Minggu, 10 Mei 2015

Komandan Sektor Timur UNIFIL tinjau area Indobatt

Komandan Sektor Timur UNIFIL tinjau area Indobatt
Ilustrasi. Tim COE (Contingent Owned Equipment) UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) menggelar Operational Readiness Inspection (ORI) atau pemeriksaan terhadap kesiapan operasional materiil dan perlengkapan Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil (Indobatt/Indonesian Battalion) di UN Posn 7-1, Adchit Al Qusayr Lebanon Selatan, Senin (2/3). UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) sebagai perwakilan PBB di wilayah Lebanon menuntut seluruh satuan yang dikirimkan negara-negara pengirim atau Troops Contributing Country (TCC) harus memiliki kesiapan operasional sesuai standar yang telah ditetapkan. (ANTARA FOTO/Penerangan Konga XXIII-I/Unifil/HO/Koz)
 
Komandan Sektor Timur UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) Brigjen Antonio Ruiz Olmos dari Spanyol meninjau Area Operasi Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-I/Unifil atau Indobatt (Indonesian Battalion) di sekitar Lebanon Selatan.

Perwira Penerangan Konga XXIII-I/Unifil, Kapten Laut (KH) Ahmad Suberlian, dalam surat elektronik yang diterima Antara di Surabaya, Minggu, melaporkan Komandan Sektor Timur UNIFIL Brigjen Antonio Ruiz Olmos dalam kunjungan pada Jumat (8/5) itu didampingi oleh Wakil Komandan (Wadan) Sektor Timur Kolonel Kav Yotanabey.

Brigjen Antonio Ruiz Olmos meninjau Area Operasi Kompi Alfa di UN Pos 9-63 untuk melihat secara langsung kegiatan Prajurit Indobatt serta meninjau Pos B-78 dan TP-36 yang berada di sekitar pagar perbatasan negara (blue line) Lebanon dengan Israel.

Selanjutnya, Brigjen Antonio Ruiz Olmos didampingi Kolonel Kav Yotanabey mengunjungi Markas Indobatt Konga XXIII-I/Unifil, kedatangannya disambut oleh Wakil Komandan Satgas (Wadansatgas) Indobatt Mayor Inf Eko Handono, para Perwira Staf serta seluruh prajurit Indobatt, di Markas Indobatt UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Lebanon Selatan.

Dalam sambutannya, Komandan Sektor Timur yang didampingi oleh Wadan Sektor Timur dan Wadansatgas Indobatt mengucapkan terima kasih atas pelaksanaan tugas yang telah ditunjukkan personel Indobatt di lapangan selama ini dan menekankan faktor keamanan dalam melaksanakan tugas.

"Saya selaku Komandan Sektor Timur mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Satgas Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-I/Unifil di bawah pimpinan Letkol Inf Andreas Nanang Dwi P yang telah menjalankan tugas di Lebanon Selatan dengan sangat baik dan penuh prestasi selama saya ditugaskan oleh PBB sebagai Komandan Sektor Timur UNIFIL di Lebanon Selatan," kata Brigjen Antonio.

Selanjutnya, Komandan Sektor Timur Unifil beserta rombongan menyaksikan Kesenian Reog asli Indonesia yang ditampilkan oleh para prajurit Cimic (Civilian Military Cordination) Indobatt dibawah pimpinan Kapten Inf Seto Purnomo.

Sebelum meninggalkan Markas Indobatt UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Lebanon Selatan, Wadansatgas Indobatt Mayor Inf Eko Handono memberikan kenang-kenangan berupa cinderamata khas Indonesia kepada Komandan Sektor Timur Brigjen Antonio Ruiz Olmos, dan begitu juga sebaliknya, lalu dilanjutkan foto bersama dengan seluruh prajurit Indobatt. 
 

PT PAL Bangun Tiga Kapal Selam

 
Kapal selam Type 209 Jerman yang dimodifikasi India
Kapal selam Type 209 Jerman yang dimodifikasi India

Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) telah menunjuk ITS Surabaya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang.
“Kita sudah memiliki Pusat Desain Kapal Nasional, lalu Kemenhan meningkatkan statusnya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang,” kata Dekan FTK ITS Prof Eko Budi Djatmiko di Surabaya, Sabtu (9/5/2015).
Ditemui di sela “Marine Icon 2015″ yang diselenggarakan mahasiswa FTK ITS di kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya, 8-10 Mei itu, ia menjelaskan penunjukan tersebut merupakan bagian dari peran ITS mendukung Poros Maritim.
“Untuk mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, banyak dosen ITS ditarik ke pusat untuk membantu dalam mewujudkan kebijakan Presiden Joko Widodo itu,” katanya.
Selain penunjukan sebagai pusat desain dan rekayasa kapal perang, ITS juga diminta membantu dalam membangun tol laut dan pembuatan kapal selam di PT PAL yang merupakan kerja sama antara Indonesia dengan Korea.
“Untuk itu, ITS diminta membantu untuk menyiapkan desain pembangunan galangan kapal selam, karena kerja sama dengan Korea itu sudah ditindaklanjuti dengan membuat dua kapal selam di Korea,” katanya.
Tahun berikutnya, kerja sama pembuatan lima kapal selam itu akan dilanjutkan dengan membangun tiga kapal selam sisanya di PT PAL.
“Sejak tahun 1960, ITS sebenarnya sudah mendapat amanah untuk menyiapkan teknologi kemaritiman, namun selalu terkendala dengan kebijakan pemerintah,” katanya saat mendampingi Rektor ITS Prof Joni Hermana.
Untuk itu, ITS akan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia itu dengan menyiapkan desain galangan kapal berukuran besar, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia untuk galangan itu.
“Dengan demikian, kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter, bukan sekadar kapal patroli berukuran besar seperti selama ini,” katanya.
Ketua Panitia “Marine Icon 2015″ ITS, Nityasa Manuswara, Marine Icon 2015 yang dibuka Rektor ITS Prof Joni Hermana (8/5) itu, juga bukan sekadar lomba, namun untuk menggugah kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya kemaritiman bagi Bangsa Indonesia.
“Kita lihat kenyataan Indonesia adalah negara maritim, tapi masyarakat belum sadar bahwa kita masyarakat maritim. Buktinya, masih banyak masyarakat yang ‘concern’ ke daratan,” katanya.
Lomba dengan tema “Berkarya Bersama Membangun Peradaban Maritim Indonesia” yang digelar di kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya pada Jumat (8/5) hingga Minggu (10/5) itu, mempertandingkan enam jenis lomba dan memperebutkan Piala Menpora.
Sebanyak enam jenis lomba adalah Marine Diesel Assembling (bongkar pasang mesin diesel) bagi siswa SMK, Waterbike Competition (sepeda air), National Maritime Paper and Essay Competition (lomba karya tulis kemaritiman), Pop Pop Boat Race (kapal uap/perahu tok-tok), Marine Photography Contest (lomba foto kemaritiman), dan Dragon Boat Race (lomba dayung/lomba balap perahu naga). (Kompas.com).

Masa Depan Kemandirian Roket Nasional

 
Berdasarkan penelusuran di  Kementerian Pertahanan, ide produksi roket dalam negeri mulai tercetus tahun 2007. Saat itu Kemenristek membentuk Tim D-230 untuk mengembangkan penelitian roket hulu ledak berdiameter 122 milimeter dengan jarak jangkau 20 kilometer.
Prototipe roket D-230 itu dibeli Kementerian Pertahanan yang  menggandeng PT Pindad Indonesia, untuk memperkuat program 1.000 roket. Roket R-Han 122 merupakan pengembangan dari roket sebelumnya, yaitu D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan oleh Kemenristek dengan kecepatan maksimum 1,8 mach yang uji coba peluncurannya  berlangsung mulus.
Roket R-Han 122 ini merupakan hasil kerja sama yang sinergis antara Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenriset), PT Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya. Selanjutnya melakukan integrasi roket dengan penambahan warhead (hulu ledak) sehingga roket berfungsi sebagai senjata yang memiliki daya ledak yang optimal dengan sasaran darat ke darat dengan jarak tembak antara 11-14 km.
Dengan adanya integrasi prototipe roket warhead ini, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Alutsista TNI yang selama ini masih tergantung dari luar negeri.

Proses Pembuatan Roket R Han 122
Saat memasuki bisnis massal, pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketuanya adalah Bapak Sonny Ibrahim sebagai Ketua Program Roket Nasional PT DI yang menjelaskan bahwa rencana pembuatan roket secara massal sebenarnya sudah ada sejak 2005.
Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut. Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket. Selain digunakan sebagai sistem pertahanan juga akan digunakan sebagai penelitian satelit. Dalam konsorsium tersebut terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan laras 16/warhead dan mobil launcher (hulu ledak).
Kemudian, PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel untuk mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT DI membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuhnya roket.
ITB turut menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Demikian halnya dengan UGM Yogya, ITS Surabaya, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Suryadharma, Universitas Negeri 11 Maret dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang terlibat dalam proses pembuatannya.
Proses Riset Roket R-Han 122
Pembuatan roket militer ini cukup menarik, karena para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122. Pada awalnya, tahun 2003 silam periset menggunakan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi kemudian produk tersebut justru cepat jebol. Maka dari itu, mulai diperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 Celcius.
Pembakaran itu bisa berakibat fatal, apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas. Untuk materialnya, dipilih bahan ringan, yakni aluminium, agar bisa menghambat panas.
Sehingga termalnya dapat bekerja dengan cukup baik, dan roket itu pun akhirnya dapat terbang tepat sasaran serta tidak pernah rusak selama uji coba. Serangkaian uji coba roket itu, untuk melihat kemampuan strategis yang dimiliki oleh industri pertahanan dalam negeri kita dalam menguasai ilmu peroketan.
Banyak negara maju yang sudah menguasai ilmu tersebut, namun enggan membagi karena dinilai sangat strategis. Maka dari itu, Pemerintah berusaha mengadakan penelitian dan mengembangkan kemampuan yang ada guna menguasai teknologi tersebut untuk kepentingan nasional ke depannya.
Uji coba ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan teknologi di bidang roket. Pemerintah bersama dengan industri strategi bersinergi dalam hal ini untuk mengembangkan roket.
Pengembangan Roket R-Han 122
Dalam pengembangannya, Indonesia harus mandiri dalam penelitian dan rekayasa teknologi di bidang pertahanan negara sebagai pemacu para peneliti Indonesia. Oleh karena itu, Roket berkaliber 122 mm ini terwujud yang rencananya akan ditempatkan sebagian besar di KRI (kapal-kapal perang RI).
Tak ketinggalan juga, Armed yang menjadi bagian dari institusi TNI Angkatan Darat dilibatkan dalam penggunaan senjata ini karena fokus sasarannya  adalah sasaran darat. Roket R-Han 122 ini juga dikembangkan dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industri dalam negeri.
Selama ini, Indonesia masih membeli roket dari negara lain.
“Dengan harga satu roket R-Han 122 membutuhkan dana Rp 75 juta yang artinya untuk 500 roket dibutuhkan Rp 37,5 miliar akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli dari luar negeri yang harganya mencapai 110 juta rupiah per roket,” jelas Menhan saat itu, Purnomo Yusgiantoro.
500 roket tahap awal ini merupakan bagian dari 1.000 roket yang ditargetkan. Idealnya kebutuhan roket untuk peralatan pertahanan RI lebih dari 500 unit. Sebanyak 750 roket diselesaikan pembuatannya pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 dirampungkan program produksi 1.000 roket pertahanan untuk TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.
Roket R-Han ini tidak dijual ke luar negeri, karena masih dalam proses penyempurnaan. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dipasarkan jika nantinya pengujiannya sudah selesai. Untuk R-Han 122 sudah menemui hasil yang menggembirakan, sekarang sedang menyempurnakan roket D-230.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas membutuhkan sistem pertahanan yang  lebih baik untuk mempertahankan wilayahnya terutama wilayah perbatasan.Dengan produksi mandiri ini, maka negara-negara lain tidak akan mudah meremehkan produksi hasil karya putera bangsa Indonesia sehingga meningkatkan detterence/ efek gentar yang dimiliki oleh TNI.
Rencana kedepannya Kemhan bersama Konsorsium Roket Nasional sedang mengembangkan roket kaliber 320 dengan jarak capai 70 km, dan Kaliber 450 dengan jarak capai sekitar 100 km. Semoga semua bisa dilaksanakan dengan baik, dan kemandirian alutsista strategis ini bisa membanggakan negeri tercinta ini.

(Kemenperin dan berbagai Sumber) JKGR.

Sabtu, 09 Mei 2015

ITS jadi pusat rekayasa kapal perang

ITS jadi pusat rekayasa kapal perang
Dokumentasi (ANTARA FOTO/Zainuddin MN)
kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter"
Kementerian Pertahanan telah menunjuk ITS Surabaya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang.

"Kita sudah memiliki Pusat Desain Kapal Nasional, lalu Kemenhan meningkatkan statusnya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang," kata Dekan FTK ITS Prof Eko Budi Djatmiko di Surabaya, Sabtu.

Ditemui di sela "Marine Icon 2015" yang diselenggarakan mahasiswa FTK ITS di kawasan Monumen Kapal Selam Surabaya, dia menjelaskan penunjukan itu adalah bagian dari peran ITS dalam mendukung Poros Maritim.

"Untuk mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, banyak dosen ITS ditarik ke pusat untuk membantu dalam mewujudkan kebijakan Presiden Joko Widodo itu," katanya.

Selain penunjukan sebagai pusat desain dan rekayasa kapal perang, ITS juga diminta membantu membangun tol laut dan pembuatan kapal selam di PT PAL yang merupakan kerja sama antara Indonesia dengan Korea Selatan.

Tahun berikutnya, kerja sama pembuatan lima kapal selam itu akan dilanjutkan dengan membangun tiga kapal selam sisanya di PT PAL.

"Sejak tahun 1960, ITS sebenarnya sudah mendapat amanah untuk menyiapkan teknologi kemaritiman, namun selalu terkendala dengan kebijakan pemerintah," katanya.

ITS akan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia itu dengan menyiapkan desain galangan kapal berukuran besar, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia untuk galangan itu.

"Dengan demikian, kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter, bukan sekadar kapal patroli berukuran besar seperti selama ini," katanya.

Ketua Panitia "Marine Icon 2015" ITS, Nityasa Manuswara, Marine Icon 2015 yang dibuka Rektor ITS Prof Joni Hermana (8/5) itu bukan sekadar lomba, namun untuk menggugah kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya kemaritiman bagi bangsa Indonesia.

"Kita lihat kenyataan Indonesia adalah negara maritim, tapi masyarakat belum sadar bahwa kita masyarakat maritim. Buktinya, masih banyak masyarakat yang concern ke daratan," katanya.

Lomba dengan tema "Berkarya Bersama Membangun Peradaban Maritim Indonesia" yang digelar di kawasan Monumen Kapal Selam pada Jumat hingga Minggu esok itu,mempertandingkan enam jenis lomba dan memperebutkan Piala Menpora.

Keenam jenis lomba adalah Marine Diesel Assembling (bongkar pasang mesin diesel) bagi siswa SMK, Waterbike Competition (sepeda air), National Maritime Paper and Essay Competition (lomba karya tulis kemaritiman), Pop Pop Boat Race (kapal uap/perahu tok-tok), Marine Photography Contest (lomba foto kemaritiman), dan Dragon Boat Race (lomba dayung/lomba balap perahu naga).
 

Seorang tentara Malaysia ditangkap di Sebatik

 
Wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia (istimewa)
Wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia (istimewa)

Nunukan – Seorang anggota tentara Malaysia tertangkap aparat Kepolisian Sektor Sei Nyamuk Kecamatan Sebatik Timur Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, karena masuk secara ilegal atau tidak menggunakan paspor.
Kepala Polsek Sei Nyamuk, Iptu Oman di Pulau Sebatik, Jumat malam menerangkan, anggota tentara Malaysia tersebut diamankan ketika ditemukan di Pelabuhan Sei Nyamuk sekitar pukul 09.30 WITA.
Kapolsek Sei Nyamuk menegaskan, saat dilakukan interogasi kepadanya, ia mengaku sebagai warga negara Malaysia yang masuk ke Pulau Sebatik untuk menemui keluarganya yang berada di Kabupaten Nunukan Kota Tarakan dan Kabupaten Berau (Kaltim).
WN Malaysia ini diketahui sebagai seorang anggota tentara ketika dilakukan penggeledahan ditemukan kartu anggota nomor 6191458 dengan pangkat LLP atas nama Raymonega Bin Taguna kelahiran 17 Mei 1986.
Pada kartu pengenal itu pula, dia diketahui bersuku bangsa Murut Negeri Sabah sebagai pasukan REJ 507 AW tentara Malaysia di Pengawal Keselamatan Security Guard Apartemen yang beralamat Penampang Kota Kinabalu Negeri Sabah.
“Jadi ketika diinterogasi yang bersangkutan mengaku sengaja tidak membawa Identity Card Malaysia miliknya supaya dianggap sebagai warga Malaysia biasa,” ujar Oman melalui pernyataan tertulisnya.
Sehubungan dengan penangkapan anggota tentara Malaysia ini, aparat kepolisian setempat langsung menyerahkannya kepada petugas Imigrasi Pulau Sebatik untuk diamankan dan ditindaklanjuti. (ANTARA News)

AS Tawari Indonesia Paket Rudal AIM-9X Sidewinder Senilai US$47 Juta

AIM9X_01
Jika tak ada aral melintang, nantinyaTNI AU akan memiliki 33 unit F-16 Fighting Falcon, terdiri dari varian generasi F-16 A/B yang sejak tahun 90-an memperkuat Skadron Udara 3 dan 24 unit F-16 C/D Block 25 yang di upgrade ke Block 52ID. Bertambahnya populasi Elang Penempur sudah pasti membutuhkan beberapa kesiapan, selain urusan logistik dan perawatan, yang juga penting adalah bekal persenjataan yang melengkapi armada multirole fighter tersebut.
Selain bekal kanon internal Gatling Vulcan M61A1 kaliber 20 mm, pasangan paling serasi F-16 adalah rudal udara ke udara jarak pendek AIM-9 Sidewinder. TNI AU pun tak asing dengan rudal buatan Raytheon Company ini. Sejak era hadirnya F-5 E/F Tiger II di awal tahun 80-an, TNI AU mulai mengenal sosok rudal pemburu panas lewat jenis AIM-9 P2 Sidewinder. Berlanjut pada kedatangan 12 unit F-16 A/B Fighting Falcon di awal tahun 90-an, TNI AU mulai menggunakan versi yang lebih maju, AIM-9 P4 yang dapat ditembakkan dari beragam sudut. AIM-9 P4 juga dipasang pada jet tempur Hawk 200/209 TNI AU.
AIM-9X
Dua varian Sidewinder TNI AU yang disebut diatas tentu kini sudah usang. Sebagai gantinya kini ada varian tercanggih AIM-9X Sidewinder. Di kawasan Asia Tenggara, rudal ini memang lebih dulu digunakan Singapura dan Malaysia. Nah, kabar dari situs airforce-technology.com (6/5/2015) menyebutkan US State Department telah menyetujui potensi penjualan rudal AIM-9X ke Indonesia dalam program FMS (Foreign Military Sale). Potensi penjualan yang disetujui mencakup penjualan sistem rudal utama, peralatan pendukung, suku cadang, dan logistik. Pihak Defense Security Cooperation Agency telah mengabarkan ke pihak kongres AS tentang potensi penjualan ini, nilai penjualan yang ditaksir mencapai US$47 juta.
AIM-9X Sidewinder, menjadi rudal andalan F-15SG dan F-16 AU Singapura
AIM-9X Sidewinder, menjadi rudal andalan F-15SG dan F-16 AU Singapura

Paket penjualan AIM-9X Sidewinder ke Indonesia mencakup pengiriman 30 unit rudal AIM-9X-2 Sidewinder Block II, 20 unit AIM-9X-2 captive air training missiles (CATM), 2 unit CATM-9X-2 Block II tactical missile guidance units, 4 unit CATM-9X-2 Block II guidance units, dan dua dummy air training missile. Pembelian ini lumayan komplit, karena mencakup ke aspek rudal dummy untuk keperluan latihan. Sebagai perbandingan, Singapura setidaknya empat tahun lalu telah memiliki 200 rudal AIM-9X.
Termasuk dalam paket US$47 juta adalah container rudal, perangkat test sets, peralatan pendukung, suku cadang, perbaikan, dokumen teknis, pelatihan personil, dan peralatan latihan. Hadirnya rudal ini memungkinkan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan penangkalan ancaman serta menangani stabilitas regional dan memperkuat pertahanan teritori. Dengan adopsi rudal yang telah digunakan Singapura, Malaysia, dan Australia, juga akan membantu Indonesia meningkatkan upaya koalisi dukungan pertahanan di masa kini dan masa depan. AS pun punya kepentingan lebih jauh, seperti interoperabilitas persenjataan dengan kekuatan militer AS.
AIM-9X merupakan versi termutakhir dari Sidewinder yang mampu menghancurkan target di jarak 20 Km, mulai dikembangkan pada tahun 1996. AIM-9 memppunyai kemampuan first shot dan first kill yang lebih responsif. Rudal ini dilengkapi thrust vectoring yang terhubung ke guidance fins, artinya rudal dapat menguber target yang berbelok sekalipun. Radius putar AIM-9X mencapai 120 meter, dengan kemampuan ini, saat penembakan pesawat peluncur tidak lagi harus melakukan manuver untuk menyesuaikan dengan target. Cukup lepas AM-9X, selanjutnya rudal akan menguber target sendiri.
AIM-9X mulai dioperasikan jajaran militer AS pada tahun 2003, dan kini sudah digunakan oleh 40 negara. Untuk mengoperasikannya rudal ini diintegrasikan dalam joint mounted helmet mounted cuing system (JHMCS) buatan Boeing yang dikenakan pilot. Tak heran, AIM-9X menjadi rudal andalan untuk jet-jet tempur mutakhir AS, seperti F-22 Raptor dan F-15 Strike Eagle. (Bayu Pamungkas)

KRI Banjarmasin 592 Siap “Show of Force” di World Expo Milan 2015

oke2
Indonesia nampak begitu bangga dengan keberadaan armada LPD (Landing Platform Dock). Selain punya bobot masif, kapal angkut multirole ini memang punya nilai strategis, maklum beragam peran, LPD dapat menjalankan misi urusan angkut logistik, pendaratan amfibi, bahkan dengan deck yang luas, LPD dapat membawa 3 helikopter ukurang sedang. Karena fungsi yang strategis, tak jarang LPD di dapuk sebagai kapal markas dalam operasi gugus tempur TNI AL.
Dari beberapa unit LPD dalam etalase TNI AL, nama KRI Banjarmasin 592 punya arti sendiri, pasalnya KRI Banjarmasin 592 sudah berlabel battle proven, alias sudah pernah diajak dalam operasi militer yang sesungguhnya. Tepatnya dalam misi pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang dibajak di Perairan Somalia pada tahun 2011. KRI Banjarmasin 592 yang tergabung dalam Satuan Tugas Merah Putih, menjadi kapal markas yang membawa aneka perlengkapan tempur, termasuk tank amfibi BMP-3F dan howitzer LG-1 MK II, mengantisipasi jika harus dilakukan operasi pendaratan.
Misi operasi lintas samudera inilah yang menjadi torehan emas KRI Banjarmasin 592. Lebih penting lagi, KRI Banjarmasin 592 adalah buatan PT PAL di Surabaya, bersama dengan LPD KRI Banda Aceh 593. KRI Banjarmasin 592 merupakan hasil dari keberhasilan alih teknologi (ToT/transfer of technology), karena rancangan aslinya berasal dari LPD buatan Daesun Shipbuilding dan Daewoo International Corporation, Korea Selatan.
oke1
Menjadi LPD unggulan produksi dalam negeri, maka Indonesia mengirimkan KRI Banjarmasin 592 untuk mengikuti perhelatan dunia dalam World Expo Milan (WEM) 2015 di Italia. KRI Banjarmasin telah berangkat dari Tanah Air pada 28 April lalu. Berdasarkan catatan Pangkalan Armada Laut Timur, KRI Banjarmasin 592 ini akan menempuh jarak sepanjang 32.695 kilometer dalam pelayaran Kartika Jala Krida (KJK). Rutenya adalah Surabaya-Belawan-Cochin (India)-Salalah (Oman)-Alexandria (Mesir)-Genoa (Italia). Kemudian dari Genoa menuju Jeddah (Arab Saudi)-Karachi (Pakistan)-Padang-Jakarta dan kembali ke Surabaya. Penampilan KRI Banjarmasin 592 di WEM dimaksudkan sebagai unjuk kemampuan akan kapabilitas Indonesia (PT PAL) untuk membangun kapal sekelas LPD. Sebelumnya pemerintah Filipina juga telah memesan unit kapal sejenis ke PT PAL.
WEM 2015 akan berlangung mulai 1 Mei hingga 31 Oktober 2015. KRI Banjarmasin ini akan berada di Milan bersama 145 negara yang mengikuti perhelatan di Milan tersebut. KRI Banjarmasin 592 memiliki bobot bersih sepuluh ribu ton, dengan panjang 125 meter dan lebar 22 Meter. KRI ini mampu memuat 18 tank amfibi dan lima unit helikopter. pada ruang belakang di bawah dek hekilopter terdapat dockwell, inilah yang menjadi identitas LPD. Fasilitas mirip dock terapung ini berfungsi untuk lalu lalang kapal pendarat LCU (Landing Craft Utility). Ada dua LCU yang dapat dibawa. Nah, untuk akses keluar masuk LCU menggunakan pintu palka yang terletak di bagian buritan (stern ramp) LPD. KRI Banjarmasin 592 selesai pada tahun 2007 dan diserahkan kepada TNI AL pada tahun 2009. (Taufik)