Jam Digital

Senin, 31 Maret 2014

Tank Leopard Bisa Manuver di Sungai dan Lumpur

Habibie mengkritik pemerintah yang membeli tank buatan Eropa itu.

Tank Leopard.
Tank Leopard. (http://www.militaryphotos.net) (http://www.militaryphotos.net)
TNI Angkatan Darat menjawab kritik yang disampaikan Presiden ketiga RI Bacharudin Jusuf Habibie soal pembelian tank Leopard. Salah satu kritik yang mencuat adalah tank ini sangat berat, yakni berbobot 60 ton.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Andika Perkasa mengakui bahwa tank buatan Eropa itu berbobot 60 ton. Meski demikian, kata dia, tekanan jejak pada tanah hanya 0,8 kilogram/centimeter kubik (kg/cm2) atau 8,9 ton/m2.

"Tekanan jejak ini relatif sama dengan tank AMX-13 yang memiliki berat 14,5 ton dan Scorpion yang beratnya 8 ton," kata Andika dalam keterangan pers yang diterima VIVAnews, Minggu 30 Maret 2014.

Dengan tekanan jejak 8,9 ton/m2 itu, Andika menilai, tank Leopard sangat memenuhi syarat untuk digunakan di jalan-jalan Indonesia. Lebih lanjut, dia menjelaskan, Beban Terbagi Rata (q) Leopard adalah 2,38 kNm2.
"Ini lebih lebih kecil dari jembatan kelas A dan B (q = 4.46 kNm2) di Indonesia," jelasnya. Biasanya, jembatan yang dijelaskan Andika memiliki lebar 6 m dan panjang 40 m.

"Tank Leopard mampu manuver off road, di permukaan berlumpur, di sungai dengan kedalaman kurang dari 4 meter," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Habibie mengkritik pemerintah yang membeli tank Leopard buatan Eropa itu. Pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) buat TNI AD itu dinilai tidak tepat, sebab tidak cocok digunakan di wilayah Indonesia yang pulau dan perairan.
"Tank itu tentu tidak bisa lewat jembatan. Saya dengar November akan datang 120 unit Leopard. Itu nanti mau taruh di mana?" katanya, 26 Maret lalu.