Selasa, 25 November 2014

Proxy War, Ancaman Indonesia di Masa Depan

 image
Beberapa kalangan telah melihat adanya jenis perang di masa depan yang akan mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perang Proxy atau perang yang diwakilkan berlangsung tanpa disadari oleh warga negara Indonesia. Secara terminologi, Proxy War dilakukan tanpa bertemunya dua pasukan di medan laga. Dia dilakukan dari jarak jauh, dan melibatkan pihak ketiga.
Belum lama ini, Pangdam Jaya Mayjen TNI Agus Sutomo telah memperingatkan agar Indonesia mewaspadai proxy war. Dia mengemukakan hal tersebut dalam kuliah umum di hadapan Civitas Akademika Universitas Bung Karno, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, salah satu alasan Indonesia menghadapi ancaman perang proxy ini, karena sumber daya alam di negara kita melimpah. Negara-negara asing yang memiliki super power rebutan untuk menguasainya.
Dikutip dari rakyat merdeka online, Agus pun membeberkan kekecewaannya soal PT Freeport di Papua yang 90 persen dikuasai asing, bahkan mau diperpanjang sampai tahun 2040. Tak hanya itu, di Bumi Cenderawasih juga banyak ditemukan bandara perintis yang dikuasai pihak asing.
“Kita sering menyamar ke sana menjadi Babinsa malah diusir, seperti orang asing di negeri sendiri. Biasanya bandara perintis itu buat para misionaris, ini tak boleh dibiarkan,”,” katanya.
Dia menambahkan, proxy war sudah melucuti satu persatu pulau terluar Indonesia. Menurut Agus, seharusnya kasus Timor Timur, dan Sipadan-Ligitian dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah agar tidak terulang di kemudian hari.
“Sipadan dan Ligitan itu sekarang jadi pulau wisata termahal di dunia. Kalau mau ke sana harus booking enam bulan sebelumnya,” jelas Agus.
Reklamasi pantai Indonesia oleh negara tetangga, penolakan nama kapal Usman-Harun, penyadapan telepon pejabat oleh intelijen Australia adalah deretan panjang proxy war yang sedang dihadapi Indonesia.
“Negara-negara di sekitar khatulistiwa seperti Indonesia sekarang jadi rebutan. Tak hanya dari sumber daya alam, tapi dari bidang budaya, sosial, dan politik mau dikuasai,” katanya.
“Sekarang sudah lampu kuning, kita bisa tertawa bahagia sekarang, tapi nanti punya kita tidak ada lagi. Ini salah satu tantangan generasi muda yang makin berat,” demikian Agus.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar