Rabu, 01 Juli 2015

Submarine Escape Immersion Equipment MK-10 Suite: Perlengkapan Evakuasi Darurat Untuk Awak Kapal Selam TNI AL

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, secanggih dan kuatnya sosok kapal selam modern, tetap ada potensi mengalami kecelakaan yang berujung pada karam atau kandasnya kapal selam di dasar lautan. Bila hal itu terjadi, tentu dibutuhkan kesigapan dari awak kapal untuk bisa menyelamatkan diri secara aman. Tentu selain terpaan pendidikan dan pelatihan awak kapal selam yang serba ketat, juga perlu ditunjang kehandalan sistem evakuasi yang ada di kapal selam itu sendiri.
Pilihan terbaik dan paling aman untuk evakuasi awak kapal selam yakni lewat wahana Deep Submergence Rescue Vehicle (DSRV). Wahana berbentuk kapal selam mini ini dapat melalukan evakuasi awak dengan jumlah relatif banyak dan bisa menghindari awak dari bahaya dekompresi. Agar wahana DSRV bisa merapat ke kapal selam yang karam, sudah barang tentu dibutuhkan pintu baterai yang dapat klop dengan DSRV. Untuk urusan pintu merujuk pada standar NAVSEA 0994-LP-013-9010.
DSRV-Mystic milik US Navy.
DSRV-Mystic milik US Navy.
Simulasi aksi DSRV.
Simulasi aksi DSRV.
Namun, sayangnya dua kapal selam milik TNI AL saat ini, yakni Type 209 – KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402, belum dilengkapi pintu yang bisa terkoneksi dengan DSRV. Baru pada Changbogo Class yang saat ini sedang digarap di Korea Selatan, kapal selam dirancang dengan pintu baterai sesuai standar NAVSEA 0994-LP-013-9010.
Lalu pertanyaannya, bagaimana prosedur evakuasi awak di kapal selam Type 209 TNI AL? Maka jawabannya merujuk pada pakaian (suite) untuk keselamatan dan perlindungan dari dekompresi, atau populer dengan sebutan Submarine Escape and Immersion Equipment (SEIE). Sebagai perlengkapan darurat, pakaian ini dirancang dengan warna oranye untuk memudahkan pencarian oleh tim SAR. Secara umum, suite yang menutupi keseluruhan tubuh awak ini, dilengkapi dengan kemampuan menahan tekanan air, memberi perlindungan dari penyakit dekompresi, hipotermia, dan perubahan iklim yang ekstrim. Maklum saja, awak kapal selam yang telah berhasil keluar dan mencapai permukaan, bakal menghadapi situasi yang rawan, seperti tinggi gelombang dan temperatur air yang dingin. Selama proses evakuasi, pakaian sudah dilengkapi dengan tabung oksigen dan raft tools kit.
Submarine Escape Immersion Equipment  yang dilengkapi raft tools kit.
Submarine Escape Immersion Equipment yang dilengkapi raft tools kit.
Raft tools ketika mengembang di permukaan.
Raft tools ketika mengembang di permukaan.
Changbogo Class nantinya juga dilengkapi life rafts dengan kapasitas 25 orang.
Changbogo Class nantinya juga dilengkapi life rafts dengan kapasitas 25 orang.
Meski Changbogo Class pesanan TNI AL nantinya dibekali pintu baterai untuk DSRV, namun, setiap kapal Changbogo Class juga dengan paket Submarine Escape and Immersion Equipment. Dengan jumlah awak Changbogo Class yang 40 orang, tiap kapal dilengkapi 48 suite SEIE, lebihnya suite ini mungkin dimaksudkan sebagai cadangan atau untuk tambahan penumpang (bila ada). Di kapal selam Type 209, prosedur evakuasi dapat dilakukan lewat conning tower, tapi juga dimungkinkan lewat tabung peluncur torpedo.
34


US_Navy_041012-N-0879R-007_US_Navy_041012-N-0879R-001_
Jenis SEIE suite yang dipesan TNI AL untuk melengkapi Changbogo Class adalah jenis MK-10 buatan Inggris. MK-10 suite dapat digunakan untuk evakuasi awak kapal selam dari kedalaman maksimum 182 meter. Selain AL Inggris, MK-10 sejauh ini telah digunakan di kapal selam USS Toledo (SSN-769) dan USS Los Angeles (SSN-688)

Musibah Saat Latihan Evakuasi di KRI Cakra 401
Untuk pertama kalinya, Korps Hiu Kencana TNI AL pada 7 Februari 2012, melaksanakan latihan basah untuk proses evakuasi kapal selam. Sebagai wahana uji dipilih KRI Cakra 401 yang berada di perairan Pasir Putih, Situbondo, Jawa Timur.
penyelamatan-penumpang-kapa
Skenario dari latihan ini adalah karamnya KRI Cakra 401 bersama 6 awaknya, karena mengalami kerusakan mesin. Satu persatu awak akan diselamatkan dari conning tower kapal selam, untuk kemudian naik ke permukaan laut. Keenam personel dibagi ke dalam tiga gelombang dan setiap gelombang dua orang. Dalam simulasi pertama dan kedua, para korban muncul ke permukaan air dalam waktu 15 menit. Namun dalam proses penyelamatan ketiga terjadi masalah.
Tim yang ada di permukaan telah menunggu sekitar 30 menit akan tetapi kedua awak kapal belum muncul juga. Setelah lama ditunggu, Kolonel Laut Jeffry Stanley Sanggel, Komandan Satuan Kapal Selam Koarmatim dan Mayor Laut Eko Indang Prabowo, muncul ke permukaan dengan kondisi yang cedera parah. Hidung dan telinga mereka mengeluarkan darah, serta tidak sadarkan diri, hingga akhirnya nyawa mereka tak dapat diselamatkan.
Latihan calon awak kapal selam TNI AL.
Latihan calon awak kapal selam TNI AL.
Diduga tabung oksigen yang melekat di baju khusus mereka tidak berfungsi/selangnya lepas. Karena tidak ada oksigen, mereka terpaksa naik ke permukaan laut dengan cepat, sehingga mengalami dekompresi.
Dekompresi adalah akumulasi nitrogen yang terlarut saat menyelam dan membentuk gelembung udara yang menyumbat aliran darah serta system syaraf. Udara yang kita hirup adalah oksigen dan nitrogen. Namun gas nitrogen tidak digunakan tubuh. Akibatnya, gas Nitrogen akan terakumulasi didalam tubuh penyelam, proporsional dengan durasi dan kedalaman penyelaman. Masalah terjadi, bila penyelam naik dengan cepat dari kedalaman tertentu, ke permukaan air. Hal ini seperti botol bir yang dikocok lalu kita buka tutupnya. Akumulasi nitrogen di dalam cairan tubuh penyelam dilepas dalam bentuk gelembung udara akibat penurunan tekanan secara drastis. Buih-buih inilah yang menyumbat aliran darah maupun sistem syaraf tubuh manusia dan berakibat fatal. (Haryo Adjie)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar