Rabu, 16 Maret 2016

10 Produksi Panser Badak Selesai November 2016


PT Pindad berencana memproduksi 10 kendaraan tempur jenis Badak mulai bulan Mei tahun ini. Jika tak ada kendala, PT Pindad akan merampungkan 10 panser tersebut pada November 2016. Produksi panser Badak digenjot atas perintah Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memesan 50 kendaraan.
Demikian disampaikan Kepala Departemen Perakitan Kendaraan 6×6 Divisi Kendaraan Khusus PT Pindad, Joko Mulyono, kepada “PR” di PT Pindad, Bandung, 11 Maret 2016.
“Badak merupakan pengembangan dari panser 6×6 buatan Pindad. Perbedaannya, Badak dilengkapi turret kaliber 90 mm yang memiliki daya rusak luar biasa. Kendaraan ini dikhususkan untuk merusak, baik itu untuk tujuan menyerang atau bertahan. Kemampuan manuvernya juga sangat baik. Ketika wapres meninjau prototipe Badak, status kendaraan ini telah tersertifikasi dan siap diproduksi,” ujarnya.
Panser Badak Pindad
Panser Badak Pindad
Joko Mulyono menerangkan, panser Badak merupakan hasil karya anak bangsa yang dapat dibanggakan. Seluruh bahan baku untuk membuat panser Badak berasal dari dalam negeri, kecuali bagian laras meriam. Hingga saat ini, bagian itu masih didatangkan dari Cockerill Maintenance Ingenierie (CMI) Defence Belgia. Akan tetapi, PT Pindad terus berupaya memaksimalkan seluruh bahan baku dari dalam negeri.
“Tidak ada alasan untuk tidak membuatnya di Indonesia. Amunisi dan senjata saja bisa, maka tidak mustahil dalam waktu dekat PT Pindad dapat memproduksi sendiri laras meriam 90 mm,” tutupnya.

Pikiran-Rakyat.com

TNI AL Tambah Satu Kapal Patroli Cepat


Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mendapat kapal perang baru berjenis Patroli Cepat (PC-43). Kapal perang yang diberi nama KRI Cakalang-852 ini secara simbolis telah diluncurkan ke laut di sekitar perairan Salira, Banten. Kapal ini merupakan hasil hasil produksi di dalam negeri, yaitu PT. Caputra Mitra Sejati (CMS) Banten.
Asisten Logistik (Aslog) KSAL, Laksamana Pertama TNI Mulyadi mengatakan bahwa pembangunan Kapal PC 43 meter ini merupakan tindak lanjut pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam upaya meningkatkan kekuatan dan kemampuan Angkatan Laut yang mengacu kepada kebijakan dasar pembangunan TNI AL menuju Minimum Essential Force (MEF).
Kapal perang baru ini TNI AL ini memiliki panjang (Loa) 44,40 meter, lebar (B.Max) 7,40 meter dan tinggi tengah kapal (Dmld) 3,40 meter. Kapal dengan bobot 230 ton ini dilengkapi mesin utama 3 x 1800 Hp dengan putaran mesin 2300 rpm, kecepatan maksimum mencapai 24 knot, kecepatan jelajah 17 knot dan daya jangkau 1632 Nautical Mile (Mil Laut). Untuk persenjataan, KRI Cakalang akan dilengkapi dengan senjata kaliber 30 milimeter (mm) buatan Oto Melara, Italia.
KRI Cakalang, Kapal Perang Baru TNI AL Diluncurkan di Perairan Banten. (detik.com)
KRI Cakalang, Kapal Perang Baru TNI AL Diluncurkan di Perairan Banten. (detik.com)

Kehadiran KRI Cakalang-852 ini memperkuat kekuatan Kapal Patroli Cepat berukuran 43 meter yang telah dimiliki oleh TNI AL. Hingga saat ini, TNI AL baru memiliki tiga kapal patroli cepat ukuran 43 meter, yaitu KRI Pari-849, KRI Sembilang-850, dan KRI Sidat-851.
KRI Cakalang akan dioperasikan di bawah Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar).

Sindo News dan Republika Online

We Are the Marines


Korps Marinir TNI Angkatan Laut siap selalu digerakkan kemana saja, baik operasi dalam dan luar negeri, untuk melindungi bangsa Indonesia. Pasukan ini nyaris mampu bertempur sendiri tanpa bantuan pasukan lain. Mereka mempunyai unit Infanteri, Artileri, Kavaleri dan Perbekalan.
marinir 1
Marinir (Photo: Kuwadi Kuat)
Memang untuk urusan pergerakan laut, pasukan ini masih membutuhkan bantuan dari satuan induknya TNI AL, ataupun dari TNI AU, untuk transportasi udara. Marinir juga belum memiliki helikopter sendiri, untuk mendukung operasi-operasi mereka.
Operasi terbaru yang dilakukan pasukan ini adalah mengamankan jalannya Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Ke-5 Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jakarta, pada 6-7 Maret 2016.
marinir 2
Marinir (Photo: Kuwadi Kuat)
Dalam pengamanan ini Korps Marinir melibatkan 1.277 personelnya dipimpin langsung Letkol Marinir Ena Sulaksana yang sehari-hari menjabat Pasops Brigif-2 Marinir.
Wilayah yang menjadi pengamanan Marinir, antara lain Hotel Crown Plaza, Hotel Rafless, Hotel Dharmawangsa, Hotel JW Mariot, Hotel Ritz Calton, dan Mega Kuningan, Jakarta.

Heckler & Koch Kirim 490 Pistol dan Senapan Otomatis ke Indonesia


Pemerintah Jerman telah menyetujui beberapa kesepakatan ekspor senjata dengan negara-negara di Timur Tengah, termasuk pengiriman 23 helikopter Airbus ke Arab Saudi, ujar surat Kementerian Ekonomi, Senin, 14/3/2016.
Menteri Ekonomi Sigmar Gabriel telah bersumpah untuk menjadi lebih berhati-hati dalam lisensi ekspor senjata, yang menakutkan bagi industri pertahanan Jerman yang cukup besar akibat sinyal perubahan kebijakan dari pemerintah koalisi sebelumnya di mana menyebabkan penjualan meningkat.
Namun, dalam sebuah surat kepada anggota parlemen di majelis rendah komite ekonomi, Bundestag, Gabriel mengatakan pemerintah Dewan Keamanan federal juga telah menyetujui kesepakatan dengan Heckler & Koch untuk memberikan 660 senapan mesin, 660 barel gun tambahan dan 550 sub-senapan mesin ke Oman.
Hal ini juga memberi lampu hijau untuk pengiriman Heckler & Koch dari 130 pistol mesin dan senapan otomatis ke Uni Emirat Arab dan diperbolehkannya Rheinmetall untuk mengekspor 65.000 kartrid mortir ke negara itu, sambil menunjukkan dokumennya.
automatic rifles by Heckler & Koch
Pemerintah juga menyetujui pengiriman lima helikopter militer Airbus ke Thailand dan ekspor hampir 490 machine pistols dan senapan otomatis Heckler & Koch ke Indonesia.
Pada bulan Januari, Gabriel mengatakan Jerman mungkin terlihat sulit untuk mengekspor senjata ke Arab Saudi setelah kerajaan Teluk melaksanakan eksekusi terbesar massa selama beberapa dekade.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Frank-Walter Steinmeier telah berulang kali mengatakan bahwa Berlin ingin menurunkan ketegangan di Timur Tengah.

Reuters

Kamis, 25 Februari 2016

Kavaleri Udara : “Kuda” Perang Tangguh Pemukul Musuh dan Benteng Serangan Terorisme

468519-we-were-soldiers

Anda pernah menonton film We Were Soldiers yang dibintangi Mel Gibson dan di sutradarai Randall Wallace tahun 2002? Jika belum, bagi Anda penikmat dunia militer dan juga film ada baiknya menonton film ini. Mengapa? Karena film ini diadaptasi dari kisah nyata yang juga dibukukan We Were Soldiers Once…And Young karya Letnan Jenderal (Ret.) Hal Moore dan Joseph L. Galloway. Kisah dalam film dan buku tersebut menggambarkan salah satu peristiwa pertempuran terhebat dalam Perang Indochina antara Divisi Kavaleri Udara ke-1 Amerika Serikat berkekuatan +/- 400 prajurit dengan tentara Viet Minh Vietnam Utara yang berkuatan +/- 4000 personil di bukit La Drang.

Divisi Kavaleri Udara Angkatan Darat Amerika Serikat pertama kali digunakan sejak pecah perang Indochina. Unit tersebut pada awalnya dibekali sejumlah “kuda” perang yang terdiri dari helikopter UH-1 troop carrier, UH-1-C gunship dan CH-47 Chinook sebagai pengangkut perbekalan dan CH-54 sky crane. Kavaleri ini menjadi tulang punggung pasukan pemukul Angkatan Darat Amerika Serikat mengingat kondisi geografis Vietnam yang masih banyak tertutup hutan lebat dan daerah pegunungan sehingga gerak maju kendaraan lapis baja di darat menjadi sangat terbatas mobilitasnya.

2717016_1648350axwygv_128943460

Sepanjang kiprahnya di Perang Indochina, Kavaleri Udara sering dilibatkan dalam pertempuran berskala besar untuk menghadang gerak maju tentara Vietnam Utara. Perang itu antara lain Operasi Tet tanggal 31 Januari 1968, Operasi Pegasus pada Maret 1968 dan Operasi Delaware pada April 1968.

aircav

Bagaimana dengan Indonesia ?
Sebagai negara tropis yang memiliki kondisi geografis mirip seperti Vietnam, ide dan gagasan pembentukan divisi Kavaleri Udara di lingkungan TNI sangat penting untuk dikembangkan. Hingga saat ini, unit Kavaleri Udara TNI berada di bawah koordinasi Puspenerbad. Selama beberapa dekade, unit-unit kavaleri udara banyak mengandalkan helikopter Bell 205 A-1 dan N-Bell 412 serta NBO-105. Perlahan, peran ketiga alutsista tersebut mulai mendapat penyegaran dengan masuknya varian helicopter Mil Mi-17-v-5 buatan Rusia yang memiliki daya angkut besar dan kelincahan serta bullet proof.

aa9198c32db68d943e8e2baa4ee3bb96

Penyegaran berikutnya adalah akan keberadaan NBO-105 yang akan segera digantikan oleh AS 550 Fennec sebanyak 12 unit pada tahun 2016. Salah satu keberadaan alutsista yang membuat konsep kavaleri udara TNI mengalami perubahan yang cukup drastis adalah kehadiran Mi-35P Hind buatan Rusia. Dengan kehadiran helikopter ini, alutsista terbang Penerbad tidak hanya menyasar sasaran personil musuh yang ada di darat namun juga menyasar kendaraan lapis baja. Konsep pertahanan dan serbuan militer Penerbad juga akan mengalami perubahan yang cukup signifikan lagi menjelang kedatangan AH-64 Guardian buatan Boeing-Amerika Serikat.

Personel Kopassus saat melakukan demo fast rope di HUT ABRI ke-50 tahun 1995
Personel Kopassus saat melakukan demo fast rope di HUT ABRI ke-50 tahun 1995

Jika Mi-35P Hind Penerbad masih dapat difungsikan untuk mengangkut personil/IFV (Infantry Fighting Vehicle), maka AH-64 Guardian akan benar-benar difungsikan sebagai heli serang murni dengan target utama sasaran kendaraan lapis baja, angkut personil, instalasi musuh dan personil musuh dari jarak 12 km atau lebih.

Menurut hemat penulis, seiring dengan modernisasi alutsista untuk memenuhi Minimum Essential Force/MEF yang berpengaruh terhadap perubahan strategi dan metoda pertahanan, ada baiknya konsep pertahanan awal terbentuknya kavaleri udara tetap dipertahankan. Konsep tersebut adalah mengandalkan mobilitas pasukan dalam jumlah besar dengan helikopter untuk menangkal gerakan-gerakan sipil bersenjata yang banyak bersembunyi di lebatnya pegunungan sejumlah daerah di Tanah Air.

Sebut saja kelompok Santoso yang masih bersembunyi di Gunung Biru-Sulawesi, juga kelompok sipil bersenjata di pedalaman Aceh serta pegunungan Papua adalah “surga” persembunyian bagi kelompok-kelompok tersebut. Sangat tidak efektif jika aparat keamanan yang biasa beroperasi di kota dengan menggunakan kendaraan darat berusaha menghancurkan sarang-sarang teroris yang mengandalkan taktik perang gerilya di hutan dan pedalaman. Menurut hemat penulis, ada baiknya jika Densus 88 Polri dibekali dengan kemampuan kavaleri udara untuk melakukan penyergapan, penangkapan dan memantau pergerakan kelompok sipil bersenjata yang terus menebar teror pada masyarakat di pedalaman. (oleh: Muhamad Sadan – Pemerhati Militer dan Dirgantara)
 

Rajawali 350: Rahasia Dibalik Kecanggihan Drone Helikopter Bakamla RI

r-350_over_the_deck

Berita tentang rencana pembelian drone helikopter oleh Bakamla (Badan Keamanan Laut) RI telah terendus sejak awal tahun lalu, dan di ajang Singapore Air Show 2016, angin segar tentang datangnya drone helikopter tersebut kian berembus kencang, pasalnya Bakamla dikabarkan bakal membeli tiga unit drone Rajawali 350 besutan PT Bhineka Dwi Persada (BDP), perusahaan swasta nasional yang juga memasok drone Rajawali 330 untuk TNI AD.

Drone helikopter pesanan Bakamla ini jelas beda dengan drone heli yang kerap ditampilkan dalam wujud quad copter. Rajawali 350 bentuknya lumayan besar untuk ukuran drone dan desainnya mengusung rancangan helikopter konvensional, ini wajar mengingat Rajawali 350 nantinya akan dioperasikan di wilayah lautan yang harus menghadapi terpaan angin kencang.

Rajawali-350-2

Rajawali-350-1

Dirunut dari silsilahnya, Rajawali 350 dibangun dari platform drone R-350 buatan UMS Skeldar, manufaktur drone asal Swiss yang sahamnya mayoritas dikuasai Saab, Swedia. Ditangan PT BDP, drone ini ‘dijahit dan dikemas’ sesuai kustomisasi dari pemesan. Dalam penjelasannya ke Indomiliter.com di Singapore Air Show 2016, (17/2/2016), Christeven Bong, Executine Engineer PT BDP menyebutkan, “Rajawali 350 sangat pas untuk mendukung tugas intai maritim dan dapat mendukung peran SAR.” Bicara tentang SAR, Rajawali bisa dilengkapi air droppable SAR pods.

Rajawali-350-3

Sementara untuk misi yang terkait intai mengintai, drone helikopter dengan bobot 150 kg ini bisa dipasangi radar GMTI (ground moving target indicator), teknologi yang juga dipasang pada radar intai Saab terbaru GlobalEye. Dengan GMTI, Rajawali 350 sanggup men-track pergerakan kapal-kapal kecil yang bermanuver tinggi di permukaan.

Dengan kapasitas payload 25 – 30 kg, pilihan perangkat canggih yang bisa dipasang ada Lidar (Light Detection and Ranging), multi/hyper spectral camera, dan SIGINT/ELENT system dan communication relay system. Sementara bermacam sensor gimbal yang bisa dicangkok termasuk EO (electro optic)/IR (infra red) sensor dan mapping camera.

Karena bakalan di setting untuk lepas landas dan mendarat dari deck kapal Bakamla, urusan dapur pacu menjadi perhatian serius, yang jelas tenaganya harus mumpuni untuk ‘melawan’ kencangnya angin laut. Rajawali 350 mengadopsi mesin turbin 25 Kw. Radius operasinya mencapai 120 Km dengan ketinggian terbang maksimum 4.500 meter. Soal kecepeatan, Rajawali laut ini mampu ngebut hingga 145 Km per jam dengan durasi (endurance) di udara selama 4 jam.

Drone yang sudah menyandang standar militer ini dapat mendarat secara otomatis, bahkan dalam kondisi darurat, Rajawali 350 dapat landing dengan bantuan parasut. Terkait operasional di lautan, mungkin yang harus diwaspadai adalah suhu (temperature) yang kadang bila terlalu panas dapat mengganggu sistem elektronik. Dalam spesifikanya, Rajawali 350 sanggup terbang aman di suhu -30 sampai 40 derajat celcius.

Sebelum tampil di Singapore Air Show 2016, Rajawali 350 sudah pernah ditampilkan secara statis di pameran Indo Defence 2014 lalu. (Haryo Adjie – Singapura)

Spesifikasi Rajawali 350
– Rotor diameter: 3,5 meter
– Airframe lenght: 3,10 meter
– Height: 1,3 meter
– Width: 1,1 meter
– Empty weight: 75kg
– MTOW: 150 kg / Expandable to 175 kg
– Rotary system: 3 blades
– Endurance: 4+ hours
– Payload capacity: 25-30 kg
– Mission radius: 120 km
– Service ceiling: 4.500 meter
– Cruise speed: 70 km/h
– Max airspeed: 145 km/h
– Fuel: F34, F44, F54, Jet A1, JP6, Jp8
– Turbine: 25 kW
– Temperature Range: -30° C- +40° C
 

Perkuat Surveillance di Perbatasan, Menhan Pesan Drone Rajawali 330

P_20160216_143512

Koleksi drone alias UAV (Unmanned Aerial Vehicle) pesanan untuk TNI dari Kementerian Pertahanan bakal tambah beragam lagi, setelah ada Wulung dan Aerostar, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan bahwa pihaknya akan menambah empat unit drone Rajawali 330 produksi PT Bhinneka Dwi Persada (BDP). Sama halnya dengan Wulung dan Aerostar, Rajawali juga mengusung mesin tunggal propeller dengan dimensi yang lebih kecil.

P_20160216_143054

“Kami akan menambah jumlah armada drone untuk memantau wilayah perbatasan, salah satunya dengan tipe ini. Adanya drone jelas akan mempermudah operasi surveillance bagi prajurit di lapangan,” ujar Ryamizard kepada  di ajang Singapore Air Show 2016 (16/2/2016). Lebih lanjut Menteri Ryamizard menyebut yang dibeli ada tiga unit Rajawali 330, dan satu unit sisanya merupakan bonus. “Maunya saya beli dua dapat bonus dua drone,” kata Ryamizard berkelakar.

Rajawali 330 nantinya bakal digunakan untuk kebutuhan intai TNI AD. Basis yang dipakai dalam produksinya mengacu pada platform UMS Skeldar dari Saab. Peran PT BDP kemudian ‘menjahit’ beberapa komponen dan fitur agar punya kemampuan serta spesifikasi yang dibutuhkan militer Indonesia.

P_20160216_153250P_20160216_153239

Lebih dalam tentang Rajawali 330, drone fixed wing ini mampu membawa payload seberat 10 kg. Untuk pesanan TNI AD, payload nantinya akan dipasang pilihan perangkat electro optical/infra red camera, FLIR (forward looking infra red), hyperspectral camera, atau mapping camera dengan Light Detection and Ranging (LIDAR). Selain mengandalkan conventional take off and landing, drone ini punya kemampuan semi prepared strip, pneumatic catapult, car top launcher, dan parachute recovery system. Untuk mendarat secara konvensional, Rajawali 330 hanya membutuhkan jalur 60 meter.

Sistem kendali dan navigasi Rajawali 330 tak beda dengan drone lainnya, dapat dikendalikan lewat remote dan dapat beroperasi otonom (autonomous) setelah mendapat setting waypoint GPS (Global Positioning System).

Meski sebagian komponen penting Rajawali 330 masih diinpor, beberapa material pendukung telah dibuat di dalam negeri. Terkait dengan pembelian ini, pihak PT BDP akan memberikan ToT (Transfer of Technology) pada user. Menurut rencana, pesanan pertama Rajawali 330 akan dikirim pada bulan Maret 2016, dan seterusnya hingga akhir tahun. (Haryo Adjie – Singapura)

Spesifikasi Rajawali 330
– Length: 2,27 meter
– Wingspan: 3,3 meter
– Height: 0,9 meter
– Payload: 10 kg
– MTOW: 21,5 kg
– Endurance: lebih dari 8 jam
– Cruise speed: 22 meter per detik
– Max speed: 36 meter per detik
– Take off run: 30 meter