Jam Digital

Sabtu, 19 Oktober 2013

Kisah Nyata Nasib Tragis Jenderal Ahmad Yani, Anak Emas Presiden Soekarno

Beberapa waktu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Letnan Jenderal Budiman menjadi Kepala Staf TNI AD menggantikan Jenderal Moeldoko yang naik pangkat menjadi Panglima TNI.

Ada cerita menarik seputar pelantikan KASAD. Khususnya saat pemerintahan Presiden Soekarno yang mengangkat Letnan Jenderal Achmad Yani sebagai Kasad pada 28 Juni 1962. Ujung dari peristiwa ini adalah sejarah paling kelam dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketika itu, Bung Karno mengangkat Kasad Jendera Abdul Haris Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Kasab). Secara jabatan, Nasution mendapat promosi. Tetapi secara kewenangan, Nasution sebenarnya dilucuti. Kasab hanya mengurus administrasi, tidak lagi memegang komando pasukan. Hubungan Bung Karno dan Nasution memang tidak bisa dibilang sejalan, bahan cenderung berseberangan.

Bung Karno meminta Nasution merekomendasikan sejumlah nama perwira tinggi TNI AD untuk dilantik menjadi Kasadyang kemudian semua nama-nama tersebut ditolak oleh Bung Karno yang malah meminta diberikan nama-nama lain. Nasution menurutinya dengan mengajukan calon-calon lain. Dari daftar rekomendasi terbaru ini, nama Mayor Jenderal Ahmad Yani berada di posisi paling akhir.

Pada masa tersebut, Yani memang masih termasuk Jenderal junior. Itulah alasannya mengapa Nasution tidak memasukkannya ke dalam nama-nama pertama yang ia rekomendasikan pertama kali. Tapi justru Bung Karno malah akhirnya memilih Yani sebagai Panglima Angkatan Darat.

Jabatan Ahmad Yani saat itu adalah Kepala Staf Gabungan Komando Tertinggi (KOTI) pembebasan Irian Barat dan sekaligus juga menjadi juru bicara tunggal Panglima Tertinggi soal Irian Barat. Hampir setiap hari bertemu dalam rapat-rapat dengan Presiden Soekarno di Istana. Itulah yang menyebabkan hubungan mereka dekat. Setelah menjabat Kasad, hubungan Yani dan Bung Karno menjadi semakin akrab.

Amelia Yani, Putri Ahmad Yani mengatakan bahwa "Banyak yang bilang bapak jadi anak emas Presiden Soekarno,".

Hal berlawanan justru terjadi dalam hubungan antara Yani dan Nasution, dimana Nasution dan Yani malah sering berdebat. Keduanya kerap berbeda pendapat soal pembangunan Angkatan Darat. Yani dikenal tegas, blak-blakan dan jarang basa-basi.

Di masa kepemimpinan Yani, Angkatan Darat disibukkan Operasi Trikora merebut Irian Barat dari Belanda. Setelah itu Operasi Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Amelia mengingat Bung Karno ikut peduli masalah dengan renovasi rumah Yani di Jalan Lembang, Menteng. Bung Karno juga sering mengajak Yani ikut dalam kunjungan ke daerah, dan bahkan menyempatkan hadir saat acara syukuran rumah Yani.

"Hari Minggu pun Bapak dan Ibu sering menemani Bung Karno dan ibu Hartini ngobrol-ngobrol di Istana Bogor," kenang Amelia.

Namun saat itu pun suasana politik Indonesia makin memanas. Partai Komunis Indonesia (PKI) makin kuat karena merasa mendapat angin dukungan dari Bung Karno. Cuma masalahnya, Angkatan Darat, khususnya Ahmad Yani terang-terangan menolak segala kebijakan negara yang dipengaruhi PKI.

Yani bahkan menolak mentah-mentah permintaan Ketua CC PKI Dipa Nusantara Aidit (D.N. Aidit) yang meminta buruh dan kaum tani dipersenjatai. Jadilah, beredar isu Dewan Jenderal dan dokumen asing yang menyebut kolaborasi sejumlah jenderal AD dengan Barat. Karena berlawanan dengan Soekarno dan PKI yang cenderung ke negara Blok Timur seperti China dan Uni Soviet, maka Yani dan kawan-kawannya disebut-sebut akan melakukan kudeta terhadap Bung Karno.

Isu yang dihembuskan oleh PKI tersebut berhasil membuat hubungan Presiden Soekarno dan Yani retak perlahan-lahan. Puncaknya, Soekarno (berencana) memanggil Yani ke istana pada 1 Oktober 1965. Dia berniat mengganti Yani dengan Jenderal Moersjid. Yani tak pernah tahu mengenai hal ini.

Namun apa daya, Yani tak pernah bisa datang ke Istana menemui Bung Karno, karena pagi itu, 1 Oktober 1965 Pukul 04.30 WIB, sepasukan tentara datang menjemput Yani. Mereka mengatakan bahwa Yani diminta menghadap Soekarno segera saat itu juga. Yani sendiri tak curiga karena ia memang sudah ada rencana hendak ke Istana menghadap Bung Karno. Maka dia meminta waktu kepada tentara yang menjemputnya untuk berganti pakaian dengan seragam dinas.

Namun niatnya itu dibantah oleh Tjakrabirawa yang menjemputnya. "Tak usah ganti baju, jenderal!" bentak seorang bintara Tjakrabirawa itu membentak. Hal itu membuat Yani marah (mana boleh seorang bintara berani kurang ajar pada jenderal). Lalu Yani, membalikkan badan dan menempeleng prajurit kurang ajar itu.

Jenderal Ahmad Yani tewas ditembak di sini setelah menempeleng prajurit kurang ajar di pintu ini. Ia ditembak dari jarak dekat, peluru menembus pintu kaca memberondong tubuhnya yang berada dibalik pintu
 
Melihat peristiwa tersebut, seorang prajurit lainnya segera memberondong tubuh Yani dengan tembakan senapan otomatis secara membabi buta dari jarak dekat. Yani tersungkur dan gugur dengan berlumuran darah. Kejadian ini disaksikan oleh Untung dan Eddy, kedua putranya yang masih kecil.

Prasasti ini menunjukkan lokasi tersungkur dan gugurnya Jenderal Ahmad Yani, di balik pintu kaca dan pas di sebelah meja makan
 
Foto ini menunjukkan jejak-jejak darah saat jenazah Pak Yani diseret dengan keji di sepanjang lorong

Lalu para gerombolan prajurit itu menyeret jenazah Yani di sepanjang lorong dan melemparnya ke atas truk. Mereka membawanya pergi, tapi bukan ke Istana melainkan ke sebuah tempat di Lubang Buaya Jakarta Timur. Itulah akhir tragis dari seorang Jenderal yang memiliki rekam jejak cemerlang dalam peristiwa nahas G30S/PKI.
(foto dokumentasi pribadi, Ahmad Yani Tumbal Revolusi/Galang Press, Museum Sasmitaloka Ahmad Yani dan berbagai sumber-sumber lain)