Jika tiada aral melintang, mestinya sosok KRI Bima Suci, kapal latih tiang tinggi terbaru TNI AL dari jenis barque akan diperlihatkan kepada publik pada akhir bulan September ini. Seperti telah kami sampaikan sebelumnya, prosesi pemotongan plat baja perdana (steel cutting)
dilakukan pada 16 November 2015 di galangan Freire di kota Vigo,
Spanyol. Setelah diluncurkan nanti, bukan berarti kapal langsung resmi
dioperasikan TNI AL.
Setelah KRI Bima Suci diluncurkan, tahap selanjutnya kapal ini masih
akan melewati serangkaian uji, seperti harbor trial dan sea trial. Bila
sesuai jadwal, proses uji akan rampung pada bulan Mei 2017. Setelah
semua oke, kapal akan dibawa berlayar ke Indonesia, kemudian KRI Bima
Suci akan diresmikan (commissioning) berupa penyerahan kepada
TNI AL pada bulan Juli 2017. Sekilas tahapan KRI Bima Suci tak jauh beda
dengan kapal selam KRI Nagabanda 403. Pada bulan Maret lalu, kapal
selam baru ini telah diresmikan di galangan Daewoo Shipbuilding and
Marine Engineering (DSME), namun KRI Nagabanda 403 baru akan dikirim ke
Indonesia pada bulan Maret 2017.
Kilas balik tentang KRI Bima Suci, kapal layar tiang tinggi pengganti
KRI Dewa Ruci ini dimenangkan tendernya pada Juli 2013. Seperti dikutip
dari sumber resmi, penerus Dewa Ruci punya panjang 111,2 meter, lebar
7,8 meter dengan bidang layar 3.350 meter2. Dari segi kapasitas, kapal
ini dapat menampung 120 taruna dengan 80 awak kapal.
Sebagai kapal tiang tinggi kelas Barque, KRI Bima Suci memiliki dua
tiang dengan layar persegi. Jumlah layar keseluruhan ada 26 buah, lebih
banyak dari KRI Dewa Ruci dengan 16 buah layar. Jika di KRI Dewaruci
tidak terdapat ruang kelas, maka KRI Bimasuci menyediakan ruang kelas
secara khusus sebagai tempat belajar para taruna AAL saat berlatih dalam
operasi Kartika Jala Krida. Ruang kelas yang tersedia mampu memuat 100
orang taruna.
KRI Dewa Ruci memanfaatkan geladak terbuka sebagai ruang rekreasi,
sementara KRI Bimasuci menyiapkan ruang rekreasi dalam sebuah ballroom
berukuran 11 x 10,5 m2. Tingkat kenyamanan juga jauh lebih meningkat
sebab KRI Bimasuci menyiapkan perangkat multimedia. Dari sisi performa,
KRI Bima Suci punya kecepatan maksimal 12 knot jika menggunakan daya
dorong mesin dan 15 knot jika menggunakan layar. Sementara itu untuk
tingkat endurance (ketahanan berlayar tanpa mengisi BBM) dapat mencapai
30 hari. Kapal layar tiang tinggi ini dilengkapi dengan 5 dek, 7
kompartemen, dan 48 blok. (Gilang Perdana)
Mungkin maksud hati ingin mencontoh Super Rapid Advanced Mortar
System (SRAMS) keluaran ST Kinetics, Singapura. Meski masih berupa
prototipe yang belum tuntas, Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan
Darat (Dislitbangad) pernah membuat terobosan mortir otomatis yang
mirip-mirip dengan SRAMS. Bila SRAMS mengusung mortir kaliber 120 mm,
maka mortir jenis mekatronik inovasi Litbang TNI AD mengusung mortir
kaliber 81 mm, kaliber mortir yang juga masif digunakan sebagai senjata
bantu infanteri (senbanif).
Meski belum didapat informasi detail tentang sosok prototipe mortir
mekatronik 81 mm, namun mekaisme kerjanya diperkirakan merujuk ke SRAMS
milik Singapura. SRAMS dilengkapi laras yang sudut elevasinya dapat
digerakkan secara otomatis, pengukuran jarak tembakan, sampai jangkauan
dikalkukasi secara komputerisasi. Bahkan loading proyektil dimuat secara
otomatis dengan tetap mempertahankan pola pengisian reguler dari ujung
laras.
Secara umum, tidak ada yang berubah dari kinerja standar mortir. Namun dengan adopsi semi automation transfer system dan automatic fire control system,
kecepatan tembak mortir dapat ditingkatkan, dalam satu menit bisa
dilontarkan sampai 10x tembakan. Sebagai perbandingan bila menggunakan
pola tembakan konvensional dari prajurit infanteri, paling banter hanya
6x setiap menitnya.
Tapi perlu dicatat, meski basisnya adalah mortir, tapi SRAMS dan juga
prototipe mortir otomatis TNI AD, tidak dirancang untuk dioperasikan
infanteri, pasalnya senjata jenis ini dipersiapkan untuk dipasang pada
rantis (kendaraan taktis) dan ranpur (kendaraan tempur). SRAMS yang
sudah dioperasikan sejak tahun 2000, dipasang pada rantis jenis RG31,
Bronco All Terrain Tracked Carrier, Flyer Spider,
dan HMMWV. SRAMS punya recoil (efek tolak balik) kurang dari 26 ton,
plus sistem modular menjadikan senjata ini cocok diadopsi pada beragam
jenis rantis dengan penggerak 4×4.
Spesifikasi SRAMS
– Panjang laras: 1,8 meter
– Elevasi laras: 40 – 80 derajat
– Kecepatan respon: kurang dari 1 menit
– Bobot sistem SRAMS: kurang dari 1,2 ton
– Awak: 3 orang
– Amunisi: 120 mm standard dan 120 mm ER
– Jarak tembak: 9 km dengan amunisi ER
– Kecepatan tembak: sampai 10x per menit
– Recoil: kurang dari 26 ton
Sementara pada prototipe mekatronik Litbang TNI AD, meski masih belum
tuntas, dirancang untuk bisa dikendalikan lewat aplikasi pada
smartphone berbasis Android. Tentu besar harapan agar prototipe super
rapid mortir 81 mm rancangan lokal ini dapat dirampungkan, dan kelak
diproduksi untuk melengkapi ranpur Pindad Anoa 6×6 mortir.
Untuk mortir 81 mm, dengan bobot sekitar 49 kg dan panjang laras 1560
mm, dapat dicapai jarak tembak maksimum 6.500 meter dan jarak tembak
minimum 100 meter. Untuk mendongkrak mobilitas, nantinya mortir 81 mm
juga akan diadopsi ke dalam ranpur Anoa versi Mortar Carrier. Anoa APS-3
Mortar Carrier disiapkan untuk memperkuat Batalyon Infanteri Mekanis. (Haryo Adjie)
Spesifikasi Mortir 81 mm Pindad
– Diameter : 81,4 mm
– Panjang laras : 1.560 mm
– Panjang Bipod (dilipat) : 960 mm
– Berat lengkap mortir 49 kg
– Jarak elevasi : 45-85 derajat
– Jarak tembak max : 6500 – 8.000 meter
Usia 56 tahun bagi manusia sudah tergolong lanjut, tanpa treatment
yang baik, maka kondisi tubuh akan cepat melorot. Begitu pun dengan
Lockheed Martin C-130B Hercules, sejak didatangkan pada tahun 1960,
faktanya armada C-130B Hercules TNI AU masih terus dioperasikan. Seperti
salah satunya pada C-130B Hercues nomer registrasi A-1303 dari Skadron
Udara 32 yang belum lama ini telah merampungkan program upgrade dan
retrofit tingkat berat.
Retrofit yang dilakukan terhadap pesawat angkut berat yang sangat
berjasa dalam Operasi Seroja ini mencakup penggantian pada struktur
outer wing, rainbow fitting, engine truss mount,fuselage main tructure,
overhaul propeller, perbaikan dan mengganti 4 assy engine low
performace, penggantian sistem gas turbine compressor (GTC) dengan APU
(Auxilary Power Unit) dan ECS (Evironmental Control System) module.
Komponen avionic juga mendapat peremajaan dengan mengganti seluruh
sistem E4 menjudi FCS 105, mengganti sistem radio altimeter AL-101
menjadi radio altimeter 4000 dan memasang sistem Enhanced Traffic Alert
Collision Avoidance System dengan ATC/mode S Transponder (ETCAS-CAS
100). Proses penggarapan retrofit dilaksanakan oleh Airod Sdn Bhd
Malaysia dengan melibatkan sembilann teknisi dari Malaysia dan empat
belas teknisi dari Indonesia yaitu para purnawirawan Depohar 10. Untuk
jadwal selanjutnya, ada empat unit C-130B Hercules TNI AU lagi yang akan
melaksanakan retrofit dan upgrade di Malaysia.
C-130B adalah varian awal dari keluarga Hercules yang dimiliki TNI
AU. Karena banyak mengalami kerusakan dan suku cadang, beberapa C-130B
tidak lagi beroperasi sejak beberapa tahun belakangan.
Setelah menjalani proses retrofit dan upgrade, C-130B A-1303 Skadron
Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang itu berhasil menjalani uji
terbang (test flight) perdana oleh Letkol Pnb Subhan di Lanud Husein
Sastranegara, Bandung, Rabu (7/9/2016). C-130B/A-1303 merupakan satu
dari 10 unit C-130B Hercules pertama yang dimiliki Indonesia sejak tahun
1960. Pesawat Hercules Tipe B merupakan “hasil barter” Pemerintah
Indonesia dengan Amerika Serikat yang menginginkan dibebaskannya Allan
L. Pope, pilot bayaran berkewarganegaraan AS yang ditawan pemerintah
Indonesia kala itu.
Skadron Udara 32 secara keseluruhan diperkuat belasan pesawat
Hercules tipe C-130B/H dan C-130BT. Diantaranya ada dua pesawat yang
punya kemampuan sebagai tanker, yakni pesawat dengan nomer registrasi
A-1309 dan A-1310. Merujuk informasi dari buku “Hercules Sang Penjelajah
– skadron udara 31,” disebutkan C-130 Hercules dengan nomer registrasi
A-1309 dan A-1310 sudah resmi digunakan TNI AU sejak 18 April 1961.
Awalnya kedua pesawat punya peran reguler sebagai pesawat angkut berat
dan penunjang operasi linud, baru kemudian pesawat dimodifikasi untuk
ditambahkan kemampuan sebagai tanker bagi jet tempur. Sayangnya Hercules
registrasi A-1310 telah jatuh (total crash) di Medan pada Juli 2015. (Bayu Pamungkas)
Setelah lama berkutat menggunakan tank ringan (light tank), hadirnya
Leopard 2A4 dan 2A4 Ri menandakan arah perubahan besar kavaleri TNI AD
sebagai pengguna MBT (Main Battle Tank). Karena MBT yang didatangkan
dari Jerman lumayan banyak (total 103 unit), maka program pelatihan awak
dan transisi pengemudi MBT menjadi sesuatu yang krusial. Sebagai
‘flagship’ alutsista TNI AD, tingkat kesiapan tempur MBT Leopard jelas
harus terjaga dan pastinya kemampuan awaknya harus terasah.
Mengemudi ranpur lapis baja seberat 60 ton sudah barang tentu butuh
kemampuan khusus. Dan memang sudah menjadi standar bagi negara pemilik
Leopard bila menggunakan wahana Drive Training Vehicle (DVT) yang
dirancang khusus dari basis MBT Leopard. Khusus untuk melatih pengemudi
MBT Leopard, dalam paket pembelian tank ini juga disertakan Leopard 2
Fahrschulpanzer. Dari desainnya, Leopard 2 Fahrschulpanzer mengacu pada
Leopard 2A4, bedanya pada tank latih ini posisi kubah meriam digantikan
dengan kabin observasi untuk pelatih.
Kabin observasi di Leopard 2 Fahrschulpanzer dibuat permanen, jadi
jangan harap kabin ini bisa berputar layaknya kubah meriam. Agar
mendekati kondisi sebenarnya, tank latih ini juga dilengkapi laras, tapi
ini hanya dummy. Kabin untuk pelatih ini punya sudut pandang lumayan
lebar dan bisa melihat ke belakang. Sementara posisi siswa duduk di
kursi pengemudi tank seperti biasa. Seperti halnya pelatih (instruktur)
di sekolah kemudi, pelatih dilengkapi sistem kendali override (ambil alih) bila suatu waktu terjadi kondisi kritis saat siswa melakukan kegagalan. Yang bisa di override mencakup kemudi, pedal gas dan rem.
Di dalam kabin juga terdapat dua buah kursi untuk siswa latihan lain
(cadangan siswa) mengobservasi. Posisi kursi cadangan siswa ini terletak
di kiri-kanan kursi instruktur dan diposisikan lebih ke belakang. Tiga
kursi di kabin sudah dilengkapi dengan dengan helm yang terintegrasi
dengan secure intercomm-set, sehingga arahan instruktur kepada pengemudi
bisa dilakukan secara langsung, dan arahan tersebut juga diketahui oleh
cadangan pengemudi, termasuk koreksi yang diberikan pelatih kepada
siswa yang sedang mengemudi. Hal ini meningkatkan efektivitas pelatihan,
sehingga saat saat tiba giliran cadangan pengemudi melaksanakan
latihan, hasil latihan akan lebih optimal.
Leopard 2 Fahrschulpanzer kini sehari-hari menjadi perangkat latih
pada di Pusat Pendidikan Kavaleri TNI AD (Pusdikkav). Sebagai wahana
latih, lingkup operasi tank ini biasanya berada di kawasan Padalarang,
Jawa Barat. Beberapa pola latihan yang digelar mencakup materi mengemudi
klep tertutup (Close Down Hatch Driving) taktis dan manuver. (Bayu Pamungkas)
Di bulan Maret lalu, telah dilakukan proses pengiriman simulator FFMS (Full Flight Mission Simulator)
C-130H Hercules yang berasal dari bekas pakai AU Australia (RAAF). Dan
kabar terbaru, kini simulator tersebut telah berhasil terpasang di
gedung Fasilitas dan Latihan (Faslat) Wing 1 Lanud Halim Perdanakusuma.
Pengadaan simulator ini merupakan bagian dari paket pembelian lima unit
C-130H Hercules bekas pakai AU Australia.
Meski proses instalasi simulator C-130H Hercules telah rampung,
sejatinya proses pembangunan Faslat Wing 1 telah dimulai sejak bulan
Oktober 2015. Simulator FFMS Hercules yang baru saja terpasang Lanud
Halim Perdanakusuma berasal dari Skadron 285 yang bermarkas di Lanud
Richmond. Lanud ini adalah salah satu pangakalan udara terbesar dan
tertua RAAF yang berlokasi di negara bagian NSW (New South Wales).
Dikutip dari defence.gov.au, proses pembongkaran dan pengiriman
simulator sudah dilakukan sejak 9 – 11 Maret 2016. Meski berstatus bekas
pakai, simulator C-130H Hercules Australia sudah mendapat upgrade TTCU (Tactical Training Capability Upgrade).
Simulator C-130H Hercules yang datang dari Australia ini merupakan
produksi CAE Electronics Ltd, Kanada. Adanya simulator ini sangat
membantu para awak pesawat untuk bisa meningkatkan kemampuan mereka,
karena semua prosedur latihan yang ada dapat dilaksanakan, terutama yang
berkaitan dengan emergency procedure. Meski dengan jam terbang dan
kesiapan pesawat yang terbatas, semuanya bisa dimaksimalkan karena
latihan bisa tetap dilaksanakan lewat simulator, bahkan untuk
latihan-latihan yang tak mungkin dilaksanakan di pesawat sebenarnya.
Salah satu sasaran terbang simulator adalah melatih crew
coordination/crew resource management (CRM), terutama dalam menghadapi
situasi emergency.
Dalam operasional FFMS, selain melibatkan pihak CAE Electronics
Australia, juga mendapat dukungan dari Airbus Group Australia Pacific.
Simulator C-130 di lingkup TNI AU bukan barang baru, sejak tahun 2000,
di Wing 1 Lanud Halim Perdanakusuma sudah ada simulator C-130. (Gilang Perdana)
Armada peronda Lantamal (Pangkalan Utama Angkatan Laut) Koarmabar
bertambah lagi, dengan resmi diluncurkannya tiga unit kapal patroli
jenis KAL (Kapal Angkatan Laut) 28M Propeller besutan PT Tesco
Indomaritim. Ketiga kapal patroli tersebut masing-masing adalah KAL
Marapas untuk memperkuat Lantamal IV Tanjung Pinang, KAL Lemukutan
untuk Lantamal XII Pontianak dan KAL Bunyu untuk Lantamal XIII Tarakan.
Dari aspek persenjataan, sudah bisa ditebak tidak ada yang mencolok,
sebagai kapal patroli di kawasan litoroal Lantamal, KAL 28M memang harus
puas dipasangi satu pucuk SMB (Senapan Mesin Berat) DShK-38
atau kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) sekelas Oerlikon 20mm. Meski
tidak menutup kemungkinan bila keuangan kuat dapat pula dipasag model
kanon RCWS (Remote Control Weapon System). Soal RCWS di KAL 28M
nampaknya sudah dipersiapkan, ini terlihat dari model desain grafis KAL
28M yang dirilis pihak galangan memperlihatkan jenis kanon RCWS.
Turut mengemban peran taktis untuk operasi keamanan laut terbatas,
TNI AL kini mulai serius melengkapi KAL dengan persenjataan yang lebih
maju, meski masih berkutat di SMB kaliber 12,7 mm, model RCWS sebelumnya
sudah diterapkan di KAL Mapor (PC-28) buatan PT Palindo Marine.
Kembali ke KAL 28M Propeller, berdasarkan spesifikasi kapal patroli
ini punya panjang 28 meter, lebar 5,85 meter, kecepatan maksimum 28
knot, dan mampu berlayar sejauh 648 nuatical mile (1.200 km). Jarak
tempuh 1.200 km dapat dicapai bila kapal dipacu dengan kecepatan jelajah
18 knot. Dengan dua propeller, kapal ini disokong mesin 2×1800 BHP.
Dalam sekali berlayar, KAL 28M dapat membawa 16 ribu liter bahan bakar
dan 4 ribu liter air tawar. KAL 28M Propeller punya bobot penuh 70 ton,
dan diawaki oleh 15 personil.
Ketiga KAL 28M Propeller diresmikan oleh Asisten Logistik (Aslog)
Kasal Laksamana Muda TNI Mulyadi, Senin (5/9) di Jetski Cafe, Pantai
Mutiara, Jakarta Utara. Sementara PT Tesco Indomaritim debutnya sudah
tak asing dalam pengadaaan kapal untuk TNI. Perusahaan swasta nasional
ini yang memproduksi combat boat KMC (Kapal Motor Cepat) Komando untuk Kodam TNI AD
dan KAL TNI AL. Tesco Indomaritim sebelum itu juga memproduksi LCU
(Landing Craft Utility) yang terintegrasi pada kapal LPD (Landing
Platform Dock). PT Tesco Indomaritim telah memproduksi 12 unit tipe KAL
28 Propeller. 4 unit tahun 2015 dan 8 unit tahun 2016. (Gilang Perdana)
Spesifikasi kapal 28M Propeller :
– LOA : 28 m
– Beam : 5,85 m
– Depth : 4,31 m
– Draft : 1,30
– Displacement : 70 MT
– Propulsion : Propeller
– Engine : 2 x 1.800 BHP
– Speed : 28 Knots
Dalam ajang Defence Services Asia (DSA) 2016 yang berlangsung bulan
April lalu di Kuala Lumpur, Pemerintah Malaysia telah mengumumkan
pembelian enam unit helikopter serbu ringan MD530G – (aka AH-6
Little Bird) dari MD Helicopters Inc. Debut helikopter yang kondang
sebagai elemen CAP (Close Air Support) di film Black Hawk Down ini
memang masif dimanfaatkan satuan Ranger dan Delta Force untuk melakukan raid.
Dari aspek dukungan senjata serta kelincahan dalam bermanuver, bisa
dibilang tidak ada yang terlalu istimewa dari MD530G. Poin keunggulan
yang kentara lebih karena battle proven, tentu akibat sering diajak
beraksi oleh pasukan AS di banyak palagan, seperti salah satunya dalam
operasi Gothic Serphent (1993) di Mogadishu – Somalia, suatu
operasi militer yang menjadi latar penggarapan film Black Hawk Down
karya sutradara Ridley Scott.
Bila dikomparasi dengan Indonesia, TNI AD juga sudah melakukan
pengadaan helikopter serbu ringan keluaran baru, yakni AS 550 Fennec
buatan Airbus Helicopters. Fennec didapuk sebagai generasi penerus
NBO-105 yang kini memang sudah tak diproduksi lagi. Baik MD530G dan AS
550 Fennec, keduanya berasal dari platform helikopter sipil. Ini artinya
untuk urusan dukungan sensor dan adopsi persenjataan, semuanya bersifat
optional. Rasanya di heli ini Anda tak akan menemukan senapan mesin
internal, seperti halnya pada helikopter serbu AH-64 Apache atau Mi-35P
Hind. Meski berasal dari platform helikopter sipil, umumya saat beranjak ke
versi militer, terdapat penguatan airframe, baling-baling, sampai pada
jenis mesin yang lebih powerfull. Bagi penulis, yang menarik adalah
melihat sosok MD530G atau Littile Bird, pasalnya di pertengahan tahun
70-an, buyut dari dari MD530G justru sudah mengangkasa di langit
Indonesia. Lewat operator Pelita Air Service, setidaknya ada 12 unit
Hughes 500C yang pernah dioperasikan maskapai charter milik BUMN
Pertamina ini. Pada tahun 70-an, sesuai namanya Hughes 500C masih
diproduksi oleh Hughes Helicopters.
Berdasarkan lintasan sejarah Hughes 500C, pada tahun 1982 Pelita Air
Service mengihibahkan 12 unit helikopter ini untuk TNI AU, yang kemudian
12 unit Hughes 500 diserahkan sebagai kekuatan di Skadron Udara 7 Lanud
Suryadarma. Seperti dikutip dari situs tni-au.mil.id, sebelum resmi
diserahkan ke TNI AU, sebetulnya heli-heli ini sudah dioperasionalkan
oleh personil TNI AU, sehingga ketika pesawat diserahterimakan, kondisi
dan kemampuan terbangnya telah dipahami.
Untuk selanjutnya, Hughes 500C digunakan bagi keperluan pendidikan
siswa Sekbang jurusan Helikopter Latih Lanjut. Bila mengacu pada kondisi
saat ini, peran Hughes 500C bisa diibaratkan sebagai pendahulu dari
helikopter EC-120B Colibiri. Hughes 500C bisa dikata jarang
diterbangkan, dengan alasan menurunnya kesiapan operasional helikopter
ini, diantaranya terkait suku cadang. Di dekade 90-an, tinggal lima unit
Hughes 500C yang siap operasional, yakni H-500C, H-5010, H-5002, H-5003
dan H-5005. Di tahun 1995, penulis kebetulan masih sempat melihat
helikopter ini terparkir depan hangar Skadron Udara 31 Lanud Halim
Perdanakusuma, Jakarta.
Hughes 500C meraih sertifikat kelaikan terbang pada 1966, dalam versi
militer kala itu Hughes menghadirkan kembarannya, yaitu OH-6A Cayuse.
Hughes 500 ditenagai mesin tunggal Allison 250-C18B. Helikopter ini
punya kecepatan maksimum 282 Km per jam, dan kecepatan jelajah 232 Km
per jam. Sementara jarak tempuhnya bisa mencapai 605 Km. Berbeda dengan
NBO-105 dan EC-120B Colibri, Hiughes 500 tidak dilengkapi ramp door di
bagian belakang, pasalnya exhaust engine berada di posisi bawah bagian
belakang.
Kembali ke MD530G yang dibeli Malaysia, oleh pabrikannya heli ini
disebut sebagai generasi terbaru dari line heli serbu dari keluarga
turunan Hughes. Airframenya dibangun dari platform MD530F yang selama
ini telah battle proven. Sebagai versi terbaru, landing gear telah
diperkuat sehingga dapat memuat kapasitas payload sampai 816 Kg. Dengan
payload yang semakin besar, maka racikan senjata yang akan dibawa bisa
lebih fleksibel. Sebagai heli serbu ringan bersemin tunggal, bobot
kosong MD530G hanya 885 Kg, dan maximum take off gross weight mencapai
1.701 Kg.
Bekal senjata favorit yang diusung sudah barang tentu M134D Minigun pod 7,62 mm, FM HMP250 Pod 12,7 mm, roket Hydra 70 2,75 inchi,
rudal anti tank TOW, dan rudal stinger. MD530G disokong mesin turbin
Roll Royce 250-C30. Kecepatan jelajah heli serbu ini 204 Km per jam, dan
kecepatan maksimum 282 Km per jam. Sementara jarak jangkaunya mencapai
426 Km dengan endurance terbang 2,5 jam. Bicara tentang dukungan
perangkat sensor navigasi, selain FLIR (Forward Looking Infrared),
teknologi helikopter juga telah terintegrasi dengan stores management
system dan advanced communication suite. (Haryo Adjie)