Jam Digital

Kamis, 02 Maret 2017

TGM-65 Maverick: Bentuk Serupa Aslinya, Inilah Rudal Latih Udara ke Permukaan Andalan TNI AU



Jet tempur taktis Hawk 109/Hawk 209 TNI AU sudah lazim dipasangi rudal udara ke permukaan Raytheon AGM-65 Maverick, dalam sekali terbang jet tempur single engine besutan British Aeropsace ini dapat membawa dua unit AGM-65 Maverick. Dan belum lama berselang, Skadron Udara 12 “Black Panther” Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, pada Senin (20/2/2017) telah melaksanakan latihan tempur diatas udara wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Lima unit Hawk 109/Hawk 209 dikerahkan dengan masing-masing mengusung rudal AGM-65 Maverick.

Untuk misi penghancuran, Hawk 109/Hawk 209 di setting untuk membawa rudal AGM-65G Maverick. Ada label seri “G”menyiratkan bahwa ini adalah seri keluarga Maverick yang beroperasi dengan sistem pemandu infra red. AGM-65G sendiri berasal dari pengembangan AGM-65D dan diluncurkan perdana pada Februari 1986. Dengan hulu ledak seberat 136 kg, AGM-65G memang pas untuk menghajar sasaran dari jarak jauh, termasuk sasaran favoritnya adalah kapal permukaan. Bobot total AGM-65G ditaksir mencapai 301,5 kg. Bila Hawk 109/Hawk 209 hanya bisa menggotong dua unit Maverick, maka F-16 Fighting Falcon bisa membawa empat unit Maverick.



Resminya AGM-65G mampu melesat dengan kecepatan 1.150 km per jam, sementara jarak jangkaunya ada di rentang 13 – 27 km (tergantung sudut ketinggian pelepasan rudal). Karena merupakan alutsita berharga tinggi, untuk uji cobanya pun harus selektif, Hawk Skadron Udara 1 TNI AU pernah melaksanakan uji tembak rudal ini pada bulan Juni 2011 di Air Weapon Range (AWR) Pulung, Ponorogo, Jawa Timur dengan melibatkan tujuh pesawat Hawk 109/209.

Pakai TGM-65 Maverick?
Dalam misi latihan tempur 20 Februari lalu, lima pesawat jenis Hawk ini take off dari Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, Setelah berputar-putar di udara Tanah Rencong sekitar 45 menit, pesawat ini kembali ke Lanud. Pada sesi pertama, ada tiga pesawat yang terbang disusul dua pesawat lainnya. Kelima pesawat ini terbang pada ketinggian 6 ribu kaki. Lokasinya 15 mil dari Lanud SIM di sisi barat dan timur.

Foto: detik.com
Namun melihat dari foto yang dipublikasikan di beberapa media, Nampak rudal Maverick yang terpasang di Hawk 109/Hawk 209 dilengkapi cincin (ring) berwarna putih. Jenis Maverick dengan ring putih menandakkan bahwa rudal tersebut adalah TGM-65, jenis rudal latih yang juga dimiliki TNI AU dalam paket pembelian Maverick pada dekade 90-an. TGM-65 resminya adalah Training Groung Missile-65. Ditandai dengan cincin putih yang berarti dummy dipakai sebagai prasarana latihan penerbang dalam hal pembidikan di udara. Mempunyai sistem serupa dengan AGM-65, cuma tidak dilengkapi motor roket, jadi tidak dapat diluncurkan.



Selain TGM-65, TNI AU juga memiliki MLT-65, yakni Munition Load Training-65. Digunakan para teknisi di darat untuk latihan loading dan unloading agar terlatih sewaktu memasang Maverick yang asli. MLT-65 mempuyai bentuk, berat, warna sama dengan rudal asli, dan ditandai cincin biru. Karena mempunyai kemiripan dengan rudal asli, sering dipakai saat static show. Masih ada lagi MMT-65, yaitu Munition Maintenance Training. Dipakai teknisi guna mengecek sistem alat bidik yang ada di pesawat, untuk membedakan dari jenis lain alat peraga ini bercincin kuning. (Gilang Perdana)
 
Indomil. 

Advanced Hawk: Dibekali Air Refueling System, Ini Performa Maksimal Keluarga Hawk 100


Di arsenal jet tempur TNI AU, kodrat Hawk 109 dan Hawk 209 sudah dipatok sebagai penempur lapis kedua yang punya peran tempur taktis. Meski dari aspek payload ada perbedaan, tapi keduanya dapat menggotong jenis senjata yang serupa, bahkan Hawk109/Hawk 209 sama-sama tidak dilengkapi kanon internal. Namun bila ditelaah lebih dalam, Hawk 209 sanggup terbang lebih lama dan lebih jauh berkat adanya fasilitas air to air refueling, berbeda dengan Hawk 109 yang tandem seat, jet tempur yang dijuluki Lead In Fighter Trainer ini harus pasrah terbang sesuai kapasitas tangki bahan bakar.
Sejak keluarga Hawk 100 mulai dirilis British Aerospace (BAe) pada awal dekade 90-an, berlanjut ke akhir tahun 2016, tidak satu pun varian Hawk 100 yang dilengkapi fasilitas refueling probe. Kodrat Hawk 100 (untuk versi TNI AU disebut Hawk 109) hanya dipatok pada jet latih tempur dengan kemampuan serba terbatas, terlebih dari segi endurance. Baru kemudian ada gebrakan yang terbilang revolusioner, di pameran dirgantara Aero India 2017 yang berlangsung 13 – 18 Februari lalu di Bangalore, BAe Systems dan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) resmi meluncurkan versi terbaru Hawk yang paling mutakhir, diberi label Advanced Hawk, jet latih tempur dengan kemampan ground attack ini dilengkapi refueling probe.


India yang berstatus rawan pecah konflik dengan Pakistan, memang berusaha menyiapkan kekuatan udara dengan segala upaya. Selain bintang-bintang utama seperti Sukhoi Su-30MKI, Mirage 2000, MiG-29, Specat Jaguar, MiG-21 Bishon, dan Tejas, AU India juga menyiapkan bala bantuan cadangan, yaitu bilamana diperlukan armada jet latih tempur diharuskan dapat mengambil peran dalam babak pertempuran. Dan yang dipersiapkan sebagai penempur cadangan lapis kedua adalah Hawk MK132.
Air refueling probe
India sampai saat ini menjadi pengguna terbesar keluarga Hawk 100, setidaknya AU India mengoperasikan 106 unit Hawk 132 yang disokong mesin Rolls-Royce Adour Mk 871. Karena India membeli dalam jumlah besar, maka nilai ToT (Transfer of Technology) yang didapat juga signifikan, ini terbukti dengan HAL yang merilis versi Hawk i pada awal tahun ini. Nah, menengok kebisaan Hawk 200 yang dibekali air refueling probe, menjadikan HAL terobsesi untuk menawarkan versi baru Hawk 100, dan yang ini disebut Advanced Hawk.

Karena Advanced Hawk tak hanya diproyeksi untuk kebutuhan India, agar moncer dalam pasar ekspor, sedari awal HAL telah melibatkan BAe Systems dari Inggris pada rancangan Advanced Hawk. Bukan sekedar pemasanan air refueling probe pada bagian hidung, sejumlah pemaharuan dilakukan untuk mengurangi tuntutan pelatihan pada pesawat tempur utama yang memakan biaya operasional besar.


Meski sosoknya tak berbeda dengan Hawk 109 milik TNI AU, tapi sejumlah peningkatan telah dilakukan pada Advanced Hawk, diantaranya pada bagian sayap ekor dibekali defensive aids suite, pada bagian ini terdapat komponen RWR (Radar Warning Receiver) dan counter measure dispensing system. Guna membawa jenis senjata yang lebih beragam, pada struktur sayap telah diberi kekuatan pada combat flap.



Pada bagian kokpit juga di-upgrade dengan keberadaan datalink, sensor simultan,digital head up display, autopilot, dan ground proximity warning system. Terkhusus untuk kapasitas beban, Advanced Hawk sudah dibekali smart weapon enabled, laser designation pod, dan centerline dual purpose fuel. Di Aero India 2017, beberapa senjata yang dipajang untuk Advanced Hawk seperti smart bomb Paveway, ruda udara ke permukaan Brimstone, dan rudal udara ke udara Cobham.
Lain dari itu, Advanced Hawk dilengkapi perangkat elektronik yang serupa Hawk 109, seperti komponen elektronik pada bagian hidung berupa sensor penjejak laser (laser range finder) dan perangkat FLIR (Forward Looking Infra Red). (Haryo Adjie)

Indomil. 

TNI AD Tambah Satu Batalyon Armed CAESAR Self Propelled Howitzer


Puas dengan performa Howitzer Swa Gerak atau Self Propelled Howitzer TRF-1 CAESAR (Camion Equipe’ d’un Syste’me d’ ARtillerie) 155 mm, TNI AD dipastikan akan menambah satu Batalyon Armed (Artileri Medan) dengan kekuatan Howitzer CAESAR besutan Nexter, manufaktur persenjataan asal Perancis. Saat ini setidaknya 36 unit CAESAR 155 mm telah melengkapi kekuatan dua Yon Armed, yakni Yon Armed 9 di Purwakarta, Jawa Barat dan Yon Armed 12 di Ngawi, Jawa Timur. Keduanya adalah Yon Armed dalam jajaran Kostrad. Dan ada satu unit CAESAR untuk pelatihan di Pusdik Armed.

Bakal bertambahnya satu batalyon CAESAR 155 mm TNI AD diketahui setelah pihak Nexter Group merilis informasi dalam ajang IDEX 2017 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, disebutkan bahwa Nexter telah menandatangani kontrak baru dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk pengadaan 18 unit Howitzer SPH CAESAR 155 mm. Satu Yon Armed dengan komponen CAESAR terdiri dari 18 unit ransus (kendaraan khusus) pembawa meriam 155 mm. Selain sistem artileri, Nexter dikabarkan juga akan menyediakan fire control system (FINDART) dan simulator CAESAR untuk pelatihan dan lebih dari 50 kendaraan tambahan artileri medan yang akan dirakit di Indonesia oleh mitra lokal PT Pindad.
Sebagai operator, Yon Armed TNI AD di kawasan Cipatat dan Lumajang telah melakukan serangkaian uji coba penembakkan Howitzer CAESAR untuk jarak tembak sasaran 18 km, 20 km, 30 km, sampai 40 km.

Unit AD Perancis sedang menembakkan CAESAR pada posisi Taliban – Agustus 2009
CAESAR 155 mm dipasang pada platform truk Renault Defense Sherpa 5 dengan penggerak 6×6. Dengan platform truk, baik meriam, kru, dan amunisi bisa dibawa dalam satu unit, sehingga bisa digelar lebih cepat. Truk Sherpa 5 sudah dirancang khusus dengan penguatan chasis, bahkan ada teknologi yang diterapkan pada ranpur beroda yakni CTIS (Central Tire Inflation Systems) untuk mengatur tekanan ban dari dalam kabin juga disematkan, sehingga CAESAR bisa berjalan di beragam medan berat.
Dalam gelar operasinya, CAESAR membawa 6 awak, dimana untuk urusan kabin sudah dilengkapi perlindungan anti Nubika (nuklir, biologi, dan kimia). Lapisan body truk ini pun sudah dibuat kebal untuk menahan proyektil peluru kaliber 7,62 mm dan pecahan mortar kaliber 80 mm.

Jarak tembak maksimum CAESAR adalah 42.000 meter dan jarak tembak minimum 4.500 meter. Kecepatan tembak meriam ini dapat memuntahkan 6 proyektil untuk setiap menitnya. Hebatnya sistem pemuatan amunisi sudah mengaplikasikan jalur otomatis ala revolver, pengisi tinggal menaruk proyektil ke rak, dan pengisi akan memasukkannya langsung ke dalam kamar peluru.
Sistem manajemen penembkkan CAESAR sudah tergolong canggih dan akurat, mengadopsi teknologi FAST buatan Nexter EADS yang dibekali ROB4 muzzle velocity radar systems, SAGEM SIGMA 30 navigation systems, dan tentunya GPS (Global Positioning Systems). SIGMA 30 merupakan intertial guidance system pertama di dunia yang langsung ditempelkan ke landasar meriam, menjadikan akurasi maksimal karena berada dekat dengan laras. Untuk urusan amunisi, ada jenis LU211HE, LU211M, Ogre, SAMPRASS, BONUS MK.2 dan SPACIDO.

CAESAR saat sedang embarkasi ke perut C-130 Hercules

CAESAR 155 mm secara keseluruhan memiliki bobot 18,5 ton, keunggulan lain dari sista ini adalah dalam mobilitas. Bila CAESAR jadi dibeli TNI AD, maka 1 unit CAESAR dapat dibopong oleh pesawat angkut berat C-130H TNI AU. Sedangkan untuk Airbus A400M dapat membawa 2 unit CAESAR siap tempur. (Gilang Perdana)

Indomil. 

Minggu, 02 Oktober 2016

Instruktur Norinco Latih Awak Kanon Type 90/35mm dan Radar AF902 FCS Korps Marinir

AKM_7752-(Copy)

Instruktur dari Norinco, manufaktur persenjataan dari Cina, mulai hari ini melangsungkan program pelatihan pada 16 prajurit pengawak kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) Type 90/35 mm Twin Gun dan operator radar pengendali tembakan AF902 FCS (Fire ControlSystem). Seperti telah disebutkan dalam berita terdahulu, satuan Artileri Pertahanan Udara Korps Marinir TNI AL telah mendapat pengadaan kanon PSU dual laras Type 90/35 mm, yang tak lain adalah lisensi dari kanon Oerlikon GDF buatan Rheinmetall Air Defence AG (d/h Oerlikon Contraves).

Mengutip siaran pers dari Dispen Korps Marinir, hari ini (28/9/2016), Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) R.M. Trusono S.Mn. yang diwakili Asisten Logistik Komandan Korps Marinir (Aslog Dankormar) Kolonel Marinir Suherlan S.E. secara resmi membuka Kepelatihan kanon Type 90/35 mm Twin Gun dan Radar AF 902 FCS di lapangan Trisula Menart-2 Mar Cilandak Jakarta.

img-20160928-wa0005

Pelatihan yang diikuti 16 prajurit dari Yonarhanud-1 Mar dan Yonarhanud-2 Mar tersebut merupakan rangkaian berlanjut dari kepelatihan yang telah dilaksanakan sebelumnya guna memperdalam pengetahuan tentang teknis pengoperasian kanon Type 90/35 Twin Gun dan Radar AF 902 FCS serta peralatan pendukungnya agar siap dioperasikan oleh satuan di lingkungan Korps Marinir. Dalam paket pengadaan alutsista ini, Korps Marinir diperkuat empat pucuk kanon Type 90/35 mm beserta radar AF902, kedua sistem senjata terintegrasi ini masuk dalam alokasi belanja di MEF (Minimum Essential Force) tahap II.

img-20160928-wa0004

Di Cina, Type 90 sudah dioperasikan secara penuh oleh satuan Arhanud AD. Kecepatan reaksi menjadi andalan senjata penangkis ini, dalam waktu hanya 6 detik, kanon mampu bereaksi pada sasaran di udara. Dengan pola kerja gas operated, kanon 35 mm/90 ini dapat melontarkan 550 proyektil per menit. Kecepatan luncur proyektilnya mencapai 1.175 meter per detik. Berapa jarak tembak efektifnya? Disebutkan bisa mencapai 3.200 – 4.000 meter.

AKM_8055-(Copy)

Sementara untuk radar AF902 FCS, mobiltasnya mengusung platform towed (tarik) dan truk, dilengkapi dengan dua perangkat tracking systems, yaitu target searching radar dan electro-optical passive tracking director. Khusus untuk electro-optical passive tracking mengadopsi sistem high-resolution optical/infrared TV untuk menjejak sasaran secara pasif di kondisi cuaca cerah. Dengan kemampuan melakukan pelacakan sasaran tanpa memancarkan sinyal radar akan meningkatkan keamanan sistem hanud dari incaran rudal anti radiasi pesawat tempur lawan.

img-20160928-wa0003

Sebagai komponen tempur yang sifatnya mobile, AF902 dapat digelar dan siap menjalankan peran tempur dalam waktu delapan menit, dan jika diperintahkan dapat meninggalkan posisi tempur untuk bergerak ke posisi lain dalam waktu kurang dari lima menit.

Kegiatan pelatihan ini akan berlangsung hingga 1 Nopember 2016 dengan materi meliputi pengenalan, pengoperasian hingga perbaikan ringan sistem meriam dan radar tersebut. (Haryo Adjie)
 

13 Unit F-16 C/D Block52ID Kini Siap Mengawal Ruang Udara NKRI

img-20160922-wa0012
    
Hari rabu lalu (21/9/2016), jumlah F-16 C/D Block52ID yang didatangkan ke Indonesia telah resmi berjumlah 14 unit, meski satu unit telah mengalami total lost dalam kecelakaan yang melibatkan F-16 C Block52ID di Lanud Halim Perdanakusuma pada bulan April 2015. Sehingga jumlah F-16 C/D yang serviceable faktanya berjumlah 13 unit. Lima unit F-16 C/D yang masuk ke dalam gelombang ketiga pengiriman telah tiba di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, setelah melewati penerbangan ferry dari AS lewat Hawaii dan Guam.

Totalnya TNI AU akan menerima 24 unit F-16 C/D, meski produknya berstatus hibah, namun pemerintah mengucurkan dana tak kurang dari US$700 juta untuk melakukan upgrade dan refurbish pada ke-24 pesawat tersebut. Mainframe F-16 C/D yang didatangkan ke Indonesia berasal dari Block25, namun lewat sejumlah program uprade kemampuannya kini setara F-16 C/D Block52.

“Kemampuan pesawat yang di-upgradedengan pesawat baru aviability-nya sama. Hanya kemampuan avioniknya yang berbeda seperti sistem radar dan sistem senjata,” jelas Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Andyawan MP, dikutip dari Janes.com (23/9/2016). Lima pesawat tempur F-16 itu merupakan bagian dari 24 pesawat yang dihibahkan Amerika Serikat kepada pemerintah Indonesia dalam proyek “Peace Bima Sena II”. Rencananya masih akan ada dua gelombang pengiriman lagi yang akan dilakukansecara bertahap.

“Saat ini sudah 14 pesaawat yang datang dan masih ada dua gelombang lagi yang akan tiba. Desember 2017 gelombang yang terakhir, jadi total 24 pesawat,” jelasnya. Ia menyatakan, seharusnya lima pesawat tempur ini datang pada 18 September 2016 lalu. Namun, karena ada beberapa kendala teknis, pesawat ini baru bisa tiba pada 21 September.

Kelima pesawat yang tiba pada hari Rabu lalu terdiri dar tiga tipe C (single seat) dan dua tipe D (tandem seat) itu diterbangkan langsung dari AS menuju Indonesia oleh pilot Angkatan Udara Amerika Serikat. Pesawat tipe C bernomor seri TS1632 diterbangkan oleh Mayor David Tores, TS1635 oleh Kapten Andi Deadeye Branson, dan TS1639 diterbangkan Mayor Rex Yoga Weber. Sementara, dua F-16 tipe D bernomor seri TS1621 diterbangkan Letkol Jukian Debo Pacheco dan seri TS 1624 diterbangkan Letkol Gregori Ajak Gaff. (don)
 

Avibras AV-RMD: Wahana Pembawa (Logistik) Amunisi MLRS ASTROS II TNI AD

5

Dalam gelar kekuatan setingkat baterai (kompi), alutsista MLRS (Multiple Launch Rocket System) ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) II Armed TNI AD setidaknya membutuhkan pergerakan 13 kendaraan khusus (ransus). Lakon utamanya memang kendaraan peluncur AV-LMU (Universal Multiple Launcher), namun ada beberapa ransus lain yang berperan vital dalam sistem baterai ASTROS, diantara yang langsung terkait launcher adalah keberadaan kendaraan pembawa/re-supply amunisi yang disebut AV-RMD.

Saat rangkaian ransus ASTROS II berjalan beriringan, nampak sulit membedakan antara AV-LMU dan AV-RMD. Antar rangkaian ransus ASTROS, mengusung platform truk yang sama yakni Tectran VBT-2028 6×6 dengan mesin diesel Mercedes OM442 delapan silinder berkekuatan 280 hp. Begitu pun antar ransus ASTROS II juga dipasangi SMB (Senapan Mesin Berat) M2HB 12,7 mm. Perbedaan baru kentara saat ransus AV-LMU menaikan posisi peluncur untuk moda siap tembak.

Proses reload amunisi pada ASTROS II
Proses reload amunisi pada ASTROS II
Menurut Avibras, pakem satu baterai ASTROS II yang ideal adalah 6 unit AV-LMU yang didukung 6 unit AV-RMD dan satu lAV-VCC yang bisa ditempatkan di level batalyon. AV-VCC dilengkapi peralatan komunikasi untuk mengkoordinasikan sampai tiga baterai ASTROS II. Paketnya makin lengkap lagi jika unit kendali penembakan AV-UCF juga diturunkan. Dilengkapi radar dan komputer penembakan, AV-UCF berperan sebagai FDC (Fire Direction Center) bagi unit AV-LMU. Jika mau komplit bisa diikutkan dua kendaraan recovery/repair untuk memperbaiki kerusakan. Tiap baterai bisa melontarkan roket yang mencakup 200km2 bila seluruh roket, termasuk munisi isi ulang.

1

3

Nah, khusus AV-RMD sebagai pembawa logsitik amunisi di setting untuk tiap unitnya dapat memasok untuk kebutuhan dua kali reload. Roket-roket yang ada dimuat dalam kontainer yang ‘tinggal’ dimuat ke dalam kotak peluncur di atas sasis ASTROS II lewat dukungan integrated crane. Sistem pengisian ulang (reloading) munisi Astros ini sangatlah mudah, untuk satu set munisi yang dibawa oleh satu kendaraan AV-RMD dapat di reload ke AV-LMU hanya dalam hitungan waktu 8 hingga 12 menit.

Ada 4 macam roket yang dipersiapkan Avibras, yang semua motor roketnya ditenagai oleh double-base propellant. Kaliber terkecilnya adalah 127mm SS-30, yang terpasang sebanyak 32 tabung per kotak peluncur. Roket berhulu-ledak HE (High Explosive) dengan panjang 3,9m dan berbobot 68kg sebuahnya ini mampu menjangkau sasaran sejauh 30km.

4

Roket kedua, SS-40, memiliki kapasitas maksimal 16 roket dalam satu tabung peluncur. Selongsong roketnya memiliki empat sirip (fins) dengan panjang 4,2m dan berbobot 152kg sebuahnya. Jarak jangkaunya antara 15-35 km. Soal hulu ledak, SS-40 cukup fleksibel. Jika mau HE ada, bila memilih munisi cluster/ bomblet (tandan) DP (Dual Purpose) anti material dan personil juga tersedia. Khusus untuk munisi bomblet, dimensinya adalah 39x13cm, dengan sumbu impak mekanis. Tiap bomblet dilengkapi pita-parasut yang berfungsi menahan dan menstabilkan arah jatuhnya.

2

Kategori ketiga, ada SS-60 yang merupakan pengembangan dari SS-40. Punya sosok lebih besar sepanjang 5,6m dan berbobot 595kg, konsekuensinya SS-60 bisa menampung 65 bomblet. Jangkauannya antara 20-60km dengan waktu tempuh 117 detik untuk mencapai jarak maksimal 60 km. Dalam satu kendaraan peluncur, dapat memuat hingga 4 roket SS-60.

Roket terakhir, yaitu SS-80, lahir belakangan pada 1995, dengan sosok yang tak jauh beda dengan SS-60. Daya jangkaunya yang mencapai 90 km dimungkinkan berkat propelan baru. Selain itu, SS-80 bisa dimuati senjata kimia mematikan, walaupun jenis roket yang terakhir ini belum pernah dipergunakan dalam pertempuran aktual. Tak berhenti di 4 kaliber diatas, Avibras juga mengembangkan SS-150 dengan muatan 4 unit roket kaliber 300 mm, jangkauan tembak minimumnya 29 km dan maksimum 150 km. (Bayu Pamungkas)
 
(ID) 

Pindad SP-1: Beraksi di Babak Awal Operasi Seroja, Ini Dia M14 Versi Indonesia

hl

Meski tak bisa disebut sebagai produk yang berhasil dipasaran, namun senapan laras panjang pertama produksi PT Pindad, SP-1, juga tak bisa disebut produk yang gagal total. Sampai saat ini SP (Senapan Panjang)-1 kaliber 7,62×51 mm NATO masih digunakan oleh lembaga pendidikan di tingkat Secaba (Sekolah Calon Bintara) dan Secata (Sekolah Calon Tamtama). Meski debutnya berlangsung singkat, SP-1 yang sejatinya adalah varian lisensi BM59 dari Berreta, menorehkan jejak sejarah yang tak terlupakan dalam usaha kemandirian alutsista nasional.

Di masa awal-awal Orde Baru, PT Pindad mencoba mengambil gebrakan dengan mengambil lisensi dari senjata jenis full battle rifle. Yang didaulat adalah BM59 produksi Beretta, manufaktur senjata dari Italia. BM59 sendiri adalah versi M14, senapan legendaris Amerika Serikat yang turunannya hingga kini masih eksis dalam banyak varian. Jika merujuk ke sejarahnya, M14 punya prinsip serupa dengan senapan M1 Garand yang ditambahkan fitur magasin.

4b0558d06ea35b30871e2d6a095e94e5

3

SP-1 sendiri hadir sebagai jawaban atas kebutuhan TNI (d/h- ABRI) akan pasokan senjata dalam jumlah lumayan guna mendukung berbagai operasi militer. Namun beragam kendala didapati dalam babak-babak awal Operasi Seroja yang didominasi pertempuran sporadis. Selain menggunakan senjata organik, seperti AK-47 dan M-16, unit-unit tempur TNI juga banyak yang mengadopsi senjata buatan Pindad. Namun karena alasan teknis, Pindad kemudian menarik 69.000 pucuk SP-1 yang telah diserahkan kepada TNI AD. Dikutip dari situs pindad.com, selanjutnya Pindad (d/h Kopindad) melalukan transformasi dan modifikasi terhadap beberapa senjata antara lain SMR (Senapan Mesin Regu) Madsen Setter MK III Kaliber 30mm long.

Meski merujuk kepada produk lisensi dari manufaktur senjata kampiun, SP-1 nyatanya juga tak lepas dari masalah. Dalam penggunaan di medan perang, prajurit pengguna SP-1 sering mendapati selongsong yang tidak keluar (macet), popor kayu pecah, picu yang copot karena kompensatornya lepas, yang kesemuanya berdampak bencana bagi prajurit. Alhasil senapan serbu garis depan kemudian diganti M16A1 atau AK-47. Buruknya kualitas SP-1 ada yang menyebut karena metode produksi Pindad yang masih terbatas, ditambah pengerjaannya diuber serba cepat.

cimg0013

Dari spesifikasi, SP-1 merupakan senjata laras panjang yang beroperasi dengan sistem gas operated, rotating bolt. Kemampuan senjata ini bisa menjalankan tembakan semi dan full otomatis. Amunisi yang siap ditembakkan dalam magasin berjumlah 20 butir. Sementara jarak tembak efektif 500 meter, namun dengan dukungan teleskop dan bipod dapat menghajar target sejauh 900 meter. Dalam hitungan per menit, teorinya laras SP-1 dapat memuntahkan 750 proyektil.

Ciri khas SP-1, BM59 dan M14 adalah penggunaan popor yang terbuat dari bahan kayu (walnut), yang dalam operasi di medan tropis, kerap mengalami kasus pelapukan. Kasus yang kemudian dijawab solusinya dengan penggunaan popor sintetis pada M14 generasi akhir.

bm59

bm59_r

Berdasarkan catatan, pihak militer Italia mulai menggunakan BM59 pada tahun 1959. Di masa-masa awal produksi BM59, beberapa komponen penting seperti re-chambered barrels masih didatangkan dari AS. Secara resmi, Italia memensiunkan BM59 pada tahun 1990, dan digantikan oleh senapan serbu buatan Berreta lainnya, yaitu AR70/90 kaliber 5,56×45 mm.

Yang menarik, seperti halnya M14 yang ‘bangkit dari kubur’ dan kini digunakan secara luas oleh pasukan khusus AS, BM59 juga mengalami fase reborn. Tepatnya pada tahun 1992 pasukan paramiliter Italia justru menggunakan BM59 dalam Operasi Vispri Siciliani untuk menumpas habis mafia dan kaki tangannya dari Pulau Sisilia. Seperti halnya M14, BM59 juga dikeluarkan dari gudang penyimpanan, pasalnya militer Italia lebih yakin pada efektivitas kaliber 7,62 mm NATO di medan perkotaan daripada AR70/90 yang telah menjadi senjata standar militer Italia. Akhirnya sebagian besar aksi mafia dapat ditumpas, dan itu berkat andil dari BM59.

10-1

Sebagai informasi, trend urban warfare yang ditandai pertempuran sporadis dan banyaknya penembak gelap, dianggap tidak pas untuk ditangani kaliber 5,56 mm. Pada jarak tembak 400 meter keatas, kaliber 5,56 mm dianggap kurang afdol karena proyektil yang kecil.

wm_3563971

Awal Kehadiran SP-1
Sejak tahun 1962, sejatinya TNI AD telah mulai melakukan uji coba pada BM59. Dan baru kemudian pada tahun 1967 Men/Pangab menetapkan bahwa standar senapan infanteri adalah BM59 modifikasi. Berdasarkan kontrak 13 Agustus 1967, antara tahun 1968 – 1974, Pindad mendapat order produksi pistol FN M46 (P1) – 44.000 pucuk, senapan BM59 MK1 (SP-1) – 50.000 pucuk, senapan BM59 MK1 laras Italia (SP-2) – 10.000 pucuk, dan senapan BM59 MKIV (SP-3) – 9.000 pucuk. (Gilang Perdana)


(id)