Jam Digital

Senin, 24 Maret 2014

PERISTIWA HEROIK 29 JULI 1947


Peta Operasi Udara TNI AU yang pertama























Pernyataan Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 merupakan simbol terlepasnya segala belenggu penjajahan yang telah lama dirasakan Bangsa Indonesia, dan mempunyai arti sejak saat itu Bangsa Indonesia telah mengambil sikap untuk menentukan nasib sendiri dalam segala aspek kehidupan, serta menandakan lahirnya Negara Indonesia yang memiliki kedaulatan dan kedudukan sama dengan negara-negara berdaulat lainya.   Akan tetapi, setelah proklamasi bukan berarti Indonesi
Perjuangan Bangsa Indonesia pasca proklamasi dirasakan sangatlah berat, saat itu seluruh kekuatan angkatan bersenjata Republik Indonesia masih sangat minim, baik dari segi jumlah maupun tehnologinya.  Kekuatan Angkatan Udara Republik Indonesia hanya mengandalkan sisa-sisa peninggalan Jepang yang kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk dioperasionalkan. Sedangkan Pemerintah Belanda yang belum rela dengan kemerdekaan Indonesia dan ingin berkuasa kembali di Indonesia, sudah memiliki kekuatan udara yang besar dan tergolong moderen, serta telah berpengalaman dalam kancah perang dunia.

Agresi Militer Belanda I
Kegagalan Perundingan Linggajati antara Sekutu (Inggris), Belanda (NICA) dan Republik Indonesia, merupakan pemicu terjadinya Agresi Militer Belanda yang pertama. Belanda yang merasa dirinya lebih kuat, pada 21 Juli 1947 melaksanakan agresinya dibeberapa wilayah republik Indonesia, baik di Jawa maupun Sumatera.  Tujuan  agresi militer tersebut adalah untuk menduduki seluruh Jawa Barat, kota-kota besar di Jawa seperti Semarang dan Surabaya, serta daerah perkebunan dan minyak di Sumatera seperti Deli, Palembang dan sekitarnya. 
Dalam melaksanakan agresinya, Belanda berusaha mengintimidasi dan memaksa kedudukan Indonesia makin mundur ke pedalaman, serta menghancurkan potensi-potensi kekuatan udara Republik Indonesia diberbagai daerah.   Seluruh pangkalan udara Republik Indonesia diserang secara serempak, mereka bergerak dengan mengandalkan pesawat-pesawat tempur P-5 Mustang dan P-40 Kitty Hawk serta pesawat pembom B-25/B-26.  Penyerangan terhadap pangkalan-pangkalan udara Republik Indonesia, yang saat itu masih dalam proses perintisan, tentunya dimaksudkan untuk menghilangkan atau mengurangi kemampuan Angkatan Udara Republik Indonesia, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan serangan udara terhadap Belanda.  Demikian pula halnya dengan Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta, tidak luput dari sasaran serangan Belanda. 
Serangan Belanda di Pangkalan Udara Maguwo, dilaksanakan secara bergelombang.   Serangan awal dilancarkan pada pagi hari tanggal 21 Juli 1947,  tetapi serangan awal ini mengalami kegagalan, karena secara kebetulan cuaca di atas kota Yogyakarta berkabut tebal sehingga Belanda tidak mampu melaksanakan serangan.  Kegagalan tersebut tidak mengurangi usaha Belanda untuk menghancurkan Maguwo, karena pada siang harinya Belanda menyerang kembali.  Selama 40 menit, empat buah pesawat pemburu Belanda menyerang dengan menjatuhkan beberapa bom di atas lapangan terbang Maguwo dan Wonocatur, yang menyebabkan timbulnya kebakaran di beberapa tempat, namun pesawat yang telah disembunyikan sebelumnya luput dari serangan Belanda.  
Pukul 14.10 WIB tanggal 23 Juli 1947, Belanda  kembali menyerang lapangan terbang Maguwo.  Pesawat-pesawat pemburu Belanda melepaskan tembakan mitraliur dan menjatuhkan granat tangan.   Serangan Belanda ini mendapat perlawanan dari anggota AURI, satu pesawat Belanda kena tembak dan melarikan diri.   Dua hari berikutnya, yakni pada 25 Juli 1947 pukul 14.30 WIB, kembali Maguwo diserang oleh dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda.  Meskipun demikian perlawanan kita dari bawah tidak kendor sedikitpun.  Dalam pertempuran ini satu pesawat Belanda terkena tembakan pasukan penangkis serangan udara dan melarikan diri kearah Solo.
Menjelang Magrib tanggal 25 Juli 1947, Belanda kembali melancarkan serangan berikutnya.  Kali ini AURI mengalami kerugian yang sangat besar, karena pesawat-pesawat tempur Belanda menemukan pesawat-pesawat AURI yang sedang di run up.  Pada serangan yang kelima kalinya ini, beberapa pesawat Cukiu dan Cureng AURI hancur,  bahkan satu-satunya pesawat pembom AURI yang tersisa, yaitu Pangeran Diponegoro I ikut hancur.
Serangan-serangan Belanda yang tidak beraturan tersebut, menunjukan bahwa Belanda berusaha keras untuk melumpuhkan dan menghancurkan kekuatan udara Republik Indonesia.  Penghancuran sasaran yang diperkirakan menjadi tulang punggung kekuatan udara Republik Indonesia, dianggap Belanda sebaga salah satu cara terbaik dalam mencegah Pangkalan Udara Republik Indonesia untuk melakukan serangan, yang akan mengancam kedudukan maupun menyerang daerah yang baru saja diduduki Belanda.
Serangan udara Belanda atas kekuatan udara Republik Indonesia dapat dikatakan berhasil,  sebagian besar hasil pembinaan kekuatan udara Republik Indonesia yang telah dibangun selama kurang lebih dua tahun setelah kemerdekaan hampir dapat dilumpuhkan. Beberapa pangkalan udara di Pulau Jawa dapat diduduki, Pangkalan Udara Bugis (Malang) dan Kalijati dapat dikuasai Belanda, selain itu pesawat terbang yang ada di Pangkalan Udara Maospati, Panasan, dan Cibeureum banyak yang dihancurkan Belanda, sedangkan di Pangkalan Udara Maguwo hanya tersisa dua Cureng, satu Guntei dan satu Hayabusa.  

Kekuatan Udara yang Memprihatinkan
Pada tanggal 29 September 1945 tentara Inggirs (Sekutu) tiba di Indonesia dan mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok.  Pendaratan Inggirs di Indonesia ini, menyertakan pula aparat Belanda atau Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yang ingin kembali berkuasa dan menjajah Indonesia.   Namun Rakyat Indonesia tidak ingin lagi menjadi bangsa yang terjajah, rakyat Indonesia bangkit melawan tentara Sekutu dan NICA menggunakan senjata rampasan dari Jepang dan senjata tradisional yang ada.  Pertempuran berkobar dimana-mana, ibukota kolonial Batavia berhasil diduduki Belanda, akibatnya para nasionalis memindahkan ibukota dan pusat pemerintahan di Yogyakarta.
Bersamaan dengan masuknya Sekutu dan NICA di Indonesia, seluruh kekuatan udara Republik Indonesia merupakan pesawat-pesawat peninggalan Jepang, yang tersebar dibeberapa pangkalan udara, seperti Maguwo, Bugis dan Andir.  Jenis-jenis pesawat yang ditinggalkan Jepang terdiri dari berbagai jenis pesawat, yaitu jenis pesawat latih Nishikoreng, Cukiu dan Cureng, pesawat pemburu Hayabusha dan Sansikishin, pesawat pembom Guntai dan Sakai, serta pesawat pengintai Nakajima.  Kondisi pesawat peninggalan Jepang tersebut, semuanya dalam keadaan rusak hanya beberapa saja yang masih kelihatan utuh.  
Setelah Belanda melancarkan agresinya, fasilitas penerbangan dan pesawat-pesawat yang telah diperbaiki oleh para tehnisi Angkatan Udara Republik Indonesia berhasil dihancurkan Belanda, bahkan beberapa pangkalan udara berhasil dikuasai oleh Belanda.  Meskipun demikian, kenyataan tersebut tidak mengendorkan semangat para pendahulu TNI Angkatan Udara, justru menjadi motivasi untuk terus berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan.  Dengan berbekal empat pesawat yang tersisa di pangkalan udara Maguwo, para pendahulu TNI Angkatan Udara melakukan perlawanan dan melancarkan serangan balik terhadap daerah-daerah yang berhasil diduduki Belanda. 
Gagasan untuk melakukan pembalasan lewat udara terhadap kedudukan Belanda, menjadi pemikiran utama para pemimpin Angkatan Udara, terutama bentuk tindakan balasan yang akan dilaksanakan, karena kesiapan pesawat yang ada tidak memadai, dan kemampuan terbang operasional para kadet penerbang saat itu terbatas pada penerbangan pengintaian.  Atas dasar itu, maka Komandan Sekolah Penerbang Komodor Muda Udara A. Adisutjitpo, merasa sayang kalau para penerbang muda ini “gugur”, beliau menginginkan agar mereka lebih dulu ditingkatkan kecakapan terbangnya untuk mampu menerbangkan pesawat tempur, bahkan tercetus kata-kata beliau bahwa andai kata harus mengadakan serangan balas akan dilakukan oleh beliau sendiri.  Gagasan beliau tersebut disampaikan sebelum berangkat ke luar negeri.
Tetapi situasi waktu yang sangat mendesak untuk melakukan serangan balasan, maka setelah Komodor Muda Udara Adisutjipto dan rombongannya berangkat melaksanakan missinya ke luar negeri, para teknisi di Maguwo secara diam-diam sibuk dengan melaksanakan modifikasi dan mengadakan pemeriksaan beberapa pesawat terbang seperti Hayabusha, Cureng dan Guntai.  Pesawat-pesawat tersebut dipersiapkan untuk dijadikan pesawat pembom, kegiatan tersebut memang sangat dirahasiakan.  Dibawah pimpinan Basir Surya, para teknisi memeriksa dan memperbaiki pesawat-pesawat yang dapat dipersiapkan untuk melaksanakan misi operasi.  Sedangkan pada bidang teknik persenjataan dipimpin oleh Opsir Muda Udara I Eddie Sastrawidjaja.  Sementara itu pimpinan Angkatan Udara Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma mengadakan rapat-rapat tertutup.  
Sejalan dengan proses penyiapan pesawat oleh para tehnisi AURI, pada tanggal 28 Juli 1947 lebih kurang pukul 19.00, seorang kurir ke Mess Perwira di Wonocatur yang membawa perintah KSAU yang ditujukan kepada empat orang kadet AURI, yaitu Kadet Penerbang Mulyono, Sutardjo Sigit, Suharnoko Harbani, dan Bambang Saptoadji agar menghadap Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma.  Panggilan yang sangat dirahasikan itu menyangkut rencana operasi udara yang akan ditugaskan kepada keempat penerbang tersebut.   Rencana operasi ini disampaikan sendiri oleh Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma selaku Perwira Operasi dengan penjelasan-penjelasan seperlunya.  Operasi udara itu berupa pengeboman atas kota-kota yang menjadi kubu musuh di Jawa Tengah.  Pelaksanaannya tidak bersifat perintah tetapi sukarela, namun demikian tidak ada seorang pun dari para penerbang itu yang menolak tawaran tersebut.
Pada kesempatan itu, ditunjuk pula para penembak udaranya (air gunner).  Mereka adalah Kaput, Dulrachman dan Sutardjo.  Ketiga air gunner tersebut merupakan teknisi berpangkat Bintara, yang belum pernah mendapat pendidikan “gunnery” dari AURI.   Modal utama mereka adalah keberanian dan bersedia untuk berkorban dalam mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Pada pertemuan tersebut, KMU Halim Perdanakusuma menjelaskan secara rinci rencana penyerangan kedudukan Belanda di Semarang dan Salatiga, yaitu :
1.         Kadet Udara I Mulyono ditugaskan menyerang Semarang yang disertai penembak udara Sersan Udara Dulrachman menggunakan pesawat pembom tukik Guntei.
2.         Kadet Udara I Bambang Saptoadji ditugaskan mengawal pesawat pembom Guntei menggunakan pesawat Hayabusha.
3.         Kadet Udara I Sutardjo Sigit didampingi penembak udara Sersan Udara Sutardjo dan Kadet Penerbang Suharnoko Harbani didampingi penembak udara Sersan Udara Kaput menyerang Salatiga menggunakan pesawat Cureng.

Sasaran pemboman dan tembakan ditentukan hanya pada kedudukan dan markas militer lawan, penerbangan yang dilaksanakan harus menghindari Boyolali, karena pasukan Belanda telah masuk ke daerah tersebut.  Di samping itu, para penerbang tidak diperbolehkan untuk terbang langsung menuju sasaran, tetapi harus membuat dog-leg, yaitu terbang ke arah timur, baru kemudian belok ke kiri menuju sasaran, dengan tetap memperhatikan taktik pendadakan. Penyerangan akan dilaksanakan sedini hari mungkin, selama kurang lebih satu jam, untuk menghindari penyergapan dan pengejaran lawan.  Apabila serangan selesai, para penerbang diinstruksikan untuk segera kembali ke Maguwo, dengan tree top level (terbang serendah mungkin) dan hedge-hopping.  Teknik ini dimaksudkan untuk mengurangi ruang gerak pesawat musuh yang jauh lebih tinggi kecepatanya, apa bila mereka mengejar dan mau menyergap.
Selesai briefing, mereka bergabung dengan para tehnisi pesawat yang sedang berusaha memperbaiki dan mempersenjatai pesawat yang akan digunakan. Untuk melengkapi persenjataan Guntei, para teknisi tidak mengalami kesulitan, karena pesawat jenis ini termasuk pesawat tempur.  Pesawat pembom Guntei yang berhasil diperbaiki mampu membawa bom seberat 400 kg.  di samping itu, juga dipasang sebuah senapan mesin yang diletakan di belakang penerbang.
Sedangkan pada pesawat Cureng, para teknisi harus bekerja keras, karena pesawat ini digunakan sebagai pesawat latih.   Berkat ketekunan para tehnisi, pesawat cureng berhasil dimodifikasi menjadi pesawat pembom, dengan menempatkan sebuah bom seberat 50 kg di bawah kedua sayapnya.    Untuk melepaskan bom-bom tersebut, disebelah kiri tempat duduk penerbang dibasang tiga buah handle (pegangan) yang terbuat dari kayu dengan warna yang berbeda-beda.  Yang kiri warna Merah untuk melepaskan bom di bawah sayap kiri, yang tengah warna Kuning untuk melepaskan kedua bom sekaligus, yang kanan berwarna Hijau untuk melepaskan di bawah sayap kanan.
Selain dilengkapi bom, pesawat Cureng dilengkapi pula dengan senapan mesin.   Dari kedua pesawat Cureng yang disiapkan, hanya satu pesawat yang bisa dipasang senapan mesin, karena satu pesawat Cureng yang akan diawaki Sutardjo Sigit tidak ada tempat kedudukan (mounting)-nya untuk memasang senapan mesin, sehingga pesawat ini sama sekali tidak dapat membela diri apabila disergap musuh.  Sebagai gantinya, pesawat Cureng tersebut diberi bom-bom bakar yang dibungkus dengan kain Blacu.
Sedangkan pesawat Hayabusha tidak  jadi digunakan, karena adanya kerusakan pada system persenjataanya.    Meskipun para juru teknik telah berusaha dengan bekerja keras sampai pukul 01.00 dini hari tanggal 29 Juli 1947, kerusakan pada sistim persenjataan pesawat Hayabusha belum juga dapat diatasi. Dengan demikian Kadet Penerbang Bambang Saptoadji merasa sangat kecewa. Setibanya di Mess Wonocatur tempat mereka disiagakan penuh, Ia  mendatangi ketiga kadet penerbang lainnya untuk dibujuk agar salah seorang bersedia diganti. Mereka tidak mau melepaskan tugas yang telah dipercayakan pada pundak masing-masing.
Sebelum melaksanakan misi operasi penyerangan, ketiga kadet penerbang hanya diberi kesempatan untuk beristirahat sekitar 2 jam.   Pada pukul 03.00 dini hari, mereka dibangunkan dan pukul 04.00 sudah harus siap di lapangan terbang Maguwo untuk menerima briefing dari kepala teknisi Bapak Sudjono, yang sebelumnya tidak mengetahui akan adanya serangan balas AURI terhadap Belanda.  Bapak Sudjono menjelaskan tentang tugas yang akan dilakukan para teknisi setelah pesawat kembali dari melakukan penyerangan.   Briefing berikutnya adalah dari Meteo yang dilakukan oleh Bapak Patah dengan menggunakan peta yang dipakai di sekolah dasar yang memberikan gambaran mengenai kabut rendah, angin tenang dan lainya.  Sedangkan mengenai kesiapan pemadam kebakaran diberikan oleh Bapak Djunaedi.
Pada pukul 05.00, ketiga pesawat mulai taxi-out ke posisi take-off, yang sebelumnya dilepas oleh KSAU Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma.  Ketiga pesawat take off secara bergantian, Pesawat Guntei yang diterbangkan oleh Mulyono dan Dulrachman sebagai "air-gunner" terbang terlebih dahulu. Kemudian disusul pesawat Chureng yang dikemudikan oleh Sutardjo Sigit yang dibantu Sutardjo sebagai "air-gunner". Selanjutnya Suharnoko Harbani dengan Kaput juga menggunakan pesawat Chureng merupakan pesawat yang terakhir mengangkasa.
Untuk membantu tinggal landas, dipasang sebuah lampu sorot pada ujung landasan di belakang pesawat, maksudnya agar mendapat cukup penerangan.   Dengan demikian landasan bisa nampak terang oleh sorot lampu tersebut dan memberi sedikit keuntungan bagi pilot untuk menentukan batas pesawat baru mulai mengudara. Mereka tidak diperkenankan menggunakan lampu dan peralatan lain dalam pesawat untuk menjaga kerahasiaan operasi yang sedang dilaksanakan.  Ketiga pesawat tidak dibekali peralatan navigasi dan komunikasi, masing-masing kru pesawat hanya dibekali senter yang berfungsi sebagai alat komunikasi apa bila diperlukan. Walaupun para penerbang ini belum berpenglaman terbang malam, dengan penuh ketekunan dan kewaspadaan mereka bergiliran meninggalkan landasan terbang Maguwo secara lancar.

Pemboman Kota Semarang

Dengan menggunakan pesawat terbang pembom jenis Guntai, Kadet Penerbang Mulyono memulai pelaksanaan operasi udara atas kota Semarang sebagai sasaran urutan pertama.   Rute penerbangan yang dipakai dalam operasi udara ini memakai cara yang paling mendasar dan sederhana dalam ilmu navigasi yaitu dengan cara dead reckonning yang memperhitungkan arah dan kecepatan angin, keadaan cuaca dan lain sebagainya, karena penerbangan tersebut dilakukan pada malam hari yang tidak memungkinkan para penerbang mengamati tanda-tanda di daratan (land-marks) untuk dipakai sebagai pedoman.    Para awak pesawat hanya dibekali lampu senter (battery) sebagai pertolongan dan bantuan sekedar apabila diperlukan penggunaannya. Komunikasi antar awak ataupun antara pesawat satu dan lainnya hanya dilakukan dengan isyarat sandi yang dilakukan lewat sinar lampu senter tersebut, itupun kalau terpaksa saja.
Untuk menuju kesasaran para penerbang diinstruksikan tidak langsung menuju sasaran, tetapi menempuh suatu rute dogleg, yang telah diplot oleh komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma. Untuk pesawat Guntai ke Semarang dan pesawat Cureng ke Salatiga. Dogleg tersebut berupa terbang kejurusan timur selama sekian puluh menit, kemudian belok sekian derajat untuk langsung menuju sasaran.
Setelah take off, Kadet Penerbang MuIyono menunggu sejenak, setelah terlihat pesawat Cureng dari kejauhan, maka Ia segera melesat langsung menuju sasaran di Semarang. Secara fisik serangan dalam rangka operasi udara terhadap kota Semarang dilakukan pada hari Selasa, 29 Juli 1947 pukul 06.10 pagi dan pesawat Guntai ini menyerang dari arah utara.  Menghadapi arah posisi yang demikian, maka Kadet Penerbang Mulyono, menggunakan taktik pendadakan (surprise) dengan mengambil titik awal arah serangan yang dianggap paling aman.  Setelah pesawat Guntai ini mendekati daerah sasaran, tidak langsung melakukan serangan udara dengan segera, tetapi terlebih dahulu membelok untuk mengitarinya. Kesempatan tersebut dipakai untuk memahami medan dan menjajaki kemungkinan sasaran pemboman dan tembakan yang akan dituju. Setelah memasuki kawasan di atas laut Jawa, berulah pesawat mi membelok kembali kearah selatan dan menyerang Semarang dari arah utara.
Siasat ini tidak diketahui sama sekali oleh Belanda. Selain itu Belanda memang tidak memperkirakan, bahwa pesawat RI akan mampu hadir di atas wilayah kekuasaannya, apalagi mewujudkan suatu bentuk serangan. Di luar dugaan dan perkiraan kemampuan tersebut, ternyata pagi itu salah satu pusat kekuatan Belanda di Jawa harus menghadapi serangan udara Republik Indonesia. Selain itu perkiraan tepat telah diambil oleh Kadet Penerbang Mulyono bahwa pertahanan udara musuh akan kebobolan dengan serangan yang datang dari arah laut.
Setelah selesai melakukan operasi pendadakan ini, pesawat segera diarahkan langsung kembali ke pangkalan semula. Kadet Penerbang Mulyono baru mendaratkan pesawat Guntai-nya pada urutan terakhir, setelah kedua pesawat Cureng Kadet Penerbang Suharnoko Harbani dan Kadet Penerbang Soetardjo Sigit memasuki landasan Pangkalan Udara Maguwo, karena misi Kadet Penerbang Mulyono mengambil jarak yang terjauh dibandingkan dua misi operasi udara yang lain.

Pemboman Kota Salatiga

Setelah pesawat pembom Guntai yang diterbangkan oleh Kadet Penerbang Mulyono berhasil tinggal landas dan mengudara, maka segera Kadet Penerbang Soetardjo Sigit mengambil posisi untuk bersiap-siap berangkat. Sinar Lampu sorot yang sangat terang dan menyinari landasan dari ujung ke ujung, menjadi pedoman dan arah dalam melaksanakan tinggal landas di pagi hari yang gelap dan dingin itu.  Pesawat terasa lebih berat, karena adanya muatan tambahan dua bom masing-masing seberat 50 kg yang digantungkan pada kedua sisi sayap dan beberapa buah bom bakar. Untuk itu diperlukan kecepatan lepas landas yang lebih tinggi supaya lebih aman, sehingga suatu sudut tanjakan tertentu dapat dipenuhi. 
Disisi lain tanjakan pesawat harus diusahakan jangan sampai terlampau terjal agar kecepatan tidak berkurang dan mencapai stalling speed yang dapat mengakibatkan pesawat jatuh.  Pesawat berhasil naik dengan sempurna dan dapat mengatur keseimbangan setelah pada ketinggian yang cukup. Kadet Penerbang Soetardjo Sigit selaku flight leader membuat satu lingkaran untuk memberi kesempatan waktu kepada wing man Kadet Penerbang Suharnoko Harbani agar bergabung dalam formasi menuju ke sasaran.
Selain itu, untuk menerbangkan pesawat jenis ini diperlukan suatu keuletan dan keterampilan para penerbangnya, karena pesawat ini tidak  dibekali lampu penerangan dan radio sebagai sarana perhubungan. Mereka hanya dibekali lampu senter saja dengan isyarat-isyarat tertentu yang diperlukan untuk berhubungan.  Sehingga usaha Kadet Penerbang Soetardjo Sigit untuk memberikan kesempatan kepada wing man Kadet Penerbang Suharnoko Harbani supaya mengikutinya tidak berhasil. Dalam kegelapan di pagi buta tersebut dengan menyalakan lampu senter yang dipegangnya, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit mencoba mengarahkan sinarnya ke segala penjuru sekelilingnya dengan harapan dapat dilihat oleh rekannya.  Ternyata Kadet Penerbang Suharnoko Harbani tidak mengikutinya. Setelah jelas tidak ada pesawat yang mengikutinya, maka Kadet Penerbang Soetardjo Sigit mengambil keputusan untuk melaksanakan misi operasi ini secara sendirian, meskipun hal tersebut berarti bertambahnya resiko, karena tidak adanya wing man menyebabkan pula tidak adanya senjata penangkis bila diserang pesawat musuh, sebab pesawat Kadet Penerbang Soetardjo Sigit tidak dilengkapi dengan senapan mesin penangkis serangan musuh.
Sama halnya dengan pesawat Guntei, setelah take off, pesawat Cureng juga membuat gerakan dogleging, yaitu mula-mula terbang lurus ke arah timur untuk beberapa menit, baru kemudian membelok ke kiri dalam jumlah derajat tertentu kemudian menuju ke arah sasaran, setelah dijalani beberapa menit akan sampai pada sasaran kota Salatiga, gerakan ini di maksudkan untuk menghindari kota Boyolali.
Siasat pendadakan di Salatiga cukup berhasil, karena setelah sampai diatas kota Salatiga, lampu-lampu listrik masih menyala, tetapi kelihatan sepi.  Seperti juga operasi udara di kota Semarang, Belanda sama sekali tidak menyangka dan memperkirakan kemampuan RI untuk mengadakan serangan balas ke Salatiga.  Sesuai petunjuk sebelumnya, sasaran yang dituju ialah daerah di sebelah utara kota Salatiga, yang diperkirakan sebagai pusat kekuatan militer Belanda.  Untuk mengorientasi sasaran,  Kadet Penerbang Soetardjo Sigit membuat satu kali putaran, setelah sasaran yang diinginkan sudah ampak, yang disebut dalam pengarahan dan dikatakan sebagai Markas Militer Belanda, ia segera membuat bombing run yang pertama.   
Di dalam pesawat ada tiga tangkai pegangan (handle) kayu yang berturut-turut dari kiri ke kanan yaitu berwarna merah, kuning dan hijau. Ia menukikkan pesawatnya menuju sasaran kemudian menarik handle yang merah untuk melepaskan bom di bawah sayap sebelah kiri, pesawat oleng ke kanan, karena terganggu keseimbangannya. Sekejap api menyembur jauh di belakang bawah yang disusul dengan suara ledakan bom yang dijatuhkan.
Dengan menjaga keseimbangan pesawatnya, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit bermaksud membuat bombing run yang kedua. Ia menarik handle yag berwarna Hijau untuk melepaskan bom sebelah kanan, namun gagal karena tangkai pegangan patah.  Serangan berikutnya ditempuh dengan cara menukikkan kembali pesawatnya, akan tetapi gagal juga, karena handle yang di tengah berwarna kuning ketika ditarik juga patah. Handle yang berwarna kuning tersebut berfungsi untuk melepaskan kedua buah bom sebelah kiri dan kanan sekaligus. Usaha ketiga kalinya ini ternyata gagal lagi, sedangkan bom masih tetap tergantung dan tidak terlepas.
Kadet Penerbang Soetardjo Sigit tetap berusaha untuk melepaskan bom yang tersisa dan masih tergantung di bawah sayap sebelah kanan dengan cara menarik kabel yang terkait dengan bom agar dapat terlepas. Tetapi untuk ini diperlukan usaha khusus tanpa mengurangi kemampuan mengendalikan pesawat, apalagi saat itu berada di atas wilayah musuh, yang sewaktu-waktu dapat menembaknya.   Untuk menarik kabel, Kadet Penerbang Soetardjo Sigit harus menundukkan kepala serendah-rendahnya, sehingga tidak dapat memandang ke luar cockpit. Ketiga kabel tersebut akhirnya berhasil diraih dengan tangan kirinya sambil tangan kanannya mengendalikan kemudi pesawat.    Dengan menahan napas ditariknya kuat-kuat ketiga kabel tersebut dan akhimya berhasil juga.
Hari mulai terang matahari sudah mulai memancarkan cahayanya di cakrawala timur, tiba-tiba ia teringat bahwa juru tembaknya masih membawa bom bakar satu peti penuh. Dibuatnya satu puteran terbang lagi sambil memberi isyarat kepada juru tembak yang kini menjadi juru bom untuk siap-siap melemparkan bomnya. Ia memberi isyarat agar bomnya dilemparkan, supaya pasti dapat meledak kunci pengamannya harus dibuka satu persatu.

 

Pemboman Kota Ambarawa

Pada rencana operasi yang telah digariskan sebelumnya, bahwa untuk menyerang Salatiga disiapkan dua buah pesawat Cureng.  Sebagai pimpinan misi ditunjuk Kadet Penerbang Soetardjo Sigit, sedangkan Kadet Penerbang Suharnoko Harbani bertindak sebagai wing man. Tetapi rencana ini harus juga mengalami perubahan karena beberapa faktor dan situasi yang terjadi di medan operasi.
Setelah Kadet Penerbang Suharnoko Harbani tinggal landas dengan mengikuti prosedur keberangkatan pesawat-pesawat sebelumnya, mulailah timbul masalah, Kadet Penerbang Suharnoko Harbani telah keliru membututi sinar api yang keluar dari mesin pesawat Guntai yang diterbangkan oleh Kadet Mulyono, karena mengira pesawat tersebut adalah Cureng yang diterbangkan oleh Kadet Penerbang Soetardjo Sigit.  Tanpa ragu-ragu Kadet Penerbang Suharnoko Harbani mengejar tanda tersebut, tetapi ternyata makin lama makin jauh ketinggalan dan akhirnya tidak keihatan lagi. Hal ini memang sudah sewajarnya, karena kecepatan pesawat Guntai lebih tinggi dari pesawat Cureng, maka pesawat Guntai diberi tugas beroperasi di daerah sasaran yang lebih jauh, yaitu kota Semarang.
Setelah kehilangan sinar api pesawat Guntai, dan tidak berhasil menemukan pesawat Cureng Kadet Penerbang Soetardjo Sigit.  Kadet Penerbang Suharnoko Harbani segera berusaha menentukan posisi pesawatnya, mengingat keterbatasan kemampuan dan waktu operasi yang akan dilaksanakan.   Saat-saat kritis yang perlu segera diatasi tiba-tiba dia melihat sebuah danau dari kota di dekatnya. Dia segera menganalisanya dan menarik suatu kesimpulan bahwa kota tersebut adalah Ambarawa, yang berdekatan dengan Rawapening.  Dengan cepat Ia memutuskan untuk memilih kota Ambarawa sebagai sasarannya, karena kota tersebut juga telah diduduki Belanda.
Kota Ambarawa tidak termasuk dalam rencana operasi, memang bukan sasaran yang direncanakan semula. Setelah yakin bahwa daerah yang dilaluinya merupakan daerah kekuasaan lawan, dia kemudian tidak ragu-ragu lagi memulai serangan udara. Ketinggian pesawat mencapai kurang lebih 3.000 kaki ke atas untuk sekedar mengadakan terbang keliling sambil mengamati sasaran yang akan dituju. Setelah mendekati sasara, pesawat kemudian menukik ke bawah kemudian melepaskan bom secepatnya. Setelah itu harus terbang serendah-rendahnya untuk mengelakkan kemungkinan serangan lawan, yang bisa saja saat itu telah mengetahui keberadaanya.
Setelah selesai melaksanakan serangan udara di atas kota Ambarawa, segera diputuskan untuk kembali ke pangkalan semula. Sementara itu timbul keraguan sejenak, rute mana yang akan dipakai/diambil untuk perjalanan kembali tersebut.  Meskipun dari Ambarawa dapat ditempuh langsung ke arah selatan sehingga dapat memperpendek jarak untuk tujuan Maguwo, Yogyakarta. Namun pertimbangan lain lebih memastikan, ialah bahwa Pimpinan Operasi telah menekankan agar rute penerbangan kembali sama dengan ketika pemberangkatannya. Tampak faktor keamanan menjadi bahan pertimbangan penting sehingga hal ini perlu ditegaskan lagi sebelum operasi dilaksanakan.
Dengan demikian maka pesawat kembali melalui rute semula, yaitu menuju arah antara Boyolali dengan danau di Panasan, baru kemudian menuju ke Maguwo. Walaupun mempunyai rute alternatif melalui Magelang tetapi tidak dipilihnya karena daerah tersebut lebih sulit kondisi geografi dan cuacanya.
Tindakan berani dari penerbang-penerbang RI dalam memberi serangan balas sungguh mengagumkan.  Lebih-lebih jika diingat bahwa tugas penerbangan semacam itu baru pertama kali mereka lakukan.   Apalagi kalau mengingat keadaan pesawat yang serba terbatas kondisinya.  Meskipun Taktis dan strategi serangan itu tidak menimbulkan kerugian besar bagi Belanda, namun serangan itu memberi pengaruh besar terhadap situasi dan kondisi saat itu, karena sejak itu Belanda melakukan penggelapan penerangan pada malam hari di seluruh Jawa Tengah.
Bahkan kejadian yang ditimbulkan atas keberhasilan operasi udara ini,  telah menarik perhatian opini dunia luar.   Radio Singapura telah menyiarkan kejadian tersebut sebagai berita penting (Head Line) dalam acara siarannya dan disebutkan mungkin sebagai kegiatan yang pertama dilakukan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia.   Pokok acara yang disiarkan oleh radio Singapura tersebut adalah, bahwa AURI telah menyerang pertahanan Belanda di Semarang dan Salatiga. 

Gugurnya Tiga Perintis TNI Angkatan Udara
Keberhasilan bangsa Indonesia/AURI dalam melaksanakan operasi udara mendadak di kubu-kubu Belanda di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa dengan menggunakan tiga buah pesawat, dapat menunjukan ke dunia internasional bahwa Republik Indonesia melalui Angkatan Udaranya masih ada.   Meskipun hasilnya tidak seberapa namun hal ini sudah cukup menggembirakan bangsa Indonesia, khususnya anggota AURI.   Dengan keberhasilan ini memacu anggota lainnya untuk bisa berbuat lebih banyak lagi meskipun dalam keadaan yang serba terbatas.
Dilain pihak serangan udara ini membuat pihak Belanda merasa kecolongan dan kalang kabut.   Bahkan dapat dikatakan membuat malu Bangsa Belanda.   Mereka merasa bahwa agresi militer yang dilancarkannya pada tanggal 21 Juli 1947, telah menghabiskan seluruh kekuatan RI, terutama kekuatan udaranya.   Tetapi kenyataannya AURI masih mampu mengadakan serangan balas ke kubu mereka.    Akibatnya, Belanda membalas tindakan AURI ini dengan menyerang  sejumlah wilayah RI lagi seperti sebelumnya.   Bahkan pesawat Dakota VT-CLA yang dalam misi kemanusiaan menjadi korban balas dendam Belanda, sehingga tiga orang tokoh dan perintis AURI yang datang bersama pesawat itu gugur.
Peristiwa ini terjadi tidak jauh dari pangkalan udara Maguwo pada hari itu juga dan berselang hanya beberapa jam dari keberhasilan operasi udara yang telah dijalankan.   Hal yang menyedihkan dan membuat duka yang mendalam ialah tiga tokoh dan perintis AURI yang berada didalam pesawat tersebut yakni Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjpto, Komodor Muda Udara Abulrachman Saleh dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo gugur bersama  crew dan beberapa penumpang pesawat.
Kebahagian dan kegembiraan yang tercermin di wajah anggota AURI dengan serta merta berubah menjadi duka yang mendalam, apalagi bagi pimpinan AURI.    Pesawat yang telah ditunggu oleh Kasau Komodor Udara Suryadi Suryadarma ini, ternyata berakhir dengan tragis, ditembak oleh pesawat Belanda.   Hal yang sangat menyedihkan adalah bersama pesawat itu terdapat beberapa tokoh pendiri angkatan udara yang selama ini sebagai tangan kanannya.  
Kejadian itu merupakan suatu pukulan berat bagi Angkatan Udara RI pada saat membutuhkan tokoh-tokoh yang penuh dedikasi itu.    Musibah itu benar-benar diluar dugaan Angkatan Udara.   Kalau saja crew pesawat  VT-CLA Dakota mengikuti instruksi Kasau pada saat itu, maka cerita sejarah akan lain.  Kebahagian dan kebanggaan mungkin tidak berobah menjadi petaka dan duka.   Memang KSAU Komodor Udara S. Suryadarma telah menginstruksikan melalui Perwakilan AURI di Singapura supaya :
a.         Penerbangan dilakukan pagi-pagi sekali atau sore hari menjelang matahari terbenam.
b.         Setibanya di atas Maguwo, tidak perlu mengadakan putaran terlebih dahulu tetapi langsung mendarat.
c.         Penerbangan dilaksanakan secara sendiri.
Peringatan Kasau tersebut karena diperkirakan akan ada serangan balasan Belanda atas pemboman yang dilakukan AURI di pagi hari, namun ia tidak mengetahui kapan.  Oleh karena itu ia menginstruksikan agar pesawat datang di waktu-waktu itu yang  diperkirakan  militer Belanda longgar dalam pengawasannya.
Namun kenyataannya, Pesawat meninggalkan Singapura pada pukul 13.00 tanggal 29 Juli 1947 menuju Pangkalan Udara Maguwo.   Entah instruksi KSAU tidak sampai atau ada hal-hal lain yang dipertimbangkannya sehingga pesawat Dakota VT-CLA berangkat tidak sesuai instruksi. Tidak ada pernyataan yang mendukungnya.
Dalam perjalanan pulang ke tanah air, penerbangan pesawat Dakota VT-CLA yang mula-mula aman itu, ternyata ketika memasuki perairan Indonesia diatas Bangka-Bliton, pesawat pemburu Belanda secara tiba-tiba muncul dan kemudian membuntutinya beberapa saat sebelum menghilang.  Selanjutnya dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Belanda yang berpangkalan di Semarang, muncul namun segera menghilang.   Tidak lama kemudian kedua pesawat tersebut muncul lagi, bahkan terus membuntuti.
Setelah menjalani lebih kurang tiga jam penerbangan, sekitar  pukul 16.00 sore, pesawat mendekati pangkalan udara Maguwo. Para penjaga dan petugas lapangan terbang bersiap siaga, melihat kedatangan pesawat yang belum jelas identitasnya, termasuk pula personel penangkis serangan udara.   Mereka belum mendapat informasi mengenai rencana kedatangan Dakota itu.   Namun tidak lama kemudian,  Kasau Komodor Udara Suryadarma memberi tahu tentang  kedatangan pesawat pengangkut tersebut,   keteganganpun mereda.   Bahkan berubah menjadi harap-harap gembira atas hendak turunnya pesawat tersebut.
Pesawat Dakota VT-CLA tampak terbang semakin rendah, dan melakukan putaran terakhir untuk mendarat.    Sesaat setelah roda-roda pendarat keluar dari tempatnya, secara tiba-tiba dengan kecepatan tinggi dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda yang dipiloti oleh Letnan Satu B.J. Reusink dan Sersan Mayor W.E. Erkelens, mengejar dan tanpa peringatan terlebih dahulu langsung memberondong dengan senapan mesin.  Tembakan-tembakan lawan ini tepat mengenai sebuah mesin sebelah kiri, sehingga pesawat terbakar dan mengurangi daya terbangnya.  Akibatnya usaha untuk mencapai lapangan udara gagal.  Beberapa saat kemudian pesawat Dakota VT-CLA oleng.
Sebelum jatuh ke tanah, sayap pesawat sempat menghantam pohon dan akhirnya jatuh di tanggul pematang sawah di Desa Ngoto, Bantul sebelah selatan Yogyakarta, sekitar 2,5 km dari pangkalan udara Maguwo.  Badan pesawat patah menjadi dua, bagian ekor masih utuh namun bagian lain hancur berkeping-keping.     Dengan keadaan yang demikian maka berserakan bantuan obat-obatan hasil sumbangan berupa ½ ton verband dan sejumlah obat-obat sulpha dan penisilin di sawah.  Dari puing-puing pesawat itu tidak ditemukan sepucuk senjatapun seperti yang dicurigai oleh Belanda.
Awak pesawat dan beberapa penumpang gugur dalam peristiwa yang menyedihkan itu, termasuk tiga orang perintis AURI.  Hanya satu penumpang yang selamat ialah Abdulgani Handonotjokro.   Mereka yang gugur adalah Alexander Noel Constantine (Pilot) dan istri Ny. A.N. Constantine berkebangsaan Australia, Roy Hazellhurst (Co-pilot) berkebangsaan Inggris, Bhida Ram (Juru Teknik) berkebangsaan India dan Zainul Arifin (Konsul Dagang Republik Indonesia di Malaya). Tiga orang tokoh dan perintis AURI yang gugur adalah Komodor Udara Adisutjipto, Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Opsir Muda Udara I Adi Sumarmo Wirjokusuma.
Sebenarnya keberangkatan pesawat Dakota VT-CLA, yang membawa obat-obatan ini ke Indonesia telah disiarkan secara khusus oleh mass media Malaya “The Malayan Times” sehari sebelumnya.    Pada siaran tersebut dinyatakan bahwa penerbangan pesawat Dakota VT-CLA hanya bersifat pengiriman obat-obatan dan telah ada persetujuan antara Pemerintah Inggris dan Pemerintah Belanda.     Disamping itu keberangkatan pesawat dari Singapura, biasanya telah dikirim flight plan ke pemerintah Belanda di Indonesia melalui telegram seiring dengan keberangkatan pesawat.   Semestinya pengiriman ini telah diterima oleh mereka pada hari itu juga.  Dengan dasar ketentuan-ketentuan hukum internasional yang telah dipenuhi itu, maka pesawat Dakota VT-CLA pun seharusnya berlaku secara legal menuju Maguwo Yogyakarta.   Namun kenyataannya Belanda tetap menembak pesawat ini.
Hal ini merupakan fakta awal dari pengkhianatan Belanda yang terencana untuk menghancurkan Dakota VT-CLA yang tidak bersenjata itu.    Sehingga sangat sukar untuk diterima oleh pikiran yang sehat apabila pihak Belanda mengatakan, bahwa penembakan pesawat Dakota VT-CLA itu “sangat terpaksa”  karena tidak memakai tanda palang merah dan tidak jelas tanda kebangsaannya.  Bagaimanapun juga pihak Belanda telah mengetahui, bahwa pesawat tersebut adalah Dakota VT-CLA  yang telah dibuntuti lebih dahulu.    
Kabar tertembak jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA yang merenggut 3 orang tokoh AURI sungguh membuat duka segenap masyarakat dan anggota AURI khususnya.    Kedukaan yang tiada taranya ini mendorong pemerintah untuk memberi kesempatan kepada masyarakat guna memberikan salam terakhir dan hormat setinggi-tingginya atas ketabahan dan tanggung jawab mereka sebagai prajurit AURI.
Pemerintah mengambil kebijaksanaan untuk menyemayamkan pahlawan-pahlawan AURI tersebut dan korban yang gugur lainnya di bekas gedung Hotel Tugu Yogyakarta dengan upacara militer.   Keesokan harinya, atas permintaan keluarga jenazah Komodor Muda Udara Adisutjipto dan Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh  dimakamkan dipemakaman umum Kuncen Yogyakarta.  Pemakaman bapak Adisutjipto di pemakaman umum Kuncen I bagi yang beragama Katolik dan Bapak Abdulrachman Saleh di Pemakaman keluarga, bagi yang beragama Islam yang juga terletak di Kuncen.  Sementara itu, Opsir Muda Udara I Adisumarmo dan Zainul Arifin dimakamkan di pemakaman Semaki, yang kemudian berubah menjadi Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Semaki.    Sedangkan korban warga negara asing dimakamkan di pemakaman Belanda yang terletak disebelah selatan Yogyakarta.
Gugurnya ketiga tokoh perintis AURI ini, bukan berarti perjuangan terhenti, bahkan memompa semangat anggota AURI lainnya untuk berjuang melawan militer Belanda.    Mempertahankan kemerdekaan harus terus dilakukan agar benar-benar dicapai kemerdekaan yang sesungguhnya dengan segera, agar tidak lagi di injak-injak oleh kekuasaan asing yang berbuat semena-mena melalui kekuatan udaranya, yang mengakibatkan sejumlah putra-putra terbaik Indonesia gugur.   Oleh karena itu kemajuan harus segera diraih untuk menjadi sarana mencapai kemerdekaan yang diinginkan.    
Agresi Militer Belanda, yang menyerang seluruh wilayah RI  ini, menimbulkan reaksi bagi negara-negara lain di seluruh dunia, terutama negara-negara yang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia.   Apalagi diketahui bahwa pesawat Dakota VT-CLA yang sedang menjalankan misi kemanusiaan ditembak jatuh oleh pesawat pemburu  Belanda, menyebabkan korban yang tidak sedikit dari beberapa warga negara asing.   Hal ini semakin menarik simpati dunia.   Sejumlah negara mengajukan protes dan menginginkan agar masalah Indonesia dibicarakan di  Dewan Keamanan PBB.     Protes ini didengar dan disambut baik oleh PBB untuk dicarikan jalan damai.