Kamis, 13 Maret 2014

Ada Kemungkinan Boeing-777 Malaysia Airlines Korban Terorisme

MAS-missing_route-map (1) 
Masih belum diketahuinya kepastian  hilangnya  pesawat Boeing-777 pesawat milik maskapai Malaysia Airlines flight number MH-370 yang raib pada hari Sabtu  (8/3/2014) di sekitar wilayah Vietnam Selatan  menambah besar spekulasi dan perkiraan beberapa badan keamanan di beberapa negara, bahwa ada penyebab ekstrim dibelakangnya.  Berita mengejutkan muncul setelah adanya informasi bahwa dua diantara  227 penumpang telah menggunakan paspor palsu (milik orang lain) yang telah hilang dicuri.
Menurut keterangan CEO Malaysia Airlines, Ahmad Jauhari Yahya, dalam akun facebook resmi Malaysia Airlines, MH370 take off dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju Beijing Sabtu (8/3/2014), Actual Time Departure (ATD) 00.41 local time,  membawa total 239 penumpang termasuk dua balita dan 12 crew. Dinyatakan, "Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 dari Kuala Lumpur menuju Beijing telah hilang kontak dengan menara pengawas penerbangan Subang pada Sabtu pukul 02.40 pagi," kata Yahya. Estimate time of arrival (ETA) Beijing  06.30 pagi (LT).
Para penumpang MH370  terdiri dari  152 warga China, 38 warga Malaysia, tujuh Indonesia, lima India, tujuh Australia, tiga Prancis, empat Amerika Serikat, dua New Zealand, dua Ukraina, dua Kanada, satu Rusia, satu Italia, satu Taiwan satu Belanda dan satu Austria.
Setelah pejabat di Roma dan Wina menegaskan bahwa nama-nama warga negara Italia dan Austria yang tercatat di manifest dalam  penerbangan tersebut  cocok dengan nama pada dua paspor yang dilaporkan dicuri di Thailand, para pejabat menekankan bahwa penyelidikan itu dalam tahap awal dan bahwa mereka sedang mempertimbangkan segala kemungkinan.
Seiring dengan upaya pencarian yang melibatkan enam negara dengan teknologi canggih, keterlibatan aksi teror kini nampaknya tidak dikesampingkan. FBI secara khusus telah datang ke Kuala Lumpur untuk mempelajari kemungkinan keterlibatan aksi terorisme. Pada hari Minggu (9/3/2014),  Menteri transportasi Malaysia, Hishammuddin Hussein, menyatakan bahwa  pejabat intelijen Malaysia juga memeriksa identitas dua penumpang lainnya, selain dua nama pengguna paspor palsu, demikian menurut The Associated Press. "Semua empat nama dan telah diberikan kepada badan-badan intelijen kita," kata Hishammuddin. "Kami tidak ingin hanya menargetkan empat, kami sedang menyelidiki manifest penumpang keseluruhan. Kami melihat semua kemungkinan."
Ditinjau dari sisi keselamatan penerbangan, Malaysia Airlines yang mengoperasikan 15 Boeing-777ER tidak pernah mengalami masalah serius.  Bahkan Malaysia Airlines pada 2 April 1997 memecahkan rekor Perjalanan terjauh Dunia dari Seattle-Kuala Lumpur dengan pesawat Boeing 777-200 ER dengan jarak 20.044 km dalam waktu 21 Jam 23 Menit. Boeing 777ER diakui sebagai pesawat penumpang paling terjauh, teraman, dan berbadan lebar dunia. MAS MH-370 ini diterbangkan oleh Captain Pilot Zahari Ahmad Shah WN Malaysia dengan total jam terbang 18.365 jam yang bergabung di MAS sejak tahun 1981. Untuk Co Pilot adalah Fariq Ab.Hamid, WN Malaysia dengan 2.763 jam terbang.
Berdasarkan data perekam penerbangan flightaware.com, pesawat MAS itu terbang ke arah tenggara Malaysia dan naik hingga ketinggian 35 ribu kaki. Jejak pesawat itu menghilang dari radar situs tersebut sekitar satu menit setelah selesai terbang naik. Selain itu, tidak ada laporan mengenai cuaca buruk di sekitar lokasi pesawat terakhir kali terdeteksi.

Kecurigaan Keterlibatan Aksi Terorisme
Kecurigaan pertama muncul setelah adanya klaim dari dua orang yang diberitakan terbang dengan MH-370, tetapi ternyata keduanya tidak ikut terbang. Orang pertama adalah Luigi Maraldi, 27 warga Italia Yang paspornya hilang dicuri tahun 2013. Rute orang yang menggunakan nama Miraldi setelah dari Beijing akan melanjutkan perjalanan ke Copenhagen, Denmark. Sedangkan penumpang yang memakai paspor Christian Kozel, 30 warga Austria, menggunakan paspor yang dicuri dua tahun lalu (2012), dan dia  akan mengakhiri perjalanannya di Frankrut, Jerman.
Dari penjelasan Menteri Transportasi Malaysia Hishamudin, kini kemungkinan ada empat orang yang on board pada MH-370 dengan dokumen ilegal. Dikatakannya,  "Empat nama (penumpang 'ilegal') sudah kami serahkan ke pihak intelijen," kata Hishammuddin Hussein saat konferensi pers Minggu (9/3). Kini, Pihak otoritas China menyebutkan ada lagi satu penumpang bernama Zhao Qiwei yang menggunakan paspor dan dokumen seorang pria bernama Yu. Padahal kini Yu masih hidup dan tinggal di Provinsi Fujian Tiongkok dan mengaku tak pernah kehilangan paspor. Sementaranama penumpang keempat masih di dalami intelijen Malaysia.
Dari informasi  CNN, dua tiket penumpang yang menggunakan paspor warga Italia dan Austria itu dibeli secara bersama-sama. Dua tiket penumpang gelap  itu dibeli dari China Southern Airlines di Thailand. Data tersebut terlacak dari sistem verifikasi Travelsky. Ternyata, nomor dari dua tiket yang menggunakan nama warga Italia Luigi Maraldi, 27 dan  warga Austria Christian Kozel, 30 itu memiliki nomor seri yang berurutan. "Ini mengindikasikan mereka memesan tiket besama-sama," kata sumber yang dikutip CNN.
 Angkatan Udara Malaysia (RMAF) menyatakan bahwa besar kemungkinan MH-370 berbalik arah kembali ke Malaysia. “Yang kami lakukan adalah melihat rekaman pada radar dan kami sadari bahwa ada kemungkinan pesawat putar balik. Kami masih bekerjasama dengan radar penerbangan sipil dan lembaga internasional lainnya, dan dengan kerjasama ini kami berharap bisa mendapat gambaran lebih baik,” kata Tan Sri dalam jumpa pers di Sepang, Mingu (9/3).
Tan Sri juga mengaku heran dengan tidak terpantaunya lokasi terakhir pesawat  yang mengangkut 227 penumpang plus 12 crew itu.”Kami dibingungkan oleh tidak adanya sinyal ELT (emergency locator transmitter)” katanya. Sementara pimpinan MAS Group, Ahmad Jauhari Yahya mengatakan, “Normalnya, ketika dia  membuat keputusan putar balik, dia akan melapor ke base dan ATC (Air Traffic Control),” katanya.

Analisis
Arnold Barnett, spesialis statistik keselamatan penerbangan dari Massachusetts Institute of Technology mengatakan bahwa sebelum hilangnya pesawat, Malaysia Airlines hanya mengalami dua kecelakaan fatal, pada tahun 1977 dan 1995. Berdasarkan perkiraan bahwa Malaysia Airlines mengoperasikan sekitar 120.000 buah penerbangan/tahun, ia menghitung bahwa catatan keselamatan maskapai itu konsisten dengan keamanan penerbangan di negara-negara berpendapatan menengah yang cukup makmur lainnya,  tetapi belum mencapai catatan keamanan yang lebih baik dari penerbangan yang berbasis di negara kaya dunia lainnya.
Dalam kaitan keselamatan penerbangan, Malaysia belum ditargetkan dalam serangan teroris dalam beberapa dekade terakhir.  Malaysia Airlines pernah mengalami pembajakan udara pada tahun 1977, oleh kelompok komunis dan teroris dari Jerman. Menurut spesialis kontra teror dan pengamat,  beberapa dari perencanaan serangan 11 September di Amerika Serikat dilakukan di Malaysia, yang memiliki kebijakan visa yang relatif longgar. Negara ini adalah negara perdagangan utama dan tempat pertemuan alami untuk berbagai kelompok yang terlibat dalam kegiatan ilegal. Selain itu, perencana utama pemboman di Bali, Indonesia pada tahun 2002, Riduan Isamuddin, adalah Malaysia dan saat ini ditahan di Guantanamo penjara.
Melihat dua penumpang gelap dengan paspor ilegal,  pelaku adalah orang berkulit, mengingat kewarga negaraannya. Sementara apabila ditemukan dua penumpang ilegal lain dengan paspor palsu dan mengambil data dari China, maka kemungkinan besar yang bermain dan berkomplot di pesawat tersebut adalah jaringan internasional.
Mereka sudah mempersiapkan sejak dua tahun yang lalu saat paspor Kozel dicuri taun 2012 di Thailand. Dari dua kasus pencurian paspor di Thailand, pembelian tiket penumpang gelap juga dari Thailand, maka kemungkinan besar ada sebuah jaringan internasional dan lokal Thailand yang bersinergi.
Menurut teori terorisme sebagai cabang dari intelijen penggalangan, pelaku teror bisa mengancam perorangan, kelompok ataupun individu. Sasaran terbesar adalah teror terhadap negara. Teror dengan model pembajakan dan peledakan pesawat merupakan sebuah berita atau pesan yang gaungnya sangat kuat. Menimbulkan ketakutan yang sangat. Para pelakunya bisa Nonstate–suported group (kelompok kecil anti korupsi misalnya), State-sponsored groups (kelompok dengan dukungan negara asing, pelatihan di negara ketiga), dan State-directed groups (sebuah negara yang mengorganisir dukungan terhadap kelompok teroris secara langsung).
Lantas, pertanyaannya, siapa sebenarnya sasaran apabila MAS MH-370 benar dibajak? Sesuai dengan teori, teror bisa menyerang perorangan, yaitu orang yang ada di pesawat, atau kelompok, perwakilannya yang ada di pesawat, atau perusahaan penerbangan Malaysia Airlines, atau negara Malaysia. Akan tetapi kemungkinan lain pesawat Malaysia hanyalah sasaran antara, tetapi targetnya negara lain. Aksi teror bisa lebih merupakan sarana ‘meninggalkan pesan,’ menegaskan mereka masih ada. Karena di pesawat terdapat empat warga Amerika Serikat, maka tanpa diperingatkan pejabat AS dipastikan akan turun tangan. AS sudah cukup lama berseteru dengan kelompok teror, baik Al-Qaeda, Taliban dan Haqqani. Dan hingga kini pertemuran tetap masih berlangsung.
Dengan berasumsi memang pembajakan telah terjadi di MH-370, ada beberapa hal yang tidak wajar dalam kasus ini. Pertama bagaimana kedua orang (atau lebih) bisa lolos dari imigrasi Bandara Malaysia? Menurut teori hilangnya pesawat satu menit setelah mencapai ketinggian 35 ribu kaki (cruising). Dari catatan kecelakaan, kecelakaan terjadi saat take off (38 persen), landing (56 persen) dan cruising (6 persen). Saat Gunung Galunggung meletus tahun 1982, sebuah pesawat Boeing 747 British Airways pada ketinggian 36 ribu kaki, terkena dampak dan empat engine mati, tetapi dengan 200 penumpang berhasil gliding dan selamat landing di Pangkalan Halim Perdana Kusuma. Oleh karenanya walau kemungkina  tetap ada peluang celaka, dapat dikatakan kecil.
Hal lain yang menarik perhatian adalah laporan radar RMAF (Royal Malaysia Air Force), yang menyatakan pesawat berbalik arah. Dan dipertanyakan apabila pesawat jatuh mengapa tidak ditemukan sinyal dari ELT (Emergency Locater Beacon). Sinyal akan aktif memancar setelah terjadi crash atau saat tenggelam di perairan. Sinyal dipancarkan ke satelit, dikirim ke Local User Terminal yang memetakan lokasi, meneruskan ke MC ( Mission Control Center) yangsetelah menggabungkan alert message meneruskan ke otoritas SAR. Karena belum ditemukan sinyal ELT dari MH-370, kemungkinan ELT tidak bekerja.
Mengingat MH-370 tidak dapat berkomunikasi  dengan otoritas penerbangan di Vietnam, diperkirakan besar kemungkinan pesawat dengan komunikasi silent (radio dimatikan). Dari hasil diskusi dengan mantan Kabasarnas, Marsdya (Pur) Daryatmo, apabila pesawat ada masalah dengan sistem pesawat penerbang masih sempat call “mayday.” Kalau ada masalah dengan cuaca, pada era sekarang, cuaca bisa dihindari, dan seandainya kena turbulensi sekalipun, jam terbang pilot yang hampir 20 ribu apa tidak bisa mengatasi. Kini enam negara termasuk Indonesia terur bekerja sama mencari dimana keberadaan Boeing 777 itu, mengingat dengan peralatan canggih sudah dua hari belum juga ditemukan, kemungkinan serangan teror ganas bisa saja terjadi, walaupun kita mengharap dan berdoa para penumpang selamat.
Dengan demikian, maka memang kemungkinan terjadinya pembajakan serta kemungkinan penguasaan pesawat dan kemudian mengakibatkan belum ditemukannya MAS MH-370, arah penyelidikan kemungkinan terlibatnya aksi teror masih sangat dimungkinkan.
 Pada 19 September 2013, penulis membuat artikel dengan judul “Ayman al-Zawahiri Pengganti Osama Perintahkan Serang AS”, dengan link http://ramalanintelijen.net/?p=7431. Dimana pengganti pimpinan Al-Qaeda ini saat peringatan serangan 911, menyatakan agar umat Islam menyerang Amerika Serikat. Dalam sebuah serangan teror, bisa saja Malaysia Airlines dipakai sebagai sarana pesannya dengan pertimbangan otoritas Bandara Malaysia lemah dalam memonitor pelaku teror. Dan bukan tidak mungkin juga kelompok itu mampu menyelundupkan bahan peledak kedalam pesawat.
Kesimpulannya, besar kemungkinan penerbangan MAS MH-370 telah dibajak dan diledakkan di udara dalam sebuah aksi terorisme. Mengenai kepastiannya, kita tunggu hasil penyelidikan aparat intelijen beberapa negara yang kini sedang mempelajari keempat orang misterius itu. Artikel ini hanya sebuah ulasan pribadi.
Pelajaran bagi pelaku di dunia penerbangan serta otoritas bandara (PAP), agar mewaspadai dan kembali melakukan pemeriksaan sekuriti penerbangan. Pengecekan penumpang harus dilaksanakan sesuai prosedur. Apabila analisis penulis benar, maka pengamanan bandara harus dinaikkan dengan serius. Aksi terorisme terus mengancam dan bukan tidak mungkin akan dapat mengancam penerbangan kita juga. Mereka terus memonitor, dimana ada kelemahan dan kerawanan, disitu akan memanfaatkannya. Terbukti otoritas dan sekuriti Malaysia sudah kebobolan. Semoga bermanfaat.
Oleh : Marsda (Pur) Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Radar Terbang


Istilah radar terbang adalah sebuah istilah yang mengacu pada sistem yang dikenal sebagai  Airborne Early Warning and Control (AEW&C) atau sistem pengendalian dan peringatan dini terbang. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi pesawat terbang, kapal, dan kendaraan jarak jauh serta melakukan pengendalian dan komando dalam pertempuran udara dengan mengarahkan pesawat tempur sergap serta pesawat serang darat. Satuan AEW & C juga digunakan untuk melakukan pengawasan, termasuk atas sasaran darat dan seringkali berfungsi menjadi  C2BM (Command, Control, and Battle Management) atau komando, kendali, dan manajemen pertempuran, sebuah fungsi yang mirip dengan Pengawas Lalu Lintas Udara pada jajaran komando operasi militer.

Ketika digunakan di ketinggian, maka radar pada pesawat memungkinkan operator untuk mendeteksi dan melacak target serta membedakan antara pesawat kawan dan lawan pada jarak lebih jauh daripada radar darat, dengan tetap dapat mengawasi sasaran yang terbang rendah di balik pegunungan atau dalam lembah. Kemampuan ini meningkatakan kewaspadaan situasi udara dalam operasi udara. 

Pesawat AEW&C digunakan untuk operasi udara defensif maupun ofensif, baik untuk mengendalikan kekuatan udara maupun kekuatan laut dan darat . Sistem ini digunakan secara ofensif untuk mengendalikan pesawat tempur langsung ke lokasi target mereka, dan untuk membela diri , mengarahkan serangan balik terhadap pasukan musuh, baik lawan di darat dan udara..Sangat menguntungkan memiliki aset  radar udara yang mampu melakukan  komando dan kontrol dari suatu ketinggian.

Sebagai gambaran Angkatan Laut Amerika Serikat beroperasi Northrop Grumman E - 2 Hawkeye AEW & C  yang terbang dari kapal induk untuk meningkatkan pengawasan  dan melindungi gugus tugas nya. Dalam angkatan udara Inggris (RAF) fungsi "peringatan dini udara" ( AEW ) menggunakan pesawat seperti Fairey Gannet AEW.3 dan Lockheed EC–121 dan terus digunakan oleh RAF dengan pesawat  Sentry AEW 1. Sementara fungsi AEW & C ( peringatan dini dan kontrol udara) lebih lengkap dalam kemampuan pengendalian pertempuran udara yang tidak ada  pada pesawat radar biasa.

Pesawat AEW & C modern dapat mendeteksi pesawat hingga jarak  250 mil (400 km) jauh di luar jangkauan kebanyakan rudal permukaan ke udara. Sebuah pesawat AEW&C yang terbang pada ketinggian 30.000 kaki (9.100 m) dapat mencakup area seluas 120.460 mil persegi (312.000 km2). Dengan kemampuan ini maka tiga buah pesawat tersebut yang diterbangkan dalam orbit tumpang tindih dapat menutupi seluruh Eropa Tengah. Dalam pertempuran udara-ke-udara  sistem AEW&C dapat berkomunikasi dengan pesawat kawan  memperluas jangkauan sensor mereka dan membuat mereka lebih sulit untuk dilacak lawan, karena mereka tidak lagi perlu mengaktifkan radar mereka sendiri untuk mendeteksi ancaman.

Awal dari penggunaan sistem radar adalah dalam Perang Dunia II. Inggris yang pertama kali mengembangkan seperangkat radar yang bisa dilakukan di pesawat terbang untuk "Air Controlled Interception" atau "Penyergapan Udara Terkendali”. Tujuannya untuk mendeteksi ancaman dari arah Barat Laut di mana pesawat pembom jarak jauh Jerman Fw 200 Condor merupakan ancaman bagi pelayaran. Sebuah pesawat pembom Vickers Wellington (serial R1629) dilengkapi dengan sebuah antena berputar. Alat ini diuji coba terhadap sasaran udara dan kemudian juga untuk kemungkinan penggunaan terhadap kapal “E Boat” Jerman. Peralatan lainnya adalah pesawat Wellington yang dilengkapi radar digunakan untuk mengarahkan pesawat Bristol Beaufighters kepada pesawat penyerang  Heinkel He 111s yang digunakan untuk meluncurkan bom terbang V-1 sebagai versi awal rudal jelajah.

Banyak negara telah mengembangkan sistem AEW & C mereka sendiri, meskipun Boeing E-3 Sentry dan Northrop Grumman E-2 Hawkeye adalah sistem yang paling umum di seluruh dunia. Pesawat  E-3 Sentry dibangun oleh Boeing Defense, Space & Security berdasarkan pesawat Boeing 707-320. 65 buah pesawat E-3 dibangun dan dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, NATO, Inggris, Perancis dan Arab Saudi. Untuk Japan Air Self-Defense Force, teknologi E-3 telah dipasang ke dalam pesawat jenis Boeing E-767.

Pesawat khusus Grumman E-2 Hawkeye mulanya dirancang untuk mendukung kebutuhan operas Angkatan laut AS mulai beroperasi pada tahun 1965 dan telah dioperasikan oleh delapan negara yang berbeda. Lebih dari 168 buah telah diproduksi dan versi baru terus dikembangkan sehingga sistem AEW yang paling banyak digunakan.
The Royal Australian Air Force, Angkatan Udara  Korsel, dan Angkatan Udara Turki menggunakan pesawat Boeing 737 AEW&C. Berbeda dengan E-2 dan E-3, Boeing 737 AEW & C ini  tidak menggunakan radome disk yang berputar (rotodome) tetapi memiliki sirip punggung besar.

Angkatan Udara Swedia menggunakan S 100B Argus sebagai platform AEW-nya didasarkan pada pesawat Saab 340 dengan radar Erieye PS-890 buatan Ericsson.

Angkatan Udara Yunani, Angkatan Udara Brasil dan Angkatan Udara Meksiko menggunakan pesawat Embraer R-99 dengan dilengkapi radar Erieye PS-890  Ericsson, seperti pada S 100B.

Pada awal tahun 2006, Angkatan Udara Pakistan membeli  enam sistem  Erieye AEW yang dipasang pada pesawat Saab 2000 dari Swedia dengan harga total sekira 1 miliar dolar AS. Pada bulan Desember 2006, Angkatan Laut Pakistan mengakuisisi tiga pesawat bekas P-3 Orion AL AS dan dilengkapi dengan sistem AEW Hawkeye 2000. Sementara China dan Pakistan juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pengembangan bersama AEW&C.

Rusia menggunakan pesawat AEW dengan dasar pesawat Tupolev Tu-126 dan  mulai beroperasi pada 1965 saat itu masih bernama Angkatan Udara Uni Soviet dan tetap digunakan sampai digantikan oleh Beriev A-50 pada tahun 1984.

Nefara Israel telah mengembangkan sistem radar terbang buatan Israel Aircraft Industries  yaitu Elta EL/M-2075 Phalcon, yang menggunakan radar modern AESA (ActiveEelektronically Scanned Array) sebagai pengganti antena rotodome. Sistem ini dipasang pada Boeing 707 dan dikembangkan untuk Pertahanan Udara Israel dan untuk ekspor dengan dipasang pada pesawat jenis lain sesuai permintaan negara pemesan.

Setiap Angkatan Udara sudah selayaknya dilengkapi sistem AEW&C. Dengan harapan dalam pelaksanaan operasi udara dapat mengawasi area yang lebih luas dan jangkauan tidak terhambat oleh bentang alam seperti permukaan bumi yang bergelombang. Semua ancaman bisa ditangkap agar tidak terjadi pelanggaran wilayah udara lewat ketinggian rendah serta meningkatakan koordinasi serta kewaspadaan situasi dan mengurangi ancaman udara terhadap pesawat kawan  dalam pelaksanaan operasi udara, khususnya dalam medan perang udara modern. (Kol. Pnb. Agung "Sharky" Sasongkojati)

DPR Apresiasi Kecanggihan Pesud CN 235-220 MPA

Replika Pesud CN 235-200 MPA (ist)
Replika Pesud CN 235-200 MPA (ist)

Bangsa Indonesia harus berbangga dengan hasil karya anak bangsa, pesawat Pesud CN 235-220, produk  produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI).  Pesawat itu telah dilengkapi dengan alat surveillance kemaritiman yang canggih.
Pujian itu disampaikan anggota Komisi I DPR RI, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, di Jakarta (12/03), menanggapi penyerahan  Pesawat Pesud CN 235-220 MPA P 861 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Penyerahan Pesud Pesud CN 235-220 MPA P 861 merupakan satu rangkaian gelar alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AL, yang digelar di Dermaga Ujung Koarmatim Surabaya, Rabu (12/03). TNI AL memamerkan tank amphibi BMP3F, KRI 60, Ranpur Marinir 177, senjata strategis 6 unsur, material khusus 40 unsur.
Hadir dalam acara itu antara lain, Menhan Purnomo Yusgiantoro, Kasal Laksamana Marsetio, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Wamenhan Sjafrie Sjamsudin, Menkominfo, Ketua Komisi I Mahfuddz Siddik dan anggota Komisi I Susaningtyas Kertopati.
Nuning, panggilan akrab Susaningtyas, menilai gelar Alutsista TNI AL menandakan bahwa bangsa Indonesia memiliki komitmen membangun sistem pertahananan laut bervisi kemaritiman yang mumpuni.
Tak hanya itu, Nuning juga berharap agar rencana strategis (renstra) pertahanan memiliki konsistensi untuk terus meningkatkan kemampuan SDM prajurit TNI dan kelengkapan amunisi alutsista serta sistem pemeliharaan yang baik.

Presiden Minta Industri Pertahanan Nasional Tidak Kalah Dengan Negara Lain


Seusai meninjau alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Laut, di dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur,Rabu (13 /3), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin rapat Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), di kawasan dermaga tersebut.
Dalam arahannya, Presiden menegaskan pentingnya pengembangan dan implementasikan kebijakan mengenai pertahanan. Selain itu, Presiden menegaskan pentingnya setiap negara memiliki kekuatan pertahanan yang baik, termasuk Indonesia.
Presiden mengaku ia kurang percaya dan setuju bila dunia tidak perlu pertahanan. “Dengan pertahanan yang baik, dunia akan lebih damai,” tutur Presiden SBY sembari mengingatkan, bagaimanapun sebagai negara berdaulat Indonesia memerlukan pertahanan yang tangguh.
Dalam kesempatan ini, Presiden SBY menyampaikan apresiasinya atas kemampuan TNI melakukan modernisasi pertahanan. “Hal ini merupakan sesuatu yang menggembirakan karena sudah agak lama Indonesia tidak melakukan modernisasi alutsista,” katanya.
Menurut Presiden SBY, krisis ekonomi yeng terjadi beberapa waktu lalu merupakan salah satu penyebab Indonesia belum dapat membangun alutsista. Namun, kini degan izin Tuhan YME, hari ini dapat terlihat bagaimana Indonesia melakukan modernisasi alutsista baik darat,laut dan udara.
“Kita tidak ingin berperang, namun jika harus bertempur dan pertahankan kedaulatan, kita sudah siap,” tegas Presiden SBY.
Ditegaskan Kepala Negara, bahwa perang adalah jalan terakhir. Namun, jika ingin damai, hal itu berarti juga untuk berperang. “Peperangan itu hrganya amat mahal. Itulah alasan mengapa Indonesia lebih memilih politik dan diplomasi,” ujar Kepala Negara.
Presiden menambahkan, bahwa modernisasi alutsista penting dan relevan dalam hal konteks strategis. Karena itu, karena tahun ini adalah masa bakti terakhirnya,  Presiden SBY berharap Presiden berikutnya dapat melanjutkan pengembangan modernisasi alutsista.
Menurut Presiden, saat ini telah dimulai industri strategis dan pertahanan milik swasta/BUMN yang mendukung modernisasi alutsista. Meskipun demikian, Presiden SBY mengingatkan, agar semua ini harus dari kebijakan yang benar, rencana yang benar, dan alokasi anggaran yang tepat.
Presiden SBY menegaskan, bahwa Indonesia tidak boleh kalah dengan industri pertahanan negara lain. Untuk itu, Presiden mengajak seluruh elemen terkait untuk menjadikan industri pertahanan yang kompetitif.
“Bangsa ini harus bersatu,” kata Presiden SBY seraya menyebutkan, ia tidak senang bila kebijakannya dicampuri urusan politik ataupun yang lain.
Rapat KKIP itu  dihadiri oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yosgiantoro selaku Ketua Harian KKIP, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisyahbana, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Mendikbud M. Nuh, Panglima TNI Jendral Moeldoko, para Kepala Staf angkatan dan Kapolri Jendral Sutarman. (Humas Setkab/Oct/ES)

Indonesia Ingin Produksi Pesawat Tempur dan Pesawat Terbang Tanpa Awak


Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yosgiantoro selaku Ketua Harian Komisi Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) mengemukakan, KKIP telah melakukan pembinaan industri pertahanan secara bertahap dan berlanjut untuk  meningkatkan kemampuan industri pertahanan tersebut, di antaranya dilakukan melakukan joint research and development maupun joint production.
Saat memberikan pemaparan di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua KKIP dan para pengurus dan anggota KKIP di di dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur,Rabu (13 /3), Menhan Purnomo Yosgiantoro mengemukakan, dalam kurun waktu 2010-2013 KKIP telah merumuskan berbagai kebutuhan nasional yang bersifat strategis di bidang industri pertahanan.
“KKIP juga telah menetapkan beberapa program nasional, menerbitkan cetak biru riset alpahankam, serta merumuskan roadmap produk Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam),” paparnya.
Terkait pembangunan produk alat utama sistem persenjataan (alutsista) masa depan, Menhan menyebutkan, KKIP telah mencanangkan program new future products, meliputi pesawat tempur, pesawat angkut, kapal selama, kapal perang atas air, roket, peluru kendali, pesawat terbang tanpa awak, radar, combat management system, alat komunikasi, amunisi kaliber besar, bom udara, torpedo, propelan, kendaraan tempur, serta kendaraan taktis.
Sementara di bidang regulasi, menurut Menhan, i KKIP akan menyelesaian penyusunan beberapa aturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) tentang imbal dagang, PP tentang penyelenggaraan industri pertahanan, Peraturan Presiden (Perpres) tentang pengelolaan industri pertahanan, dan Perpres tentang syarat dan tata cara pengadaan alpalhankam.
Industri Pertahanan Andal
Dalam paparannya itu, Menhan Purnomo Yosgiantoro menyampaikan, KKIP yang dibentuk dengan Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2013 merupakan amanat UU No. 16 Tahun 2012 tentang industri pertahanan.
“Visi KKIP adalah terwujudnya industri pertahanan yang andal untuk kemandirian pemenuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam), sedangkan misinya adalah untuk menjamin komitmen dan konsistensi kebijakan untuk mewujudkan kemandirian, mewujudkan industri pertahanan yang profesional, efektif, efisien, terintegrasi dan inovatif, meningkatkan kemampuan memproduksi dan memelihara alpalhankam menuju kemandirian pemenuhan alpalhankam, serta meningkatkan penggunaan produksi industri pertahanan (inhan) dalam pemenuhan alpalhankam,” terang Menhan.
Adapun tugas KKIP antara lain merumuskan kebijakan nasional yang bersifat strategis di bidang industri pertahanan, menyusun dan membentuk rencana induk pertahanan yang berjangka menengah, mengoordinasikan pelaksanaan pengendalian kebijakan nasional industri pertahanan, menetapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan alpalhankam, mengoordinasikan pelaksanaan pengendalian kebijakan nasional industri pertahanan, menetapkan kebijakan pemenuhan kebutuhan alpalhankam, mengkoordinasikan kerjasama luar negerii dalam rangka memajukan dan mengembangkan Inhan, melakukan sinkronisasi kebutuhan alpalhankam antara pengguna industri pertahanan, merumuskan pendanaan dan/atau pembiayaanIinhan, merumuskan mekanisme penjualan dan pembelian alpalhankam hasil Inhan ke luar negeri, dan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan Inhan secara berkala.
“Presiden adalah Ketua KKIP, sedangkan ketua hariannya adalah Menhan, dan Menteri BUMN sebagai Wakil Ketua. Anggotanya adalah Menperin, Menristek, Mendikbud, Menkominfo, Menkeu, Menlu, Menep PPN/Kepala Bappenas, Panglima TNI dan Kapolri,” jelas Menhan.
Ia menyebutkan, untuk pengembangan kekuatan pertahanan dan Inhan, pada 2010-2014  diarahkan untuk memenuhi postur alutsista kekuatan pokok, dilakukan revitalisasi inhan program jangka panjang, penyiapan program nasional. Pada 2015-2019 pembangunan alutsista diarahkan pada upaya mendukung postur kekuatan pokok, peningkatan kemampuan produksi, dan pengembangan alutsista.
Pada periode 2020-2024, lanjut Menhan, pengembangan akan dilakukan untuk mendukung postur ideal,pertumbuhan industri, serta peningkatan kerjasama internasional, dan nanti pada 2020-2025 diharapkan sudah mampu dalam kemandirian Inhan yang signifikan, kemampuan berkolaborasi secara internasional, serta perkembangan berkelanjutan.
Rapat KKIP itu  dihadiri oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yosgiantoro selaku Ketua Harian KKIP, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisyahbana, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Mendikbud M. Nuh, Panglima TNI Jendral Moeldoko, para Kepala Staf angkatan dan Kapolri Jendral Sutarman. (Humas Setkab/EJW/OCT/ES)


M-30 Howitzer 122mm: Meriam Tarik Legendaris Korps Marinir TNI AL

576153_10200340336422737_586117179_n
Banyak hal yang membuat nama Korps Marinir TNI AL begitu lekat di hati masyarakat, selain sifat prajuritnya yang solid, Korps baret ungu ini juga identik dengan beragam alutsista eks era Uni Soviet. Sebut saja seperti tank PT-76, pansam BTR-50, dan Kapa K-61, usia ranpur tersebut sudah dipastikan jauh lebih tua dari anggota aktif Marinir yang paling senior sekalipun. Tapi hebatnya, ranpur-ranpur tadi dapat serviceable hingga saat ini dengan beragam program retrofit.
Tapi alutsista eks Uni Soviet di lingkungan Korps Marinir tak hanya berwujud ranpur, di Resimen Artileri Marinir ada roket BM-14/17, yang merupakan generasi self propelled MLRS (multiple launch rocket system) di Armed Korps Marinir. Lainnya masih ada, yaitu meriam M-30 (M1938) dari jenis howitzer kaliber 122 mm. Bila dibilang tua, ya jelas meriam ini sangat tua, karena diproduksi pada awal tahun 1939, dan masuk ke etalase Korps Marinir (d/h KKO AL) pada tahun 1961. Kedatangan meriam ini digadang sebagai perkuatan dalam masa operasi Trikora dan Dwikora.
Selepas dari haluan politik yang berubah pasca 1965, meriam M-30 masih tetap eksis dengan beragam retrofit. Wujudnya yang mudah dilihat adalah penggantian roda ban, model yang digunakan sekarang mirip dengan roda pada meriam LG-1 MK II kaliber 105 mm yang juga dimiliki Korps Marinir. Penggantian roda ini selain menjadikan meriam lebih garang, mobilitas meriam pun lebih mantap untuk menyambangi medan off road. Dalam operasionalnya, M-30 Korps Marinir TNI AL ditarik dengan truk Unimog 4×4.
Versi asli M-30
Versi asli M-30, perhatikan rodanya.
M-30 retrofit milik Korps Marinir TNI AL dengan adopsi roda baru.
M-30 retrofit milik Korps Marinir TNI AL dengan adopsi roda baru.
600px-BitvaZaMoskvu-M30
Bagaimana dengan kehandalan howitzer ini? Dengan kaliber 122 mm, proyektilnya mampu melesat sejauh 11,8 km pada sudut laras 49 derajat. Secara keseluruhan, sudut laras dapat diarahkan mulai dari -3 hingga 63,5 derajat. Secara umum, komponen meriam ini terdiri dari laras, recoil dengan penyangga hidrolik, gunshield (perisai/pelindung) awak, panoramic sight sebagai pembidik, pangkal laras dengan mekanisme piston, roda, dan spilt trails untuk ditarik oleh kendaraan. Untuk urusan ditarik ada batasannya, M-30 maksimum bisa ditarik hingga kecepatan 10 km per jam.
Bicara tentang amunisi, untuk melibas sasaran berupa infanteri, meriam ini tentu tak bisa melakukan perkenaan langsung ke target. Sebagaimana sifat howitzer, senjata ini mengandalkan lintasan melambung, bahkan lintasan proyetilnya ampuh untuk melintasi perbukitan. Jenis amunisi yang digunakan mulai dari HE (high explosive), dengan fragmentasi amunisi ini dapat menembus lapisan baja setebal 20 mm pada ranpur. Sementara untuk melibas sasaran berupa tank, ada pilihan berupa munisi HEAT (high explosive anti tank). Menurut catatan, HEAT sudah digunakan sejak era Perang Dunia Kedua, tepatnya dikembangkan pada 1943. Kabarnya beberapa tank Tiger NAZI Jerman ada yang rusak berat akibat terjangan HEAT M-30.
Gelar M-30 Howitzer dalam operasi Trikora
Gelar M-30 Howitzer dalam operasi Trikora
M-30 ditarik truk Unimog dalam defile HUT ABRI ke-50
M-30 ditarik truk Unimog dalam defile HUT ABRI ke-50
Pasmar06
M-30 terbilang laris dipasaran, setidaknya 40 negara telah menggunakan meriam ini. Dirunut dari sejarahnya, M-30 memang sudah ekstra sepuh. Pertama kali dirancang tahun 1938 oleh Design bureau of Motovilikha Plants, Rusia. Kemudian masuk masa produksi saat berlangsungnya Perang Soviet melawan Jerman pada tahun 1939. Karena dibuat untuk kebutuhan perang, produksi M-30 terbilang luar biasa, yakni 19.266 pucuk. Produksi meriam ini baru berakhir pada tahun 1955. Seperti sudah menjadi kebiasaan, sista Uni Soviet ini pun dicomot oleh Cina, dan kemudian diberi label Type 54.
Secara teori ,M-30 dengan bobot tempur 2,5 ton ini dioperasikan oleh 8 awak. Bila Korps Marinir biasa menarik meriam ini dengan truk Unimog, maka saat Perang Dunia Kedua, tentara Uni Soviet kerap menarik meriam ini dengan kuda. Dalam pola operasi amfibi, M-30 biasa dibawa dari LST (landing ship tank)/LPD (landing platform dock) ke daratan dengan kendaraan angkut amfibi seperti Kapa K-61 atau PTS-10. Bagi Anda sekalian yang penasaran ingin melihat dari dekat sosok merian ini, mudah saja mencarinya, M-30 bersama dengan tank PT-76 telah dijadikan monumen di gerbang masuk Ksatriaan Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. (Haryo Adjie)



Spesifikasi
Tipe : Field Howtizer
Kaliber : 122 mm
Berat Tempur : 2.450 kg
Berat dalam mobilitas : 3.100 kg
Panjang laras : 2,8 meter
Panjang keseluruhan : 5,9 meter
Lebar : 1,98 meter
Tinggi : 1,82 meter
Rate of fire : 5 – 6 proyektil per menit
Jarak tembak max : 11,8 km

Pembangunan dermaga Pangkalan TNI AL Balikpapan mendesak



 Seorang anggota provos TNI AL melintas di dekat KRI Cakra-401 yang berlabuh di Pangkalan TNI AL Palu, Watusampu, Sulawesi Tengah, Minggu (12/5), dalam rangka mengisi bahan bakar dan perbekalan. Pangkalan ini diproyeksikan menjadi pangkalan khusus kapal-kapal selam TNI AL. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Tokoh masyarakat Kalimantan Timur, Ichlas Hasan, menyatakan, pembangunan pelabuhan dermaga TNI AL di Balikpapan, Kalimantan Timur, bersifat mendesak segera diwujudkan

"Perlu gerak cepat dalam menjaga kedaulatan dan keamanan NKRI di perbatasan," kata dia, dalam keterangan tertulis di Jakarta Kamis.

Balikpapan merupakan daerah perbatasan yang strategis terkait menjaga kedaulatan dan keamanan negara kesatuan Indonesia, sehingga diharus didukung berbagai hal, di antaranya dermaga khusus militer untuk mempercepat pergerakan kapal TNI AL.

Dermaga ini, kata dia, tidak bisa digabung dengan dermaga pelabuhan sipil. 

"Terlebih TNI AL memerlukan latihan dengan ruang lebih besar," ujar calon legislator DPRPartai Demokrat Daerah Pemilihan Kalimantan Timur itu.

Pangkalan TNI AL memiliki empat fungsi dasar, yaitu tempat mereparasi kapal dan peralatan pendukung, penggantian suku cadang, amunisi, dan personel, rekreasi, serta pengisian bekal ulang.