Jam Digital

Selasa, 15 Oktober 2013

Djoko Santoso: Pancasila harga mati



Jakarta - Ketua Dewan Pembina Gerakan Indonesia Adil, Sejahtera, Aman (ASA) Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso menegaskan tidak perlu lagi adanya pembahasan mengenai ideologi negara Pancasila pada forum politik apa pun.

"Tidak perlu ada lagi pembahasan dan diskusi mengenai Pancasila. Pancasila sudah harga mati. Kita tinggal melaksanakan nilai-nilainya dalam kehidupan kenegaraan," tegasnya ketika berbicara di hadapan para peserta pendidikan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Jakarta, Rabu.

Para peserta pendidikan di Lemhannas itu sendiri berasal dari kalangan akademisi, petinggi TNI dan Polri serta politisi dan pimpinan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Menurut Panglima TNI 2007--2010 itu, penetapan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara sudah final sesuai kesepakatan para "founding fathers" (pendiri negara) Republik Indonesia.

"Pemimpin bangsa boleh berganti, tapi ideologi dan dasar negara harus tetap Pancasila," kata peraih penghargaan Bintang Mahaputra Adhi Pradana yang juga termasuk salah satu pengajar dan anggota Dewan Pengarah Lemhannas itu.

Pada bagian lain, Djoko Santoso menyatakan prihatin sehubungan terjadinya kesenjangan antara konstitusi dengan praktik penyelenggaraan negara. Sesuai konstitusi, Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensiil, tapi praktiknya cenderung melaksanakan sistem pemerintahan parlementer.

Selain itu, sesuai konstitusi, Indonesia harus melaksanakan sistem ekonomi Pancasila yang berkeadilan, tapi praktiknya cenderung melaksanakan sistem ekonomi kapitalis-liberalis yang mengedepankan persaingan (pasar) bebas.

Oleh karena itu, mantan Panglima TNI tersebut juga menekankan perlunya revitalisasi pemahaman nilai-nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 sesuai kesepakatan para "founding fathers".

Selain menjadi anggota Dewan Pengarah Lemhannas, Djoko Santoso juga tercatat sebagai pendiri Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN), yakni sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang menyelenggarakan pendidikan akademik di bidang pertahanan dan bela negara,

Sejarah UNHAN sendiri berawal dari salah satu program kursus di Sekolah Komando Angkatan Darat (Seskoad). Pada 2006, Djoko Santoso, saat masih menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) menugaskan jajaran TNI AD untuk membuat Kursus Strategi Perang Semesta di Seskoad. Kursus ini kemudian menjadi cikal bakal berdirinya UNHAN.