Kamis, 14 Mei 2015

Pusat Pendidikan TNI dijadikan tempat rehabilitasi narkoba

Pusat Pendidikan TNI dijadikan tempat rehabilitasi narkoba
Panglima TNI, Jenderal Moeldoko. Selain membantu BNN merehabilitasi pemakai narkoba, dalam beberapa aspek, TNI kembali dilibatkan untuk perkuatan institusi sipil di pemerintahan, di antaranya swasembada pangan dan penyediaan guru di sekolah-sekolah di perbatasan negara. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
... dalam merehabilitasi para pengguna narkoba harus ada batasan yang jelas agar para pengguna narkoba tak menularkan "kebiasaan" buruk itu kepada prajurit TNI...
Satu lagi pelibatan unsur kekuatan dan fasilitas TNI untuk kepentingan nasional, yaitu Pusat Pendidikan TNI yang akan dijadikan tempat rehabilitasi pengguna narkoba sesuai target Badan Narkotika Nasional pada 2015 sebanyak 100.000 pengguna narkoba bisa direhabilitasi.

Keterangan pers Pusat Penerangan TNI, di Jakarta, Rabu, menyatakan, hal itu salah satu poin dalam Nota Kesepahaman antara TNI dengan BNN yang ditandatangani langsung Kepala BNN, Komisaris Jenderal Polisi Anang Iskandar, dan Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko, di Aula Gatot Subroto, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Tak hanya itu, TNI juga akan dilibatkan dalam upaya pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba serta prekursor narkoba.

"TNI siap menyediakan setiap sarana dan prasarana di Pusdik untuk melaksanakan rehabilitasi para pengguna narkoba itu," katanya.

Khusus untuk Resimen Induk Kodam, Moeldoko menyebutkan, instansi pendidikan militer itu sudah ada di setiap Kodam dan tersebar di seluruh Indonesia.

"Seperti di POM AD itu gedungnya juga cukup besar, kalau digunakan penampungan bisa saja. Selain itu, semua kecabangan punya ruang untuk itu," kata dia. 

"Memang tempat-tempat itu adalah tempat belajarnya prajurit. Nanti proyek percontohannya saya serahkan kepada Pak Anang. Prinsipnya, kami menyediakan sarana dan prasarana, serta prajurit-prajurit untuk dilatih sebagai pembina," ujar Moeldoko.

Namun demikian, tambah Moeldoko, dalam merehabilitasi para pengguna narkoba harus ada batasan yang jelas agar para pengguna narkoba tak menularkan "kebiasaan" buruk itu kepada prajurit TNI.
Iskandar mengatakan, BNN meminta secara khusus kepada TNI untuk menyediakan lokasi-lokasi rehabilitasi para pengguna narkoba, yaitu Pusdik seperti Rindam di masing-masing daerah. BNN tidak mampu mencapai target itu karena kemampuan mereka untuk merehabilitasi pengguna narkoba cuma 2.000 orang setahun.

"Kami meminta tempat-tempat pelatihan militer digunakan sebagai tempat rehabilitasi sosial," kata Iskandar.

Dia membandingkan hal serupa --penggunaan personel dan fasilitas militer untuk merehabilitasi narkoba-- dengan di luar negeri. Thailand, sudah lebih dulu melakukan kerja sama antara pemerintahnya dengan militer.

BNN, lanjut Anang, juga akan melakukan pelatihan kepada para prajurit TNI untuk bisa menjadi pembina dalam upaya rehabilitasi pengguna narkoba.

"Sumber dayanya akan kami latih. Sehingga para personil TNI punya pemahaman bagaimana melakukan rehabilitasi. Kemampuan ini akan digunakan untuk merehabilitasi para pengguna narkoba di Rindam," ujarnya.

Sedangkan terkait penyediaan tenaga personel dari TNI untuk melakukan operasi pencegahan dan pemberantasan narkoba, ujar Iskandar, pihaknya sudah memiliki aturan dan pedoman yang sesuai dengan perundang-undangan.

Dalam aturan tersebut, BNN memang dapat melibatkan aparat TNI untuk melakukan penangkapan, namun keterlibatan aparat TNI ini tidak bisa hingga ke tingkat penyidik.
 

Panglima TNI Protes ke Malaysia soal Peredaran Narkoba

 
Panglima TNI Jenderal Moeldoko di Markas Yonif Linud 700/Raider Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (11/5). (Antara/Hafidz Mubarak A.)
Panglima TNI Jenderal Moeldoko di Markas Yonif Linud 700/Raider Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (11/5). (Antara/Hafidz Mubarak A.)

Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyampaikan komplain kepada Panglima Tentara Diraja Malaysia terkait tingginya peredaran narkoba di wilayah perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia.
“Saya sudah komplain kepada Panglima Malaysia kenapa penjagaan di Malaysia yang ketat begitu kok (pengedar) bisa lari ke perbatasan,” ujar Moeldoko di Markas Besar TNI, Jakarta, Rabu (13/5)
Moeldoko mengeluarkan pernyataan ini menyambung nota kesepahaman antara TNI dan Badan Narkotika Nasional. Moeldoko mengatakan BNN dapat meminjam prajurit TNI dalam setiap operasi pemberantasan peredaran narkotika dan zat aditif lain yang dilarang.
Sementara Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Ade Supendi mengatakan institusinya belum maksimal memagari pintu-pintu menuju Indonesia dari peredaran narkoba. Penyebab utamanya ialah keterbatasan kapal patroli.
“Negara kita itu negara kepulauan. Kapal kita tidak cukup. Harusnya ditutup titik-titik masuk itu,” ucap Ade.
KSAL menekankan dua perbaikan esensial untuk mengawasi pintu masuk ke Indonesia pada jalur laut, yakni kerjasama intensif dengan badan intelejen dalam dan luar negeri, serta pengerahan sarana laut yang dimiliki pemerintah.
Kerjasama antarinstansi yang kuat antara lain antara Kementerian Kelautan dan perikanan, Direktorat Jenderal Imigrasi Kementrian Hukum dan HAM, dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. (CNN Indonesia)

Kasal : Indonesia Butuh Kapal Perang Paten

 
Kapal Perang TNI AL (Antara/M. Risyal Hidayat)
Kapal Perang TNI AL (Antara/M. Risyal Hidayat)

Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, menegaskan, sudah waktunya TNI AL memiliki “kapal hasil arsitek” yang dibuat secara terukur dengan kualitas tinggi dan tidak untung-untungan.
“Jangan lagi kita bersikap bonek (bondho nekat) dalam membuat kapal, atau membuat kapal dengan untung-untungan, untung bisa jalan, untung tidak nabrak. Sudah saatnya kita membuat kapal arsitek,” katanya di Surabaya, Selasa, 12/05/2015.
Dalam sambutan tanpa teks setelah menandatangani piagam kesepakatan bersama antara TNI AL dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), di Kompleks ITS Surabaya, ia menyatakan kerja sama TNI AL-BPPT bertujuan untuk ke arah itu (kapal arsitek), membuat kapal yang betul-betul dikalkulasi semaksimal mungkin secara ilmiah dan diuji secara ilmiah pula.
“Tapi, arsitek yang saya maksud itu bukan orang yang sekadar menggambar desain kapal, melainkan orang yang mendesain, sekaligus mengikuti uji laboratorium bagian-bagian kapal itu untuk mencocokkan hasil uji dengan gambar yang didesainnya,” katanya.
Didampingi Kepala BPPT, Dr Ir Unggul Priyanto MSc, ia mengatakan, arsitek kapal juga harus mengikuti proses pembuatan kapal hingga benar-benar selesai, sehingga ada kecocokan antara gambar (desain), uji (laboratorium), hingga kapal dalam bentuk jadi.
“Dengan demikian, industri perkapalan kita ke depan bukan sekadar industri, melainkan benar-benar ada hubungan antara pemerintah, industri, dan universitas. Hubungan tiga pihak itulah kelemahan kita,” katanya.
Menurut dia, kelemahan itu jika tidak dibenahi justru akan dimanfaatkan orang lain. “Buktinya, hubungan pemerintah dan industri tanpa melibatkan universitas membuat hasil riset universitas kita justru dipakai Malaysia. Ke depan, kita jangan begitu,” katanya.
Dalam penandatanganan program kesepakatan bersama yang dihadiri Rektor ITS, Prof Joni Hermana, Dirut PT PAL, Direktur PPNS, Direktur PENS, dan sebagainya, Priyanto mengatakan, kerja sama TNI AL-BPPT kali merupakan perpanjangan untuk lima tahun berikutnya (2015-2020).
“Tentu, perpanjangan kerja sama itu bermakna strategis terkait dengan kebijakan pemerintah menuju Poros Maritim Dunia, apalagi Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika yang dimiliki BPPT di Surabaya ini merupakan lembaga dengan fasilitas uji yang terbaik dan terbesar di ASEAN,” katanya.
Dalam kerja sama pada periode sebelumnya, TNI AL dan BBPT telah mampu membuat prototipe kapal rawa, pengembangan kapal selama mini 22 meter, rancang bangun alat pertahanan matra laut, dan sebagainya.
“Ke depan, kita bisa kembangkan dengan desain dan rekayasa teknologi kapal cepat, kapal cepat rudal, kapal selam, dan seterusnya, apalagi pemerintah akan menjadikan Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika ini sebagai Pusat Rekayasa Teknologi Industri Maritim,” katanya.
Setelah menandatangani program kesepakatan bersama itu, KSAL beserta jajarannya meninjau ruang uji kapal, seperti uji ketahanan melawan gelombang, serta melihat sejumlah prototipe kapal yang dirancang BPPT, baik kapal angkut maupun kapal selam.

harnas.co

Panglima 3 Brigade Malaysia Kunjungi Tanjung Datu

 
Kasdim 1202/Skw Hadiri Kunjungan Panglima 3 Brigade di Tanjung Datu
Kasdim 1202/Skw Hadiri Kunjungan Panglima 3 Brigade di Tanjung Datu

Bila kita berbicara perbatasan, berarti kita berbicara totalitas kebangsaan dan kenegaraan, karena memang di perbatasan Negara terletak integritas dan harkat serta martabat Bangsa dengan demikian perbatasan Negara merupakan manifestasi utama kedaulatan wilayah suatu Negara. Demikian dikatakan Brigejen Md Yusof Bin Azis saat kunjungan kerja ke perbatasan Malaysia – RI di Temajuk, Kamis belum lama ini.
Selanjutnya dikatakan oleh Brigejen Md Yusof Bin Azis bahwa masalah perbatasan tidak terlepas dari perkembangan lingkungan strategis baik Internasional, Regional maupun Nasional. Diera globalisasi, Dunia makin terorganisasi dan makin tergantung satu sama lain serta saling membutuhkan. Konsep saling keterkaitan dan ketergantungan dalam masyarakat Internasional berpengaru dalam bidang-bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Berbagai permasalahan menonjol di wilayah perbatasan seringkali menyangkut belum adanya kepastian garis batas laut maupun darat. Selain itu, adanya fakta bahwa kondisi masyarakat di wilayah perbatasan tersebut masih tertinggal, baik sumber daya manusia, ekonomi maupun komunitas dan kondisi sosialnya. Keadaan seperti ini menyebabkan munculnya beberapa pelanggaran hukum seperti penyelundupan kayu, tenaga kerja ilegal, munculnya pos-pos lintas batas secara ilegal yang memperbesar terjadinya out migration, economic asset secara ilegal.
Guna mengeleminir permasalahan di perbatasan, melalui tugas pokoknya, Tentara Malaysia (TDM) melaksanakan operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang. Formulasi tugas Brigejen Md Yusof Bin Azis diperbatasan disusun atas dasar kebijakan “terwujudnya pamantapan batas antar Negara dan pengelolaan lintas batas Negara sebagai kunci pengamanan wilayah Malaysia”, dengan strategi mewujudkan sinergitas lintas sektoral guna membangun wilayah perbatasan dalam rangka menjaga dan memelihara, serta meningkatkan kesejahteraan dan keamanan masyarakat di perbatasan Malaysia – RI.
Dalam kesempatan kunjungan kerja ini, Brigejen Md Yusof Bin Azis berharap kepada seluruh unsur-unsur pemerintah daerah masyarakat, serta seluruh komponen Bangsa lainya di propinsi yang memiliki wilayah perbatasan untuk senantiasa menjalin kerjasama. Saya berharap kepada semua komponen untuk lebih peka dan tanggap terhadap setiap kerawanan-kerawanan dan perkembangan yang muncul di wilayah perbatasan sebagai upaya deteksi dini dan cegah dini.
Turut serta mendampingi Brigejen Md Yusof Bin Azis Berserta rombongan Tentara Malaysia (TDM) berjumlah 27 0rang, Dansatgas Pamtas Yonif 644/Wns Letkol Inf Marsana, dan Kasdim 1202/Singkawang Mayor Inf Heri Krisnanto.
TNI.AD.mil.id

Prajurit Raider : Kami Haus Perang

 
Anggota TNI melakukan atraksi saat gladi bersih HUT TNI ke 69 di markas Komando Armada RI Kawasan Timur, Surabaya, Jawa Timur, (04/10/2014). (photo:VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
Anggota TNI melakukan atraksi saat gladi bersih HUT TNI ke 69 di markas Komando Armada RI Kawasan Timur, Surabaya, Jawa Timur, (04/10/2014). (photo:VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)

Anggota Batalion Infanteri (Yonif) 700/Raider, Sersan Satu Darwis, mengaku haus berperang di depan Panglima TNI Jenderal Moeldoko. Darwis mengatakan ia dan rekan-rekannya berharap agar Panglima TNI segera memberi penugasan alias menjalankan sebuah operasi maupun misi.
“Sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah dikasih tugas. Kami jadi haus berperang,” kata bintara peleton ini saat sesi tanya-jawab seusai pengarahan dari Jenderal Moeldoko bersama Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti di Markas Yonif 700/Rider, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin, 11 Mei.
Selama ini, Darwis mengatakan, memang tetap ada penugasan, tapi tidak menyeluruh. Hanya ada beberapa rekannya yang memperoleh misi mengikuti operasi pasukan perdamaian di luar negeri. Darwis menghendaki agar semua pasukan di batalionnya turut diutus menjalankan sebuah operasi.
Menanggapi permintaan anak buahnya itu, Moeldoko mengaku adalah hal yang wajar bila prajurit ingin menjalankan tugas. Terlebih, para prajurit terus berlatih. Toh, pemilihan pasukan yang mengikuti operasi mesti dipertimbangkan secara matang. Pihaknya tentu memilih pasukan yang mempunyai banyak prestasi.
panglima-2
Moeldoko yang pernah sepuluh tahun bertugas di Yonif 700/Rider, mengaku memahami keinginan dan antusiasme anak buahnya. Ia akan mengusahakan memberikan penugasan kepada prajurit yang berada di bekas tempat kerjanya. Dirinya mengetahui bahwa pembinaan pada batalion ini juga amat bagus.
Moeldoko mengakui penugasan memang berkurang mengingat situasi dan kondisi keamanan kian baik. Tak lagi ada aksi Gerakan Aceh Merdeka dan aktivitas serupa lain yang mengancam keutuhan NKRI. “Yang ada, operasi teritorial pengamanan perbatasan atau dikirim ke luar negeri sebagai pasukan perdamaian,” katanya. (Tempo.co).

Rabu, 13 Mei 2015

TNI AL berencana kembangkan "TMC" di laut

TNI AL berencana kembangkan
Foto udara antrean kapal sebelum masuk pelabuhan di kawasan laut bagian utara Jakarta, Minggu.(ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
 
TNI Angkatan Laut berencana mengembangkan "Traffic Management Center" (TMC) untuk lalu lintas laut, yang tujuannya memberikan rasa aman bagi masyarakat di laut serta memberikan informasi mengenai kepadatan jalur laut.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksma TNI Manahan Simorangkir, saat meresmikan Media Center Dispen Koarmatim di Surabaya, Rabu, mengatakan rencana pembentukan TMC seperti yang dimiliki Polri memang ada, dan masih terus dikembangkan.

"Arah ke sana memang ada, sebab tujuan kita adalah untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat kita sendiri atau internasional. Contoh seperti di Selat Malaka, Selat Sunda atau di tempat yang traffick-nya padat atau berbahaya adanya perompakan dan kecelakaan navigasi, perlu sekali adanya semacam TMC," ucapnya.

Terkait rencana itu pula, Manahan mengaku pernah salah satu "vendor" atau penjual alat/jaringan komunikasi menawarkan kepada TNI AL sebuah alat canggih yang bisa digunakan untuk siaran langsung, namun masih dalam penjajakan.

"Rencana itu memang ada, namun prioritas kami saat ini masih melengkapi peralatan dan mengembangkan yang ada. Tentunya, setiap informasi yang akan dikeluarkan juga harus dipilah, mana yang untuk publik dan mana yang merupakan rahasia negara," katanya.

Ia mengatakan, upaya yang dilakukan saat ini adalah mengembangkan keberadaan media center untuk Dispen Koarmatim dan beberapa jajaran lainnya, sehingga bisa terintegrasi dan melaksanakan monitoring terkait pemberitaan mengenai Angkatan Laut.

"Awal pengembangan media center karena pesatnya media saat ini, sehingga menuntut penyesuaian dan peningkatan jajaran penerangan TNI Angkatan Laut dalam rangka membangun opini dan merebut hati dan pikiran rakyat agar mendukung tugas TNI AL," katanya.

Ia berharap, dengan adanya pengembangan teknologi di bidang penerangan dapat membentuk lingkungan informasi yang sesuai dengan kepentingan TNI AL, sehingga mendukung tugas-tugas TNI AL.
 

M16 vs AK-47: Mana Yang Lebih Unggul?

1
Jenis senapan serbu di dunia memang beragam, masing-masing negara maju umumnya punya platform pengembangan sendiri sesuai spesifikasi yang dibutuhkan. Tapi harus diakui hanya ada dua poros senjata yang punya nilai fanatisme besar dan membawa pengaruh demikian luas, yakni M16 dan AK (Avtomat Kalshnikova)-47. Keduanya bisa diibaratkan menjadi dua mahzab tersendiri dalam jagad senjata, M16 mewakili nama besar Amerika Serikat, dan AK-47 mewakili superioritas kubu Rusia.
Mengiringi babak demi babak peperangan di seluruh dunia, dan tentunya gengsi AS dan Uni Soviet dalam era Perang Dingin, kedua senjata tak pelak menjadi lambang dominasi kekuatan militer, bahkan membawa pengaruh dalam urusan politik. Sebagai contoh, AK-47 bahkan dijadikan ikon dalam bendera nasional Mozambik. Dilahirkan dari dua kutub yang berbeda, M16 dan AK-47 juga disajikan dengan kalibe peluru yang berbeda, tentunya dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Bendera Mozambik.
Bendera Mozambik.
Dua perancang senjata bertemu, Mikhail Kalashnikov, perancang AK-47 (memegang M16) dan  Eugone Stoner, perancang M16 (memegang AK-47).
Dua perancang senjata bertemu, Mikhail Kalashnikov, perancang AK-47 (memegang M16) dan Eugone Stoner, perancang M16 (memegang AK-47).
Perseteruan antara M16 dan AK-47 untuk memenangkan predikat terbaik di antara senapan serbu sudah berlangsung cukup lama. Karena tidak ada pemenang definif, maka saluran dokumenter TV di Amerika Discovery Channel, membuat satu program spesial: Battle of The Centuries, M16 vs AK-47. Tujuannya untuk mencari juara sejati dari masing-masing kubu. Versi yang dipakaiu M16 adalah versi Vietnam dan M16-A2 karena memiliki fitur full auto. Sementara AK-47 yang digunakan adalah versi awal buatan Izmash. Penilaian dibagi ke dalam tujuh aspek:
1. Segi ergonomis
Pemakai M16 rata-rata tidak memiliki keluhan mengenai postur M16. Sedangkan AK-47 dinilai terlalu berat dan kaku, popornya terlalu pendek sehingga kurang nyaman di bahu.
2. Akurasi
Kedua diwajibkan menembak semi auto, target alumunium pada jarak 600 yard. Tembakan dilakukan enam kali. Selurun tembakan M16-A2 mengenai target dengan persebaran 13-14 inchi. Sementara dari enam tembakan, AK-47 hanya mampu mengenai satu kali, itu pun dikiri bawah.
M16_and_AK-47_length_compar
3. Tes keandalan
Kedua senjata dimasukkan ke lumpur, air dan pasir. M16 jelas kalah dan macet. Legenda AK terbukti, senapan ini bisa terus ditembakkan tanpa macet.
4. Tes recoil
Pada mode full auto, sesudah tembakan ke 12, tembakan AK-47 sudah mengarah ke atap, sementara M16-A1 baru keluar dari target sesudah 24 tembakan.
5. Tes power
Setiap senjata harus menembak melaluio blok kayu Cinder seberat 35 pon setebal 12 inchi. Tembakan M16-A2 hanya menembus 2/3 blok, sementara AK-47 berhasil menembus kayu, sekaligus memecahkannya menjadi tiga bagian.
6. Tes penetrasi
Papan tripleks berukuran 2×4 inchi disusun berdempetan setebal 9 inchi. Peluru kaliber 5,56 mm dari M16-A2 mampu menembus sedalam 3/5 bagian, sementara AK-47 menembus semua tripleks, sembari memecahkan tiga tripleks menjadi beberapa bagian.
7. Harga
M16 punya price tag lebih tinggi 1,5 kali dari AK-47. M16 baru rata-rata berharga US$750 – US$1.000, sementara AK-47 hanya US$500, bahkan lebih murah untuk kopiannya yang dibuat di Cina.
Dari paparan diatas, jelas AK-47 unggul dalam pertarungan melawan M16. Akan tetapi, bukan otomatis AK-47 buru-buru dibeli banyak angkatan bersenjata. Bagi penganut jarak tembak efektif lebih penting dari segalanya, bisa ikut pakem AS yang menggunakan M16. Terlebih M16 unggul dalam hal kenyamanan dan akurasi. Akan tetapi, bagi yang memilih sisi keandalan, daya tahan, dan daya bunuh, maka pilihannya adalah AK-47.
Spesifikasi M16
Spesifikasi M16
Spesifikasi AK-47
Spesifikasi AK-47
Bagi Indonesia, yang sejak lama masuk dalam pusaran pengaruh AS dan Uni Soviet, sudah barang tentu sangat akrab dengan identitas M16 dan AK-47. Kedua senjata pernah menjadi senjata standar TNI dalam beberapa dekade. Meski pamor senjata serbu di lingkungan TNI telah beralih ke generasi Pindad SS-1 dan SS-2, namun turunan varian dari M16 dan AK-47 hingga kini masih cukup banyak dipakai di lingkungan satuan elit TNI dan Polri.