Jumat, 15 April 2016

Radar AN/APQ-159: Teknologi Dibalik Kemampuan “Penciuman” Si Macan F-5 E/F Tiger II TNI AU

F-5-1
Dog fight jet tempur F-16 Fighting Falcon vs F/A-18 Hornet bisa dibilang setanding. Namun, apa yang terjadi bila F/A-18 Hornet ‘duel udara’ dengan F-5 E/F Tiger II, yang ini bisa disebut David vs Goliath. Dan yang menjadi David adalah si Macan F-5 E/F Tiger II. Tapi jangan dikira jika si David pasti kalah lawan Goliath. Meski secara spesifikasi, F-5 Tiger kalah telak dari F-18 Hornet, masih ada kesempatan bagi F-5 Tiger untuk membungkam manuver F/A-18 Hornet.

F-5-2

Analogi diatas bukan isapan jempol, sejatinya memang F-5E/F Tiger II TNI AU pernah dog fight melawan F/A-18 Hornet AU Australia/RAAF (Royal Australian Air Force). Meski beberapa kali hubungan kedua negara pernah memanas, tapi dog fight antara Tiger TNI AU dan Hornet Australia terjadi dalam rangkaian latihan bersama Elang Ausindo I pada tahun 1993. Dalam latihan tersebut, F-5E yang seharusnya dapat ditaklukan dengan mudah, nyatanya dapat bertahan dan survive dari ancamam sistem senjata lawan.

Bahkan beberapa belas sorti dari tiga puluh sorti latihan yang dilakukan, F-5E mampu melepaskan rudal AIM-9 Sidewinder ke sasaran. Daalam olah manuver di udara, F-5E mampu melakukan taktik dog fight secara maksimal sesuai kemampuan pesawat. Ini yang membuat para pengamat RAAF kagum terhadap penerbang-penerbang F-5E/F. Menurut perhitungan diatas kertas, Hornet bukanlah tandingan F-5E Tiger, sebab pesawat buatan McDonnel Douglas (sekarang – Boeing) tahun 80-an ini punya sifat dan karakteristik jauh lebih baik dibanding F-5E. Dari segi manuver, F/A-Hornet sanggup akrobat hingga level gravitasi 9g force, sementara F-5 hanya 8g force.

F/A-18 Hornet mampu menembak sasaran dari segala posisi, hal ini dimungkinkan berkat sistem radanya yang handal. Radar APG-65 buatan Hughes mampu menjejak sasaran dari kiri/kanan dan bawah sebelum mata elektronik memandu rudal yang diluncurkan ke sasaran, rudal yang digotongnya pun cukup sangar, mulai dari Sidewinder, AIM-7 Sparrow, dan AIM-120 AMRAAM. Sebaliknya F-5E/F Tiger TNI AU tampil low profile, untuk misi dog fight, senjata yang jadi andalan adalah sepasang kanon M39-A3 kaliber 20mm dan dua rudal udara ke udara AIM-9 P2 Sidewinder.

Karena beberapa keterbatasan, momen terbesar bagi F-5 untuk merontokkan F-18 Hornet yakni pada saat lawan berada di depan. Pada posisi lawan di depan, F-5E/F dapat melepaskan kombinasi kanon laras ganda dan rudal Sidewinder.

Perangkat sistem radar AN/APQ-159
Perangkat sistem radar AN/APQ-159

Tampilan dashboard kokpit F-5E Tiger II.
Tampilan dashboard kokpit F-5E Tiger II.

Nah, dalam pertempuran udara, selain racikan senjata berupa kanon dan rudal, pilot F-5E/F juga terbantu dengan keberadaan radar AN/APQ-159. Jenis radar AN/APQ-159 memang canggih pasa masanya, namun karena sudah tua, teknologi dan spesifikasinya dirasa sudah mulai tertinggal. Hanya saja, radar buatan Emerson Electric ini masih lumayan awet digunakan pada beberapa armada F-5 E/F yang sudah di retrofif sekalipun, termasuk F-5 TNI AU masih menggunakan radar AN/APQ-159.

Dari jenisnya, AN/APQ-159 adalah radar yang beroperasi di frekuensi I dan J band. Radar ini dihadirkan sebagai pengganti jenis radar AN/APQ-153 yang juga digunakan pada jet F-5 A/B Freedom Fighters. Dibanding AN/APQ-153, radar AN/APQ-159 punya jangkauan dua kali lipat lebih besar dan sudut pelacakan yang ditingkatkan.

f0205060_5385d78e24ef3

AN/APG-159 adalah sistem radar yang digadang khusus untuk misi udara-ke-udara. Radar memiliki empat mode utama dari operasi, dua mode pencarian dengan rentang yang berbeda menggunakan layar B-Scope sederhana, C-Scope display pandangan ke depan kanon dan kunci-on otomatis untuk mode pertempuran udara, dan modus yang akan digunakan dalam pengoperasian rudal AIM-9 Sidewinder. AN/APQ-159 sayangnya tak dilengkapi mode udara ke darat, ini kemudian menjawab pertanyaan, mengapa selama ini F-5 E/F Tiger II TNI AU tidak pernah menggotong rudal udara ke permukaan seperti AGM-65 Maverick.

Dikutip dari Wikipedia.com, radar AN/APQ-159 juga belum dilengkapi mode BVR (Beyond Visual Range), itu juga akhirnya menjelaskan mengapa F-5 yang masih memakai radar ini tak pernah membawa rudal seperti AIM-7 Sparrow atau AIM-120 AMRAAM. Bila pada faktanya F-5S Tiger milik AU Singapura mampu melepaskan rudal AGM-65 Maverick dan rudal AIM-120 AMRAAM, jelas karena radanya juga telah diganti ke tipe FIAR Grifo-F X-band.

f0205060_5385d78cd474e

Jika dibandingkan radar AN/APG-66 punya F/A-18 Hornet yang jangkauan deteksinya bisa sampai radius 72 – 150 Km, maka radar AN/APQ-159 punya jangkauan deteksi hanya 37 Km. Pihak Emerson Electric tak berpangku tangam melihat kelemahan yang ada, sempat juga ditwarkan varian upgrade radar ini menjadi AN/APQ-159-1/2 yang menawarkan mode operasi televisi, ini digunakan untuk menyokong misi air to ground dari rudal AGM-65 Maverick.

Di tahun 2010, Dislitbangau (Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara) telah melakukan proses reverse engineering pada komponen radar AN/APQ-159 F-5 E/F Tiger II TNI AU. Melihat kondisi kesiapan radar APQ 159 yang berada di pesawat F-5 E/F sangat menurun karena obselette dan sulitnya mencari suku cadang, Dislitbangau dan mitra PT CMI berusaha mencari solusi untuk mengoptimalkan kembali kemampuan Radar APQ 159. Proses reserve engineering radar APQ-159 mengandalkan pembuatan (kloning) modul TRx radar pada Receiver Modul, UCO Modul (Voltage Control Oscillator), AFC Modul, STC Controller Modul dan modifikasi beberapa modul di High Voltage. Dengan reverse engineering, selanjutnya “indra penciuman” sasaran pada si Macan kembali mampu beroperasi optimal sesuai spesifikasinya. (Haryo Adjie)
 

Kamis, 14 April 2016

Satgultor 81: Pasukan Siluman Kopassus

Mengapa pasukan anti-teror satgultor 81 Kopassus belum tampak di lokasi dalam Operasi Tinombala, mengejar kelompok teroris Santoso di Poso? Kenali peran Kopassus lebih jauh dalam ulasan Aris Santoso berikut ini.



Dalam mengatasi teror bom di Sarinah Thamrin (Jakarta Pusat), pertengahan Januari lalu, publik bertanya-tanya, mengapa pasukan anti-teror Kopassus tidak tampak di lokasi? Pertanyaan yang sama juga muncul dalam pelaksanaan Operasi Tinombala, sebuah operasi pengejaran kelompok teroris pimpinan Santoso di Poso (Sulawesi Tengah).

Pertanyaan publik ini justru menjadi pertanda bahwa satuan anti-teror Kopassus demikian populer di mata masyarakat, dengan begitu sangat diharapkan kehadirannya, di tengah ancaman teror yang seolah tiada henti ini.

Perlu ada klarifikasi soal peran dan fungsi satuan anti-teror Kopassus ini, yang nama resminya Satuan Penanggulangan Teror 81 (Satgultor 81) Kopassus. Kata kunci Satgultor 81 adalah strategis terpilih, artinya yang menjadi sasaran penindakan Satgultor 81 adalah obyek atau kasus yang masuk kategori strategis terpilih. Peristiwa teror bom di Thamrin dan pengejaran kelompok Santoso, belum lagi masuk kategori strategis terpilih.

Apa yang dimaksud sebagai strategis terpilih, bisa dijelaskan dengan merujuk pada operasi atau simulasi yang pernah dilakukan Satgultor, seperti pembajakan pesawat terbang (ingat Operasi Woyla), pembebasan sandera pada obyek vital (kedutaan besar misalnya), pembajakan di gedung tinggi, dan seterusnya.



Special Army Forces Indonesien Kopassus Jakarta

Kualifikasi tinggi, unit kecil, durasi singkat

Kualifikasi personel Satgultor 81 secara umum lebih tinggi dari satuan sejenis (primus inter pares), dan paling lama didirikan (tahun 1981). Oleh karenanya personel Satgultor baru diturunkan, bila ancaman itu bersifat kompleks dengan skala kesulitan terbilang tinggi.

Dan satu lagi yang harus diingat, palagan yang disediakan bagi Satgultor ada pada ruang yang terbatas (seperti pesawat terbang dan gedung), dan biasanya di perkotaan, bukan pertempuran konvensional di dataran luas atau rimba raya. Itu sebabnya model operasi penindakan dari Satgultor 81 (juga satuan anti-teror lainnya), memiliki istilah teknis Pertempuran Jarak Dekat (PJD, Close Quarters Battle)

Apa yang kita lihat dalam Operasi Tinombala, itu sudah lebih dari sekedar operasi anti-teror, sehingga kurang tepat pula bila personel Satgultor diturunkan. Operasi di Poso lebih tepat disebut sebagai operasi lawan gerilya (counter insurgency), dilihat dari segi jumlah personel yang diturunkan dan lamanya waktu operasi.

Satgultor dilatih untuk bergerak dalam unit kecil, dengan durasi sangat cepat, bukan lagi dalam hitungan jam, tapi menit. Sementara operasi di Poso, jumlah personelnya yang diturunkan mencapai ribuan, palagannya luas dan berbulan-bulan di lokasi.

Satuan seperti Densus 88 atau Brimob Polri masih bisa melaksanakan operasi lawan gerilya, karena jumlah personelnya relatif besar, di mana setiap Polda memiliki satuan Densus 88. Terlebih Brimob, yang salah satu tugas pokoknya memang operasi lawan gerilya. Sementara “karakter” Satgultor bukan untuk operasi semacam itu.

Bila Kopassus pada akhirnya mendapat tugas operasi lawan gerilya, bukan Satgultor yang dikirimkan, namun satuan lainnya seperti Grup 1 dan Grup 2 (kualifikasi para komando), atau Grup 3 (Sandi Yudha, operasi senyap).

Mutlak diperlukan sinergi

Bagi negeri kita, begitu krusialnya ancaman teroris atau teror itu, satuan anti-teror juga dikembangkan di angkatan lain. Seperti Detasemen Jala Mangkara (Denjaka Korps Marinir), Komando Pasukan Katak TNI-AL, Detasemen Bravo 90 Paskhas TNI-AU, Satuan Gegana (Brimob Polri), dan Densus 88 (Polri).

Beberapa perwira yang pernah bertugas lama di satuan anti-teror sependapat, dalam mengukur tingkat keandalan sebuah satuan anti teror, jangan dilihat satuan itu berada di bawah marinir, polisi atau tentara. Namun dilihat bagaimana intensitas pelatihannya, perencanaan, peralatan, rasa percaya diri, dan responsif saat eksekusi di lapangan. Oleh karenanya mutlak adanya sinergi antar satuan anti-teror, baik di bawah TNI atau Polri.

Arti penting sinergi dan koordinasi antar satuan kini semakin terasa, mengingat adanya “metamorfosa” dalam aksi teror: dari teroris (sekelompok manusia) menjadi ledakan bom (benda).

Menganal Sebagaimana diketahui unit anti-teror di negeri kita, umumnya dilatih untuk menghadapi aksi teror sekelompok orang, seperti pembajakan pesawat terbang atau penyanderaan di gedung bertingkat. Bila yang dihadapi adalah bom (termasuk bom bunuh diri), perlu ada metode dan kurikulum pelatihan tersendiri.
 

TNI Gagalkan Penyelundupan Sabu 2 Kg


Sintang, Personel TNI yang tergabung dalam Satgas Pengaman Perbatasan RI-Malaysia kembali menggagalkan upaya penyelundupan Narkoba jenis Sabu seberat 2 Kg di daerah Panga Bintawa, Entikong.  Penangkapan pelaku dilakukan oleh personel Satgas Pam Perbatasan RI Malaysia Yonif 144/JY yang berada dibawah Kolakops Rem 121/Abw, Kodam XII/Tpr.

Saat dikonfirmasi Dankolakops Rem 121/ABW Brigjen TNI Widodo Iryansyah membenarkan adanya penangkapan tersebut, Rabu, (13/04) malam.

Keterangan dari Danyon 144/JY Letkol Inf Gambuh Sri Karyanto bahwa penangkapan bermula atas laporan masyarakat Kp. Panga pada 13 April 2016 Pukul  15.30 Wib ke Pos Panga bahwa terdapat 2 orang tidak dikenal menggunakan 1 unit SPM Merk Revo tanpa plat nomor (STNK KB 4862 VQ) dengan gerak gerik mencurigakan memasuki kampung Panga. Saat ditanya, alasan mereka baru selesai memancing.

Setelah menerima laporan, Dan Pos Panga, Sertu Edy Saputra memerintahkan 3 anggotanya yang dipimpin  Kopda Milyan untuk segera melakukan pengejaran. Pada Pukul 15.45 Wib, kedua orang yang mencurigakan tersebut dapat ditangkap di daerah Panga Bintawa, dan dibawa menuju Pos Panga untuk dilakukan pemeriksaan, terangnya.

Setelah dilaksanakan pemeriksaan terhadap  tas ransel yg dibawa kedua orang tersebut ditemukan bungkus susu kemasan merk Frisian Flag. Karena mencurigakan maka kemasan dibongkar dan ditemukan 2 Kg serbuk kristal putih yang diduga sabu-sabu, jelas Danrem.

sabu3

Dari pemeriksaan, identitas masing masing berinisial  Ed (26) warga  Merau Entabang dan Fe (41) warga Tripin Entikong, dalam pengakuannya barang diambil dari  Tebedu Malaysia. Saat ini tersangka beserta barang bukti berupa sabu-sabu  seberat 2 kg dibawa ke Kotis Entikong utk pemeriksaan selanjutnya, pungkas Danrem 121/Abw Brigjen TNI Widodo Iryansyah.
 

Penangkapan Santoso butuh dukungan masyarakat

Penangkapan Santoso butuh dukungan masyarakat
Dokumentasi sejumlah personel TNI berjaga di gerbang masuk dan keluar Desa Sedoa, Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Selasa (5/4). Penjagaan dan pemeriksaan setiap kendaraan yang keluar dan masuk itu adalah rangkaian dari taktik mempersempit ruang gerak kelompok teroris Santoso yang kini kian terdesak di hutan Poso. (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Komandan Korem 132/Tadulako, Kolonel Infantri Muhammad Saleh Mustafa, mengemukakan, untuk menangkap gembong teroris di Poso, Santoso bersama para pengikutnya membutuhkan dukungan dari masyarakat.

"Perlu ikhtiar, kerja keras, kerja sama dan sinergitas antara TNI dan Kepolisian Indonesia dengan masyarakat agar tujuan Operasi Tinombala menangkap Santoso dan pengikutnya bisa segera terwujud," kata Mustafa, kepada wartawan di sela penyambutan dia sebagai pejabat baru di Markas Korem 132/Tadulako, Palu, Kamis.

Sebelumnya, Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Agus Surya Bakti, melantik Kol Inf Mustafa menggantikan pejabat lama Kolonel Infantri Syaiful Anwar, yang gugur bersama 12 prajurit TNI lainnya dalam musibah kecelakaan helikopter TNI di Poso beberapa waktu lalu.

Mustafa berkualifikasi komando dan lama berkarir di Komando Pasukan Khusus TNI AD.

Santoso dan kawanannya sejak lama menjalankan taktik dan strategi gerilya. Dia keluar-masuk kampung-kampung dan hutan, dan tidak mau menyerah pada pemegang otoritas keamanan setempat. 

Tidak kurang dari tiga batalion gabungan TNI dan polisi diterjunkan untuk membawa Santoso dan kawanannya ke depan hukum. Sampai kini upaya itu belum membuahkan hasil dari Operasi Tinombala itu. 

"Saya akan segera menemui kepala Polda Sulawesi Tengah selaku pemimpin Operasi Tinombala untuk berkoordinasi terkait tugas ke depan agar operasi ini cepat selesai dan sukses," katanya.

Secara khusus, Bakti berpesan pada Mustafa agar berkoordinasi dengan Kepala Polda Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Polisi Rudy Sufahriadi, untuk mengejar kelompok sipil bersenjata pimpinan Santoso alias Abu Wardah di Poso, dalam Operasi Tinombala. 

Mustafa otomatis menjadi wakil komandan Operasi Tinombala yang dipimpin Sufahriadi itu.

"Saya berharap agar ke depan nanti, tidak ada lagi kecelakaan dalam perburuan Santoso," kata Bakti.
 
 

Rabu, 13 April 2016

Beratnya TNI AU “Melepas” Si Macan F-5 E/F Tiger II

F-5-Tiger-TNI-AU2

Seandainya di tahun 1995 TNI AU melakukan retrorif dengan paket ‘komplit’ pada armada F-5 E/F Tiger II, boleh jadi masa pengabdian Si Macan masih bakal lebih lama, lebih dari itu sistem persenjataan bisa di uprade lebih letal, dan harusnya bisa ditempeli fasilitas air refueling agar F-5 TNI AU sanggup isi bahan bakar di udara. Tapi sayangnya, program retrofit yang diberi label proyek MACAN (Modernization of Avionics Capabilities for Armament and Navigation) tak menyentuh elemen-elemen perubahan seperti poin diatas.

Lewat proyek MACAN, kala itu sisa sembilan unit F-5 E/F Tiger II yang siap operasional memang jadi lebih ganas, F-5 E/F TNI AU serasa lahir kembali, dengan desain lama tapi jeroan baru. Bahkan setelah dimodernisasi, kecanggihan F-5E/F Tiger II setara dengan F-16 C/D Fighting Falcon, TNI AU sendirio telah memproyeksikan masa pengabdian jet tempur ini hingga tahun 2020. Beberapa poin fitur yang ditambah dari proyek MACAN adalah HUDWAC, INS (Intertial Navigation System), Video System, RWR (Radar Warning Receiver), HOTAS (Hans On Throttles And Stick), dan FFMSDC (Fuel Flow Monitor Signal Data Converter). Lebih detail tentang fiturn yang ditambahkan dari proyek MACAN bisa dilihat di link artikel dibawah ini.

F5-4F5-1

Meski terlihat F-5 E/F Tiger II TNI AU jadi tampil dengan perangkat sensor dan avionic yang kekinian, tapi sayang tidak ada sentuhan upgrade pada sisi senjata. Setelah program MACAN tuntas, sista pada F-5E/F Tiger II TNI AU masih bertumpu pada kombinasi kanon internal dua laras M39-A3 kaliber 20mm dan rudal udara ke udara lawas AIM-9 P2 Sidewinder, itu untuk misi CAP (Combat Air Patrol). Sementara untuk misi ground attack, masih bersandar pada jenis roket FFAR dan varian bom konvensional MK-81 dan MK-82.

F5-5

Kontroversi Proyek MACAN
Yang banyak disesalkan dari proyek MACAN yaitu tidak adanya program perpanjangan usia operasional pesawat. Awal dari program modernisasi F-5 adalah saat KSAU saat itu, Marsekal TNI Rilo Pambudi mengunjungi pameran kedirgantaraan di LeBourget tahun 1993. KSAU menyatakan TNI AUsedang mempertimbangkan untuk memordenisasi armada F-5 E/F Tiger II. Kemudian respon pun bermunculan dari beberpa perusahaan penerbangan, seperti dari British Aerospace, Fokker, Alinea. Northrop Grumman, Singapore Airspace, dan Smiths Industries, semuanya berkompetisi untuk berebut tender.

Kompetisi dalam modernisasi F-5 memang peluang yang menggiurkan, pasalnya di dunia terdapat 1.600 F-5 yang masih dioperasikan oleh 26 negara. Dan, dari jumlah tersebut, 270 pesawat dari 10 negara pengguna F-5E telah melakukan modernisasi. Tapi sayang justru negara dengan populasi terbesar F-5 belum melakukan modernisasi, seperti Suadi Arabia (80 pesawat), Korea Selatan (150 pesawat), dm Taiwan (250 pesawat).

Melalu seleksi internal, akhirnya kontrak dimenangkan oleh SABCA, perusahaan penerbangan asal Belgia yang telah berdiri sejak 1920. Total kontrak yang digulirkan adalah US$ 40 juta. Selain paket upgrade yang dipancang menarik, dipilihnya SABCA karena harga yang ditawarkan cukup bersaing. Tapi disisi lain, terjadi kontroversi, kontrak US$40 juta hanya dilakukan untuk 9 unit pesawat tanpa program perpanjangan usia operasional. Jelas pihak SABCA sangat diuntungkan, sedang yang didapat TNI AU terbilang minim. Bandingkan, harga F-16 A Fighting Falcon bekas pakai USAF hanya ditawarkan US$6 juta per unit.

Senapan mesin kaliber 20 mm dengan penutup yang dibuka

Diluar proyek MACAN, Dinas Peneletian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) juga telah melakukan beberapa terobosan untuk memperpanjang usia pakai F-5 E/F Tiger II. Seperti di tahun 2010, dilakukan reverse engineering pada komponen radar AN/APQ-159. Melihat kondisi kesiapan radar APQ 159 yang berada di pesawat F-5 E/F sangat menurun karena obselette dan sulitnya mencari suku cadang, Dislitbangau dan mitra PT CMI berusaha mencari solusi untuk mengoptimalkan kembali kemampuan Radar APQ 159.

Maka dilakukan reserve engineering radar APQ-159 dengan beberapa komponen yang masih banyak di pasaran. Metodenya dengan pembuatan (kloning) modul TRx radar pada Receiver Modul, UCO Modul (Voltage Control Oscillator), AFC Modul, STC Controller Modul dan modifikasi beberapa modul di High Voltage. Keuntungan dari program reverse engineering bagi pesawat F-5 E/F antara lain dapat mengembalikan kemampuan radar AN/APQ 159 sesuai spesifikasi dan fungsinya.

Pada Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2014, Dislitbangau juga mengembangkan tester MSCADC untuk pesawat F-5 E/F. Alat ini untuk merubah data udara yang terkalibrasi dalam pengoperasiannya terintegrasi dengan SACS yang berfungsi sebagai Dynamic Compressible Pressure yang akan memberikan keselarasan gerakan rudder dan horizontal stabilizer. Dislitbangau juga berhasil membuat komponen drag chute untuk F-5 E/F.

Mengintip Populasi Si Macan di Langit Indonesia
Dari 16 unit pesawat tempur F-5 E/F Tiger II yang dibeli Indonesia sejak tahun 1980an, tercatat ada 4 unit yang sudah mengalami kecelakaan dan jatuh. Kejadian pertama terjadi tidak lama setelah pesawat tempur ini tiba di Indonesia. Tepatnya tahun 1981 satu unit pesawat tempur F-5E (kursi tunggal) dengan tail number TS-0504 jatuh. Kemudian disusul dengan F-5E (kursi tunggal) dengan tail number TS-0505 (1986). Dua unit lainnya yang jatuh juga dari varian kursi tunggal yaitu F-5E tail number TS-0507 (1990) dan TS-0506 (1993).

F-5 E Tiger II AU Singapura
F-5 E Tiger II AU Singapura

Dengan jatuhnya 4 unit pesawat tersebut, kesiapan operasional Skadron Udara 14 hanya memiliki 12 unit pesawat tempur F-5 E/F Tiger II sisanya. Salah satu dari 12 unit ini, yaitu pesawat tempur F-5 E (kursi tunggal) dengan tail number TS-0510 juga pernah mengalami masalah saat hendak melakukan latihan di sekitar akhir dekade 1990an. Hal ini mengakibatkan pesawat tempur ini mengalami kerusakan dan keretakan dibeberapa bagian airframe nya sehingga harus di perbaiki ke Amerika.

Dikutip dari pesawattempur.com, pada akhirnya pesawat tempur F-5 E dengan tail number TS-0510 ini akhirnya dikirimkan ke Amerika untuk diperbaiki dengan harapan masih bisa digunakan dikemudian hari. Dan setelah mengalami perbaikan di Amerika, pesawat tempur ini dinyatakan sudah bisa dikirim kembali ke Indonesia. Namun sebelum pesawat tempur ini dikirim ke Indonesia, Amerika Serikat sudah memberlakukan embargo militer bagi Indonesia terkait permasalahan Timor Timur tahun 1999.

Hal tersebut menyebabkan pesawat tempur F-5 E TS-0510 yang sudah selesai diperbaiki ini tidak bisa dikirimkan ke Indonesia dan akhirnya tertahan selama 7 tahun di Amerika. Setelah Amerika mencabut embargo militer pada tahun 2005, pemerintah Indonesia mulai mengusakan untuk pemulangan pesawat tempur malang ini. Namun pemulangan pesawat tempur ini baru bisa terjadi di tahun 2006 dan tepatnya tanggal 13 September 2006, pesawat tempur F-5 E TS-0510 ini tiba di Surabaya setelah dikapalkan selama sebulan dari Amerika.

Dengan home base di Lanud Iswahjudi, kini sisa lima unit F-5E dan tiga unit F-5F F-5 E/F Tiger II masih tetap dioptimalkan. Meski tak tampil lagi di garda depan fighter TNI AU, flight F-5 E/F kini ditugaskan untuk berada di Lanud Palembang. Perkuatan jet tempur di Lanud Palembang seiring peningkatan status pangkalan, dari Lanud kelas C ke Lanud kelas B.

Masih Eksis Sampai 2020
Bila tidak ada perubahan dalam rencana strategis, nantinya F-5 E/F Tiger II TNI AU masih tetap eksis saat jet tempur penggantinya tiba di Indonesia. Merujuk ke batas pemakaian F-5 E/F sampai tahun 2020, sementara pada tahun 2018 paling telat TNI AU sudah mulai kedatangan jet tempur baru untuk Skadron Udara 14.

Walau belum terlihat upaya TNI AU untuk memoles F-5 E/F sesangar milik Singapura, Brazil, dan Kanada, namun sejak dekade silam sudah ada niatan untuk memperkuat armada F-5 E/F secara kuantitas. Di tahun 2005, TNI AU sempat dikabarkan akan menerima hibah dari AU Yordania, tapi kemudian gagal. Salah satu sebabnya adalah belum keluarnya izin dari AS, maklum Yordania adalah sekutu AS di Timur Tengah. Kemudian di bulan Maret 2012, KSAU saat itu, Marsekal TNI Imam Sufaat pernah mengungkapkan rencana TNI AU untuk menerima hibah satu skadron F-5E/F dari Taiwan. Tapi bukannya ada kelanjutan yang positif, justru Kadispen TNI AU Marsma TNI Ahmad Yunus membantah adanya rencana tersebut.

Yang terakhir di tahun 2013 berita penolakan dari pihak TNI AU atas hibah F-5 dari Korea Selatan. Alasannya bukan karena TNI AU tidak butuh F-5, melainkan karena spesifikasi F-5 Korea Selatan berbeda dengan yang dimiliki Indonesia. Pesawat F-5 milik Indonesia sudah banyak dimodifikasi, baik persenjataan atau avioniknya. Sedang pesawat yang ditawarkan Korea Selatan minim modifikasi. Soal perbedaan spesifikasi, menurut pihak TNI AU justru menjadi beban di biaya perawatan.

F-5E milik AU Kanada yang di upgrade menjadi CF-5E Tiger. CF-5 punya kemampuan isi ulang bahan bakar di udara.
F-5E milik AU Kanada yang di upgrade menjadi CF-5E Tiger. CF-5 punya kemampuan isi ulang bahan bakar di udara.5

Bila di Indonesia debut F-5 E/F Tiger II sudah masuk masa senja, lain halnya di Singapura, dikenal sebagai AU terkuat di Asia Tenggara, Singapura sampai saat ini masih terus mengoperasikan 27 unit F-5S (varian upgrade dari F-5E). Meski cakupan ruang udaranya sangat terbatas, F-5S Singapura sudah dilengkapi air refueling system, lalu ada penggantian radar ke jenis Galileo Avionica’s FIAR Grifo-F X-band, dari sisi persenjataan, F-5S bahkan sanggup meluncurkan AGM-65 Maverick dan rudal udara ke udara AIM-120 AMRAAM.

Diluaran memang kesaktian si Macan masih punya tempat, buktinya Elbit Systems, vendor elektronik pertahanan dari Israel pada 22 Oktober 2014 telah memperoleh kontrak senilai US$85 juta untuk meng-upgrade armada jet tempur Northrop F-5 Tiger. Yang menarik, Elbit Systems juga menyebut kontrak upgrade tersebut berasal dari salah satu negara di Asia. Nah! (Bayu Pamungkas)
 

Surveillance Radar Rudal Rapier, Mampu Dialihfungsi Mendukung Peran Meriam PSU S-60 57mm TNI AD

Rapier-Missiles-3

Karena usia yang uzur, rudal Rapier memang telah purna tugas, tapi perangkat penunjang sistem rudal tersebut sampai saat ini masih tersimpan, terawat dan dapat dioperasikan oleh Arhanud TNI AD. Diantaranya adalah komponen radar blindfire, generator, fire control unit, dan unit peluncur rudal (launcher unit). Dengan ide dan kreativitas, komponen sistem rudal Rapier kini dapat ‘dibangkitkan’ dari tidurnya.

Berangkat dari kondisi tersedianya 50 peluncur rudal Rapier di empat detasemen hanud (pertahanan udara), menggerakan pihak Pusdikarhanud TNI AD untuk memaksimalkan launcher unit Rapier yang masih berfungsi baik, artinya dapat digerakkan sesuai kendali. Memaksimalkan launcher unit Rapier tentu bukan memasang konsol ini dengan jenis rudal lain, melainkan radar yang terdapat di dalam radome (kubah) dapat diutak atik untuk digunakan pada pada jenis senjata lain.

Rapier kini sudah pensiun dalam kedinasan Arhanud, sista ini kini disimpan dalam depo.
Rapier kini sudah pensiun dalam kedinasan Arhanud, sista ini kini disimpan dalam depo.

Surveillance radar terdapat di dalam kubah unit peluncur.
Surveillance radar terdapat di dalam kubah unit peluncur.

Pada stuktur launcher unit Rapier yang didesain dari konsep trailer (towed). Selain ada dudukan empat rudal, masing-masing dua peluncur di kiri dan kanan, pada bagian kubah yang tertutup didalamnya tersemat surveillance radar, peran dari surveillance radar di launcher unit juga mencakup fungsi IFF (identification friend or foe). Dengan didukung teknologi komputer pemandu, radar transmitter and receiver, plus antena berbentuk parabola, menjadikan tools pemandu yang efektif pada rudal yang meluncur menuju sasaran.

Dari komponen yang terdapat di launcher unit, surveillance radar yang ada didalam kubah dicoba dimanfaatkan oleh Arhanud TNI AD sebagai elemen penjejak bagi meriam PSU (Penangkis Serangan Udara) S-60 57 mm buatan Rusia. Surveillance radar ini digadang khusus untuk mendukung jenis meriam S-60 T.AKT (Tanpa Alat Kendali Tembak). Di lingkup Arhanud TNI AD, juga terdapat meriam S-60 57mm Retrofit.

s-60-3_20457mm

Sebagai informasi, saat awal-awal diterima dari Uni Soviet di tahun 60-an, meriam S-60 sejatinya sudah dilengkapi alat kendali tembak (fire control unit) dan radar. Fire control unit pasangan meriam S-60 adalah Puazo, dan jenis radar pengintainya adalah Son -9. Kedua komponen FCU dan radar ini terbilang kondang digunakan dalam Perang Vietnam. Di Indonesia, Puazo dan Son-9 telah menjadi besi tua sejak tahun 1980.

Puazo, inilah fire control unit yang asli untuk meriam S-60.
Puazo, inilah fire control unit yang asli untuk meriam S-60.

Melengkapi Puazo FCS, ada radar surveillance Son-9.
Melengkapi Puazo FCS, ada radar surveillance Son-9.

Tanpa peralatan tersebut, S-60 seperti mati suri karena dengan kecanggihan pesawat saat ini operator meriam bisa tidak berkutik jika mengandalkan melihat sasaran secara visual. Operator akan kesulitan melakukan proses penjejakan sampai dengan penembakan sasaran. Alat kendali tembak pada alutsista hanud mempunyai peran yang sangat vital. Tanpa alat itu, waktu reaksi operator Meriam saat ada sasaran udara jadi singkat, tidak bisa menembak seawal mungkin dan prosentase perkenaan menjadi rendah. Dengan pola bidikan optik manual, sasaran baru bisa terlihat dari jarak 5,5 Km, bahkan jarak pandang bisa jadi lebih terbatas jika penempatan meriam dikontur berbukit.

Visualisasi penembakkan meriam tanpa dukungan alat kendali tembak (tanpa radar).
Visualisasi penembakkan meriam tanpa dukungan alat kendali tembak (tanpa radar).

Baca juga: Radar Fire Finder Armed TNI AD – Pemburu Posisi Meriam Lawan

Visualisasi penembakkan meriam S-60 dengan dukungan alat kendali tembak (radar).
Visualisasi penembakkan meriam S-60 dengan dukungan alat kendali tembak (radar).

Dari etalase senjata yang ada, sampai saat ini meriam S-60 57 mm T.AKT masih terdapat 125 pucuk dalam kondisi baik, 54 pucuk dalam kondisi rusak ringan, dan 9 pucuk dalam kondisi rusak berat. Kesemuanya digelar oleh satuan Yon Arhanudse (Artileri Pertahanan Udara Sedang).

Modifikasi SurveilanceRadar Rapier (SRR) dan meriam S-60T. AKT dengan beberapa alat tambahan dimungkinkan untuk dilaksanakan. Modifikasi adalah alternatif untuk meningkatkan efektivitas sista meriam S-60 T. AKT dan memperpanjang usia pakai. Dengan sistem ini, diharapkan operator akan lebih mudah dalam proses penembakan sasaran, mempunyai waktu reaksi yang cukup, bisa lebih awal menembak sasaran serta menambah prosentase perkenaan terhadap sasaran.

Prajurit Arhanud tengah mendorong S-60 T.AKT.
Prajurit Arhanud tengah mendorong S-60 T.AKT.

Sistem dibangun dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia dan menggabungkannya menjadi sebuah sistem baru. Peralatan yang dibutuhkan adalah:SurveilanceRadar Rapier(SRR), Meriam 57 mm S60 T.AKT, TDR/RLD, Interface(alat tambahan pada Surveilance Radar), Synchro(alat tambahan pada Meriam 57 mm S 60 T. AKT) dan Headset(untuk Danpu dan Awak Azimuth).Fungsidari tiap-tiap peralatan adalah :

SurveilanceRadar Rapier(SRR) berfungsi untuk mencari dan menemukan sasaran denganjangkauan sampai dengan radius 12 Km.
Meriam 57 mm S-60 T. AKT berfungsi untuk menembak dan menghancurkan sasaran yang telah tracking /dijejaki.
TDR/RLD berfungsi sebagai alat untuk memproses data sasaran, menunjukkan arah sasaran serta mengontrol waktu penembakan.
Interface berfungsi untuk mensinkronkan data output dari radar agar bisa dibaca oleh peralatan TDR/RLD
Synchro berfungsi sebagai alat elektro mekanik untuk mengetahui arah meriam.
Headset berfungsi untuk mendengarkan bunyi alarm dan tone bahwa arah laras meriam sudah tepat pada sasaran.

Alat peralatan disusun sesuai konfigurasi agar berfungsi optimal saat gelar Hanud. Konfigurasiyang dibutuhkan dalam 1 satuan tembak terdiri dari :1 (Satu) SurveilanceRadar Rapier, 4 (Empat) Meriam 57 mm S-60 T. AKT, 4 (Empat) TDR/RLD, 1 (Satu) interface, 4 (Empat) Synchrodan 8 (Delapan) headset.

S-60 TNI AD dalam HUT ABRI 1977, tampak meriam ditarik oleh truk Reo
S-60 TNI AD dalam HUT ABRI 1977, tampak meriam ditarik oleh truk REO.

S-60 Arhanudse TNI AD dalam sebuah uji penembakan
S-60 Arhanudse TNI AD dalam sebuah uji penembakan

Dengan sistem kendali tembak seperti ini, dapat menambah akurasi perkenaan pada target, pasalnya operator terbantu dari segi waktu. Setelah operator memasang laras meriam ke arah yang di aba-abakan Komandan pucuk, operator akan meraba ketepatan arah laras sesuai dengan tone dari alat peralatan. Jika secara manual proses dimulai dari radius 5,5 Km, dengan sistem ini proses sudah bisa dimulai dari radius 12 Km dari posisi gelar meriam. Dari aspek teknis dan taktis sudah jelas menguntungkan karena bertambahnya waktu reaksi bagi operator.

Meski dari segi usia pengabdian, S-60 sudah terbilat sangat tua, dalam gelar taktis S-60 dapat mendukung konsep senjata komposit hanud TNI, yakni kombinasi rudal dan kanon/meriam. Semakin banyak alutsista yang digelar maka akan semakin padat hamburan peluru di udara dan akan saling menutupi kelemahan satu dengan yang lainnya.(Gilang Perdana)

AN/UPS-3 TDAR: Radar Penjejak Target Untuk Meriam PSU S-60 57mm Retrofit Arhanud TNI AD

IMAG1492

Ditengah ramainya perbincangan tentang rudal hanud (pertahanan udara) dan kanon reaksi cepat PSU (penangkis serangan udara) terbaru TNI AD dan TNI AU. Terbesit pertanyaan, bagaimana dengan kabar si meriam ‘sepuh’ atau akrab dipanggil “Si Mbah” S-60 yang dimiliki Yon Arhanudse (Artileri Pertahanan Udara Sedang) TNI AD? Apakah meriam PSU yang telah mengabdi 56 tahun ini masih dioperasikan? Maklum ditinjau dari aspek coverage, masih banyak obyek vital di Indonesia yang masih lowong dalam pengamanan sista hanud.

Meski meriam S-60 buatan Rusia sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1960, merujuk informasi dari situs Pusdikarhanud.mil.id, faktanya meriam ini masih terpelihara dengan baik, bahkan sparepart diproduksi sendiri untuk proses pemeliharaan sehingga seluruh meriam masih berfungsi dengan baik. Dukungan amunisi 57 mm pun telah diproduksi secara mandiri oleh PT Pindad.

Gelar meriam S-60 Arhanudse TNI AD.
Gelar meriam S-60 Arhanudse TNI AD.

Seperti yang telah disinggung dalam bedah meriam S-60 pada artikel terdahulu, kuantitas meriam ini yang cukup banyak hingga ratusan unit, plus kondisi si Mbah yang masih prima, mendorong alutsista ini terus dan masih dipertahankan sampai saat ini. Secara umum, meriam S-60 di Arhanud TNI AD alutdibagi ke dua kelompok, yakni S-60 57 mm Retrofit dan S-60 TAKT (Tanpa Alat Kendali Tembak). Khusus S-60 Retrofit sudah didukung sejumlah modifikasi, sehingga meriam dapat digerakkan secara elektrik dengan cara Local Control yang menggunakan tenaga listrik dari dua buah baterai yang tersedia dan dengan cara Remote Control yang dikendalikan dari FCS (Firing Control Sistem).

tdar1tdar

Lepas dari itu, S-60 Retrofit masih disokong perangkat radar AN/UPS-3 TDAR (Tactical Defence Alert Radar). Antena taktis yang dapat digelar portable ini dapat mendeteksi keberadaan sasaran sejauh 20 Km. Dengan mengusung teknologi 2D (dua dimensi), radar buatan Jerman ini dalam operasinya dapat menjalankan moda beyond line of sight target. Dari aspek ketinggian deteksi, AN/UPS-3 TDAR dapat mengendus sasaran yang berada di ketinggian 3.000 meter.

Dalam teorinya, radar ini ideal mengendus sasaran berupa helikopter dari jarak 8 – 10 Km. Sedangkan sasaran berupa pesawat dengan kecepatan Mach 1.6 dapat dideteksi dari jarak 20 Km. Dari sisi akurasi, TDAR punya kualitas presisi sampai 300 meter. Sistem radar ini dalam gelarannya dapat di remoted dari pos komando. Dalam simulasi, operator radar TDAR menginformasikan dan menyajikan data terkait update sasaran kepada unit operator meriam. Koneksi antara operator radar dan operator meriam dapat dilakukan lewat radio atau kabel. Karena dimensinya yang kompak, radar TDAR dapat ditejunkan dalam operasi Lintas Udara. Dalam gelarannya, radar ini juga bisa ditempatkan di jip taktis. (Gilang Perdana)

Spesifikasi Radar AN/UPS-3 TDAR
– Frekuensi: 1,75 – 1,85 Mhz
– Berkas pancaran: 5,5 (hor) 18
– Sudut elevasi: -3 s/d 10
– Jangkauan max: 20 Km
– Polarisasi: horizontal
– Kecepatan putar: 10 – 15 RPM
– Ketahangan angin: saat operasi (70 Km/jam) dan tidak operasi (100 Km/jam)
– Tenaga: 24 Volt, 1A
– Jumlah awak: 2 orang
– Tahun pembuatan: 1992
– Tahun pengiriman: 1994