Senin, 03 Agustus 2015

M1939 52-K: Meriam PSU “Heavy AA” Legendaris Arhanud Marinir TNI AL

oke
Meski agak sulit mendapatkan informasi resmi, namun ada fakta yang menunjukkan bahwa TNI juga memiliki meriam (PSU) penangkis serangan udara yang berkategori heavy AA (anti aircraft). Maklum selama ini publik lebih mengenal keberadaan meriam PSU paling banter di kaliber sedang, seperti meriam S-60 kaliber 57 mm dan Bofors 40 mm. Meski bukan lagi barang keluaran baru, nyatanya etalase alutsista Arhanud Marinir TNI AL justru punya kaliber yang lebih dahsyat, yakni lewat tipe meriam M1939 52-K yang berkaliber 85 mm.
Mengingat usianya yang tua, jika meriam ini masih aktif, tingkat kesiapan senjata ini agak diragukan, tapi toh 52-K adalah legenda tersendiri dalam jagad sista penangkis serangan udara. Bersama dengan M1939 61-K, meriam 52-K punya reputasi tinggi selama Perang Dunia Dua. Seperti halnya meriam 61-K, meriam 52-K hadir atas desakan kebutuhan Arhanud Uni Soviet untuk menghalau gempuran bomber NAZI Jerman.
oke-1
10852-k-85mm-m1939-aa-gun
Prestasi meriam ini pun layak diacungi jempol, selama berlangsungnya Perang Dunia Dua, total ada 4.047 pesawat Jerman yang dirontokkan oleh kru meriam ini. Hitungannya, untuk menjatuhkan satu pesawat menghabiskan 598 peluru. Karena kalibernya yang besar dan bobot amunisi yang relatif lebih berat, kecepatan tembak meriam ini hanya 10 -12 peluru per menit. Sebagai perbandingan meriam K-61 yang juga dipakai Arhanud Marinir TNI AL, kecepatan tembaknya bisa mencapai 60 peluru per menit. Meski begitu, K-52 punya keunggulan dalam hal jangkauan tembak, dengan kecepatan luncur proyektil 792 meter per detik, jarak tembak maksimum K-52 ini mencapai 15.000 meter. Sementara jarak tembak efektif (dalam sudut vertical) mencapai 10.500 meter. Dengan kemampuannya tersebut, wajar bila meriam ini jadi momok yang menakutkan bagi pesawat tempur yang terbang di ketinggian tinggi.
3026_4-auto_downl9214436161_96e57aa8e2_b

KS-12_85mm_anti-aicraft_gun
Dirunut dari sejarahnya, meriam K-52 dirancang oleh M. N. Loginov and G. D. Dorokhin, dan kemudian diproduksi dalam rentang 1939 hingga 1945. Keberadaan meriam ini di Indonesia diperkirakan terkait dengan kampanye operasi Trikora di awak tahun 60-an. Selain Indonesia, populasi meriam ini cukup merakyat di negara-negara sekutu Soviet, meski sebagian telah mengganti ke kaliber 100 mm.
Sempat hadir dalam model kit.
Sempat hadir dalam model kit.
Yang menarik dari meriam K-52 adalah pada larasnya yang mengambil basis laras pada tank. Dengan bobot total 4,5 ton, soal kelincahan memang tak terlalu maksimal, namun K-52 tetap dapat berputar 360 derajat dengan gerakan sudut elevasi laras antara -3 hingga 82 derajat. Pola pengisian amunisi tidak seperti meriam S-60, Bofors 40 mm dan 61-K yang menggunakan cartridge, di 52-K pengisian amunisi mengusung pola vertical sliding wedge. Sedangkan untuk mengantisipasi efek tolak balik dari laras menggunakan hydraulic buffer.
Tidak diketahui persis, apakah meriam ini masih operasional atau tidak, namun dari foto yang ada, meriam K-52 setidaknya pernah digunakan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarharlan) TNI AL. (Haryo Adjie)

Spesifikasi M1939 K-52
– Kaliber : 85 mm (3.34 inchi)
– Panjang laras: 55 Cal
– Berat: 4.500 kg
– Panjang keseluruhan: 7,05 meter
– Lebar: 2,15 meter
– Tinggi: 2,25 meter
– Elevasi laras: -3 hingga 82 derajat
– Jarak tembak maksimum: 15.500 meter
– Jarak tembak efekif: 10.500 meter
– Jumlah awak: 7 orang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar