Jam Digital

Jumat, 14 Maret 2014

LERENG TIMUR MERAPI: SAKSI KEHEBATAN PILOT TEMPUR INDONESIA

"Bangsa kita bukan bangsa yang GOMBAL, jika kita bisa menghargai, menghormati, menghayati, dan meneruskan spirit. Nasionalisme para pendiri dan para patriot yang telah menegakkan kedaulatan NKRI di mata dunia", kata R.Hendro RPU,S.Psi  Seorang pengamat sejarah AURI yang ditemui penulis di Museum Dirgantara, Janti Yogyakarta, hari Minggu 15 Januari 2012.

"Saya prihatin dengan generasi muda sekarang yang suka saling menyalahkan dan saling menjelek-jelekkan sesamanya, bahkan malu menjadi bangsa Indonesia", lanjut Hendro mengungkapkan keprihatinannya.

Sudah saatnya kita menggali kembali sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan perjuanganya dalam mempertahankan Kemerdekaannya. Pasca 17 Agustus 1945, kedaulatan NKRI masih diusik oleh pihak Belanda yang tidak puas dengan keadaan ini. Ketidakpuasan penjajah Belanda terhadap Perjanjian Linggar Jati yang telah ditandatangani bersama dengan pemerintah RI pada tanggal 25 Maret 1947, diwujudkan dalam bentuk Agresi Militer beruntun, yaitu pada tanggal 21, 25, dan 27 Juli 1947. Dalam Agresi itu, pihak Belanda juga melakukan serangan udara terhadap lapangan-lapangan terbang di Jawa dengan tujuan melumpuhkan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta, saat berlangsungnya Agresi militer Belanda 1947 tertutup kabut tebal, sehingga selamat dari serangan udara Belanda. Puluhan pesawat rusak peninggalan Jepang yang kemudian diperbaiki (dibandrek), dan menjadi modal awal untuk mendidik calon-calon penerbang militer Indonesia, terhindar dari kehancuran. Petinggi AURI saat itu tidak tinggal diam, kemudian Komodor Muda Udara Halim Perdanakoesoema (Perwira Operasi AURI) mendapat perintah dari KASAU KOMODOR UDARA Soerjadi Soerjadarma untuk menyusun rencana Operasi Udara Pertama, pukul 19.00 WIB tanggal 28 Juli 1947.
Gambar 1


  Tanggal 28 Juli 1947. Briefing oleh Halim Perdanakusuma
Gambar 2
 Tanggal 28 Juli 1947: Para Kadet Penerbang AURI angkatan I menyusun rencana penyerangan kepada pihak Belanda di Semarang dan Salatiga.
Gambar 3
 Tanggal 28 Juli 1947: Para Teknisi AURI menyiapkan 4 pesawat tempur untuk Serangan Udara 29 Juli 1947: terdiri dari dua buah Churen, sebuah Hayabusha dan sebuah Guntei.
Perintah Operasi disampaikan Halim Perdanakusuma kepada keempat Kadet penerbang Angkatan I AURI, Moeljono, Soeharnoko Harbani, Soetarjo Sigit, dan Bambang Saptoadji. Empat pesawat terbang disiapkan untuk melakukan Operasi Udara tersebut, terdiri dari dua buah Churen, sebuah Hayabusha dan sebuah Guntei. Namun sampai menjelang pemberangkatan pesawat Hayabusha yang akan dikemudikan kadet penerbang Bambang Saptoadji mengalami kerusakan sehingga tidak bisa ikut serta dalam Operasi. Bambang Saptoadji sangat kecewa dan meminta kepada tiga rekannya untuk digantikan tugasnya, namun tidak satupun diantara mereka yang mau digantikan, dengan semangat juang yang tinggi mereka ingin melakukan tugas bakti kepada Bangsa dan Negara
meskipun mengandung resiko.

Selasa dinihari 29 Juli 1947, pukul 03.45, tiga pesawat yang akan melakukan serangan udara lepas landas dari Maguwo. Kadet Penerbang Moeljono didampingi penembak udara Rachman menggunakan pesawat pembom Guntei, lepas landas yang pertama, dibelakangnya menyusul dua buah pesawat Churen, masing-masing dengan penerbang kadet Soetardjo Sigit dengan penembak udara Soetardjo, serta kadet penerbang Soeharnoko Harbani dengan penembak udara Kaput. Sesuai perintah, Kadet Moeljono mendapat tugas menyerang pelabuhan laut Semarang, sementara Soetardjo Sigit dan Soeharnoko Harbani yang bertindak sebagai wingman menyerang tangsi Belanda di Salatiga. Namun dalam penerbangan di kegelapan pagi hari di atas Maguwo, Kadet Soeharnoko Harbani kehilangan pesawat Soetardjo Sigit yang menjadi leadernya, Karena tidak ingin membuang waktu, Soeharnoko Harbani memutuskan untuk langsung terbang ke Salatiga melalui rute lereng timur Gunung Merapi,
dari ketinggian terbang pesawatnya, Soeharnoko Harbani melihat lampu-lampu kota Ambarawa, segera pesawat Churen diarahkan ke arah timur kota, Soeharnoko tahu bahwa di sana terdapat tangsi-tangsi Belanda. Serangan udara dimulai dengan dua bom 50 kilogram yang dijatuhkan di Ambarawa, setelah itu segera pesawat Churen diarahkan kembali ke Maguwo melalui rute berangkat yang merupakan jarak terpendek, hal itu dilakukan untuk menghindari pesawat-pesawat tempur Belanda yang dipastikan akan mengejarnya. Pesawat Churen Soeharnoko-Kaput mendarat paling awal di Maguwo, disusul pesawat Soetardjo dan Moeljono. 
Gambar 4
 Tanggal 29 Juli 1947, dini hari: Kadet Penerbang Moeljono didampingi penembak udara Rachman menggunakan pesawat pembom Guntei, lepas landas yang pertama dari MAGUWO Yogyakarta.
Gambar 5
 Selasa dinihari 29 Juli 1947, pukul 03.45, tiga pesawat yang akan melakukan serangan udara lepas landas dari Maguwo.
Gambar 6
 Serangan Udara pertama yang dilakukan dinihari tanggal 29 Juli 1947 oleh kadet penerbang AURI berhasil dengan baik serta menimbulkan dampak yang besar.
Serangan Udara pertama yang dilakukan dinihari tanggal 29 Juli 1947 oleh kadet penerbang AURI berhasil dengan baik serta menimbulkan dampak yang besar. Pertama: Dampak Psikologis: menimbulkan kekhawatiran pihak Belanda perihal kekuatan Angkatan Udara Republik Indonesia, sebab seminggu sebelum peristiwa tersebut, pesawat-pesawat AURI telah dihancurkan melalui agresi militer tanggal 25 dan 27 Juli 1947. Sebaliknya bagi pejuang Indonesia, peristiwa serangan udara AURI itu mampu menguatkan tekad dan semangat juang
serta memperkuat keyakinan terhadap kekuatan dan kemampuan bangsa Indonesia. Kedua: Dampak Politis: Memojokkan posisi Belanda dan mengurangi kepercayaan PBB terhadap provokasi yang dilakukan sebelumnya.
Sebaliknya, peristiwa itu semakin memperkuat posisi Indonesia dan sekaligus menunjukkan bahwa Negara Indonesia masih ada serta perjuangan rakyatnya untuk tetap MERDEKA masih berlanjut. HAl itu memacu dukungan politis Internasional yang semakin besar terhadap perjuangan Bangsa Indonesia.(VEY-LJ/ editor: M-LJ)

Sumber: Relief pada dinding MUSEUM PUSAT TNI AU DIRGANTARA MANDALA, MONUMEN PERJUANGAN TNI AU, NGOTO, BANTUL YOGYAKARTA.