Senin, 06 Oktober 2014

Sudah Lakukan Revolusi, Presiden SBY Minta Jokowi Lanjutkan Pembangunan TNI AU

http://setkab.go.id/wp-content/uploads/2014/10/Magetan-1.jpg
Preside SBY bersama penerbang TNI AU, di Lanud Iswahyudi, Madiun, Minggu (5/10)

Dalam perjalanannya dari Jakarta ke Surabaya, Minggu (5/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang didampingi Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri menyempatkan diri singgah ke di Lapangan Udara (Lanud) Iswahjudi, Madiun, guna memberikan arahan kepada sejumlah penerbang dan kru pesawat tempur.
Dalam kesempatan itu, Presiden SBY mengemukakan, selama dua periode kepemimpinannya telah berlangsung revolusi besar dalam pembangunan kekuatan militer dan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Ia memperkirakan, kekuatan militer Indonesia kelak akan semakin diperhitungkan.
“Terhitung empat tahun dari sekarang, bisa dikata akan cukup tangguh untuk menegakkan kedaulatan negara dan menjaga keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia,” kata SBY memprediksi.
Presiden SBY menekankan pentingnya kekuatan militer sektor udara. Penguatan matra udara oleh TNI AU, kata SBY, bisa menjadi cikal bakal dalam melaksanakan pembangunan kekuatan militer dan modernisasi alutsista ke depannya. Terlebih, perang sekarang sangat ditentukan oleh kekuatan udara yang dimiliki oleh sebuah negara.
Menurut Presiden SBY, kebangkitan kekuatan militer udara mulai muncul pada Perang Teluk I di era 1990-an, dimana saat itu cukup gencar dilakukan serangan udara yang dikombinasikan dengan serangan dari laut, sehingga pesawat terbang negara lawan tak sempat mengudara karena dihancurkan di tempat.
Setelah itu barulah dilakukan operasi darat dan bisa berlangsung cepat karena sumber kekuatan perang termasuk logistik sudah dihancurkan. “Di sini kekuatan udara menjadi kunci sangat penting,” tutur Kepala Negara.
SBY juga menunjuk contoh upaya negara-negara Barat melumpuhkan gerakan ISIS di Timur Tengah yang menggunakan pola serangan pesawat tempur gabungan. Menurut SBY, negara barat dan Amerika Serikat (AS) sangat hati-hati untuk mengerahkan kekuatan darat. Sebab, costnya  tinggi, baik finansial maupun nyawa.
“Ribuan orang bisa gugur. Belum dampak akibat operasi darat yang dilakukan itu belum tentu mendapat persetujuan dari parlemen dan rakyat,” terang Presiden SBY.
http://www.lanud-iswahjudi.mil.id/galeri/img_gambar/277375.jpg
Sumber  photo: penlanudiwj

Pemerintahan Jokowi
Presiden SBY berharap, ke depan kekuatan militer udara Indonesia lebih tangguh dan dapat diandalkan. Ia mengingatkan, luasnya wilayah teritorial yang perlu dijaga di negeri ini cukup luas yag harus diamankan membutuhkan banyak pesawat yang siap tempur.
“Kita harus siap segalanya. Negara kita luas, daratan apalagi lautan. Banyak yang harus kita amankan. Paling tidak saya dulu pernah protes keras, ada insiden angkatan udara di bagian timur Indonesia. Tetapi karena kurang pesawat, apa daya, kita hanya bisa protes, tak bisa mengejar dan menghalau,” papar SBY mengisahkan kegeramannya beberapa waktu lalu.
Untuk itu, Presiden SBY meminta pemerintahan Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi) yang akan menggatikannya akan konsisten melakukan pembangunan kekuatan militer dan modernisasi alutsista TNI AU itu.
“Saya berharap apa yang telah dicapai ini dapat dilanjutkan oleh pemerintahan mendatang. Saya sudah sampaikan kepada Pak Jokowi selaku presiden baru bahwa kekuatan dan modernisasi alutista ini penting untuk dituntaskan,” kata Presiden SBY.
Presiden meyakini, jika pemerintahan yang baru kelak konsisten dalam menjaga dan melanjutkan program itu, martabat Indonesia bisa terjaga dengan baik. “Jadi, tak perlu khawatir dilecehkan oleh negara lain, baik pelanggaran wilayah maupun membantu gerakan anti-negara di Indonesia dan semua ancaman yang mengancam kedaulatan dan kekuatan wilayah di negeri ini,” tutur SBY.
Hadir dalam kesempatan itu antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menteri Pertahanan Purnomo Yosgiantoro, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, dan Kepala Staf TNI AU Marsekal IB Putu Dunia. (setkab.go.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar