Jam Digital

Kamis, 30 Januari 2014

Wulung UAV: Tantangan Dibalik Sistem Kendali dan Komunikasi Data

wulung01
Disebutkan bahwa TNI AU tak lama lagi akan menggelar satu skadron PUNA (Pesawat Udara Nirawak) sebagai wahana pengintai untuk wilayah perbatasan RI – Malaysia di Kalimantan. Dan ikon utama skadron anyar TNI AU ini adalah Wulung, jenis UAV (Unmanned Aerial Vehicle) buatan karya anak bangsa.
Memang di dalam komposisi skadron UAV, TNI juga mencomot UAV modern asal Israel, Heron. Tapi bagi kami, sosok Wulung-lah yang lebih memikat untuk ditelusuri lebih jauh. Mengapa? Alasannya adopsi UAV Wulung merupakan lompatan teknologi tinggi bagi kemandirian alutsista Dalam Negeri. Bila kita dapat menguasai teknologi UAV, maka bukan hal yang sulit bila nantinya Indonesia ingin mengembangkan UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle) yang dipersenjatai.
Baik Heron dan Wulung, nantinya murni dihadirkan militer Indonesia sebagai pesawat pengintai. Sebagai wahana dengan muatan teknologi canggih, banyak sisi menarik dari Wulung yang dapat dikupas, diantaranya adalah sistem kendali dan komunikasi yang digunakan. “Ada banyak parameter yang dibutuhkan dalam menunjang operasional Wulung, tapi sistem kendali dan komunikasi data adalah yang paling menantang dalam pengembangannya,” ujar Mohamad Dahsyat, Kepala Bidang Teknologi Hankam Matra Udara BPPT .
PUNA_Wulung

Sistem Kendali Wulung
Dalam memenuhi standar UAV, saat ini Wulung dapat diterbangkan secara auto pilot dan autonomus. Ini artinya Wulung bisa terbang sendiri dengan pola robotic. Tentunya sebelum pesawat tinggal landas, kru di darat telah men-setting (plot) way point yang menjadi rute atau lintasan terbang si Wulung. Semisal harus diketahui berapa ketinggian bukit dan gunung yang akan dilewati. Menurut penuturan Mohamad Dahsyat, Wulung dapat di setting hingga 100 way point. Nantinya setelah pesawat mengudara, awak di Ground Control Station (GCS) dapat memonitor arah dan posisi pesawat lewat map digital pada komputer.
Dalam spesifikasinya, Wulung yang berbobot 120 kg punya jarak jangkau hingga 200 km dengan waktu terbang (flight endurance) 4 jam. Selama mengudara, kru di GCS bisa memantau secara real time kondisi dari pesawat, dalam hal ini termasuk mengetahui kondisi bahan bakar dan baterai. Bila dalam suatu kondisi pesawat melenceng dari rute yang telah digariskan, maka kru di GCS dapat mengatur posisi lintasan Wulung. Untuk misi taktis pengintaian, kru GCS secara otomatis bisa ‘memerintahkan’ Wulung untuk melakukan pemotretan udara. Dalam hal kecanggihan, selain dibekali kamera berlensa optik, Wulung sudah ditanamkan teknologi FLIR (Forward Looking Infra Red), plus GPS (Global Postioning System) untuk menentukan koordinat foto hasil pengintaian.
Beginilah suasana di ruang operator GSC UAV milik AS
Beginilah suasana di ruang operator GCS UAV milik AS
Sistem kendali Wulung, bisa dibuat secara mobile.
Sistem kendali Wulung, bisa dibuat secara mobile.

Sebagai pesawat intai modern, Wulung punya kemampuan terbang siang dan malam. Meski tidak dirancang terbang untuk segala cuaca, dalam prakteknya Wulung tidak mengalami masalah saat terbang dalam cuaca kurang bersahabat. “Wulung tidak disarankan untuk terbang dalam kondisi hujan, tapi dalam pengujian nyatanya pesawat dapat terbang sempurna meski saat kondisi hujan,” papar Mohamad Dahsyat yang mengepalai proyek pengembangan Wulung di BPPT.
Kembali ke sistem kendali, meski sudah bisa beroperasi auto pilot dan autonomus. Tapi untuk saat ini, pada proses take off dan landing kendali pesawat masih harus dilakukan secara manual dari GCS. “Dalam pengembangan versi selanjutnya, Wulung akan hadir dengan kemampuan auto take off dan auto landing,” papar Mohamad Dahsyat. Sebagai informasi, saat ini sudah ada tiga unit Wulung yang berhasil dirampungkan, dan masih ada 5 unit pesanan Wulung yang sedang digarap pembuatannya oleh PT Dirgantara Indonesia.
Ilustrasi monitor pergerakan UAV yang dipantau oleh operator di GSC.
Ilustrasi monitor pergerakan UAV yang dipantau oleh operator di GCS.
Obyek di permukaan dapat ditangkap meski dalam kegelapan, ini berkat adanya teknologi infra red.
Obyek di permukaan dapat ditangkap meski dalam kegelapan, ini berkat adanya teknologi infra red.
Menhankam tengah mengintip sensor dan kamera Wulung.
Menhankam tengah mengintip sensor dan kamera Wulung.

Sistem Komunikasi Data Wulung
Seberapa jauh UAV dapat terbang sangat ditentukan oleh kemampuan komunikasi data yang dimiliki oleh operator. Secara teori, Wulung dapat terbang sejauh 120 km, dan dapat ditingkatkan hingga lebih dari 200 km. Dalam gelar operasi Wulung, alur komunikasi data antara GCS dengan UAV dapat dilakukan dalam pola Line of Sight (Los) dan Beyond Line of Sight (BloS). Yang dimaksud pola LoS adalah data link dipancarkan langsung dari GCS ke UAV. Data link menyediakan komunikasi dua arah, baik atas permintaan atau secara terus-menerus.
Sementara pola BLoS adalah data link yang dipancarkan antara GCS dan UAV melalui proses relay (tidak langsung). Media relay data yang digunakan bisa via satelit, BTS (base transceiver station) operator selular, dan Mesh. Yang disebut terakhir yakni memanfaatkan jejaring komunikasi antar pesawat yang mengudara di suatu kawasan.
PUNA misi operasi
uav_line-of-sight
Non Line of Sight juga identik dengan BLoS

Nah, soal pilihan menggunakan LoS ataukah BloS tentunya sangat bergantung pada beberapa hal, seperti jangkauan misi dari UAV dan kondisi topografi. Dalam konteks Wulung yang bakal beroperasi dari lanud Supadio , Pontianak – Kalimantan Barat. Maka diperkirakan masih ideal menggunakan pola LoS, pasalnya topografi di Bumi Kalimantan cenderung lebih datar, sehingga pancaran sinyal LoS masih bisa dilakukan. Dalam gelar operasinya, LoS dan BLoS di Wulung bisa dipasang sebagai redundance, artinya jika yang salah satu bermasalah masih bisa digunakan yang satunya lagi.
Tapi lain cerita bila Wulung harus menjangkau wilayah yang lebih jauh, atau misalnya suatu saat ditugaskan ke wilayah Papua yang bergunung-gunung tinggi. Maka pola BLoS-lah yang diusung, sistem relay data yang digunakan biasanya adalah satelit. Pola BLoS juga jamak dilakukan militer AS saat mengoperasikan UCAV di Irak, Afghanistan dan Pakistan. Saat menggepur milisi Taliban di Afghanistan, boleh jadi GCS-nya berada di Turki atau Eropa.
Beragam pola komunikasi UAV/UCAV.
Beragam pola komunikasi UAV/UCAV.

Kelemahan Satelit
Bagi negara maju sekelas AS, Cina, dan Rusia, urusan kesiapan satelit penunjang misi UAV/UCAV tak perlu dipersoalkan. Tapi lain hal dengan negara yang tak memiliki satelit buatan sendiri, atau hanya mengandalkan sewa satelit. Maka komunikasi data sebagai basis penghubung antara GCS dan UAV bisa menjadi masalah di kemudian hari. Maklum komunikasi via satelit kerap disadap oleh negara lain, apalagi selama ini Indonesia hanya berlaku sebagai negara konsumen.
Dari sisi teknis, komunikasi dengan media satelit juga punya tantangan lain. Bila karena suatu hal sinyal terputus, maka untuk re-dialing bisa membntuhkan waktu hingga 5 menit. Tapi sebagai robot terbang yang canggih, Wulung sudah di setting untuk return to base secara otomatis bila komunikasi terputus. Nah, bila diharuskan menggelar pola BloS tapi tak ingin menggunakan satelit, maka pilihan yang mungkin adalah memberdayakan aset sipil, yaitu tebaran menara BTS milik operator selular. Tentu saja gelar dengan dukungan BTS perlu setting khusus dengan biaya lebih besar.
Tebaran 'hutan' BTS yang ada di Indonesia bisa menjadi alternatif dalam komunikasi UAV.
Tebaran ‘hutan’ BTS yang ada di Indonesia bisa menjadi alternatif dalam komunikasi UAV.
Mohamad Dahsyat. Sumber: MetroTVNews
Mohamad Dahsyat. Sumber: MetroTVNews

Anti Jamming
Ada beberapa spesifikasi untuk UAV pesanan TNI, selain endurance, payload, dan ketinggian terbang (altitude). Maka elemen lain yang tak kalah pentingnya adalah anti jamming. “Sampai saat ini memang belum pernah ada jamming saat Wulung mengudara, tapi dalam beberapa kali uji Wulung dapat lolos dari jamming berkat penggunaan teknik hopping frekuensi,” ungkap Mohamad Dahsyat, alumni Fakultas Teknik Fisika Universitas Padjajaran angkatan 1982.
Pengembangan Wulung tentu masih belum ideal untuk kebutuhan militer. Tapi adopsi UAV garapan bersama BPPT, PT. LEN dan PT. DI adalah langkah strategis yang tepat bagi membangun kemandiran teknologi alutista di Dalam Negeri. Ingat, bahwa membangun kehandalan teknologi alutsista tidak dapat dilakukan dengan sekejap. Dengan penguasaan teknologi UAV, maka bukan perkara sulit bagi Indonesia untuk menciptakan peluru kendali. (Haryo Adjie Nogo Seno)

(Polling) Formidable Class RSN: Lawan Tanding Terberat Korvet SIGMA Class TNI AL


Formidable Class
Formidable Class

Adalah sesuatu yang lumrah bila setiap angkatan laut di dunia punya flagship. Dalam terminologinya, flagship dapat dianggap sebagai kapal utama, atau kapal yang paling diandalkan, maju dari segi teknologi serta paling mumpuni dalam hal alutsista. Dimasa lalu, sosok flagship juga diasosiasikan sebagai kapal perang dengan bobot paling besar. Ambil contoh di tahun 50-an TNI AL punya flagship berupa destroyer KRI Gadjah Mada, kemudian berlanjut di tahun 60-an hadir kapal penjelajah legendaris KRI Irian.
Seiring dinamika dan perkembangan jaman, tiap dekade umumnya TNI AL punya flagship. Merujuk ke sejarah, di era-70an flagship TNI AL adalah destroyer escort kelas Samadikun (Claud Jones class) buatan AS. Bergeser ke era-80n dan 90-an, TNI AL mengandalkan frigat Van Speik class dan frigat Fatahillah class, keduanya merupakan buatan Belanda. Bagaimana dengan era tahun 2000-an? Jawabannya justru bukan di kelas frigat, flagship TNI AL kini berupa korvet, yakni SIGMA class (kelas Diponegoro) buatan Belanda. Merujuk pada kelengkapan senjata, pada saat ini kian rancu untuk membedakan antara frigat dan korvet. Meski frigat didaulat punya ‘sesuatu’ yang lebih ketimbang korvet. Korvet dalam definisi awalnya adalah kapal perang yang punya bobot dibawah frigat, tapi lebih besar dibanding kapal patroli pantai, mampu melakukan operasi sergap dan beroperasi secara mandiri di wilayah samudera.
Dalam peperangan dan politik di kawasan, flagship jelas punya peran strategis, singkat kata keberadaan kapal ini mampu menciptakan daya tawar dan efek deterensi. Seandainya pun terjadi konflik di lautan, flagship seperti SIGMA class jelas akan mengambil peran yang menentukan, tentunya bersama frigat Van Speijk dan Fatahillah class yang tergabung dalam Satuan Kapal Eskorta TNI AL.
SIGMA Class TNI AL
SIGMA Class TNI AL
Van Speijk Class, sebenarnya inilah jenis kapal perang yang murni masuk segmen frigat bagi TNI AL
Van Speijk Class, sebenarnya inilah jenis kapal perang yang murni masuk segmen frigat bagi TNI AL

Dalam kaca mata dugaan konflik di masa mendatang, banyak pengamat yang meyakini bahwa lawan potensial yang mungkin muncul justru berasal dari negara tetangga. Tentu ini bukan pernyataan tanpa alasan, bibit-bibit konflik sudah ditabur sejak lama. Contohnya sudah di depan mata, seperti perebutan klaim beberapa negara di Laut Cina Selatan. Dalam konteks yang melibatkan Indonesia, konflik wilayah dengan Malaysia di blok Ambalat, hingga psy war dengan AL Australia bisa menjadi bahan yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut.

Polling Indomiliter
Merujuk ke tulisan sebelumnya, bahwa potensi konflik justru lebih besar muncul dari negara tetangga. Maka perlu dipantau, sista apa saja yang dimiliki oleh negara tetangga, dalam konteks flagship, kekuatan tempur armada AL Malaysia, AL Singapura, dan AL Australia mutlak harus diketahui, flagship apa yang mereka miliki, bukan tak mungkin suatu saat yang namanya kawan bisa menjadi lawan. Berangkat dari kondisi saat ini, dimana SIGMA class menjadi ujung tombak kekuatan armada TNI AL, maka Indomiliter.com sejak 19 Desember 2013 hingga 18 Januari 2014 menggelar polling dengan pertanyaan “SIGMA Class kini menjadi kapal perang tercanggih TNI AL. Menurut Anda siapakah lawan terberatnya?”. Secara mengejutkan polling berhasil melibatkan 1.144 responden dengan pola one IP one vote.
1
2
Dalam polling ini SIGMA class kami sandingkan dengan Formidable Class dari Singapura, ANZAC Class dari Australia, dan Lekiu Class dari Malaysia. Kami menyadari, bahwa sebenarnya kurang ideal untuk membandingkan SIGMA Class dengan ketiga kapal perang yang disebut barusan. Pasalnya kapal perang andalan Malaysia, Singapura, dan Australia, masuk dalam kelas frigat yang diatas kertas punya kelengkapan senjata lebih maju dan dahsyat ketimbang SIGMA Class TNI AL.
Tapi toh, dalam jalannya pertempuran bukan berarti korvet bakal inferior dibanding frigat. Mengingat korvet kini punya bekal sensor dan alutsista yang sederajat dengan frigat, plus ditambah jiwa korsa yang tinggi dari prajurit TNI AL, maka bukan tak mungkin dengan kecermatan strategi, kita akan lebih unggul. Posisi tawar kekuatan armada TNI AL dipercaya akan meningkat saat pesanan PKR (Perusak Kawal Rudal) 10514 tiba.
4
Formidable Class RSN (Singapura)
Dari sisi teknologi, Formidable Class adalah frigat tercanggih yang ada di kawasan Asia Tenggara. Formidable Class terdiri dari enam unit dengan kemampuan multirole dan stealth. Frigat buatan Perancis ini punya bobot 3.200 ton. Dari desainnya yang minimalis, sejatinya kelengkapan senjatanya tergolong menakutkan, sebut saja rudal anti kapal RGM-84C Harpoon, rudal (SAM) MBDA Aster 15/30 yang diluncurkan secara VLS (vertical launch system). Sista anti kapal selamnya torpedo EuroTorp A244/S Mod 3 dengan peluncur 2× B515 triple tube. Kanon reaksi cepatnya OTO Melara 76mm, tapi yang digunakan adalah Super Rapid Gun dengan kubah stealth. Frigat ini pun dibekali heli tempur AKS (anti kapal selam) SH-60B Seahawk.
Heli Sea Hawk menjadi kekuatan terpadu dari Formidable Class
Heli Seahawk menjadi kekuatan terpadu dari Formidable Class
Rudal Aster sedang meluncur dari RSS Supreme, salah satu dari Formidable Class Singapura.
Rudal Aster meluncur dari RSS Supreme, salah satu dari Formidable Class Singapura.

Formidable Class dipercaya oleh sebagian besar responden sebagai lawan terberat SIGMA Class TNI AL. Dari total 1.144 responden, 672 responden (58,74%) telah memilih frigat yang mampu melaju maksimum 27 knots ini.

ANZAC Class RAN (Australia)
Sebanyak 350 responden (30,59%) memilih ANZAC Class sebagai penantang terberat untuk SIGMA Class TNI AL. ANZAC masuk dalam golongan frigat yang punya bobot 3.600 ton. Populasi kapal perang ini ada 10 unit, 8 unit digunakan oleh AL Australia, dan 2 unit digunakan oleh Selandia Baru. Soal kelengkapan senjata, ANZAC Class memang bukan tandingan SIGMA TNI AL, sebut saja ada bekal CIWS Phalanx, rudal Sea Sparrow, rudal anti kapal Harpoon, dan torpedo MK46. Seperti halnya Formidable Class, ANZAC Class juga membawa heli AKS S-70B-2 Seahawk.
HMAS Ballarat, salah satu dari ANZAC Class Australia
HMAS Ballarat, salah satu dari ANZAC Class Australia
Sea Sparrow meluncur dari HMAS Perth, salah satu dari ANZAC Class
Sea Sparrow meluncur dari HMAS Perth, salah satu dari ANZAC Class

Lekiu Class TLDM (Malaysia)
Spesifikasi Lekiu Class memang tidak sesangar Formidable dan ANZAC, tapi frigat buatan Inggris dengan bobot 2.270 ton ini tergolong canggih. Sebagai elemen anti serangan udara, dibekali rudal Sea Wolf, untuk rudal anti kapalnya adalah MM40 Exocet blok II, dan torpedo A244S, tipe torpedo yang juga digunakan pada SIGMA Class. Yang menarik justru frigat ini mengadopsi kanon multi purpose Bofors 57mm. Jenis kanon ini cukup familiar digunakan oleh TNI AL dalam melengkapi FPB-57. Dalam misi AKS, frigat ini membawa heli Super Lynx 300, lengkap dengan hangar. Lekiu Class dipilih 122 responden (10,66%) sebagai lawan tanding untuk SIGMA Class TNI AL. (Indomiliter)
Lekiu Class, Malaysia memiliki 2 unit frigat jenis ini.
Lekiu Class, Malaysia memiliki 2 unit frigat jenis ini.
Rudal Sea Wolf meluncur dari Leiku Class
Rudal Sea Wolf meluncur dari Lekiu Class

TNI AL Jemput Korvet Nakhoda Ragam Class


Nakhoda Ragam Class
Nakhoda Ragam Class

Puluhan awak kapal perang KRI Bung Tomo 357 yang akan menuju Inggris untuk mengambil KRI Bung Tomo 357, menyempatkan diri nyekar ke makam Bung Tomo, Rabu (29/1/2014), di pemakaman Ngagel, Surabaya. “Pada kesempatan ini, kami menyempatkan diri nyekar ke makam Bung Tomo, sebelum kami berangkat menuju Inggris untuk membawa kapal KRI Bung Tomo 357 ke Republik Indonesia,” ujar Kolonel Yayan Sofiyan Komandan Kapal Perang KRI Bung Tomo 357.
Nakhoda Ragam Class
Nakhoda Ragam Class

Bung Tomo, papar Kolonel Yayan, tidak perlu diragukan lagi jasa-jasa dan perjuangan beliau dalam membebaskan Surabaya khususnya dan Indonesia pada umumnya dari cengkeraman Sekutu. “Sebuah kebanggaan kami semua disini, yang akan mengemban tugas negara membawa kapal perang KRI Bung Tomo 357, hadir dan memanjatkandoa bagi beliau, serta seluruh pahlawan yang ada di kompleks pemakaman ini,” tambah Kolonel Yayan.
Sementara itu, mewakili keluarga Bung Tomo, Bambang Sulistomo satu di antara keluarga almarhum Bung Tomo, mengaku sangat terhormat dan berterimakasih karena satu diantara kapal perang TNI AL diberi nama Bung Tomo.
“Ini kehormatan bagi kami semua, khususnya keluarga besar Bung Tomo. Kami juga merasa bangga Bung Tomo menjadi nama satu diantara kapal perang TNI AL. Kami tentu saja sangat berterimakasih”, kata Bambang Sulistomo.
Selain dihadiri Komandan Kapal Perang KRI Bung Tomo 357, kegiatan nyekar makam Bung Tomo, Rabu (29/1/2014) bersama Bambang Sulistomo juga diikuti beberapa mantan pejuang Republi Indonesia serta para aktivis. KRI Bung Tomo 357 merupakan nama yang diberikan terhadap salah satu dari tiga korvet Nakhoda Ragam Class, yang dibeli Indonesia dari Inggris.(suarasurabaya.net).

Fighter SU 35 Game Changer Indonesia


Sukhoi SU 34 Rusia
Sukhoi SU 34 Rusia

Salah satu kandidat pengganti pesawat tempur F 5 Tiger Indonesia adalah Sukhoi SU 35. Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dalam beberapa kesempatan, mengatakan tentang ketertarikan TNI terhadap pesawat tempur Su 35.  Gayung bersambut, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia juga mengatakan,  Sukhoi SU 35 menempati prioritas pertama dari empat kandidat pesawat tempur pengganti F 5 Tiger, yang akan dipensiunkan.
Keberadaan fighter semacam Su-35 sangat penting untuk mengawal Kapal Selam Kilo, Amur yang akan dibeli oleh TNI. Pasalnya, sekalinya kapal selam ini menembakkan missile Klub-S, pesawat pencari kapal selam akan dengan mudah melacak lokasi asal-usul rudal itu ditembakkan. Apalagi, MQ-4C Triton, versi naval dari RQ-4 Global Hawk yang akan dimiliki Australia, sanggup terbang sehari lebih (30 jam). Cukup efektif meronda laut. Siapa tahu tiba-tiba muncul Klub-S dari tengah lautan, Triton akan bisa menganalisis asal-usulnya. Triton kemudian melapor ke pesawat MPA (P8 Poseidon, dan lain-lain) dan kapal perang, akhirnya bisa dengan cepat menemukan keberadaan kapal selam dan menghancurkannya.
Ya, lima tahun lagi, kapal selam termasuk Kilo dan Amur, makin rentan terhadap musuh dari langit. Tahun 2020 Australia akan memiliki P8 Poseidon untuk tracking dan menghancurkan kapal selam dari ketinggian yang sangat tinggi. Pesawat MPA yang ada saat ini, kalau mau menghancurkan kapal selam harus turun sampai ketinggian 200-300 meter di atas permukaan laut, baru meluncurkan torpedonya dengan parasut. Pada ketinggian yang sangat rendah ini, kapal selam semacam Kilo masih bisa menyerang pesawat MPA dengan rudalnya, meskipun harus “nyembul” dulu ke permukaan laut untuk menembakkan rudal.

Anti-submarine warfare and anti-surface warfare, Boeing P-8 Poseidon (Photo: photo by Greg L. Davis)
Anti-submarine warfare and anti-surface warfare, Boeing P-8 Poseidon (Photo: photo by Greg L. Davis)

Nanti P8 Poseidon tidak perlu turun sampai 300 meter di atas laut untuk menembak kapal selam, tapi bisa menembak dari ketinggian 18,000 meter dari permukaan laut. Gila !!! Dengan keunggulan ini, airframe pesawat akan lebih tahan lama, karena tidak mengalami perubahan stress berulang-ulang saat mengubah-ubah ketinggian dan tidak terpapar hawa dekat permukaan laut yang korosif. Boeing saat ini sedang mengembangkan sistem JDAM, yang biasanya dipakai pada bom pintar, untuk diaplikasikan pada torpedo. Dengan teknologi ini, dari ketinggian 18,000-an meter P8 Poseidon akan menembakakn torpedo yang dilengkapi kit JDAM sebagai pengarah ke koordinat yang ditentukan. Saat ketinggian mencapai 300-an meter dari permukaan laut, kit JDAM dilepas dan torpedo mengembangkan parasutnya. Setelah mencapai laut, parasut dilepas, dan torpedo sacara mandiri akan mengejar kapal selam.

Operasi P-8 Poseidon
Operasi P-8 Poseidon

Torpedo dengan kit JDAM diperkirakan operasional 2020, dan segera akan mengubah model pertempuran anti kapal selam dengan teknologi yang belum pernah diaplikasikan saat ini. Selain dibantu Triton, P8 Poseidon sendiri akan menggunakan teknologi terakhir dalam mencari kapal selam. Sonobuoy (jaringan sonar terapung) tetap masih akan dipakai, tetapi tidak lagi menggunakan MAD karena kapasitasnya yang memakan tempat dan lagian MAD akan efektif saat kapal selamnya tidak jauh-jauh dari permukaan laut. MAD akan menganalisis perubahan garis-garis medan magnit di suatu tempat, saat ada benda logam (kapal selam). Sebagai ganti MAD, P8 dilengkapi sensor untuk menganalisis kandungan hidrokarbon pada uap air laut yang dihasilkan dari gas buang mesin disel kapal selam.

LongShot kit on MK54 torpedo
LongShot kit on MK54 torpedo

Dengan teknologi-teknologi ini, kapal selam akan semakin rentan menghadapi musuh dari udara. Tugas SU-35 untuk menyingkirkan benda-benda langit semacam ini: Triton, Poseidon, Pesawat MPA, dan lain lain. Fighter Bomber Su-34 lebih mantap lagi, karena selain membawa misil jarak jauh anti pesawat, juga bisa dikombinasi dengan membawa Klub-S atau 1 Yakhont untuk sasaran di laut dan daratan.
Variasi lain adalah jangan melupakan pengadaan kapal selam Type 212 Jerman, yang sekelas Scorpene, Lada, dan lain-lain. Atau sekalian turunan 212 semacam Type 216 yang sudah punya VLS untuk land attack. Kapal selam 212 sudah bisa dilengkapi missile IDAS. IDAS adalah misil anti pesawat pertama di dunia yang bisa ditembakkan dari bawah permukaan laut. IDAS menjadi salah satu ancaman P8 Poseidon karena jangkauannya cukup jauh, 20 km. Tahun lalu Singapore beli 2 KS Jerman turunan 216, masing-masing seharga 800 juta US$. Saya curiga KS ini sudah dilengkapi IDAS.
Northrop Grumman supplies the P-8's electronic warfare self-protection (EWSP) suite, which includes the Terma AN/ALQ-213(V) electronic warfare management system (EWMS), directed infrared countermeasures (DIRCM) set, radar warning system, and BAE Systems countermeasures dispenser. The Northrop Grumman ESM system for the P-8A has been officially designated the AN/ALQ-240(V)1.
Northrop Grumman supplies the P-8′s electronic warfare self-protection (EWSP) suite, which includes the Terma AN/ALQ-213(V) electronic warfare management system (EWMS), directed infrared countermeasures (DIRCM) set, radar warning system, and BAE Systems countermeasures dispenser. The Northrop Grumman ESM system for the P-8A has been officially designated the AN/ALQ-240(V)1.

Teknologi perang anti kapal selam model baru ini, saat ini memang masih baru, belum mature, termasuk torpedo ber-JDAM nya. Kita tunggu di 2020 nanti. Apapun P8 yangg dibeli Australia nanti, juga bisa di-upgrade dengan teknologi terakhir yang proven. Yang perlu diantisipasi TNI adalah pandai memilih alutsista yang juga bisa untuk menghadapi model perang 2020-up. Misalnya jangan hanya terkancing dengan kapal selam Kilo yang tidak punya AIP.
Tanda tanda jaman mengarah ke teknologi yang sedang dikembangkan di P8 Poseidon. Hal ini mirip dengan perkembangan pesawat stealth, yang diawali F-117, dan kemudian muncul model perang antar fighter gaya baru yang “curang dan tidak adil” yang dipelopori F-22 Raptor. Dan seluruh dunia kini mengarah ke model perang ini. (written by WH).

Indonesia – Australia, Hard to Handle


KRI Yos Sudarso -353
KRI Yos Sudarso -353

 DARWIN. Pemerintah RI merealisasikan niat untuk memperketat wilayah perairan yang berbatasan dengan Australia. TNI Angkatan Laut mulai mengerahkan beberapa kapal perang termasuk kapal rudal dan torpedo ke wilayah perbatasan.
Harian Guardian, 24 Januari 2014 melansir informasi itu dari Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Untung Suropati. Untung membenarkan ada beberapa kapal perang yang dipindahkan ke dekat perbatasan perairan yang dekat dengan Australia. Selain kapal peluncur rudal dan torpedo, ujar Untung, ternyata TNI AL turut mengerahkan kapal perang corvette dan pesawat perbatasan air.
“Semua kapal itu telah bergerak menuju ke perbatasan dan berpatroli di sana,” kata dia tanpa menyebut jumlah kapal yang telah dikerahkan.
Selain mengerahkan kapal dari TNI AL untuk menjaga perbatasan, TNI Angkatan Udara (AU) juga mengerahkan beberapa pesawat. Menurut Juru Bicara TNI AU, Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto, apabila ada pelanggaran perbatasan, pangkalan udara di Makassar siap membantu mengamankan.
“Australia bisa dijangkau dari sana,” ujarnya.
Seperti diketahui, Pangkalan Udara Sultan Hassanudin di Makassar, adalah pangkalan bagi 16 pesawat tempur Sukhoi Su-27 dan Su-30 buatan Rusia. Dengan menggunakan pesawat itu, hanya butuh waktu satu jam mencapai Australia.
Langkah untuk menjaga perbatasan ini mulai membuat Parlemen Australia khawatir. Namun, langkah itu tidak mengejutkan bagi mereka.
Menurut anggota parlemen dari Partai Buruh, Chris Bowen, kebijakan yang ditempuh RI merupakan hasil yang dituai dari kebijakan Perdana Menteri Tony Abbott, Menteri Imigrasi, Scott Morrison dan Menteri Luar Negeri, Julie Bishop, yang bersikap kepala batu.
“Sebelumnya, sudah ada beberapa peringatan bahwa hal ini timbul karena kebijakan ngotot mereka. Kini, kami mulai terlihat jelas dampaknya,” ungkap Bowen dan dilansir kantor berita ABC News.
Sementara itu, Pemimpin Partai Hijau, Christine Milne, memperingatkan Abbott untuk mundur dari kebijakan pencari suakanya. Milne mengingatkan kembali pernyataan Pemerintah RI yang secara tegas menolak kebijakan sepihak dari Negeri Kanguru.
“Situasinya akan berdampak lebih buruk. Kini, waktunya bagi Tony Abbott mundur dan mengakui bahwa kami sedang dalam situasi yang serius dengan Indonesia,” kata Milne.
Sebelumnya, pada Jumat, 17 Januari 2014, Australia telah meminta maaf kepada Pemerintah RI lantaran telah melanggar wilayah perbatasan air secara tidak sengaja, saat mendorong balik perahu pencari suaka ke perairan Indonesia.
Setelah kejadian itu, Abbott mengatakan akan tetap menjalankan operasi perbatasan.
Dia pun meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan publik untuk memahami bahwa menghentikan manusia pencari suaka terkait masalah kedaulatan.
“Ini merupakan isu yang serius bagi suatu negara. Kami akan tetap melanjutkan kebijakan sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Abbott di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF), Davos, Swiss.

sukhoi31030911.jpg

Retorika “Perang” Australia pada Indonesia Dikecam
Penggunaan istilah retorika berupa kata-kata seperti “perang” yang disampaikan Pemerintah Australia kepada Indonesia dalam hal mengamankan wilayah perbatasan menuai kecaman.
Paul Dibb, penulis utama buku putih pertahanan Australia menyayangkan cara penggunaan kata-kata diplomasi yang disampaikan pemerintahan Perdana Menteri Tony Abbott itu.
“Ini disayangkan bahwa pemerintah kita menggunakan kata-kata seperti ‘perang’ dan orang Indonesia juga berbicara tentang jet mereka yang mencapai wilayah Australia,” kata Dibb.
”Saya tidak berpikir pernyataan ini sangat membantu. Sudah waktunya bagi kedua belah pihak untuk menggunakan bahasa yang lebih terukur dan diplomatik,” lanjut Dibb, seperti dikutip The Australian, Sabtu (25/1/2014).
Peter Jennings, mantan pejabat senior di Pertahanan Australia, yang sekarang aktif di Australia Strategic Policy Institute, mendesak kedua pemerintah untuk memperbaiki hubungan pertahanan, sebelum mengalami kerusakan yang lebih lanjut. ”Ini tragis,” kata Jennings, menggambarkan situasi hubungan antara Indonesia dan Australia.
Polemik baru ketegangan Australia dan Indonesia sejatinya dipicu tindakan kapal-kapal Angkatan Laut Australia yang melanggar wilayah perairan Indonesia ketika mengusir perahu para pencari suaka. Australia mengklaim tindakan itu tidak sengaja, meski media Australia pernah menyebut pelanggaran itu terjadi tujuh kali dalam sebulan.
Pelanggaran itu membuat Pemerintah Indonesia gusar. Menkopolkam, Djoko Suyanto, pernah mengatakan, Tony Abbott harus paham dan mengerti apa arti kedaulatan Indonesia yang telah dilanggar.
Komentar Menteri Djoko itu dibalas Abbott ketika berada di Forum Ekonomi Dunia di Swiss, di mana Abbott terang-terangan mengatakan, bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus mengerti soal kedaulatan Australia, di mana pasukan Australia berusaha keras mengusir perahu para pencari suaka yang melanggar kedaulatan mereka.

JKGR. 

Selasa, 28 Januari 2014

Australia, Menepuk Air Di Dulang Tepercik Muka Sendiri

Tanpa banyak cakap, militer Indonesia mengerahkan berbagai kapal perang ke perairan halaman belakang rumahnya dimana di pagar halaman seberang itu ada Darwin, satu-satunya kota yang ada di Australia Utara, tak lebih besar dari kota Kupang di NTT.  Gerakan angkatan laut RI dengan menyebar kapal perang korvet, fregat, kapal cepat rudal dan kapal cepat torpedo dengan dukungan jet tempur Sukhoi dan 4 radar militer canggih yang baru dipasang menyadarkan Australia bahwa Indonesia sangat serius menyikapi sikap kepala batu pemerintahan Australia yang dipimpin si cowboy Tony Abbott.

Gaya keras kepala si Abbott ini sudah terlihat ketika masa kampanye dia tahun lalu untuk mengejar kursi Aussi One.  Dia bilang akan menempatkan sejumlah intelijen di Indonesia untuk memantau pergerakan manusia perahu, membeli perahu, membayar sejumlah sipil Indonesia untuk memberikan informasi tentang posisi manusia perahu yang hendak ke negeri selatan itu.  Ini saja sejatinya sudah menyinggung harkat dan martabat kita, emangnya negeri ini tak bertuan.  Pernyataannya itu meski untuk konsumsi kampanye pemilihan umum jelas meremehkan pemerintah Indonesia.  Dia menang dan jadi Perdana Menteri salah satunya karena pernyataannya itu.  Tapi sekarang dia terjebak dengan jaring yang dia tebar sendiri.  Celakanya sebagian besar rakyatnya pun berbalik menghujat dia.
Embarkasi pasukan, sudah terbiasa
Ketika urusan sadap menyadap terkuak, gaya arogansi Abbott dipertontonkan dengan tak rela minta maaf. Bandingkan dengan gaya Obama ketika urusan yang sama dengan Jerman, lebih low profile dan meminta maaf kepada Jerman.  Yang dipertontonkan Abbott bukan gaya negarawan santun melainkan gaya preman seperti garis dan raut wajahnya yang keras. Bandingkan dengan Kevin Rudd yang ramah dan santun sehingga mampu mengambil hati rakyat dan bangsa ini.  Sesungguhnya irama hubungan Indonesia dan Australia tergantung gaya kepemimpinan negeri kanguru itu.  Oleh karena itu situasi hubungan yang buruk saat ini ada di koridor kepemimpinan pemerintah Australia, bukan pada rakyat dan bangsa Australia yang saat ini justru mengecam hebat cara si Abbott menangani pola hubungan bertetangganya dengan Indonesia.
Australia harus menyadari bahwa militer Indonesia tidak seperti lima tahun lalu.  Ketika diadakan Sail Komodo beberapa bulan yang lalu di depan Darwin sesungguhnya telah “tersedia” sedikitnya 30 kapal perang Indonesia berbagai jenis di halaman belakang kita. Hanya saja kita ini kan menganut politik perkawanan yang santun, jadi tak perlu pamer kekuatan.  Berhitung tentang kekuatan militer khususnya angkatan laut, sebenarnya Indonesia mampu mengerahkan 50 kapal perang ke perairan NTT dalam waktu singkat.  Ini sudah biasa dilakukan dalam setiap latihan Armada Jaya atau Latgab TNI.  Padahal jumlah itu hampir sama dengan kekuatan angkatan laut Australia yang memiliki 54 kapal perang.  Indonesia sendiri saat ini memiliki 160 kapal perang dan akan terus bertambah.
Satuan Radar Buraen Kupang, mata dan telinga NKRI
Gerakan kapal perang Indonesia ke NTT kita sambut positif karena ini langkah awal untuk menyatakan sikap menjunjung harkat. Kita tidak ingin berselisih dan mengajak tarung dengan negara manapun termasuk Australia.  Namun pelecehan teritori perairan seperti yang diakui oleh Australia dan kemudian minta maaf tentu harus dijawab pula dengan langkah dan cara militer.  Menlu Marty tidak menggubris kata maaf dari Menlu Julie Bishop bahkan kembali menyudutkan Australia dengan menyatakan,” Coba kalau dari dulu sudah minta maaf, tidak akan seperti ini kan”.  Kekuatan militer Indonesia dalam bulan dan tahun-tahun mendatang akan mendapat sejumlah alutsista sangar, misalnya kapal selam Kilo, jet tempur Sukhoi SU35, rudal SAM strategis dan lain-lain. Dengan kekuatan menuju kesetaraan ini Australia seharusnya berhitung cermat karena kekuatan yang tak bakalan ditandingi Australia seumur hidup adalah jumlah penduduk Indonesia yang sepuluh kali lipat dan punya karakter militan nasionalis.
Kita ingin sampaikan pesan pada Tony Abbott: “Kultur timur itu Bott, atau kultur Asia sesungguhnya lebih menghargai nilai-nilai kesantunan dan etika dalam bertetangga.  Memang beda sama kultur sampeyan yang anglo saxon itu.  Lebih sering mendikte, merasa paling jagoan, merasa paling pintar dan tahu segalanya.  Kalau sampeyan tinggal di Eropa gak papa.  Tapi sampeyan ada di lokasi adat istiadat di mana kesantunan dan tatakrama lebih dikedepankan. Lihat saja rumah di ranah ASEAN, rumah-rumah didalamnya selalu mengedepankan musyawarah dan kearifan meski ada konflik diantara sesama rumah. Nek sampeyan bisa memahami itu, kita yakin semua persoalan pertetanggaan kita dapat diselesaikan dengan musyawarah”.
“Tapi kalau tetap keras kepala ya rasain sendiri. Kata peribahasa menepuk air didulang tepercik muka sendiri. Anda sudah dipermalukan dunia dan PBB karena menelantarkan dan menyiksa manusia perahu.  Di dalam negeri pun sami mawon, anda dicerca di parlemen dan rakyat sendiri.  Ada peribahasa Pak Abbott, Air beriak tanda tak dalam, kayak sampeyan itu yang selalu umbar pernyataan petintang petinting.  Air tenang menghanyutkan, itulah gaya kami untuk tak umbar kalimat kumat.  Bukankah laut selatan itu dalam Bott, mungkin saja di kedalaman itu si Kilo siluman sudah bermain mata dengan ratu pantai selatan.  Bukankah air tenang itu menghanyutkan”.
 

Tank Tempur Leopard dan Marder akan Ditempatkan di Perbatasan Kalimantan

 
Tank Leopard

Sebagian tank tempur utama Leopard dan tank tempur medium Marder dari Jerman dijadwalkan tiba di Indonesia pada Oktober 2014, sementara sisanya dijadwalkan tiba secara bertahap pada tahun depan. Sebagian tank tersebut akan ditempatkan di dua divisi Kostrad dan di perbatasan Kalimantan.

“Akan ditempatkan di Kostrad, divisi 1 dan 2. Ada pemikiran memang sebagian akan ditempatkan di perbatasan Kalimantan,” kata Purnomo Yusgiantoro, Senin (27/1/2014).

Hal itu dikatakan Menhan Purnomo Yusgiantiro, saat meninjau kesiapan garasi tank Leopard dan Marder di Batalyon Kavaleri (Yonkav) 8/Tank, Beji, Pasuruan. Turut serta dalam kunjungan tersebut Panglima TNI Jendral Moeldoko, Pangdam V/Barwijaya Mayjed TNI R Ediwan Prabowo, Panglima Divisi 2 Kostrad Mayjed TNI Agus Kriswanto, Komandan Yonkav 8/Tank Letkol Otto Sollu, serta sejumlah pejabat Mabes TNI.

Purnomo menjelaskan, awalnya TNI sebenarnya hanya membeli 40 tank dari Jerman. Namun karena perubahan kebijakan di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya yang lebih mementingkan pembangunan kekuatan tempur udara, maka TNI mendapatkan sebanyak 105 Leopard dan 50 tank Marder.

“Mereka perkecil angkatan darat yang kemudian itu kita tangkap kemudian kita bisa dapat lebih banyak. Kita untung, dengan buget yang ada kita bisa dapat Leopard 105 dan Marder 50,” jelas Purnomo.

Panglima TNI Jendral Moeldoko dalam kesempatan itu mengatakan, Yonkav 8/Tank Beji yang masuk dalam Divisi 2 Kostrad sudah siap ditempati tank Leopard dan Marder. Garasi berkapasitas sekitar 40 tank sudah disiapkan jauh-jauh hari.

“Kami ke sini untuk meninjau kesiapan dan tadi sudah dipaparkan semua. Yonkav 8 sudah siap,” kata Moeldoko.

Moeldoko mengatakan, beberapa prajurit yang disiapkan sebagai kru Leopard dan Marder sudah dikirim ke Singapura untuk sharing sehingga bisa berdiskusi dengan calon kru lainnya.

“Kita juga pasti akan kirim ke Jerman untuk mempelajari. Setidaknya separuh dari kru akan kita kirimkan,” jelas Moedoko.

Moeldoko mengatakan pengembangan alutsista TNI harus terus dilakukan agar tidak kalah dengan negara tetangga. “Kalau di lingkungan kita (negara tetangga) belanjanya lebih tinggi ya nanti kita keok terus, kita juga harus di atas mereka. Ini (Leopard dan Marder) termasuk senjata paling canggih,” tandasnya.

Saat Kopassus Menjamu Pangeran Arab Saudi


Relief berbentuk kubah masjid menjadi pusat perhatian di Balai Komando, Markas Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat Cijantung, Jakarta, Kamis (23/1). Relief tersebut menjadi latar belakang podium tempat meja sajian kehormatan.

Suasana siang itu didominasi warna merah dan kuning keemasan. Bunga-bunga anggrek Phalaenopsis langsing berwarna merah dan bunga terompet lili putih dirangkai menjuntai dengan vas tinggi di atas meja. Meja-meja panjang dengan piring-piring nasi briyani digelar, dipagari tiruan pohon kurma yang menjulang. Prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sudah siap di meja makan dua jam sebelum makan siang dimulai.

Ada tamu istimewa, yaitu Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Salman bin Sultan Abdul Aziz al Saud. Sebelumnya, Pangeran Salman berkunjung ke Kementerian Pertahanan RI. Di Markas Kopassus, mantan astronot ini sempat mencoba menembak dengan senjata MP-5 dan pistol.

Kunjungan ini penting dalam hubungan kedua negara karena sejak 1950, baru kali ini seorang Wakil Menteri Pertahanan Kerajaan Arab Saudi berkunjung ke Indonesia. Sosok pangeran yang juga pilot pesawat tempur ini merupakan putra tertua Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, ia menandatangani kesepakatan kerja sama pertahanan, termasuk latihan antiteror, pendidikan, dan industri pertahanan. Kerja sama ini adalah kerja sama pertahanan pertama antara Indonesia dan Arab Saudi.

Salman mendapat kenang-kenangan berupa senapan serbu SS2-V1 buatan PT Pindad. Setelah menyaksikan demonstrasi tim Gultor Satuan 81 Kopassus dan panser Anoa, Salman menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan sempat melihat-lihat pesawat angkut militer CN-295 dan CN-235 produksi PT Dirgantara Indonesia. Di Kopassus, ia mendapat kenang-kenangan pisau komando.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, Indonesia membuka peluang kerja sama industri pertahanan dengan Kerajaan Arab Saudi. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan setelah Sjafrie berkunjung ke negara tersebut, beberapa waktu lalu. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan Arab Saudi yang beriklim panas, beberapa modifikasi, seperti pendingin udara, bisa ditambahkan pada peralatan Indonesia.

Seusai mengunjungi Kopassus, Salman mengatakan, ia berharap Indonesia menjadi makin maju. Sementara Wakil Kepala Staf TNI AD Letjen Munir mengatakan, Salman dan timnya dari Kementerian Pertahanan dengan jeli melihat kemampuan Kopassus.

”Mereka juga kan militer. Jadi, bisa melihat Kopassus kita disiplinnya tinggi. Dia juga sempat lihat Anoa. Semoga nanti belinya banyak,” kata Munir.
 
MI. 

Foto : 37 Unit Tank BMP-3F MARINIR

Sebanyak 37 unit kendaraan tempur amfibi Tank BMP-3F buatan Rusia kembali memperkuat Alutsista TNI AL. Puluhan kendaraan lapis baja itu masuk jajaran Resimen Kavaleri Marinir, setelah diserahkan secara remi oleh Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro kepada jajaran Korps Marinir di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Minggu (27/01).
 

 
 
 
 
 
 
 

13908231331836964039

139082317798369664

1390823198898307725