Selasa, 06 Januari 2015

Kedubes AS di Indonesia Gelisah, Mengeluarkan Security Warning, Ada Apa?

us-monitoring-stations_embassy_2910
Stasiun NSA di Asia Tenggara (Grafik: themalaymailonline.com)


Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mendadak pada tanggal 3 Januari 2014 mengeluarkan sebuah security warning untuk warganya yang ada di Surabaya. Mengutip tayangan kantor berita CNN, juru bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada CNN Indonesia, Minggu (4/1), membenarkan bahwa mereka mengeluarkan peringatan tersebut. Peringatan semacam itu, kata dia, dikeluarkan jika mereka menerima informasi yang kredibel terkait ancaman. "Ketika pemerintah AS menerima informasi kredibel, spesifik, dan tidak terbantahkan, yang terkait dengan ancaman, maka kami membagikan informasi tersebut kepada warga Negara AS sesuai dengan kebijakan no double standard," kata juru bicara Kedubes AS. Selanjutnya disebutkan bahwa warga negara AS adalah salah satu prioritas tertinggi dari Kementerian Luar Negeri AS, "Dan kami memberikan informasi terkait keamanan serta pertimbangan lainnya yang perlu diketahui oleh warga Negara AS ketika mereka sedang berpergian ke luar negeri atau tinggal di luar negeri."

Pada intinya Kedubes AS memperingatkan warganya terhadap kemungkinan potensi ancaman baik di hotel maupun bank khususnya di kota Surabaya. Juru bicara itu mengatakan bahwa security warning tersebut tidak terkait dengan kecelakaan yang terjadi pada pesawat AirAsia yang hilang baru-baru ini. Kini timbul pertanyaan, mengapa mendadak Kedubes AS yang mewakili pemerintahnya di Indonesia mengeluarkan peringatan tersebut? Siapa yang mengancam mereka? Apa bentuk ancaman tersebut? Kapan diperkirakan akan terjadi? Masih banyak lagi pertanyaan dari sisi intelijen pengamanan yang harus dijawab. Dalam kasus ini, penulis melihat bahwa security warning tersebut adalah sebuah hal yang wajar, dan memang menjadi kewajiban Kedutaan Besar AS di Jakarta. Di negara lain perwakilan negara besar tersebut juga mengeluarkan warning-warning serupa, dan bahkan di negaranya sendiri Department of Homeland Security (DHS) serta FBI membuat peringatan terhadap kemungkinan balas dendam ISIS di Amerika karena serangan udara AS di Timur Tengah.

DHS dan FBI mengkhawatirkan serangan tidak terduga, setelah dua wartawan AS dan James Foley dipenggal. Buletin DHS memperingatkan kepada penegak umum federal terhadap bahaya tersebut, karena mereka tidak memiliki akses yang sama terhadap informasi rahasia seperti yang dipunyai badan kontra terorisme. Nampaknya pemerintah AS mencium akan adanya kemungkinan serangan terhadap warganya di Surabaya dari pengikut ISIS yang kini mengubah nama menjadi Islamic State (IS). Warning dari AS ini telah dibantah baik oleh Wakil Presiden JK maupun walikota Surabaya Ibu Risma. Juga hal yang wajar karena menyangkut stabilitas keamanan. Apa kemungkinan bahaya ISIS/IS sebenarnya yang mereka takuti? Kelompok yang disebut teroris ini merupakan sebuah mazhab radikal dengan membawa pesan pembentukan sebuah negara Islam. Mereka berlaku keras, halal melakukan pembunuhan, pemenggalan kepala, dan juga pemerkosaan apabila seseorang tidak mau mengikuti alirannya. Mereka akan bertindak keras kepada mereka yang dikatakannya kafir. Bukti jatuhnya korban di Irak dan Syria sudah demikian banyak dan menimbulkan ketakutan yang amat sangat.

Islamic State berhasil merekrut kader dan simpatisannya, termasuk di Indonesia yang ada warganya sebagai muslim mudah dipengaruhi untuk bergabung dengan mereka. Kini banyak negara menjadi khawatir dengan ulah IS dan simpatisannya. Australia misalnya mengalami aksi-aksi teror yang berbau ISIS, juga di Canada terjadi serangan bersenjata, di AS (Boston) pernah terjadi serangan lone wolf . Yang menimbulkan kegelisahan pemerintah AS, nampaknya kemungkinan terjadinya serangan yang keji, bukan hanya berupa pemboman saja, tetapi Australia pernah membongkar komunikasi tokoh ISIS asal Australia di Irak (Ali Baryalei) yang memerintahkan simpatisannya menangkap secara acak warga Australia di Sydney, memotong kepala dan menancapkan ke bendera hitam simbol Islamic State dan dipasang dipinggir jalan. Kini pertanyaannya, mengapa Surabaya? Kedubes AS mempunyai kantor konsulat di Surabaya. Mereka jelas mempunyai peralatan sadap lengkap (kelompok five eyes), nampaknya memonitor Jawa Timur sebagai daerah rawan-1, karena pembom bunuh diri asal Indonesia (Abu Wildan) berasal dari Lamongan, dan tokoh teror bom Bali, Amrozi (2002) juga dari daerah yang sama. Aapakah karena itu? Penulis melihat pemerintah AS mampu memonitor kemungkinan akan adanya serangan teror yang dirancang terutama terhadap AS dan sekutunya, yang mungkin akan dilakukan di Indonesia. Pada saat mengikuti safari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), penulis mendapat informasi peningkatan aktivitas IS di sekitar Surabaya.

Kini dalam dua ulasan terkait kecelakaan AirAsia QZ8501, penulis memperkirakan adanya kemungkinan aksi hijacking dibalik kasus yang sangat perlu di dalami. Melihat reaksi dunia setelah kejadian hilangnya Airbus AirAsia tadi, muncul pertanyaan penulis, mengapa peristiwa tersebut sangat menarik perhatian Presiden AS Barack Obama yang sedang berlibur di Honolulu, Hawai. Juru bicara pemerintah AS, Eric Schultz mengatakan, "Presiden Barack Obama telah menggelar rapat terkait dengan hilangnya pesawat AirAsia QZ8501," katanya (sebagaimana dikutip Gmanetwork dan Reuters, Ahad, 28 Desember 2014). Mengapa sang presiden demikian penting menggelar rapat disaat liburnya? Pesawat Airbus 320-200 itu milik kongsi Indonesia-Malaysia, pabrik juga buatan Eropa, bukan buatan Amerika. Jelas ada sesuatu yang terbaca oleh intelijen AS dari peristiwa tersebut dengan perhatian seriusnya itu. Alert intelijen yang disampaikan kepada Obama.

Nah sepekan kemudian pada tanggal 3 Januari 2014, Kedubes AS mengeluarkan security warning terhadap warganya. Sebuah pertanyaan timbul pastinya, apakah ada kemungkinan keterkaitan antara kecelakaan dengan warning tadi, walau sudah dibantah oleh pihak AS. Penulis tetap memperkirakan seperti yang penulis sampaikan pada beberapa artikel terdahulu, bahwa ada aksi pembajakan berbau teror di dalam QZ8501. Memang kecelakaan dari sisi operasi penerbangan nampak kambing hitamnya adalah cuaca buruk (bad weather) hingga saat ini, berbeda dengan pendapat penulis yang melihat dari sudut pandang intelijen. Itulah perkembangan kondisi terkait dengan kegelisahan Kedubes AS di Indonesia. Penulis percaya bahwa aparat intelijen Indonesia semestinya kini sudah mulai mencium dan meraba, kemungkinan terburuk yang terjadi. Saran penulis, mohon segera dalami latar belakang para passanger. Kecelakaan pesawat masa kini memerlukan penyelidikan yang komprehensif. Memang nampaknya agak tidak mengenakkan, tetapi demi sesuatu kepentingan keselamatan yang jauh lebih besar di masa mendatang, why not?


Penulis : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen, www.ramalanintelijen.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar