Jam Digital

Minggu, 26 Januari 2014

Ibu Tien bikin Taman Mini, Pak Harto menindak para penentangnya


 Ibu Tien Soeharto. ©2013 Merdeka.com/repro Museum Purna Bakti Pertiwi



Banyak tokoh besar, bahkan sekelas presiden sekalipun, yang tahan terhadap serangan dan kritik terhadap dirinya, tetapi tidak apabila kritik itu ditujukan kepada istri dan anak-anaknya. Seperti halnya penguasa Orde Baru selama 32 tahun, Presiden RI Ke-2 Mohammad Soeharto.

Dalam era kepemimpinan Soeharto, semua tahu peran Ibu Negara Fatimah Siti Hartinah Soeharto tidak kecil. Ibu Tien, demikian dia disapa, adalah Ketua Yayasan Harapan Kita (YHK), yang berdiri pada 28 Agustus 1968. Ibu Tien juga yang menggagas pembangunan miniatur Indonesia, yang diberi nama Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Konon, ide tersebut diilhami oleh pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan antara bidang fisik-ekonomi dan bidang mental-spiritual. Oleh sebab itu, Ibu Tien kemudian mengusulkannya agar dibuat taman tersebut. Karena itu usulan istri, Soeharto agaknya tak bisa menolak.

Namun ketika TMII dibangun menjelang akhir 1971, dampaknya bisa ditebak. Soeharto banyak mendapat kritik dan perlawanan dari banyak orang. Demonstrasi digelar di banyak titik untuk menolak rencanan pembangunan tersebut. Lalu apa sikap Soeharto?

Sebagai presiden, dan tentunya sebagai seorang suami, Soeharto pasang badan terhadap isu, kritik, dan demonstrasi penolakan pembangunan TMII. Terhadap penolakan tersebut, dalam pidato tanpa teks sewaktu meresmikan Rumah Sakit Pusat Pertamina di Kebayoran Baru, Jakarta pada Kamis 6 Januari 1972, Pak Harto mengatakan sebagai berikut:

"Saya akan menghantam siapa saja yang mencoba melanggar konstitusi, dan saya akan mendapat dukungan dari ABRI. Kalau ada seorang ahli hukum yang mengatakan bahwa Presiden tidak bisa menindak orang yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti, maka Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret 1966) bisa saya gunakan sebagai alasan karena mengganggu ketertiban umum." (buku 'Jejak Langkah Pak Harto', oleh Team Dokumentasi Presiden RI, penerbit Citra Lamtoro Gung Persada - 1991).

Dalam buku itu Soeharto juga menolak pendapat sementara kalangan yang mengatakan bahwa proyek yang merupakan miniatur Indonesia itu adalah proyek mercusuar. Ia juga membantah proyek ini menghisap uang rakyat dan membahayakan pembangunan, karena proyek ini akan dibiayai oleh dana-dana swasta.

Pada hematnya, kata Soeharto, proyek TMII telah dijadikan isu politik oleh orang-orang dan pelaku yang sama sejak tahun 1968. Isu politik tersebut dalam jangka pendek bertujuan mendiskreditkan pemerintah, dan dalam jangka panjang untuk mendepak ABRI keluar dari lembaga eksekutif. Usaha itu akan menghilangkan Dwifungsi ABRI dan menjadikan ABRI alat pertahanan keamanan saja. 'Dan saya tegaskan bahwa saya tidak akan melepaskan Dwifungsi ABRI".

Kalau tujuan aksi-aksi anti Taman Mini Indonesia itu untuk menyingkirkan Presiden, Pak Harto melanjutkan, jawabannya mudah. Karena ia adalah Kepala Negara yang dipilih melalui MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), maka ia dapat diberhentikan secara konstitusional melalui sidang MPR.

"Kalau ada usaha menggantikannya secara inkonstitusional maka saya akan kembali mengambil sikap seperti pada 1 Oktober 1965, ketika menghadapi PKI (Partai Komunis Indonesia). Waktu itu yang mendukung saya hanyalah isteri saya, sedangkan Front Pancasila dan Angkatan 66 belum lahir."

Selanjutnya ia menjelaskan, proyek TMII mempunyai dua tugas pokok. Keluar, sebagai sarana memperkenalkan wajah Indonesia kepada bangsa lain; dan ke dalam, agar supaya rakyat Indonesia secara keseluruhan bisa melihat dan merasa bangga akan kebudayaan tanah airnya

Enambelas tahun kemudian, dalam bukunya berjuduk: Soeharto: Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya, G.Dwipayana dan Ramadhan KH, menulis pernyataan Soeharto. "Saya dan isteri saya mempunyai cita-cita untuk membangun suatu pusat kebudayaan peninggalan nenek moyang kita yang akhirnya nanti bisa berfungsi sebagai tempat rekreasi, tempat pendidikan, dan juga tempat untuk mengembangkan kebudayaan."

Akhirnya, kata Soeharto, proyek yang kami cita-citakan itu terlaksana, dibangun mulai tahun 1975. Kritik terhadap ide kami itu muncul lagi. Namun, sebenarnya pihak yang mengkritik itu belum tahu tujuan kami. Mereka khawatir bahwa pembangunan itu akan membuat pemborosan saja dan tidak ada artinya.

"Padahal tujuan kami bukan seperti yang dikhawatirkan itu. Kenyataan, sekian tahun kemudian menunjukkan bahwa setelah Taman Mini Indonesia Indah itu jadi, pengkritik-pengkritik itu akhirnya mengakui manfaatnya."