Sabtu, 12 Juli 2014

Advanced F-16 Block 50 / 52 (photo)

 
f-16-block52-1
F-16 Block 52
f-16-block52-4
F-16 Block 52
f-16 block52=6
F-16 Block 52
F-16 Block 52
F-16 Block 52
f-16-block50
F-16 Block 50
f-16 block50-2
F-16 Block 50
f-16-block50-5
F-16 Block 50
block-52
F-16 Block 52
block52-1
F-16 Block 52
block52-2
F-16 Block 52
block52-6
F-16 Block 52

F-16 Block 50/52 : Pesawat pertama diluncurkan tahun 1991, dengan kelengkapan improved GPS/INS dan bisa membawa misil advance: AGM-88 HARM missile, JDAM, JSOW and WCMD. F-16 block 50 diusung oleh mesin F110-GE-129, sementara Block 52 biasanya mengusung F100-PW-229.
F-16 Block 50/52+ :
Perbedaan utama, dilengkapi conformal fuel tanks (CFTs), a dorsal spine compartment, radar APG-68(V9), an On-Board Oxygen Generation (OBOGS) system dan Helm JHMCS.
(photo: viggen / korearms.egloos.com)

PT PAL dan Jerman, Jajaki Kerjasama

KRI Lemadang 632 FBP-57
KRI Lemadang 632 FBP-57, bergabung dengan TNI AL tahun 2003

Kapal buatan dalam negeri banyak dilirik Manca Negara, salah satunya Jerman. Produk PT PAL yang masih terkait dengan Jerman yakni “BERLIN NAKROMA” maupun “FAST PATROL BOAT (FBP-57)” kini masih berfungsi dengan baik. Duta Besar Jerman untuk Indonesia Dr. Georg Witschel, mengunjungi galangan kapal yang pernah melakukan kerjasama dengan Jerman di era pimpinan Presiden RI ketiga B.J. Habibie. Diterima oleh Direktur Desain dan Teknologi, Saiful Anwar dan Direktur Produksi, Edi Widarto, di ruang rapat Ground PIP PT PAL, Selasa (08/07). Beragam Informasi dan pandangan diutarakan dalam diskusi kecil ini, baik terkait kerjasama bidang ekonomi maupun pendidikan.
Dalam penjelasan singkat terkait perkembangan PT PAL INDONESIA, Saiful Anwar menuturkan PAL akan disibukkan dengan kegiatan produksi di tahun-tahun mendatang dengan membangun kapal perang.
Sesuai dengan Amanah Undang-Undang 16 Tahun 2012 tentang Industri Startegis Pertahanan, PT PAL juga mengemban tugas sebagai Pemadu Utama ALUTSISTA Matra laut.
“Tahun ini dan mendatang, kami sangat berfokus pada pembangunan kapal perang sesuai dengan tugas yang telah dibebankan kepada kami oleh Pemerintah. Namun kami masih dapat menerima order untuk produksi kapal niaga dan non kapal”, tandas Saiful.
Duta besar Jerman untuk Indonesia, Dr. Georg Witschel mengungkapkan rasa bangga dan terima kasihnya atas pembangunan kapal “BERLIN NAKROMA” 2006 silam. “Kapal itu kini masih berfungsi dengan baik dan performa yang bagus utuk keperluan Pemerintah Demokratis Republik Timur Leste. Kami berharap PT PAL INDONESIA dapat mengembangkan bisnis dengan tujuan dapat meningkatkan Ekspor Jerman dan meningkatkan investasi yang menjadi tujuan utama kami”, imbuhnya.
Kapal “BERLIN NAKROMA” yang diserahkan PT PAL INDONESIA kepada Pemerintah Demokratis Republik Timur Leste pada 14 September 2006, dengan panjang 47,25 meter dan lebar 41,33 meter ini melayani rute Dili-Oecussi dan Dili-Atauro.
Pada diskusi yang cukup hangat, tersirat keinginan untuk meningkatkan kerjasama dalam pembangunan kapal. Terutama pada pembangunan kapal sejenis “BERLIN NAKROMA”. Namun Jerman masih menunggu kebijakan dari pemerintah Indonesia dalam hubungan bilateral, setelah pemilihan presiden RI pada 9 Juli 2014. Karena pembangunan kapal pada industry Galangan adalah sebuah proyek multiyear, yang dapat dikerjakan PAL INDONESIA dalam waktu mendatang.
Fast Attack Craft. Albatros Class, Jerman
Fast Attack Craft. Albatros Class, Jerman

FPB-57 atau Fast Patrol Boat 57 m atau PB-57 adalah kapal patroli yang dibuat oleh Lürssen, Jerman. Pada perjanjiannya PT. PAL yang awalnya hanya merakit kapal ini, juga memperoleh hak lisensi untuk memproduksi rancangan kapal. Selanjutnya, kapal ini menjadi buatan Surabaya. Di Jerman kapal ini merupakan kapal patroli cepat kelas Albatros yang beroperasi tahun 1976 –2005.(pal.co.id).

Proyek Pesawat Tempur KFX Dipercepat

KFX  twin engine
KFX twin engine
Korea Selatan mempercepat upaya mereka dalam membangun pesawat tempur buatan dalam negeri dan berencana mempublikasikan sedikit konsep KFX project kepada masyarakat, pada awal bulan Agustus.
Pihak militer berencana mengkonfirmasi kemampuan operasional pesawat ini dalam pertemuan tingkat kepala staf pada pertengahan Juli dan melakukan finalisasi pemenang kontrak pada bulan Agustus.
Program KFX yang termasuk pengembangan dan produksi pesawat tempur dalam negeri, membutuhkan dana 20 triliun Won atau sekitar USD 19, 7 miliar. Dengan proyeksi ini Seoul akan membuat 120 pesawat tempur pada tahun 2023, untuk menggantikan F-4 dan F-5.
Sejak bulan Februari, tim khusus departmen pertahanan Korea Selatan, yang beranggotakan tim: Joint Chiefs of Staff, Defense Program Acquisition Administration dan Air Force, telah menyampaikan hasil riset terkait pembangunan KFX project.
Tim khusus ini terlibat keras dalam diskusi, apakah KFX akan menggunakan platform single engine atau twin / double. Sumber mengatakan, Tim memutuskan, untuk menggunakan platform double engine.
KFX Project
KFX Project
Alasanya, pesawat platform double engine mampu membawa lebih banyak senjata dan bahkan bakar dan meningkatkan kemampuan pesawat, karena ada tambahan gaya dorong. Kemampuan pilot untuk bertahan juga meningkat, ketika satu mesin mati, namun satu mesin lainnya masih berfungsi.
Namun dibandingkan yang single engine, pesawat double engine memiliki kelamahan di bidang harga, sehingga akan mengurangi minat dari pembeli luar negeri. Harga untuk membangun KFX single engine platform sebesar 6,4 triliun Won, sementara yang double engine lebih mahal lagi, 8,6 triliun Won.
Korea Selatan mempercepat pembangunan pesawat tempur baru, untuk menutup kevakuman pesawat tempur Angkatan Udara. Angkatan Udara diperkirakan mendapatkan pemangkasan sekitar 100 pesawat pada tahun 2019, ketika hampir semua pesawat tempur F-4 dan F-5 akan pensiun. (bySong Sang-ho (sshluck@heraldcorp.com).

Rabu, 09 Juli 2014

BRISat: Satelit Perbankan Pertama di Dunia, Lompatan Teknologi satelit Indonesia

foto: Arianespace

Beberapa tahun silam BRI dikenal sebagai salah bank ‘ndeso’. Imej itu sudah berubah dalam beberapa tahun terakhir, bahkan kini BRI menjadi bank pertama di dunia yang mengoperasikan satelit.

Terobosan inovatif Bank Rakyat Indonesia mengoperasikan satelit telekomunikasi sendiri yang dinamakan BRISat, menjadi topik cocktail reception Arianespace di Raffles Hotel berkaitan digelarnya pameran CommunicAsia 2014, Enterprise IT 2014 dan BroadcastAsia 2014 di Marina Bay Sands Singapore, (17-20/6). Satelit BRISat yang akan diluncurkan Arianespace ke  Geostationary Transfer Orbit (GTO) pada 2016, akan menjadi satelit pertama dunia yang dioperasikan oleh bank.

            “Beberapa minggu lalu kami menandatangani kontrak dengan Bank Rakyat Indonesia untuk meluncurkan BRISat. Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada BRI, operator ke-40 yang telah memberi kepercayaan kepada Arianespace untuk meluncurkan satelit pertama mereka,” kata Stephane Israel, Chairman/CEO Arianespace dalam sambutannya.

            Stephane menyebutkan bahwa BRISat merupakan satelit pertama di dunia yang dioperasikan oleh bank, menambah andil pada 64 persen pasar peluncuran satelit komersial kawasan Asia-Pasifik yang dikuasai Arianespace. Meski belum terlihat, namun ke depan inovatif BRI diharapkan memicu bank-bank lain di dunia mengikuti langkahnya.

            Menurut catatan Angkasa, selama ini PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menggunakan 23 transponder dari sembilan provider dalam memenuhi kebutuhan teknologi informasi  dan komunikasi bagi lebih 9.000 jaringan kantor perseroan dan e-channel. Dalam antisipasi menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, untuk menjangkau lapisan masyarakat serta diharapkan menguntungkan bisnis perseroan, BRI alokasikan dana 250 juta dolar (sekitar Rp 2,5 triliun) untuk pembuatan satelit 45 transponder kelas 3 metrik ton kepada perusahaan AS, Space Systems/ Loral, LLC dan Arianespace untuk mengorbitkannya.

            BRISat saat diluncurkan berbobot 3.500 kg dengan transponder C dan Ku-band, dirancang untuk masa aktif 15 tahun. Satelit ini akan melayani sekitar 11.000 cabang BRI yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Sedang kelebihan kapasitasnya, besar kemungkinan akan dikelola sebagai usaha baru, ditawarkan ke pihak ketiga dalam era MEA.

            Kemampuan BRISat yang telah meraih izin pengelolaan slot orbit 150.5 Bujur Timur dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, menjangkau cakupan seluruh wilayah Indonesia, ASEAN, Asia Timur Laut, sebagian Pasifik dan Australia Barat.

            “Indonesia memiliki 17.000 pulau, lebih dari 7.000 kecamatan, dan 80.000 desa dan kelurahan yang sangat membutuhkan teknologi komunikasi satelit,” jelas Direktur Utama BRI Sofyan Basir dikutip Antara (28/5), pada penandatangan kerja sama dengan Vice President Space Systems/Loral David Bernstein dan Vice President Arianespace Jacques Breton di Jakarta. Acara ini disaksikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan serta Duta Besar Perancis Corinne Breuze.

Cetak rekor dunia
            Stephane Israel dan Managing Director Arianespace Singapore, Richard Bowles menjelaskan bahwa BRISat merupakan satelit kelima yang akan diorbitkan Arianespace untuk operator Indonesia. Satelitnya akan diluncurkan dari stasiun Guiana Space Center Spaceport Eropa di Korou, Guyana Perancis di benua Amerika Selatan. Wahana peluncurnya menggunakan Ariane 5, roket terbesar miliknya setinggi 51 meter dengan launch thrust 2.860.000 pon.

            “Tahun 2013, Ariane 5 telah mencetak rekor dunia meluncurkan 57 satelit berturut-turut tanpa kegagalan,” kata mereka mengenai launch vehicle Ariane 5. Selain mengorbitkan satelit telekomunikasi, juga dipergunakan untuk misi memasok kebutuhan International Space Station. Ditambah dua peluncuran sukses tahun ini, menjadikan 59 satelit diorbitkan Ariane 5 pada posisinya oleh Arianespace yang berkantor pusat di Evry, Perancis.

            Richard Bowles menambahkan sebelum BRISat, Arianespace telah mengorbitkan satelit komunikasi Palapa C2 pada 1996, satelit Cakrawala 1 tahun 1997, satelit Telkom 1 pada 1999 dan 2005 satelit Telkom 2. “Kami punya jejak rekam 15 tahun di Indonesia,” tegasnya. Sejak berdiri, Arianespace telah meraih 77 kontrak peluncuran dari wilayah Asia-Pasifik. Sedang selama kurun waktu 27 tahun, perusahaannya telah meluncurkan 68 satelit para operator di wilayah yang sedang booming ekonominya ini.

            Baik Stephane Israel dan Richard Bowles menekankan bahwa pasar kini begeser ke kawasan Asia-Pasifik. Selain Indonesia, di kawasan ini customer Arianespace adalah Malaysia, Filipina, Australia, India, dan Jepang.  

            Angkasa mencatat bahwa Indonesia merupakan negara ketiga pertama di dunia pada awal dekade 1970 setelah Kanada dan Amerika Serikat menggunakan jasa satelit komunikasi untuk menyatukan negara. Satelit komunikasi sekarang tidak saja untuk jasa komunikasi telepon, broadcast (siaran televisi), tapi sudah berkembang digunakan untuk berbagai bidang jasa yang lebih luas, termasuk kini di sektor keuangan dan perbankan.

“Tidak saja sektor ekonomi, bagi Indonesia juga dalam membantu operasi  kemanusiaan di masa depan,” tambah Bowles memberi gambaran lain mengenai pemakaian jaringan satelit. Salah satunya adalah bencana alam tsunami seperti yang pernah dialami Aceh. Dijelaskan, penanganan korban tsunami maupun wilayah yang terkena bencana akan lebih cepat terdeteksi menggunakan satelit.
 

Vympel R-77 (AA-12 Adder) : Rudal Andalan untuk Perang Udara


Pesaing utama rudal AIM-120 AMRAAM andalan Amerika Serikat, R-77 kerap dijuluki AMRAAMSKI. Pertanyaan paling mendasar, sehebat apakah rudal udara ke udara jarak menengah/jauh ini?

            Paling tidak ada sepuluh varian induk yang dibuat Vymvel Design Bureau untuk rudal udara ke udara jarak menengah R-77 yang dalam istilah NATO diberi kode AA-12 Adder. Mulai dari varian standar hingga varian terbaru untuk penempur generasi kelima Rusia, T-50 PAK FA, yakni K-77M yang dilengkapi radar AESA. Indonesia melengkapi armada Su-27/30 dengan varian RVV-AE (Izdeliye 190), yang khusus dibuat Rusia untuk versi ekspor.
Walaupun R-77 dasarnya adalah rudal udara ke udara, namun pihak pembuat juga telah mengembangkan R-77 menjadi rudal darat ke udara (R-77-SRK) dan juga rudal kapal ke udara (R-77-ZRK). R-77 jadi andalan para pengguna jet tempur Rusia dan kini sudah digunakan di sembilan negara: Rusia, Aljazair, Tiongkok, India, Malaysia, Venezuela, Vietnam, Peru, dan Indonesia.

R-77 dibuat Vympel pada 1982. Rudal dengan panjang 3,6 meter, diameter 20 cm, dan bobot antara 175 kg (R-77) – 226 kg (R-77-PD) ini mampu mengejar sasarannya dengan kecepatan Mach 4,5. Kemampuan menjangkau sasaran berada dikisaran 40-160 km tergantung varian dan ketinggian terbangnya. Maka R-77 disebut pihak pembuatnya sebagai rudal udara ke udara jarak menengah dan jarak jauh.

R-77 dapat diluncurkan pada ketinggian terbang pesawat antara 5 meter (16,5 kaki) hingga 25 km (82.000 kaki). Rudal ini ditenagai oleh roket berbahan bakar padat (R-77) atau sistem penghisap udara ramjet (R-77-PD). Hulu ledak rudal berkisar 22 kg, menggunakan fragmentasi high explosive serta sistem pemandu inersial baik aktif, pasif maupun infra merah.

Salah satu ciri yang dapat dilihat dari R-77 selain bentuknya yang panjang dan runcing, adalah digunakannya grid fin di bagian ekor. Sirip tegak berlubang dengan pola kotak menyerupai waffle besi ini berfungsi untuk mengarahkan aliran udara di bagian ekor rudal pada kecepatan supersonik. Arahnya dapat diatur dengan poros engsel di bagian pangkalnya. Grid fin lazim digunakan pada rudal balistik buatan Soviet era 1970-an dan juga roket Lunar N1 serta kapsul Soyuz TM-22.

Paling efektif
            Dengan kecepatan lajunya yang sangat tinggi, R-77 diklaim sebagai rudal udara ke udara paling efektif yang dapat digunakan untuk menghancurkan beragam sasaran di udara termasuk rudal Mach 4 AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air-to-Air Missile), AIM-54 Phoenix maupun rudal darat ke udara semacam Patriot. R-77 digunakan AU Rusia sejak 1994 dan telah diekspor pertama kali ke India tahun 2002. Di kawasan ASEAN, RVV-AE telah dimiliki oleh Malaysia dan Vietnam yang sama-sama menggunakan Su-27/30 sebagai kekuatan pemukul utama.

            Tiongkok yang getol membeli beragam persenjataan Rusia, tak ketinggalan melengkapi armada Su-27/30 dengan R-77. Tidak hanya itu saja, Tiongkok kemudian juga membuat secara lisensi seeker dan sistem pemandu pada R-77 dan menerapkannya pada rudal PL-12/SD-10 Sino-AMRAAM.

            Dibandingkan AIM-120 AMRAAM buatan Hughes/Raytheon yang telah diproduksi sejak 1991, dapat dikatakan R-77/RVV-AE memang masih kalah dalam pengoperasiannya di medan laga. Sehingga untuk mengukur seberapa hebat rudal ini rasanya masih butuh pembuktian. Sementara AIM-120 telah berhasil menembak jatuh MiG-25 Irak pada 27 Desember 1992 dimana saat itu AIM-120 diluncurkan dari F-16D AU AS. Catatan berikutnya, Januari 1993 MiG-23 Irak juga berhasil dijatuhkan F-16C AU AS menggunakan AIM-120 AMRAAM, dan setelah itu AIM-120 masih membukukan berbagai kill lainnya.

            Rusia dan negara-negara pengguna R-77 lainnya mungkin masih menunggu kesempatan untuk bisa menggunakan rudal BVR (Beyond Visual Range) R-77 dalam kesempatan yang pas. Secara teori di atas kertas, rudal ini lebih unggul dari para pesaingnya. Itu pula yang menyebabkan AS dan para sekutunya selalu waspada pada berbagai persenjataan buatan Rusia, termasuk R-77 atau AA-12 Adder ini.
 

Apresiasi Eropa kepada Model Kerjasama Airbus-Indonesia


foto-foto: Airbus


Pola kerjasama Airbus Defence and Space dan PT Dirgantara Indonesia kembali mendapat apresiasi internasional. Airbus Defence and Space, Head of Military Aircraft, Domingo Urena Raso, mengungkap pujian itu di hadapan puluhan wartawan kedirgantaraan dunia, sembari menjelaskan bahwa kerjasama kedua pihak merupakan model kerjasama bisnis dan industri yang mampu memelihara dan memenuhi kebutuhan pasar regional.

Ketika angkatan udara di berbagai negara Eropa menghadapi masalah pemotongan anggaran, combined customer base yang dibangun di luar Eropa, seperti PT Dirgantara Indonesia, justru mampu memberi harapan yang lain. Potensi pasar juga tampak bersinar di Timur Tengah dan Amerika Latin. Dalam beberapa tahun terakhir, pemotongan anggaran membuat banyak pemerintahan selektif dalam menentukan pilihan alutsista, termasuk untuk pesawat militer. Kini, mereka cenderung memilih pesawat yang mampu melakukan aneka ragam misi.

Berikut laporan langsung wartawan Angkasa Adrianus Darmawan dan Dudi Sudibyo dari ajang Airbus Defence and Space Trade Media Briefing (TMB) 2014, 10-11 Juni lalu di Sevilla dan Madrid, Spanyol. Di bagian lain, dari ajang Airbus Innovation Days 2014 di Toulouse, Perancis, Dudi Sudibyo juga menyampaikan perkembangan terkini pertarungan dua raksasa besar produsen pesawat komersial badan besar, Airbus dan Boeing.

Pernyataan Domingo Urena Raso pada jamuan makan malam di sebuah daerah sejuk di pinggiran kota Sevilla itu jelas bikin puluhan wartawan penerbangan dunia terhenyak. Tak terkecuali Angkasa. Pasalnya, industri pesawat terbang terbesar di dunia ini bukanlah yang terhebat di antara 22 subsidiaries yang berdiri di berbagai negara. Kenapa justru PT Dirgantara Indonesia (DI) yang diunggulkan? Adakah keunikan khusus dari pabrik pesawat yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat ini?

            Seperti biasa, pimpinan Airbus yang dikenal supel itu tak langsung menerangkan gamblang. Namun, dari paparan taktisnya terjelaskan berbagai hal. Menurutnya, DI bisa dijadikan model karena, pertama, didirikan atas dasar kesepahaman bilateral, dan, kedua, dalam perjalanannya, meski diwarnai berbagai rintangan,  telah ikut mengembangkan pasar yang cukup unik di kawasannya. DI begitu menarik perhatian negara-negara di sekitarnya karena memproduksi pesawat transpor militer badan kecil/menengah yang bisa digunakan untuk berbagai misi.

            Kerjasama telah dimulai sejak 1976, ketika Airbus Defence and Space yang bermarkas di Spanyol masih bernama CASA (Construcciones Aeronauticas SA). Diawali pembuatan pesawat badan kecil berlisensi C-212 Aviocar, kini kerjasama dengan DI telah meningkat dengan produk yang masih tetap populer, yakni pesawat transpor badan menengah CN235 dan C295. Selain bisa digunakan untuk misi standar angkut pasukan, keduanya juga bisa didayagunakan untuk misi bantuan kemanusiaan, patroli maritim, pemantauan lingkungan dan lain-lain. Belakangan C295 sudah bisa dipesan dalam versi airborne early warning.

            Sampai saat ini, CN235 yang pertama kali diperkenalkan pada 1988, masih tetap digemari berbagai operator di kawasan Asia. Seperti dikatakan Direktur Komersial dan Restrukturisasi DI, Budiman Saleh. “CN-235 masih tetap jadi favorit, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Pesawat ini dibeli Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Brunei, Uni Emirat Arab, Pakistan, Senegal dan lainnya.” (Kompas (15/2/2014).

            Hingga kini, lebih dari 270 unit CN235 telah terjual ke berbagai negara. Selain dibeli berbagai operator di wilayah Asia, Timur Tengah, dan Amerika Selatan,  pesawat ini juga dibeli sejumlah negara di Eropa dan Amerika Utara. Sementara C295, tercatat lebih dari 120 unit telah terjual. Berkat peraihan total market-share mencapai 58 persen antara 2005 sampai 2014, kedua pesawat selanjutnya tercatat sebagai market-leader di kelas transpor menengah.

Selain dengan Airbus DS, DI juga menjalin kerjsama yang cukup penting dengan unit bisnis strategis Airbus Group lainnya, yakni Airbus Helicopter, terkait penjualan dan perawatan helikopter EC225/775; juga dengan Bell-Textron AS terkait pembuatan helikopter Bell-412.

Meski dikatakan masih perlu kesepahaman dan pendekatan lebih lanjut, Domingo Raso tak memungkiri bahwa pemerintah Indonesia telah ikut mendukung upaya pemasaran pesawat-pesawat tersebut. Di antara yang terbaru adalah lawatan ke enam negara (Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Thailand dan Malaysia) pada Mei 2013 untuk memperkenalkan C295. Melalui beberapa pertemuan intens, empat negara yakni Filipina, Myanmar, Thailand, bahkan Timor Leste, mengajukan berbagai pesanan.

Ketangguhan-kemudahan
Dalam TMB 2014, secara detail, Airbus DS menyampaikan laporan tahunan performa bisnis, perkembangan uji terbang atas beberapa produk baru serta program layanan purna atas produk-produknya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya mereka bergerak dalam pembuatan, pemasaran, program pelatihan serta layanan purna jual untuk pesawat CN235, C295, A400M dan A330 MRTT, mulai Desember 2013 lalu kepadanya ikut “dititipkan” pesawat tempur Eurofighter Typhoon dan Sistem Pesawat Tanpa Awak (UAS).




Upaya Jemput “Bola” ke Luar Eropa
            “Eropa harus berhenti untuk malu mengakui bahwa dirinya memiliki kemampuan yang amat baik. Kenapa harus malu? Kenapa kita justru tak bergerak bersama? Kita punya kekuatan industri. Untuk itu kenapa tidak berkolaborasi? Jangan takut untuk bekerjasama dengan berbagai negara di dunia,” ungkap Domingo Urena Raso tegas di hadapan puluhan wartawan kedirgantaraan dari berbagai negara, yang pada 10 Juni lalu berkumpul di Sevilla, Spanyol.

            Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dalam Trade Media  Briefing (TMB) 2014 kali ini petinggi Aircraft Military, Airbus Defence and Space itu, tampak sudah tak bisa lagi menyembunyikan kegalauannya. Ia menganggap perlu menyatakan sikap karena sejumlah industri kedirgantaraan dan kemiliteran di Eropa sedang resah menghadapi penurunan skala produksi akibat gelombang pengetatan anggaran belanja yang dialami angkatan bersenjata di banyak negara Eropa. Pengetatan anggaran ini tak lain adalah akibat krisis ekonomi dan kebijakan bersama Masyarakat Eropa.

            Dampak krisis ini tampaknya juga bakal menerpa Airbus DS, karena beberapa negara yang masuk dalam konsorsium pembuatan pesawat militer badan besar A400M mulai goyah dalam memegang kesepakatan pembeliannya. Jerman yang sebelumnya sepakat membeli 53 unit, belakangan hanya menyanggupi 40. Sementara Perancis, yang semula menyatakan perlu 50 unit dari berbagai jenis pesawat transpor taktis buatan Airbus DS, tampaknya akan meninjau kembali. Selain Jerman dan Perancis, kemitraan A400M juga melibatkan Belgia, Luksemburg, Spanyol, Turki, dan Inggris.

            Masalah pemotongan anggaran di Eropa hampir bisa dipastikan juga akan berimbas pada kelangsungan industri serupa di Amerika Serikat, karena dalam pertemuan di Brussel, Belgia, Maret 2014, Presiden AS Barrack Obama mengisyaratkan perlunya negara-negara NATO di Eropa mewaspadai krisis dan setiap perkembangan yang akan terjadi di Crimea dan Ukraina.  Krisis di kedua tempat akan menjadi “alarm bangun pagi” (wake-up call) karena tak satu pun negara di sekitarnya paham seburuk apa imbasnya.

Merger di Airbus
            Meski pihak Airbus DS terus berjuang agar penciutan jumlah pesanan tidak terjadi, mereka tetap harus waspada dengan berbagai kemungkinan terburuk. Segala hal bisa terjadi karena kepentingan politik di internal pemerintahan kerap berpengaruh. Maka, sangatlah lumrah jika – untuk menghadapi permasalahan ini – berbagai industri pertahanan terkemuka berupaya melakukan merger serta meningkatkan pengaruhnya ke pasar di luar Eropa.

            Merger di keluarga Airbus sudah terjadi sejak Januari 2014. Untuk perampingan manajemen dan memancing pasar yang lebih luas, European Aeronautic Defence and Space Company – pengelola Airbus Group --  menggabungkan Astrium dan Cassidian dengan Airbus Military, menjadi Airbus Defence and Space. Kepada perusahaan ini, EADS juga menitipkan pemasaran Eurofighter Typhoon dan sistem pesawat tanpa awak yang mereka buat.

            Dengan demikian di dalam induk perusahaan Airbus Group, ada tiga bisnis unit, yakni Airbus yang mengelola industri pesawat komersial; Airbus Defence and Space yang mengelola industri pesawat militer, jet tempur, satelit dan UAV; dan Airbus Helicopter yang mengelola industri helikopter.

Terkait perluasan pasar sendiri, dalam TMB 2014, misalnya, pimpinan Airbus DS kembali menyatakan minatnya untuk meningkatkan harmonisasi dan skala kerjasama produksi serta layanan purna jual dengan negara-negara di Asia Pasifik (termasuk Indonesia), Timur Tengah, dan Amerika Selatan. Ke wilayah-wilayah ini mereka akan “jemput bola” menawarkan produk lewat paket-paket kerjasama bilateral. Dengan Indonesia mereka bisa memuluskan penjualan CN235 dan C295 di wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya.

“Selain di Asia, pesawat-pesawat badan menengah ini juga disukai di tempat lain. Pada 2013 dan 2014, Mesir, Kazakhstan, Ekuador, Kolumbia dan beberapa costumer yang belum bisa disebutkan namanya, masing-masing telah memastikan membeli C295 sebanyak 6 unit, 2 unit, 3 unit, 1 unit dan 17 unit. Sementara US Coast Guard kembali menyatakan minatnya untuk menambah 1 unit CN235 versi patroli maritim. Dengan total penjualan sebanyak 171 pesawat antara 2005 sampai 2014, kedua pesawat pun bisa disebut sebagai market leader di kelas badan menengah,” tutur Head of Commercial, Military Aircraft, Airbus DS, Antonio Rodriguez Barberan kepada wartawan.

Tingkat penjualan pesawat-pesawat tersebut telah meninggalkan pesaing-pesainnya, seperti C-27J, ATR-48, DHC-8, dan G-222. Selain dari ketangguhan dan kemudahan perawatan, ketertarikan pasar pada CN235 dan C295 juga dipengaruhi oleh ragam pilihan misi yang ditawarkan. Selain untuk standar angkut pasukan, misalnya, CN235 juga ditawarkan dalam versi patroli maritim. Sedang untuk C295, customer juga bisa memesan dalam versi pemadam kebakaran, airborne early warning, dan signal intelligence.

A400M, A330 MRTT, AC295
Ragam pilihan fungsi juga ditawarkan pada pesawat angkut berat A400M. Pesawat yang kerap disebut-sebut sebagai airlifter for the 21st century ini telah diuji untuk mampu melakukan tugas pengisian bahan bakar di udara dan kemampuan self-defence. Dalam kesempatan uji pengiriman kendaraan dan helikopter ke empat wilayah di Mali, Afrika, pesawat ini bahkan terbukti melampui pesawat angkut berat yang dibanggakan AS, C-17 Globemaster II. Bukan dari kuantitas daya angkutnya, melainkan dari kapabilitasnya mendarat di landasan tak beraspal.

Dari 174 pesawat yang dipesan delapan negara (Belgia, Perancis, Jerman, Luksemburg, Spanyol, Turki, Inggris dan Malaysia), tiga pesawat sudah dinyatakan dikirim dan beroperasi, sementara 14 pesawat sedang dalam proses persiapan pengiriman dan 20 dalam tahapan produksi/perakitan. Daya angkutnya jauh lebih besar dari C-130J Hercules. Maka dari itu, ketika AS tak mau mengekspor C-17 ke sembarang negara, pimpinan Airbus DS menyebut A400M, sebagai satu-satunya pesawat angkut berat taktis yang paling terbuka untuk dibeli.

“Kami memperkirakan, dari 1.850 pesawat sejenis yang kini beroperasi, dunia masih memerlukan 700 pesawat sekelas A400M dalam jangka 30 tahun mendatang. Kami berharap 400 di antaranya berbagai negara akan memilih pesawat ini,” ujar Antonio Barberan.

Di lain pihak, Airbus DS juga tak mengurangi perhatiannya dalam menuntaskan pesanan berbagai negara atas A330 MRTT. Lagi-lagi pesawat militer berbasis pesawat komersial badan lebar A330 ini dirancang untuk multimisi. Selain untuk angkut pasukan, juga bisa didayagunakan sebagai tanker udara. Lima pesawat ini kini telah dioperasikan AU Australia, 3 unit di UAE, 4 unit di Inggris, dan 7 unit lainnya di Turki. Pesawat ini, di antaranya, dikembangkan untuk menyaingi KC-135 Stratotanker yang dibuat Boeing (AS) berbasis Boeing B707.


Airbus : Tak Ada Pengaruh Pembatalan Pesanan A350 Emirates
            Airbus menegaskan pembatalan pesanan 70 pesawat badan lebar bermesin ganda A350 senilai 16 miliar dollar AS oleh Emirates, tidak mempengaruhi roda produksi pesawat terbang Eropa ini. Pembatalan dadakan operator terbesar superjumbo A380 dari Dubai, diterima Airbus sehari sebelum ajang tahunan Airbus Innovation Days 2014 di Toulouse untuk media massa, dan hanya beberapa bulan sebelum terbang komersial oleh launch customer Qatar Airways, yakni setelah delapan tahun pengembangannya dan menelan investasi sekitar 15 miliar dolar AS.

            “Pasti tidak akan ada kekosongan dalam produksi (Airbus),” tegas John Leahy, Chief Operating Officer, Customer, pucuk pimpinan penjualan Airbus sambil mengingatkan 150 wartawan mancanegara – termasuk Angkasa, bahwa Boeing pernah mengalami hal serupa saat pembatalan bagi 787 Dreamliner, yang badannya juga dibalut bahan ringan carbon fibre.

            Beda dengan Airbus, pabrik mesin pesawat Inggris, Rolls-Royce yang menjadi sole engine maker untuk A350XWB (singkatan dari Extra Wide Body), dikutip kantor berita Reuters, menyatakan keputusan Emirates tersebut akan berdampak kehilangan pendapatan 2,6 miliar poundsterling atau 4,4 miliar dolar dalam buku pesanannya. Seperti Airbus, Rolls-Royce juga yakin kekosongan yang ditinggalkan Emirates akan tergantikan oleh pesanan maskapai lain jelang penutupan dekade.

Maskapai dari Teluk ini memesan pesawat rancangan baru sarat teknologi mutakhir Airbus A350XWB pada 2007. Dijadwalkan akan diterima pertama pada 2019, lebih awal daripada pesaing langsung Boeing 777X, dimana Emirates merupakan operator terbesarnya dengan pesanan 150 unit. Emirates tercatat sebagai salah satu di antara maskapai pertama yang tertarik A350XWB saat programnya diperkenalkan 2007. Tak tanggung-tanggung langsung pesan 70 unit, terdiri dari 50 unit A350-900 dan 20 versi lebih besar A350-1000.

Menurut Airbus, alasan klien topnya membatalkan pesanan, mengacu pada tinjau ulang rencana kebutuhan armada dimana titik beratnya pada superjumbo A380. Sejalan tinjauan ulang, maskapai Dubai ini November 2013 ajukan pesanan tambahan 50 superjumbo dalam pagelaran Dubai Airshow 2013. Menjadikan Emirates operator terbesar dunia dengan mengoperasikan total 140 A380.

Keyakinan Airbus tidak akan mengalami gejolak akibat pembatalan Emirates, didasarkan pada posisi kokoh pesanan pasti 742 unit A350 yang dikantongi, kurang dari setengah tahun A350XWB akan terbang komersial di bawah bendera launch customer Qatar Airways. “Flight test campaign A350 berjalan mulus, type certification is on track,” John Leahy menambahkan.

Tidak suka
Pucuk pimpinan Airbus, Fabrice Bregier menegaskan lagi dalam jamuan makan malam di Aeroscopia, museum Airbus yang sedang dibangun, bahwa pembatalan pesanan Emirates tidak akan berpengaruh negatif pada kelompok usaha kedirgantaraan Eropa. “Apakah menjadi masalah bagi kami? Jawabannya pasti tidak, tetapi jujur saya tidak suka mengingat Emirates merupakan top-class customer (Airbus), dan saya akan lebih senang bila mereka mengoperasikan  A350,” ujarnya dalam ruangan museum yang disulap menjadi ruang jamuan makan.

Dapat dimaklumi kenapa Fabrice Bregier mengatakan demikian. Bagaimana pun Airbus dibuatnya merasa kurang nyaman bagi upayanya berada di ujung tombak pasar pesawat twin-engine badan lebar jarak jauh yang banyak diminati maskapai. Menurut catatan Angkasa, A350XWB dibuat Airbus untuk menjawab 787 Dreamliner Boeing. Sedang varian A350-1000 ditawarkan sebagai pesaing langsung pesawat derivatif Boeing 777X.

Di sisi lain, John Leahy dalam presentasinya tidak kesampingkan bahwa pembatalan pesanan Emirates merupakan suatu indikator titik-balik bagi industri pesawat terbang, yang secara tak langsung memberi sinyal baik kepada Airbus maupun Boeing untuk tidak memproduksi banyak pesawat. Karena pasar sudah tidak dapat menyerapnya lagi. “Apakah kami terlalu banyak membuat pesawat terbang? Apakah terjadi bubble (market)? Menurut saya tidak,” kata John menanggapi sinyal tersebut.

Kedua produsen pesawat dunia tersebut pernah memproyeksikan bahwa hingga 2025 tidak akan ada rancangan pesawat baru. Terakhir, Boeing menawarkan Dreamliner dengan sirip blended winglet pada kedua ujung sayapnya. Kemudian Airbus menyusul dengan A350XWB, ujung sayapnya dilengkapi sirip sharklet. Yang menonjol dari kedua jenis pesawat tersebut, badannya terbuat dari bahan ringan komposit carbon fibre, menggantikan bahan tradisional aluminium agar berat pesawat lebih ringan. Dibantu sirip-sirip tersebut menghasilkan irit konsumsi bahan bakar.

Untuk menjembatani kebutuhan pesawat hingga 2025, Airbus memperkenalkan program re-engine rancangan pesawat yang sudah ada dengan mesin baru irit bahan bakar. Lahirlah program A320Neo (singkatan New Engine Option) bersayap sharklet berdasarkan pesawat laris single aisle badan sedang A320. Boeing menjawabnya dengan 737MAX dengan dasar 737-800.

Tetapi yang paling mendesak saat ini bagi Fabrice Bregier dan Airbus adalah memenuhi jadwal target yang dijanjikan kepada pemesan, terbang komersial sebelum penutupan tahun 2014. Target tersebut yakin dapat dicapai, mengingat program uji terbang yang dimulai sekitar setahun lalu, menggunakan empat pesawat untuk sertifikasi berjalan lancar sesuai rencana. Tambah diperlancar dengan beroperasinya pesawat kelima baru-baru  ini. Total keempat pesawat sudah mengumpulkan 1.900 jam terbang dan lebih dari 440 penerbangan.

Angkasa.

Batal Terbang Karena Politik

foto: Irawan Saleh

TNI AU pernah mengirimkan para pilotnya untuk belajar menerbangkan  pesawat tempur di Rusia. Tapi ketika mereka sudah mahir dan pulang ke tanah air, justru  tak pernah bisa menerbangkan pesawat kebanggaannya.

            Menjelang Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat (1962) TNI AU mendapat berbagai jenis pesawat dan helikopter dalam jumlah cukup signifikan. Selain pesawat transpor, diterima pula pesawat pengebom dan tempur pancar gas seperti Tupolev Tu-16, Ilyushin Il-28, MiG-15, -17, -19, dan -21. Semua perangkat keras persenjataan itu mengubah Indonesia dalam seketika kuat secara militer dan disegani di seantero kawasan Selatan.

            Kedatangan berbagai jenis pesawat dalam jumlah besar itu harus didukung sumber daya manusia atau personel yang memadai. Baik pilot, teknisi maupun personel pendukung/kejuruan lainnya seperti material, elektro, persenjataan, dan sebagainya. Cara paling mudah dan singkat untuk memperolehnya adalah dengan mengirim mereka ke negara asal pesawat yaitu Uni Soviet (Rusia), Cekoslovakia dan Yugoslavia. Bahkan juga ke Mesir, yang sebelumnya telah menjadi pengguna banyak pesawat militer eks-Rusia/Blok Timur.

             Para perwira dan kadet penerbang AURI pun dikirim secara bertahap ke berbagai negara itu, antara lain lewat program yang dinamakan Tjakra I, II, dan III. Sejumlah personel yang dikirim untuk mampu mengoperasikan MiG-17, di antaranya Tri Suharto, Butje Waas, Hardadi, Zainudin Sikado, Isbandi, dan Rudi Taran. Kemudian ada pula program untuk MiG-21, yang kala itu merupakan pesawat tempur yang lebih baru. Mereka yang dikirim untuk belajar dan berlatih MiG-21 antara lain Sukardi, Saputro, Sobirin Misbach, Yachman, Martin Teletepta, dan Firman Siahaan. Ada pula pelatihan di dalam negeri dengan mendatangkan instruktur Rusia. Mereka yang berlatih di dalam negeri antara lain Mayor Roesman, yang dipersiapkan menjadi komandan skadron MiG-21 pertama.

             Melalui program yang diberi nama Tjiptoning, berangkatlah rombongan pertama kadet penerbang AURI ke Rusia, dari Angkatan 66 dan 67. Dari Angkatan 66, hampir semuanya akan dididik dan dilatih untuk pengebom Tu-16 Badger, lainnya untuk pesawat transpor Antonov An-12 Cub, yang mirip-mirip Hercules. Sedangkan dari Angkatan 67 sebagian besar untuk An-12.

Januari 1965, ketika Rusia sedang dilanda musim dingin hebat, mereka naik kapal dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Vladivostok, bandar laut “air hangat” Rusia di kawasan timur jauhnya. Dari kota ini mereka dikirim ke Tokmak di Kirgistan dan di Rysan, yang merupakan pangkalan pengebom Tu-16. Para kadet penerbang ini, pertama berlatih dengan pesawat latih dasar bermesin piston Yakovlev Yak-18 Max, sejenis dengan T-34 Mentor.

Selanjutnya calon penerbang transpor transisi berlatih menggunakan Ilyushin Il-14 Crate, yang mirip DC-3/C-47 Dakota, sebelum mereka terbang dengan An-12. Sedangkan sebelum terbang dengan Tu-16,para calon pilot bomber itu terbang transisi menggunakan jet pengebom taktis Ilyushin Il-28 Beagle. Rombongan pertama antara lain Richard Haryono, Bambang Yogyanto, Suhendar, Suparno, Zainal Abidin, Udin Kurmadi, Rusli, dan Haryanto. Sedangan untuk An-12 antara lain Sutria, Haryono, Haryoko, Suharso, Maksum Harun, dan Saleh Budiono.

foto: Winardi/ Angkasa

Kamera disita
Saya sendiri termasuk rombongan Tjiptoning kedua, yang diberangkatkan Maret 1965. Rombongan ini selain untuk menerbangkan Tu-16 dan An-12, juga untuk MiG-21. Kami dari Angkatan 67 dan 68, berpangkat Sersan Taruna dan Kopral Karbol. Kami naik pesawat komersial maskapai penerbangan Rusia, Aeroflot dari Bandara Kemayoran.

            Sebelum meninggalkan Lanud Halim Perdanakusuma, kami memperoleh briefing dari Komodor Sukotjo dan Komodor Ign. Dewanto. Mereka antara lain menekankan agar kami belajar dan berlatih sebaik-baiknya, jangan sampai mempermalukan bangsa. Kami juga diingatkan agar berhati-hati dalam bersikap dan bertindak, termasuk jangan mengambil foto sembarangan di Rusia, karena memang ada larangan untuk itu.

Rombongan kami berjumlah 60 orang, termasuk dua perwira pengawas. Salah seorang bernama Mayor Sutjipto. Sempat saya berpikir, jangan-jangan program kami dinamakan Tjiptoning karena pengawas kami adalah Mayor Sutjipto. Ingat ini, saya hanya bisa menertawakan diri sendiri.

Pesawat Aeroflot bertolak malam hari sekitar pukul 21.00, dan singgah di Kolombo serta Teheran untuk mengisi bahan bakar. Maklum, mesinnya belum seefisien pesawat sekarang yang semakin hemat bahan bakar. Setiba di Moskwa esok harinya, kami pun disambut cuaca dingin bersalju. Di bandara dijemput oleh Atase Udara Letkol (Pnb) Sutiharsono, yang di kemudian hari menjadi Pangkodau V dan berpangkat marsekal muda. Teks dan Foto: Marsda (Purn) Irawan Saleh