Jam Digital

Minggu, 20 April 2014

Seribu Pertanyaan di Balik Misteri MH370


Pengungkapan misteri hilangnya B777-200ER Malaysia Airlines yang lenyap dalam penerbangan Kuala Lumpur-Beijing, 8 Maret 2014, seperti dikejar waktu. Pemerintah Malaysia telah mengembangkan pencarian ke berbagai kemungkinan. Temuan puing yang tertangkap satelit DigitalGlobe yang diumumkan Pemerintah Australia, 20 Maret lalu, diharapkan bisa memberi titik terang.  Jika pesawat benar-benar mengalami kecelakaan, berarti tim pencari yang melibatkan 26 negara tinggal memiliki waktu kurang dari dua minggu. Hal ini didasarkan pada daya pancar sinyal “ping” kotak hitam yang hanya bertahan sebulan. Peliputan media internasional yang bertubi-tubi, tak ayal, menjadikan kasus hilangnya pesawat dengan kode penerbangan MH370 ini peristiwa yang mendunia. Berbagai pertanyaan besar pun mengemuka, tapi belum satu pun terjawab. Di antaranya, kenapa pesawat memutuskan berbelok ke selatan, melintas daratan Malaysia? Benarkah pesawat dibajak oleh awaknya sendiri? Berikut  laporan  Reni Rohmawati, Dudi Sudibyo, dan A. Darmawan. Di dalamnya Angkasa juga menghadirkan pandangan pilot Boeing B-777 dan sistem pelatihan yang ditempuh, agar kupasan peristiwa terbuka dari berbagai sisi.
-------

                Foto satelit berupa temuan dua puing yang diumumkan Perdana Menteri Australia Tony Abbott di hadapan Parlemen Australia, Kamis siang, 20 Maret 2014, terbilang menggembirakan sekaligus mengagetkan. Dikatakan menggembirakan, karena puing tersebut boleh jadi merupakan bagian dari MH370 dan ini berarti jejak pertama yang berhasil didapat dalam dua minggu pencarian. Tapi juga mengagetkan, karena – lagi-lagi jika puing ini benar merupakan bagian dari MH370  -- atas alasan apa dan bagaimana bisa pesawat tersebut terbang sampai sejauh itu?

                Kedua puing persisnya tertangkap kamera resolusi tinggi satelit DigitalGlobe  pada tanggal 16 Maret 2014 di tengah Samudera Hindia, sekitar 2.500 km sebelah Barat Daya Kota  Perth, Australia Barat. DigitalGlobe Co. yang bermarkas di Colorado, AS adalah satu-satunya perusahaan jasa penyedia citra digital satelit yang bersedia mengerahkan asetnya untuk ikut mencari jejak MH370. Puing terbesar diperkirakan selebar 24 meter, sementara yang lebih kecil hanya sekitar 5 meter.

Meski disebut sahih oleh PM Tony Abbott, foto kedua obyek masih tampak buram untuk bisa dipastikan sebagai bagian pesawat Malaysia Air yang hilang. Itu sebab, untuk verifikasi, sejumlah pesawat terbang dan kapal perang telah dikerahkan ke lokasi. Kapal barang Hoegh St, Petersburg asal Norwegia  tujuan Australia yang kebetulan lewat situ juga sudah diminta mendekat. Namun, sampai laporan ini turun cetak pada 23 Maret 2014, kedua puing tersebut belum berhasil ditemukan.

Lokasi tempat kedua obyek tertangkap kamera satelit DigitalGlobe  memang terpencil di tengah, susah dijangkau dan kerap dilanda cuaca buruk dan ombak tinggi. Seperti dikatakan Menteri Pertahanan Malaysia yang juga pejabat Menteri Transportasi Malaysia, Hishammuddin Hussein, jika saja temuan itu bisa diverifikasi sebagai bagian dari MH370, pencarian pesawat yang hilang ini akan menemukan titik terang.

Seperti diberitakan, pesawat badan besar yang ditumpangi 227 penumpang dan 12 awak tersebut, putus kontak dan dinyatakan hilang sekitar dua jam setelah lepas landas dari Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (8/3) pukul 00.41 dini hari waktu setempat.  Ketika itu MH370 sudah terbang di ketinggian jelajah 35.000 kaki, di atas Laut China Selatan – perairan kaya sumber daya alam yang kerap diperebutkan negara-negara Asia .

Otoritas Malaysia menaruh kecurigaan pesawat dibajak orang yang mengerti benar cara menerbangkan B777-200ER karena sesaat sebelum kontak terputus, transponder yang biasa mengirim sinyal arah, kecepatan dan ketinggian juga mati. Juga tak ada sinyal distress yang menandakan pesawat dalam keadaan bahaya.

Mengapa ke Samudera Hindia?
Menindaklanjuti adanya unsur pembajakan  tersebut, Badan Intelijen Federal AS (FBI) dan dinas kontra-intelijen AS pun ikut merespon. Keterlibatan mereka mencuatkan berbagai spekulasi sehingga proses pencarian yang melibatkan puluhan kapal dan pesawat dari 14 negara ini pun kisruh. Terlebih karena isu pembajakan dikaitkan dengan keseharian Kapten Pilot Zaharie Ahmad Shah (53 tahun) yang kerap berlatih simulator pesawat dan merupakan simpatisan tokoh oposisi Ibrahim Anwar.



Titik-titik Terang Itu

Memasuki minggu kedua hilangnya B777-200ER Malaysia Airlines Flight MH370, ditemukan titik-titik terang mengarah ke tempat hilangnya MH370. Operasi pencarian multi-nasional besar-besaran di daerah 59.000 km2 di Samudera Hindia bagian selatan, belum menemukan obyek yang diduga bagian dari MH370 terekam oleh satelit Australia, China, dan terakhir Perancis. Terakhir, 23 Maret sebuah pesawat sipil melihat palet kayu terapung di area pencarian, di sekitarnya ada benda lain yang diperkirakan adalah sabuk pengaman.

                Meski belum dapat dipastikan dua benda mengambang di atas Samudera Hindia tersebut berkaitan dengan Flight MH370, karena belum berhasil diangkat dari laut untuk memastikannya, setidaknya rekaman satelit dan temuan palet kayu dan sabuk pengaman ini jadi titik terang mengarah lokasi hilangnya pesawat badan lebar Boeing 777-200ER yang lenyap di angkasa, 8 Maret 2014 di atas Laut China Selatan. 

                Berbagai analisa bermunculan, tapi belum bisa menjawab lenyapnya B777 yang sedang mengangkut 239 orang enroute ke Beijing, China dari Kuala Lumpur. Awalnya pihak Malaysia menyebutkan pesawat hilang pada sekitar titik Flight MH370 akan memasuki ruang udara yang dikontrol oleh Vietnam --- atau sekitar perbatasan FIR (Flight Information Region) yang dikontrol Singapura dan Vietnam.

                Sekitar seminggu Laut China Selatan ditelusuri oleh SAR Vietnam dan Filipina membantu Malaysia mencari Boeing 777 yang hilang tersebut. Hasilnya nihil, kemudian setelah sebelumnya membantah keterangan bahwa pesawat berbelok U-turn kembali ke wilayah Malaysia, tiba-tiba saja mengakui data AS yang menyebutkan pesawat ubah rutenya dan kemungkinan dibajak terbang mengarah ke Samudera Hindia.

                Dengan data baru tersebut, pencarian dialihkan ke koridor utara dan selatan samudera maha luas tersebut. Ada spekulasi pesawat dibajak oleh captain pilotnya sendiri, kemudian diarahkan menuju Turkmenistan atau ke salah satu negara tetangganya. Dari sinyal yang ditangkap satelit, dketahui pesawat masih terbang lima jam setelah Flight MH370 dinyatakan hilang di atas Laut China Selatan. Diperkirakan pesawat yang diisi bahan bakar untuk tujuh jam penerbangan, kehabisan bahan bakar kemudian diduga hilang di Samudera Hindia.

                Radar Thailand sempat menangkap jejaknya setelah lepas dari titik U-turn, diketahui menanjak dari 35.000 kaki ke 45.000 kaki, yakni ambang batas ketinggian 777 saat kembali menuju wilayah Malaysia. Pesawat kemudian diturunkan dratis ke ketinggian 25.000 kaki, disusul ketinggian lebih rendah lagi 5.000 kaki –mungkin menghindari deteksi radar saat terbang sekitar Pulau Langkawi menuju kota Butterworth di pantai barat Malaysia. Dari kota ini terbang ke Kuala Lumpur hanya hitungan puluhan menit terbang, bila pembajak misalnya ingin melaksanakan repetisi peristiwa 911 World Trade Center New York, AS, menabrakkan 777 ke ikon Menara Kembar Kuala Lumpur.

Tetapi yang dilakukan MH370 mengubah lagi arahnya seolah re-track penerbangan menuju utara di Selat Malaka mengarah ke Pulau Andaman di Samudera Hindia. Nelayan Aceh sempat menyatakan melihat pesawat besar terbang rendah sebelum hilang dari pemandangannya. Bila memang dibajak, siapa pun yang bertanggungjawab atas pembajakannya, ingin memperlihatkan ke dunia bahwa dia lebih hebat.

Ditching di Samudera Hindia?
                Menurut analisa Angkasa, yang tentunya harus verifikasi dengan data kotak hitam MH370 bila sudah ditemukan, ada dua kemungkinan --- setelah bahan bakar habis, pesawat setelah beberapa menit meluncur ibarat pesawat glider raksasa, terus nyemplung ke laut, saat impak dengan permukaan air pesawat pecah, pecahannya ikut tersedot dengan sisa badannya ke dasar samudera. Bila ini terjadi, tentunya serpihan pesawat serta benda-benda ringan lainnya tak lama kemudian mengapung di permukaan air laut, seperti yang terjadi pada kecelakaan Airbus A330 Air France tak lama setelah lepas landas dari Rio de Janeiro, Brasil tahun 2009.

Atau kasus Boeing 737-400 AdamAir Flight 574  yang jatuh di perairan lepas pantai Majene, Sulawesi Selatan 1 Januari 2007, 10 hari kemudian horizontal stabilizer pesawat ditemukan nelayan di selatan Pare-Pare, ditemukan juga kursi, jaket keselamatan dan KTP penumpangnya.




Sejumlah Kejanggalan di Mata Pilot

                Berita hilangnya Boeing B777-200ER Malaysia Airlines tak luput dari perhatian penerbang, terlebih dari pilot pesawat sejenis. Mereka mencermati banyak hal, mulai dari aspek operasional penerbangan, sistem tanggap darurat, hingga berbagai analisa terkait peristiwa hilangnya pesawat ini. Di mata mereka, pesawat terbang adalah moda transportasi yang kompleks, rawan kesalahan, namun tetap (masih) paling aman dibanding moda transportasi lain.

                Insiden bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, namun hal ini bisa dihindari dengan mematuhi semua prosedur dan regulasi. Semua penerbang telah dilatih untuk mengikuti aturan dan selalu menempatkan keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama. Tanggung jawab dan etika keprofesian tak ayal menggiring mereka ke sejumlah kejanggalan atau setidaknya masalah yang mungkin dihadapi pilot pesawat berkode penerbangan MH370 itu.

                Capt. Novianto Herupratomo, Direktur Operasi Garuda Indonesia, misalnya, menyatakan MH370 tak bisa begitu saja keluar jalur. Setiap penerbang pasti tahu ada banyak penerbangan point to point di sekitar situ dengan jalur yang sempit, sehingga keluar jalur tanpa memberi tahu ATC (Air Traffic Control) bisa membahayakan penerbangan lain. Di lain pihak, pihak Malaysia Airlines semestinya juga tahu, karena mereka seharusnya juga memantau pergerakan setiap pesawatnya, termasuk MH370.

                Seperti diberitakan berbagai media, berbagai pertanyaan muncul ketika komunikasi dari pesawat terputus dan radar sekunder penerbangan sipil  tiba-tiba kehilangan jejak pesawat yang ditumpangi 227 penumpang dan 12 awak ini. Katakan jika benar last contact dengan radar militer Malaysia terjadi pada pukul 02.40 (Sabtu, 8 Maret 2014), dan lost contact dengan ATC Malaysia pada 01.30. “Pertanyaannya yang paling mendasar adalah apa yang terjadi di pesawat selama satu jam sepuluh menit itu?” ungkap Capt. Novianto kepada Angkasa.

                Menurutnya, lost contact sendiri tidak selalu berarti kecelakaan atau telah terjadi katastropi di pesawat. Lost contact juga bisa terjadi jika radar pemantau rusak, atau sebaliknya: transponder di pesawat mati atau dimatikan untuk alasan yang tidak kita tahu. Lost contact juga bisa terjadi jika pesawat terbang di luar jangkauan radar.

                Akan tetapi layaknya sistem penerbangan masa kini yang telah didukung berbagai back-up systemslost contact bisa dihindari jika bagian operasi Malaysia Airlines memiliki Flight Operation Quality Assurance (FOQA) atau Flight Data Monitoring (FDM). Dengan sistem yang terhubung via satelit ini, di ruang operasional, mereka masih bisa memantau pergerakan pesawat  lewat layar monitor. Pesawat akan secara otomatis mengirim sinyal ke perangkat ini dan operator bisa mengikuti kemana pesawat itu bergerak, bahkan sejak start engine.

                “Maka agak aneh jika bagian operasi Malaysia Airlines tidak memiliki data pergerakan MH370 sejak last contact?” timpal Capt. Lucky Luksmono, Chief Pilot B777-200ER Garuda Indonesia coba menanggapi. FOQA sendiri tidak dirancang untuk “menguntit” ke mana pilot akan membawa pesawat, tetapi semata-mata dibuat untuk memantau kondisi pesawat selama penerbangan. Jika saja ada potensi kerusakan atau hazard, awak darat akan langsung menanganinya segera setelah pesawat mendarat.

Human center
                Tentang B777 sendiri, Capt. Lucky Luksmono menjelaskan pesawat telah menggunakan kemudian fly-by-wire dan telah dilengkapi berbagai fitur penjamin keselamatan terbang. Perlengkapan ini disediakan untuk mempertinggi toleransi terhadap kesalahan atau error. Tak hanya Boeing, pabrik pesawat komersial badan lebar lain juga berupaya menyediakannya karena “beban kerja” pesawat masa kini yang kian kompleks. Pesawat masa kini harus terbang lebih jauh dalam kondisi lalu-lintas udara yang makin padat, dan selalu dibayangi cuaca ekstrem.


Dituntun Sinyal “Ping”
                Kalau saja ada  teknologi penerbangan  yang dalam dua minggu belakangan ini mendadak terkenal, itu pastilah Aircraft Communications Addressing and Reporting System atau ACARS. Sistem satelit pemantau data teknis  antara pesawat dengan stasiun darat ini sebenarnya sudah jadul, telah digunakan sejak 1978. Namun, dalam pencarian pesawat Malaysia Air yang hilang, ia tiba-tiba  jadi tumpuan gara-gara telah menangkap satu sinyal “ping” yang diyakini sebagai jejak pembuka.

                Di awal pencarian, ACARS sempat disinggung. Namun hanya sebatas penerima data ketinggian, kecepatan, dan arah pesawat yang disampaikan secara otomatis dari pesawat ke pabrik mesin Rolls Royce di Derby, Inggris. Data rutin ini dikatakan terakhir dikirim pada pukul 01.07, dan setelah itu tak pernah ada lagi karena transponder MH370 mati. Duabelas menit sebelum radar sekunder ATC Subang, Malaysia hilang kontak dengan pesawat ini.

                ACARS tiba-tiba dibicarakan kembali, ketika di tengah kebingungan yang dialami tim pencari, ia dilaporkan telah menangkap sebuah sinyal yang diduga berasal dari MH370. Sinyal yang ditangkap tidak berisi informasi kecepatan, ketinggian, dan arah pesawat, melainkan hanya berupa bunyi “ping”.  Begitu pun, di tengah gulita misteri yang menyelimuti MH370 dan tak kunjung munculnya sinyal Kotak Hitam pesawat, sinyal sederhana tersebut bak pelita yang menjanjikan misteri ini terbuka.

                Sinyal tersebut dirilis ke media oleh stasiun televisi CNN mengutip laporan terbatas yang dimiliki pemerintah Malaysia dan AS. Tak diketahui secara jelas, mengapa mereka menyimpannya. Namun, yang jelas, sinyal itu tertangkap tujuh jam 31 menit setelah MH370 lepas landas dari Bandara Kuala Lumpur. Persisnya yakni pada pukul  8.11 waktu Malaysia.

Dari waktu dan posisi satelit, posisi pancaran sinyal itu akhirnya bisa diekstrapolasi. Layaknya sapuan antena satelit, bentuknya berupa lingkaran. Tak heran, jika kemudian dinyatakan ada dua kemungkinan koridor yang boleh jadi merupakan perlintasan pesawat asing ini. Koridor pertama ke arah utara, menuju Khazakhtan. Sedang yang kedua, ke arah Selatan, menuju Samudera Hindia.

Tak heran, jika kemudian Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional, Indonesia, dimintai keterangan apakah radarnya menangkap adanya penerbangan asing kala itu, TNI AU menjawabnya dengan tegas tidak ada. 
Sejumlah negara di sekitar Malaysia juga dimintai konfirmasi atas pertanyaan yang sama, dan jawabannya pun sama. Tentang penelusuran yang seolah tertutup ini, Menteri Pertahanan Malaysia yang juga merangkap Menteri Transportasi, Hishammuddin Hussein akhirnya mengungkap, tak mudah mengungkap informasi yang berkaitan dengan radar pertahanan udara.

Dari berbagai temuan, termasuk dua obyek yang tertangkap satelit DigitalGlobe pada  Minggu, 16 Maret 2014 tengah terapung-apung di Samudera Hindia, Otoritas Keselamatan Maritim Australia pun coba membuat pola irisan geometri antara asal pesawat yang tertangkap radar militer Malaysia dengan koridor selatan yang dibuat berdasar teori “ping”.  Rupanya, lokasi temuan obyek yang tertangkap kamera satelit DigitalGlobe itu dinilai masuk akal.

Demikianlah, kira-kira dasar analisa yang melatari pengumuman yang disampaikan PM Australia Tony Abbott dalam jumpa pers, Kamis, 20 Maret di Carnberra. “Lokasinya memang sangat jauh, ekstrem dan sulit dijangkau. Tetapi ini adalah data yang sangat dipercaya.”

Pengumuman tersebut selanjutnya ditimpali Presiden AS Barack Obama dengan kata-kata: “Pencarian pesawat Malaysia  Airlines yang hilang adalah prioritas utama.”

Itu sebabnya mengapa selanjutnya sejumlah pesawat intai dan kapal perang milik Angkatan Bersenjata  Australia, AS, Jepang, New Zealand, dan China seolah tumplek-blek di posisi  2.500 kilometer sebelah Barat Daya kota Perth, Australia Barat. Terlebih karena belum lama ini satelit milik China dan Perancis menemukan obyek serupa di lokasi yang hampir sama.

 Para pelaut dan penerbang pencari dari berbagai negara itu seolah tak mengenal lagi bahaya yang diam-diam juga mengincar oleh karena ganasnya cuaca dan ombak ekstrem di tengah lautan yang amat sepi. Apa pun itu, kita tentu sama-sama berharap semoga pencarian ini menemukan titik yang lebih terang sehingga kesedihan keluarga yang ditinggalkan bisa berkurang.