Selasa, 03 Desember 2013


SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo DSNS)
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo DSNS)

Thales Defence yang bermarkas di Perancis resmi ditunjuk oleh Damen Schelde Naval Shipbuilding Belanda untuk meng-install a full mission systems suite, untuk dua kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) Angkatan Laut Indonesia, setelah menandatangani kontrak pada November 2013. Kapal PKR yang dimaksud adalah Frigate SIGMA 10514 Guided Missile.
Thales akan memasok sejumlah sistem ke dalam frigate Sigma tersebut, antara lain: Sistem Manajemen Tempur TACTICOS, Radar surveillance SMART-S Mk2, Sistem Kontrol Penembakan STIR 1.2 Mk2 EO, Sonar Kingklip, Datalink LINK-Y, serta komunikasi angkatan laut dan sistem navigasinya. Pengiriman pertama modul-modul tersebut dijadwalkan akhir 2014 dan programnya tuntas pada tahun 2017.
Sebagai upaya transfer technologi yang disyaratkan Pemerintah Indonesia, Thales juga akan meningkatkan kerjasama industri dengan PT LEN Indonesia, untuk mengembangkan bagian dari perangkat lunak Sistem Manajemen Tempur (CMS). Thales juga akan melibatkan industri Indonesia dalam urusan service support dan terus mengembangkan kemitraan jangka panjang dengan industri Indonesia, baik di bidang militer maupun sektor sipil.
Kontrak ini melibatkan pembuatan sistem radar SMART-S Mk2 hingga 50 unit. Kontrak pertama kali dilakukan tahun 2003 dan operasional pada tahun 2006. Sistem radar SMART-S Mk2 berfungsi sebagai pengawasan laut, jarak menengah dan jauh.

SMART-S Mk2
Disain dan konstruksi Radar SMART-S Mk2 3D didasarkan pada standar NATO untuk peralatan kapal. SMART-S Mk2, merupakan radar multibeam tiga dimensi terbaru buatan Thales, yang beroperasi di S-band, untuk pemantauan/ pengawasan jarak menengah dan jauh, serta menjejak target di wilayah pesisir/ littoral.

Radar SMART-S Mk2 (thales)
Radar SMART-S Mk2 (thales)

Radar SMART-S Mk2 versi terakhir mampu memantau: laut, darat, pulau-pulau, pesisir pantai dalam kondisi hujan dan badai petir, serta berbagai target radar lainnya, termasuk target permukaan dalam bentuk kecil: helikopter dan rudal anti-kapal. SMART-S Mk2 3D dirancang agar cocok dipasangkan dengan rudal permukaan ke udara (SAM), seperti Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM).
Modul ini merupakan one radar concept (1 module) yang sekaligus melacak sasaran udara dan permukaan yang didisain sebagai radar utama bagi: light frigate, korvet dan kapal seperti Docks Landing Platform (LPD).
Radar ini memiliki dua 2 mode utama dengan jangkauan 250 km, juga dilengkapi mode khusus helikopter untuk memantau target yang berada di over the horizon target (OTHT) / terhalang lengkung bumi. SMART-S Mk2 dilengkapi saluran penembakan rudal sasaran darat, sehingga tinggal menghubungkannya dengan sistem rudal darat yang dipilih.
Sistem Manajemen Tempur (CMS) TACTICOS
Sistem manajemen tempur merupakan jantung dari kapal angkatan laut. Alat ini mengintegrasikan semua sensor kapal dan informasi dari pihak lain untuk mengetahui situasi dan kondisi secara real time.
Tacticos bisa dikatakan CMS yang telah matang dan terkenal kehandalan serta kemampuannya untuk mengintegrasikan berbagai hal yang sulit. Tidak kurang 160 kapal berbagai jenis, dari 19 Angkatan Laut (baik NATO dan non-NATO) menggunakan CMS TACTICOS. Salah satu yanng baru berhasil dilakukan TACTICOS adalah mengintegrasikan rudal VL Mica yang saat ini telah beroperasi di Frigate Angkatan Laut Maroko, Tarek Ben Ziad tahun 2012.

CMS TACTICOS Thales
CMS TACTICOS Thales

VL Mica merupakan sistem rudal fire and forget jarak pendekance tingkat advance buatan MBDA missile system. Rudal ini mampu menggasak sasaran dari arah 360 derajat, untuk segala jenis ancaman. Prosesnya, CMS tacticos mengirim data yang diambil dari radar SMART-S Mk2, diteruskan kepada Sensor yang ada di dalam rudal, untuk membimbing rudal menuju ancaman.
STIR 1.2 EO Mk2

STIR 1.2 EO Mk2
STIR 1.2 EO Mk2

STIR 1.2 EO Mk2 merupakan sistem kontrol senjata dual band (I dan K) jarak menengah untuk mengendalikan penembakan rudal maupun senjata mesin. Alat ini kombinasi dari satu radar pengarah 1.2 m dilengkapi satu set electro-optic equipment (TV/IR/Laser), termasuk optronic tracking dan sebuah sensor seleksi otomatis. Tiga sumber data (I, K, EO) disiapkan untuk mengurangi kesalahan transmisi, meningkatkan performa dan sekaligus ketahanan ECCM. Singkatnya STIR 1.2 EO Mk2 mampu membimbing rudal homing semi- aktif seperti ESSM dan ASPIDE. STIR 1.2 EO Mk2 dilengkapi alat PreAction Calibration (PAC) and Miss Distance Indication (MDI).

LINK-Y Data Link
LINK-Y Data Link merupakan alat pertukaran data yang menjadi kepentingan utama untuk mengkoordinasikan tindakan yang harus dilakukan kapal, helikopter/ platform udara serta unit darat. Alat ini melakukan pertukaran data taktis antara beberapa platform militer.

DataLink

Dengan kemampuannya itu, data link biasa disebut “kekuatan pengganda”. Data taktis yang tersedia dibagi ke unit lain untuk tujuan antara lain: Over-The-Horizon Targeting support, Integrasi Combat Management System & Air Management System; serta posisi, status dan data target.

Kinglip Sonar
Kinglip Hull-Mounted Sonar (HMS) ini merupakan sonar yang menggunakan frkuensi aktif dan pasif.Piranti pemantau ancaman dari berbagai jenis kapal selam serta ancaman bawah laut lainnya, seperti torpedo ataupun ranjau laut. Kinglip Hull-Mounted Sonar (HMS) mampu menjejak secara akurat posisi dan jarak kapal selam, dengan bantuan helicopter/ airborne platform.

Thales sonars qualified at sea for French and Italian FREMM frigates
Thales sonars qualified at sea for French and Italian FREMM frigates
sonar-2

Kerjasama dengan PT PAL
Pembangunan Kapal PKR Sigma akan melibatkan Galangan Kapal PT PAL Indonesia. Sejumlah modul kapal rencananya dibangun di PT PAL Surabaya.

Pembagian pembangunan modul PKG Sigma, antara Damen Schelde dan PT PAL (photo: arc.web.id)
Pembagian pembangunan modul PKG Sigma, antara Damen Schelde dan PT PAL (photo: arc.web.id)

Berdasarkan diagaram ini, Modul 5: bridge kapal, sensor dan elektronik; akan digarap oleh Damen Vlissingen facility di Belanda.  Bridge adalah ruang Komando untuk mengontrol berbagai platform kapal.  Sementara Modul 3 yang merupakan  mid hull/engineering module akan dikerjakan Damen Rumanian facility.

Contoh Bridge Kapal Sipil
Contoh Bridge Kapal Sipil

4 modul sisanya termasuk hull depan dan belakang kapal, akan dibangun oleh PT PAL di Surabaya. Pada PKR ke 2 ditargetkan PT PAL akan mengerjakan 5 modul. Modul mid hull yang dikerjakan oleh Damen Rumania akan ditake over oleh PT PAL.  Pembuatan satu PKR Sigma diperkirakan memakan waktu 3 tahun. Dua tahun untuk pembuatan v modul dan satu tahun untuk mengintegrasikan dan finishing Kapal.
Persenjataan PKR Sigma
Persenjataan yang akan diusung oleh PKG Sigma 101514 ini kira kira seperti ini:
Guns:
» 1x Oto Melara 76/62 Compact 76mm Main Gun
» 1x Rheinmetall Millenium 35mm CIWS
Missiles:
» 8x MBDA MM40 Blk III antiship missiles
» 12x MBDA MICA VL surface to air missiles (in VLS)
Torpedoes:
» 2x Triple torpedo launchers

Rheinmetall Millenium 35mm CIWS
Rheinmetall Millenium 35mm CIWS
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo arc.web.id)
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo arc.web.id)

Namun dalam Defense Security and Equipment International/ DSEI 2013 di London DAMEN Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) memamerkan juga sebuah korvet Sigma yang mengusung RAM launchers buatan Rheinmetall Jerman.

Sigma Corvette with Integrated Mast Module, 8x anti-ship missiles, a 76mm main gun, a special mission container at the stern and two RAM launchers (photo: Navy Recognition)
Sigma Corvette with Integrated Mast Module, 8x anti-ship missiles, a 76mm main gun, a special mission 

container at the stern and two RAM launchers (photo: Navy Recognition)
RIM-116 Rolling Airframe Missile Launcher (Rheinmetall)
RIM-116 Rolling Airframe Missile Launcher (Rheinmetall)

Semoga saja persenjataan Kapal PKR Sigma 10514 mengusung senjata modern sehingga frigate ini disegani dan bisa diandalkan di masa depan.

The Jupiter Tiba Di Brunei


Delapan pesawat KT-1B Woong Bee yang digunakan tim aerobatik TNI AU The Jupiters saat tiba di Pangkalan Tentera Udara Diraja Brunei (TUDB) Sabtu (30/11).
Tim aerobatik TNI AU The Jupiters tiba di Pangkalan Tentera Udara Diraja Brunei (TUDB), Sabtu (30/11), setelah menempuh perjalanan panjang dari home base-nya di Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta.
Duta Indonesia dalam event “THE 4th Brunei Darussalam International Defence Exhibition” (BRIDEX 2013) tentang Invitation to participate the 4th BRIDEX 2013 Air Demonstration di Brunei Darussalam dipimpin oleh Danlanud Adi Sutjipto Marsma TNI Agus Munandar.
The Jupiters berangkat dari Yagyakarta pada tanggal 28 November melalui Surabaya, Lanud Samsudin Noor (Ron), 29 November Lanud Samsudin Noor- Balikpapan-Tarakan (Ron), 30 November darin Tarakan langsung menuju Brunei.
The Jupiters diawaki oleh para Instuktur Penerbang TNI AU Skadron Pendidikan 102 Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta menggunakan pesawat KT-1 Woong Bee buatan Korea Selatan, sehari-hari digunakan untuk melatih siswa penerbang.
The Jupiters akan tampil dengan melakukan 15 manuver hight show formasi aerobatik secara Vertikal terdiri seperti Jupiter Roll, Loop, Clover Leaf, Vulcan and cross Over Benefit, Loop and Cross Over Break, Jupiter Wheel, Tango to Diamond, Mirror, Screw Roll, Heart, Roll Slide, Solo Spin, Five Card Loop, Jupiter Roll Back, dan Loop and Boom Burst.
The jupiters dalam perjalanan didukung dengan dua C-130 Hercules Skadron Udara 32 Lanud Abdurachman Saleh Malang, A-1308 dan A-1316 dengan membawa ground crew dan pendukung lainnya.

Mantan KSAD Jenderal (Purn) Pramono Edhi Wibowo "Sahabat Kok Menyadap? "

Muncul anggapan dia terpilih karena faktor nepotisme.

Pramono Edhie
Pramono Edhie (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Jenderal (Purn) Pramono Edhi Wibowo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), kini aktif berpolitik.  Satu bulan setelah mengakhiri masa jabatan sebagai KSAD karena pensiun pada Mei 2013,  adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini bergabung dengan Partai Demokrat yang didirikan SBY dan istrinya Ani Bambang Yudhoyono, kakak perempuan Pramono Edhi Wibowo. 

Posisi penting di parpol berlambang berlian biru itu langsung menghampirinya: anggota Dewan Pembina.  Ketua Dewan Pembina, jabatan yang menentukan hitam-putih kebijakan partai, adalah Presiden SBY, yang juga merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Partai.  Sekretaris partai dijabat putra kedua Presiden SBY, yakni Edhie Baskoro Yudhoyono, yang biasa dipanggil “Ibas”.

Karir militer perwira lulusan Akabri 1980 ini terbilang lengkap. Putra Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo yang menjulang namanya karena pemberantasan pemberontakan G 30 S/PKI ini pernah menduduki posisi Komandan Jendral Kopassus, Panglima Komando Strategis Angkatan Darat, dan Pangdam III Siliwangi.  Mas Edhie, begitu ia kini menyebut dirinya, pernah juga menjadi ajudan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Pengangkatannya sebagai KSAD sempat menuai kritik, muncul anggapan dia dipilih karena faktor nepotisme.  Kesan ini pula yang mencuat saat ia memutuskan terjun menjadi salah satu calon presiden yang berlaga dalam konvensi yang digelar Partai Demokrat. Konvensi yang diikuti 11 kandidat akan mencari calon presiden andalan Demokrat pada Pemilu 2014. 

"Saya terpanggil untuk berkontribusi meningkatkan elektabilitas partai yang kini tengah disorot kinerjanya," ujar Pramono Edhie saat berbincang dengan Uni Z Lubis, Pemimpin Redaksi VIVA.co.id bersama tim Cakrawala ANTV di Media Center Pramono Edhie Wibowo, kawasan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, baru-baru ini. 

Rumah besar yang kini menjadi tempatnya berkantor, sebelumnya seringkali digunakan untuk rapat Sekretariat Gabungan (Setgab), koalisi parpol pendukung pemerintahan SBY.  Minggu malam (1 Desember) wawancara tambahan terkait isu penyadapan pejabat tinggi negara oleh intelijen Australia yang mengguncang Tanah Air dilakukan via telepon. Saat itu Pramono Edhie tengah berada di Cipanas, bertemu dengan tim Partai Demokrat. Berikut petikan wawancaranya:

Presiden SBY, Ibu Negara, dan sejumlah pejabat tinggi Indonesia disadap intelijen Australia.  Tanggapan Anda?

Indonesia menganggap Australia itu negara sahabat.  Begitu pula pernyataan pemerintahan mereka selama ini.  Sahabat kok menyadap? Kalau ingin dapatkan informasi mbok ya bertanya saja langsung, tidak perlu menyadap. Itu namanya tidak ada “trust”.

Penyadapan dianggap hal biasa juga, bahkan menurut pengakuan mantan petinggi lembaga intelijen,  Indonesia pernah lakukan hal yang sama terhadap pihak Australia. Yang lantas digugat adalah kemampuan kita mengamankan komunikasi Presiden. Mampukah kita?


Baik dalam berkomunikasi, membangun sistem penangkalan atas intersepsi pihak lain terhadap komunikasi kita, apakah komunikasi intelejen atau komunikasi Presiden, memerlukan peran teknologi.  Lha, selama ini kita menggunakan teknologi mereka?  Teknologi asing. Produk mereka.  Tidak ada jaminan  kita aman, karena bisa saja mereka justru  menggunakan produk itu untuk menyadap.

Apa solusinya?  Bikin sendiri?  Mampukah kita?


TNI AD sudah mengembangkan komunikasi radio yang dibuat sendiri.  Jadi sulit disadap pihak lain kalau komunikasi menggunakan radio.  Setidaknya ini sudah dilakukan di lingkungan militer.  Kalau Presiden, Ibu Negara dan pejabat kita kan menggunakan telepon seluler yang dijual komersil di pasaran.  Sama seperti yang kita gunakan.  Mudah disadap.  Masalahnya buat apa sih negara sahabat menyadap?  Pengumpulan informasi intelijen memang dilakukan untuk mengetahui apa sikap pihak yang bakal menjadi lawan.  Supaya tidak kaget kalau ada gerakan terdadak.  Apakah kita di Indonesia ini dianggap membahayakan bagi negara yang menyadap?  Negara yang menyadap itu apa menganggap Presiden (SBY) sebagai musuh?

Sekarang dibicarakan soal pentingnya pertahanan dunia maya (cyber defense) dan membangun satelit sendiri.  Sudah seberapa jauh langkah yang diambil?


Membangun satelit sendiri menurut saya sangat perlu.  TNI sudah membangun cyber defense itu beberapa waktu lalu, karena yang terjadi di masa sekarang adalah ancaman perang non tradisional.  Kita perlu amankan instansi dan instalasi vital, apalagi sekarang semuanya sudah komputerisasi.  Rawan dibajak.

Bukan kali ini saja komunikasi Presiden bocor via penyadapan.  Dulu ada kasus bocorannya rekaman percakapan telepon Presiden BJ Habibie dan Jaksa Agung Andi Ghalib. Siapa yang menurut Anda harus bertanggungjawab?


Selama menggunakan telepon seluler biasa ya rawan disadap, pintu masuknya beberapa.  Siapa yang harus bertanggungjawab?  Ya menurut saya intelijen yang menangani pengamanan untuk Presiden.

Kita beralih ke aktivitas politik Anda. Mengapa “Mas Edhie”? Mengapa akun Twitternya menggunakan angka 55? (akun Twitter @edhiewibowo_55 mulai berkicau sejak 3 September 2013).

Ketika aktif ke daerah setelah jadi peserta konvensi, saya merasa penyebutan “Pramono” bagi sebagian orang yang bukan orang Jawa, agak sulit.  Bisa keseleo menyebutnya “Purnomo”.  Setelah berdiskusi dengan tim, saya putuskan menggunakan sebutan “Edhie”, nama tengah saya.  Artinya “indah”.  Mudah dikenal juga. Angka 55 karena saya lahir tanggal 5, bulan 5, tahun 1955, dan saya punya lima saudara perempuan ha ha ha ha....

Dari pantauan di akun Twitter, nampaknya Anda rajin berkunjung ke daerah.  Ini penugasan khusus dari Pak SBY selaku ketua umum PD?


Tujuan saya masuk partai ini adalah meningkatkan elektabilitas, dan membesarkan kembali nama besar partai yang sempat terpuruk.  Caranya ya dengan turun menyambangi konstituen, bertemu dengan rakyat di daerah.  Ini inisiatif saya.  Apalagi setelah saya ikut konvensi, saya perlu memperkenalkan diri ke daerah.  Sampai saat ini sudah 15 lokasi saya kunjungi.

Ada fasilitas dan pelayanan khusus bagi Anda dari jajaran TNI di daerah? 


Wah, ini pertanyaan bagus, saya juga senang supaya masyarakat tahu.  Tidak ada pelayanan khusus.  Mereka hanya melihat saya mantan KSAD, mantan pimpinan.  Mereka melihat saja dari jauh.  Ya, saling sapa.  Saya sapa mereka.  Yang lebih banyak menyambut saya di daerah adalah anggota Partai Demokrat. Sebelum terjun ke daerah setelah ikut konvensi, banyak kota yang belum pernah saya kunjungi.  Misalnya kota Mataram di NTB, lalu Simalungun.  Banyak lah.  Pekanbaru juga belum pernah saya kunjungi saat saya masih aktif di AD.  Kunjungan ke daerah membuat saya merasa Indonesia itu luar biasa.  Banyak budaya yang belum saya kenal.  Dulu kalau berkunjung ke daerah juga terbatas mengunjungi ke area perbatasan, basis militer, kesannya homogen.  Padahal Indonesia itu heterogen.

Apa temuan dari kunjungan ke daerah?  Apakah masyarakat juga curhat mengenai kesulitan hidup mereka?


Saat saya berkunjung ke kampung nelayan mereka mengatakan, “Pak kami belum punya bahan bakar”. Sederhana masalahnya.  Memang harus dihitung betul ketersediaan bahan bakar.

Tindak lanjutnya?


Saya sampaikan masalah itu ke ketua umum, juga ke jajaran anggota Partai Demokrat di daerah untuk membantu.  Kalau belum cukup, saya komunikasikan dengan menteri terkait.  Kebetulan Menteri ESDM kan dari partai kami juga.  Komunikasi lebih mudah.

Setelah pensiun dari militer, Anda langsung gabung Partai Demokrat.  Keinginan sendiri atau diminta Pak SBY dan Bu Ani, kakak Anda?


Prinsipnya, sampai saya mengakhiri masa dinas, pengabdian diri saya di militer tidak berkurang.  Begitu juga sesudah pensiun.  Saya berkomunikasi dengan Pak SBY, dan melihat ada alasan kuat untuk bergabung, karena saat itu elektabilitas (Partai) Demokrat sangat rendah.  Orang bertanya kepada saya, “Kok kamu mau bergabung padahal Partai Demokrat lagi terpuruk?” Saya lakukan itu karena ingin Partai Demokrat  menjadi lebih baik.  Masyarakat di daerah juga masih menginginkan Partai Demokrat menjadi partai politik yang besar.

Menurut Anda, mengapa elektabilitas Partai Demokrat turun?


Ya, ada beberapa hal yang dilakukan oleh anggota Partai Demokrat yang masyarakat sudah tahu secara luas.  Mereka terlibat kasus korupsi.  Walaupun selalu dikatakan bahwa korupsi itu juga melibatkan banyak partai politik lain, bagaimana pun kita harus introspeksi diri.  Yang terlibat kasus, silakan selesaikan permasalahannya.  Pada dasarnya kan di Partai Demokrat sampai saat ini lebih banyak yang bersih daripada yang terlibat.

Parpol lain kadernya ada yang terlibat korupsi.  Tapi yang pernah beriklan anti korupsi hanya Partai Demokrat, dan yang terseret kasus notabene nama besar dan petinggi partai.  Ini membuat Partai Demokrat lebih disorot.  Tanggapan Anda?

Manusia punya sifat masing-masing.  Yang bisa terlibat korupsi tidak mengenal kedudukan, asal  pendidikan.  Bahkan saat ini ramai dibahas kasus korupsi yang melibatkan sosok pimpinan puncak sebuah lembaga.  Iklan anti korupsi yang pernah dibuat Partai Demokrat menurut saya tetap relevan.  Yang tidak relevan adalah anggota yang terlibat korupsi. Mereka harus mempertanggungjawabkannya.  Jangan bersembunyi di balik Partai Demokrat. Itu tidak baik!

Langsung duduk di jajaran dewan pembina partai, adakah tugas khusus bagi Anda dari ketua umum dan ketua dewan pembina?


Tidak ada tugas khusus, tapi saya bekerja berdasarkan pengalaman sebagai KSAD.  Saya bisa menyelesaikan tugas dan tidak ada permasalahan, khususnya masalah korupsi.  Itu saya terapkan juga di partai.  Saat kunjungan ke daerah, saya juga sampaikan ke anggota prinsip ini.  Mana yang boleh, mana yang tidak.

Masuknya Anda ke Partai Demokrat kian mengentalkan nuansa politik dinasti.  Bapak dan anak jadi ketum, ketua dewan pembina, dan sekjen.  Lalu Anda di dewan pembina.  Belasan keluarga jadi caleg.  Komentar Anda?
Saya menanggapi yang disampaikan masyarakat itu sebenarnya terkait dengan potensi korupsi. Jadi politik dinasti itu andai seseorang ditunjuk memimpin sesuatu, misalnya raja menunjuk anaknya jadi pangeran, itu memimpin dinasti. Edhie Baskoro jadi sekjen kan permintaan Mas Anas (Urbaningrum), bukan permintaan SBY.  Mas Anas jadi ketum karena pemilihan.  Dia berhak menyusun kepengurusan.  Saya masuk partai, lantas dikasih ruang istimewa di dewan pembina.  Bersama saya di dewan pembina ada Mas Dede Yusuf mantan wakil gubernur Jawa Barat, lalu ada Gubernur Bali  Made Mangku Pastika.  Masak saya tidak boleh?  Saya pernah jadi KSAD.  Kapasitas saya tidak bisa diragukan.  Justru kalau tidak boleh, namanya diskriminasi.

Soalnya ketika Presiden SBY ikut  menyentil politik dinasti keluarga Gubernur Banten, itu berbalik ke PD....
Saya melihat itu fair saja.  Dulu saat Demokrat baru lahir banyak orang tidak mau jadi anggota.  Saya masih dinas tentara.  Pak SBY sampai mengajak saudaranya, maaf ya, pembantu pun diajak jadi anggota.  Pada saat itu mengharapkan kenaikan elektabilitas dari tiga persen menjadi tujuh setengah persen. Yang mau gabung hanya saudaranya sendiri. Berjuanglah bersama saudara, tetangga.  Sekarang partai sudah besar, terus mereka disuruh keluar? Tidak fair-lah.  Tidak fair!  Jadi menurut saya ini beda situasi dengan partai lain.  Politik dinasti tidak masalah, yang penting persyaratan perjalanannya sesuai ketentuan yang berlaku.

Soal elektabilitas dalam konvensi, dibandingkan calon lain yang lebih dulu populer di masyarakat, bahkan ada menteri yang punya kesempatan mengkampanyekan diri dengan kunjungan terkait pekerjaan, nampaknya sulit bagi Anda untuk menyaingi?

Begini, saya sudah evaluasi sampai saat ini saya harus lebih banyak memperkenalkan diri ke pemilih.  Kalau elektabilitas saya masih rendah, saya tetap usaha.  Tapi dari kunjungan intensif ke daerah dalam dua bulan ini, Insya Allah elektabilitas saya naik.  Tolong dilihat, maaf ya, ada orang yang punya jabatan bisa tampil di mana-mana.  Saya tidak punya jabatan, tapi saya lihat ada tren kenaikan, sehingga saya yakin pelan-pelan elektabilitas membaik.  Yang saya takut, kalau naik tinggi terlalu cepat, saya tidak bisa evaluasi.  Bahkan bisa turun mendadak juga.

Pemimpin negeri dengan latar-belakang militer masih relevankah?
Menurut saya masih.  Di  militer itu ada jenjang yang harus dilalui.  Misalnya, saya harus lalui jenjang Letnan Dua, lalu beberapa jenjang ke Kolonel dan seterusnya.  Memimpin unit kecil  sampai ratusan ribu.  Belajar kepemimpinan bertahap dan terus dievaluasi.  Jadi, Insya Allah bisa menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin militer itu anak buahnya dari seluruh suku di Indonesia.  Jadi sudah terlatih.
Modal untuk ikut konvensi capres dari mana?
Modalnya sangat kecil.  Bahkan saya harus berhemat, saya harus berbagi dengan anggota Demokrat di daerah.  Saya terpaksa naik pesawat kelas ekonomi. Saat jadi KSAD saya naik kelas bisnis karena “grade”nya di sana.  Yang penting sampainya kan sama ha ha ha.... Tim saya sampai mencari penerbangan apa yang murah.  Ada yang komentar, “kere kok mau jadi presiden”.  Saya berangkat apa adanya dengan harapan nantinya saya tidak disandera karena biaya.

Isu negatif kembali melingkupi Presiden yang notabene ketum partai, terkait dengan sosok Bunda Putri.  Presiden bahkan secara khusus membantah, berjanji mengungkap. Tapi kemudian tidak diungkap juga.   Lalu ada Ibu Pur yang ada di lingkungan dekat keluarga Cikeas, yang dianggap bisa menjadi pelobi, bahkan pembisik.  Seberapa besar pengaruh mereka kepada keputusan yang diambil Presiden?

Nih, sekalian saya jelaskan. Pak SBY jadi presiden sembilan tahun.  Sebelumnya jadi menteri, bintangnya tiga.  Kalau dipengaruhi pembisik dalam buat keputusan, saya rasa kecil sekali kemungkinan.  Saya yang keluarga dekat saja kalau menyampaikan sesuatu, dicek langsung sama beliau.  Langsung, saat saya masih ada di situ.  Itu adiknya  loh. Saya kan menyampaikan sesuatu agar Pak SBY tidak hanya mendengar dari birokrasi yang langsung berkerja di bawah beliau.  Dicek.
Yang mungkin terjadi sehingga ucapan Pak SBY ditanggapi negatif ya mungkin karena informasinya yang salah.  Tapi kalau pengambilan keputusannya tidak.  Beliau selalu menggunakan kepemimpinan staf. Tidak ambil keputusan sendiri.  Staf sebagai pelengkap.

Menanggapi ormas yang didirikan Anas Urbaningrum, Pak SBY nampaknya keder?  Sampai secara khusus bahas itu meski secara “no mention” di acara PD di Sentul? Bahkan berkirim pesan pendek?

Saya pikir segala sesuatu yang tidak benar harus dijawab, jangan didiamkan karena nanti dianggap benar.  Dulu, diam itu emas.  Sekarang tidak lagi. Pak SBY keder?  Tidak lah.  Menurut saya tidak sebanding! Maaf ya, saya bilang ke kader jangan  minder. Yang tidak baik perkaranya kan sedang diproses.  Edhie Wibowo yang antikorupsi malah masuk partai.  Track-record saya bisa dilihat sejak di AD.  Bahkan saya disalahkan karena membeli tank.  Ternyata dengan dana tetap saya bisa beli lebih banyak tank, karena tidak ada korupsi.  Jadi saya bisa mengatakan, saat saya berkuasa saya tidak korupsi.  Orang lain “ baru akan”. Aku sudah melakukan dan masuk Demokrat.  Kader Demokrat yang baik jauh lebih banyak.  Silakan kita lihat, mereka yang keluar itu apakah bisa menjadi besar?

Dalam dua kali pidato terakhir, Pak SBY mengeluh soal media.  Padahal beliau dulu populer karena media juga.  Kesannya pikiran Pak SBY terokupasi dengan pemberitaan media.  Bukankah semua kegiatan Pak SBY selalu diliput luas?

Beliau merasa kok tidak imbang banget.  Kalau imbang, beliau oke saja.  Beliau katakan, sudahlah, apa yang kukatakan, kalau tidak bisa dimuat 100 persen, muat 25 persen.  Tapi tolong kebenarannya juga disampaikan, jangan diartikan berbeda.  Media sangat berpengaruh terhadap pendidikan rakyat, termasuk membangun demokrasi.

Senin, 02 Desember 2013

3365 Prajurit TNI Latihan Perang di Hutan Simalungun


Danko Diklat Mabes TNI AD Letjend TNI Lodewijk bersama prajurit
Sebanyak 3.365 prajurit TNI Angkatan Darat Brigade VII Rimba Raya melakukan latihan perang di daerah Desa Dolok Merawa Kecamatan Silau Kahean di Kabupaten Simalungun.Latihan dengan menggunakan alat berat selama 14 hari.

Latihan perang ini juga melibatkan unsur Satuan Tempur Kodam I/BB serta senjata berat dan helikopter terlibat dalam latihan gabungan. 

Danko Diklat Mabes TNI AD Letjend TNI Lodewijk kepada wartawan seusai acara penutupan latihan ini mengatakan merupakan ajang ujian bagi prajurit untuk meningkatkan profesional dalam menjalankan tugasnya. Tidak hanya mahir bertempur dan menyerang musuh, akan tetapi prajurit juga mahir dengan beragam kemampuan dan managerial lainnya selama menjadi prajurit TNI AD.

Diutarakannya, latihan Brigade VII Rimba Raya ini adalah suatu bentuk latihan dalam operasi yang mengadopsi combain up artinya brigade diperkuat dengan unsur satuan tempur maupun bantuan administrasi nah dalam konteks ini maka brigade ini diujicobakan bagainana aspek kodal taktis dan teknis sesuai dengan kecabangan masing-masing dalam suatu operasi.
Kegiatan latihan yang berlangsung selama 14 hari ini, para penerbat atau para penerbangan ini mampu menguasai Simalungun Militery Training Area, yang merupakan salah satu kawasan tempur baru.

Lodewijk juga memaparkan latihan setingkat Brigade ini dilakukan tiga tahun sekali dimana mekanisme harus melewati standarisasi dimulai dari tingkat regu, pleton, kompi dan batalion serta unsur administrasi. Selain itu juga Danko Diklat Mabes TNI AD juga terlihat senang melihat kemampuan prajurit Kodam I/BB dalam latihan penyerangan terhadap garis musuh dengan sasaran dan metode yang telah ditentukan.


Menyambung latihan ini nantinya akan menggandeng TNI-AU, Danko Diklat Mabes TNI AD ini mengatakan tidak tertutup kemungkinan sebab lokasi ini sangat baru dan strategis terlebih jarak eks Bandara Polonia yang kini Menjadi Pangkalan TNI-AU tidak terlalu jauh sehingga latihan gabungan TNI AD maupun TNI AU bisa dilaksanakan.

Latihan yang digelar selama 14 hari para prajurit mendapatkan pelatihan mengempur pertahanan musuh sesuai dengan peta lokasi penyerangan. 





MI.

Sishankamrata Sebagai Dasar Pembangunan Kekuatan Pertahanan Berkelanjutan

Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) merupakan rujukan sekaligus dasar dan tujuan pembangunan kekuatan pertahanan secara berkelanjutan yang mengamanatkan adanya keseimbangan proporsional antara komponen kekuatan bersenjata (kombatan) dengan komponen kekuatan tak bersenjata (non-kombatan) yang dibangun dengan mengedepankan prinsip kerakyatan, kewilayahan dan kesemestaan.
Namun demikian, pembangunan kekuatan pertahanan ini belum didukung oleh perencanaan kekuatan (force planning) yang merujuk kepada metoda perencanaan kekuatan yang modern, teratur, terstruktur dan mengintegrasikan berbagai fungsi yang tercakup dalam organisasi pertahanan. Dalam rangka menggali gagasan untuk memperkuat kesinambungan pembangunan kekuatan pertahanan, Pusat Pengkajian Strategi Nasional (PPSN) bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan RI dan Forum Pemred menyelenggarakan Diskusi Panel dengan tema, “Membangun Kemampuan Kekuatan Pertahanan Berkelanjutan (Sustainable Defence Force Planning)”.
Diskusi panel yang dilangsungkan di Jakarta, Jumat (29/11) menghadirkan keynote speech, Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro yang mengupas tema tersebut dari perspektif pemerintah dengan topik, “Perkembangan Lingkungan Strategis dan Tantangan Global” dan Ketua Komisi I DPR RI drs. Mahfudz Siddiq, M.Si yang melihatnya dari perspektif DPR/legislatif.
Diskusi panel menghadirkan tiga orang panelis yaitu pertama, pengamat militer Dr. Andi Widjajanto yang memaparkan tentang, “Trajektori dan Skenario ‘Net Assessment’ untuk TNI Abad XXI”. Panelis kedua, Direktur Jenderal Strategi Pertahanan (Dirjen Strahan) Kemhan Mayjen TNI Sonny E.S. Prasetyo, M.A yang mengangkat, “Pembangungan Kekuatan Pertahanan Minimum Essential Force (MEF) yang berkelanjutan. Panelis ketiga wartawan senior Kompas sekaligus juga Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Dr. Ninok Leksono membahas, “Peran Industri Strategis dan Teknologi dalam Mendukung Pembangunan Kemampuan Pertahanan”.

Dalam kesempatan tersebut Menhan menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan diskusi panel kali ini karena hal ini merupakan langkah yang tepat sebagai ujung dari Kabinet Indenesia Bersatu II (KIB II). Menhan berharap pada tahun depan yang merupakan akhir KIB II, pembangunan kekuatan pertahanan yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) I, II dan III dapat terus berlanjut atau berkesinambungan (Sustainable). Dilanjutkan Menhan, pembangunan kekuatan pertahanan yang berkelanjutan diawali pada tahun 2010 (awal KIB II) berupa penyelarasan doktrin, strategi, postur dan buku putih untuk mengakomodir dinamika perubahan yang terjadi tahun 2008-2010 pada saat KIB I.

Paradigma atau dinamika perubahan yang terjadi dapat berupa ancaman terdiri dari asimetris, simetris, cyber, terorisme dan masih banyak lagi. Setelah anacaman-ancaman tersebut diformulasikan selanjutnya membangun konsep dasar kekuatan pertahanan deterrence diantaranya adalah master list dan salah satu isinya adalah Minimum Essential Forces (MEP).

Diskusi panel yang dimaksudkan untuk melaksanakan diskusi konstruktif antara panelis dengan peserta membahas masalah pertahanan akan dihadiri sekitar 100 peserta yang merupakan perwakilan dari Kemhan,TNI, Kementerian/Lembaga terkait dengan pembangunan pertahanan termasuk diantaranya perwakilan dari industri pertahanan dan pemimpin redaksi (pemred) media massa nasional yang tergabung dalam forum Pemred.

Pusat Pengkajian Strategi Nasional (PPSN) yang dipimpin Marsekal Madya TNI (Purn) Daryatmo, S.Ip adalah yayasan yang didirikan oleh Laksamana (Purn) Widodo AS dan Prof. Juwono Sudarsono dengan didukung beberapa tokoh. Maksud didirikan yayasan adalah untuk memanfaatkan potensi yang ada dalam masyarakat dalam rangka memberikan sumbangan positif bagi perkembangan kehidupan bangsa. Kegiatannya diarahkan untuk melaksanakan serangkaian pengkajian berlanjut terhadap masalah nasional yang strategis dan dikerjakan oleh para ahlinya.

Tri Matra Latihan Gultor “Counter Hijacking at the Sea” di Batam

Tri Matra Latihan Gultor “Counter Hijacking at the Sea” di Batam
TNI kembali menggelar Latihan Satuan Penanggulangan Teror tahun 2013 yang ke VIII bertemakan, "Counter Hijacking at the Sea", di perairan Batam Kepulauan Riau, Senin (2/12).
Dalam skenario latihan, dilaporkan bahwa ada kapal milik Indonesia dibajak oleh kelompok teroris di perairan Batam. Profesionalisme kekuatan Tri Matra (AD, AL, AU) serta didukung manuver dari pesawat yang melakukan penerjunan di laut maupun di kapal sasaran, Sea Reader bergerak cepat mendekati sasaran. Kemudian didukung gerakan Helikopter yang menerjunkan prajurit TNI ke sasaran, akhirnya teroris yang menguasai kapal dapat dilumpuhkan sekaligus menangkap gembong teroris dalam waktu singkat.
Latihan yang dilaksanakan dua tahap, yakni tahap pertama di Cilandak dan tahap kedua di Perairan Batam tersebut, bertujuan untuk mewujudkan kesiapan operasional Satgas Operasi Khusus TNI yang merupakan gabungan unsur-unsur Sat-81, Denjaka, dan Denbravo'90 beserta unsur pendukungnya dengan sasaran untuk meningkatkan kemampuan unsur Pimpinan dan Staf, tersusunnya rencana operasi khusus TNI, meningkatnya kemampuan interoperability dan meningkatnya kesiagaan operasional Pasukan Khusus TNI.
Latihan ini melibatkan sejumlah peralatan antara lain: 1 unit pesawat Hercules C-130, 2 unit Helly Bell TNI AL, 1 unit Cassa TNI AL, 1 unit KRI LPD, 4 unit Sea Reader, 6 unit Rubber duck, dan 10 unit PK SAR.
Setelah menyaksikan latihan, Panglima TNI secara resmi menutup latihan Satgultor TNI tahun 2013 dengan Upacara Militer di perairan Batam, tepatnya di atas geladak KRI Banda Aceh.  Menurut Panglima TNI, membaca prediksi tantangan nasional ke depan, TNI dituntut untuk terus memelihara dan meningkatkan kesiapsiagaan guna menghadapi berbagai trouble spot yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Untuk itu di akhir amanatnya Panglima TNI menyampaikan beberapa penekanan diantaranya adanya kesatukan visi dan misi Sat-81, Denjaka, dan Denbravo'90, dalam satu ikatan tugas TNI.
Hadir menyaksikan latihan tersebut antara lain Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, Kasau Marsekal TNI I.B. Putu Dunia dan jajaran, SAF Singapura Brigjen Mark Tan Ming Yiak, Dansesko TNI Marsdya TNI Ismono W, para Asisten Panglima TNI, Kabais TNI Mayjen TNI Erwin Sapitri, Dankodiklat TNI Mayjen TNI Chaidier S. Sakti, serta Atase Pertahanan Negara Tetangga seperti: Atase Kamboja, Singapura, dan Thailand dan Pejabat lainnya.
 TNI.

Senpi dan Bom Rakitan OPM Lebih Canggih

 
Temuan puluhan senjata dalam penggerebekan rumah yang diduga milik kelompok OPM di Kampung Yongsu Spari, Distrik Revenirara, Kabupaten Jayapura, Jumat (29/11) lalu langsung menarik perhatian Polda Papua. Apalagi, dalam penggerebekan lanjutan, polisi juga menemukan bendera OPM yang dikibarkan.

Kapolda Papua Irjen Pol M. Tito Karnavian dan Wakapolda Brigjen Pol Paulus Waterpau menyempatkan diri datang ke Mapolres Jayapura untuk melihat langsung senjata api (senpi) dan bom rakitan plus belasan senjata tajam (sajam) tersebut. Setelah melihat senjata itu, Kapolda menilai bom rakitan yang diamankan tersebut lebih canggih daripada bom rakitan yang pernah disita dari kelompok bersenjata di Papua.

Menurut Kapolda, yang paling berbahaya di antara seluruh barang bukti yang ditemukan Polres Jayapura adalah bom rakitan itu. Sebab, kendati berukuran kecil, bom rakitan tersebut bisa menjangkau radius 20 meter.

"Biasanya bom seperti ini kami temukan di Poso, Bima, dan Jawa Tengah dengan nama bom lontong. Tidak pernah di Papua. Kekuatannya sama dengan granat. Ledakannya bisa bikin tuli. Serpihannya bisa seperti peluru," tutur Tito kemarin (1/12).

Kepada awak media, Paulus Waterpau mengatakan, Jumat lalu polisi menerima informasi bahwa ada sekelompok orang di Kampung Yongsu yang beraktivitas mencurigakan. "Kapolres langsung memerintah anggota untuk mengecek ke sana, Sempat terjadi kontak senjata dengan mereka. Jumlah kelompok Raja Cyclop ini 20-an, tapi yang aktif hanya delapan orang. Setelah kontak senjata, mereka menghilang ke hutan," kata Wakapolda yang kemarin didampingi Kabidhumas Polda Papua AKBP Sulistyo Pudjo Hartono dan Kapolres Jayapura AKBP Roycke Harry Langie.

Paulus menduga kelompok Raja Cyclop berkaitan dengan kelompok bersenjata yang diungkap di Aimas, Sorong, April lalu. Sebab, organisasi dan senjata mereka hampir sama.

Dijelaskan, pada Jumat pukul 07.30 WIT 38 polisi tiba di Kampung Yongsu Spari dan langsung menggerebek rumah tiga orang yang diduga sebagai anggota kelompok Raja Cyclop. Dari rumah Edward Okoseray, polisi menemukan senpi dan bom rakitan. Di rumah Oktovianus Sorondonya, ditemukan mesin bubut yang diduga digunakan untuk merakit senpi. "Dari rumah Adrianus Apaseray yang dijuluki Raja Cyclop, polisi menemukan senpi rakitan, peluru, bom rakitan, dan dokumen anggota OPM," papar Paulus.

Sekitar pukul 13.00 WIT, lanjut Paulus, dua warga berinisial OY dan GA melapor ke Polsek Depapre. Mereka bilang bahwa Raja Cyclop bersama delapan orang lain turun ke kampung, menyekap sejumlah warga, dan membakar beberapa rumah. "Kami langsung berkoordinasi dengan Polsek Depapre dan kepala distrik agar mengevakuasi warga," terangnya.

Esoknya, Sabtu (30/11), polisi kembali ke tempat kejadian. Namun, ternyata tidak ada informasi tentang penyanderaan. Karena itu, Kapolres menduga laporan OY dan GA tersebut hanya digunakan untuk memancing polisi agar datang ke sana pada malamnya. Kalau polisi terpancing, mungkin akan jatuh korban.

"Saat kami ke sana esoknya, ada satu bendera bintang kejora yang dikibarkan di kantor kepala kampung. Soal Raja Cyclop yang dikabarkan tertembak, kami telah cek. Memang ada satu makam yang masih basah. Namun, kami tidak mau berspekulasi. Kami akan otopsi dulu," terang Kapolres.

Kapolres menambahkan, menurut informasi dari warga, Raja Cyclop sebelumnya merupakan kepala kampung di sana. Pada Agustus 2012 dia diganti karena tidak bisa mempertanggungjawabkan ADK.

"Berdasar analisis kami, dia sudah mengikuti kegiatan itu sejak Januari. Uang yang tidak bisa dia pertanggungjawabkan itu mungkin untuk menjalankan operasi ini. Mungkin dia ikut kelompok tersebut karena tidak lagi menjadi kepala kampung," tutur Kapolres.