Kamis, 25 Februari 2016

Kemungkinan Kerja Sama Pindad dan Perusahaan Pertahanan Austria

 
Kemungkinan Kerja Sama Pindad dan Perusahaan Pertahanan Austria (1)
Grup industri pertahanan dan keamanan Austria yang terdiri dari Austrian Insitute of Technology (AIT), Austrian Defence & Security Industry (WKO), BMVIT, Frequentis, Oberaigner Powertrain, Rosenbauer, Steyr Mannlicher, Scotty, Special Purpose Powertrain dan Trumer Schutzbauten, melakukan kunjungan ke PT Pindad. Kunjungan ini dimaksudkan dalam rangka menjalin kemungkinan kerja sama antara perusahaan-perusahaan pertahanan dan keamanan Austria dengan Pindad.
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis Pindad, Yayat Ruyat, kemudian menjelaskan lingkup bisnis Pindad beserta produk yang dihasilkannya saat ini, termasuk kerjasama yang pernah dilakukan dengan beberapa perusahaan di bidang industri pertahanan dan keamanan dari luar negeri. Lebih lanjut, Yayat mengatakan bahwa Pindad tengah memfokuskan diri untuk memproduksi munisi dan senjata kaliber besar, termasuk tank.
Pimpinan rombongan Delegasi Austria, Reinhard Marak, menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan berbagai produk Pindad dan membuka kemungkinan untuk bekerjasama dengan industri sejenis dari Austria. Ia pun menjelaskan bahwa Austria memiliki sekitar 100 perusahaan yang berkecimpung di bidang pertahanan dan keamanan, dan sedang mengalami perkembangan pesat.

Kemungkinan Kerja Sama Pindad dan Perusahaan Pertahanan Austria (2)
Rombongan pun kemudian mengunjungi fasilitas produksi Divisi Kendaraan Khusus dan Display senjata sebelum meninggalkan komplek Pindad.
Pindad membuka ruang untuk bekerja sama selama sejalan dengan rencana dan kebutuhan perusahaan, sesuai visi perusahaan untuk menjadi produsen peralatan pertahanan dan keamanan terkemuka di Asia pada tahun 2023 melalui inovasi produk dan kemitraan strategis.
 
PT Pindad

Kamis, 11 Februari 2016

Kapal Selam Mini: Andalan Taktik Gerilya Bawah Air di Laut Dangkal

ks-1

Dengan geografi berupa kepulauan dan sebagian besar alur perairan dangkal di wilayah Indonesia Barat, menjadikan model peperangan gerilya bawah air layak digelar bila suatu waktu meletus. Dengan latar belakang tersebut, konsep penggunaan kapal selam mini oleh TNI AL bisa menjadi pilihan tepat, terlebih dari sisi penguasaan teknologi dan pendanaan, sejatinya pembangunan kapal selam mini oleh industri strategis dalam negeri sudah bisa dilakukan.

Bahkan berkaca ke era revolusi kemerdekaan tahun 1947, Letkol D. Ginangan malah sudah berhasil mewujudkan prototipe kapal selam mini dengan panjang 7 meter. Meski saat itu pengujian ada kendalam teknis, sehingga kapal selam Ginangan tidak bisa menyelam, namun perlu dicatat prototipe kapal selam Ginangan berhasil dibuat dan di uji coba. Sebaliknya, pada masa kini pengembangan kapal selam di Indonesia masih jalan di tempat. Berita baik seputar ToT (Transfer of Technology) kapal selam memang ada, yakni pada pengadaan kapal selam Changbogo Class yang unit ketiga (pesanan terakhir) rencananya akan dibangun di galangan PT PAL.

DSC_07081

Kembali ke segmen kapal selam mini, Dislitbangal TNI AL dan beberapa Perguruan Tinggi sejak beberapa tahun belakangan sudah menelurkan konsep kapal selam mini (midget submarine) di kelas 22 meter. Meski masih berkutat di level uji laboratorium, Dislitbangal sudah menampilkan desain kapal selam mini 22 meter (KS-22). Dalam tataran konsep, kapal selam mini Dislitbangal diketahui punya spesifikasi sebagai berikut:

Panjang : 22.0 meter
Diameter press hull : 3.0 meter
Draft : 2.6 meter
Displacement atas air : 111 ton
Displacement bawah air : 133 ton
Radius/ kecepatan di permukaan : 1200 mil / 8-12 knot
Radius/ kecepatan di bawah air : 160 mil / 4-14 knot
Endurance : 6 Minggu
Kedalaman selam : 80-140 meter
Awak : 11 personel
Mesin : 1x250kW, Diesel generator
Battery : 220 sel – 440 volt DC
Kapasitas BBM : 20 ton
Propeler : Twin screws – counter
Senjata : 4 Torpedo SUT (Surface & Underwater Torpedo)

Desain kapal selam karya Kolonel (Pur) Ir Dradjat Budiyanto MBA.
Desain kapal selam karya Kolonel (Pur) Ir Dradjat Budiyanto MBA.

Dengan label ‘mini,’ maka akan nada keterbatasan kemampuan dibanding kapal selam kelas menengah yang punya bobot lebih besar, sebut saja Type 209 atau Kilo Class. Mungkin spesifikanya agak lebih dekat ke kapal selam Type 206 yang dahulu hampir melengkapi kekuatan armada TNI AL.

kapalselam1

Keterbatasan kapal selam mini umumnya pada kemampuan endurance, kapasitas bahan bakar, kemampuan mesin diesel dan baterai, dan bekal persenjataan (satu tabung peluncur hanya untuk meluncurkan satu torpedo, alias tidak bisa internal reload). Meski begitu dukungan navigasi dan sensor dapat menyesuaikan dengan teknologi terbaru. Satu yang pasti, kapal selam mini lebih lincah dalam manuver dan bisa menjangkau perairan dangkal, termasuk berlayar di sungai.

Selain digagas Dislitbangal, konsep kapal mini juga ditawarkan purnawirawan TNI AL Kolonel (Pur) Ir Dradjat Budiyanto MBA. Ide Drajat muncul sejak tahun 1996, kapal selamnya diberinama IM X-1 (Indonesian Midget Experimental-One) yang ide awalnya berasal dari dr Laksamana Arief Kus Hariadi yang merupakan atasan Dradjat sewaktu masih bertugas di kesatuan AL dulu. Apa saja keunggulan rancangan kapal selam mini IM X-1 ini?

Rancangan kapal selam mini Drajat memungkinkan pengembang untuk mencari onderdil dan peralatan di dalam negeri. Jika di dalam negeri tidak tersedia, bisa mencari suku cadang (spare part) dari negara lain yang tidak merugikan Indonesia, seperti dari Pe

Kapal selam mini Jepang dari Type-A.
Kapal selam mini Jepang dari Type-A.

rancis yang open source. Sementara ada beberapa negara penjual suku cadang justru cenderung memiliki kebijakan yang merugikan negara pembeli.

Puluhan kapal selam mini (Type C) di kota Kure pasca kekalahan Jepang dalam PD II.
Puluhan kapal selam mini (Type C) di kota Kure pasca kekalahan Jepang dalam PD II.

Kapal selam mini Jepang dari Type-A.
Kapal selam mini Jepang dari Type-A.

Dalam kalkulasi Dradjat, pada 1996, ketika harga besi masih murah, diperkirakan pengembangan kapal selam mini per unit akan menghabiskan anggaran sekitar US$7 juta dengan asumsi harga besi saat itu US$400 per ton. Namun, kini ketika harga baja atau besi sudah naik tiga kali lipat,maka biaya pengembangan kapal selam ini diperkirakan membutuhkan US$21 juta per unit. Angka ini masih jauh di bawah harga pembelian kapal selam jadi dari luar negeri yang di atas US$40–50 juta per unit.Bahkan untuk harga kapal selam standar,sekitar US$300 juta per unit yang sudah dalam kondisi lengkap dengan semua peralatan militer modern.

Kapal selam mini Korea Utara - Yeoneo-class
Kapal selam mini Korea Utara – Yeoneo-class

Kapal selam mini korea Utara (Sang O Class) dalam misi penyusupan yang gagal ke Korea Selatan.
Kapal selam mini korea Utara (Sang O Class) dalam misi penyusupan yang gagal ke Korea Selatan.

Kapal selam mini korea Utara dijadikan monumen oleh Korea Selatan.
Kapal selam mini korea Utara dijadikan monumen oleh Korea Selatan.

Spesifikasi kapal selam mini rancangan Dradjat memiliki panjang 22 meter untuk hidung pendek,dan 24 meter untuk hidung panjang. Kapal selam Drajat punya berat 215 ton dengan kecepatan bawah air 18 knot atau 18 mil per jam. Kapasitas kapal selam mini ini mampu membawa 11 orang. Kelebihan lain dari kapal selam IM X-1 ini adalah rancangan lampu sonar yang lebih fleksibel dibanding kapal selam standar.

Kapal selam mini Nazi Jerman S622.
Kapal selam mini Nazi Jerman S622.

Jika kapal selam umumnya memiliki lampu sonar vertikal bak lampu mobil sehingga tidak bisa menerangi secara leluasa hanya satu arah, rancangan Dradjat dibuat sedemikian rupa hingga bisa vertikal longitudinal. ”Inovasi lampu sonar ini mungkin yang pertama kali di dunia,”klaim Dradjat. Selain itu, masih banyak kelebihan lain rancangan kapal selam IM X-1 Dradjat. Seperti karena kapal selam ini kecil maka tingkat kebisingannya lebih rendah jika dibandingkan kapal selam standar.

Hingga kini konsep kapal selam Dislitbangal dan kapal selam rancangan Drajat masih jauh dari wujud nyata. Jangankan diproduksi, diwujudkan menjadi bentuk prototipe saja belum. Seperti Dradjat yang sudah menyelesaikan konsep rancangannya sejak 1996 dan mulai mempromosikan ke pemerintah. Namun, hingga saat ini gayung tak jua bersambut.

Kapal selam mini AL Iran - Ghadir Class.
Kapal selam mini AL Iran – Ghadir Class.

Vietnam Langkahi Indonesia
Meski belum selama Indonesia dalam mengoperasikan kapal selam, kekuatan laut Vietnam sudah unjuk gigi dengan menggunakan Kilo Class dari Rusia. Terkhusus bicara tentang kapal selam mini, Vietnam pada tahun 2014 juga sudah berhasil meluncurkan kapal selam mini untuk kebutuhan sipil. kapal selam mini yang dibuat oleh seorang mekanik Vietnam sekarang sudah bekerja sempurna dan berfungsi penuh.

Nguyen Quoc Hoa, sang pembuat kapal selam mini, mengatakan kepada surat kabar online lokal Lao Dong pada hari Kamis bahwa mesin-mesin dalam kapal selam mini telah beroperasi dengan baik sejak pertama dirancang. “Uji coba sukses terhadap mesin-mesin internal kapal selam mini, termasuk sistem generator, sistem pasokan oksigen, filter udara dan sistem radar,” kata Hoa.

Kapal selam mini buatan Vietnam.
Kapal selam mini buatan Vietnam.

Hoa menambahkan bahwa kapal selam mini buatannya telah berhasil menerapkan teknologi canggih Air Independent Propulsion (AIP) saat menyelam. Teknologi AIP umum digunakan pada kapal-kapal selam canggih non-nuklir saat ini. Yang memungkinkan kapal selam untuk tetap bisa terus beroperasi tanpa perlu mengakses oksigen (dengan muncul ke permukaan atau menggunakan snorkel).

Kapal selam mini buatan Hoa memiliki bobot benaman 12 ton (tidak disebutkan apakah ini bobot benaman saat mengapung atau menyelam), dan mampu beroperasi pada kedalaman maksimum 50 meter dan mampu menempuh perjalanan sejauh 800 km dalam waktu 15 jam (sekitar 53 km/jam atau 28 knot- terbilang cepat).
 

Kekuatan Armada Kapal KPLP

Kapal KPLP
Kapal KPLP 5
Kapal KPLP 3
Kapal KPLP 4
Kapal KPLP 2

Saat ini bukan hanya Bakamla yang sedang menggenjot jumlah kapal patroli mereka, tapi juga Departemen Perhubungan.
Kementerian Perhubungan baru saja mengoperasikan tiga kapal patroli ukuran 42 meter untuk Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) di Dermaga Utara Pelabuhan Batuampar, Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Kapal itu adalah KN Gerantin yang akan digunakan di pangkalan Surabaya, KN Pasatimpo di pangkalan di Bitung, dan KN Rantos di Pangkalan Tanjung Uban.
Kapal-kapal itu bagian dari pengadaan 200 kapal Kementerian Perhubungan, yang sekitar 30 persennya adalah kapal patroli. Kementerian Perhubungan membutuhkan kapal patroli nonmiliter sekitar 500 kapal, yang separuh diantaranya harus kapal kelas satu dan kelas dua.
Saat ini Kementerian Perhubungan memiliki 242 kapal KPLP, namun rata-rata ukuran kecil, dan ukuran besar hanya sekira 30 kapal. Untuk itu kini Kementerian Perhubungan sedang membangun kapal kapal besar untuk Patroli KPLP. Kapal dengan desain terbaru akan dilengkapi alat navigasi canggih.
 
Antara

Panser Badak Lakukan Uji Ketahanan

  panser badak 2UJI OVER & UNDER STEERING
panser badak 3UJI RADIUS PUTAR
panser badak 4UJI BEBAN PANAS
panser badak 5UJI PERCEPATAN / PERLAMBATAN
panser badak 6UJI OFF ROAD

panser badak 7UJI INTENSITAS CAHAYA
panser badak 8UJI LINTAS AIR
panser badak
UJI DAYA TAHAN 3X24 JAM
 
Kemampuan panser Badak terus ditingkatkan PT Pindad, sebelum diproduksi massal, untuk pesanan pertama 50 panser dari Kementerian Pertahanan. Panser ini akan digunakann oleh TNI AD, sebagai fire support dari pergerakan pasukan infanteri.
 
 

Kapal Bakamla Dilengkapi Peluncur Rudal

  Kapal Bakamla
Kapal Bakamla
 
Badan Keamanan Laut (Bakamla) terus memperkuat kemampuannya dalam menjaga kedaulatan perairan Indonesia. Salah satunya dengan melengkapi landasan peluncur peluru kendali dan senjata mesin kaliber 12,7 mm pada kapal mereka.
Pelaksana tugas Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla Laksma Maritim, Dicky R Munaf mengatakan, ada enam kapal yang dipasang alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan landasan peluncur peluru kendali. Enam kapal itu seri 48 meter mulai dari 01 hingga 06.
“Di kapal kita siapkan juga landasan peluncur peluru kendali, kalau dalam kondisi perang bisa digunakan, karena kita bagian dari komponen cadangan,” ujar Dicky, Jakarta, Rabu (10/2/2016).
Penempatan alutsista di kapal Bakamla telah sesuai aturan dari Menteri Pertahanan Nomor 7 Tahun 2010 tentang pedoman perizinan, pengawasan dan pengendalian senjata api standar militer di luar lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI.
“Karena kita masuk kategori komponen cadangan. Memang disiapkan jika terjadi perang. Makanya kita ada latihan nuklir, tembak dan SAR,” ujarnya.

image
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 Bakamla menargetkan memiliki 30 kapal, dengan rincian: kapal berukuran 16 meter sebanyak 14 unit. Kapal ukuran 80 meter sebanyak 10 unit dan kapal 110 meter sebanyak empat unit. Saat ini Bakamla baru memiliki enam kapal, sisanya masih dalam proses pengadaan.
Pengadaan kapal berukuran besar penting bagi Bakamla, karena ada kecenderungan kapal-kapal asing melakukan illegal fishing dengan melakukan aksi di garis perbatasan. Sementara, kapal milik TNI AL yang beroperasi masih terbatas.
“Kalau di perairan di bawah 24 NM ada kapal-kapal dari lembaga dan instansi lain. Tapi kalau perairan di atas itu masih sedikit kapal yang patroli,” ucapnya.
Adanya kapal berukuran besar di periran Selatan Jawa dan Barat Sumatera, sangat penting karena selama ini wilayah itu kurang mendapat pengawasan. “Kita perkuat di sana, kita harus ada di sana. Di perairan ini banyak aksi people smuggling, banyak kejadian di utara Aceh tapi tidak mungkin sampai ke sana harus kapal berukuran 110 meter,” ucapnya.
 
Sindonews.com

TNI AD Pamerkan Drone OS Wifanusa

  drone-os-wifanusa
 
Drone OS Wifanusa dipajang di Mabes TNI Angkatan Darat, 11/02/2016, bertepatan dengan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Pemanfaatan UAV pada Angakatan Darat diadakan di Aula AH Nasution, Mabes TNI AD. OS Wifanusa adalah satu dari sejumlah drone yang nantinya digunakan TNI AD.
Staf Ahli Kepala Staf TNI AD Mayjen TNI Turmarhaban Rajagukguk mengatakan untuk menunjang tugas pokok, TNI AD membutuhkan alutsista pesawat terbang tanpa awak. “Ini bagian dari modernisasi alutsista untuk mendukung tugas pokok TNI AD. Drone salah satu kebutuhan kita,” ujar Mayjen Rajagukguk usai menghadiri FGD.
image

Dari sejumlah drone yang dipamerkan, OS Wifanusa satu-satunya yang bisa take off dan landing di air dan landasan darat. Drone ini cocok untuk Indonesia yang mayoritas luas wilayahnya adalah laut. “Drone ini salah satu prototipe yang nantinya kita kaji sehingga seperti apa yang kita butuhkan baik untuk tugas operasi militer perang maupun tugas operasi militer selain perang,” ujarnya.
Drone OS Wifanusa
Drone OS Wifanusa
 
Drone OS Wifanusa yang dipesan Kementerian Pertahanan sebanyak 3 unit. Rencananya, 2 unit untuk memantau perbatasan dan satu unit untuk pengawasan ZEE Natuna. Kecanggihan drone ini selain dilengkapi tiga kamera super canggih, drone ini memiliki kemampuan terbang mencapai 800 km dengan lama terbang 8-10 jam dengan sistem kendali jarak jauh (autonomous system).
Drone Ongen ini sudah mendapat sertifikat uji litbang dari TNI AL dan Sertifkat TKDN 28,01% dari Kementerian Perindustrian.
 
BeritaSatu.com

Rabu, 10 Februari 2016

Bermesin Mobil Fiat 4 PK, Ini Dia Prototipe Kapal Selam Pertama Buatan Indonesia

1780624_430886617041660_294902722_n

Bila saat ini pengembangan alutsista kerap terganjal ToT (Transfer of Technology) dari luar negeri, maka berkaca ke era tahun 40-an, Indonesia yang kala itu terdesak agresi militer Belanda justru mampu meluncurkan kapal selam perdana. Meski hanya berupa kapal selam mini dengan rancangan sederhana, hasil karya Letkol D. Ginangan menjadi tonggak kebangkitan teknologi persenjataan nasional. Bermodal torpedio eks pesawat terbang Jepang, kapal selam Ginangan di tahun 1947 digadang untuk menembus blokade laut Belanda.

Inspirasi Ginangan pada kapal selam timbul setelah melihat pameran kapal selam yang dikendalikan oleh satu orang (Eenpersoons D/tikboof) di Groningen, Belanda pada tahun 1946. Kapal ini adalah kapal yang dipakai oleh Jerman pada waktu Perang Dunia II. Sebagai latar biografi, D. Ginangan adalah putra kelahiran Sibolga, Sumatera Utara, 23 April 1918.

Pada tahun 1937 D.Ginagan pergi ke Belanda untuk memperdalam pendidikan kepelautan, ia masuk Gemeentelijke Zeevaartschool di Den Helder mengambil jurusan pelaut selama 3 tahun. Setelah lulus kemudian memperdalam pengetahuannya pada jurusan mesin di Groningen selama 2 tahun. Setelah selesai pendidikan ini, D.Ginagan tinggal di Belanda sampai 1946. Selama tinggal di negeri Belanda, D. Ginagan bekerja pada perusahaan perkapalan Belanda sebagai Stuurman, Pada tanggal 10 Mei 1940 sebelum Jerman menyerang Belanda, D.Ginagan merencanakan untuk berangkat ke Amerika Serikat dengan kapal Belanda. Namun karena Jerman menyerang Belanda rencana tersebut dibatalkan.

Kapal selam Ginangan dengan membawa torpedo pada bagian luar lambung.
Kapal selam Ginangan dengan membawa torpedo pada bagian luar lambung.

Selama tinggal di negeri Belanda D. Ginagan ikut aktif berjuang untuk kepentingan bangsa Indonesia baik sebelum diproklamirkan kemerdekaan Indonesia manpun sesudahnya. Karena aktifitasnya dalam membela kepentingan Indonesia, pada tahun 1946, D. Ginagan diusir dari negeri Belanda, kemudian ia kembali ke Indonesia pada bulan Desember 1946.

Sekembalinya dari Belanda, D. Ginagan melaporkan ke Kementerian Pertahanan dan sesuai keahliannya ditempatkan di Kementerian Pertahanan bagian Angkatan Laut dengan status sebagai pegawai sipil. Selama menjadi pegawai sipil inilah timbul ide untuk membuat kapal selam. Untuk melaksanakan ide tersebut, D. Ginagan segera mengajukan permohonan kepada Kementerian Pertahanan, rupanya gagasan itu disetujui. Segera setelah ijin disetujui, ia menghubungi Penataran Angkatan Laut (PAL) sekarang PT PAL dan pabrik besi/Perbi di Yogyakarta.

Uji coba di Kalibayem, Yogyakarta tahun 1947.
Uji coba di Kalibayem, Yogyakarta tahun 1947.

Pembuatan kapal -selam ini dimulai sekitar bulan Juli 1947 di Perbi Yogyakarta dengan anggaran ± 35.000 (ORI). Data kapal selam yang tidak berperiskop ini adalah sebagai berikut: panjang 7 m, lebar 1 m dan DWT 5 ton. Kapal selam tersebut dilengkapi dengan sebuah torpedo kapal terbang yang banyak terdapat di lapangan terbang Maguwo Yogyakarta, peninggalan Jepang dengan panjang 5 meter. Alat penggerak kapal tersebut sebuah mesin mobil Fiat berkekuatan 4 PK, sedangkan sebagian badan kapal digunakan untuk tangki bensin.

1560766_430886463708342_339598838_n
Ditemukan tentara Belanda.

Sebagai persenjataan, dicomot torpedo 5 meter dari peninggalan pesawat terbang Jepang yang ada di Maguwo (sekarang Lanud Adi Sucipto), Yogyakarta. Karena bukan torpedo yang dirancang untuk kapal selam, jarak luncur pun terbatas, yakni hanya 1 – 1,5 mil (3,8 km).

Setelah kapal tersebut selesai dibuat, lalu diadakan uji coba di Kalibayem, Yogyakarta yang dihadiri oleh masyarakat Yogyakarta dan pejabat-pejabat penting pemenntah seperti, Menteri Pertahanan dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Presiden Sokarno sendiri sempat rneninjau kapal selam tersebut sebelum diadakan uji coba di Kalibayem (tepatnya sekarang di lokasi yang ada perumahan Bayem Permai).

Dalam percobaan tersebut yang berjalan selama 1 jam kapal dikendalikan sendiri oleh D. Ginagan dan dapat berlayar namun belum bisa menyelam, karena belum ada baterainya. Tetapi ketika torpedonya diijicoba untuk ditembakan, tiba-tiba handel pengikatnya tak mau lepas dan torpedo tetap terikat di tempatnya semula. Akibatnya sungguh fatal: kapal selam mini yang hanya diawaki oleh satu manusia saja itu malah ikut terseret oleh dorongan torpedonya.

Kapal selam Ginangan disita Belanda dan dibawa ke Semarang.
Kapal selam Ginangan disita Belanda dan dibawa ke Semarang.

Reaksi yang timbul dari pemenntah Belanda terhadap uji coba kapal selam ini sangat meremehkan sekali. Hal tersebut dapat diketahui dari siaran radio Belanda yang bernada penghinaan. “Wah, orang Indonesia di Kali membuat kapal selam dari drum”.

Sebetulnya ungkapan dari pihak Belanda terhadap keberhasilan uji coba ini merupakan bukti kekhawatiran pihak Belanda akan kemampuan bangsa Indonesia dalam mempersenjatai tentaranya. Bahkan dampaknya perjuangan melawan Belanda semakin berkobar di seluruh wilayah Indonesia.
Pada waktu agresi Belanda II kapal selam ini masih dalam tarap perbaikan, kemudian D. Ginagan mendapat tugas mendampingi KSAL ke Aceh. Ketika kembali dari Aceh dalam rangka persiapan pembentukan Staf Angkatan Laut RI di Aceh, kapal selam mini tersebut telah ditarik kembali ke pabrik besi Perbi. Namun karena pada waktu itu situasi perjuangan semakin mernanas akibat agresi Belanda II dan semuanya sibuk berjuang menjadikan perbaikan terhadap kapal selam ini terhenti.

Pada Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta, selain serangan Blitzkrieg atas lapangan udara Maguwo dan penguasaan Ibukota RI Yogyakarta secara tiba-tiba, ternyata tentara Belanda dibuat terkaget-kaget kemudian dengan ditemukannya Proyek Kapal Selam Mini ALRI di daerah Sentolo yang kemudian segera di bawa ke Semarang untuk dilakukan observasi/penelitian lebih lanjut. Proyek Kapal Selam Mini ALRI di daerah Sentolo yang kemudian segera di bawa ke Semarang untuk dilakukan observasi/penelitian lebih lanjut oleh pihak tentara Belanda.

Sejak D. Ginangan pensiun dari TNI AL dengan pangkat Letkol pada 31 Agustus 1961, hingga kini sangat disayangkan kita tidak mengetahui nasib kapal selam buatan Ginangan. (dikutip dari Buku “Kapal Selam Indonesia” – Indroyono Soesilo dan weaponstechnology.blogspot.co.id)