Jumat, 13 Maret 2015

White Dollar Sering Dipakai Untuk Danai Aksi Teroris

Panglima Moeldoko Serahkan 69.000 Black Dollar ke Wakapolri/Puspen TNI
Selain uang dolar yang diketahui masyarakat, ternyata di dunia beredar uang dolar tak lazim, yakni black dollar dan white dollar. Black dollar digunakan untuk transaksi narkoba, sementara white dollar digunakan untuk pembiayaan perang, terorisme dan aksi mata-mata.
Pengamat terorisme, Al Chaidar membenarkan pembiayaan terorisme menggunakan white dollar. “Iya benar (white dollar untuk danai terorisme),” jelas Chaidar seperti dilansir merdeka.com, Jumat (13/3).
Namun, Chaidar menjelaskan bahwa white dollar tersebut hanya kiasan. White dollar sebenarnya adalah uang yang diperoleh dari jual beli minyak bumi di pasar gelap.
“Oh enggak, white dollar itu hanya istilah. Itu sebenarnya uang yang diperoleh dari penjualan minyak ilegal di pasar gelap,” jelas Chaidar.
Lebih lanjut Chaidar menjelaskan, white dollar ini merupakan uang resmi yang dikeluarkan oleh bank sentral dan memiliki nomor seri sehingga bisa digunakan untuk bertransaksi. Namun, nomor seri white dollar ini sudah ditandai oleh otoritas keuangan.
“Itu adalah uang-uang yang nomor serinya sudah ditandai karena digunakan untuk transaksi ilegal. Itu bukan uang palsu, memang teregister, ini adalah uang yang diperdagangkan untuk hal-hal ilegal,” papar Chaidar.
The Fed, selaku otoritas keuangan yang mencetak dolar AS, menurut Chaidar sudah mengetahui peredaran white dollar tersebut. Namun, Chaidar meyakini AS juga turut andil dalam kegiatan terorisme dengan motif untuk menguasai ladang minyak di wilayah Arab.
“Mereka (The Fed) tahu peredarannya, mungkin mereka juga sengaja (membiarkan white dollar beredar), kan mereka juga kesulitan untuk mendapatkan minyak,” jelas Chaidar.
Untuk jumlah white dollar yang beredar, Chaidar mengaku tidak mengetahui secara pasti, namun diyakini nilainya spektakuler.(merdeka)

Panglima Moeldoko Serahkan 69.000 Black Dollar ke Wakapolri

Panglima Moeldoko Serahkan 69.000 Black Dollar ke Wakapolri/Puspen TNI
Panglima TNI Jendral Moeldoko menyerahkan 69.000 lembaran black dollar dengan uang pecahan USD100 atau senilai Rp8 miliar kepada Wakapolri Komjen Badrodin Haiti di Markas Komando Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal).
Dansatgasopssus TNI AL, Kolonel Laut (P) S. Irawan mengatakan, uang palsu ini merupakan hasil temuan anggota Denintelarmabar yang memperoleh informasi ada prilaku dari oknum TNI AL, Mayor Laut (P) Zaid Joko Utomo, yang berdomisili di Komplek TNI Sunter, Jakarta Utara, yang diduga menggunakan narkoba.
“Kita melakukan kontrol terhadap anggota dan mengikutinya sampai ke diskotik, dari situ langsung kita lakukan penangkapan di rumahnya pada 4 Maret 2015,” kata Irawan kepada wartawan, di Mako Pomal, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (13/3/2015).
Setelah melakukan penangkapan, sambung Irwan, petugas melakukan pengembangan kasus. “Dari hasil pengembangan yang bersangkutan, diperoleh keterangan bahwa dirinya menerima black dollar dari I Made Gede Markadiwan yang berdomisili di Bali yang kemudian diketahui dollar tersebut berasal dari Ketut Srianing,” bebernya.
Selanjutnya, Petugas melaksanakan penjemputan pada 12 Maret 2015 ke kediaman Ketut Sraning di Bali. “Kita bawa ke Puspomal dan dari hasil penyelidikan yang bersangkutan mengakui dolar tesebut merupakan miliknya,” ungkapnya.
Jendral TNI Moeldoko mengapresiasi anggotanya yang berhasil melakukan pengungkapan atas kasus ini. Dia pun berjanji akan menindak tegas anggotanya yang terlibat kasus narkoba.
“Ditemukan satu anggota berpangkat Mayor dan kita akan melakukan pemecatan terhadap yang bersangkutan. Tidak ada cerita, dia positif narkoba dan dari hasil pengungkapan ini ditemukan barang bukti sebanyak 69.000 lembar black dollar,” jelas Moeldoko.
Sementara, Wakapolri Badrodin haiti, menjelaskan, telah menerima barang bukti tersebut. Dia menuturkan anggota TNI yang terlibat akan dilakukan penyelidikan oleh POM TNI.
“Namun ada dua orang sipil yang terlibat terkait uang palsu itu yang berdomisili di Bali dan kita akan berikan sanksi,” tandasnya.(okezone)

Operasi Senyap ala Inggris di Balik Terpidana Mati Bali Nine

Masih soal kontroversi Bali Nine. Sebenarnya Australia mendesak dibatalkannya eksekusi hukuman mati warganya yang terpidana kasus narkoba sudah pada tingkat yang tidak wajar. Karena sepertinya sudah pada taraf ngotot dan ngancam-ngancam segala, sehingga jadi tanda tanya.

Apa benar yang mau dieksekusi ini memang murni pelaku kejahatan narkoba, atau jangan jangan agen intelijen Australia yang kebuka kedoknya dalam sebuah operasi rahasia.


Sebab gejalanya itu sampai segitunya Australia mendesak warganya untuk dibatalkan hukuman matinya. Kalau soal desakan untuk mengubah hukuman mati, sebenarnya Indonesia juga sering.

Tapi kan soal TKI yang biasanya meski ujungnya terkena kasus pembunuhan, tapi pemicunya juga akibat penindasan oleh majikan-majikannya di tempat kerjanya.

Tapi dalam kasus Bali Nine, ini kan kasus narkoba, yang di negerinya sendiri ini merupakan kejahatan kategori serius. Baik terkait pengguna, apalagi pemasok dan pengedar yang mengendalikan jaringna silumannya.

Jadi, kenapa begitu ngototnya? Sampai-sampai, Menlu Australia ngancam, kalau sampai pemerintah kita eksekusi, tahu sendiri resikonya. Wah.

Ada dugaan kuat bahwa Andrew Chan dan Sukumaran merupakan Agen intelijen Australia, karena sikap pembelaan Tony Abott dan Bishop sudah tak wajar, janggal, aneh dan membabi buta hingga mau melakukan barter untuk keduanya.

Padahal Andrew dan Sukumaran bukan warga asli Australia, sementara publik Australia sendiri menganggap wajar hukuman mati. Indonesia memang merupakan sasaran intelijen asing untuk dihancurkan, apabila dibiarkan kekuatan bisa membahayakan kekuatan AS, Inggris dan negara sekutunya seperti Australia.

Kalangan intelijen asing sudah memprediksi Indonesia bakal menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia baru setelah Cina dan india
Tapi, mungkinkah agen intelijen asing berkedok sebagai pengedar atau pemasok narkoba sebagai kegiatan tersamar untuk sebuah misi rahasia yang tentunya dilakukan melalui sebuah operasi intelijen?

Terlepas apa misi rahasia dan tujuan operasi intelijen berkedok sebagai penjahat narkoba, saya teringat ucapan almarhum Jenderal Hario Kecik. Beliau bilang:
"Dan saya juga tidak akan lupa, bahwa kolonialis Belanda dan Inggris masih membina keturunan kader Van Mook dari Angkatan 1947 yang pada saat ini pasti ada dalam jumlah yang cukup besar. Mereka itu malahan berada di lapisan atas masyarakat kita. Mungkin bahkan mereka berada di dalam kelompok pengedar besar Narkoba (Mayor Jenderal purnawirawan Hario Kecik)."
Nah, bisa juga kan kegiatan penyelundupan narkoba sebagai kejahatan lintas negara, merupakan pintu masuk yang efektif untuk sebuah operasi intelijen Australia, ataupun negara-negara lain. Apapun misi dan tujuannya.

Masih ingat Perang Candu? Melalui Perang Candu, Inggris mampu merusak generasi Cina hingga terjadi lost generation di abad ke 18 lalu. Lha, Australia itu 'kan hingga kini masih berada dalam kendali Inggris melalui Perhimpunan Negara-Negara Persemakmuran alias Commin Wealth, yang merupakan perhimpunan negara-negara eks jajahan Inggris seperti India, Malaysia, Singapore, Pakistan, Brunei Darussalam, dan lain-lain.

Dengan demikian, operasi intelijen Australia bermodus penyelundupan narkoba bisa jadi merupakan bagian integral dari skema operasi intelijen Inggris.

Karena itu masuk akal bukan jika dua terpidana mati asal Australia tersebut merupakan agen-agen intelijen Australia?

theglobal-review.com

Kamis, 12 Maret 2015

JAT TNI AU Ikuti Gebyar Dirgantara Internasional di Malaysia

JAT TNI AU Ikuti Gebyar Dirgantara Internasional di Malaysia/Detik
Jupiter Aerobatic Team (JAT) TNI AU akan mengikuti gebyar dirgantara internasional di Langkawi, Malaysia. Dalam perjalanan menuju ke sana, tim dengan 8 pesawat jenis KT-1 B Woong Bee ini mampir di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau, Kamis (12/3/2015).
Rombongan yang dipimpin Letkol Feri Yunaldi ini istirahat sekitar 3 jam yang selanjutnya menuju Medan, Sumatera Utara (Sumut) dan menginap sehari. Dari Lanud Soewondo Medan, esok harinya tim ini akan berangkat ke Langkawi, Malaysia.
Feri Yunaldi menyatakan, Indonesia mendapat undangan resmi dari Perdana Menteri Malaysia untuk meramaikan acara Langkawi Internasional Maritime and Aerospace (LIMA) Exhibition. Kegiatan itu berlangsung 17-21 Maret 2015.
“Ini merupakan undangan untuk kedua kalinya dari pemerintah Malaysia. Kita akan mengikuti acara LIMA yang juga dihadiri tim aerobatic dari berbagai negara maju dan berkembang,” kata Feri Yunaldi kepada wartawan.
Menurutnya, JAT TNI AU selama ini selalu ikut meramaikan berbagai undangan aerobatic dari berbagai negara di Asia Tenggara. Misalnya saja, di Singapura, Thailand, Malaysia, dan Brunai.
Di Malaysia, tim ini akan menampilkan 17 manuver dengan waktu 15 menit dan ketinggian 3.000 feet. Tapi hal itu tergantung kondisi cuaca. Untuk persiapan aerobatic tersebut, tim yang berasal dari Skadron Pendidikan (Skadik) 102 Lanud Adisutjipto, Yogyakarta ini, telah melakukan latihan 3 sampai 4 bulan.
“Setelah dari Malaysia, kita juga akan akan memeriahkan gebyar Dirgantara di Pekanbaru. Kami akan memberikan penampilan terbaik untuk masyarakat Riau pada umumnya,” kata Feri.
Sementara itu, Komandan Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Penerbang Khairil Lubis dalam kesempatan yang sama mengatakan, pihaknya akan menggelar acara serupa pada 21-23 Maret, dalam rangkaian ulang tahun TNI AU ke-69.
“Kita akan mengadakan pameran dirgantara yang tentunya diramaikan acara aerobatic. Kita berharap, acara ini bisa menjadi hiburan sekaligus memperkanalkan lebih dekat antara TNI AU khususnya dengan masyarakat Riau,” kata Khairil Lubis.(Detik)

Panglima TNI Sidak ke Grup 1 Kopassus

Panglima TNI Sidak ke Grup 1 Kopassus
Membuktikan kesiapan dan kondisi langsung keadaan prajurit di lapangan, Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko melaksanakan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke Grup 1/Eka Wastu Baladika Kopassus Serang Banten, Rabu (11/3/2015).
 
“Saya selaku Panglima TNI sengaja datang melakukan Sidak ke Markas Grup 1Kopassus untuk melihat lebih dekat apa yang dilakukan kalian disini serta mengucapkan terima kasih atas sambutannya walaupun didadak. Saya dengan sengaja tidak memberitahu kedatangan ini, karena ingin melihat seperti apa sesungguhnya kesiapan kalian”, kata Jenderal TNI Moeldoko.
 
Dalam pengarahannya Panglima TNI menjelaskan tentang tugas pokok TNI yaitu menegakkan kedaulatan, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.  “Pegang teguh tugas itu dengan baik, sekali lagi pegang teguh tugas dengan baik, tentara tidak boleh berfikir macam-macam, berfikir fokus kepada tugas, agar tugas pokok dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya”, tegas Jenderal TNI Moeldoko.
 
“Tidak ada cara lain, pasukan khusus telah disiapkan menjadi prajurit yang profesional, untuk itu syaratnya satu yaitu berlatih, berlatih, dan berlatih. Alat kelengkapan itu hanya sarana prasarana tetapi the man behind the gunpercuma kita bawa alat yanbagus, tetapi manusianya memble”, jelas Jenderal TNI Moeldoko.
 
Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan, TNI telah membuat rencana strategi pembangunan kesejahteraan prajurityang di dalamnya terdapat penggajianhousing/perumahan, kesehatan dan pendidikan. Itu adalah tekad sebagai TNI yang profesional, sehingga hidupnya harus juga sejahtera. Setelah prajurit profesional dan sejahtera, TNI harus menjadi prajurit yang dicintai rakyat.
 
Selanjutnya, Panglima TNI beserta rombongan mengunjungi rumah dinas prajurit dan menyaksikan kegiatan di Posyandu Grup 1Kopassus serta menyempatkan untuk menggendong bayi anak salah satu anggota prajurit Kopassus.  Jenderal TNI Moeldoko menyampaikan kepada segenap istri prajurit bahwa Panglima TNI berjanji akan terus meningkatkan kesejahteraan prajurit dan berharap perhatian kepada anak-anak harus ditingkatkan sejak dini, gizinya diperhatikan, karena ke depan dapat menjadi anak yang pintar.

Dalam kunjungan tersebut, Panglima TNI didampingi oleh Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya, Asrenum Panglima TNI Mayjen TNI Sumedy, S.E., M.M., Aster Panglima TNI Mayjen TNI Ngakan Gede Sugiartha Garjitha, S.H., Askomlek Panglima TNI Marsda TNI Bambang Agus Margono, S.E., dan Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya.
 
TNI. 

Bentuk Badan Siber, Pemerintah Minta Saran TNI dan Polri

Ilustrasi (ist)
Deputi Polhukam Sekretaris Kabinet (Seskab) Bistok Simbolon berkata akan meminta saran dari masyarakat dan lembaga pemerintah lain, termasuk TNI dan Polri, untuk membentuk Badan Siber Nasional.
Saran diperlukan pemerintah untuk menetapkan format dan desain kelembagaan dari badan yang akan memagari semua urusan siber negara.
“Nantinya kami akan berkomunikasi dengan unit pemerintah lainnya yang ikut menangkal instrumen-instrumen dari cyber itu, seperti dari kalangan TNI dan Polri,” jelas Bistok seperti dikutip dari situs resmi Seskab, Selasa (10/3).
Fungsi-fungsi dari Badan Siber Nasional saat ini masih dalam proses perancangan bersama dengan Sekretaris Kabinet. Dalam diskusi rencana pembentukan Badan Siber Nasional hari ini, Seskab menghadirkan tiga pakar teknologi, yaitu Budi Rahardjo (Dosen ITB), Dr. Danriwanto Budhijanto (Staf Khusus Menkominfo), dan Dr. Edmon Makarim (Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia).
“Kita harus memikirkan bagaimana pemerintah memberi respon yang pas dan positif terhadap penggunaan teknologi. Sehingga kami bisa diberikan pemahaman teknologi bagaimana pemanfaatan yang aman, sejauhmana kemampuan kita untuk menahan cyber-cyber itu,” lanjut Bistok.
Sejauh ini, unit keamanan siber di kementerian dan perusahaan negara masih berjalan masing-masing. Perbankan merupakan salah satu industri yang sering diserang dan perlu memperkuat keamanan sibernya.
Badan Siber Nasional rencananya hanya dimanfaatkan untuk mempertahankan keamanan negara dari serangan siber, bukan untuk memberi serangan.(CNN Indonesia)

Almirante Clemente Class: Destroyer Escort TNI AL dengan Cita Rasa Italia

409px-DN-SN-82-09531
Lain halnya dengan sentuhan kuliner, cita rasa Italia memang tak begitu dominan di segmen alutsista TNI, padahal jika ditelaah industri pertahanan di Italia terbilang maju. Di lingkup alutsista TNI, identitas Italia diwakili cukup lama oleh meriam reaksi cepat OTO Melara 76 mm yang terdapat di frigat Van Speijk Class, Diponegoro Class (SIGMA Class) dan korvet Bung Tomo Class. Masih di lini kesenjataan TNI AL, flash back ke masa silam, tatkala TNI AL (d/h ALRI) di dapuk sebagai kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara, ada dua jenis kapal perang asal Italia yang menjadi etalase alutsista TNI AL.
Dua jenis kapal perang besutan Italia tersebut adalah dua unit korvet Albatross Class dan dua unit destroyer escort Almirante Clemente Class. Albatross Class dan Almirante Clemente Class di datangkan pada dekade 50-an. Selepas TNI AL menerima kapal perusak pertama, yakni KRI Gadjah Mada pada tahun 1952, maka Indonesia terus memperkuat armada tempur, di periode 1957 – 1959 TNI AL membeli empat kapal perang baru dari Italia. Dua Almirante Clemente Class diwujudkan sebagai KRI (d/h RI) Soerapati 356 dan KRI Iman Bondjol 355. Sedangkan dua Albatross Class tampil sebagai KRI Patimura 801 dan KRI Hasanuddin 802.
Sebagai kapal perang yang di datangkan menjelang tahun 60-an, sudah barang tentu Albatross Class dan Almirante Clemente Class ikut dilibatkan dalam kampanye show of force mengganyang Belanda dalam operasi Trikora. Sayang, eksistensi Albatross Class dan Almirante Clemente Class tidak berumur panjang, pada tahun 70-an kedua kapal sudah masuk masa purna tugas, bersamaan dengan beragam frigat dan perusak dari Uni Soviet.
Almirante_Clemente_Class_DeVenezoelan_Almirante_Clemen004bis_zps5ad6c794
Meski masa bakti Almirante Clemente Class tidak lama di Indonesia, namun kapal perang ini nyatanya masih dioperasikan hingga tahun 2011 oleh AL Venezuela, tentunya dengan sejumlah modifikasi. Dirunut dari asalnya, Almirante Clemente Class dirancang oleh Luigi Ansaldo Ficantieri. Sementara galangan yang membangunnya adalah Cantieri Navale Ansaldo, Italia. Beberapa literature ada yang menyebut Almirante Clemente Class sebagai frigat, namun bila dilihat dari bekal senjata dan bobot tonase, maka kapal perang ini memang lebih cocok sebagai DLV (Destroyer Light Vessel) atau light destroyers. Di lingkup TNI AL, istilahnya lebih dikenal sebagai destroyer escort. Salah satu destroyer escort TNI AL yang cukup terkenal adalah Samadikun Class yang eksis pada operasi Seroja.
Awalnya, Luigi Ansaldo Ficantieri secara khusus merancang kapal perang ini untuk kebutuhan AL Venezuela pada tahun 50-an. Pesanan Almirante Clemente Class diteken 6 unit untuk Venezuela, tapi pada kenyataa hanya 2 unit yang diterima Venezuela. Sisanya masing-masing dua unit dibeli oleh Portugal, Algeria, dan Indonesia.
Dilhat dari spesifikasinya, bobot kapal kosong 1.300 ton dan bobot penuh hingga 1.500 ton. Bila ditengok dari segi bobot, tak salah jika ada yang menyebut kapal ini sebagai korvet, apalagi panjang kapal ‘hanya’ 99,1 meter. Dapur pacunya disokong 2 Foster wheeler boilers 650 psi, Parsons steam turbin dengan dua propeller yang menghasilkan tenaga 24.000 hp. Penggunaan mesin turbin inilah yang disinyalir memberatkan dari segi operasional, karena cukup boros, meski untuk kecepatan memang jempolan. Dan, kecepatan maksimum-nya memang cukup tinggi di kelasnya, yakni 32 knots. Sementara jarak jelajahnya hingga 6.500 km pada kecepatan 10 knots.
Venezuelan_frigate_Genereal8723818174201298972
Bicara soal senjata, kapal ini mengandalkan meriam kaliber sedang. Diantaranya, dua pucuk meriam Vickers MK XVI Twin 102 mm/45, dua pucuk meriam Bofors Twin 40 mm/56 MKI, dan empat pucuk kanon Oerlikon 20 mm. Ketiga jenis senjata tersebut dipasang untuk misi peperangan permukaan dan anti serangan udara. Guna menangkal kapal selam, Almirante Clemente Class dibekali 21′ Mk 9 Triple torpedo tube, 2 x Mk 11 mortir Hedgehog, 2 x Mk 9 deep charge mortar, dan 2 x Mk 6 Deep charge mortar. Mendukung peran AKS (anti kapal selam), kapal perang ini juga dilengkapi passive/active sonar AN/SQS-4. Pada jamannya, destroyer escort ini terbilang canggih, ini terlihat dari asupan beraneka radar, seperti AN/SPG-34, AN/SPS-10, dan AN/SPS-6. Tidak itu saja, destroyer tanpa rudal ini pun turut dilengkapi instrument perang elektronik, yakni ESM Level 1.
Venezuela sebagai pemakai akhir Almirante Clemente Class, memperlakukan destroyer tua ini dengan cukup apik hingga masa akhir di tahun 2011. Terakhir digunakan sebagai armada penjaga pantai, Almirante Clemente (F-11) dan General Moran (F-12) Class AL Venezuela (Bolivarian Navy) telah dipasang meriam OTO Melara 76 mm, sebagai pengganti meriam Vickers MK XVI Twin 102 mm. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi Almirante Clemente Class
– Displacement : Standard: 1,300 tons, Full load: 1,500 tons
– Length : 99,1 meter
– Beam : 10,8 meter
– Draught : 3,7 meter
– Propulsion : 2 Foster Wheeler boilers 650 psi, Parsons steam turbines, 2 shafts, 24.000 horsepower (18 MW)
– Speed: 32 knots (59 km/h)
– Range: 3.500 nmi (6.500 km) at 10 knots (19 km/h)
– Crew : 162