Jumat, 01 November 2013

Kedubes AS Jakarta, Salah Satu Stasiun Penyadap NSA

Stasiun  NSA di Asia Tenggara (Grafik: themalaymailonline.com)

Para pejabat Indonesia mendadak terkejut dengan pemberitaan harian Australia, Sydney Morning Herald tanggal 29 Oktober 2013 yang menuliskan secara rinci penyadapan dari National Security Agency (NSA) di 90 posnya di dunia termasuk di Jakarta. NSA adalah produsen utama dan manajer sinyal intelijen Amerika Serikat. Diperkirakan menjadi salah satu badan intelijen AS terbesar dilihat dari jumlah personil dan anggaran. NSA beroperasi di bawah kewenangan Departemen Pertahanan dan melaporkan hasilnya kepada Direktur Intelijen Nasional AS. Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menlu Marty Natalegawa menyatakan akan meminta klarifikasi dari Dubes AS di Jakarta. Informasi tersebut awalnya berasal dari majalah Der Spiegel Jerman yang mendapat copy bocoran dari mantan kontraktor CIA/NSA, Edward Snowden yang kini bermukim di Rusia.
Dalam setiap pemberitaan dokumen dari Snowden, dunia menjadi tegang, banyak yang kemudian menjadi khawatir, menjadi resah negaranya telah menjadi target penyadapan. Beberapa waktu lalu diberitakan sebuah dokumen menyebutkan sebanyak 35 kepala negara sistem  komunikasinya juga disadap. Tidak bisa dibayangkan perasaan sebuah negara yang tanpa disadari/diketahuinya telah ditelanjangi oleh NSA, disitulah kekuatan dan kehebatan sebuah organisasi intelijen yang dibiayai dan dilengkapi dengan teknologi canggih.
Edward Snowden, whistleblower intelijen  menyampaikan bahwa Amerika Serikat melakukan  penyadapan telepon dan jaringan komunikasi pemantauan dari fasilitas pengawasan elektronik melalui Kedutaan dan Konsulat AS di Asia Timur dan Selatan–Timur.  Dislokasi pos penyadapan di ungkapkan oleh Der Spiegel berupa peta surveilans, dimana  terdaftar 90 fasilitas NSA di seluruh dunia . Termasuk juga fasilitas monitoring komunikasi  intelijen di kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta , Kuala Lumpur , Bangkok , Phnom Penh dan Yangon (Rangoon) .
Menurut peta yang diterbitkan oleh majalah Der Spiegel Jerman pada hari Sabtu, yang dimodifikasi oleh banyak media,  langkah CIA bersama NSA  itu dikenal sebagai "Special Collection Service" yang melakukan sweeping operasi pengawasan serta operasi rahasia terhadap target intelijen khusus (terpilih). Dari  90 lokasi inatalasi penyadapan di seluruh dunia , terdiri dari 74 fasilitas berawak, 14 fasilitas yang dioperasikan dari jarak jauh dan 2 stasiun  dukungan teknis.
Kedubes AS di Bangkok adalah stasiun dukungan teknis dan pelaksanaannya berada di konsulat AS di  provinsi Chiang Mai. Di Asia Timur , upaya pengumpulan intelijen AS difokuskan pada China , dengan fasilitas stasiun terletak di kedutaan besar AS di Beijing dan Konsulat AS di Shanghai serta di Chengdu  provinsi Sichuan di Barat Daya China. Fasilitas pemantauan lainnya terletak pada kantor diplomatik AS di Taipei .
Selain itu terdapat  delapan fasilitas di Asia Selatan termasuk di kedutaan AS di New Delhi dan Islamabad.  Untuk operasi di Timur Tengah dan Afrika Utara dikendalikan  oleh tidak kurang 24 fasilitas stasiun, sedangkan sub-Sahara Afrika dikendalikan oleh sembilan stasiun  lainnya .
Untuk pos monitoring di benua Amerika, dokumen menyebutkan, terdapat 16 fasilitas pengumpulan khusus yang terletak di ibukota Amerika Latin dan kota-kota termasuk Mexico City , Panama City , Caracas , Bogota , La Paz , Brazilia dan Havana. Karena AS tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Kuba, AS menggunakan  Kedutaan Besar Swiss di Havana seksi AS sebagai stasiun.
Salah satu pejabat Departemen Pertahanan Australia mengatakan kepada Fairfax, "Pengungkapan operasi pengumpulan dengan metodologinya yang sangat sensitif tersebut akan merusak kemampuan intelijen Australia, disamping adanya  resiko komplikasi serius dalam hubungan kita dengan tetangga kita," kata pejabat tersebut yang tidak mau disebut namanya.
Peta stasiun pemantau yang dibuat pada tanggal 13 Agustus 2010 tersebut  tidak menunjukkan adanya fasilitas  pos/stasiun  penyadap  di Australia , Selandia Baru , Inggris, Jepang dan Singapura, disebutkan negara-negara tersebut sebagai sekutu terdekat AS . Dalam komunitas intelijen dibawah kepemimpinan AS, sandi “5-Eyes” (lima mata) dari NSA adalah lima negara yang bekerja sama dalam pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) klandestin terdiri dari AS, Inggris, Kanada, Australia dan New Zealand.
Menurut dokumen yang dibocorkan oleh  Edward Snowden , NSA mulai mencari akses langsung ke server milik perusahaan internet Amerika dalam skala luas sejak tahun 2007.  James Clapper , State Director of National Intelligence telah mengonfirmasi tentang adanya program pengawasan skala besar tersebut.
Dalam dokumen rahasia , program pengawasan NSA disebut  dengan nama "Prism." Prism memonitor melalui kabel serat optik. Presentasi internal NSA menunjukkan data streams melakukan perjalanan dari Eropa ke Asia , wilayah Pasifik atau Amerika Selatan. "Sebuah panggilan telepon target, email atau chatting akan mengambil jalan termurah , bukan jalan fisik yang paling langsung , " tulis dokumen tersebut (AP).
Kemampuan penyadapan NSA jauh melebihi kemampuan internet di AS, dimana ulah Snowden telah membongkar beberapa kasus NSA juga memonitor negara sahabat, Jerman misalnya. Direktur NSA, Jenderal (bintang empat) Keith Alexander , secara teratur menerima delegasi dari Jerman di markasnya di Fort Meade. NSA merupakan pemimpin dan badan intelijen Jerman (BND) lebih sebagai asistennya. NSA banyak menerima informasi dari BND, tetapi banyak memberikan informasi intelijen, misalnya tentang ancaman serangan kelompok teroris (Sauerland) yang dapat digagalkan pada tahun 2007 di Jerman. Dilain sisi ternyata diketahui NSA juga menyadap sistem komunikasi Kanselir Jerman. Disini terlihat bahwa intelijen tetap mendudukan kepentingan nasional AS jauh diatas nilai kerjasama antar dua negara.
Menurut Washington Post, pada satu hari, kemampuan operasi khusus cabang NSA telah mengumpulkan sebanyak  444,743 buku alamat email dari Yahoo, 105,068 alamat email Hotmail dari , 82,857 acount dari Facebook , 33,697 dari Gmail dan 22,881 dari penyedia lain yang tidak ditentukan sebelumnya. Angka-angka tersebut adalah daftar internal  rahasia NSA yang dibocorkan oleh Edward Snowden.

Analisis

Dari fakta-fakta tersebut, maka semakin terkuak rahasia yang selama ini hanya dimiliki oleh badan intelijen AS serta kelompok 5-Eyes dalam langkahnya melakukan penyadapan. Sebenarnya sejak mainland-nya berhasil diserang dan menara kembar WTC diruntuhkan oleh teroris Al-Qaeda pada 11 September 2001, terjadi pergeseran kebijakan pemerintah Amerika. Disebutkan, “Kampanya melawan terorisme global merupakan tujuan utama kebijakan luar negeri dan pertahanan Amerika Serikat, dan tujuan-tujuan internasional lainnya akan berada di bawah tujuan besar ini” (Stephen M.Walt).
Maka sejak ini pemerintah AS menugasi badan intelijen untuk melakukan pengumpulan bahan keterangan dengan segala caranya agar dapat meniadakan ancaman teroris terhadap negaranya. AS sejak perang dunia pertama tidak pernah berperang di negaranya, peperangan terjadi jauh diluar negaranya. Oleh karena itu runtuhnya menara WTC telah membuat bangsa AS menjadi demikian benci dan takut terhadap teroris. Mereka faham ini adalah perseteruan ideologis yang sulit dikalahkan tanpa terkumpulnya informasi dan langkah militer. Dalam perkembangannya, untuk menghadapi ancaman terorisme yang merupakan cabang keilmuan dari disiplin intelijen, AS memainkan kartu intelijen. NSA diperkuat dan CIA menjadi ujung tombak upaya peniadaan ancaman (operasi lawan teror), dengan langkah preemtive strike.
NSA yang pada awalnya mendapat tugas monitoring, menyadap ancaman teror kemudian berkembang menjadi badan penyadap bagi kepentingan AS dibidang lainnya, politik, ekonomi dan militer. Secara diam-diam NSA mendapat black budget sebesar USD52,6 miliar untuk tahun fiskal 2013 (Edward Snowden). Disebutkan, “Lembaga mata-mata AS telah dibangun menjadi sebuah organisasi intelijen raksasa sejak serangan 11 September 2001, tapi tetap dapat memberikan informasi penting lain tentang berbagai ancaman terhadap keamanan nasional.” Disinilah kunci berkembangnya penyadapan dengan dibangunnya 90 stasiun NSA di dunia, termasuk di Jakarta. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa penyadapan sudah terjadi cukup lama, diperkirakan aktif sejak tahun 2007.
Bagaimana kita melihat dan menilai penyadapan terhadap Indonesia? Apabila diketahui Amerika Serikat menyadap baik pemerintah, pejabat, komunikasi perbankan, politik, dan memonitor semua saluran internet, maka jelas tidak ada rasa aman bagi bangsa Indonesia. Persoalannya, ini  bukan hanya penyadapan belaka, tetapi hal tersebut  merupakan masalah yang sangat sensitif, karena menyangkut masalah martabat dan keamanan bangsa. Dapat dikatakan ini adalah sebuah kejahatan besar dari sebuah negara. Sudah tepat apabila Menlu Marty mengundang Dubes AS di Jakarta dan apabila terbukti dapat membuat langkah yang berlaku di dunia diplomasi, mempersona non gratakan, sebagai penanggung jawab. Persoalannya apakah Indonesia mampu membuktikan? Informasi penyadapan saja di dapatkan dari harian Australia SMH.
Sayangnya kita belum mampu mendapatkan informasi secara pasti kebocoran sebagai akibat dari  penyadapan, mengingat teknologi NSA sudah demikian maju. Yang perlu dipertimbangkan, apabila kita akan membeli alat sadap/anti sadap dari Amerika Serikat dan kelompok lima mata lainnya (Inggris, Canada, Australia, dan NZ). Dapat dipastikan mereka akan mampu memonitor apabila kita gunakan.Yang akan jauh lebih rumit dan berbahaya, apabila terjadi adanya orang perorangan ataupun organisasi yang tanpa ijin kemudian ikut memiliki alat sadap tersendiri, ini akan jauh lebih berbahaya pastinya.

Kesimpulan

Dari informasi dokumen Snowden yang diberitakan media, kemungkinan besar sudah terjadi penyadapan dari stasiun NSA yang berada di kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Gambir Jakarta. Dapat diperkirakan upaya penyadapan arus komunikasi baik saluran telpon maupun internet mereka lakukan pada awalnya untuk memonitor perkembangan sel terorisme yang memang sudah ada di Indonesia sejak pemboman Bali-1 tahun 2002. Kemudian penyadapan target berkembang kearah lainnya (politik, ekonomi dan militer).
Selain memonitor perkembangan sel teroris di Indonesia, penyadapan yang seperti juga dilakukan terhadap Kanselir Jerman, Angela Merkel serta 34 kepala negara lainnya , kemungkinan besar alat komunikasi Presiden SBY, Wapres Boediono, serta beberapa pejabat penting lainnya bukan tidak mungkin juga termasuk yang disadap. Target yang sangat mungkin dimonitor dan disadap lainnya adalah arus handphone, telpon, internet, termasuk para pengguna Gmail, Yahoo, Hotmail, Face Book, Twitter dan media komunikasi lainnya.
Ancaman penyadapan  jelas akan merugikan bangsa Indonesia. Jawabannya adalah adanya kesadaran sekuriti. Sulit mengatasi penyadapan dengan teknologi canggih tanpa peralatan canggih. Jelas sulit mengantisipasi langkah NSA sebagai badan intelijen dengan anggaran USD52,6 miliar. Para pejabat sebaiknya membatasi penggunaan telpon pribadi untuk membicarakan masalah khusus dan sifatnya rahasia negara, lebih baik apabila dilakukan personal meeting. Kita tidak perlu marah dan bertindak yang tidak baik. Yang perlu diingat, menghadapi serangan intelijen serupa, harus diatasi dengan kecerdasan dan kecerdikan.
Yang harus sangat disadari, bahwa kini terbukti tidak ada alat komunikasi yang aman bila kita berbicara menggunakan tilpon atau HP, BB dan internet, nun dekat ataupun jauh disana ada yang menguping dan merekamnya.  Tetapi untuk mengingatkan kesadaran sekuriti bagi pejabat  jelas sulit. Kalau sudah memegang telpon, rasanya aman-aman saja, karena berbicaranya dengan berbisik-bisik. Waspada pak pejabat.
Oleh : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar