Minggu, 02 November 2014

Kapten Pnb Sekti Ambarwaty, Pilot CN-235 yang Bawa Anak saat Misi

Kapten Pnb Sekti Ambarwaty, Pilot CN-235 yang Bawa Anak saat Misi

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dan Tentera Udara Diraja Brunei (TUDB) mengadakan Latihan Bersama (Latma) Bruneisia VI/2014 di Pangkalan TNI AU (Lanud Tarakan).  Rabu (29/10) Latma Bruneisia dibuka dan akan berlangsung hingga Jumat (31/10) besok,  melibatkan pesawat CN-235 dari TNI AU serta CN-235 dan Black Hawk dari Brunei. Hebatnya, pilot hingga teknisi pesawat tersebut perempuan. Siapa sajakah mereka?
Di ujung apron depan terminal baru Bandara Internasional Juwata Tarakan sudah didirikan tenda. Kursi-kursi berjejer rapi di bawahnya.  Jarum jam menunjukkan pukul 07.15 WITA, sejumlah personel TNI AU dan TUDB berbaris rapi di depan tenda. Mereka sedang bersiap-siap untuk gladi resik jelang upacara pembukaan Latma Bruneisia VI/2014 pukul 08.00 WITA.
Di sela-sela itulah Tribunkaltim.co.id (TRIBUNNEWS Network)  berkesempatan mewawancarai Kapten Pnb Sekti Ambarwaty, Pilot CN-235 dari TNI AU di dalam pesawat.  Perempuan kelahiran 18 Oktober 1983  yang bergabung di dunia penerbangan sejak tahun 2005 itu menuturkan kiprahnya secara gamblang.
Ambar -begitu ia disapa--merintis karir di TNI AU sejak 2003 sebagai Bintara Wara (Wanita Angkatan Udara) dengan pangkat Sersan II di Yanpres Lanud Halim Perdanakusuma.  Setelah itu, ia mendapat perintah dari pimpinan TNI AU untuk bergabung di sekolah penerbang di Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta.  "Saya mendapat kesempatan ikut seleksi sekolah penerbang bersama rekan-rekan wanita TNI AU, dan lainnya sejumlah 14 orang. Dari jumlah itu, yang lolos dua perempuan termasuk saya. Ini hal yang baru  bagi saya. Saya tetapkan hati untuk melaksanakan secara maksimal, apapun  hasilnya itu terserah Yang Maha Kuasa. Alhamdullilah saya dinyatakan lulus dan mengikuti pendidikan. Saya masuk tahun 2005 dan lulus 2007," ungkapnya.
Ambar sangat bersyukur,  alasannya dari TNI AU terutama pimpinan  memberi kesempatan  walaupun agak berat  untuk dijalani. "Dirasa berat karena sudah berdinas efektif dan harus mengikuti pendidikan lagi.  Namun saya bersama teman yang lulus seleksi, kami saling support selama masa pendidikan.  Ketika salahsatu down, ciut hati, yang  satunya memotivasi hingga kami berhasil melewati masa pendidikan. Akhirnya 2 Agustus 2007 kami dilantik  sebagai Letnan II dan Penerbang," ujarnya.
Setelah lulus dari Yogyakarta, Ambar ditugaskan di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta yang merupakan  skadron operasional pesawat angkut sedang,  dengan alutsista salahsatunya pesawat CN-235.  Ia mulai menerbangkan pesawat CN 235 sejak tahun 2008.  
Operasi sesuai tugas skadron salahsatunya melaksanakan operasi udara yaitu mengangkut logistik, personel, maupun special flight lainnya dan tugas Search And Rescue (SAR).  Wilayahnya mulai dari Sabang sampai Merauke. Bertugas ke luar negeri pun pernah dilakoni  Ambar, yakni melaksanakan special flight ke  Bangkok, Thailand.
Tidak Yakin
Selama berkarir sebagai penerbang pesawat CN-235,  tentu saja Ambar punya banyak pengalaman unik, menarik hingga mendebarkan.  "Uniknya, pada waktu misi pertama sebagai co-pilot tahun 2008, saya terbang ke Bima. Di wilayah tersebut ketika itu mungkin sangat jarang ada calling dari perempuan, jadi saat saya calling petugas towernya tidak yakin. Akhirnya saat pesawat landing, petugas tower langsung turun untuk memastikan bahwa saya perempuan," kenang Ambar sembari tertawa.
Panik? Pernah. Namun saat penerbangan tidaklah sendirian.  "Kami punya crew. Jadi kami lakukan Crew Resource Management (CRM). Kami saling koordinasi dan membuat decision sehingga terciptanya safety.  Intinya saat terbang, semua harus dipersiapkan secara matang baik persiapan diri maupun pesawat sehingga hal-hal terburuk dapat diantisipasi.  Kalau trouble engine, pernah saya alami.  Biasanya kami miliki emergency procedure dan plan alternative.  Ini salahsatu preparation yang harus dilaksanakan seorang penerbang," beber ibu satu putra  yang meraih Kapten Buddy Ride (BR) tahun 2014.  
Kini sudah hampir enam tahun Ambar berkarir sebagai penerbang.  Ia sudah mengantungi 800 jam terbang khusus pesawat CN.  Sedangkan bila digabung dengan pesawat latih saat pendidikan sudah 1.100 lebih jam terbangnya.  
Bawa Anak
Berkarir di lingkup pekerjaan yang didominasi kaum pria awalnya tidak begitu nyaman bagi Ambar.  "Beruntung senior-senior saya dan pimpinan sangat mendukung sehingga saya merasa nyaman berada di lingkungan ini. Makanya saya masih tetap bertahan walaupun sudah miliki anak. Saya masih tetap ingin berkarir di CN-235," tandasnya.
Ambar dan Prasetyo Sudi Wicaksono suaminya sama-sama berkarir di TNI AU. Mereka menikah tahun 2010 lalu. "Saya penerbang di CN-235 sedangkan suami saya seorang navigator di pesawat Herkules. Anak kami awal November nanti berusia dua tahun," ujar ibunda dari Atha Pratama Sudi Ambara ini.  Mereka berdomisili di Kompleks Lanud Halim Perdana Kusuma.  
Sebagai penerbang, Ambar pun punya pengalaman menarik saat hamil.  "Saya baru tahu bahwa saya hamil setelah usia kandungan sudah dua bulan delapan minggu. Mungkin karena saya kurang peka dan selama itu pula saya terbang normal tanpa gangguan apapun," tuturnya sembari tertawa.  
Setelah ke dokter, ia disarankan untuk stop terbang.  Jadi selama hamil hingga cuti melahirkan Ambar tidak menjalani penerbangan kurang lebih setahun.  Selama itu aktivitasnya lebih banyak di kantor mengerjakan kegiatan non flying.
Setelah melahirkan, Ambar kembali menekuni dunia penerbangan. Apalagi ketentuan institusi, paling tidak dalam sebulan minimal harus mendapatkan 15 jam terbang.   
Ambar  ingin tetap menggeluti profesi sebagai penerbang, sebagai istri dan ibu. Tidak mudah, namun tetap dijalaninya dengan sabar. Apalagi ketika ia dan suami sama-sama bertugas operasi ke luar kota.   Seperti sekarang Ambar bertugas di Lanud Tarakan selama seminggu, sedangkan suaminya sedang berada di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, melaksanakan proyek hujan buatan oleh TNI AU. "Mau tidak mau,  anak kami ditinggal bersama baby sitter.  Namun pernah saya boyong si kecil ikut misi.  Kemarin, saat misi dalam rangka HUT TNI kami Terbang Formasi di Surabaya, kami move semua ke Malang. Suami juga ikut ke Malang," ceritanya.
Bila tiba hari libur, Ambar aktif memgurus rumah hingga dapur. "Waktunya untuk memasak walaupun bukan jago masak, juga luangkan waktu untuk suami dan  anak," tambahnya.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar