Minggu, 23 Februari 2014

Panglima TNI Berkunjung ke China


Chinese Marine Corps
Chinese Marine Corps

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Indonesia dengan negara tetangga dekatnya, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Moeldoko dijadwalkan mengunjungi China pekan depan dan diagendakan mencakup pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.
Jenderal Moeldoko mengatakan kepada The Jakarta Post, dia dijadwalkan bertemu dengan Menteri Pertahanan Nasional China Jenderal Chang Wanquan dan juga Kepala Staf Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), Jenderal Fang Fenghui.
Panglima TNI menambahkan, pertemuan juga dilakukan dengan Xi Jinping, yang juga Ketua Partai Komunis China. Prosesnya sedang diatur namun belum terkonfirmasi.
“Topik besar kami adalah bagaimana mengembangkan kerjasama militer antar kedua negara,” ujar Panglima TNI.
Jenderal Moeldoko akan berangkat hari Minggu dan kembali Jumat malam. Menurutnya, Indonesia sedang mengincar industri militer China yang kuat sebagai mitra potensial di masa depan. Panglima TNI akan membahas penggunaan persenjataan dari China, untuk memenuhi arsenal TNI.
Kunjungan ini tidak luput dari agenda membahas upaya menciptakan stabilitas di Laut China Selatan. Moeldoko menekankan perlunya upaya menghadirkan situasi yang positif bagi semua pihak di wilayah Laut China Selatan.
China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai wilayah mereka yang nota bene juga diklaim negara lain: Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan. China juga mengklaim bagian dari Kepulauan Natuna Indonesia.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko (photo:Kompas.com)
Panglima TNI Jenderal Moeldoko (photo:Kompas.com)

Mengomentari rencana kunjungan itu, pakar hubungan internasional Yeremia Lalisang mengatakan, Indonesia harus hati-hati dan mempertimbangkan setiap langkah yang diambil, karena Indonesia dihormati di kawasan dan telah menjalankan peran sebagai mediator yang jujur untuk kasus Laut China Selatan.
Bisa saja negara lain menafsirkan kunjungan ini sebagai upaya membentuk aliansi Jakarta Beijing.
“Dengan posisi saat ini, kunjungan seperti itu tidak akan dilihat (oleh negara lain) sebagai kunjungan biasa,” ujarnya.
“Sejak Indonesia mengijinkan kapal perang China melewati perairannya setelah latihan militer di dekat Australia, kunjungan ini akan ditafsirkan sebagai bukti lebih lanjut dari kedekatan antara Jakarta dan Beijing”.
Semakin eratnya hubungan Indonesia China bisa dipandang sebagai ancaman terhadap kepentingan AS dan sekutunya, seperti Australia dan Filipina. Oleh karena itu, Jakarta haruslah hati-hati dan menyadari implikasi dari kunjungan tersebut, ujar Yeremia.
Sementara, Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Edy Prasetyono mengatakan, kunjungan itu tidak boleh dipandang sebagai ancaman oleh negara ASEAN lainnya.
“Sebaliknya, Indonesia justru berada dalam posisi untuk meyakinkan China, agar tidak selalu berada dalam konflik dengan negara ASEAN lain, atas isu Laut China Selatan: Hal itu tidak akan menguntungkan bagi China,” ujarnya.
“Jika China ingin menjadi negara adidaya, mereka harus menyadari kepentingannya secara global dan isu Laut China Selatan, hanyalah bagian dari itu. Tidak ada gunanya mengambil sikap konfrontatif”.
Edy Juga mengatakan, sudah saatnya Indonesia memformulasikan hubungannya dengan China, dan seharusnya kedua negara negara bisa menjadi pilar di wilayah, bersama dengan India dan Australia.
TNI juga diminta untuk menggali lebih dalam potensi kerjasama industri pertahanan dengan China.(thejakartapost.com).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar