Jumat, 28 Februari 2014

Anggaran Alutsista Rp 27 T Ditolak Menkeu, Ini Tanggapan Menhan

http://images.detik.com/content/2014/02/27/4/204419_alut2.jpg Anggaran Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Rp 27 triliun tahun ini ditolak Menteri Keuangan Chatib Basri. Apa tanggapan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro soal hal ini?
Menurut Purnomo, sejak awal kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dimulai, nilai anggaran Alutsista mencapai Rp 150 triliun. Namun tahun ini masih ada sisa Rp 27 triliun.

"Itukan diberikan dalam bentuk Perpres 35/2010. Artinya total Rp 150 triliun. Dalam perjalanannya itu kan kita belanjakan untuk pembangunan Alutsista. Angkatan Udara sudah kita gelar kemarin, habis itu Laut dan Darat. Untuk menyampaikan kepada publik pertanggungjawaban terhadap dana yang kita anggarkan. Dari Rp 150 triliun itu, kelihatannya belum kepakai Rp 27 triliun, dan itu memang tak diberikan (ditolak0," ujar Purnomo di kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (27/2/2014).

Purnomo menegaskan, hal tersebut tidak membuat pertahanan milik Indonesia menjadi melempem ataupun berkurang. Menurutnya, dana Alutsista yang selama ini sudah dibelanjakan cukup kuat membangun infrastruktur pertahanan Indonesia.

"Karena yang kita lakukan itu, misalkan F-16, itu bujetnya beli 6, ternyata kita bisa dapat 24. Enam itu kan bujet beli baru, kita dapat sekarang yang second hand, tapi kita upgrade lebih bagus lagi," terang Purnomo.

Mantan Menteri ESDM ini mengaku, Indonesia sudah mendapat banyak peralatan tempur dari dana yang terpakai selama ini. Bahkan dalam perencanaan, awalnya Indonesia yang tidak memasukan pesawat Hercules, namun karena adanya kelebihan dana maka Indonesia bisa membeli Hercules bekas dari Australia.

"Bahkan Apache (helikopter) yang tadinya tidak masuk dalam daftar untuk renstra (rencana strategi), sekarang kontraknya sudah jalan. Hercules Australia yang dulunya tak masuk daftar, sekarang bisa masuk karena kita butuh heli transportasi. Jadi walaupun Rp 27 triliun tidak diberikan, saya kira ini salah satu bentuk efisiensi yang kita lakukan," tutup Purnomo.

Il-28T Beagle: Sang Rajawali Laut Pengumbar Torpedo

il-28-83p06
Sudah lumrah bila angkatan udara punya pesawat pembom, tapi agak terdengar beda bila yang punya pembom adalah angkatan laut. Faktanya, memang hanya beberapa kekuatan terpilih di dunia yang punya pembom pada etalase penerbangan angkatan lautnya. Dan, Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan tersebut, yakni pada dekade 60-an.
Selain publik di Indonesia terbetot dengan kemasyuran sosok pembom berat jarak jauh Tu-16 Badger milik TNI AU (d/h AURI), Indonesia juga kebagian pembom kelas sedang, Il-28, bomber buatan Ilyushin Design Bureau, jenis pesawat pembom multirole yang dicipitakan Uni Soviet pasca Perang Dunia Kedua. Karena momen meluncurnya pesawat ini bertepatan dengan masuknya era Perang Dingin, maka seperti sudah menjadi tradisi, Il-28 pun diberi sebutan oleh NATO sebagai Beagle, dan jadilah sebutan yang populer Il-28 Beagle hingga saat ini.
Di luar Uni Soviet, Cina, dan negara-negara Eks Pakta Warsawa, Indonesia termasuk operator Il-28 dengan jumlah yang lumayan banyak. Il-28 dalam catatan digunakan oleh TNI AU dan TNI AL (d/h ALRI). Di lingkup TNI AU, Il-28 masuk dalam Skadron Udara 21 yang bermarkas di Lanud Kemayoran, Jakarta. Dari segi jumlah, ada dua versi, menurut Wikipedia Il-28s TNI AU ada 12 unit. Sementara dikutip dari Edisi Koleksi Angkasa “Operasi Udara Trikora,” disebutkan TNI AU menerima 18 unit Il-28. Sementara TNI AL lewat Puspenerbal (Pusat Penerbangan Angkatan Laut), menurut Wikipedia disebut-sebut menerima lebih daro 30 unit Il-28T torpedo bomber dan 6 unit Il-28U sebagai pesawat latih (trainer). Tapi ada info lainnya, bahwa TNI AL hanya ketempatan 10 unit Il-28T dan 2 unit Il-28U.
Il-28T TNI AL
Il-28T ALRI
Il-28U (trainer) milik ALRI
Il-28U (trainer) milik ALRI

Sebagai medium bomber era jet pertama, Il-28 dirancang untuk mengusung bom-bom konvensional. Bila TNI AU menggunakan versi Il-28s yang kemampuannya standar. Lain halnya dengan TNI AL yang mengoperasikan Il-28T yang punya kemampuan melepaskan torpedo. Masuk dalam etalase Skadron Udara 500, menjadikan kekuatan penerbangan AL Indonesia menjadi yang terkuat di belahan Asia Selatan pada era 60-an. Pasalnya, armada Penerbal TNI AL tidak sebatas pada peran angkut dan intai maritim, tapi juga mencakup peran penindakan pada target di lautan, baik kapal permukaan dan kapal selam.
Pada masa Trikora, porsi pelibas kapal perang Belanda dari udara memang dipersiapkan cukup beragam. Sebut saja dari Tu-16 dengan rudal anti kapal AS-1 Kennel dan Gannet yang bisa melempar torpedo hingga bom laut. Kebetulan Soviet pun punya porsi yang besar pada varian AKS (anti kapal selam) pada Il-28, maklum pada era Perang Dingin terjadi psy war di lingkup kekuatan di samudera. Dari belasan varian Il-28 yang diproduksi Soviet, ada dua tipe yang dirancang untuk peperangan di lautan, yaitu Il-28T dan Il-28PL.
il 28 tni al

Il-28T
Sebagai varian untuk mengejar target di lautan, Il-28T di dapuk punya sista tersendiri, yaitu dapat membawa dua torpedo ukuran kecil atau satu torpedo ukuran besar. Untuk torpedo ukuran besar, yang dimaksud adalah RAT-52 rocket propelled torpedo. Torpedo ditempatkan pada bomb bay. Sayangnya tidak ada informasi, mengenai bekal radar dan perangkat elektronik untuk pengindraan di lautan.
Dikutip dari Angkasa.co.id, salah satu pilot Penerbal yang juga saksi hidup sejumlah misi tempur yang dilaksanakan para pilot Penerbal, Kolonel (Purn) H. Dana Is (70), para sejawatnya memang terkenal pemberani. Dana yang pernah menerbangkan pesawat pengebom torpedo Il-28 dan Dakota telah kehilangan beberapa senior karena keberanian sekaligus kenekatan mereka.
0891675
Ilyushin_IL_28U_Mascot_by_QmP3L
Il-28U

“Penerbal pernah memiliki pesawat Il-28 sebanyak 12 unit. Sepuluh unit Il-28T untuk pengebom torpedo dan dua unit lainnya Il-28U untuk pesawat latih. Saat itu sebagai pilot muda para senior semangat sekali untuk berperang sehingga kadang-kadang sikap berani mengalahkan akal sehat,’’ papar Dana yang juga alumni Akademi Angkatan Laut tahun 1967 itu. “Oleh karena itu meskipun suku cadang makin menipis akibat renggangnya hubungan RI dan Rusia, para pilot IL-28 masih berani terbang sehingga sejumlah kecelakaan pun tidak bisa dihindari,” tambahnya.

Mendarat Darurat
Selama melaksanakan misi penerbangan baik dalam latihan maupun pertempuran dari 12 Il-28 yang tergabung dalam Skuadron 500, lima di antaranya mengalami kecelakaan (accident). Satu pesawat mendarat darurat di Pantai Banyuwangi, Jawa Timur. Tiga awak Il-28, Letnan Muda (LMU) Wulang Sutekowardi dan seorang navigator, Suyono berhasil mendarat selamat tapi pesawatnya rusak total. Satu pesawat Il-28 lainnya hilang dan tidak kembali ke pangkalan pada waktu latihan terbang navigasi di atas Pulau Masalembo, Madura.
IL-28-14
Ruang navigator
Ruang navigator
p-38
Ironisnya penerbang yang hilang di Masalembo adalah LMU Wulang yang pernah mendarat selamat di pantai. Dua awak Il-28 yang hilang bersama LMU Wulang adalah navigator Gatot Mulyohadi dan operator persenjataan di pesawat, Kopral Sudjati. Kecelakaan berikutnya ketiga, keempat, dan kelima adalah kecelakaan saat mendarat. Dua kali terjadi di Pangkalan Udara Kemayoran, Jakarta dan satu lagi terjadi di Pangkalan Udara Makassar, Sulawesi Selatan. Beruntung dalam tiga kecelakaan terakhir tidak terjadi korban jiwa.
“Menjadi pilot Penerbal memang banyak tantangannya karena kehidupan para pilotnya berada dalam situasi high risk. Kondisi itu sangat kami pahami maka latihan dan sikap disiplin dan teliti dalam menerbangkan menjadi sangat penting. Kami kemudian hanya berani terbang setelah menandatangani dokumen kelaikan terbang. Khsususnya untuk terbang malam,’’ tambah Dana.

RAT-52 Aircraft Torpedo
Bila Tu-16KS punya AS-1 Kennel untuk mengkaramkan kapal induk, maka Il-28T punya senjata pamungkas berupa torpedo RAT-52. Torpedo ini secara khusus dirancang untuk dilepaskan dari pesawat udara atau helikopter, dan pertama kali dirilis pada tahun 1952. RAT-52 punya diameter 450 mm dengan panjang 4 meter. Bobot ‘lontong baja’ ini mencapai 627 kg dengan hulu ledak seberat 200 kg. Sebagai pemandu, torpedo ini mengandalkan passive acoustic homing.
Il-28T Uni Soviet saat proses loading torpedo RAT-52
Il-28T Uni Soviet saat proses loading torpedo RAT-52
Torpedo Yu-2 buatan Cina
Torpedo Yu-2 buatan Cina

Torpedo dengan solid rocket ini dapat memburu sasaran dengan kecepatan maksimum 400 knots. Sementara jangkauan maksimumnya mencapai 10.000 meter. Sebagaimana sudah jadi tradisi, setiap produk andalan Uni Soviet selalu ‘dicontek’ oleh Cina. Dan jadilah Negera Tirai Bambu ini punya Yu-2 yang mulai diproduksi pada tahun awal tahun 70-an. Sebagai informasi, Cina juga membuat lisensi Il-28 yang diberi label H-5 buatan Harbin Aircraft Manufacturing. Bahkan H-5 menjadi versi Il-28 yang paling akhir mengudara, yaitu digunakan sampai tahun 2011.

The Bomber Armament
Pembom ini dibangun Uni Soviet pasca Perang Dunia Kedua, tepatnya pada tahun 1947 prototipe Il-28 diluncurkan dengan kemampuan membawa muatan bom seberat 3 ton pada kecepatan 800 km per jam. Il-28 dirancang untuk diawaki oleh 3 orang (pilot, navigator dan penembak senapan mesin/tail gunner). Khusus untuk penembak senapan mesin, posisin ya berada terpisah, yakni ada di ekor dalam kompartemen bertekanan. Sementara navigator yang juga berperan sebagai pengebom posisinya berada di dalam area kaca di hidung pesawat. Sebagai juru bombing, awak navigator dibekali dengan pembidik OPB-5 peninggalan Perang Dunia Kedua. Sementara posisi pilot duduk dibawah kanopi berbentuk gelembung. Kanopi dibuka menyamping dengan kaca yang punya kualifikasi mampu menahan terjangan proyektil.
Kembali ke juru tembak pada bagian ekor (tail gunner), kelengkapan senjata yang diandalkan adalah dua pucuk kanon Nudelman Suranov-23 NS kaliber 23 mm. Setiap pucuk dibekali dengan kapasitas 250 amunisi. Dalam beberapa operasi, keberadaan kanon ini dilepas untuk meringanka bobot pesawat. Tapi itu baru pertahanan dari sisi belakang, Il-28 nyatanya juga dibekali dua pucuk kanon kaliber 23 mm dengan laras sudut tetap, yakni posisinya ada kiri dan kanan, tepatnya dibawah hidung pesawat, dan langsung dioperasikan oleh pilot.
Deretan Il-28s milik AURI
Deretan Il-28s milik AURI
Bomb bay (bomb rack) Il-28
Bomb bay (bomb rack) Il-28

Sebagai pesawat pembom, Il-28 seperti halnya pembom berat legendaries Tu-16 Badger, juga dibekali dengan bomb bay (ruang khusus bom). Bomb bay terletak di bagian perut dengan penutup yang dapat dikendalikan secara hidrolik. Bomb bay dapat memuat bom dengan bobot total 3 ton. Bagian sayap juga bisa diberi cantolan empat bom, yang masing-masing berbobot 100 kg.
Dari segi desain, Il-28 terbilang unik, pasal sayap dan ekor dibagi secara horizontal melalui pusat sayap, sementara badan pesawat terbelah secara vertikal di centerline. Pola tersebut memudahkan dalam perakitan dan ekonomis dalam produksi, tapi berdampak pada peningkatan pada berat struktur pesawat.




kanon Nudelman Suranov-23 NS kaliber 23 mm
kanon Nudelman Suranov-23 NS kaliber 23 mm
Tail gunner dengan pintul palka di ekor pesawat
Tail gunner dengan pintul palka di ekor pesawat

Prototipe pertama Il-28 terbang perdana pada 8 Juli 1948. Pada penerbangan perdana Il-28 menggunakan mesin Rolls Royce Nene. Pengujuan perdana dilakukan oleh Vladimir Kokkinaki dan mampu terbang hingga kecepatan 833 km per jam. Kemudian pada 30 Desember 1948, meluncur prototipe kedua yang menggunakan mesin RD-45. Lewat beragam pertimbangan, akhirnya pada 14 Mei 1949, il-28 resmi diproduksi dalam jumlah missal untuk pesanan AU Uni Soviet dan sekutunya. Dalam versi resminya, Il-28 mengusung jenis mesin Klimov VK-1 Turbojet. Setelah resmi meluncur, Il-28 dipindahkan posisi radar navigasinya dari belakang pesawat ke area roda hidung.
Dalam hal keselamatan, pilot dan navigator duduk dalam kursi berpelontar, sementara nasib tail gunner agak sial, karena jika dalam keadaan darurat hanya bisa menyelamatkan diri menggunakan parasut dan keluar dari pintu di dasar lantai.(Gilang Perdana)
data-1 

Penyadapan AS-Australia, RI Perlu Bentuk Angkatan Keempat?

Ke depannya perang bukan semata-mata adu senjata.

Ilustrasi skema penyadapan oleh NSA
Ilustrasi skema penyadapan oleh NSA (spiegel.de)
Dengan berbagai isu penyadapan yang melanda pejabat teras dan operator telekomunikasi belakangan ini, Pemerintah Indonesia diusulkan untuk segera mengambil langkah sigap. 

Pakat telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Agung Harsoyo, Rabu 26 Febuari 2014 dalam keterangan tertulisnya mengatakan mengingat rentannya perang di dunia siber.

Ia berpendapat Indonesia perlu memiliki angkatan keempat, selain Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Udara. Agung mencontohkan Amerika Serikat memiliki 5 Angkatan pertahanan, Darat, Udara, Laut, Antariksa, dan Cyber War, salah satu badan keamanan tersebut adalah National Security Agency (NSA).

"Pengamanan NSA meliputi komunikasi militer, diplomatik, serta komunikasi-komunikasi rahasia atau sensitif pemerintah. Lembaga ini memang dibentuk khusus untuk masalah ini,” kata Agung.

Sayangnya, tambah dia, pemerintahan belum melihat persoalan siber sebagai persoalan strategis. Padahal, ke depannya perang bukan semata-mata adu senjata, melainkan perang siber.

Ditambahkannya, Indonesia harus dapat mengambil pelajaran dari lumpuhnya Estonia, dikarenakan matinya pusat listrik nasional, dan hanya karena terserang hacker dari negara Rusia. 

"Akibat dari matinya listrik tersebut menyebabkan kekacauan seperti penjarahan, putusnya transportasi dan sebagainya. Kita harus menyadari bahwa  perang cyber tidak kalah dahsyatnya,” tambah dia.

Terkait dengan dugaan keterlibatan operator telekomunikasi Indonesia, Agung merasa yakin operator dalam negeri tidak terlibat dalam penyadapaan itu. Sebab menurutnya logika ini tak menguntungkan bisnis operator. 

Ia mengakui secara teknis, penyadap bisa memanfaatkan celah yang tak dalam kendalai operator. 

Untuk itu, Agung meminta pemerintah berkaca dari kasus penyadapan yang menimpa Kanselir Jerman Angela Merkel oleh AS. Kantor Federal untuk Keamanan Informasi Jerman telah mengembangkan sendiri software antisadap.
Para politikus dan pejabat tinggi Jerman nantinya hanya boleh memakai ponsel yang ditanami software antisadap.

LCS Memanas, TNI Perkuat Natuna


Panglima_TNI_dan_China
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko bersama Panglima Angkatan Bersenjata China Jenderal Fang Fenghui di Markas Besar Angkatan Bersenjata China di Beijing (photo: Antara/ Rini Utami).

TNI berencana menambah kekuatan di sekitar perairan Natuna yang merupakan salah satu wilayah terdepan Indonesia, sekaligus mengantisipasi instabilitas di Laut China Selatan.
“Penambahan dan pengerahan kekuatan di Natuna juga untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan ‘rembesan-rembesan’ akibat instabilitas di Laut China Selatan,” ungkap Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menjawab Antara di sela-sela kunjungan lima harinya di China.
Ia menuturkan penambahan kekuatan itu meliputi kekuatan di darat, laut dan udara. “Seperti misalnya peningkatan status pangkalan angkatan laut menjadi pangkalan utama angkatan laut dan seterusnya,” kata Jenderal Moeldoko.
Pulau Natuna dengan luas daratan 2.631 kilometer persegi, di utara berbatasan dengan peraiaran Vietnam, dan wilayah timurnya berbatasan dengan Malaysia Timur, Kalimantan Barat dan Brunei Darussalam.
Sementara itu, di barat Pulau Natuna dengan luas lautan 262.156 kilometer persegi berbatasan dengan Semenanjung Malaysia bagian barat. “Posisi geografi yang strategis ini, bisa dijadikan pangkalan oleh musuh, sebelum masuk ke wilayah RI,” kata Panglima TNI.
Karena itu penambahan dan penempatan kekuatan yang proposional di Natuna perlu dilakukan sebagai sistem peringatan dini bagi Indonesia dan TNI, sekaligus dalam mengantisipasi dampak instabilitas di Laut China Selatan.
“TNI senantiasa memantau setiap perkembangan di Laut China Selatan, dan siap mengantisipasi apapun akibat dari instabilitas di wilayah tersebut,” kata Panglima TNI menegaskan.
natuna-map

China Klaim 90 Persen LCS
Sementara itu Wakil Ketua Komisi Pusat Militer China Fan Changlong menegaskan China menentang upaya internasionalisasi persoalan di Laut China Selatan, termasuk campur tangan pihak luar, khususnya Amerika Serikat.
China, lanjut dia, akan berupaya memelihara dan menjaga stabilitas kawasan di Asia Pasifik termasuk di Laut China Selatan dengan menyelesaikan persoalan melalui mekanisme dialog bilateral dengan negara yang bersengkata dengan China di wilayah itu.

Natuna1.jpg
Pulau Natuna

China mengklaim sekitar 90 persen dari 3,5 juta kilometer persegi Laut China Selatan, yang bersinggungan dengan Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan.
Tidak itu saja, China juga berencana menetapkan Zona Indentifikasi Pertahahan Udara (ADIZ) di Laut China Selatan. Hal tu mendapat reaksi keras dari Amerika Serikat dan menyebut ide Beijing itu sebagai ide buruk.
Sebelumnya China juga menetapkan Zona Indentifikasi Pertahanan Udara di Laut China Timur yang mendapat kecaman dari Washington, Tokyo dan Seoul. (Antara).

Belanda anugerahkan medali kehormatan kepada TNI AL

Kamis, 27 Februari 2014 18:23 WIB | 1376 Views
KASAL Laksamana TNI Marsetio (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
TNI AL merupakan institusi kedua yang menerima penganugerahan medali kehormatan Prins Hendrik ini,"
Pemerintah Belanda melalui Royal Netherlands Navy menganugerahkan medali kehormatan "Prins Hendrik" kepada TNI Angkatan Laut sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama dan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Penganugerahan medali kehormatan disampaikan Commander of The Royal Netherlands Navy (RNN) Matthieu JM Borsboom kepada Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio dalam upacara militer di KRI Ahmad Yani-351 yang sandar di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Kamis.

Hadir dalam acara tersebut, antara lain Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia HE Mr Tjeer de Zwaan berserta stafnya, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono dan para pejabat TNI AL.

Selama ini, menurut Matthieu JM Borsboom, medali kehormatan Prins Hendrik diberikan kepada institusi atau perorangan yang telah memberikan kontribusi positif kepada RNN atau AL Belanda.

"TNI AL merupakan institusi kedua yang menerima penganugerahan medali kehormatan Prins Hendrik ini," katanya.

Matthieu Borsboom sebelumnya juga telah melakukan kunjungan kehormatan kepada Panglima TNI Jenderal Moeldoko, KSAL Laksamana TNI Marsetio, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, serta Pangkotama TNI AL.

Kunjungan pimpinan AL Belanda tersebut untuk bersilaturahmi sekaligus memperkuat hubungan kedua negara, khususnya RNN dengan TNI AL.

KSAL Laksamana Marsetio menyambut baik kunjungan tersebut dan memberikan apresiasi terhadap segala perhatian AL Belanda yang diaktualisasikan dalam bentuk penganugerahan medali kehormatan Prins Hendrik.

"Ke depan, kami berharap hubungan kerja sama TNI AL dengan RNN dapat terus berjalan dengan baik dan konstrukstif, bahkan lebih ditingkatkan," katanya.

Selama ini, lanjut KSAL, kerja sama AL kedua negara telah menunjukan tren ke arah yang semakin positif dengan meningkatnya kunjungan pejabat AL kedua negara.

Selain itu, juga kerja sama di bidang pendidikan, pemberian asistensi dan akses perolehan informasi terkait penulisan buku sejarah perjuangan TNI AL, serta pengadaan alutsista TNI AL dari Belanda, antara lain kapal perang jenis Perusak Kawal Rudal korvet SIGMA Class.
 

Kamis, 27 Februari 2014

Anggaran Alutsista, Menkeu: Fiskal Space Tak Ada, Mau Apa?

Kemenhan menyatakan anggaran alutsista tahun ini membengkak.

Pameran Alutsista TNI AD di Kawasan Silang Monas, Jakarta.
Pameran Alutsista TNI AD di Kawasan Silang Monas, Jakarta. (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
Menteri Keuangan Chatib Basri menutup dengan rapat kemungkinan mencairkan anggaran alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang diajukan Kementerian Pertahanan tahun ini.

Kementerian Keuangan yang diwakili Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati sudah menyatakan penolakan mencairkan anggaran tersebut, dalam rapat komisi I DPR dengan Kementerian Pertahanan beberapa hari lalu.
Chatib, Kamis 26 Februari 2014, usai menghadiri rapat kabinet menegaskan tidak akan mencairkan anggaran tersebut. "Fiscal space tidak ada, mau apa?" ujarnya.

Dia mengatakan soal ini sudah dibahas dalam sidang kabinet. Anggaran pemerintah benar-benar tidak ada ruang untuk mewujudkan pembelian alutsista tersebut.

"Fiscal space tidak cukup untuk APBN. Untuk anggaran tahun 2015 nanti, tanya menkeu baru," ujarnya.

Dalam APBN 2014, anggaran alutsista yang menjadi pagu anggaran yaitu sebesar Rp16 triliun. Kementerian Pertahanan mengklaim, gara-gara pelemahan rupiah anggaran tersebut membengkak menjadi Rp27 triliun.

Chatib mengungkapkan, sebenarnya anggaran itu bisa cair jika pembelian alutsista tersebut tidak langsung dilakukan atau secara bertahap, mengingat adanya pelemahan rupiah terhadap dolar.

"Masih banyak hal yang mesti dilakukan, tapi kan seharusnya tidak perlu langsung," ungkapnya. 

RI Berpotensi Jadi Kekuatan Besar, Tapi Amunisi Masih Sedikit

Anggaran RI untuk pertahanan dan bantuan internasional relatif kecil

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memakai cenderamata helm pasukan perdamaian United Nations (UN) dari Sekjen PBB, Ban Ki-moon, di Sentul, Bogor, beberapa waktu lalu.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memakai cenderamata helm pasukan perdamaian United Nations (UN) dari Sekjen PBB, Ban Ki-moon, di Sentul, Bogor, beberapa waktu lalu. (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Indonesia punya potensi untuk memperkokoh pengaruhnya di arena internasional. Sayangnya, potensi itu masih belum segera diwujudkan lantaran Indonesia belum memiliki instrumen-instrumen yang cukup memadai, seperti masih kecilnya anggaran untuk pembangunan internasional dan pertahanan. 

Pengaruh Indonesia dalam hubungan internasional sebenarnya terus berkembang. Namun, negara ini belum akan menjadi kekuatan besar dalam jangka pendek dan menengah.

Demikian analisis pengamat Indonesia dari Lowy Institute for International Policy, Dave McRae. Dia menguraikan pengamatannya soal perkembangan dan pengaruh Indonesia dalam hubungan internasional melalui laporan berjudul “More Talk than Walk: Indonesia as a Foreign Policy Actor,” yang dikirim ke VIVAnews hari ini.

Menurut dia, berdasarkan jumlah populasi, lokasi geografi, dan potensi ekonomi, di masa depan Indonesia akan memainkan peran lebih besar dalam hubungan internasional ketimbang saat ini. "Namun, sebenarnya, Indonesia kecil kemungkinan untuk langsung tampil sebagai aktor yang lebih berpengaruh secara signifikan dalam lima tahun ke depan untuk bisa naik dari kelompok negara-negara kelas menengah," tulis McRae.

"Bila Indonesia ingin mencapai status sebagai kekuatan besar, seperti yang diperkirakan beberapa pengamat, maka baru akan tercapai dalam jangka waktu yang sangat panjang," lanjut dia.

Dalam analisis setebal 17 halaman itu, McRae menguraikan beberapa elemen yang menjadi potensi dan tantangan Indonesia dalam memperluas pengaruhnya di gelanggang internasional. Selain jumlah penduduk yang besar dan lokasi yang strategis, meningkatnya profil Indonesia di panggung dunia juga berkat kinerja ekonominya yang relatif stabil, rata-rata tumbuh 5,7 persen per tahun dalam satu dekade terakhir.

"Pada 2012 Indonesia tumubuh menjadi ekonomi nomor 16 dunia, naik dari peringkat 27 pada tahun 2000. Pertumbuhan itulah yang membuat Indonesia kini masuk dalam kelompok elit G20," tulis McRae. 

Anggaran Kecil

Namun, raihan itu masih dipandang belum cukup bagi Indonesia untuk melesak jadi kekuatan besar dalam beberapa tahun mendatang. Pengaruhnya masih kecil. Salah satu faktor pertimbangan, Indonesia masih sedikit menyisihkan anggarannya untuk membantu pembangunan di luar negeri.

Menurut perhitungan kelompok negara OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan), Indonesia pada 2010 baru mengeluarkan sekitar US$10 juta untuk membantu pembangunan negara-negara tetangga yang masih miskin. Pada tahun yang sama, China menyisihkan sekitar US$2 miliar, Brazil US$500 juta, India US$640 juta dan Afrika Selatan US$118 juta.  

Selain itu, menurut McRae, Indonesia belum didukung dukungan militer yang memadai untuk menjadi negara kuat. Meski sudah bertekad membiayai anggaran pertahanan sebesar 1,5 persen dari total Produk Domestik Bruto (GDP), belanja militer Indonesia masih di bawah 1 persen dari GDP.

Anggaran tahunan belanja pertahanan RI pun masih sepertiganya dari Australia dan belum sebanyak Singapura, tulis McRae dengan mengutip angka dari Stockholm Institute for International Peace Research dalam laporan "SIPRI Yearbook 2013: Armaments, Disarmament and International Security." 

Dia juga mengutarakan bahwa kebijakan luar negeri RI akan ditentukan oleh empat faktor. Pertama, Indonesia memproyeksikan citranya sebagai kekuatan besar meski kemampuannya masih tergolong kekuatan menengah. Kedua, Indonesia akan tetap non-blok namun cenderung mendekat ke AS.

Ketiga, ASEAN masih tetap menjadi platform utama bagi Indonesia dalam menyampaikan aspirasi di tingkat kawasan dan internasional. Faktor keempat, lanjut McRae, Indonesia akan lebih aktif dalam menyuarakan isu-isu yang menyangkut umat Muslim ketimbang mendorong kebijakan luar negeri yang Islami.    
 
Terkait Indonesia-Australia, McRae melihat hubungan bilateral kedua negara itu tidak akan seerat seperti yang diperkirakan sebelumnya, apalagi saat kedua pemerintah sedang berseteru soal skandal penyadapan dan kontroversi penanganan pencari suaka atau imigran gelap. "Hubungan Indonesia dengan Australia kecil kemungkinan menjadi prioritas kebijakan luar negeri dalam beberapa tahun mendatang," lanjut McRae.