Jumat, 31 Oktober 2014

Siapkan pasukan bela negara, 110 mahasiswa dilatih Raider 900

Siapkan pasukan bela negara, 110 mahasiswa dilatih Raider 900

Sebanyak 110 mahasiswa dari Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja mengikuti pelatihan Bela Negara di Batalyon 900 Raider Singaraja, Jumat (31/10). Pelatihan ini bertujuan menumbuhkembangkan semangat generasi muda untuk bersedia membela negara dan membuktikan cintanya terhadap tanah air Indonesia.

Pelatihan ala meiiter yang dibuka tadi pagi ini digelar selama empat hari. Uniknya, mereka yang seharusnya mengenyam bangku kuliah ini selain diajarkan bagaimana membela diri, juga diterapkan secara khusus cara bertempur dalam menghadapi musuh di medan perang.

Komandan Batalion Inf 900/Raider Mayor Inf Ardiansyah mengatakan, ratusan mahasiswa yang mengikuti pelatihan bela negara tersebut nantinya akan dididik untuk membentuk karakter mahasiwa yang mempunyai jiwa untuk mau rela berkorban demi negara tercintanya.

"Kami ingin menciptakan para mahasiswa ini sebagai orang yang tangguh, disiplin tinggi, dan mempunyai rasa tanggung jawab, dan siap melaksanakan tugas maupun kerja dimanapun itu," kata Mayor Inf Ardiansyah, usai penyematan pin anggota kepada perwakilan mahasiswa.

Sementara itu, Pembantu Rektor 3 Undiksha Singaraja I Gusti Ngurah Pujawan, berharap dengan pelatihan ini, para mahasiswa yang mengikuti pelatihan bela negara tersebut dapat mengetahui dan memaknai dari arti bela negara yang sesungguhnya dalam lingkup kecil. "Kami menyambut baik acara ini. Kami sangat ingin, anak didik kami itu sadar tentang berbangsa dan bernegara, sebagai warga negara yang baik," jelasnya.

Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-F/UNIFIL Hadiri Medal Parade Kontingen Garuda TNI 2014 di Lebanon

Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-F/UNIFIL Hadiri Medal Parade Kontingen Garuda TNI 2014 di Lebanon
Setelah Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-F/UNIFIL 2014 menerima penghargaan United Nations (UN) Medal pada tanggal 29 September 2014 yang lalu, Kini tiba waktunya Kontingen Garuda (Konga) TNI 2014 menerima penghargaan serupa pada tanggal 25 Oktober 2014. UN Medal ini disematkan oleh Head of Mission/Force Commander (HoM/FC) Major General Luciano Portolano di lapangan Soekarno, Indonesian Battalion (Indobatt), Headquarters UNP 7-1, Adchid Al-Qusayr, Lebanon, Sabtu, (26/10/2014).
Mayjen Luciano Portolano sebagai pimpinan tertinggi di UNIFIL menyematkan tanda jasa UN Medal tersebut kepada perwakilan yang telah ditunjuk yaitu seluruh Komandan Satgas yang tergabung dalam Konga TNI 2014. Sedangkan para prajurit yang berada dalam pasukan upacara disematkan oleh beberapa Undangan VIP diantaranya Duta Besar RI untuk Lebanon, Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, pejabat pemerintah Lebanon, perwakilan dari Lebanese Armed Force (LAF), tokoh masyarakat, dan termasuk Dansatgas Maritim TNI Konga XXVIII-F/UNIFIL Letkol Laut (P) Ade Nanno Suwardi berkesempatan menyematkan medali kepada sebagian prajurit Indobatt yang saat itu berada di barisan pleton drum band.
Dalam amanatnya selaku Inspektur Upacara, HoM/FC menyampaikan ucapan selamat kepada Garuda Contingent Indonesia 2014 yang telah menerima UN Medal dari PBB. Penghargaan yang diterima adalah bukti penghargaan dari PBB sebagai bentuk apresiasi kepada pasukan Garuda atas kontribusi dan kerja keras dalam menjalankan tugas dengan professional, serta konsisten selama melaksanakan misi perdamaian dunia di Lebanon.  Setelah amanat selesai, kegiatan upacara ditutup dan dilanjutkan dengan berbagai demo atraksi ketrampilan para prajurit TNI yaitu aksi bela diri Merpati Putih, kolone senjata, drumband, dan defile pasukan.
Selesai mengikuti seluruh kegiatan dalam rangkaian upacara dan demonstrasi, para undangan diikuti seluruh prajurit menuju ke tempat ramah tamah dan dan dipersilahkan untuk menikmati berbagai makanan khas Indonesia dengan diiringi pula berbagai penampilan kesenian daerah khas Indonesia. Kemudian setelah acara ramah tamah, Komandan PMPP TNI, Brigjen TNI A.M Putranto mewakili Panglima TNI, Jenderal TNI Dr. Moeldoko berkesempatan memberikan pengarahan kepada seluruh prajurit Kontingen Garuda 2014. "Terima kasih atas pelaksanaan perayaan UN Medal pada hari ini dengan sangat baik, rasa bangga kepada seluruh prajurit TNI yang selama penugasan di Lebanon telah memberikan yang terbaik sebagai pasukan penjaga perdamaian dunia. Selain itu dikatakan Kontingen Garuda 2014 menunjukkan prestasi yang gemilang dalam bidang olahraga yang banyak meraih medali. Oleh karenanya dalam sisa waktu yang ada, terus berikan yang terbaik dan terbaik di setiap event perlombaan antar Kontingen UNIFIL",ujar Jenderal berbintang satu tersebut.
Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Dubes RI untuk Lebanon, Bapak Dimas Samoedra Rum, M.B.A beserta staf KBRI, Chief of Staff (CoS) Maritime Task Force (MTF) Kolonel Laut (P) Arsyad Abdullah, Dansatgas FHQSU Konga XXVI-F1/UNIFIL, Kolonel Inf Adipati Karna Wijaya, Wakil Komandan Sektor Timur / Sector East Deputy Commanding Officer Kolonel Inf Kemal Hendrayadi, Dansatgas Indobatt Letkol Inf M. Asmi, Dansatgas SEMPU Konga XXVF/UNIFIL, Letkol Cpm Andri Gunawan, Dansatgas Indonesian Force Protection Company (FPC) Konga XXVI-F2/UNIFIL, Mayor Inf Aulia Dwi Nasrullah, Dansatgas Military Community Outreach Unit (MCOU), Mayor Arm Ezra Natanael., serta seluruh Perwira, Bintara dan Tamtama Kontingen Garuda 2014. Acara diakhiri dengan poto bersama dengan Komandan PMPP TNI di lapangan Soekarno.

TNI. 

Serangan Taipur Kostrad di Banongan

image
Latihan Pasukan Taipur Kostrad di Banongan Jawa Timur (all photos: kostrad.mil.id)
Tepat pukul 04.00 wib pasukan Pengintai Tempur (Taipur) Kostrad dipimpin Komandan Kompi B Lettu Inf Zulkarnaen Galib menggempur pantai Banongan yang sudah dikuasai oleh GPK. Pasukan yang berkekuatan 1 Peleton dibagi menjadi 5 unit dengan tugas yang berbeda-beda, diantaranya 1 unit selam tempur dipimpin Sertu Dedi, 1 unit serbuan perimeter pantai dipimpin Lettu Inf Sandra, 2 unit pengamanan pantai dipimpin Lettu Inf Wahyu Dwi dan Lettu Inf Panji, serta 1 unit regu cadangan.
image
Dengan kemampuan yang dimiliki pasukan taipur, mereka masuk dengan senyap dan membunuh para GPK dengan senyap. Di sela baku tembak, pasukan taipur diberi bantuan tembakan oleh panerbad dikarnakan GPK telah didukung oleh sebagian masyarakat. Pasukan Taipur dapat menguasai pantai Banongan, menghacurkan sasaran menara musuh dan membebaskan sandera.
image
Salah satu kemampuan yang dimiliki oleh prajurit Pengintai tempur Kostrad adalah menghadapi medan tempur di laut, sehingga untuk memelihara kemampuan tersebut, Prajurit kompi Taipur Kostrad menggelar latihan serangan pantai, bertempat di perairan banongan Jawa Timur, Rabu (29/10/2014).
image
Latihan ini dipadukan dengan latihan Raid dan Ralasuntai (Rawa, Laut, Sungai dan Pantai), salah satunya melakukan infiltrasi dan penyerangan secara senyap melalui laut dengan menggunakan LCR (Perahu Karet). 

Tempatkan Pasukan di Tanjung Datu, TNI Siapkan Rp 850 Miliar

Panglima TNI Jenderal Moeldoko.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

Rencana TNI untuk pembangunan pangkalan dan pembangunan pasukan di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Tanjung Datu, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah. Dana yang dikucurkan untuk membangun kekuatan militer darat, laut dan Udara diperkirakan mencapai 850 miliar rupiah.
Kepastian ini disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko usai membuka dan mengikuti ceramah umum pakar ekonomi, Prof Gustav Papanek, di Markas Besar TNI. ”Ini (pembangunan dan deploy pasukan) sudah disetujui. Nanti anggarannya yang akan keluar kurang lebih 850 miliar untuk membangun kekuatan laut, darat, dan udara,” kata Moeldoko kepada wartawan, Kamis (30/10).
Moeldoko menambahkan, telah bekoordinasi dengan Kementerian Pertahanan terkait penggunaan anggaran tersebut. Sebelumnya, permasalahan perbatasan di tanjung datu sempat menjadi sorotan lantaran upaya Malaysia untuk membangung mercusuar di kawasan perairan tanjung datu, yang sebenarnya masih masuk ke dalam wilayah Indonesia.
Terkait koordinasi kerja dengan Menhan yang baru, Moeldoko optimis tidak akan menemui banyak kendala dengan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Terlebih, Ryamizard merupakan purnawirawan TNI dan mantan KSAD.
“Saya kira, Menhan sebagai mantan KSAD akan lebih bisa dan cepat memahami bagaimana kebutuhan TNI ke depan,” kata Moeldoko.
Moeldoko menambahkan, tidak ada perbedaan dan perubahan yang signifikan terkait rencana pembanguan kekuatan TNI, yang dibahas bersama dengan Kemenhan. Namun, untuk saat ini, lanjut Moeldoko, pihaknya tengah menyiapkan dan menyusun Rencana Strategis peningkatan kesejahteraan prajurit. “Saya harap ini bisa segera terealisasi,” tutur Moeldoko. 

Kisah pasukan khusus TNI hancurkan sarang provokator Ambon

Panglima TNI Jenderal Moeldoko inspeksi seluruh kesatuan. ©2014 merdeka.com
Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Fransen Siahaan geram mendapati fakta ada anggota TNI dan Polri yang menjual peluru pada gerakan pengacau keamanan di Papua. Panglima menyebut pengkhianatan itu sebagai duri dalam daging.
Sementara rekan-rekannya bertempur dan gugur ditembak kriminal bersenjata, orang-orang ini malah menjual peluru pada musuh.
“Saya akan pecat anggota itu. Saya tidak butuh dengan anggota seperti itu. Indikasi keterlibatan anggota saya memang telah lama terdengar dan mereka masuk ke dalam aparat,” tegas dia.
TNI dan Polri seharusnya berjuang untuk menjaga keutuhan NKRI. Ada cerita menarik bagaimana dulu para desertir TNI dan Polri malah menjadi provokator dan mengendalikan kerusuhan di Ambon.
Para perusuh di Ambon menjadikan Hotel Wijaya II sebagai markas komando mereka. Bangunan itu dipertahankan dengan aneka senjata dan sniper alias penembak jitu. Diduga mereka mendapat senapan dan amunisi dari gudang senjata Brimob yang dibobol saat kerusuhan. Saat itu tak kurang dari 900 senapan yang hilang. Belum ditambah pistol dan granat yang juga dijarah.
Aksi para perusuh makin brutal. Tanggal 22 Januari 2001, pasukan Batalyon Gabungan dikerahkan untuk menghancurkan kekuatan musuh yang bertahan di Hotel Wijaya II. Pasukan Gabungan itu seluruhnya pasukan elite TNI. Unsur utamanya dari Kopassus dibantu Paskhas dan Marinir.
Sekitar pukul 05.00 WIT, tim melakukan serangan mendadak. Suara ledakan dan rentetan tembakan terdengar di mana-mana. Para pasukan elite ini bergerak cepat melakukan raid dari satu ruangan ke ruangan. Mereka berusaha menangkap semua provokator hidup-hidup.
Pertempuran di sekitar Hotel Wijaya II berlangsung seperti layaknya perang kota di Sarajevo atau Stalingrad di Uni Soviet.
Pusat kegiatan para perusuh berada di lantai empat hotel yang dijadikan pusat komando pengendalian kerusuhan Ambon. Bertebaran berbagai peta dan rencana operasi para perusuh.
Pasukan Yongab TNI menyergap empat desertir TNI/Polri yang sering menembaki pasukan Yongab. Petugas juga menemukan 14 pucuk senapan organik TNI yang digunakan empat orang itu.
Empat desertir yang ditangkap itu adalah AKBP JS, lalu Iptu A, dan Ipda AA dari kepolisian, serta Mayor Inf NN. Selain empat orang itu, petugas juga menangkap 25 perusuh lain dari Hotel Wijaya.
Seorang perwira menuturkan di lokasi penggerebekan juga ditemukan narkoba, sabu dan wanita.
Setelah Hotel Wijaya II dikuasai, perlahan kekuatan perusuh di Ambon mulai menurun. Situasi pun mulai bisa dikendalikan aparat keamanan.
Sumber: Merdeka

KRI Fatahillah 361 Laksanakan Mid Life Modernization

f7abac252ae5ed68121b92ba7a669d87_M
Flagship kapal kombatan TNI AL dari era 80-an, KRI Fatahillah 361, belum lama ini masuk dock untuk melaksanakan program MLM (Mid Life Modernization) di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya Tanjung Perak, Surabaya. Seperti dikutip dari Dispen Koarmatim (23/10), 2014Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Sri Mohamad Darojatim, S.E meninjau KRI Fatahilah-361 yang tengah menjalani MLM. KRI Fatahilah 361 telah melaksanakan MLM selama 7 bulan, dari waktu dua tahun yang direncanakan.
Bagi yang belum familiar dengan MLM, ini adalah program modernisasi kapal perang ketika usia kapal perang yang dioperasikan sudah mencapai hampir batas usia ekonomis. Salah satu metode modernisasi kapal perang adalah melalui mid life modernisation. Dalam MLM, biasanya hampir semua instrumen kapal perang digantikan, baik CMS (Command Management System) maupun sistem pendorong. Sedangkan platform kapal selam menjalani proses penguatan lewat penggantian komponen. Di lingkungan armada TNI AL, beberapa tipe kapal perang lawas sudah menjalani program ini, seperti pada frigat Van Speijk Class yang dibuat pada dekade 60-an dan kapal selam KRI Cakra/KRI Nanggala.
Biasanya dalam program MLM di banyak Angkatan Laut dunia, kapal yang menjalani fase ini akan mendapatkan teknologi CMS yang setara dengan kapal perang yang lebih baru yang juga dioperasikan oleh Angkatan Laut tersebut. Pertimbangannya adalah hal itu lebih menguntungkan dari sisi logistik dalam hal pemeliharaan, juga lebih memudahkan dalam interoperability nantinya.
Van Speijk Class, sebenarnya inilah jenis kapal perang yang murni masuk segmen frigat bagi TNI AL
Van Speijk Class, sebenarnya inilah jenis kapal perang yang murni masuk segmen frigat bagi TNI AL

Problem MLM
Program mid life modernization (MLM) yang dilaksanakan oleh kekuatan laut Indonesia menghadapi berbagai tantangan, satu di antaranya tentang suku cadang kritis untuk berbagai komponen kapal perang. Tantangan tersebut muncul karena dalam program itu, tidak semua subsistem diganti dengan teknologi yang lebih baru. Akibatnya subsistem kapal perang keluaran program MLM merupakan campuran antara subsistem yang menggunakan teknologi yang lebih baru dengan subsistem yang masih mengandalkan pada teknologi awal yang disandang oleh kapal perang tersebut. Di situlah muncul isu suku cadang kritis bagi subsistem lama yang tidak mengalami penggantian selama program MLM dilaksanakan.
Munculnya isu tersebut karena subsistem itu tidak lagi didukung oleh pabrikannya, dalam bentuk produksi suku cadang. Suku cadang kritis seringkali secara nominal tergolong murah, namun dapat berakibat kerugian besar apabila tidak tersedia. Ketiadaan suku cadang itu atau setidaknya kelangkaan suku cadang tersebut dapat berpengaruh pada kinerja kapal perang secara keseluruhan. Sehingga pada akhirnya berujung pada kerugian dalam mengamankan kepentingan nasional yang terkait dengan domain maritim.
KRI Fatahillah 361
KRI Fatahillah 361
terma
Bertolak dari isu seperti ini, program MLM ke depan perlu disempurnakan pelaksanaannya. Maksudnya, semua subsistem yang secara teknologi terus berevolusi sebaiknya diganti sekaligus dalam program itu. Jadi bukan sekedar sistem pendorong yang diganti, tetapi juga sewaco dan lain sebagainya. Bila biaya penggantian semua subsistem itu dinilai harganya mendekati harga membeli kapal perang baru, tentu akan lebih bijaksana bila melakukan pengadaan kapal perang baru sekaligus.
Namun sangat disayangkan pendekatan demikian tidak dianut oleh kekuatan laut Indonesia. Sebagai contoh adalah modernisasi pada sistem radar intai di KRI Fatahillah 361. Pada awal Januari 2014, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI telah menandatangani kontrak dengan Ultra Electronis Command and Control Systems senilai US$ 51 juta. Radar pengintai yang dipasangkan di KRI Fatahillah yakni jenis Terma SCANTER 4100. Radar intai ini punya kemampuan untuk mengendus obyek di permukaan dan udara secara simultan. Tapi sayangnya SCANTER 4100 adalah radar 2D, bisa menentukan arah dan jarak sasaran, tetapi tak mampu menentukan ketinggian sasaran. Untuk radar yang bisa menentukan tiga parameter sekaligus yaitu arah, jarak dan ketinggian sasaran adalah radar 3D.
Sebelumnya kapal perang di keluarga Fatahillah Class, yakni KRI Nala 363 telah melakukan program MLM pada tahun 2013. Namun MLM di KRI Nala 363 hanya berfokus pada perbaikan permesinan dan platform, sementara sistem Kendali Senjatanya akan di non aktifkan. Pada tahun 2009 saat akan mengikuti Sail Bunaken, Ruang Mesin KRI Nala terbakar hebat yang mengakibatkan kapal ini lumpuh permesinannya hingga kini. (HANS)

Aries-LPI: Radar Intai Kapal Selam Changbogo Class TNI AL

ss-209_k-1
Bila melihat sosok kapal selam, hampir dipastikan bagian yang paling menarik perhatian adalah bentuk menara (conning tower). Alasannya karena menara adalah struktur kapal selam yang muncul paling dominan saat kapal berlayar di permukaan. Selain menyiratkan identitas jenis dan tipe kapal selam, menara kapal selam punya fungsi yang teramat penting, mulai dari tempat keluar masuk awak saat darurat, hingga berperan strategis sebagai anjungan (navigation bridge) untuk memantau langsung kondisi di permukaan. Lebih dari itu, di menara lah, segudang perangkat elektronik dan sensor kapal selam ditempatkan.
Indonesia sebagai mantan jawara Siluman Bawah Air di Asia Tenggara, dijadwalkan mulai akan kedatangan secara begerlombang kapal selam Changbogo Class dari Korea Selatan pada tahun 2015. Dengan basis rancangan dan desain kapal selam Type 209, adopsi beragam teknologi dan sistem senjata pada Changbogo Class menjadi sesuatu yang tak terlalu suilit bagi awak Korps Hiu Kencana. Kembali ke soal menara kapal selam, pada bagian ini cukup dijejali banyak perangkat. Untuk yang kasat mata, bisa ditebak terdapat navigation light, radio antenna, multipurpose antenna, attack periscope (persikop serang), lubang snorkel, dan radar antenna. Karena banyak mengumpulkan perangkat-perangkat penting, umumnya tepat di bawah menara terdapat ruang kendali operasi dan PIT (Pusat Informasi Tempur). Untuk menunjang mobilitas saat operasi, beragam antena pada menara dapat diturunkan dan disimpan di dalam kubah menara, sehingga suatu waktu menara terlihat bersih dari antena.
Nah, dari sekian banyak perangkat canggih yang nantinya melengkapi Changbogo Class TNI AL, yang sudah bisa kami identifikasi adalah keberadaan radar Aries-LPI (Low Probability of Intercept) buatan Indra, developer radar dari Spanyol. Radar Indra merupakan radar yang dilengkapi dengan teknologi signal detection system dan Low Probability of Intercept radar (LPI). Memiliki sistem resolusi tinggi dan mampu mendeteksi target kecil di permukaan. Sinyal tingkat transmisi yang rendah, pantulan radar ini membuatnya hampir tidak terdeteksi oleh radar musuh, sehingga dapat “melihat tanpa terlihat”.
chang_bogo_class_l1800px-Korean_submarine_Choi_Moosunconning-tower
Sunanan antena tampak dari atas, tiap jenis kapal selam berbeda.
Sunanan antena tampak dari atas, tiap jenis kapal selam berbeda.
changbogo class submarine
Dengan model sistem pertahanan elektronik, memungkinkan kapal selam untuk mendeteksi dan menganalisa setiap sinyal radar yang berada dalam jangkauan radar disekitar kapal selam tersebut, piranti ini dapat mengidentifikasi jenis kapal, kapal selam dan pesawat yang melintas pada ketinggian rendah.
Sistem elektronik ini memiliki teknologi RESM (Radar Electronic Support Measurement), sistem yang didasarkan pada teknologi broadband penerimaan digital. Jenis pengolahan menjamin sensitivitas tinggi untuk sistem, bahkan dalam lingkungan elektromagnetik yang padat, dan kemampuan analisis sangat cepat.Teknologi ini juga telah digunakan oleh Angkatan Laut Spanyol pada kapal selam S-80, dan kapal selam U212A Jerman. Keunggulan lain dari radar ini adalah desainnya yang modular, sehingga memudahkan bila akan dilakukan upgrade dan perbaikan.
Aries-LPI radar
Aries-LPI radar
Platform dan jalur informsasi radar Aries.
Platform dan jalur informsasi radar Aries.

Changbogo Class dibangun oleh galangan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, dan rencana sebagian komponen akan dibangun PT PAL di Surabaya. Nilai kontrak pengerjaan untuk ketiga Changbogo Class adalah US$1,07 miliar. Sementara, Indra mendapat kontrak untuk pengadaanPegaso radar signal dan Aries-LPI untuk Changbogo Class dari Daewoo senilai 10 juta Euro. Mungkin karena alasan kerahasiaan, pihak pabrikan tidak menginformasikan detail spesifikasi dan kemampuan jangkauan radar Aries-LPI. (Gilang Perdana)