Jam Digital

Minggu, 06 April 2014

Setelah NineOneOne, MH370 adalah EightOneOne?


Peristiwa serangan yang dirancang jaringan kelompok Al-Qaeda ke mainland Amerika Serikat dikenal dengan peristiwa Nine One One (911), karena dilakukan pada tanggal 11 September 2001. Dari empat pesawat penyerang, hanya tiga yang sukses, sementara rencana penyerangan ke Washington DC gagal dan pesawat jatuh sebelum sampai kepad sasaran.  Serangan berhasil meruntuhkan gedung kembar WTC di New York dan menyerang Markas Pentagon.
Nah kini,  dalam peristiwa hilangnya pesawat Boeing 777 MAS flight number MH370, apabila diperhatikan ada angka khusus yaitu Eight One One (811). Dari mana angka tersebut? Apabila diperhatikan, pesawat yang take off dari Kuala Lumpur pada pukul 00:41 (LT), menurut laporan dari Satelit Inmarsat, pesawat masih mengeluarkan "Ping" yang berasal dari engine, terakhir adalah pukul 08:11. Seharusnya pesawat tersebut mengirim ping kembali pada 09:15, tetapi tidak muncul.
MH370 diketahui pada pukul 01:21 mematikan transponder, pada pukul 01:30-02:15 dilaporkan tertangkap oleh dua Air Defence Radar (Radar Militer Malaysia dan Thailand) telah berbelok kearah Barat, kemudian ke Utara dan terakhir kearah Barat Daya, terakhir ditangkap radar pada pukul 02:15. Setelah itu, pergerakannya hanya merupakan pantauan Inmarsat, tanpa diketahui kecepatan, ketinggian dan arah yang pasti. Seperti diumumkan oleh PM Najib Razak, pesawat berakhir di Samudera Hindia.
Menurut keterangan CEO Malaysia Airlines, Ahmad Jauhari Yahya, bahan bakar pesawat diisi untuk delapan jam terbang. Dengan demikian maka perhitungan pesawat berada diudara sekitar 7,5-8 jam masih realistis.
Apakah angka 811 merupakan sebuah signal? Dapat iya dapat tidak tergantung meyakininya. Angka tersebut adalah angka ping terakhir MH370 yang ditangkap Inmarsat. Menurut para ahli penerbangan, ping akan tetap dikirim secara konstan selama generator dari engine hidup. Pertanyaannya, apakah pilot tersebut sengaja shut down engine pada pukul 08:11? Mungkin saja, karena Boeing 777 bisa gliding (melayang) apabila engine mati. Ini merupakan masalah tersendiri bagi team SAR di laut, mereka sulit memperkirakan seberapa jauh jarak gliding pesawat itu.
Menurut perkiraan penulis, pesawat tidak hancur berantakan, tetapi pesawat ditching di laut, utuh, dan  mungkin hanya bagian cargo yang pecah, setelah itu pesawat akan tenggelam. Jelas tidak terlacak, karena kejadian pada 8 Maret 2014, sedang tim baru bergerak ke wilayah perkiraan lokasi setelah dua pekan. Kalau ditching, kemana para penumpang? Kemungkinan para penumpang serta crew telah dilumpuhkan pada saat pilot (pembajak) yang kemungkinan capt pilotnya sendiri saat dilakukannya manuver tempur setelah transponder dimatikan, dan pesawat berbalik arah, kemudian memotong Kotabaharu, ke Barat dan hingga di WP Vampi.
Terakhir pesawat diketahui ketinggiannya hanya 5.000 ft, dari data 35 ribu, ke 45 ribu (kemungkinan 37 ribu). Penumpang bisa terkena G Force negative ataupun hipoxia yang dapat menyebabkan seseorang tewas. Semua tidak didapat fakta yang pasti.
Jadi mengandalkan kepada radius jari-jari jangkauan satelit Inmarsat serta jarak jelajah pesawat setelah beberapa saat menghilang dari tangkapan radar militer, pesawat tetap terbang ke koridor Selatan (laporan dari perwakilan UK Air Accidents Investigation Branch ,AAIB),  seperti di sebutkan Inmarsat, ping terakhir 8:11. Nah   pada 8:11 engine di shut down, pesawat gliding dan ditching, pesawat kemungkinan tenggelam dalam keadaan utuh, sehingga tidak ada bukti barang-barang yang mengapung.
Apakah angka 8:11 itu penting? Amerika Serikat serta media menyebut peristiwa menggemparkan dan mengerikan yang meruntuhkan WTC pada 11 September 2001 sebagai peristiwa 911. Apakah kini si pembajak mendapat instruksi  mematikan engine pada 811 dengan maksud tertentu? Angka ini memang nampaknya seperti kebetulan, tetapi dalam sebuah serangan teror, para analis intelijen selalu memperhatikan signal-signal, untuk mengantisipasi serangan masa depan.
Pertanyaannya, setelah ini mereka akan melakukan apa lagi? Apakah 711?, yang bisa diterjemahkan sebagai tanggal 11 Juli? Atau tanggal  7 September? Kita belum tahu, karena belum didapat fakta atau rencana ataupun skenario para penyerang. Teroris akan sabar menunggu sampai tergetnya lengah, ini prinsip serangan. Yang sulit, banyak yang belum dapat menerimanya sebagai aksi teror.
Menurut penulis angka ini bukan berandai-andai, tetapi sebuah game antara terorisme yang memberikan pesan atau signal kepada pihak/negara tertentu (kemungkinan besar AS), yang harus benar-benar diteliti oleh badan kontra teror.
Itulah teror kelas atas, membuat gentar dan gemetar bagi mereka yang dituju, walaupun korban jatuh bisa siapa saja dan tidak peduli dari negara manapun. Yang penting mereka berhasil menghentak rasa takut dan penasaran masyarakat dunia. Perkara percaya ataupun tidak penulis serahkan kepada pembaca, karena dunia teror dan intelijen hanya dikuasai oleh  orang yang memahaminya, kira-kira mirip dengan dunia gaib. Begitulah.
Oleh : Marsda (Pur) Prayitno Ramelan,