Jam Digital

Minggu, 19 Januari 2014

Heroisme Pilot-pilot Penerbal Pendaratan Darurat Hingga Misi SAR


Sejak tahun 1956 atau bertepatan dengan berdirinya Penerbangan Angkatan Laut (Penerbal) kiprah para pilot tempur Penerbal telah mewarnai heroisme sejumlah pertempuran di Tanah Air. Tidak hanya misi tempur para pilot Penerbal juga menunjukan semangat kepahlawanan dalam misi non perang.

Sepak terjang para pilot Penerbal dalam berbagai misi tempur seperti Operasi Trikora, Operasi Dwikora, Opreasi Seroja, dan lainnya juga makin profesional kendati mereka harus kehilangan nyawa. Pesawat-pesawat yang dioperasikan oleh para pilot Penerbal dalam beragam misi tempur antara lain Gannet, CASA 212, Alloute II, Nomad N22/N 24, Bolkow Bo-105, Mi-4, DC-3, IL-28, dan lainnya. 

Menurut salah satu pilot Penerbal yang juga saksi hidup sejumlah misi tempur yang dilaksanakan para pilot Penerbal, Kolonel (Purn) H. Dana Is (70), para sejawatnya memang terkenal pemberani. Dana yang pernah menerbangkan pesawat pengebom torpedo Il-28M dan Dakota telah kehilangan beberapa senior karena keberanian sekaligus kenekatan mereka.

“Penerbal pernah memiliki pesawat Il-28 sebanyak 12 unit. Sepuluh unit Il-28M untuk pengebom torpedo dan dua unit lainnya Il-28U untuk pesawat latih. Saat itu sebagai pilot muda para senior semangat sekali untuk berperang sehingga kadang-kadang sikap berani mengalahkan akal sehat,’’ papar Dana yang juga alumni Akademi Angkatan Laut tahun 1967 itu. “Oleh karena itu meskipun suku cadang makin menipis akibat renggangnya hubungan RI dan Rusia, para pilot IL-28 masih berani terbang sehingga sejumlah kecelakaan pun tidak bisa dihindari,” tambahnya.

Mendarat darurat
Selama melaksanakan misi penerbangan  baik dalam latihan maupun pertempuran dari 12  Il-28 yang tergabung dalam Skuadron 500, lima di antaranya mengalami kecelakaan (accident). Satu pesawat mendarat darurat di Pantai Banyuwangi, Jawa Timur. Tiga awak Il-28, Letnan Muda (LMU) Wulang Sutekowardi dan seorang navigator, Suyono berhasil mendarat selamat tapi pesawatnya rusak total. Satu pesawat Il-28 lainnya hilang dan tidak kembali ke pangkalan pada waktu latihan terbang navigasi di atas Pulau Masalembo, Madura.

Ironisnya penerbang yang hilang di Masalembo adalah LMU Wulang yang pernah mendarat selamat di pantai. Dua awak Il-28 yang hilang bersama LMU Wulang adalah navigator Gatot Mulyohadi dan operator persenjataan  di pesawat, Kopral Sudjati. Kecelakaan berikutnya ketiga, keempat, dan kelima adalah kecelakaan saat mendarat. Dua kali terjadi di Pangkalan Udara Kemayoran, Jakarta dan satu lagi terjadi di Pangkalan Udara Makassar, Sulawesi Selatan. Beruntung dalam tiga kecelakaan terakhir tidak terjadi korban jiwa. 

“Menjadi pilot Penerbal memang banyak tantangannya karena kehidupan para pilotnya berada dalam situasi high risk. Kondisi itu sangat kami pahami maka latihan dan sikap disiplin dan teliti dalam menerbangkan  menjadi sangat penting. Kami kemudian hanya berani terbang setelah menandatangani dokumen kelaikan terbang. Khsususnya untuk terbang malam,’’ tambah Dana.

Ketika Dana kemudian bergabung dengan Skuadron Udara 600 dan menerbangkan pesawat angkut C-47 Dakota sejumlah kecelakaan yang menjadi tantangan para pilot dan awak pesawat juga terjadi. Satu Dakota kecelakaan sewaktu mendarat di Pangkalan Udara Selaparang, Lombok. Satu Dakota lagi mengalami kecelakaan saat terbang di atas udara Karawang, Jawa Barat (1968).

Dana yang saat itu bergabung bersama rekan satu angkatannya, Kolonel (Purn) Sujarwo (71) dan kenyang makan asam garam dalam misi penerbangan militer ke Timor-Timur,  mengisahkan tentang pendaratan darurat C-47 di Karawang. Peristiwa pendaratan darurat yang menghebohkan itu menurut informasi resmi dari TNI AL akibat kerusakan mesin. Peristiwa berlangsung sekitar tahun 1968. Pesawat C-47  bermuatan penuh logistik itu dipiloti oleh senior mereka Letkol Johan dan berhasil melakukan pendaratan darurat di lokasi persawahan tanpa menimbulkan korban jiwa.

“Yang sebenarnya terjadi pesawat C-47 akan mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Tapi waktu itu sedang ada Presiden Soeharto yang akan terbang menggunakan pesawat kepresidenan. Dakota akhirnya disuruh menunggu sambil berputar-putar di udara (holding),” jelas Sujarwo. “Tapi sampai bahan bakar hampir habis Dakota masih belum diizinkan turun di Halim karena masih ada acara seremonial untuk presiden. Akibat holding terlalu lama,  akhirnya bahan bakar Dakota benar-benar habis dan pilot memutuskan untuk mendarat darurat di persawahan yang ada di Karawang,’’ tambah Sujarwo sambil menekankan C-47 memang dirancang untuk bisa mendarat secara aman ketika mesin mati.

“Berdasarkan pengalaman saya menerbangkan Dakota memang telah diberi pelatihan untuk mendarat secara darurat. Caranya, waktu melaksanakan pendaratan darurat untuk C-47 tetap dilakukan sesuai prosedur seperti ketika mesin hidup. Pesawat diposisikan stabil, power digenjot untuk menghabiskan bahan bakar, daratkan secara normal, dan dipastikan tak akan ada benturan serta ledakan,’’ jelas Sujarwo. ‘’Itu bisa terjadi karena mendarat darurat di persawahan yang landai dan ledakan tidak muncul karena bahan bakar sudah habis,’’ tambahnya.

Namun, karena Letkol Johan mendaratkan Dakota secara darurat gara-gara menunggu aktivitas Presiden Soeharto di Halim, tak ada penghargaan baginya meskipun semua awak pesawatnya selamat dan dalam kondisi  sehat walafiat.

Misi SAR
Baik Dana maupun Sujarwo memang tidak menerbangkan helikopter tapi keduanya memiliki rekan satu angkatan yang saat itu masih berpangkat perwira remaja, Kapten Antonius Suwarno, yang terkenal mahir menerbangkan helikopter. Pilot yang akrab dipanggil Anton itu  dikenal sebagai pahlawan ketika terjadi musibah jatuhnya pesawat Twin Otter Merpati bulan Maret 1977, di Gunung Tinombala, Palu, Sulawesi Tenggara. Sebagai pilot heli Kapten Anton  mahir menerbangkan heli jenis Mi-4, Allouete II, dan Bo-105. Demikian mahirnya khususnya terbang heli di ketinggian ekstrem, Kapten Anton pun selalu dikirim ke berbagai misi tempur, khususnya di Timor-Timur (Operasi Seroja).

Pesawat Twin Otter yang membawa 18 orang dewasa dan 2 anak-anak bertolak dari landasan udara di Palu pukul 11.56 WIT menuju Toli-Toli. Pesawat kemudian dinyatakan kecelakaan karena kehabisan bakar pada pukul 18.00 WIT dan Badan SAR Nasional (Basarnas) memerintahkan operasi pencarian dengan melibatkan semua unsur terkait. Instansi yang dilibatkan dalam operasi SAR terdiri dari 40 prajurit para komando Paskhas, 18 penerbang, ratusan pasukan TNI AD, sukarelawan dari masyarakat yang jumlahnya ribuan , dan lainnya. Sedangkan pesawat yang dikerahkan terdiri dari  Twin Otter, Fokker-27, SC-7 Skyvan, Allouette III, dan lainnya. Tapi setelah dilakukan operasi pencarian hingga hari ke 9, pesawat Twin Otter yang jatuh belum ditemukan.