Kemampuan menguber sasaran pun paling banter dipatok sejauh 8.000 meter. Dalam doktrin Kohanudnas, untuk merespon sasaran yang terbang lebih tinggi, dikedepankan peran hanud terminal, yakni jet interceptor.

p1363156tknasams6336

Tidak ada yang keliru dari stategi hanud diatas, tapi jelas sudah sangat ketinggalan jaman, mengingat konsep diatas tidak disiapkan untuk merespon meluncurnya rudal jelajah yang dilepaskan dari kejauhan, plus jumlah pesawat tempur TNI AU yang terbatas, dipastikan coverage suatu hotspot belum tentu bisa optimal saat dibutuhkan.

MERAD
Meski sampai saat detik ini, Arhanud TNI masih berkutat di zona SHORAD, untungnya itikad untuk melakukan pembebahan pada sistem alutsista hanud mulai mendapat titik terang. Seperti dikutip dari pernyataan Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI Adrian Watimena di majalah Commando edisi No2 Tahun 2016, disebutkan bahwa saat ini sedang dalam proses pengadaan sista hanud MERAD (Medium Air Defence). “MERAD ini jaraknya antara 50 – 100 km dan masuk dalam program MEF (Minimum Essential Force) II periode 2015 – 2019.”

NASAMSII_Battery_tit02.jpgeaf679b6-d01d-4bbf-8f45-320dc8a1bbf8LargerNasams2

Dalam segmen MERAD, beberapa kandidat telah dilirik dan dikunjungi oleh tim terkait. Sebut saja ada nama NASAMS (National Advanced Surface to Air Missile System) dari Norwegia, LY-80, Flying King, dan Sky Dragon 50. Ketiga yang disebut terakhir berasal dari Cina. Belum jelas siapa diantara keempat kandidat yang nantinya akan dipilih Kemhan (Kementerian Pertahanan) RI. Namun melihat potensi konflik di Laut Cina Selatan, alangkah bijak bila TNI dan Kemhan tak memilih produk dari Cina. Selain juga sudah terlalu banyak alutsista TNI yang berasal dari Negeri Tirai Bambu.

NASAMS
Bila diasumsikan yang dipilih adalah NASAMS, maka ini pertama kali bagi Norwegia memasok sistem rudal untuk TNI. NASAMS dibuat oleh Kongsberg, dan Kongsberg selama ini telah akrab di lingkungan TNI AL, yakni sebagai pemasok Combat Management System (CMS) MSI-90U MK2 untuk kapal selam Nagabanda Class (aka – Changbogo Class) dan Hugin 1000 AUV (Autonomous Underwater Vehicle) yang ada di KRI Rigel 933 dan KRI Spica 934. Jadi untuk urusan lobi penjualan bukan memulai dari nol lagi.
NASAMS_II_Kokonaisturvallisuus_2015_02

Lebih tepatnya sistem NASAMS digadang oleh Kongsberg Defence & Aerospace dan Raytheon. Karena ada nama Raytheon, maka basis pemasaran rudal ini mampu menembus paar Amerika Serikat. Bahkan NASAMS dipercaya sebagai rudal hanud yang melindungi obyek vital di Washington DC, termasuk Gedung Putih. Dengan label Raytheon, bisa ditebak basis pengembangan rudal mengacu pada basis rudal eksisting. Dan kemudian bisa disebut NASAMS adalah versi SAM (Surface to Air Missile) AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air-to-Air Missile), rudal udara ke udara jarak sedang yang sangat kondang nan letal di kalangan NATO.

Kolaborasi Kongsberg dan Raytheon disepakati dalam kontrak kerjasama selama 10 tahun, dimulai sejak 2015 sampai 2025. Sistem hanud NASAMS secara keseluruhan dapat memantau, mengidentifikasi, dan mengeliminasi sasaran berupa pesawat tempur, helikopter, rudal jelajah, dan drone (UAV).

Sistem ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi, terlibat dan menghancurkan pesawat, helikopter, rudal jelajah dan kendaraan udara tak berawak (UAV). Sejak generasi pertama diperkenalkan pada tahun 1998, kini Kongsberg telah merilis NASAMS II. Varian terbaru ini sudah menggunakan jenis radar baru, dan 12 peluncur rudal untuk merespon sasaran yang dinamis. Selain Norwegia dan AS, NASAMS II telah digunakan oleh Oman, Finlandia dan Belanda.

Apa yang membuat NASAMS terlihat special? Salah satunya adalah sudah mengadopsi network centric, seperti yang digadang jet tempur Saab Gripen NG. Dengan network centric menydiakan open architecture yang mampu membuat sistem pertahanan terintegrasi dapat lebih tahan terhadap peperangan elektronika. NASAMS secara simultan dapat memindai 72 sasaran sekaligus dalam mode akif dan pasif.

Modul radar MPQ-64F1.
Modul radar MPQ-64F1.

Modul sensor IR dan Electro Optic.
Modul sensor IR dan Electro Optic.

Command Post atau FCU (Fire Control Unit).
Command Post atau FCU (Fire Control Unit).

Dalam sistem NASAMS terdiri dari peluncur rudal AIM-120 AMRAAM berpemandu active radar homing, radar Raytheon MPQ-64F1 Sentinel high-resolution, sensor infra red (IR) dan electro optic (EO), dan command post atau FCU (Fire Control Unit). MPQ-64F1 adalah 3D beam surveillance radar yang punya jarak pantau hingga 75 km. Nah, untuk rudal AIM-120 AMRAAM bisa dipilih, Raytheon menyediakan empat opsi, AIM-120 A/B dengan jarak tembak 55- 75 km, AIM-120C (105 km), AIM-120D (180 km), dan AIM-120 ER (Extended Range) dengan jarak tembak 40 – 50 km lebih jauh dari AIM-120D. Namun AIM-120 ER baru akan diproduksi pada tahun 2019.

Suasana di dalam kabin Command Post.
Suasana di dalam kabin Command Post.

Apakah nantinya NASAMS yang akan memperkuat MERAD Arhanud TNI di masa depan? Kita tunggu saja kabar berikutnya. Yang jelas vendor dari Cina tak akan tinggal diam, fitur canggih dengan harga miring pastinya selalu menggoda. (Gilang Perdana)
 

AN/APG-78: Radar Pengendali Tembakkan Untuk Helikopter AH-64D Apache Longbow TNI AD

AH-64D-Longbow-1-S

Tahun depan jadi momen yang ramai dengan kehadiran alutsista gress TNI, di segmen helikopter dipastikan akan hadir AS565 MBe Panther, helikopter AKS (Anti Kapal Selam) untuk Puspenerbal TNI AL, sementara dari matra darat, helikopter tempur sangar AH-64D Apache Block III Longbow (aka – Guardian) dari Boeing untuk pesanan Puspenerbad TNI AD juga akan mulai berdatangan. Lewat proram FMS (Foreign Military Sales) yang dikucurkan tahun 2012 lalu, Indonesia memang akan mendapatkan delapan unit AH-64D Apache yang jadwal kedatangannya di Tanah Air pada tahun 2017.

pgL_LO-10143_001BritApacheLongbowRadar

Sebagai sistem senjata canggih yang terintegrasi penuh, AH-64D Apache yang didatangkan ke Indonesia tentu dalam wujud paket lengkap. Dengan nilai kontrak senilai US$1,42 miliar, selain delapan unit helikopter, TNI AD juga akan menerima 19 mesin T-700-GE-701D (16 sudah dalam kondisi terinstall dan 3 unit mesin sebagai cadangan). Tiap AH-64D menggunakan dua unit mesin. Dalam paket semiliar dollar juga termasuk 9 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors, 4 AN/APG-78 Fire Control Radars (FCR) dengan Radar Electronics Units (Longbow Component), 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers, 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) dengan 5th Sensor and Improved Countermeasure Dispenser, 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets, 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets, dan 24 Integrated Helmet and Display Sight Systems (IHDSS-21).

2

Sementara dari sisi persenjataan, nantinya Puspenerbad tak lagi ketinggalan dari Singapura, pasalnya telah di order 32 unit peluncur rudal Hellfire M299A1. Logistik rudalnya pun dipersiapkan sampai 140 unit Hellfire AGM-114R3. Plus tentu bekal amunisi 30 mm untuk kanon M230 chain gun, logistik, spare part, dan pelatihan semua sudah terangkum dalam paket FMS. Sebagai itikad baik, saat HUT TNI ke-69 di Dermaga Ujung, Surabaya, empat unit Apache pinjaman dari US Army ikut serta dalam defile udara.

AH-64 Apache US Army dan Mi-35P TNI AD.
AH-64 Apache US Army dan Mi-35P TNI AD.

Sebagai helikopter termpur dengan letalitas tinggi, keluarga heli Apache jelas sarat perangkat sensor dan senjata yang serba jempolan. Apache menjadi pelopor penggunaan IHADSS (Integrated Helmet and Display Sight System). Dan dikemudian hari, IHADSS menjadi platform sistem sensor dan senjata yang favorit dipasang di beragam heli tempur modern. Selain AH-64 Apache, IHADSS kini diadopsi heli tempur Eurocopter Tiger, A1289 Mangusta, dan CSH-2 Rooivalk. Khusus tentang IHADDS dan koneksinya dengan kanon M230, telah kami kupas secara khusus pada artikel dibawah ini. AH-64D Apache Longbow Block III, punya identitas lain sebagai AH-64E Apache Guardian. Label inilah yang kemudian populer di Indonesia.

Baca juga: IHADSS – Sensasi Teknologi “Blue Thunder” Untuk AH-64E Apache Guardian TNI AD

AN/APG-78 Fire Control Radars
Adanya modul radar yang berada tepat diatas poros bilah baling-baling utama menjadi ikon tersendiri bagi AH-64D Apache Longbow. Ini yang secara visual tegas membedakan antara varian lama, AH-64A Apache. Radar ini pada hakekatnya bagian dari sistem Longbow, sistem yang dibesut patungan antara Lockheed Martin dan Northrop Grumman, yang menawarkan integrasi pada sistem radar dan rudal Hellfire.

JGSDF_AH-64D(74506)_APG-78_Longbow_millimeter-wave_fire-control_radar

AN/APG-78 masuk ke dalam jenis radar pengendali tembakkan. Radar ini berjalan di frekuensi Ka band 35Ghz untuk fungsi deteksi, lokasi, klasifikasi dan prioritas pada sasaran taktis. Jarak jangkau radar AN/APG-78 mencapai radius 8 km. Sistem radar ini memang dipersiapkan untuk mampu mengendus kehadiran musuh meski dalam cuaca buruk dan operasinya mendukung pada medan berbukit. (Samudro)
 

Indonesia Bangun “Kapal Induk” di Biak

kapal induk pulau

Panglima TNI Gatot Nurmantyo berencana menjadikan pulau-pulau terluar menjadi ‘kapal induk’ yang diharapkan menjadi basis pertahanan Indonesia.

“Kita tidak butuh kapal induk. Pulau-pulau kita jadikan kapal induk. Daripada kita beli kapal induk, berapa harganya ? Lebih baik pulau-pulau yang ada, kita buat (sebagai markas militer),” ujar Jenderal Gatot saat mengunjungi Pulau Biak, Papua, Sabtu (30/4/2016).

Realisasi pembangunan pulau sebagai ‘kapal induk’ akan dilakukan dalam waktu dekat. ‘Kapal induk’ ini akan menambah kekuatan di daerah perbatasan.

“Saya sih maunya cepet-cepetan, supaya angkatan perang kita siap dengan segala kemungkinan”. Pulau ‘kapal induk’ akan menjadi markas alat militer melakukan pertahanan.

“Kalau di sini (Biak) bisa ada pesawat tempur, pesawat transportasi, kemudian kapal-kapal logistik, terus apa bedanya dengan kapal induk ?. Fungsinya sama menjaga wilayah timur,” jelas Panglima TNI.

Kedatangan Panglima TNI ke Pulau Biak merupakan bagian dari kunjungan empat hari, untuk meninjau pembangunan dermaga di Pulau Kaimana, Mako Lantamal Sorong, dan terakhir di Pulau Biak. Tujuan utamanya adalah untuk menyusun Rencana Pembangunan Kekuatan (Renbangkuat TNI).


“Ini semuanya sedang kita hitung, setelah itu saya paparkan kepada pemerintah. Nah kita tunggu pemerintah bagaimana. Saya mengusahkan agar sehemat mungkin, agar bekas Jepang Belanda yang kita bisa gunakan kita perbaiki dan kita manfaatkan,” tuturnya.

Panglima TNI ingin dilakukan perbaikan sejumlah dermaga. Nantinya ada dua dermaga untuk bersandar kapal besar dan kecil di pulau tersebut serta berguna pula sebagai penjaga keamanan nantinya.

“Dermaga ini sudah rusak, ya kita lapisi saja. Kita benahi lagi. Pokoknya ada dua dermaga, satu untuk kecil dan satu untuk kapal besar,” ujang Panglima TNI.

Jenderal Nurmantyo memberi contoh beberapa pulau terluar yang menjadi ujung tombak keamanan. Pulau tersebut adalah Pulau Natuna untuk wilayah barat dan Biak karena berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik yang menjadi lalu lintas laut utama perdagangan menuju Australia.

“Biak itu paling ujung. Contohnya Natuna terdepan di wilayah Barat, Biak di timur langsung menghadap ke Pasifik, Morotai di Utara, Saumlaki di wilayah Selatan,” jelas Gatot Nurmantyo..

Tak hanya penambahan keamanan wilayah laut, pemerataan pesawat tempur pun akan dilakukan. “Yang sementara terpusat di Madiun dan Makassar, Riau itu kan sebagian, harus rata. Karena sekarang kita tidak bisa memprediksi musuh darimana. Nah yang sekiranya kosong kita isi,” ujar Jenderal Nurmantyo.

Sumber : Detik.com