Jam Digital

Kamis, 13 Maret 2014

Ada Kemungkinan Boeing-777 Malaysia Airlines Korban Terorisme

MAS-missing_route-map (1) 
Masih belum diketahuinya kepastian  hilangnya  pesawat Boeing-777 pesawat milik maskapai Malaysia Airlines flight number MH-370 yang raib pada hari Sabtu  (8/3/2014) di sekitar wilayah Vietnam Selatan  menambah besar spekulasi dan perkiraan beberapa badan keamanan di beberapa negara, bahwa ada penyebab ekstrim dibelakangnya.  Berita mengejutkan muncul setelah adanya informasi bahwa dua diantara  227 penumpang telah menggunakan paspor palsu (milik orang lain) yang telah hilang dicuri.
Menurut keterangan CEO Malaysia Airlines, Ahmad Jauhari Yahya, dalam akun facebook resmi Malaysia Airlines, MH370 take off dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju Beijing Sabtu (8/3/2014), Actual Time Departure (ATD) 00.41 local time,  membawa total 239 penumpang termasuk dua balita dan 12 crew. Dinyatakan, "Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 dari Kuala Lumpur menuju Beijing telah hilang kontak dengan menara pengawas penerbangan Subang pada Sabtu pukul 02.40 pagi," kata Yahya. Estimate time of arrival (ETA) Beijing  06.30 pagi (LT).
Para penumpang MH370  terdiri dari  152 warga China, 38 warga Malaysia, tujuh Indonesia, lima India, tujuh Australia, tiga Prancis, empat Amerika Serikat, dua New Zealand, dua Ukraina, dua Kanada, satu Rusia, satu Italia, satu Taiwan satu Belanda dan satu Austria.
Setelah pejabat di Roma dan Wina menegaskan bahwa nama-nama warga negara Italia dan Austria yang tercatat di manifest dalam  penerbangan tersebut  cocok dengan nama pada dua paspor yang dilaporkan dicuri di Thailand, para pejabat menekankan bahwa penyelidikan itu dalam tahap awal dan bahwa mereka sedang mempertimbangkan segala kemungkinan.
Seiring dengan upaya pencarian yang melibatkan enam negara dengan teknologi canggih, keterlibatan aksi teror kini nampaknya tidak dikesampingkan. FBI secara khusus telah datang ke Kuala Lumpur untuk mempelajari kemungkinan keterlibatan aksi terorisme. Pada hari Minggu (9/3/2014),  Menteri transportasi Malaysia, Hishammuddin Hussein, menyatakan bahwa  pejabat intelijen Malaysia juga memeriksa identitas dua penumpang lainnya, selain dua nama pengguna paspor palsu, demikian menurut The Associated Press. "Semua empat nama dan telah diberikan kepada badan-badan intelijen kita," kata Hishammuddin. "Kami tidak ingin hanya menargetkan empat, kami sedang menyelidiki manifest penumpang keseluruhan. Kami melihat semua kemungkinan."
Ditinjau dari sisi keselamatan penerbangan, Malaysia Airlines yang mengoperasikan 15 Boeing-777ER tidak pernah mengalami masalah serius.  Bahkan Malaysia Airlines pada 2 April 1997 memecahkan rekor Perjalanan terjauh Dunia dari Seattle-Kuala Lumpur dengan pesawat Boeing 777-200 ER dengan jarak 20.044 km dalam waktu 21 Jam 23 Menit. Boeing 777ER diakui sebagai pesawat penumpang paling terjauh, teraman, dan berbadan lebar dunia. MAS MH-370 ini diterbangkan oleh Captain Pilot Zahari Ahmad Shah WN Malaysia dengan total jam terbang 18.365 jam yang bergabung di MAS sejak tahun 1981. Untuk Co Pilot adalah Fariq Ab.Hamid, WN Malaysia dengan 2.763 jam terbang.
Berdasarkan data perekam penerbangan flightaware.com, pesawat MAS itu terbang ke arah tenggara Malaysia dan naik hingga ketinggian 35 ribu kaki. Jejak pesawat itu menghilang dari radar situs tersebut sekitar satu menit setelah selesai terbang naik. Selain itu, tidak ada laporan mengenai cuaca buruk di sekitar lokasi pesawat terakhir kali terdeteksi.

Kecurigaan Keterlibatan Aksi Terorisme
Kecurigaan pertama muncul setelah adanya klaim dari dua orang yang diberitakan terbang dengan MH-370, tetapi ternyata keduanya tidak ikut terbang. Orang pertama adalah Luigi Maraldi, 27 warga Italia Yang paspornya hilang dicuri tahun 2013. Rute orang yang menggunakan nama Miraldi setelah dari Beijing akan melanjutkan perjalanan ke Copenhagen, Denmark. Sedangkan penumpang yang memakai paspor Christian Kozel, 30 warga Austria, menggunakan paspor yang dicuri dua tahun lalu (2012), dan dia  akan mengakhiri perjalanannya di Frankrut, Jerman.
Dari penjelasan Menteri Transportasi Malaysia Hishamudin, kini kemungkinan ada empat orang yang on board pada MH-370 dengan dokumen ilegal. Dikatakannya,  "Empat nama (penumpang 'ilegal') sudah kami serahkan ke pihak intelijen," kata Hishammuddin Hussein saat konferensi pers Minggu (9/3). Kini, Pihak otoritas China menyebutkan ada lagi satu penumpang bernama Zhao Qiwei yang menggunakan paspor dan dokumen seorang pria bernama Yu. Padahal kini Yu masih hidup dan tinggal di Provinsi Fujian Tiongkok dan mengaku tak pernah kehilangan paspor. Sementaranama penumpang keempat masih di dalami intelijen Malaysia.
Dari informasi  CNN, dua tiket penumpang yang menggunakan paspor warga Italia dan Austria itu dibeli secara bersama-sama. Dua tiket penumpang gelap  itu dibeli dari China Southern Airlines di Thailand. Data tersebut terlacak dari sistem verifikasi Travelsky. Ternyata, nomor dari dua tiket yang menggunakan nama warga Italia Luigi Maraldi, 27 dan  warga Austria Christian Kozel, 30 itu memiliki nomor seri yang berurutan. "Ini mengindikasikan mereka memesan tiket besama-sama," kata sumber yang dikutip CNN.
 Angkatan Udara Malaysia (RMAF) menyatakan bahwa besar kemungkinan MH-370 berbalik arah kembali ke Malaysia. “Yang kami lakukan adalah melihat rekaman pada radar dan kami sadari bahwa ada kemungkinan pesawat putar balik. Kami masih bekerjasama dengan radar penerbangan sipil dan lembaga internasional lainnya, dan dengan kerjasama ini kami berharap bisa mendapat gambaran lebih baik,” kata Tan Sri dalam jumpa pers di Sepang, Mingu (9/3).
Tan Sri juga mengaku heran dengan tidak terpantaunya lokasi terakhir pesawat  yang mengangkut 227 penumpang plus 12 crew itu.”Kami dibingungkan oleh tidak adanya sinyal ELT (emergency locator transmitter)” katanya. Sementara pimpinan MAS Group, Ahmad Jauhari Yahya mengatakan, “Normalnya, ketika dia  membuat keputusan putar balik, dia akan melapor ke base dan ATC (Air Traffic Control),” katanya.

Analisis
Arnold Barnett, spesialis statistik keselamatan penerbangan dari Massachusetts Institute of Technology mengatakan bahwa sebelum hilangnya pesawat, Malaysia Airlines hanya mengalami dua kecelakaan fatal, pada tahun 1977 dan 1995. Berdasarkan perkiraan bahwa Malaysia Airlines mengoperasikan sekitar 120.000 buah penerbangan/tahun, ia menghitung bahwa catatan keselamatan maskapai itu konsisten dengan keamanan penerbangan di negara-negara berpendapatan menengah yang cukup makmur lainnya,  tetapi belum mencapai catatan keamanan yang lebih baik dari penerbangan yang berbasis di negara kaya dunia lainnya.
Dalam kaitan keselamatan penerbangan, Malaysia belum ditargetkan dalam serangan teroris dalam beberapa dekade terakhir.  Malaysia Airlines pernah mengalami pembajakan udara pada tahun 1977, oleh kelompok komunis dan teroris dari Jerman. Menurut spesialis kontra teror dan pengamat,  beberapa dari perencanaan serangan 11 September di Amerika Serikat dilakukan di Malaysia, yang memiliki kebijakan visa yang relatif longgar. Negara ini adalah negara perdagangan utama dan tempat pertemuan alami untuk berbagai kelompok yang terlibat dalam kegiatan ilegal. Selain itu, perencana utama pemboman di Bali, Indonesia pada tahun 2002, Riduan Isamuddin, adalah Malaysia dan saat ini ditahan di Guantanamo penjara.
Melihat dua penumpang gelap dengan paspor ilegal,  pelaku adalah orang berkulit, mengingat kewarga negaraannya. Sementara apabila ditemukan dua penumpang ilegal lain dengan paspor palsu dan mengambil data dari China, maka kemungkinan besar yang bermain dan berkomplot di pesawat tersebut adalah jaringan internasional.
Mereka sudah mempersiapkan sejak dua tahun yang lalu saat paspor Kozel dicuri taun 2012 di Thailand. Dari dua kasus pencurian paspor di Thailand, pembelian tiket penumpang gelap juga dari Thailand, maka kemungkinan besar ada sebuah jaringan internasional dan lokal Thailand yang bersinergi.
Menurut teori terorisme sebagai cabang dari intelijen penggalangan, pelaku teror bisa mengancam perorangan, kelompok ataupun individu. Sasaran terbesar adalah teror terhadap negara. Teror dengan model pembajakan dan peledakan pesawat merupakan sebuah berita atau pesan yang gaungnya sangat kuat. Menimbulkan ketakutan yang sangat. Para pelakunya bisa Nonstate–suported group (kelompok kecil anti korupsi misalnya), State-sponsored groups (kelompok dengan dukungan negara asing, pelatihan di negara ketiga), dan State-directed groups (sebuah negara yang mengorganisir dukungan terhadap kelompok teroris secara langsung).
Lantas, pertanyaannya, siapa sebenarnya sasaran apabila MAS MH-370 benar dibajak? Sesuai dengan teori, teror bisa menyerang perorangan, yaitu orang yang ada di pesawat, atau kelompok, perwakilannya yang ada di pesawat, atau perusahaan penerbangan Malaysia Airlines, atau negara Malaysia. Akan tetapi kemungkinan lain pesawat Malaysia hanyalah sasaran antara, tetapi targetnya negara lain. Aksi teror bisa lebih merupakan sarana ‘meninggalkan pesan,’ menegaskan mereka masih ada. Karena di pesawat terdapat empat warga Amerika Serikat, maka tanpa diperingatkan pejabat AS dipastikan akan turun tangan. AS sudah cukup lama berseteru dengan kelompok teror, baik Al-Qaeda, Taliban dan Haqqani. Dan hingga kini pertemuran tetap masih berlangsung.
Dengan berasumsi memang pembajakan telah terjadi di MH-370, ada beberapa hal yang tidak wajar dalam kasus ini. Pertama bagaimana kedua orang (atau lebih) bisa lolos dari imigrasi Bandara Malaysia? Menurut teori hilangnya pesawat satu menit setelah mencapai ketinggian 35 ribu kaki (cruising). Dari catatan kecelakaan, kecelakaan terjadi saat take off (38 persen), landing (56 persen) dan cruising (6 persen). Saat Gunung Galunggung meletus tahun 1982, sebuah pesawat Boeing 747 British Airways pada ketinggian 36 ribu kaki, terkena dampak dan empat engine mati, tetapi dengan 200 penumpang berhasil gliding dan selamat landing di Pangkalan Halim Perdana Kusuma. Oleh karenanya walau kemungkina  tetap ada peluang celaka, dapat dikatakan kecil.
Hal lain yang menarik perhatian adalah laporan radar RMAF (Royal Malaysia Air Force), yang menyatakan pesawat berbalik arah. Dan dipertanyakan apabila pesawat jatuh mengapa tidak ditemukan sinyal dari ELT (Emergency Locater Beacon). Sinyal akan aktif memancar setelah terjadi crash atau saat tenggelam di perairan. Sinyal dipancarkan ke satelit, dikirim ke Local User Terminal yang memetakan lokasi, meneruskan ke MC ( Mission Control Center) yangsetelah menggabungkan alert message meneruskan ke otoritas SAR. Karena belum ditemukan sinyal ELT dari MH-370, kemungkinan ELT tidak bekerja.
Mengingat MH-370 tidak dapat berkomunikasi  dengan otoritas penerbangan di Vietnam, diperkirakan besar kemungkinan pesawat dengan komunikasi silent (radio dimatikan). Dari hasil diskusi dengan mantan Kabasarnas, Marsdya (Pur) Daryatmo, apabila pesawat ada masalah dengan sistem pesawat penerbang masih sempat call “mayday.” Kalau ada masalah dengan cuaca, pada era sekarang, cuaca bisa dihindari, dan seandainya kena turbulensi sekalipun, jam terbang pilot yang hampir 20 ribu apa tidak bisa mengatasi. Kini enam negara termasuk Indonesia terur bekerja sama mencari dimana keberadaan Boeing 777 itu, mengingat dengan peralatan canggih sudah dua hari belum juga ditemukan, kemungkinan serangan teror ganas bisa saja terjadi, walaupun kita mengharap dan berdoa para penumpang selamat.
Dengan demikian, maka memang kemungkinan terjadinya pembajakan serta kemungkinan penguasaan pesawat dan kemudian mengakibatkan belum ditemukannya MAS MH-370, arah penyelidikan kemungkinan terlibatnya aksi teror masih sangat dimungkinkan.
 Pada 19 September 2013, penulis membuat artikel dengan judul “Ayman al-Zawahiri Pengganti Osama Perintahkan Serang AS”, dengan link http://ramalanintelijen.net/?p=7431. Dimana pengganti pimpinan Al-Qaeda ini saat peringatan serangan 911, menyatakan agar umat Islam menyerang Amerika Serikat. Dalam sebuah serangan teror, bisa saja Malaysia Airlines dipakai sebagai sarana pesannya dengan pertimbangan otoritas Bandara Malaysia lemah dalam memonitor pelaku teror. Dan bukan tidak mungkin juga kelompok itu mampu menyelundupkan bahan peledak kedalam pesawat.
Kesimpulannya, besar kemungkinan penerbangan MAS MH-370 telah dibajak dan diledakkan di udara dalam sebuah aksi terorisme. Mengenai kepastiannya, kita tunggu hasil penyelidikan aparat intelijen beberapa negara yang kini sedang mempelajari keempat orang misterius itu. Artikel ini hanya sebuah ulasan pribadi.
Pelajaran bagi pelaku di dunia penerbangan serta otoritas bandara (PAP), agar mewaspadai dan kembali melakukan pemeriksaan sekuriti penerbangan. Pengecekan penumpang harus dilaksanakan sesuai prosedur. Apabila analisis penulis benar, maka pengamanan bandara harus dinaikkan dengan serius. Aksi terorisme terus mengancam dan bukan tidak mungkin akan dapat mengancam penerbangan kita juga. Mereka terus memonitor, dimana ada kelemahan dan kerawanan, disitu akan memanfaatkannya. Terbukti otoritas dan sekuriti Malaysia sudah kebobolan. Semoga bermanfaat.
Oleh : Marsda (Pur) Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net