Sabtu, 02 Januari 2016

PZL M28 Skytruck: Nyaris Jadi Pesawat Intai Maritim Taktis TNI AL

M-28_3

Disaat usia N22/N24 Nomad kian renta, Puspenerbal TNI AL harus berpikir keras untuk menghadirkan pesawat intai taktis pengganti. Saat itu di tahun 2005, pilihan telah dijatuhkan pada PZL M28 Skytruck, pesawat transport ringan bermesin turbo propeller buatan PZL (Polskie Zaklady Lotnicze) Mielec, Polandia. TNI AL dikala itu direncanakan bakal menerima 11 unit M28 Skytruck versi intai maritim.

Dikutip dari nasional.tempo.co (12/12/2015), Departemen Pertahanan RI merencanakan untuk membeli 11 pesawat Skytruck dari Polandia untuk maritime patrol aircraft (MPA). Pendekatan pun sudah dilakuakn cukup itens dengan melibatkan peran Duta Besar Polandia di Indonesia saat itu, Tomasz Lukaszuk. Bahkan pemerintah Polandia turut menawarkan pinjaman (loan) dalam paket tersebut. Bahkan Polandia juga telah membicarakan produksi bersama dan ToT (Transfer of Technology) dengan PT Dirgantara Indonesia. Pembicaraan serius pun sudah melihatkan antar kedua Menteri Pertahanan.

avan2_7SkyTruckCocKpit-0404-1A

Namun seiring berjalannya waktu, terjadi dinamika yang mengejutkan, bahwa akhirnya TNI AL membatalkan pesanan armada Skytruk dari Polandia. Yang jadi pangkal alasan adalah karena proses terlalu lama tertunda yang menyebabkan harganya semakin mahal, dan alasan kedua pesawat sejenis sudah bisa diproduksi di dalam negeri oleh PT DI. Memang kemudian sebagai gantinya TNI AL menggunakan pesawat intai maritim NC-212 200 Aviocar pada tahun 2007.

Kerjasama dengan Polandia sudah berjalan sejak pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Pada waktu itu untuk pertama kali dilakukan pengadaan pesawat Skytruck senilai US$135 juta untuk kebutuhan Polri. Untuk pengadaan pesawat ini, juga dibahas soal persentase komponen dari Indonesia yang akan dilakukan oleh PT DI. PT DI akan mengerjakan 3 sampai 6% dari total nilai kontrak untuk membuat kandungan lokal pesawat tersebut.

PZL M28 Skytruck
Dengan kemampuan STOL (Short Take Off Landing), M28 Skytruck yang terbang perdana pada bulan Juli 1993 langsung memikat pasar. Citarasa yang ditampilkan Skytruck memang unik, dari segi rancangan pesawat ini mengusung desain dari Antonov (Rusia), pasalnya rancang bangunnya mengambil basis dari Antonov An-28 yang kemudian disempurnakan. Meski berbau teknologi Eropa Timur, namun mesin Skytruck justru memakai teknologi Barat, yakni menggunakan Pratt and Whitney PT6A-65B Turboprops.

Ideal untuk angkutan cargo ringan penerbangan perintis.
Ideal untuk angkutan cargo ringan penerbangan perintis.

Drop cargo linud.
Drop cargo linud.

Sebagai pesawat angkut ringan, Skytruck dapat membawa 19 pasukan bersenjata lengkap. Skytruk juga mendukung operasi linud (lintas udara), pasalnya di bagian belakang terdapat ramp door untuk terjun pasukan payung. Skytruk juga dapat disulap sebagai pesawat angkut cargo, yakni dengan adanya pintu samping kanan belakang yang dapat dibuka lebar. Beban (payload) yang dapat dibawa mencapai 2,3 ton.

paras-11paras-2

Dengan kemampuan terbang selama 6 jam 12 menit, plus jarak jelajah hingga 1.500 km, Skytruck dipandang ideal untuk misi intai maritim taktis. Dan PZL menawarkan beberapa varian intai maritim, mulai dari M28B Bryza 1R yang dilengkapi Search and Surveillance Radar ASR-400 dan datalink Link-11. ASR-400 merupakan radar intai dengan sudut pantau 360 derajat ditempatkan dibawah perut pesawat. Kemudian ada M28B Bryza 1RM bis, ini merupakan varian intai maritim dengan kemampuan deteksi anti kapal selam. Varian ini terbilang canggih dengan bekal Search and Surveillance Radar ARS-800-2 360 derajat, ejection of single-use hydro-acoustic sonobuoys, thermal imaging system FLIR (Forward Looking Infra Red), magnetic anomaly detector, dan Link-11 datalink.

M28B Bryza 1R
M28B Bryza 1R

M28 05 Skytruck Penjaga Pantai Polandia.
M28 05 Skytruck Penjaga Pantai Polandia.

Selain itu, PZL juga menawarkan Skytruk untuk misi SAR penjaga pantai, M28 05 Skytruck, varian ini dilengkapi Search and Surveillance Radar ARS-400M and FLIR system. Varian ini hanya diproduksi 1 unit untuk Penjaga Pantai Polandia.

Digunakan Satpol Airud
Bila TNI AL batal memiliki Skytruck, maka Polri tercatat mengoperasikan 4 unit Skytruck versi transport. Dari empat unit yang dioperasikan, kini tinggal tersisa dua unit, dua lainnya telah jatuh karena kecelakaan di Papua.

Oleh pihak PZL, kecelakaan disebut karena kesalahan manusia. “Padahal mesinnya bagus, tak ada masalah, sekali lagi itu hanya human error,” ujar Janusz Zakrecki, President/Direktur Umum PZL, dikutip dari nasional.tempo.co (5/9/2013). Janusz meyakini bahwa salah satu penyebab kecelakaan itu karena pihak Polri sebagai pemesan tak mau pesawat angkut ringan ini dilengkapi Ticas, radar pendeteksi cuaca. “Mereka menyatakan tak butuh kelengkapan itu, padahal sangat diperlukan. Sejak bencana itu, kini kami wajibkan setiap penjualan Skytruck harus dilengkapi Ticas dan sistem deteksi canggih lainnya,” kata Janusz.

Skytruck-M28skytruckP-4202

Jenis pesawat multi-misi ini cocok untuk kondisi alam Indonesia yang sering dilanda bencana alam, tsunami misalnya. “Landasannya tak perlu keras, mobilitasnya diperlukan untuk penyaluran bantuan kemanusiaan yang perlu gerak cepat,” katanya. M28 Skytruck dijual seharga US$ 6 juta hingga US$ 7 juta per unit—bergantung pada spesifikasinya. Saham PZL Mielec kini sepenuhnya dimiliki Sikorsky, perusahaan heli terkemuka di Amerika Serikat.

Skytruck juga digunakan oleh penerbangan sipil di Pulau Kalimantan.
Skytruck juga digunakan oleh penerbangan sipil di Pulau Kalimantan.

Selain beroperasi di Indonesia dan Polandia, M28 Skytruck juga digunakan di Guyana, Yordania, Nepal, Suriname, Amerika Serikat, Venezuela, dan Vietnam. Sebagian besar Skytruck yang beroperasi digunakan untuk kebutuhan militer. AS misalnya, mempercayakan Skytruck sebagai salah satu pesawat pendukung US SOCOM (Special Operations Command). (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi PZL M28 Skytruck
– Crew: 2
– Capacity: 19 passengers
– Payload: 2.300 kg
– Length: 13,10 meter
– Wingspan: 22.06 meter
– Height: 4.90 meter
– Empty weight: 4.100 kg
– Max. takeoff weight: 7.500 kg
– Powerplant: 2 × Pratt & Whitney Canada PT6A-65B turboprops, 820 kW (1,100 shp) each
– Maximum speed: 355 km/h
– Cruise speed: 270 km/h at 3,000 meter
– Stall speed: 123 km/h
– Range: 1.500 km
– Endurance: 6 hr 12 min
– Service ceiling: 7.620 m
– Rate of climb: 11 meter per detik
 
 

KRI Bima Samudera: Kisah Jetfoil TNI AL Yang Terlupakan

habibie_mir_0029

Meski punya identitas kapal perang TNI AL (KRI), tapi Bima Samudera tak diberi label nomer lambung. Padahal tugas yang diemban mencakup patroli wilayah pesisir, angkut pasukan, dan pengamanan obyek vital lepas pantai. Bahkan Bima Samudera sempat dipasangi kanon Bofors 40 mm. Hebatnya inilah kapal patroli tercepat yang pernah dipunyai TNI AL, Bima Samudera sanggup melesat hingga 80 km per jam!

Dengan kecepatan yang dimiliki, idealnya secara segmen Bima Samudera masuk ke Satkat (Satuan Kapal Cepat), dan dipandang dari penugasannya, kapal jetfoil ini juga pas dimasukkan ke Satrol (Satuan Kapal Patroli) TNI AL. Tapi dalam beberapa literatur, tak disebutkan identitas lambung yang dapat mengklasifikasikan segmen Bima Samudera dalam armada TNI AL.

KRI Bima Samudera I dengan kanon 40 mm.
KRI Bima Samudera I dengan kanon 40 mm.

Salah satu varian Bima Samudera
Salah satu varian Bima Samudera

Dari segi tampilan kapal ini memang tambun, namun siapa duga manuver kapal ini begitu gesit dan mampu berputar 360 derajat hanya dalam tampo satu menit. Bahkan diklaim sanggup menghindar dari kejaran torpedo konvensional. Inilah kapal patroli cepat Bima Samudera Class yang menjadi etalase TNI AL pada era 1980-an.

Kapal jenis hydrofoil atau akrab disebut jetfoil buatan Boeing Marine Systems ini sejatinya adalah kapal penumpang berkecepatan tinggi, dikenal dengan label resmi Boeing 929 Jetfoil. Namun di Indonesia, perannya diubah menjadi kapal patroli pertahanan pesisir, pengawasan operasi minyak lepas pantai, kontrol sumber daya laut, serta digunakan untuk pengangkut pasukan.

P_20151223_1139544392018_20131212064454

Order kapal patroli dengan kecepatan jelajah 80 km per jam (43 knots) ini diteken pada tahun 1981 di Renton, Washington. Tak main-main, Indonesia lewat PT PAL berencana untuk mendapatkan 47 kapal jenis ini. Jetfoil pertama diberi nama Bima Samudera I yang tiba di Tanah Air pada Januari 1982, dan mulai dioperasikan dua bulan kemudian. Harga yang dipatok untuk satu unit kapal adalah US$13,7 juta. Biaya tersebut akan meningkat seiring tambahan berbagai perlengkapan yang disesuaikan untuk kebutuhan militer.

Karena rencana pembelian dalam jumlah besar, maka ada skema ToT (Transfer of Technology) yang diterima Indonesia. Rencananya kapal Bima Samudera keenam akan dibangun sepenuhnya di galangan kapal PT PAL Surabaya. Namun untuk sistem kritikal seperti sturt, foil, dan kontrol otomatis masih akan tetap dipasok oleh Boeing.

Sayangnya, dalam perjalanan proyek ini mengalami masalah pendanaan. Faktanya antara tahun 1984 – 1985, Boeing hanya mengirimkan empat kapal dalam kondisin terurai, yang kemudian dirakit di galangan PT PAL. Dari keempat kapal, hanya dua unit yang berhasil dirampungkan yakni Bima Samudera II dan Bima Samudera III. Perannya untuk dijadikan kapal patroli bersenjata pun urung terpenuhi, hanya Bima Samudera I yang sempat dipasangi kanon mulitperan 40mm bagian haluan.

Salah satu jetfoil Boeing 929 yang melayani rute Hong Kong - Makau.
Salah satu jetfoil Boeing 929 yang melayani rute Hong Kong – Makau.

Sebagai wahana laut yang melaju dengan kecepatan bak mobil sport, konstruksi badan kapal dirancang seringan mungkin dengan menggunakan material alumunium dengan ketebalan sekitar 2 – 8 mm. Dengan mesin turbin gas yang relatif ringan dan masing-masing beratnya sekitar 1/20 dari berat mesin diesel dengan daya yang sama. Di bagian bawah lambung dilengkapi sirip strut dan foil yang menghasilkan gaya angkat layaknya pesawat terbang. Badan kapal akan melayang di atas permukaan air hingga ketinggian 2,4 meter.

Rakus BBM
Sebagai kapal yang hebat dan canggih pada masanya. Dalam perannya sebagai troopship, Bima Samudera bisa menyeberangkan 100 pasukan bersenjata lengkap sejauh 1.080 km. Dengan bobot 110 ton, kapal pun hanya oleng sekitar lima derajat saat dihajar gelombang setinggi enam meter. Dengan kata lain dalam posisi ini kapal masih bisa menembakkan senjatanya secara efektif.

Tampilan dengan sturt terlipat.
Tampilan dengan sturt terlipat.

Meski hebat disana sini, jetfoil ini punya kerentanan, terutama pada sirip alumuniumnya yang gampang rusak atau sobek bila tersandung sampah balok atau batang kayu saat berlayar kencang. Dari sisi perawatan, jetfoil juga lebih mirip pesawat jet yang butuh pemeliharaan terjadwal di setiap beberapa jam operasi.

Belum lagi dengan mesin turbin gas yang dinilai kurang bersahabat dengan udara lembab khatulistiwa, sehingga kinerjanya tak semaksimal yang diharapkan dan konsumsi bahan bakarnya juga boros. Mesin yang menyokong Bima Samudera adalah 2 x Allison 501-KF turbine engines dengan 2 x Rocketdyne PJ-20 waterjet pumps. Pemakaian BBM Bima Samudera pada kecepatan jelajah ekonomis mencapai 1.890 liter per jam. Sebagai contoh untuk menempuh rute Jakarta menuju Pelabuhan Panjang di Lampung, pulang pergi menghabiskan bahan bakar 11.500 liter.

seajet_arrival

Karena dipandang kurang efisien dari aspek operasional plus ada kerusakan pada mesin turbin gasnya, pada Januari 2001 TNI AL resmi mempurnatugaskan Bima Samudera I. Kabarnya mesin yang masih bisa digunakan dijual ke Kawasaki Heavy Industries, perusahaan Jepang ini memperoleh lisensi dari Boeing untuk membuat kapal sejenis. Sementara Bima Samudera II masih tetap beroperasi, namun berubah peran sebagai kapal cepat angkut penumpang sipil yang dioperasikan PT Pelni hingga masa purnaktinya. Saat ini kedua kapal tersebut dapat ditemui di fasilitas PT PAL.

Boeing meluncurkan proyek kapal penumpang jetfoil ini pada April 1974. Di luar AS, Boeing 929 melayani transportasi di Hong Kong dan Makau, Jepang, Inggris, Kepulauan Canary, Arab Saudi, dan Indonesia. Debut Boeing 929 tak lama lantaran biaya operasional dan perawatannya yang kelewat tinggi. Boeing total hanya memproduksi 28 unit, ditambah 15 unit dibuat Kawasaki, dan dua unit diproduksi Shanghai Simmo Marine.

USS Pegasus.
USS Pegasus.

Di periode pengembangan Boeing 929 Jetfoil, Boeing juga merancang PHM (Patrol Hydrofoil Missileship) Pegasus Class, karena kapal perdana diberi nama USS Pegasus (PHM-1). Kapal ini dilengkapi kanon reaksi cepat OTO Melara 76 mm dan rudal anti kapal AGM-84 Harpoon. Pada tahun 1975, USS Pegasus berhasil menjelajah dari Seattle ke San Diego sejauh 1.971 km, perjalan ditempuh selama 34 jam dengan satu kali pengisian bahan bakar. Selain USS Pegasus, Boeing merilis lima kapal sejenis, yakni USS Hercules, USS Taurus, USS Aquila, USS Aries, dan USS Gemini. (Danu Pras/diolah dari berbagai sumber)



Indomil.

Melihat Skema Combat Radius (Calon) Jet Tempur Baru TNI AU

SEA-Aust-Map-2JA

Disamping kecanggihan sistem navigasi, kecepatan maksimum, dan dukungan persenjataan, faktor combat radius adalah elemen penting dalam pemilihan tipe jet tempur baru TNI AU. Dengan kondisi geografis Indonesia yang begitu luas, maka jangkauan kemampuan terbang dan combat radius begitu vital dicermati. Dengan combat radius yang maksimal, maka kehadiran kekuatan udara dapat menjangkau hotspot secara optimal. Tak pelak urusan combat radius menjadi bagian dari efek deteren dari kekuatan udara.

TNI AU dalam gelar operasionalnya memang punya banyak pangkalan aju, tapi harus diakui untuk mengaktifkan pangkalan aju guna menunjang misi khusus tentu perlu waktu persiapan. Idealnya TNI AU dapat memanfaatkan pesawat tanker udara. TNI AU punya dua unit KC-130B Hercules yang di datangkan sejak tahun 1960, satu unit diantaranya A-1310 jatuh di Medan pada 30 Juni 2015 lalu. Sehingga kini untuk misi air refuelling, TNI AU hanya mengandalkan satu unit KC-130B Hercules dengan nomer A-1309. Pengadaan pesawat tanker udara jenis baru pun sudah masuk dalam perencanaan strategis, namun sayang hingga kini belum ada kabar kelanjutannya.

Jangkauan terbang dan combat radius tentu tak bisa dipukul rata, berbicara tentang dua hal tersebut maka akan bergantung pada konfigurasi persenjataan dibawa pesawat dalam suatu misi, semisal misi CAP (combat air patrol) dan ground attack pasti membawa konsekuensi berbeda pada performa pesawat. Kemudian soal kapasitas bahan bakar yang dibawa, apakah jet tempur membawa drop tanks atau conformal fuel tanks. Kesemua ramuan tersebut bila dikalkulasi akan membawa perhitungan yang berbeda tentang combat radius dan kecepatan jet tempur.

Namun, dalam visual map dibawah ini bisa disajikan ilustrasi yang menarik dari jangkauan terbang ‘standar’ dari jet-jet tempur TNI AU yang eksis, seperti F-16 C/D Fighting Falcon, Hawk 209, Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker, menariknya lagi ada visual ilustrasi map dari jangkauan terbang kandidat jet tempur baru untuk TNI AU, seperti Eurofigfher Typhoon, dan Saab JAS 39 C/D Gripen. Sayang skema visual Su-35 Super Flanker belum kami dapatkan.

Perlu dicatat, ini hanya sekedar ilustrasi, tidak diketahui persis apakah jet tempur mengusung tanki bahan bakar eksternal (drop tanks) atau tidak. Yang jelas ilustrasi tidak dalam skala penggunaan air refuelling. Sebagai titik pangkal perhitungan, dtampilkan posisi beberapa lanud (pangkalan udara) kelas A TNI AU yang menjadi homebase Skadron jet tempur. (Gilang Perdana)

F-16 A/B, F-16 C/D, Hawk 209, dan Sukhoi Su-27/30 TNI AU
 jangkauan_pesawat_tempur_indonesia-(1)

Keterangan
F-16 C/D
– Maximum speed: At sea level: Mach 1.2 (1.470 km/h)
At altitude: Mach 2 (2.120 km/h) clean configuration
– Combat radius: 340 mi (550 km) on a hi-lo-hi mission with four 1,000 lb (450 kg) bombs
– Ferry range: 2,280 nmi (4.220 km) with drop tanks

Hawk 209
– Maximum speed: 1.037 km/h at sea level
– Maximum speed: Mach 1.2 (never exceed at altitude)
– Cruising speed: 796 km/h at 12,500 m
– Range: 892 km internal fuel only
– Combat range: 617 km with 3x Sea Eagle and 2x 592 l
– Ferry range: 1.950 km with 3 drop tanks

HawkTNI06

 Sukhoi Su-30 MK2
– Maximum speed: Mach 2.0 (2,120 km/h)
– Range: 3,000 km

Sukhoi Su-27 SK
– Maximum speed: Mach 2.35 (2,500 km/h)
– Range: 3.530 km

Eurofighter Typhoon

Sumber: Hasil repro dari brosur resmi Eurofighter Typhoon.
Sumber: Hasil repro dari brosur resmi Eurofighter Typhoon.

Dalam paparannya kepada Indomiliter.com, Paul Smith, pilot demo Eurofighter Typhoon memberikan simulasi gelar radius tempur Typhoon dengan CFT (Conformal Fuel Tanks) saat pesawat ini lepas landas dari lanud Iswahjudi – Madiun, lanud Supadio – Pontianak, lanud Hasanuddin – Makassar, dan lanud Roesmin Nurjadin – Pekanbaru. Keempat lanud tersebut merupakan pangkalan utama TNI AU tempat home base dari skadron tempur. Dalam radius tempur (lihat di gambar estimasi), nampak Typhoon dapat menjangkau titik potensial hotspot untuk melakukan intercept yang cukup jauh dari pangkalan. Di sisi selatan, bahkan Typhoon mampu menerobos sisi Australia bagian utara, dan di sisi utara, Typhoon dapat menjangkau daratan Thailand serta meng-coverage hingga wilayah Samudera Hindia.

Dengan adopsi dua CFT, dimana setiap CFT dapat memuat 1.500 liter, maka combat radius Typhoon dapat meningkat 25%, tentu tergantung pada konfigurasi persenjataan yang dibawa. Dengan 5 ton bahan bakar, standarnya Typhoon punya jangkauan 2.900 Km. Sementara bicara combat radius, bergantung pada misi yang diemban, semisal antara ground attack dan air defence punya perbedaan yang amat kentara. Di luar adopsi CFT dan air refuelling, dengan membawa 3 drop tanks, Typhoon dapat terbang ferry hingga 3.790 Km.

Tampilan bodi Typhoon dengan CFT.
Tampilan bodi Typhoon dengan CFT.

Maximum speed:
At altitude: Mach 2 class (2,495 km/h)
At sea level: Mach 1.25 (1,470 km/h)
Supercruise: Mach 1.5
Range: 2.900 km
Combat radius:
(with 3 external 1,000 l tanks)
Ground attack, lo-lo-lo: 601 km (325 nmi)
Ground attack, hi-lo-hi: 1,389 km (750 nmi)
Air defence with 3-hr combat air patrol: 185 km (100 nmi)
Air defence with 10-min. loiter: 1,389 km (750 nmi) [326][336]
Ferry range: >3,790 km (2,350 mi with 3 drop tanks)

Saab Jas 39 C/D Gripen

Sumber: Saab AB.
Sumber: Saab AB.

Maximum speed: Mach 2 (2,204 km/h) at high altitude
Combat radius: 800 km
Ferry range: 3,200 km with drop tanks

Ilustrasi jangkauan jet tempur AU Singapura F-15SG.
Ilustrasi jangkauan jet tempur AU Singapura F-15SG.



Indomil.

Intip Lebih Dekat Helikopter SAR Tempur EC-725 Super Cougar TNI AU

ec725

Gegernya rencana pengadaan helikopter kepresidenan berdampak pada kandasnya rencana pembelian helikopter AgustaWestland AW101 yang telah digadang pimpinan TNI AU. Sebagai buah manisnya, helikopter produksi rakitan PT. Dirgantara Indonesia, EC-725 Super Cougar menjadi terangkat pamornya. EC-725 yang berperan sebagai helikopter SAR Tempur (Combat SAR) ini sontak menjadi alternatif pengadaan atas kebutuhan helikopter kepresidenan.

EC-725 Super Cougar yang keturunan resmi heli NAS-332 Super Puma , sejatinya memang tak dirancang sebagai heli angkut VVIP (Very Very Important Person). Namun dengan desain ruang kargo dan interior yang modular, bisa saja Super Cougar di setting untuk keperluan angkut kepresidenan. EC-725 Super Cougar sendiri telah dibeli sebanyak 6 unit untuk kebutuhan TNI AU. Dan kabarnya akan ada pesanan tambahan agar berjumlah total 16 unit nantinya. Tentang seluk beluk helkopter besutan Airbus Helicopters ini telah kami kupas pada artikel terdahulu. Untuk menyimaknya silahkan klik judul dibawah ini.

EC-725 Thailand
EC-725 Thailand

Kini paket pengadaan EC-725 Super Cougar telah masuk tahap akhir, dimana helikopter tengah dalam masa uji coba setelah dirakit PT Dirgantara Indonesia (DI). Diperkirakan tak lama lagi akan ada proses penyerahan resmi kepada operatornya TNI AU. Peran PT DI lumayan signifikan dalam proyek pembelian EC-725, dimana BUMN Strategis ini mendapat porsi untuk membuat komponen fuselage (badan utama) dan tailboom (ekor) EC-725.

Telang dilengkapi perangkat FLIR (Forward Looking Infra Red) .
Telang dilengkapi perangkat FLIR (Forward Looking Infra Red) .

Susunan  kursi.
Susunan kursi.

Dari beberapa foto yang menampilkan sosok EC-725 Super Cougar di hangar PT DI, ada beberapa poin menarik yang bisa dicermati. Dimana secara umum EC-725 Super Cougar TNI AU memang sudah sesuai standar, namun lebih detail ada yang menarik disimak seputar logo Skadron, sistem senjata, tiadanya air refuelling probe dan back door. (Bayu Pamungkas)

Skadron 9
Rencananya armada EC-725 Super Cougar akan ditempatkan di satuan baru, yakni Skadron Udara 9 yang akan ber-homebase di Lanud Kalijati. Namun pada EC-725 yang ada di hangar PT DI, logo skadron yang tertera di badan helikopter adalah Skadron Udara 8 dan Skadron Udara 6. Kedua skadron ini memang eksis sebagai pengguna helikopter asal silsilah Super Cougar, dimana Skadron 8 menjadi sarang helikopter SA-330 Puma dan Skadron Udara 9 ditempati helikopter NAS-332 Super Puma.

ok-4

Besar kemungkinan bila format EC-725 Super Cougar sudah layak membentuk satu skadron, baru akan diresmikan sebagai skadron tersendiri. Sebagai informasi, pesawat intai martim CN-235 MPA (Maritim Patrol Aircraft) yang saat ini digunakan Skadron Udara 5 Intai Maritim, dahulunya sempat dioperasikan oleh Skadron Udara 17.

ddd1b2e3-dd25-4570-b3ee-2a0e9564f687_16912115798_10207816655723994_5638602109806279184_n1249059IMG-20151204-105558780x390

Door gun
Sesuai kriteria dari Airbus Helicopters, EC-725 TNI AU juga dilengkapi door gun dengan FN MAG kaliber 7,62 mm.

55817e6e-691b-4e0e-9628-ddcb616232ec_169

Air Refuelling Probe
Tentu harapannya TNI AU dapat mengoperasikan EC-725 yang punya kemampuan isi bahan bakar di udara, seperti halnya pada Super Cougar MKII. Tapi mengingat minimnya dukungan pesawat tanker udara pada TNI AU, maka adanya air refuelling probe juga tak akan ada gunanya. Namun, bila suatu waktu dibutuhkan, EC-725 TNI AU dapat dipasang fasilitas ini ini.

EC-725 Super Cougar dengan air refuelling probe.
EC-725 Super Cougar dengan air refuelling probe.

Back door
Tidak seperti helikopter Mil Mi-17V5 Puspenerbad dan AgustaWestland AW1010 yang punya pintu rampa ukuran besar, maka EC-725 Super Cougar juga punya pintu kecil (back door) pada bagian belakang. Lewat pintu ini dapat digunakan untuk keperluan medical evacuation (Medevac).

helikopter-ptdiEC725----2

 

[Virtual Tour] Lanud Iswahjudi: Home of Fighters – Jantung Kekuatan Udara Nasional

1_zps80812349

Bagi Anda penggemar dunia kemiliteran, boleh jadi obyek yang paling ingin Anda kunjungi adalah Pangkalan Udara (lanud) Iswahjudi di Madiun, Jawa Timur. Namun sebagai instalasi militer strategis, bertandang ke lanud Iswahjudi pastinya perlu prosedur keamanan yang amat ketat, jangankan masuk ke lanud, pesawat sipil yang melintas di atas lanud pun dilarang keras.

Proteksi ketat pada lanud Iswahjudi tentu ada tujuannya, mengingat kebutuhan yang sifatnya strategis terkait keamanan negara. AS pun melarang terbang untuk pesawat sipil yang melintas di ruang udara pangkalan. Secara bagi kepentingan strategis, hanya Iswahjudi-lah lanud TNI AU yang dikelola murni untuk kepentingan militer. Meski berada di kelas A, lanud seperti Halim Perdanakusuma, lanud Supadio, lanud Hasanuddin, dan lanud Roesmin Nurjadin, kesemuanya punya status berbagi area landasan dengan penerbangan sipil yang dikelola PT Angkasa Pura.

Sebagai home of fighters, lanud Iswahyudi juga jadi satu-satunya lanud yang menjadi homebase dari tiga skadron tempur (Wing 3), yakni Skadron Udara 3 F-16 A/B Fighting Falcon, Skadron Udara 14 F-5 E/F Fighter II, dan Skadron Udara 15 T-50i Golden Eagle. Dikutip dari lanud-iswahjudi.mil.id, selain ada wing tempur, di lanud Iswahjudi juga terdapat dua depo pemeliharaan (Depohar 20 dan Depohar 60), dan markas Yon Pakshas 463. Agar lebih mengenal lanud Iswahjudi, mari flash back sejenak ke awal berdirinya lanud ini.

Maospati terletak di perbatasan Kabupaten Madiun – Magetan, Jawa Timur. Tersembunyi di antara Gunung Wilis dan Gunung Lawu, yang memiliki cuaca udara panas dan angin yang cukup kencang. Maospati sendiri adalah sebuah kecamatan dengan penduduk yang tidak terlalu padat. Saat ini area pertanian masih tersebut. Bila kita dalam perjalanan dari Surabaya ke Solo, melewati rute jalan raya Madiun, maka 6 km setelah Kota Madiun, di sebelah kiri jalan akan terlihat area Lanud Iswahjudi. Inilah pangkalah udara TNI AU paling megah dan terbesar.

Menara ATC (Air Traffic Control) lanud Iswahjudi.
Menara ATC (Air Traffic Control) lanud Iswahjudi.

Pangkalan Maospati dibangun saat ketegangan Perang Dunia II hampir mencapai puncaknya. Pada periode tersebut Jepang mulai menunjukkan kekuatannya dan mengancam para penjajah kulit putih. Sebenarnya Belanda sudah memiliki beberapa kekuatan pesawat di Indonesia sejak tahun 1921 di Soekamiskin. Namun penggelaran kekuatan pesawat tempur baru dilakukan menjelang Perang Dunia II dimulai. Pada tahun 1939, pembangunan landasan mulai dilaksanakan. Di tahap awal landasan dibangun sepanjang 1.586 meter dan lebar 53 meter.

Setelah pembangunan selesai pada akhir Mei 1940, lanud Maospati mulai dibuka dan ditempatkan satu skadron tempur dengan pesawat Curtiss 75A-7 Hawk pada 1 Februari 1941. Akhir tahun 1941, dua skadron tempur diaktifkan dengan kekuatan Curtiss Wright 21B Intrceptor, sontak Maospati menjadi pangkalan inti kekuatan Belanda/Sekutu di Pulau Jawa.

IswahyudiBandara-Iswahyudi

Sebagai persiapan akan datangnya Perang Pasifik, pada 1 Desember 1941, diadakan mobilisasi perang untuk menghadapi serbuan Jepang di Maospati. Saat itu kekuatan yang ada di Maospati adalah 13 unit Curtiss 75A-7 Hawk , 17 unit Curtiss Wright 21B Interceptor, 3 unit pembom B-17E, dan 6 unit Brewster 339 Buffalo. Dan nyatanya serbuan Jepang ke Maospati pada 3 Februari 1942 memang begitu dahsyat. Dibawah payung Operasi Z, tidak ada satupun korban jatuh di pihak Jepang. Dan pada 2 Maret 1942, seluruh kekuatan Belanda dan Sekutu telah terusir dari Maospati.

Uniknya setelah diduduki Jepang, Maospati hanya dijadikan sebagai bengkel mesin pesawat dan basis penyimpanan suku cadang. Maospati tak lagi menjadi pangkalan utama seperti masa pendudukan Belanda. Landasan yang ada masih menyisakan bekas bom-bom yang dijatuhkan saat Operasi Z. Maospati pun menjadi kota mati.

Denyut nadi lanud Maospati kembali bangkit pada tahun 1960, saat dimana lanud Maospati akan digunakan sebagai homebase Skadron 14 yang selanjutnya resmi berdiri pada tahun 1962 dengan jet tempur MiG-21 Fishbed. Praktis sebelum 1960, kondisi lanud Maospati masih sama seperti saat ditinggalkan Jepang pada tahun 1945. Operasi penerbangan hanya dilalukan oleh pesawat dari pangkalan lain yang singgah disana. Kondisi landasan pun dalam kualitas buruk dan tidak terawat.

MiG-21 di hangar lanud Iswahjudi, foto diambil pada tahun 1973.
MiG-21 di hangar lanud Iswahjudi, foto diambil pada tahun 1973.

Menyongsong kedatangan jet-jet tempur dan pembom Tu-16 Badger dari Uni Soviet sebagai persiapan kampanye Operasi Trikora, pada bulan September 1957, TNI AU [d/h AURI) mengadakan program pembangunan landasan baru.

Proyek pembangunan landasan baru diserahkan pada John Building Company (JBC), perusahaan nasional yang berkantor pusat di Jakarta. Ternyata dalam proses pelaksanaannya, perusahaan ini membuat banyak masalah. AURI kemudian membekukan kontrak yang sudah berjalan 28% pada 15 Juni 1959. Untuk sisa pekerjaan yang 72% akhirnya digarap sendiri oleh AURI bekerjasama dengan kontraktor lokal dari Madiun. Pekerjaan ini cukup sulit dilaksanakan mengingat terbatasnya peralatan yang dimiliki. Dengan upaya keras, akhirnya pembangunan landasan berhasil dirampungkan pada tahun 1960.
Proyek pembangunan landasan ini mencakup perpanjangan landasan menjadi 2.350 x 60 meter. Kedua ujung landasan dibuat dibuat dari beton berukuran 60 x 60 meter. Kemudian dibangun taxiway berukuran 3.300 x 23 meter, untuk parkir pesawat dibuat plat form dengan ukuran 200 x 110 meter. Juga dilakukan perataan tanah, memadatkan, dan membangun landasan rumput, grass trip 2.670 x 300 meter. Tidak lupa dibuat saluran air sepanjang 12 km, yang diantaranya termasuk pembuatan saluran dan bangunan air sepanjang 1 km, pembuatan gorong-gorong di bawah area landasan, dan pembuatan tanggul di sekitar landasan. Mengutip sumber dari kanalsatu.com (17/2/2014), saat ini lanud Iswahjudi punya panjang landasan utama 3.800 meter dan lebar 60 meter.

Nah, untuk menghormati jasa pahlawan udara kita. Setelah landasan berhasil direnovasi, maka lanud Maospati diganti namanya menjadi lanud Iswahjudi. Hal ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara No. 546 tanggal 4 November 1960. Peresmian penggantian nama lanud dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 1960.

Sebuah kecelakaan F-16A di lanud Iswahjudi.
Sebuah kecelakaan F-16A di landasan lanud Iswahjudi.


Cuplikan Penting Tentang Lanud Iswahjudi
– Perbaikan Landasan (Liputan6.com -21/3/2014)
Landasan pacu lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, sedang dalam proses perbaikan. Untuk itu, sejumlah pesawat tempur yang bermarkas di bandara tersebut pun dipindah ke Bandara Adi Soemarmo, Solo, Jawa Tengah. Pemindahan markas itu akan berlangsung hingga 1,5 bulan ke depan sembari menunggu proses perbaikan runway.

Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Adi Soemarmo, Kolonel (Penerbang) Agus Radar Sucahyo mengatakan, sejumlah pesawat tempur telah pindah ke Solo sejak Senin 17 Maret 2014. Pesawat-pesawat yang dipindahkan ke Solo meliputi 6 pesawat T-50, 2 pesawat F-5, serta 1 pesawat Hawk MK-53. “Yang pindah ke sini itu Skuadron Udara 14 dan Skuadron Udara 15,” kata dia di Bandara Adi Soemarmo, Solo, Jumat (21/3/2014).

Agus Radar mengungkapkan, selain dipindahkan ke Bandara Adi Soemarmo, pesawat F-16 yang bermarkas di Bandara Iswahyudi, Madiun dipindahkan ke Medan. “Skuadron 3 pindah ke Madiun untuk sementara waktu. Pemindahan direncanakan sekitar 1,5 bulan sambil menunggu perbaikan runway Iswahyudi selesai,” papar dia.

Dikatakan Agus Radar, pemindahan pesawat tersebut hanya untuk tempat tinggal landas dan pendaratan. Sementara, latihan tempur tetap digelar di atas langit Madiun. “Kalau latihan tetap di Madiun, tetapi untuk take off dan landing di Bandara Solo,” jelas dia.

–  Lanud Iswahjudi Diusulkan Untuk Sharing Sebagai Bandara Komersial (Surabaya.tribunnews.com – 15/8/2014)
Pemprov Jatim melalui Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (Dishub dan LLAJ) kembali mengusulkan Lapangan Udara (Lanud) TNI AU Iswahjudi, Madiun sebagai bandara komersial untuk melayani penerbangan sipil.

Kepala Dishub dan LLAJ Jatim Wahid Wahyudi mengatakan, usulan menjadikan Lanud Iswahjudi akan disampaikan ke Mabes TNI. Pertimbangannya, beberapa Lapangan Udara, seperti Abdurahman Saleh di Malang dan Halim Perdana Kusuma di Jakarta juga sudah dimanfaatkan untuk penerbangan sipil.
“Jika Mabes TNI mengizinkan, maka menjadikan Lanud Iswahjudi untuk kepentingan penerbangan sipil pasti akan terwujud,” ujarnya, Jumat (15/8/2014). Menurut Wahid, untuk mengubah Lapangan Udara militer menjadi sipil relatif lebih mudah.

Karena infrastruktur yang ada dinilai sudah sangat layak dan keberadaannya juga didesain untuk melayani penerbangan pesawat dengan jenis apapun. “Kalau Mabes TNI setuju, tinggal menyampaikan izin dan usulan ke Kementerian Keuangan untuk membangun terminal tunggu bagi para penumpang serta peron,” jelasnya. Dengan pertimbangan bahwa keberadaan Lanud Iswahjudi tidak selama 24 jam penuh digunakan untuk kepentingan militer. Maka disela-sela untuk kepentingan militer itulah keberadaan Lapangan Udara di wilayah Jatim bagian Barat tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penerbangan sipil.

Usulan ini kemudian langsung kandas, lantaran mendapat penolakan keras dari DPR RI dan Mabes TNI. Jangankan masuk ke lanud, melintas di ruang udara lanud Iswajudi pun terlarang.

– Lanud Iswahjudi Tertutup Pasir dan Abu Gunung Kelud (tni-au.mil.id – 15/2/2014)
Imbas dari letusan Gunung Kelud di Kediri Jawa Timur, yang terjadi tadi malam pukul 22.50 WIB, Lanud Iswahjudi dilanda hujan pasir dan debu, sehingga mengakibatkan landasan pacu, taxi way maupun main aprron tertutup debu setebal 1 hingga 2 cm, Jumat (14/2/2014).

Dampak erupsi Gunung Kelud tersebut, Lanud Iswahjudi menghentikan sementara jadwal operasi dan latihan penerbangan, mengingat tebalnya pasir dan debu yang menempel di landasan, serta jarak pandang yang sangat terbatas sehingga sangat berbahaya jika penerbangan tetap dilaksanakan.
Sementara upaya pembersihan landasan dengan menyemprotkan air dari mobil Pemadam Kebakaran (PK), terus dilakukan agar landasan terbebas dari material pasir dan debu yang menempel.

Virtual Tour
Jika belum bisa melihat dari dekat lanud Iswahjudi, ada cara untuk mengunjungi lanud tersebut secara virtual dan tentunya legal. Sebagai medianya adalah aplikasi Google Maps. Anda bisa mengarahkan destinasi ke “Iswahyudi Air Force Base,” sebelumnya pastikan gadget yang Anda gunakan terkoneksi dengan internet. Bila obyek sudah tertuju, kemudian pilih menu Satellite, agar tampil peta dalam citra foto satelit.

Tampilan runway.
Tampilan runway.

Dengan Google Maps, resminya Anda bisa melakukan zooming sampai jarak 5 – 10 meter dari permukaan tanah. Area lanud cukup terlihat jelas, termasuk Anda bisa melihat monumen tempat bersemayamnya pembom Tu-16, jet tempur A-4E Skyhawk, dan jet latih T-33A Bird. Demi keamanan , oleh pihak Google beberapa beberapa area nampak dikaburkan, seperti area parkir pesawat. Namun dalam Google Maps masih terlihat jelas shelter jet tempur. Untuk lebih jelasnya, tentu Anda bisa langsung mencoba sendiri. (Danang)

Tampak monumen pembom Tu-16.
Tampak monumen pembom Tu-16.

Foto asli Tu-16 di lanud Iswahjudi.
Foto asli Tu-16 di lanud Iswahjudi.

A4 Skyhawk dan T-33A Bird.
A4 Skyhawk dan T-33A Bird.

Bangunan shelter jet tempur.
Bangunan shelter jet tempur.

Inilah shelter jet tempur.
Inilah shelter jet tempur.

Bangunan hangar.
Bangunan hangar.

Beberapa area nampak dikaburkan demi alasan keamanan.
Beberapa area yang diduga tempat parkir pesawat, nampak dikaburkan demi alasan keamanan.

Profil Iswahjudi
Iswahjudi yang lahir di Surabaya, 15 Juli 1918 menempuh pendidikannya di AMS, Malang. Setamat dari AMS, ia melanjutkan studi ke Sekolah Dokter (NIAS) di kota kelahirannya. Namun, sebelum sempat menyelesaikan pendidikan kedokterannya, ia memutuskan untuk berganti haluan dengan pindah ke Sekolah Penerbangan (Militaire Luchtvaart Opleiding School) di Kalijati, Jawa Barat. Ia rupanya menyadari bahwa profesi dokter bukanlah panggilan hatinya dan lebih tertarik untuk menjadi seorang penerbang.

220px-Iswahyudi

Pada tahun 1941, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah penerbangan dan berhak memperoleh ijazah penerbang (Klein Militaire Brevet). Setahun setelah kelulusannya, yakni ketika Jepang menguasai Tanah Air pada tahun 1942, ia dilarikan ke Australia oleh pemerintah Hindia Belanda. Di negeri kangguru itu ia kemudian diberikan pelatihan menerbangkan pesawat. Awalnya ia dipersiapkan untuk mengikuti operasi-operasi udara Sekutu. Namun, Iswahjudi tidak mau dilibatkan dalam operasi tersebut. Oleh karena itu, ia pun melarikan diri dan kembali ke Indonesia pada tahun 1943 dengan menggunakan perahu karet.

Dalam menjalankan tugasnya melakukan pengamanan udara dalam wilayah RI, AURI memerlukan dukungan pesawat yang memadai. Peran serta aktif dari masyarakat dalam hal ini sangat diperlukan, maka ketika menjalankan tugasnya sebagai Komandan Pangkalan Udara Gadut Bukittinggi, Iswahjudi mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembelian pesawat terbang. Rupanya himbauan tersebut mendapatkan respon yang positif dari masyarakat.

Secara sukarela mereka menyisihkan sebagian penghasilannya yang kemudian disumbangkan untuk membeli sebuah pesawat terbang jenis AVRO ANSON. Pesawat yang dibeli dari seorang pedagang Amerika Serikat bernama Keagan itu kemudian diberi Nomor Registrasi RI-003. Keagan yang menerbangkan pesawat itu kemudian diantar kembali ke Bangkok.

Iswahjudi kemudian berangkat ke Bangkok didampingi Halim Perdanakusuma pada bulan Desember 1947. Mereka mendapat tugas untuk mengadakan kontak dengan pedagang-pedagang Singapura dalam rangka membeli senjata yang akan dibawa kembali ke Indonesia untuk keperluan pertahanan. Pesawat kemudian kembali ke Tanah Air lewat Singapura. Tanggal 14 Desember 1947 sewaktu pesawat terbang berada di udara Perak, Malaysia, tiba-tiba cuaca buruk.

Menyadari tengah berada dalam situasi genting, Iswahjudi pun berusaha melakukan pendaratan darurat, namun sayang usahanya tak berhasil, pesawat naas itu membentur pohon dan jatuh di laut Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Keesokan harinya, upaya pencarian dilakukan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Jenazahnya berhasil ditemukan dan kemudian dimakamkan di Lumut, Malaysia. Pada tahun 1975, makamnya dipindahkan ke Taman Makam pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas jasa-jasanya kepada negara, Marsma TNI Anumerta R. Iswahjudi dianugerahi gelar sebagai pahlawan Nasional.