Jumat, 11 Oktober 2013

Helikopter Apache dan Tank Leopard Temani Bell 412 EP di Kalimantan

 
Kodam VI Mulawarman Operasikan Helikopter Bell 412 EP (Photo; PTDI)
Kodam VI Mulawarman Operasikan Helikopter Bell 412 EP (Photo; PTDI)
Kodam VI Mulawarman mengenalkan armada barunya Helikopter Bell 412 EP yang merupakan hibah dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Bell 412 EP ini akan ditempatkan di wilayah perbatasan, untuk memantau kondisi wilayah perbatasan melalui foto udara.
Pangdam VI Mulawarman, Mayjen TNI Dicky Wainal Usman memperkenalkan helikopter tersebut di halaman Makodam VI Mulawarman. Menurutnya helikopter ini terbilang canggih karena dilengkapi radar udara dan juga dapat melakukan foto udara baik siang maupun malam. Dengan hadirnya Bell 412 EP, diharapkan patok-patok di wilayah perbatasan dapat dipantau dan dibenahi anggota TNI, pada setiap saat.
Helikopter M-I 17 TNI AD yang ada di Kodam VI Mulawarman, belum memiliki kecanggihan seperti helikopter baru Bell 412 EP. Dengan adanya helikopter Bell 412 EP, pemantauan kondisi di perbatasan dapat dipermudah.
Lebih lanjut Pangdam VI Mulawarman menjelaskan, tahun 2014 mendatang dukungan alusista akan bertamabah, dengan adanya 2 unit tank Leopard-2, serta 2 unit Helikopter Apache yang akan ditempatkan di wilayah Kalimantan Timur, untuk menjaga kedaulatan NKRI.
Kodam VI Mulawarman Operasikan Helikopter Bell 412 EP (Photo; ARC.web.id)
Kodam VI Mulawarman Operasikan Helikopter Bell 412 EP (Photo; ARC.web.id)
HUT TNI 5 Oktober 2013.
Rencananya helikopter Bell 412 EP akan dilibatkan dalam demonstrasi pada Hari Jadi TNI ke-48 di Lapangan Merdeka Balikpapan, tanggal 5 Oktober 2013. Sejumlah alat utama sistem persenjataan TNI juga akan dipamerkan kepada masyarakat. Masyarakat Balikpapan dapat mengetahui secara jelas apa saja alusista TNI yang dimiliki di Kalimantan Timur. Diantaranya: Tank, Panser Anoa, serta sistem pertahanan udara jarak pendek Grom yang akan dipamerkan. (Sammy Laurens/GerbangKaltim.com).

Vulcan M197 20mm: Senjata “Organik” T-50i Golden Eagle TNI AU

M-197 Gatling Gun
M-197 Gatling Gun
Bicara seputar update alutsista di matra udara, selain hadirnya formasi lengkap 16 jet Sukhoi Su-27/Su-30 di skadron udara 11. Dalam waktu yang bersamaan, publik juga tengah dibuat kagum dengan berdatangannya jet latih lanjut dari Korea Selatan, T-50i Golden Eagle. Secara bertahap 16 unit T-50i Golden Eagle berdatangan ke lanud Iswahjudi, hingga ditargetkan jet buatan KAI (Korea Aerospace Industries) ini akan komplit diterima sang user, yakni skadron udara 15 pada akhir tahun 2013 ini.
Ditilik dari spesifikasinya, T-50i punya dua peran utama, yakni sebagai pesawat jet latih lanjut (advance trainer) dan sebagai pesawat jet tempur multirole. Dengan adanya dua kemampuan tersebut, skadron udara 15 seolah menjadi ‘naik kelas,’ bukan saja mengemban peran sebagai skadron latih, tapi juga punya kemampuan meng-handle tugas-tugas pertempuran, baik  misi combat air to air dan air to ground. Identitas pesawat di skadron 15 pun berubah karenanya, bila sebelumnya dengan armada jet Hawk MK.53 label yang disematkan adalah LL (latih lanjut), maka di sayap ekor T-50i terlihat jelas identitas TT (tempur taktis). Ini artinya T-50i diposisikan sama halnya dengan jet Hawk 100/200 yang ada di skadron 1 dan skadron 12. Atau dimasa lalu, tugas ini diemban oleh A-4E Skyhawk.
Kupasan atau bedah sosok elang penempur asal Negeri K-Pop ini sudah banyak diulas oleh beragam media. Selain unsur avionic yang canggih, sesuai standar jet tempur generasi keempat, keunggulan T-50i juga pada adopsi aneka ragam senjata. Bila jet lawas Hawk MK.53 tidak bisa menggotong rudal, maka T-50i justru punya seabreg sista, bahkan etalase senjata yang bisa dibawa setara dengan F-16 Fighting Falcon.
m197
T-50i Golden Eagle TNI AU
T-50i Golden Eagle TNI AU
Untuk urusan menggendong senjata, disiapkan 7 weapon station. Yang bisa dibawa mencakup rudal udara ke udara (AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM), rudal udara ke permukaan (AGM-65 Maverick), roket (Hydra 70 -setipe dengan roket FFAR dan LOGIR – low cost guided imaging rocket), dan untuk bom, bisa membawa tipe MK82, MK83, bom JDAM (joint direct attact munition), dan lain-lain. Tapi senjata utamanya masih ada lagi. Berangkat dari desain kawin silang antara F-16 Fighting Falcon dan F/A-18 Hornet, T-50i juga dibekali kanon internal, alias senjata organik. Jenisnya pun mengacu pada yang dimiliki F-16 dan F/A-18, yaitu kanon gatling multi laras kaliber 20mm.
Vulcan M197 20mm
Adopsi kanon multi laras model gatling punya keuntungan tersendiri, dimana dengan laras putar, panas pada laras akibat tembakan tinggi akan terdistribusi secara rata, umur laras bisa lebih awet.  Berbeda dengan model laras tunggal, seperti kanon ADEN 30mm yang dipakai Hawk 100/200 dan kanon M39-A3 di F-5E/F Tiger II. Di T-50i Golden Eagle, posisi laras kanon gatling Vulcan M197 berada disisi kiri kokpit. Posisi penempatan laras kanon gatling di T-50i, disisi kiri kokpit,  serupa dengan yang ada di jet tempur F-16.
Posisi laras Vulcan M197, ada pada sisi kiri kokpit.
Posisi laras Vulcan M197 di T-50i, ada pada sisi kiri kokpit.
Laras kanon gatling di F-16 Fighting Falcon juga ditempatkan disisi kiri kokpit.
Laras kanon gatling di F-16 Fighting Falcon juga ditempatkan disisi kiri kokpit.
Dirunut dari spesifikasinya, kanon multi laras Vulcan M197 kaliber 20mm dilengkapi tiga laras putar. Sebelum digunakan oleh T-50i, kanon buatan General Dynamics ini sudah terbilang populer diadopsi oleh helikopter serbu AH-1F Cobra dan Super Cobra.  Kanon ini pun bukan kategori senjata kemarin sore. M197 dikembangkan pada awal 1967, rancangan awalnya didasari kebutuhan helikopter serbu AS selama perang Vietnam. Beberapa kalangan berpendat, kanon kaliber 7,62mm pada gunship kurang memadai untuk misi tembakan ke permukaan.
Nah, bagaimana dengan daya gempur Vulcan M197? Kanon yang punya bobot 66,36kg ini dapat memuntahkan 750 sampai 1.500 proyektil dalam satu menit. Kecepatan luncur tiap proyektil mencapai 1.050 meter per detik. Untuk jarak tembak efektifnya antara 1.500 sampai 2.000 meter. Jenis amunisi yang bisa dibawa mencakup tipe API (armor piercing incendiary), HEI (high explosive incendiary), HEI-T, dan MPT-SD. Amunisi ditempatkan dalam drum magasin yang berisi 205 peluru.
Vulcan M197 juga diadopsi pada heli serbu AH-1Z Cobra
Vulcan M197 juga diadopsi pada heli serbu AH-1Z Cobra
Vulcan M61 20mm
TNI AU jelas punya pengalaman dalam mengoperasikan kanon model gatling, tepatnya sejak kedatangan F-16 Fighting Falcon pada 1989/1990, otomatis penerbang dan teknisi TNI AU paham dengan seluk beluk senjata gatling, karena F-16 mengusung kanon integral Vulcan M61 kaliber 20mm. Meski sama-sama satu produsen dan kalibenya pun sama dengan M197, tapi Vulcan M61 dengan enam laras putar ini punya efek gempur yang lebih dahsyat
Vulcan M61 A1 berikut feed system dan drum magasin di jet F-16 Fighting Falcon
Vulcan M61 A1 (6 laras putar) berikut feed system dan drum magasin di jet F-16 Fighting Falcon
 
Dilihat dari spesifikasinya, Vulcan M61A1 pada F-16 A/B Fighting Falcon dapat memuntahkan 4.000 hingga 6.000 proyektil dalam satu menit. Kecepatan luncur proyektilnya 1.050 meter per detik, sementara untuk jarang tembak efektifnya bisa dibilang sama dengan M197 di T-50i. Karena dimensi dan bobot F-16 lebih besar ketimbang T-50i, maka jumlah amunisi yang dibawa pun lebih banyak. Dengan model magasin drum, dapat dibawa hingga 511 peluru. Karena punya enam laras, bertanya pun mencapai 112kg, belum termasuk feed system-nya. Sementara untuk jenis amunisinya, setali tiga uang dengan M197, karena kalibernya memang sama. (Gilang Perdana)
Spesifikasi Vulcan M197 20mm:
  • Manufaktur                        : General Dynamics Armament Systems
  • Kaliber                                  : 20mm
  • Berat                                     : 66,36kg
  • Cartridge                             : 20x102mm
  • Jumlah laras                       : 3
  • Kecepatan tembak          : 750 – 1.500 proyektil/menit
  • Kecepatan proyektil       : 1.050 meter/detik
  • Jarak Tembak                    : 1.500 – 2.000 meter
Indo.

Type 80 Giant Bow 23mm: Kanon Perisai Bandara Soekarno Hatta



Bila terjadi agresi militer, bandar udara (bandara) menjadi salah satu obyek utama yang wajib dilumpuhkan oleh musuh, atau akan lebih bagus jika bisa diduduki, maklum keberadaan bandara dapat dimanfaatkan sebagai basis tumpuan untuk operasi tempur lanjutan. Karena keberadaan bandara yang amat penting, tak heran bila bandara masuk dalam ketegori obvit (obyek vital) yang mendapat porsi perlindungan ekstra, selain instalasi militer dan istana negara.
Bicara soal bandara yang mendapat perlindungan ekstra, di Indonesia tentu akan merujuk pada bandara Soekarno Hatta (Soetta) yang berlokasi di Tangerang – Banten. Mengemban peran sebagai gerbang keluar masuk ke jantung Ibu Kota, bandara Soetta mendapat perlindungan penuh dari beragam alutsista, seperti rudal Grom dengan platform Poprad, kanon  23mm/ZUR komposit rudal Grom, rudal Starstreak, dan kanon Type 80 Giant Bow kaliber 23mm. Sementara dari jumlah satuan, guna melindungi Ibu kota  keseluruhan, melibatkan kekuatan Detasemen Rudal 003, Yon Arhanudri 1 Kostrad, Yon Arhanudse 6, dan Yon Arhanudse 10. Dalam pertahanan udara titik, tentu tidak hanya menyandarkan pada jenis kanon dan rudal, tapi melibatkan meriam PSU (penangkis serangan udara), seperti meriam lawas tipe S-60.
Untuk rudal Grom telah dibahas di artikel terhadulu, dan kini kami coba ulas sosok kanon Type 80 Giant Bow kaliber 23mm. Kanon penangkis serangan udara dengan dua laras ini diproduksi oleh Norinco, Cina. Seperti sudah jadi kebiasaan, kanon ini pun merupakan jiplakan dari produk serupa asal negara lain. Type 80 merupakan copy-an dari kanon ZU-23-2 produksi Rusia. Giant Bow atau disebut juga Shengong dapat dikendalikan secara manual atau otomatis dengan integrasi sistem.
Giant Bow 23mm di pameran Alutsista 2013
Giant Bow 23mm di pameran Alutsista 2013

Mau tahu seberapa garang kanon ini? Kecepatan luncur proyektilnya mencapai 970 meter per detik. Sementara untuk jarak tembak, untuk sudut vertikal maksimum 1.500 meter, dan sudut horizontal maksimum 2.000 meter. Tapi, bila bicara jarak tembak mendatar maksimum bisa hingga 2.500 meter. Untuk merontokkan pesawat yang terbang rendah sudah barang tentu perlu kecepatan tembak yang spektakuler, secara teori disini 1.500 – 2.000 proyektil dapat dimuntahkan dalam 1 menit. Sedangkan untuk kecepatan tembak praktis 400 proyektil per menit. Jenis amunisi yang biasa digunakan adalah HEI-T dan API-T.
Kanon yang diproduksi tahun 2000 ini punya bobot 1.250kg, dalam gelar operasinya biasa ditarik dengan truk Unimog. Kanon yang diawaki 5 orang personel ini dapat digelar dalam tempo kurang dari 5 menit. Ada dua kursi operator pada kanon ini, dan dalam skema operasi mandiri, dapat pula ditangani oleh satu juru tembak. Peran awak lainnya diperlukan untuk loading amunisi (magasin) dan penggantian laras. Giant Bow dapat digerakan secara kinetik/manual (dengan putaran engkol), atau dapat pula dioperasikan secara elektrik lewat joystick. Buat awak senjata, tentunya lebih nyaman mengendalikan secara elektrik.
Seperti halnya kanon PSU pada umumnya, Giant Bow memiliki sudut putar 360 derajat. Sedangkan sudut elevasi laras dengan sistem manual yakni -5 sampai 90 derajat, dan elevasi laras dengan sistem elektrik mulai dari -3 sampai 90 derajat.
Gelar Operasi Tempur
Kanon Giant Bow saat ini menjadi etalase sista di Yon Arhanudri 1 Kostrad, yang bermarkas di bilangan Serpong, Tangerang – Banten. Selain punya tanggungjawab menjadi perisai bandara Soetta, batalyon ini juga punya tugas untuk mengamankan Pusat Penelitian Ilmu dan Teknologi (Puspitek) di Serpong, Tangerang – Banten.  Yon Arhanudri 1 memiliki 2 baterai kanon Giant Bow, dengan jumlah total ada 18 pucuk yang siap digunakan. Sebenarnya masih ada 1 pucuk lagi yang ditempatkan di Pusat Pendidikan Arhanud (Pusdikarhanud).
Inilah tampilan peluru kaliber 23mm
Inilah tampilan peluru kaliber 23mm
Box magasin yang berisi 50 peluru.
Box magasin yang berisi 50 peluru.
Menghindari panas berlebih, setiap 200 kali tembakan, laras harus diganti.
Menghindari panas berlebih, setiap 200 kali tembakan, laras harus diganti.
Dalam aksi tempurnya, kanon dua laras ini dibekali 2 box magasin (di kiri dan kanan). Masing-masing box magasin hanya berisi 50 butir peluru. Bisa dibayangkan betapa borosnya amunisi yang harus dikeluarkan dalam aksi tembak cepat. Awak pendukung pastinya harus selalu siap bongkar pasang magasin dalam sikap tempur. Satu lagi yang cukup menantang, karena kecepatan tembak yang tinggi, membuat laras cepat panas. Secara prosedur, setiap 200 tembakan laras harus diganti. Kebetulan memang laras dirancang untuk bisan diganti secara cepat. Kabarnya, setiap kali latihan minimal harus disiapkan empat laras pengganti.
Integrasi Sistem Senjata
Sebagai sista modern, Giant Bow juga dapat dioperasikan secara terpadu. Lewat kendaraan BCCV (Battery Command & Control Vehicle) dapat dikendalikan sebanyak 4 sampai 8 pucuk kanon secara bersamaan dari jarak jauh. Dalam skema integrasi sistem senjata ini, setiap pucuk kanon tidak diperlukan lagi jasa dari juru tembak, semua keputusan tembakkan dilakukan secara terpusat dari truk komando BCCV. Hanya saja awak untuk loading amunisi harus tetap siaga, pasalnya loading amunisi masih manual. Sebagai info, BCCV ditempatkan pada truk Beiben (tiruan Mercy) buatan Cina.
Truk BCCV
Truk BCCV
Truk radar AS901A 3D
Truk radar AS901A 3D
Di dalam truk komando BCCV, dilengkapi teropong bidik taktis TACTICOS dengan pembesaran 11x dan perangkat ODU (Optikoptical Director Unit). Tidak hanya BCCV saja, dalam paket intergrasi sista Giant Bow juga mencakup keberadaan mobile radar. Radar berperan sebagai panca indra dari BCCV dan Satbak (satuan tembak). Dalam platform truk Tiema XC230 4×4 (tiruan Mercy 2026) ditempatkan radar AS901A 3D. Radar yang beropersi di frekuensi L-band 10Mhz ini punya jangkauan deteksi lebih dari 30km, dan jangkauan deteksi ketinggian sampai 4km. Radar ini juga dibekali IFF (Identification Friend or Foe) interrogator.
Sebelum hadirnya Giant Bow, Yon Arhanudri Kostrad juga sudah berpengalaman menggunakan kanon PSU otomatis, yakni dari jenis Rheinmetall kaliber 20mm. Kanon dua laras buatan Jerman ini mulai digunakan Arhanud TNI AD sejak 1980 dan sampai saat ini masih aktif digunakan, memperkuat etalase sista SHORAD (short range air defence) di lingkup Kohanudnas.
Kanon jenis ini juga dapat dioperasikan dari atas truk.
Kanon jenis ini juga dapat dioperasikan dari atas truk.
Sebagai penutup, di area Jakarta masih ada bandara yang sangat strategis, yakni bandara Halim Perdanakusumah. Tapi karena dioperasikan juga sebagai pangkalan udara TNI AU, maka untuk pertahanan titik menjadi tanggungjawab utama dari Paskhas yang juga dibekali rudal SAM QW-3. (Bayu Pamungkas)
  • Produksi                              : Norinco, Cina
  • Kecepatan Proyektil       : 970 meter per detik
  • Kecepatan Tembak         : 1.500 – 2.000 proyektil per menit
  • Berat kosong                     : 950kg
  • Lebar Siap Angkut            : 1,83 meter
  • Lebar SiapTempur Roda Terlipat                : 2,88 meter
  • Tinggi Siap Angkut           : 1,83 meter
  • Tinggi Dalam keadaan terkunci   : 1,22 meter
  • Sudut Putar                        : 360 derajat
  • Sudut Elevasi                     : -5 sampai 90 derajat
Indo.

Menhan: RUU Komcad Tak Haruskan Warga Negara Ikut Wajib Militer

JAKARTA,  — Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan (UU Komcad) tidak mewajibkan semua warga negara untuk ikut dalam wajib militer. Menurutnya, adanya anggapan wajib militer sudah salah persepsi.

"Banyak salah persepsi bahwa adanya UU komponen cadangan membuka kesempatan wamil. Tidak, saya katakan," ujar Purnomo, di Markas Rindam Jaya, Jakarta, Selasa (24/9/2013).

Purnomo mengungkapkan, wajib militer tidak berlaku untuk semua. Kegiatan ini berlaku bagi warga negara yang diundang dan lulus tes. "Dia harus melakukan wajib militer setelah menandatangani kontrak selama sekian tahun sesuai dengan yang ditetapkan oleh UU," jelasnya.

"Sebaliknya, mereka yang tidak lulus, tidak ikut wajib militer," tambah Purnomo.

Ia juga mengatakan, program bela negara yang dijalankan oleh Kementerian Pertahanan sejalan dengan RUU Komcad yang digagas pemerintah. Berbeda dengan militer pada umumnya, pelatihan bela negara bagi sipil tidak terlalu banyak mempelajari latihan militer.

"Materinya lebih banyak tentang kedisiplinan, national character building, yang diharapkan berguna dalam pekerjaan mereka sebagai PNS," kata Purnomo.

Pada hari ini, Purnomo menutup pendidikan dan pelatihan (diklat) bela negara PNS Kementerian Pertahanan di Markas Rindam Jaya, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sebelumnya, para peserta diklat dilatih secara militer oleh TNI selama satu bulan. Selama dua minggu pertama dilatih di hutan dan dua minggu setelahnya di Markas Rindam Jaya. Di hadapan para pejabat Kementerian Pertahanan, para peserta diklat mendemonstrasikan hasil latihannya tersebut seperti latihan baris berbaris, bela diri, dan membongkar senjata. 

Kewajiban Bela Negara Bagi Setiap Warga Negara

Salah satu solusi jangka panjang menjaga keutuhan, keamanan, dan kenyamanan hidup berbangsa dan bernegara, setiap negara membutuhkan fundamental ekonomi, budaya, dan pertahanan keamanan nasional yang kuat dan kokoh. Tanpa fundamental ketahanan nasional yang kuat, ancaman keamanan dan kenyamanan bangsa sangat rentan. Untuk itu, solusinya adalah pendidikan kewarganegaraan melalui pendidikan bela negara.
Pendidikan bela negara ini menjadi penting, karena pertama kebutuhan legal. Secara hukum, khususnya merujuk Pasal 30 UUD 1945, setiap warga negara memiliki kewajiban bela negara. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan bela negara menjadi sesuatu hal yang legal dan dipayungi konstitusi negara yang sangat kuat.
Kedua, sebagaimana merujuk pada penjelasan di atas, pendidikan bela negara menjadi sesuatu yang wajib, sejalan dengan kenyataan empiris yang berkembang saat ini, yaitu jika dikaitkan dengan kondisi empiris Indonesia yang berada pada persimpangan kepentingan dunia. Realitas empiris inilah yang menjadi satu kebutuhan Indonesia untuk melakukan reorientasi sistem ketahanan nasional.
Ketiga, kepentingan masa depan, khususnya dikaitkan dengan potensi ancaman di masa yang akan datang. Negara besar yang kuat secara militer dan atau kuat secara ekonomi-politik, merupakan ancaman yang potensial sebagai terorisme negara di masa yang datang. Sebagai contoh kasus penyerangan ke Irak. Kendati tidak mengantongi izin PBB, AS yang merasa kuat secara ekonomi dan militer, kemudian melaksanakan penyerangan ke Irak. Hal demikian, menjadi preseden dan indikasi bahwa negara yang kuat secara ekonomi dan militer, potensial menjadi terorisme negara kepada negara-negara lain. Dengan mengatasnamakan melawan terorisme, negara besar dapat menjadi negara teroris.
  • Pengertian Bela Negara
Bela Negara adalah sebuah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut.
Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya.
  • Pengertian Bela Negara ( UU No 3 tahun 2002 Pasal 9 ayat 1 )
Sikap dan prilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
  • Landasan konsep Bela Negara
Landasan konsep bela negara adalah adanya wajib militer. Subyek dari konsep ini adalah tentara atau perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer).
  • Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang. Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata.
  • Unsur Dasar Bela Negara
    • Cinta Tanah Air
    • Kesadaran Berbangsa & bernegara
    • Yakin akan pancasila sebagai ideologi negara
    • Rela berkorban untuk bangsa & negara
    • Memiliki kemampuan awal bela negara
    • Berdasarkan UUD 1945 pada pasal 30 tertulis bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.” Dan “syarat-syarat tentang pembelaan diatur oleh UU.” Jadi sudah jelas, mau tidak mau kita wajib ikut serta dalam membela negara dari segala macam ancaman, gangguan, dan hambatan baik yang datang dari dalam maupun dari luar.
    • Dasar hukum dan peraturan tentang wajib bela negara
      • Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep wawasan nusantara dan keamanan Nasional.
      • Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
      • Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI. Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
      • Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI
      • Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI danPOLRI.
      • Amandemen UUD ’45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
      • Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang pertahanan negara
      • Landasan hukum bela negara
a. Landasan Idiil ; Pancasila
b. Landasan Konstitusional ; UUD 1945 (Amandemen)
  • Pasal 27 (3) ; Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara
  • Pasal 30 (1 &2) ;
(1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara
(2) Usaha pertahanan keamanan negara dilaksanakan melalui Sishankamrata (TNI sebagai komponen Utama dan Rakyat sebagai komponen Pendukung).
c. Landasan Operasional ; UU No. 3 Tahun 2002 (lihat Pengertian Bela Negara ).
  • Wujud bela negara ( UU No 3 Tahun 2002 )
a. Pendidikan Kewarganegaraan
b. Pelatihan dasar kemiliteran secara wajib
c. Pengabdian sebagai prajurit TNI secara sukarela
d. Pengabdian sesuai profesi
  • Contoh-Contoh Bela Negara :
    • Melestarikan budaya
    • Belajar dengan rajin bagi para pelajar
    • Taat akan hukum dan aturan-aturan negara
    • Arti penting pembelaan negara
a. Sebagai syarat berdirinya suatu negara
b. Untuk melindungi kedaulatan negara
c. Untuk mempertahankan keutuhan wilayah negara
d. Untuk semua warga negara agar memiliki kewajiban dan hak yang jelas dalam ikut serta pembelaan terhadap negara.
  • Alasan bela negara
a. Menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan
b. Ingin memajukan Negara
c. Mempetahankan Negara jangan sampai dijajah kembali
d. Meningkatkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia internasional.
  • Bentuk-bentuk bela negara
a. Secara Fisik
Segala upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara dengan cara berpartisipasi secara langsung dalam upaya pembelaan negara (TNI Mengangkat senjata, Rakyat Berkarya nyata dalam proses Pembangunan).
b. Secara Non Fisik
Segala upaya untuk mempertahankan NKRI dengan cara meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan pada tanah air serta berperan aktif dalam upaya memajukan bangsa sesuai dengan profesi dan kemampuannya.
  • Wujud bela negara bagi pelajar
a. Lingkungan Keluarga ; Memahami hak dan kewajiban dalam keluarga, menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga, Demokratis, menjaga nama baik keluarga dll
b. Lingkungan Sekolah ; Patuh pada aturan sekolah, berkata dan bersikap baik, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, tidak ikut tawuran dll
c. Lingkungan Masyarakat ; Aktif dalam kegiatan masyarakat, rela berkorban untuk kepentingan masyarakat
d. Lingkungan berbangsa dan bernegara ; Menghormati jasa Pahlawan, berani mengemukakan pendapat, melestarikan adat dan budaya asli daerah.
  • Pengertian pertahanan negara
Segala usaha untuk mempertahakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa dari segala bentuk ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara
  • Pengertian ancaman
Setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa.
  • Jenis-jenis ancaman
a. Ancaman Militer ; Ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisir yang dinilai dapat mengancam kedaulatan negara.
  • Spionase
  • Sabotase
  • Aksi teror bersenjata
  • Agresi
  • Pelanggaran wilayah
  • Bentrokan bersenjata
  • Perang saudara
b. Ancaman Non Militer ; Ancaman yang mengganggu sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara
  • Aksi radikalisme
  • Konflik komunal
  • Terorisme
  • Gerakan separatis
  • Kejahatan lintas negara
  • Kegiatan imigrasi lengkap
  • Gangguan keamanan
  • Polusi
  • Bencana alam
Blogger.

Sikap Bela Negara di Generasi Muda, Mulai Meluntur

Jakarta : Negara telah mengamanahkan kewajiban warga negara untuk membela negara. Amanah tersebut tertuang dalam  Pasal 27 ayat 3 UUD 1945. Di pasal itu disebutkan “setiap warganegara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara".
Namun kewajiban bela negara sudah mulai meluntur, khususnya dikalangan anak-anak muda. Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan  Mayjen TNI  Hartind Asrin  mengatakan kesadaran bela negara dikalangan generasi mulai meluntur.
 “Memang terjadi penurunan atau degradasi terhadap bela negara dari generasi muda kita sekarang. Sudah mulai meluntur,” ujar Mayjen TNI  Hartind Asrin, dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu (4/9/2013).
Menurutnya, tantangan untuk anak muda sekarang ini adalah kurang pahamnya akan sejarah bangsa Indonesia. Tonggak sejarah anak muda dimulai tahun 1908 dengan pergerakan anak muda Budi Oetomo yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Perjuangan untuk menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang.
Oleh sebab itu, kata Hartind, Kementerian Pertahanan akan terus melakukan sosialisasi pentingya sikap bela negara sebab tugas berat era saat ini adalah bukan mengangkat senjata melainkan serangan non militer seperti serangan bandar narkoba.
Sosialiasi tersebut diantaranya melalui outbond.
“Kita akan terus mensosialisasikan ke daerah tentang bela negara misalnya dalam bentuk outbond, pentingnya meyakini dan memahami ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila,” ujar Mayjen TNI Artin Asrin yang juga merupakan  Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen Hartind Asrin.
RRI 

Warisan Habibie dan Peningkatan Kapabilitas Industri Pertahanan Nasional

Kisah bermula dari dipanggil pulangnya BJ Habibie(selanjutnya disingkat BJH) ke tanah air pertengahan dekade 70-an. Beliau yang saat itu sudah menjabat sebagai Vice President perusahaan pesawat terbang Jerman, MBB, mendapat misi dari pak Harto untuk membangun kemandirian Iptek.

Ide awal dari BJH adalah bagaimana  membangun Iptek bangsa tanpa harus memperlebar celah ketertinggalan Iptek dari negara maju, bahkan untuk semakin memperkecil celah tersebut. Karena jikalau dimulai dengan cara yang konvensional, memulai dengan R&D, maka  kita akan makin jauh tertinggal dengan negara-negara maju yang puluhan tahun lebih dulu R&D di berbagai bidang. Disamping itu, menurut istilah yang digunakan BJH, kemungkinan besar hasil yang kita dapat hanyalah "penemuan kembali roda" yang sudah ditemukan oleh negara-2 maju tersebut puluhan tahun sebelumnya. Disisi lain, beliau juga harus mempertimbangkan aspek kemampuan ekonomi bangsa.

Apapun jalan/cara yg akan dipilih sudah pasti memerlukan biaya ekonomi dan investasi yang besar. Singkatnya beliau mencoba mencari jalan tengah agar biaya dan investasi yang besar itu efektif memberikan penguasaan dan pendalaman Iptek yang dapat bersaing secara internasional dan terwujud dalam masa yang relatif singkat . Akhirnya beliau menimbang cara "radikal" (atau "progresif revolusioner" istilah PKI dulu) yang terbaik adalah dengan "4 tahapan transformasi industri".

Ini adalah jalan pintas paling tepat sesuai situasi dan kondisi bangsa. Jenis teknologi/industri yang dipilih pun harus sesuai dengan permasalahan pembangunan bangsa(problem oriented) dan mampu mengatasi problem-problem tersebut. Uraian berikut disadur dari makalah pidatonya di Bonn, Jerman, tahun 1983 berjudul : "Beberapa Pemikiran tentang Strategi Transformasi Industri Suatu Negara Sedang Berkembang".

Contoh identifikasi problem pembangunan oleh BJH adalah: Indonesia sebagai negara kepulauan. Karenanya industri transportasi darat, laut, udara adalah strategis untuk mengatasi problem mobilitas penduduk dan barang(karena itu PTDI,PT PAL, dan PT INKA termasuk dalam industri strategis).

Kemudian industri telekomunikasi dan elektronika (sekarang ditambah informasi/IT) juga mutlak ada sebagai pemersatu dan sarana komunikasi bangsa(karenanya didirikan PT LEN/INTI).

Kemudian setelah mengkaji problem-problem pembangunan yang lainnya, ditentukanlah jenis-jenis industri strategis yang dianggap sebagai solusi mengatasi problem-problem pembangunan tersebut. Jadi lengkapnya bidang-2 industri yang dianggap strategis saat itu adalah:


  • Industri transportasi laut, udara,dan darat
  • Industri energi
  • Industri enjinering/rekayasa dan desain
  • Industri mesin dan peralatan pertanian
  • Industri pertahanan
  • Industri pekerjaan umum/teknik sipil

Kesemuanya oleh pemerintah di wujudkan dalam beberapa BUMNIS. Dikemudian hari, industri-industri yang termasuk dalam BUMNIS ini digabung dalam satu holding company bernama PT Bahana Prakarya Industri Strategis (PT BPIS) sebagai upaya optimasi aspek bisnis. Tujuan lainnya agar jika masing-masing industri strategis ini sudah punya produk unggulan, maka dapat menjadi partner sejajar dengan konglomerasi-2 perusahaan multinasional (Semacam GE, Siemens, Mitsubishi, dll) yang mencari pasar di Indonesia. Diluar industri-industri strategis, juga dibentuk suatu kawasan otoritas khusus untuk industri manufaktur maju yang akan menyaingi Singapura, yaitu Batam.

Kemudian semua industri-industri strategis tersebut di tetapkan sebagai wahana-wahana transformasi industri untuk penguasaan Iptek dalam 4 tahapan yang sistematis :

  1. Lisensi & progressive manufacturing, Sasarannya pengenalan dan penguasaan teknologi produksi/manufacturing yang maju untuk  satu produk unggulan yang sudah ada di pasaran,Contoh: C-212
  2. Technology integration, Dengan penguasaan teknik produksi yg maju, mencoba mengintegrasikan komponen-komponen teknologi yang sudah ada menjadi produk baru,Contoh: CN-235
  3. Desain& rancang bangun produk baru unggulan, setelah penguasaan integrasi teknologi, mencoba membangun produk yang sama sekali baru secara mandiri,Contoh:N-250.
  4. R&D, setelah mampu membuat satu produk baru, maka melalui litbang di harapkan dapat diciptakan penyempurnaan,inovasi, modifikasi,atau produk yg lebih maju utk meraih dan mempertahankan keunggulan produk di pasaran internasional,contoh N-2130(pada gambar bawah, masih masuk tahap-3 akhir)
 

4 Tahapan Transformasi PTDI
4 Tahapan Transformasi Industri PTDI
(Gambar: http://www.indonesian-aerospace.com/book/c2.htm )


Menyiapkan Infrastruktur R&D


Tidak cukup hanya mendesain strategi transformasi industri untuk percepatan penguasaan Iptek industri, BJH juga mempersiapkan infrastruktur Iptek yang lengkap dan kokoh untuk R&D  pengembangan sains dan teknologi yang lebih umum dan luas dari cakupan industri-industri strategis diatas. Uraian berikut saya sadur dari buku "Iptek Nasional Pasca Habibie" (DR. Nur Mahmudi Ismail, DR. Mulyanto, 2004).

Infrastruktur iptek  tersebut terdiri dari Humanware (SDM iptek),  Orgaware (lembaga-lembaga iptek), Technoware ( Laboratorium-2 dan peralatan iptek ) , Infoware ( Pusat dokumentasi dan jaringan informasi iptek), Cultureware ( Skema program penelitian RUK, RUT, RUSNAS,dll).

Garis besarnya sebagai berikut:
  • Humanware/SDM Iptek : Pemberian beasiswa besar-besaran ke luar negeri pada para pelajar dan mahasiswa berprestasi untuk kemudian    mengabdi pada LPND-LPND dan industri-2 strategis pemerintah. Juga tersedia beasiswa  S2 dan S3 luarnegeri ataupun studi paska doktoral.
  • Orgaware/Lembaga2 Iptek: LIPI bertugas merumuskan dan mengkoordinasikan pembangunan Sains, sedang BPPT dengan fungsi yang sama di bidang Teknologi. BATAN, LAPAN, Bakosurtanal,dll Lembaga Penelitian Non-Departemen (LPND) juga termasuk didalamnya.
  • Technoware : Pemerintah membangun PUSPITEK sebagai pusat laboratorium-2 R&D dari semua divisi-2 yang ada dalam LIPI,BPPT,BATAN,dll. direncanakan juga tadinya akan dibangun technopark didekat PUSPIPTEK-Serpong.
  • Infoware : Membangun pusat dokumentasi R&D Iptek, jaringan info Iptek dan peneliti. utk hal ini di PUSPIPTEK didirikan Pusdok LIPI.
  • Cultureware : Untuk membangun budaya riset yang unggul, maka di perlukan skema-2 kerjasama penelitian dari LPND,  Litbang Industri, Perguruan-2 Tinggi. Sebab itu didirikan Dewan Riset Nasional(DRN) yang melakukan lembaga kordinasi dan evaluasi riset berupa Kebijakan Satu Pintu(KSP) dalam rangka penajaman,efisiensi,koordinasi dan pencegahan duplikasi tema riset serta penggalangan kemitraan riset dari seluruh lembaga riset pemerintah, litbang industri, dan perguruan tinggi. Beberapa skema riset yang kita kenal seperti Riset Unggulan Terpadu(RUT),Riset Unggulan Terpadu Internasional(RUTI), Riset Unggulan Kemitraan(RUK),Riset Unggulan Nasional(RUSNAS),dll.

Disadari bahwa pembangunan SDM Iptek tidak hanya dihasilkan dengan mendidik SDM tersebut dari S1,S2, sampai S3. Tetapi juga melalui pelibatan SDM tersebut dalam proyek nyata (project oriented) atau penggodokan dalam industri. Maka para periset itupun selain melakukan riset di institusinya, juga terkadang dilibatkan dalam proyek-2 yang ada di industri-2 strategis. Jadi memulai tahapan R&D (dari 4 tahapan transformasi industri) tidak harus menunggu sampai tahap ke 3 selesai. Dapat berjalan paralel dari tahap pertama sekalipun,sehingga budaya riset yang unggul diharapkan sudah matang dan mapan saat tahap ke 4 dimulai. Keunggulan lainnya, menghemat waktu alih teknologi jika dibandingkan cara konvensional yang memulai dengan R&D dulu.

Untuk memayungi kegiatan Iptek secara hukum pun telah disahkan UU Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan,dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi(SISNASP3IPTEK). Bahkan sejak 1993 pengembangan Iptek berhasil masuk dalam bidang sendiri di GBHN(Sekarang ini kata-2 Iptek sudah dihapuskan lagi dari GBHN).

BJH juga mendorong terbentuknya Akedemi Ilmu Pengetahuan Indonesia(AIPI) yaitu academy of science-nya Indonesia. Anggotanya terdiri dari ilmuwan-2 pakar terkemuka Indonesia. Harapannya ikut membantu merumuskan dan memantau arah pengembangan ilmu pengetahuan Indonesia. Meskipun akhirnya lembaga ini kurang terdengar gaung dan perannya.


Metoda Lain Transformasi Industri: Studi Kasus Texmaco


Diluar itu, BJH juga merangkul industri swasta nasional yang juga melakukan pendalaman penguasaan Iptek dengan cara yang mereka terapkan sendiri. Contohnya adalah Grup Texmaco, milik pengusaha keturunan India, Marimutu Sinivasan. Texmaco dengan strategi pendalaman industri yang lebih dikenal dengan "pohon industri"  dengan penguasaan teknologi makin lama makin dalam dan bergerak dari hilir ke hulu.

Yang awalnya sebagai industri tekstil,Texmaco mulai membangun industri logam, untuk membuat spare part dari mesin-2 tekstil mereka yang rusak, dalam rangka substitusi impor. Sampai akhirnya Texmaco berani membuat mesin tekstil itu sendiri. Bahkan terus bergerak ke hulu dengan memproduksi mesin-2 yang digunakan dalam pembuatan mesin tekstil itu sendiri, semisal mesin CNC.

Keberhasilan Texmaco membuat mereka percaya diri untuk terjun ke dalam industri otomotif dan heavy machinery dengan mendirikan Texmaco Perkasa Engineering. Texmaco memboyong  peralatan pabrik dari satu negara Eropa Timur(saya lupa nama negaranya) untuk merintis produk otomotif seperti truk merk Perkasa, traktor untuk pertanian, dll. Tak lupa mereka mendirikan industri spare part dan pengecoran logam pula untuk mendukung industri otomotif dan alat beratnya itu, termasuk nantinya engine otomotif dan sistem transmisi/gearbox. Memang teknologi pabriknya teknologi lama, tapi tak membuat produknya ketinggalan jaman. Karena pada akhirnya Texmaco juga akan berniat merintis pembuatan peralatan pabrik otomotif tersebut untuk memodernisasi fasilitas produksinya. Seperti yang pernah di lakukannya pada industri textil Texmaco. Tidak lupa untuk mensuplai pekerja-2 berkeahlian industri,Texmaco mendirikan STT Texmaco. Atas dasar ini semua, BJH memasukkan Texmaco sebagai salah satu industri strategis dari kalangan swasta nasional.

Ini mirip seperti seorang rekan milis ARC yang menyebutkan, Cina memboyong perusahaan mobil Jerman Zundapp ke Cina. Dan lagi, strategi pendalaman industri model Texmaco ini adalah yang lazim diterapkan oleh perusahaan-perusahaan India di negara asalnya.

Hal-2 diatas semua di rintis bertahap dan jelas tapi pasti  oleh BJH selama rentang 30 tahun. Jadi masa itu kita bukan hanya punya program pengembangan Iptek yang jelas arahnya  dan sistematis target dan waktu yang ingin dicapai. Tapi juga telah terbentuk Infrastruktur Iptek yang lengkap dan kokoh. Tinggal dioptimalkan fungsi dan koordinasi yang ada dalam struktur Iptek nasional tersebut.


Nasib Iptek Paska BJH


Setelah terjadinya krismon tahun 1997 dan lengsernya BJH dari dunia politik (dengan ditolaknya LPJ presiden Habibie oleh MPR), maka yang terjadi adalah de-habibienisasi besar-2 an oleh tangan-2 IMF maupun lawan-2 politiknya. Hingga hari ini kita tidak melihat program iptek nasional yang jelas dari pemerintah. Yang ada pelan-2 infrastruktur Iptek yang sudah terbangun kuat mulai melemah. SDM Iptek banyak yang cabut ke luar negeri(baca: brain drain untuk dimanfaatkan negara-2 luar), tak ada lagi program beasiswa pelajar dan mahasiswa untuk regenerasi SDM Iptek,Fasilitas riset dan PUSPIPTEK tidak di up-grade, industri-2 strategis di restrukturisasi IMF(termasuk Texmaco), Kawasan otoritas Batam dihilangkan, BPIS dibubarkan, bidang Iptek dihapus dari GBHN, Menristek suatu waktu pernah dijabat oleh "pengamat politik partisan" yang tak ada latar belakang Iptek sama sekali.

Diakui ada kelemahan-2 dalam 20 tahun lebih masa pengabdian BJH di bidang Iptek. Seperti IPTN yang jadi primadona industri strategis, sehingga industri-2 strategis lainnya tertinggal, bahkan ada yang seperti belum terbina. Seperti industri mesin dan peralatan pertanian. Padahal Indonesia adalah kaya akan komoditas, baik pangan, energi maupun bahan tambang. Kalau ini juga dibina dengan baik, maka Indonesia akan lebih makmur karena berhasil memberikan nilai tambah pada produk-2 ekspor komoditasnya. Kita akan mampu ekspor makanan olahan bukan hanya produk mentah pertanian. Kita juga akan mampu ekspor bermacam logam-jadi, tidak hanya ekspor bijih besi,bijih aluminium, bijih tembaga,dll.

Mungkin karena dana yang dianggarkan terbatas maka BJH memilih satu industri strategis untuk membuktikan pada pak Harto dan rakyat Indonesia bahwa strateginya berhasil. Padahal seharusnya semua industri strategis harus jadi pilot project pengembangan industri-2 swasta sejenis di dalam negeri.

Kekurangan lain yang terlihat adalah remunerasi yang diberikan pada SDM Iptek nasional dirasa masih kurang. Dana riset dan SDM Iptek pun masih sangat kecil dari dulu sampai sekarang. Apabila dibandingkan dengan negara-2 tetangga, mereka bisa menganggarkan riset 1-2 % dari GDP. sedang kita kira-2 0,3% saja dari GDP.

Namun seharusnya kekurangan-2 tersebut tidak menjadikan pemerintahan-2 paska BJH menyia-nyiakan atau malah membumi-hanguskan apa-2 yang telah beliau bangun dan rintis dalam 2 dekade. Karena konsep beliau bukanlah konsep yang gagal, malah terbukti berhasil mencapai level teknologi yang diinginkan dalam waktu relatif singkat. Tapi seharusnya memperbaiki dan menyempurnakan apa-2 yang kurang atau belum ada dalam masa 20 tahun lebih tersebut. Apa yang telah diinvestasikan negara dalam industri-2 strategis tidaklah akan sia-2 jika usaha pengembangan dilanjutkan lagi saat ini. Faktanya utang yang dipunyai PTDI masa restrukturisasi IMF dulu tak lebih dari 1% dari dana bail-out BLBI yang ratusan trilyun rupiah. Dana hutang yang harus ditanggung rakyat oleh pengusaha-2 hitam perbankan  untuk kepentingan pribadi.Apalagi jika dibanding dana-2 yang dikorup tikus-2 koruptor jika digabungkan.

Alih Teknologi dalam Pengadaan Alustsista


Warisan yang ditinggalkan BJH sungguh suatu aset yang sangat berharga sebagai modal pembangunan Iptek ke depannya. Jika negara-2 jiran ingin mengejar kita ,itu tak akan mudah dilakukan hanya dengan menyiapkan SDM-SDM iptek  dalam jumlah besar. Butuh infrastruktur Iptek yang lengkap dan kuat seperti yang sudah kita punya dan juga Strategi penguasaan Iptek yang jelas dan sistematis. Sedang kita sudah punya semua itu, tinggal melanjutkan saja dan akselerasi mengingat ekonomi makro kita makin baik dan stabilitas politik yang kian mapan.


N2130
N-2130
Dalam konteks Industri pertahanan, hal itu bisa dilanjutkan dengan cetak biru rencana pertahanan yang jelas secara jangka panjang, kemudian disinkronkan dengan kemampuan industri strategis nasional untuk menggapai level teknologi yang lebih tinggi. Salah satunya dengan cara Transfer of Technology (ToT)  dalam pembuatan alutsista berteknologi tinggi dan unggul. Hingga suatu saat kita bisa mandiri dengan mengandalkan industri pertahanan dalam negeri dan mempertahankan keunggulan teknologi yang kita kuasai untuk dapat bersaing dengan teknologi-2 alutsista luar negeri. Efek deteren yang didapat akan berlipat ganda ketimbang hanya sebagai pembeli dan pemakai alutsista teknologi canggih paling mutakhir sekalipun.

Itu sebabnya saya pribadi selalu mendukung bila ada pembelian alutsista dengan skema ToT, karena melihat keseriusan pemerintah mengembangkan teknologi sendiri belum terlihat seperti saat sebelum Krismon 1997. Jadi proyek ToT alutsista adalah satu jalan yang lebih realistis untuk sekarang ini.  Sedikit kurang canggih dari yang dipunyai negara tetangga tidak apa-2 (tapi tetap ada efek deteren), asalkan kita tak hanya  mampu membeli tapi mampu membuatnya lagi. Intinya level penguasaan teknologi selalu bertambah.

Namun sekali lagi juga diperlukan kesungguhan pemerintah membentuk postur pertahanan  yang disegani. Jika Presiden SBY sudah menyatakan anggaran pertahanan akan dinaikkan jadi 1,5 % dari GDP, seharusnya kita dapat memesan alusista yang belum bisa di buat di dalam negeri dalam jumlah yang signifikan. Karena seperti pernah seorang rekan milis ARC ungkapkan, ada semacam rule of thumb dalam pembelian alutsita. Kalau dibawah selusin ya beli di luar, tapi mungkin gak dikasih ToT. Kalau beli puluhan ya bisa lisensi. Kalau beli ratusan baru akan ekonomis untuk  buat sendiri atau kerjasama.

Civis Pacem Parabellum: Kemandirian Teknologi, Aspek Penting Ketahanan Nasional


Kesimpulannya sekarang tergantung pemerintahan yang berkuasa, apakah mau berpihak pada penguasaan Iptek dan inovasi? karena suatu penemuan teknologi,walaupun sederhana nampaknya, bisa jadi faktor yang menentukan kemenangan manakala satu negara berperang dengan negara lain.


Contoh sejarah, saat pasukan Normandy di abad pertengahan mengalahkan tentara Anglo-Saxon di pertempuran Hastings. Anglo-Saxon yang mengandalkan pasukan infantri berat( heavy armoured) tidak menyangka pasukan kavaleri  Normandy yang biasanya tak banyak berkutik menghadapi infantri berat kali ini justru  yang memporakporandakan barisan infantri berat tersebut. Kuncinya ada pada penemuan sanggurdi (pijakan kaki) yang dipasang pada pelana kuda. Sebelum ditemukannya sanggurdi, bertempur dari atas kuda adalah hal yang sulit karena tak ada kontrol keseimbangan. Jadi mudah dijatuhkan oleh pasukan infantri biasa sekalipun. Namun kali ini dengan sanggurdi, pasukan kavaleri Normandy dapat bermanuver dan bertempur dengan stabil dan prima. Sehingga dengan mudah menghancurkan barisan infantri lawan.

Contoh lain adalah datangnya bangsa Eropa menjajah Nusantara. Kerajaan Nusantara yang masih bertempur menggunakan senjata tajam, sangat mudah ditaklukan oleh tentara Eropa yang sudah familiar dengan mesiu dan artileri, sekalipun mereka berjumlah lebih sedikit.

Sekarang, bagaimana bisa kita merasa aman  beli alutsista mutakhir yang gelombang frekuensi operasinya sudah diketahui negara pembuat. Ataupun  teknologinya terkomputerisasi sedemikian canggih namun membuat kita bergantung pada pemeliharaannya. Dan mungkin juga ada"patch file" yang ditanam dalam softwarenya yang setiap saat bisa diaktifkan produsen senjata untuk melumpuhkan sistem tersebut. Ingat kasus Irak di perang teluk pertama, denah dan rancangan kompleks bunker-2 Irak dibongkar oleh sang desainer sendiri yang orang Jerman. Memungkinkan AS merintis pengembangan "bunker buster" dan melumpuhkan sistem pertahanan bawah tanah Irak.

Jadi jangan pernah meremehkan penguasaan teknologi, sekalipun negara kita nanti sudah kaya dan mampu beli banyak alutsista canggih macam manapun. Kalau bermimpi saja kita tidak berani bagaimana mau memulainya. So "Never give up the dreams" kata Honda.
ARC.