Jam Digital

Rabu, 19 Maret 2014

Dugaan Pembajakan MH370 Dipertanyakan



      Pernyataan bahwa Boeing B-777-200ER Malaysia Air dibajak sebagai salah satu dugaan di balik misteri hilangnya pesawat berkode penerbangan MH370 ini, dipertanyakan banyak pihak. Dugaan ini dianggap terlalu dini atau terlalu prematur mengingat bukti-bukti ke arah itu terbilang tidak lengkap. Proses pembajakan biasanya diikuti dengan pernyataan dari pihak pembajak dan di balik setiap pembajakan pasti ada tuntutan, dan itu tidak pernah terjadi. Sebelum pesawat diambil-alih, di dalam kokpit yang dilengkapi pintu tahan peluru dan tak sembarang orang bisa masuk, pilot sesungguhnya juga masih punya waktu untuk mengirim sinyal darurat ke menara pengawas dan itu juga tidak pernah terjadi.

       Pernyataan bahwa MH370 dibajak tersirat kental setelah, dalam jumpa pers Sabtu (15/3) pagi, PM Malaysia Najib Razak mengumumkan bahwa pencarian pesawat akan memasuki babak baru. Ia mengatakan, radar militer Malaysia masih mendeteksi perjalanan pesawat ini setelah keberadaannya tak terdeteksi radar sekunder penerbangan sipil menyusul terputusnya komunikasi dengan awak dan matinya sinyal transponder. Dengan demikian, kalau pun pesawat dibajak, pelaku semestinya memahami benar tentang teknik mengambil alih pesawat .

       Atas dugaan pembajakan yang diumumkan secara resmi PM Malaysia tersebut, otoritas keamanan tak memungkiri turut memeriksa lebih jauh jatidiri dan kehidupan awak pesawat MH370 sebagai salah satu terduga pelaku pembajakan. Dalam salah satu penyelidikan, diketahui pilot Zaharie Ahmad Shah merupakan simpatisan partai oposisi Partai Keadilan Rakyat, memiliki simulator B-777 secara pribadi di rumahnya, dan keluarga yang bersangkutan telah tiga pindah sebelum kejadian.

      Pemerintah Malaysia telah meninggalkan Laut China Selatan sebagai daerah pencarian utama, untuk kemudian memindahkannya ke dua koridor penerbangan yang ditengarai bisa dilewati MH370 yang dibajak. Koridor pertama ditelusuri dari kemungkinan jika setelah pesawat melintas semenanjung Malaysia lalu berbelok ke utara, ke arah Kazhakstan. Sementara koridor kedua, dikembangkan dari kemungkinan jika setelah pesawat melintas semenanjung Malaysia, dibawa ke arah selatan melintas Indonesia menuju Samudera Hindia.

      Mulai Minggu (16/3) ini, pencarian sudah memasuki minggu kedua. Seperti juga terlibat dalam pencarian minggu lalu, pencarian minggu kedua masih diikuti puluhan pesawat dan kapal dari 14 negara. Komandan Lanud Soewondo, Kolonel Pnb. Handoko, dalam sebuah wawancara dengan wartawan Indonesia mengatakan, tim pencari Indonesia senantiasa berkoordinasi dengan perwira penghubung TNI AU yang ditempatkan di pangkalan udara Butterworth, Malaysia.

      Mendukung teori tentang diterbangkannya pesawat tersebut ke salah satu dari dua koridor pencarian yang dikeluarkan Pemerintah Malaysia, sebuah stasiun radio di New York, WNYC, pesawat mungkin saja mendarat dan disembunyikan di salah satu dari 634 landasan yang ada di 26 negara. Kemungkinan itu didasarkan pada panjang landasan minimal untuk B777. Selain ditanggapi skeptis bebagai pihak, dugaan pembajakan juga dikomentari negatif keluarga penumpang. Mereka diantaranya kecewa mengapa Pemerintah Malaysia baru pada minggu kedua. Pencarian, kata mereka, juga terkesan lambat atau sengaja dibuat lambat.