Minggu, 10 Mei 2015

Masa Depan Kemandirian Roket Nasional

 
Berdasarkan penelusuran di  Kementerian Pertahanan, ide produksi roket dalam negeri mulai tercetus tahun 2007. Saat itu Kemenristek membentuk Tim D-230 untuk mengembangkan penelitian roket hulu ledak berdiameter 122 milimeter dengan jarak jangkau 20 kilometer.
Prototipe roket D-230 itu dibeli Kementerian Pertahanan yang  menggandeng PT Pindad Indonesia, untuk memperkuat program 1.000 roket. Roket R-Han 122 merupakan pengembangan dari roket sebelumnya, yaitu D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan oleh Kemenristek dengan kecepatan maksimum 1,8 mach yang uji coba peluncurannya  berlangsung mulus.
Roket R-Han 122 ini merupakan hasil kerja sama yang sinergis antara Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenriset), PT Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya. Selanjutnya melakukan integrasi roket dengan penambahan warhead (hulu ledak) sehingga roket berfungsi sebagai senjata yang memiliki daya ledak yang optimal dengan sasaran darat ke darat dengan jarak tembak antara 11-14 km.
Dengan adanya integrasi prototipe roket warhead ini, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Alutsista TNI yang selama ini masih tergantung dari luar negeri.

Proses Pembuatan Roket R Han 122
Saat memasuki bisnis massal, pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketuanya adalah Bapak Sonny Ibrahim sebagai Ketua Program Roket Nasional PT DI yang menjelaskan bahwa rencana pembuatan roket secara massal sebenarnya sudah ada sejak 2005.
Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut. Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket. Selain digunakan sebagai sistem pertahanan juga akan digunakan sebagai penelitian satelit. Dalam konsorsium tersebut terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan laras 16/warhead dan mobil launcher (hulu ledak).
Kemudian, PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel untuk mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT DI membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuhnya roket.
ITB turut menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Demikian halnya dengan UGM Yogya, ITS Surabaya, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Suryadharma, Universitas Negeri 11 Maret dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang terlibat dalam proses pembuatannya.
Proses Riset Roket R-Han 122
Pembuatan roket militer ini cukup menarik, karena para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122. Pada awalnya, tahun 2003 silam periset menggunakan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi kemudian produk tersebut justru cepat jebol. Maka dari itu, mulai diperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 Celcius.
Pembakaran itu bisa berakibat fatal, apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas. Untuk materialnya, dipilih bahan ringan, yakni aluminium, agar bisa menghambat panas.
Sehingga termalnya dapat bekerja dengan cukup baik, dan roket itu pun akhirnya dapat terbang tepat sasaran serta tidak pernah rusak selama uji coba. Serangkaian uji coba roket itu, untuk melihat kemampuan strategis yang dimiliki oleh industri pertahanan dalam negeri kita dalam menguasai ilmu peroketan.
Banyak negara maju yang sudah menguasai ilmu tersebut, namun enggan membagi karena dinilai sangat strategis. Maka dari itu, Pemerintah berusaha mengadakan penelitian dan mengembangkan kemampuan yang ada guna menguasai teknologi tersebut untuk kepentingan nasional ke depannya.
Uji coba ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan teknologi di bidang roket. Pemerintah bersama dengan industri strategi bersinergi dalam hal ini untuk mengembangkan roket.
Pengembangan Roket R-Han 122
Dalam pengembangannya, Indonesia harus mandiri dalam penelitian dan rekayasa teknologi di bidang pertahanan negara sebagai pemacu para peneliti Indonesia. Oleh karena itu, Roket berkaliber 122 mm ini terwujud yang rencananya akan ditempatkan sebagian besar di KRI (kapal-kapal perang RI).
Tak ketinggalan juga, Armed yang menjadi bagian dari institusi TNI Angkatan Darat dilibatkan dalam penggunaan senjata ini karena fokus sasarannya  adalah sasaran darat. Roket R-Han 122 ini juga dikembangkan dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industri dalam negeri.
Selama ini, Indonesia masih membeli roket dari negara lain.
“Dengan harga satu roket R-Han 122 membutuhkan dana Rp 75 juta yang artinya untuk 500 roket dibutuhkan Rp 37,5 miliar akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli dari luar negeri yang harganya mencapai 110 juta rupiah per roket,” jelas Menhan saat itu, Purnomo Yusgiantoro.
500 roket tahap awal ini merupakan bagian dari 1.000 roket yang ditargetkan. Idealnya kebutuhan roket untuk peralatan pertahanan RI lebih dari 500 unit. Sebanyak 750 roket diselesaikan pembuatannya pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 dirampungkan program produksi 1.000 roket pertahanan untuk TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.
Roket R-Han ini tidak dijual ke luar negeri, karena masih dalam proses penyempurnaan. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dipasarkan jika nantinya pengujiannya sudah selesai. Untuk R-Han 122 sudah menemui hasil yang menggembirakan, sekarang sedang menyempurnakan roket D-230.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas membutuhkan sistem pertahanan yang  lebih baik untuk mempertahankan wilayahnya terutama wilayah perbatasan.Dengan produksi mandiri ini, maka negara-negara lain tidak akan mudah meremehkan produksi hasil karya putera bangsa Indonesia sehingga meningkatkan detterence/ efek gentar yang dimiliki oleh TNI.
Rencana kedepannya Kemhan bersama Konsorsium Roket Nasional sedang mengembangkan roket kaliber 320 dengan jarak capai 70 km, dan Kaliber 450 dengan jarak capai sekitar 100 km. Semoga semua bisa dilaksanakan dengan baik, dan kemandirian alutsista strategis ini bisa membanggakan negeri tercinta ini.

(Kemenperin dan berbagai Sumber) JKGR.

Sabtu, 09 Mei 2015

ITS jadi pusat rekayasa kapal perang

ITS jadi pusat rekayasa kapal perang
Dokumentasi (ANTARA FOTO/Zainuddin MN)
kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter"
Kementerian Pertahanan telah menunjuk ITS Surabaya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang.

"Kita sudah memiliki Pusat Desain Kapal Nasional, lalu Kemenhan meningkatkan statusnya menjadi Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Perang," kata Dekan FTK ITS Prof Eko Budi Djatmiko di Surabaya, Sabtu.

Ditemui di sela "Marine Icon 2015" yang diselenggarakan mahasiswa FTK ITS di kawasan Monumen Kapal Selam Surabaya, dia menjelaskan penunjukan itu adalah bagian dari peran ITS dalam mendukung Poros Maritim.

"Untuk mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, banyak dosen ITS ditarik ke pusat untuk membantu dalam mewujudkan kebijakan Presiden Joko Widodo itu," katanya.

Selain penunjukan sebagai pusat desain dan rekayasa kapal perang, ITS juga diminta membantu membangun tol laut dan pembuatan kapal selam di PT PAL yang merupakan kerja sama antara Indonesia dengan Korea Selatan.

Tahun berikutnya, kerja sama pembuatan lima kapal selam itu akan dilanjutkan dengan membangun tiga kapal selam sisanya di PT PAL.

"Sejak tahun 1960, ITS sebenarnya sudah mendapat amanah untuk menyiapkan teknologi kemaritiman, namun selalu terkendala dengan kebijakan pemerintah," katanya.

ITS akan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia itu dengan menyiapkan desain galangan kapal berukuran besar, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia untuk galangan itu.

"Dengan demikian, kita akan segera memiliki kapal jenis fregat yang panjangnya sampai 150 meter, bukan sekadar kapal patroli berukuran besar seperti selama ini," katanya.

Ketua Panitia "Marine Icon 2015" ITS, Nityasa Manuswara, Marine Icon 2015 yang dibuka Rektor ITS Prof Joni Hermana (8/5) itu bukan sekadar lomba, namun untuk menggugah kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya kemaritiman bagi bangsa Indonesia.

"Kita lihat kenyataan Indonesia adalah negara maritim, tapi masyarakat belum sadar bahwa kita masyarakat maritim. Buktinya, masih banyak masyarakat yang concern ke daratan," katanya.

Lomba dengan tema "Berkarya Bersama Membangun Peradaban Maritim Indonesia" yang digelar di kawasan Monumen Kapal Selam pada Jumat hingga Minggu esok itu,mempertandingkan enam jenis lomba dan memperebutkan Piala Menpora.

Keenam jenis lomba adalah Marine Diesel Assembling (bongkar pasang mesin diesel) bagi siswa SMK, Waterbike Competition (sepeda air), National Maritime Paper and Essay Competition (lomba karya tulis kemaritiman), Pop Pop Boat Race (kapal uap/perahu tok-tok), Marine Photography Contest (lomba foto kemaritiman), dan Dragon Boat Race (lomba dayung/lomba balap perahu naga).
 

Seorang tentara Malaysia ditangkap di Sebatik

 
Wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia (istimewa)
Wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia (istimewa)

Nunukan – Seorang anggota tentara Malaysia tertangkap aparat Kepolisian Sektor Sei Nyamuk Kecamatan Sebatik Timur Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, karena masuk secara ilegal atau tidak menggunakan paspor.
Kepala Polsek Sei Nyamuk, Iptu Oman di Pulau Sebatik, Jumat malam menerangkan, anggota tentara Malaysia tersebut diamankan ketika ditemukan di Pelabuhan Sei Nyamuk sekitar pukul 09.30 WITA.
Kapolsek Sei Nyamuk menegaskan, saat dilakukan interogasi kepadanya, ia mengaku sebagai warga negara Malaysia yang masuk ke Pulau Sebatik untuk menemui keluarganya yang berada di Kabupaten Nunukan Kota Tarakan dan Kabupaten Berau (Kaltim).
WN Malaysia ini diketahui sebagai seorang anggota tentara ketika dilakukan penggeledahan ditemukan kartu anggota nomor 6191458 dengan pangkat LLP atas nama Raymonega Bin Taguna kelahiran 17 Mei 1986.
Pada kartu pengenal itu pula, dia diketahui bersuku bangsa Murut Negeri Sabah sebagai pasukan REJ 507 AW tentara Malaysia di Pengawal Keselamatan Security Guard Apartemen yang beralamat Penampang Kota Kinabalu Negeri Sabah.
“Jadi ketika diinterogasi yang bersangkutan mengaku sengaja tidak membawa Identity Card Malaysia miliknya supaya dianggap sebagai warga Malaysia biasa,” ujar Oman melalui pernyataan tertulisnya.
Sehubungan dengan penangkapan anggota tentara Malaysia ini, aparat kepolisian setempat langsung menyerahkannya kepada petugas Imigrasi Pulau Sebatik untuk diamankan dan ditindaklanjuti. (ANTARA News)

AS Tawari Indonesia Paket Rudal AIM-9X Sidewinder Senilai US$47 Juta

AIM9X_01
Jika tak ada aral melintang, nantinyaTNI AU akan memiliki 33 unit F-16 Fighting Falcon, terdiri dari varian generasi F-16 A/B yang sejak tahun 90-an memperkuat Skadron Udara 3 dan 24 unit F-16 C/D Block 25 yang di upgrade ke Block 52ID. Bertambahnya populasi Elang Penempur sudah pasti membutuhkan beberapa kesiapan, selain urusan logistik dan perawatan, yang juga penting adalah bekal persenjataan yang melengkapi armada multirole fighter tersebut.
Selain bekal kanon internal Gatling Vulcan M61A1 kaliber 20 mm, pasangan paling serasi F-16 adalah rudal udara ke udara jarak pendek AIM-9 Sidewinder. TNI AU pun tak asing dengan rudal buatan Raytheon Company ini. Sejak era hadirnya F-5 E/F Tiger II di awal tahun 80-an, TNI AU mulai mengenal sosok rudal pemburu panas lewat jenis AIM-9 P2 Sidewinder. Berlanjut pada kedatangan 12 unit F-16 A/B Fighting Falcon di awal tahun 90-an, TNI AU mulai menggunakan versi yang lebih maju, AIM-9 P4 yang dapat ditembakkan dari beragam sudut. AIM-9 P4 juga dipasang pada jet tempur Hawk 200/209 TNI AU.
AIM-9X
Dua varian Sidewinder TNI AU yang disebut diatas tentu kini sudah usang. Sebagai gantinya kini ada varian tercanggih AIM-9X Sidewinder. Di kawasan Asia Tenggara, rudal ini memang lebih dulu digunakan Singapura dan Malaysia. Nah, kabar dari situs airforce-technology.com (6/5/2015) menyebutkan US State Department telah menyetujui potensi penjualan rudal AIM-9X ke Indonesia dalam program FMS (Foreign Military Sale). Potensi penjualan yang disetujui mencakup penjualan sistem rudal utama, peralatan pendukung, suku cadang, dan logistik. Pihak Defense Security Cooperation Agency telah mengabarkan ke pihak kongres AS tentang potensi penjualan ini, nilai penjualan yang ditaksir mencapai US$47 juta.
AIM-9X Sidewinder, menjadi rudal andalan F-15SG dan F-16 AU Singapura
AIM-9X Sidewinder, menjadi rudal andalan F-15SG dan F-16 AU Singapura

Paket penjualan AIM-9X Sidewinder ke Indonesia mencakup pengiriman 30 unit rudal AIM-9X-2 Sidewinder Block II, 20 unit AIM-9X-2 captive air training missiles (CATM), 2 unit CATM-9X-2 Block II tactical missile guidance units, 4 unit CATM-9X-2 Block II guidance units, dan dua dummy air training missile. Pembelian ini lumayan komplit, karena mencakup ke aspek rudal dummy untuk keperluan latihan. Sebagai perbandingan, Singapura setidaknya empat tahun lalu telah memiliki 200 rudal AIM-9X.
Termasuk dalam paket US$47 juta adalah container rudal, perangkat test sets, peralatan pendukung, suku cadang, perbaikan, dokumen teknis, pelatihan personil, dan peralatan latihan. Hadirnya rudal ini memungkinkan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan penangkalan ancaman serta menangani stabilitas regional dan memperkuat pertahanan teritori. Dengan adopsi rudal yang telah digunakan Singapura, Malaysia, dan Australia, juga akan membantu Indonesia meningkatkan upaya koalisi dukungan pertahanan di masa kini dan masa depan. AS pun punya kepentingan lebih jauh, seperti interoperabilitas persenjataan dengan kekuatan militer AS.
AIM-9X merupakan versi termutakhir dari Sidewinder yang mampu menghancurkan target di jarak 20 Km, mulai dikembangkan pada tahun 1996. AIM-9 memppunyai kemampuan first shot dan first kill yang lebih responsif. Rudal ini dilengkapi thrust vectoring yang terhubung ke guidance fins, artinya rudal dapat menguber target yang berbelok sekalipun. Radius putar AIM-9X mencapai 120 meter, dengan kemampuan ini, saat penembakan pesawat peluncur tidak lagi harus melakukan manuver untuk menyesuaikan dengan target. Cukup lepas AM-9X, selanjutnya rudal akan menguber target sendiri.
AIM-9X mulai dioperasikan jajaran militer AS pada tahun 2003, dan kini sudah digunakan oleh 40 negara. Untuk mengoperasikannya rudal ini diintegrasikan dalam joint mounted helmet mounted cuing system (JHMCS) buatan Boeing yang dikenakan pilot. Tak heran, AIM-9X menjadi rudal andalan untuk jet-jet tempur mutakhir AS, seperti F-22 Raptor dan F-15 Strike Eagle. (Bayu Pamungkas)

KRI Banjarmasin 592 Siap “Show of Force” di World Expo Milan 2015

oke2
Indonesia nampak begitu bangga dengan keberadaan armada LPD (Landing Platform Dock). Selain punya bobot masif, kapal angkut multirole ini memang punya nilai strategis, maklum beragam peran, LPD dapat menjalankan misi urusan angkut logistik, pendaratan amfibi, bahkan dengan deck yang luas, LPD dapat membawa 3 helikopter ukurang sedang. Karena fungsi yang strategis, tak jarang LPD di dapuk sebagai kapal markas dalam operasi gugus tempur TNI AL.
Dari beberapa unit LPD dalam etalase TNI AL, nama KRI Banjarmasin 592 punya arti sendiri, pasalnya KRI Banjarmasin 592 sudah berlabel battle proven, alias sudah pernah diajak dalam operasi militer yang sesungguhnya. Tepatnya dalam misi pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang dibajak di Perairan Somalia pada tahun 2011. KRI Banjarmasin 592 yang tergabung dalam Satuan Tugas Merah Putih, menjadi kapal markas yang membawa aneka perlengkapan tempur, termasuk tank amfibi BMP-3F dan howitzer LG-1 MK II, mengantisipasi jika harus dilakukan operasi pendaratan.
Misi operasi lintas samudera inilah yang menjadi torehan emas KRI Banjarmasin 592. Lebih penting lagi, KRI Banjarmasin 592 adalah buatan PT PAL di Surabaya, bersama dengan LPD KRI Banda Aceh 593. KRI Banjarmasin 592 merupakan hasil dari keberhasilan alih teknologi (ToT/transfer of technology), karena rancangan aslinya berasal dari LPD buatan Daesun Shipbuilding dan Daewoo International Corporation, Korea Selatan.
oke1
Menjadi LPD unggulan produksi dalam negeri, maka Indonesia mengirimkan KRI Banjarmasin 592 untuk mengikuti perhelatan dunia dalam World Expo Milan (WEM) 2015 di Italia. KRI Banjarmasin telah berangkat dari Tanah Air pada 28 April lalu. Berdasarkan catatan Pangkalan Armada Laut Timur, KRI Banjarmasin 592 ini akan menempuh jarak sepanjang 32.695 kilometer dalam pelayaran Kartika Jala Krida (KJK). Rutenya adalah Surabaya-Belawan-Cochin (India)-Salalah (Oman)-Alexandria (Mesir)-Genoa (Italia). Kemudian dari Genoa menuju Jeddah (Arab Saudi)-Karachi (Pakistan)-Padang-Jakarta dan kembali ke Surabaya. Penampilan KRI Banjarmasin 592 di WEM dimaksudkan sebagai unjuk kemampuan akan kapabilitas Indonesia (PT PAL) untuk membangun kapal sekelas LPD. Sebelumnya pemerintah Filipina juga telah memesan unit kapal sejenis ke PT PAL.
WEM 2015 akan berlangung mulai 1 Mei hingga 31 Oktober 2015. KRI Banjarmasin ini akan berada di Milan bersama 145 negara yang mengikuti perhelatan di Milan tersebut. KRI Banjarmasin 592 memiliki bobot bersih sepuluh ribu ton, dengan panjang 125 meter dan lebar 22 Meter. KRI ini mampu memuat 18 tank amfibi dan lima unit helikopter. pada ruang belakang di bawah dek hekilopter terdapat dockwell, inilah yang menjadi identitas LPD. Fasilitas mirip dock terapung ini berfungsi untuk lalu lalang kapal pendarat LCU (Landing Craft Utility). Ada dua LCU yang dapat dibawa. Nah, untuk akses keluar masuk LCU menggunakan pintu palka yang terletak di bagian buritan (stern ramp) LPD. KRI Banjarmasin 592 selesai pada tahun 2007 dan diserahkan kepada TNI AL pada tahun 2009. (Taufik)

Jumat, 08 Mei 2015

Panglima TNI Beri Pengarahan 1.107 Prajurit TNI dan Polri di Kupang

Panglima TNI Beri Pengarahan 1.107 Prajurit TNI dan Polri di Kupang
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko didampingi Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti memberikan pengarahan kepada 1.107 Prajurit TNI dan Polri, terdiri dari 91 personel Brigif-21 Komodo, 150 personel Yonif-743, 204 personel Korem 204 Kupang, 100 personel Polres Kota dan Kabupaten,  400 personel Polda gabungan Brimob, 65 personel Lanud El Tari Kupang, 40 personel Marinir dan  57 personel Lantamal, di Hanggar Shelter Pangkalan Udara (Lanud) El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (7/5/2015).
 Panglima TNI dalam pengarahannya menyampaikan maksud kedatangan dirinya ingin lebih dekat melihat kehidupan prajurit, agar dapat memahami hal-hal yang dihadapi kehidupan prajurit sehari-hari dan kedatangannya saat ini ke Kupang juga sekalian berpamitan kepada segenap prajurit, karena dalam waktu dekat Panglima TNI akan menjalani masa pensiun.
 Panglima TNI juga memberi pesan kepada seluruh anggota prajurit agar kinerja harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu, khususnya untuk personel TNI harus berbangga hati karena saat ini TNI mendapat penilaian sebagai lembaga negara yang memiliki performance kerja tertinggi.
 "Presiden RI telah setuju akan menaikkan remunisasi, sampai 56 hingga 60 persen dari yang sekarang 37 persen. Upaya pemerintah memberikan peningkatan kesejahteraan, maka TNI dan Polri harus lebih meningkatkan kinerjanya", himbau Jenderal TNI Moeldoko.
 Lebih lanjut Panglima TNI juga menginginkan prajuritnya dalam bekerja agar menghindarkan dan menghilangkan ego sektoral masing-masing dan tidak perlu memelihara ego sektoral karena akan menimbulkan kerapuhan antar satuan.   "Melihat kehidupan yang harmonis antara TNI dan Polri merupakan cermin, dan yang perlu dibangun adalah sinergitas. Sinergitas itu bisa terbangun apabila memiliki semangat integrasi, dan melihat dari  semangat membangun kebersamaan terlihat dari sinergitas antara TNI dan Polri sangat luar biasa", ujarnya.
 "TNI dan Polri bisa memberikan kontribusi, terciptanya sebuah ketenangan, kedamaian, jangan justru sebaliknya. TNI dan Polri tidak boleh retak. TNI dan Polri harus bisa membawa ketenangan dan bisa membawa kondisi stabil. Bagaimana menjaga kondisi bisa stabil, aman, tertib sehingga rakyat bisa menikmati dengan nyaman dan tenteram", pesan Panglima TNI.
 Turut hadir  dalam acara kunjungan ini, Asintel Panglima TNI Mayjen TNI (Mar) Faridz Washington, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Indra Hidayat, Aspers Panglima TNI Laksda TNI Sugeng Darmawan, Asrenum Panglima TNI Mayjen TNI Sumedy dan Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya.
Setelah memberikan pengarahan, Panglima TNI dan Kapolri menggunakan Heli Bell 412 TNI AD dan Heli Puma TNI AU melanjutkan kunjungan meninjau Pos Perbatasan RI-Timor Leste Motaain, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu yang merupakan pintu pelintas batas Indonesia - Timor Leste.

TNI AU Uji Oerlikon Skyshield

 
 Oerlikon Skyshield (Jakartagreater.com)
Oerlikon Skyshield (Jakartagreater.com)

Komandan Detasemen Hanud (Denhanud) 472 Paskhas, Letkol Pas Iwan Setiawan, S.T. sebagai RSO (Range Safety Officer) melaksanakan paparan keamanan area dalam pelaksanaan Uji Terima Senjata PSU Oerlikon Skyshield, kepada Komandan Korps Pasukan Khas TNI AU Marsma TNI Drs. Adrian Wattimena, M.B.A. bertempat di Pandanwangi, Lumajang Jawa Timur, belum lama ini.
Paparan tersebut dihadiri para pejabat Kemhan, Mabesau, para Asisten Korpaskhas, Depohar 60, para Danwing Paskhas, Danpusdiklat Paskhas dan para jajaran Dandenhanud Paskhas, pihak mitra PT. Adhityatama Perkasa Putra serta pihak Produsen Rheinmetall Air Deffence Swiss.
“Pengujian senjata ini menjadi bukti untuk menyakinkan kepada Tim Penguji bahwa Detasemen Hanud Paskhas profesional dalam bekerja sekaligus mampu menguasai dan mengoperasikan senjata tersebut dengan baik”, jelas Komandan Denhanud 472 Paskhas, Letkol Pas Iwan Setiawan, S.T.
Setelah paparan, tim dari Rheinmetall Air Deffence Swiss didampingi para personel Denhanud Paskhas melaksanakan kegiatan uji penembakan senjata di daerah Pandanwangi Pesisir Pantai Lumajang Jawa Timur dengan menggunakan Oerlikon Skyshield.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk uji dinamis dengan menggunakan Target Drone Jet dengan profile Head On dapat dideteksi oleh Sensor Unit/Radar dan dapat dihancurkan dengan meriam Oerlikon Skyshield dan uji statis melaksanakan Tracking oleh sensor unit/Radar dengan sasaran berupa Target Drone Jet yang menggunakan meriam Oerlikon Skyshield dan Rudal Chiron buatan Korea Selatan.
Pada hari berikutnya, personel Denhanud Paskhas melaksanakan uji coba penembakan senjata Oerlikon Skyshield mulai dari mulai penyiapan amunisi, loading, penentuan Fiktif Point di dalam Command Post serta sistem penembakan mulai dari single, rapid dan burst sampai prosedur penembakan, yang dilaksanakan personel Denhanud Paskhas dan diawasi oleh pihak Rheinmetall Air Deffence Swiss.
Komandan Denhanud 472 Paskhas juga menambahkan, “Keberhasilan dalam kegiatan Uji Terima senjata PSU Oerlikon Skyshield tersebut menjadi batu loncatan Detasemen Hanud Paskhas dalam mengemban tugas kedepannya sesuai dengan tugas pokok Detasemen Hanud Paskhas yakni melaksanakan operasi pertahanan udara sebagai bagian sistem pertahanan udara nasional dan operasi militer lain atas kebijakan Panglima TNI.

TNI AU