Selasa, 05 Januari 2016

Kopassus Membentuk Batalyon Baru

  kopasus-3

Kopassus menambah jumlah pasukannya dengan pembentukan Batalyon 14 Grup-1, ”Bhadrika Sena Baladhika” dengan Komandan Batalyon Mayor Inf. I Made Putra Suhartawan. Peresmian Batalyon 14 Grup-1 Kopassus ini dilakukan oleh Danjen Kopassus Mayjen TNI M.Herindra di Stadion Untung Suntoro, Kemang, Bogor, Jawa Barat (30/12/2015).

kopassus-1

Batalyon 14 Grup 1 Kopassus memiliki sesanti ”Bhadrika Sena Baladhika” yang bermakna wadah prajurit pilihan yang gagah berani. Menurut Danjen Kopassus, hal itu merupakan doa sekaligus kebanggaan bagi prajurit yang terpilih sebagai bagian dari Batalyon 14 Grup 1 Kopassus. “Jadikan ini sebagai cambuk pemicu semangat untuk menjadi yang terbaik”, ujar Danjen Kopassus.


kopassus-3

Danjen Kopassus meminta prajurit Batalyon 14 Grup 1 Kopassus, dapat mengasah kemampuan keprajuritan dengan berlatih, berlatih dan berlatih, sesuai harapan pimpinan Angkatan Darat bahwa prajurit Kopassus adalah petarung yang hebat, berdisiplin tinggi, jago perang, jago tembak, jago beladiri dan memiliki fisik yang prima.

Turut hadir dalam peresmian itu, para Asisten Danjen Kopasus, Komandan Satuan Kopassus dan pimpinan Muspida Bogor.

Sumber : kopassus.mil.id

Senin, 04 Januari 2016

Kh-59ME: Rudal Anti Kapal Andalan Sukhoi Su-30MK2 Flanker TNI AU

kh59me-e1451712767238

Akhir dari babak Operasi Trikora di tahun 60-an jelas dipengaruhi kemampuan diplomasi RI yang mampu menekan pemerintah Belanda lewat kampanye psy war. Hadirnya alutsista sangar, seperti kapal penjelajah KRI Irian, jet tempur supersonic MiG-21, kapal selam Whiskey Class, dan pembom Tupolev Tu-16 Badger memberi tekanan keras pada kekuatan militer Belanda di Papua. Tak tanggung-tanggung, eksistensi kapal induk HNLMS Karel Doorman pun ikut terancam.

Lantas yang jadi pertanyaan, siapakah pengancam terberat bagi Karel Doorman? Sebagai kapal induk ringan, setiap pergerakannya sudah pasti mendapat pengawalan dari korvet atau frigat. Potensi serangan dari permukaan dan bawah laut relatif masih bisa ditangani kapal-kapal perang pengawal Karel Doorman, tapi ada yang diperkirakan tak sanggup diatasi, yakni ancaman serang dari rudal anti kapal. Maklum pada masa itu, sistem pertahanan anti serangan udara di kapal permukaan belum mengenal teknologi semacam CIWS (Close In Weapon System).

x59

Dan ditakar dari kekuatan militer yang ada, ancaman yang mampu mengkandaskan Karel Doorman tak lain rudal anti kapal AS-1 Kennel. Hanya dibutuhkan dua kombinasi tembakan dari AS-1 Kennel, maka Karel Doorman yang berbobot 19.900 ton dapat dihancurkan. Sebagai wahana peluncur AS-1 Kennel yakni Tu-16 B (Tu-16KS) milik TNI AU (d/h AURI). AS-1 Kennel dengan dimensi sebesar jet tempur MiG-15, punya bobot aduhai hingga 3 ton yang didalamnya terdapat hulu ledak 600 kg high explosive. Bisa dibayangkan seperti apa kehancuran yang bakal dialami AL Belanda jika saat itu nekad melawan RI.

AS-1 Kennel di sayap pembom Tu-16 TNI AU
AS-1 Kennel di sayap pembom Tu-16 TNI AU

Sejak era AS-1 Kennel berakhir, praktis Indonesia tak pernah lagi memiliki varian rudal anti kapal yang diluncurkan dari platform pesawat tempur tau bomber. Yang ada justru taburan variasi rudal anti kapal yang diluncurkan dari platform korvet dan frigat. Padahal gelaran konsep pertempuran bakal sangat berbeda, meski labelnya sama-sama rudal anti kapal. Dengan dihantar lewat jet tempur, rudal akan lebih cepat menyasar menuju target.

Dan bicara dalam konteks saat ini, rupanya TNI ingin mengenang supremasi AS-1 Kennel dengan pengadaan rudal anti kapal jenis baru, Kh-59ME besutan pabrik Tactical Missile Corporation (TMC),Rusia. TMC sendiri sudah tak asing bagi sistem senjata TNI AU, pasalnya TCM juga yang memproduksi rudal Kh-31P dan Kh-29TE untuk Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker Skadron Udara 11 TNI AU.

Kh-59M dan rudal R-27
Kh-59M dan rudal udara ke udara Vympel R-27

Sukhoi Su-30MK Rusia dengan Kh-59 (rudal berwarna merah).
Sukhoi Su-30MK Rusia dengan Kh-59 (rudal berwarna merah).

Mengutip dari Wikipedia.com dan berita di Janes.com (29/12/2015), menyiratkan bahwa Kh-59ME sudah dalam proses pengadaannya untuk TNI AU. Malahan DPR RI memberi alokasi pembelian rudal ini senilai US$18 juta. Kh-59ME merupakan varian ekspor dari keluarga rudal Kh-59. Rudal ini punya bobot 930 kg, menjadikan rudal terberat alias paling gambot yang dimiiki TNI AU. Sebagai perbandingan rudal udara ke permukaan Kh-29TE bobotnya 600 kg dengan hulu ledak 320 kg, dan rudal Kh-31P punta bobot 600 kg dengan hulu ledak 90 kg. Kh-59ME sendiri punya berat hulu ledak 320 kg yang dipicu dengan sistem cluster atau shaped charge fragmentation.

Sistem pemandu Kh-59ME mengandalkan mode kombinasi inertial guidance dan TV guidance (pemandu TV), serupa dengan rudal Kh-29TE. Inertial guidance digunakan untuk membimbing rudal ke area sasaran, dan TV guidance lebih untuk memandu rudal pada identifikasi sasaran yang tepat. Dengan TV guidance juga memungkinkan bagi operator pengendali untuk melhat sasaran secara visual dan real time atas sasaran yang akan dikunci. TV guidance akan diaktifkan 10 km menjelang rudal tiba di area sasaran. Untuk memantau pencitraaan, transmisi TV Kh-59ME dapat dikoneksikan dengan perangkat APK-9ME pod yang ditempatkan pada sisi pesawat tempur.

Kh-29ME disokong dua mesin, mesin utamanya berupa two stage rocket, dan sebagai pendukung ada mesin turbofan eksternal, terdapat di bawah bodi. Dengan spesifikasi tersebut, Kh-59ME sanggup terbang sejauh 115 km dengan kecepatab sub sonic, antara Mach 0,72 – 0,88. Rudal dapat melaju dengan pola sea skimming di ketinggian 7 meter diatas permukaan laut, atau terbang jelajah di ketinggian 1.000 meter.

Kh-59 dirancang okeh biro desain Raduga, dan seri Kh-59ME dihadirkan sebagai versi peningkatan dari Kh-59 standoff missile, dan dipekenalkan ke publik pada tahun 1990. Versi perdana Kh-59 sendiri telah dioperasikan Uni Soviet pada tahun 80-an. Kh-59ME memang dirancang untuk diluncurkan dari keluarga jet tempur Sukhoi Su30 MK2. Namun tak semua Kh-59 melaju dengan sistem TV guidance, ada varian serang permukaan darat Kh-59MK2 yang menggunakan millimeter wave active radar seeker, teknologi ini memungkinkan rudal beraksi secara fire and forget.

Kh-59MK2, versi serang darat dengan sistem fire and forget.
Kh-59MK2, versi serang darat dengan sistem fire and forget.

Meski ini kabar baik untuk dunia alutsista TNI, namun jangan anggap rudal ini special Indonesia punya, pasalnya Malaysia dan Vietnam malah sudah lebih dulu mengoperasikan Kh-59ME. Di luar Indonesia, Malaysia, Rusia, dan Vietnam, negara pengguna Kh-59 adalah India, Venezuela, Cina, Aljazair, dan Korea Utara. (Haryo Adjie)

Spesifikasi Kh-59ME
– Diameter: 380 millimeter
– Panjang: 5,70 meter
– Wingspan: 1,30 meter
– Max Cruising Flight Altitude: 1.000 meter
– Max Launch Altitude: 1.500 meter
– Max Range: 115 kilometer
– Min Cruising Flight Altitude: 50 meter
– Min Launch Altitude: 200 meter
– Sea-Skimming Flight Altitude: 7 meter
– Max Launch Airspeed: 1,100 km per jam
– Min Launch Airspeed: 600 km per jam
– Top Speed: 0.88 mach
– Berat total: 930 kg
– Berat hulu ledak: 320 kg

Baron G-58 Perkuat Puspenerbal

TNI AL dalam hal ini Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) resmi memiliki pesawat latih terbaru multi engine Baron G-58 sebanyak 2 unit. Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P., meresmikan pengoperasian pesawat latih lanjut tersebut bertempat di Base Ops Lanudal Juanda, Surabaya, Rabu (23/12). Pesawat udara BARON G-58 merupakan pesawat latih TNI AL menggantikan pesawat latih lama jenis Nomad N-22/24 yang kini sudah dinonaktifkan. Pesawat latih tersebut dibutuhkan untuk memperlancar proses kualifikasi penerbang TNI AL yang selanjutnya akan mengawaki pesawat udara operasional seperti CN 235-200 maupun Casa NC 212-200.



(all photo: Dispenal)
 
Menurut Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., M.A.P., pengoperasian pesawat latih BARON G-58 ini merupakan perwujudan penyiapan personel penerbang sebagai jawaban menghadapi tantangan dalam mendukung tugas TNI AL untuk mempertahankan dan mengamankan kedaulatan perairan yurisdiksi nasional. “Pembinaan kesiapan personel kualifikasi penerbang membutuhkan sarana latih pesawat udara yang nantinya akan dipersiapkan untuk mengoperasikan unsur udara dalam operasi laut khususnya pesawat udara jenis fixedwing,” tegas Kasal. Kasal juga menjelaskan pesawat latih BARON G-58 yang memiliki kapasitas 6 orang ini selanjutnya akan terus ditingkatkan jumlahnya menjadi 6 unit agar lebih efektif dalam memperlancar peningkatan kualifikasi para penerbang fixedwing TNI AL.



BARON G-58 memiliki tingkat keamanan dan keselamatan penerbangan yang tinggi, dapat dioperasikan sesuai kebutuhan manuver yang diprogramkan, dilengkapi dengan kemajuan teknologi pesawat udara terkini Glasscockpit Technology yang terintegrasi dengan  Engine Instrument, Flight Instrument, Communications, Navigation, Auto Pilot dan Radar Cuaca, memiliki Endurance 5 jam secara terus menerus dengan kecepatan 180-223 knots (333-413 Km/jam), memiliki performa mesin penggerak Double Engine masing-masing 300 HP, serta dapat dioperasikan hingga 20 tahun ke depan atau lebih.

Turut hadir dalam peresmian pengoperasian pesawat tersebut Komandan Puspenerbal, para pejabat utama Mabesal, para Pangkotama TNI AL, Direktur PT Pirusa Sejati, para Penerbang TNI AL, serta undangan lainnya. Untuk Pesud Baron masuk jajaran Skuadron 200 Wing Udara 1 (Skuadron Latih) untuk Latihan terbang lanjut bagi Siswa Senerbal yang Fixed Wing, sebagai ganti Nomad yg saat ini sdh di grounded. 

Sorong Diperkuat Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan

  marinir

Komandan Pasukan Marinir (Pasmar) I Brigjen Marinir Lukman Hasyim meresmikan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) XIV di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, (31/12/2015). Dengan adanya pasukan mariner ini maka perairan Sorong akan mendapatkan penjagaan yang maksimal dari TNI.

Meski hanya diperkuat satu Batalyon, namun pasukan ini memiliki berbagai kualifikasi, termasuk perang pantai, sabotase dan intelijen. Marinir pun dilengkapi dengan berbagai alutsista berat seperti tank amfibi, meriam hingga wahana bawah air.

Dalam amanatnya, Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal Marinir Buyung Lalana menegaskan, anggota Marinir adalah prajurit kebanggaan bangsa yang harus terus mengasah naluri tempur dan meningkatkan profesionalismenya. Marinir juga harus menjaga hubungan baik dengan unsur TNI lain, Polri, pemerintah dan masyarakat.


Seiring peresmian Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan XIV Sorong, Brigjen Lukman Hasyim juga melantik Mayor Ridwan Aziz sebagai Komandan Batalyon Marhanlan XIV.

Sebagai Batalyon baru, masih banyak yang harus dibenahi mulai dari prasarana hingga pemenuhan jumlah personel yang dibutuhkan. “Untuk saat ini kebanyakan didatangkan dari Surabaya, dari Sorong juga ada. Namun prajurit harus cepat memyesuaikan diri karena Batalyon di Sorong punya fungsi strategis untuk memberikan efek deterrent kepada pihak yang ingin mengganggu Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Brigjen Marinir Lukman Hasyim.

Setelah peresmian Yonmarhanlan XIV, Brigjen Marinir Lukman Hasyim juga segera meresmikan Yonmarhanlan XI di Merauke. Batalyon ini sudah lama ada namun baru pada bulan ini diresmikan.

Sumber: Tribun-Timur.com

Minggu, 03 Januari 2016

Perkuat Daya Gempur F-16, DPR RI Setujui Pembelian AIM-120 AMRAAM

AIM-120 AMRAAM

Niatan perlemen RI untuk mendukung optimalisasi alutsista TNI AU kali ini layak diapresiasi, belum lama ini telah disetujui anggaran US$38 juta untuk pengadaan beberapa tipe rudal udara ke udara. Di kalangan pemerhati militer, nama-nama rudal sudah tak asing didengar, seperti rudal jarak dekat Kh-31 A/P yang sebelumnya sudah melengkapi Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker TNI AU. Namun yang jadi kejutan adalah persetujuan pengadaan rudal udara ke udara jarak menengah AIM-120 AMRAAM (advanced medium range air-to-air missile).

Mengutip dari Janes.com (29/12/2015), disebut bahwa anggaran yang dipersiapkan untuk pembelian AIM-120 AMRAAM senilai US$6 juta. Tidak dijelaskan varian AIM-120 AMRAAM yang bakal dibeli. Sebagai rudal udara canggih yang battle proven, AIM-120 untuk varian AIM-120C dibandrol US$400 ribu per unit, tapi jika yang dibeli varian AIM-120D, maka harga per unitnya bisa mencapai US$1,7 juta.

AIM-120 AMRAAM masuk kategori beyond-visual-range air-to-air missile (BVRAAM). Dengan kecepatan 4 Mach, AIM-120 bisa melesat antara 70 – 125 km. Sebagai rudal andalan AS, NATO dan neraga-negara sekutunya, jelas tak sembarang negara bisa dikabulkan senat AS untuk bisa membeli AMRAAM. Di sekitaran Indonesia, populasi AMRAAM sudah bisa ditebak, yakni ada di AU Singapura dan AU Australia (RAAF/Royal Australian Air Force).

000-AIM-120A-2S

Sejatinya belum ada rilis resmi yang dikeluarkan dari pihak AS atas rencana pengadaan AIM-120 AMRAAM untuk Indonesia. Boleh jadi negara seperti Australia dan Singapura kurang happy bila TNI AU punya rudal segahar AIM-120. Bisa dipastikan AIM-120 AMRAAM akan digunakan TNI AU untuk menambah letalitas pada armada F-16 Fighting Falcon, baik di Skadron Udara 3 dan Skadron Udara 16. Selain F-16, AIM-120 AMRAAM dapat juga dipasang di jet tempur taktis Hawk 209.

AIM-120 AMRAAM terpadang di jet tempur F-15SG Singapura.
AIM-120 AMRAAM terpadang di jet tempur F-15SG Singapura.

Sejauh ini, dalam periode hubungan yang harmonis antara RI dan AS, parlemen AS baru menyetujui rencana penjualan rudal udara ke udara jarak dekat AIM-9X Sidewinder dan rudal udara ke permukaan AGM-65K2 Maverick.

Besar kemungkinan dengan dirilisnya informasi persetujuan pembelian AIM-120 dari DPR RI, tak lama lagi parlemen AS juga akan menyetujui penjualan rudal buatan Raytheon tersebut. Indonesia sejatinya juga tak tinggal diam ketika melihat negara tetangga mempunyai rudal sekelas AIM-120. Sebagai tandingannya, TNI AU memperkuat armada Sukhoi Su-27/Su30 Flanker Skadron Udara 11 dengan rudal R-77 buatan Vympel (Tactical Missile Corp), Rusia.

Rudal R-77
Rudal R-77

Nampak Sukhoi Su-30MK TNI AU dengan dua rudal terpasang. Rudal pada ujung sayap adalah R-73 dan rudal dibawah air intake adalah R-77.
Nampak Sukhoi Su-30MK TNI AU dengan dua rudal terpasang. Rudal pada ujung sayap adalah R-73 dan rudal dibawah air intake adalah R-77.

Baik R-77 dan AMRAAM sama-sama mengusung sistem pemandu active radar homing. Dimana pada moncong rudal terdapat perangkat radar pemancar dan sensor elektronik lainnya yang berfungsi untuk menemukan dan melacak target secara mandiri. Atau dengan kata lain, berlaku pola fire and forget. Dalam hal jangkauan, AMRAAM dan R-77 masuk kategori beyond visual range air to air missile dengan radius tembak diatas 70 km. Keberadaan target jelas diluar jangkauan pandangan mata pilot. Disinilah pentingnya kehandalan radar penjejak sasaran pada pesawat.

Seperti apa kehebatan R-77? Kecepatan luncur R-77 adalah 4,5 Mach. Untuk jarak jangkau ada dua macam, untuk tipe R-77 (90 km) dan R-77M1 (175 km). Dengan hulu ledak HE (high explosive) fragmenting seberat 22 kg, target dapat dihancurkan dengan mekanisme laser proximity fuze, ini artinya proses peledakan dapat dilakukan tanpa bodi rudal harus mengenai sasaran secara langsung.

Selain persetujuan DPR atas pembelian AIM-120 AMRAAM, juga disetujui pengadaan rudal Kh-31 senilai US$24 juta dan rudal Kh-59ME buatan Rusia. (Haryo Adjie)

Spesifikasi AIM-120 AMRAAM
– Manufaktur : Raytheon
– Panjang : 3,65 meter
– Diameter : 17,8 centimeter
– Wingspan : 44,5 centimeter
– Bobot : 161,5 kg
– Berat hulu ledak : 20,5 kg
– Mekanisme penghancuran : proximity and contact
– Mesin : Solid fuel rocket motor (R-77)/ Air breathing ramjet (R-77M1)
– Kecepatan : 4 Mach
– Ketinggian luncur : –
– Pemandu : Active radar homing
– Jangkauan : 75 – 110 km
 

Sabtu, 02 Januari 2016

Enam KRI Diserahkan ke Koarmabar

  KRI Lemadang - 632
KRI Lemadang – 632

Jakarta – Komando Armada Barat TNI AU, kembali menerima tiga kapal perang hasil perawatan dan pemeliharaan, dari Dinas Material Angkatan Laut, 30/12/2015. Ketiga Kapal itu adalah : KRI Teluk Sibolga-536 jenis Frosch, KRI Lemadang-632 dan KRI Barakuda-633 jenis Fast Patrol Boat (FPB) 57. Ketiga kapal telah melaksanakan pemeliharaan sejak bulan April sampai dengan Desember 2015.

Serah terima kapal dilakukan kepada Asisten Logistik (Aslog) Pangarmabar Kolonel Laut (T) Puguh Santoso, mewakili Pangarmabar dari Kepala Dinas Material Angkatan Laut (Kadismatal) Laksamana Pertama TNI Toto Prihatono, bertempat di Geladak KRI Teluk Sibolga-536, yang sandar di Tanjung Priok, Jakartaa, Rabu (30/12/2015).

KRI Barakuda 633
KRI Barakuda 633

Kondisi teknis kapal memiliki usia pakai yang cukup tinggi, memerlukan upaya untuk mengembalikan kembali kemampuan, guna mendukung kesiapan operasi KRI dalam melaksanakan tugas pokok TNI AL sebagai penegak kedaulatan NKRI di laut.

Pada kesempatan ini juga, Koarmabar menyerahkan 3 KRI yakni KRI Pulau Rusa-726 jenis kapal penyapu ranjau, KRI Krait-872 kapal jenis patrol cepat PC-40 dan KRI Silea-856 jenis Attack Patrol Boat, kepada Dismatal untuk dilaksanakan Hardepo pada tahun 2016.

Koarmabar.tnial.mil.id

Mengapa Indonesia Menambah Kekuatan Militer di Natuna?

  1279046534-indonesia-navy-fregat-ship_53833

Saat ini, empat belas bulan telah berlalu sejak Presiden Joko Widodo merencakan untuk menempatkan Indonesia sebagai negara poros maritim global, yang termasuk di dalamnya perhatian terhadap pengurangan konflik antara negara-negara di Laut Cina Selatan melalui “upaya perdamaian internasional”.

Namun dalam beberapa bulan ini, Indonesia telah memperkuat kehadiran militernya secara mencolok di Natuna, sebuah pulau yang kaya akan gas alam, dimana wilayah itu tumpang tindih dengan wilayah yang diakui sebagai kedaulatan Cina.

Para pengamat mengatakan langkah Indonesia ini merupakan tanggapan terhadap apa yang diaggap sebagai “ancaman Cina” terhadap kedaulatan Indonesia di pulau ini, yang “cepat atau lambat” akan berdampak pada Indonesia.

Ancaman “netral”

Jakarta mengatakan akan meneruskan “kebijakan netral” terhadap Cina, di tengah memanasnya ketegangan ketika beberapa pejabat mengkritik Cina karena mengklaim wilayah zona ekonomi eksklusif Indonesia yang berdekatan dengan Natuna sebagai wilayah Cina.

Penekanan terhadap posisi netral ini datang sesudah Cina menyatakan “tak keberatan” terhadap kedaulatan Indonesia terhadap Natuna.

Namun Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamirzad Ryacudu mengatakan tak aman untuk mengabaikan kemungkinan ancaman di masa depan, sekalipun situasi tampaknya meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

“Kami telah memperkuat kapasitas militer kita untuk mengantisipasi berbagai ancaman, baik itu pencurian ikan atau masuknya mereka ke wilayah Indonesia secara ilegal,” kata Ryacudu.

Para ahli mengatakan alasan untuk ini adalah aktifnya Cina di bagian lain Laut Cina Selatan, dimana militer Indonesia “tak bisa menutup mata.”

Strategi pertahanan

Angkatan Darat, Laut dan Udara Indonesia telah menyusun formula untuk memperkuat pertahanan di Natuna.

Pihak militer mengatakan sedikitnya ada tambahan satu batalion untuk memperkuat pangkalan angkatan laut yang sudah ada di Natuna. Angkatan Darat, yang sekarang mengerahkan 800 prajurit di Natuna, akan menambah jumlahnya hingga 2.000 di tahun 2016. Angkatan Udara juga akan menambah pesawat tempur di wilayah itu.

Natuna saat ini kekurangan fasilitas untuk mengakomodasi sejumlah besar pesawat. Angkatan Laut telah mengirim tujuh kapal perang ke perairan Natuna bulan lalu untuk berkeliling dan “menjaga kedaulatan”, menurut juru bicara AL, Laksamana Pertama M. Zainudin.


Bulan ini, Angkatan Laut mengirim 14 kapal perang untuk mengawasi Laut Cina Selatan. Sektor pertahanan udara juga mengerahkan radar di beberapa bagian pulau untuk melakukan operasi pengawasan selama 24 jam.

Sebagai tambahan, Indonesia menandatangani perjanjian dengan Jepang awal bulan ini untuk menerima teknologi dan peralatan militer, yang sebagian besarnya dikirim untuk digunakan di Pulau Natuna.

Indonesia juga berminat untuk bergabung dengan latihan perang gabungan dengan Amerika Serikat di wilayah ini.

Sudah dua kali latihan dilakukan bersama AS di Batam yang berjarak 480 km dari Natuna. Latihan ini termasuk penggunaan pengawasan dan pesawat patroli, seperti penggunaan pesawat P-3 Orion, yang dapat mendeteksi kapal di permukaan dan kapal selam.

Menteri pertahanan mengatakan telah menghabiskan US$14,2 juta (sekitar Rp196 miliar) untuk memperkuat pangkalan militer di Pulau Natuna.

Namun pemerintah membantah bahwa penguatan tersebut merupakan antisipasi terhadap peningkatan ketegangan di Laut Cina Selatan. Pemerintah Indonesia lebih suka menyebutnya sebagai “diplomasi pertahanan.”

airasia-story_650_012815093518

‘Perantara yang jujur’

Sudah lama ada kekhawatiran bahwa Indonesia akan terlibat dalam pertikaian di Laut Cina Selatan karena pentingnya kawasan perairan tersebut.

Laut Cina Selatan merupakan jalur perdagangan yang mengantarkan barang dan jasa internasional dengan nilai US$5 triliun yang merupakan lima kali lipat GDP Indonesia.

Dengan jumlah sebesar itu, Cina dan negara-negara lain di kawasan itu – juga Amerika Serikat – sudah mulai terlibat pertikaian mengenai kendali teritorial di wilayah tersebut.

Cina saat ini disebut-sebut sudah melakukan reklamasi pulau dengan kecepatan yang mengkhawatirkan pihak lain.

Laporan maritim dari Departemen Pertahanan Amerika mengatakan pada bulan Juni tahun ini, Cina telah mereklamasi pantai 17 kali lebih banyak dalam 20 bulan terakhir, dibandingkan dengan apa yang terjadi dalam 40 tahun sebelumnya.

Sekalipun Presiden Jokowi menegaskan bahwa Indonesia ingin tetap menjadi “perantara yang jujur” dalam perselisihan ini, dan “tak ada alasan” untuk terlibat, Indonesia pelan-pelan meningkatkan kehadiran militer di Natuna guna mengirim peringatan dan sinyal bahwa Indonesia tak ingin jadi bulan-bulanan.

Sementara itu, menteri pertahanan Indonesia mengatakan kapal perang dan pesawat tempur sedang dirapikan untuk “mengawasi dan membela wilayah kita” serta tak akan menembak jika mereka dilewati oleh kapal perang negara lain di perairan Natuna. “Mereka hanya akan saling menyapa dengan damai,” katanya.

BBC