Jumat, 08 Mei 2015

Panglima TNI Beri Pengarahan 1.107 Prajurit TNI dan Polri di Kupang

Panglima TNI Beri Pengarahan 1.107 Prajurit TNI dan Polri di Kupang
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko didampingi Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti memberikan pengarahan kepada 1.107 Prajurit TNI dan Polri, terdiri dari 91 personel Brigif-21 Komodo, 150 personel Yonif-743, 204 personel Korem 204 Kupang, 100 personel Polres Kota dan Kabupaten,  400 personel Polda gabungan Brimob, 65 personel Lanud El Tari Kupang, 40 personel Marinir dan  57 personel Lantamal, di Hanggar Shelter Pangkalan Udara (Lanud) El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (7/5/2015).
 Panglima TNI dalam pengarahannya menyampaikan maksud kedatangan dirinya ingin lebih dekat melihat kehidupan prajurit, agar dapat memahami hal-hal yang dihadapi kehidupan prajurit sehari-hari dan kedatangannya saat ini ke Kupang juga sekalian berpamitan kepada segenap prajurit, karena dalam waktu dekat Panglima TNI akan menjalani masa pensiun.
 Panglima TNI juga memberi pesan kepada seluruh anggota prajurit agar kinerja harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu, khususnya untuk personel TNI harus berbangga hati karena saat ini TNI mendapat penilaian sebagai lembaga negara yang memiliki performance kerja tertinggi.
 "Presiden RI telah setuju akan menaikkan remunisasi, sampai 56 hingga 60 persen dari yang sekarang 37 persen. Upaya pemerintah memberikan peningkatan kesejahteraan, maka TNI dan Polri harus lebih meningkatkan kinerjanya", himbau Jenderal TNI Moeldoko.
 Lebih lanjut Panglima TNI juga menginginkan prajuritnya dalam bekerja agar menghindarkan dan menghilangkan ego sektoral masing-masing dan tidak perlu memelihara ego sektoral karena akan menimbulkan kerapuhan antar satuan.   "Melihat kehidupan yang harmonis antara TNI dan Polri merupakan cermin, dan yang perlu dibangun adalah sinergitas. Sinergitas itu bisa terbangun apabila memiliki semangat integrasi, dan melihat dari  semangat membangun kebersamaan terlihat dari sinergitas antara TNI dan Polri sangat luar biasa", ujarnya.
 "TNI dan Polri bisa memberikan kontribusi, terciptanya sebuah ketenangan, kedamaian, jangan justru sebaliknya. TNI dan Polri tidak boleh retak. TNI dan Polri harus bisa membawa ketenangan dan bisa membawa kondisi stabil. Bagaimana menjaga kondisi bisa stabil, aman, tertib sehingga rakyat bisa menikmati dengan nyaman dan tenteram", pesan Panglima TNI.
 Turut hadir  dalam acara kunjungan ini, Asintel Panglima TNI Mayjen TNI (Mar) Faridz Washington, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Indra Hidayat, Aspers Panglima TNI Laksda TNI Sugeng Darmawan, Asrenum Panglima TNI Mayjen TNI Sumedy dan Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya.
Setelah memberikan pengarahan, Panglima TNI dan Kapolri menggunakan Heli Bell 412 TNI AD dan Heli Puma TNI AU melanjutkan kunjungan meninjau Pos Perbatasan RI-Timor Leste Motaain, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu yang merupakan pintu pelintas batas Indonesia - Timor Leste.

TNI AU Uji Oerlikon Skyshield

 
 Oerlikon Skyshield (Jakartagreater.com)
Oerlikon Skyshield (Jakartagreater.com)

Komandan Detasemen Hanud (Denhanud) 472 Paskhas, Letkol Pas Iwan Setiawan, S.T. sebagai RSO (Range Safety Officer) melaksanakan paparan keamanan area dalam pelaksanaan Uji Terima Senjata PSU Oerlikon Skyshield, kepada Komandan Korps Pasukan Khas TNI AU Marsma TNI Drs. Adrian Wattimena, M.B.A. bertempat di Pandanwangi, Lumajang Jawa Timur, belum lama ini.
Paparan tersebut dihadiri para pejabat Kemhan, Mabesau, para Asisten Korpaskhas, Depohar 60, para Danwing Paskhas, Danpusdiklat Paskhas dan para jajaran Dandenhanud Paskhas, pihak mitra PT. Adhityatama Perkasa Putra serta pihak Produsen Rheinmetall Air Deffence Swiss.
“Pengujian senjata ini menjadi bukti untuk menyakinkan kepada Tim Penguji bahwa Detasemen Hanud Paskhas profesional dalam bekerja sekaligus mampu menguasai dan mengoperasikan senjata tersebut dengan baik”, jelas Komandan Denhanud 472 Paskhas, Letkol Pas Iwan Setiawan, S.T.
Setelah paparan, tim dari Rheinmetall Air Deffence Swiss didampingi para personel Denhanud Paskhas melaksanakan kegiatan uji penembakan senjata di daerah Pandanwangi Pesisir Pantai Lumajang Jawa Timur dengan menggunakan Oerlikon Skyshield.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk uji dinamis dengan menggunakan Target Drone Jet dengan profile Head On dapat dideteksi oleh Sensor Unit/Radar dan dapat dihancurkan dengan meriam Oerlikon Skyshield dan uji statis melaksanakan Tracking oleh sensor unit/Radar dengan sasaran berupa Target Drone Jet yang menggunakan meriam Oerlikon Skyshield dan Rudal Chiron buatan Korea Selatan.
Pada hari berikutnya, personel Denhanud Paskhas melaksanakan uji coba penembakan senjata Oerlikon Skyshield mulai dari mulai penyiapan amunisi, loading, penentuan Fiktif Point di dalam Command Post serta sistem penembakan mulai dari single, rapid dan burst sampai prosedur penembakan, yang dilaksanakan personel Denhanud Paskhas dan diawasi oleh pihak Rheinmetall Air Deffence Swiss.
Komandan Denhanud 472 Paskhas juga menambahkan, “Keberhasilan dalam kegiatan Uji Terima senjata PSU Oerlikon Skyshield tersebut menjadi batu loncatan Detasemen Hanud Paskhas dalam mengemban tugas kedepannya sesuai dengan tugas pokok Detasemen Hanud Paskhas yakni melaksanakan operasi pertahanan udara sebagai bagian sistem pertahanan udara nasional dan operasi militer lain atas kebijakan Panglima TNI.

TNI AU

Ini Kekuatan Pasukan Elite TNI Setelah Disatukan

TNI/Merdeka
TNI/Merdeka
Mabes TNI berniat melebur pasukan elite di Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, dalam satu naungan Komando Operasi Pasukan Khusus TNI. Peleburan ini untuk mengantisipasi perkembangan situasi tanggap darurat yang datang baik dari dalam maupun luar negeri.
Panglima TNI, Jenderal Moeldoko berharap tim ini bisa mulai bekerja optimal secepatnya.
“Semua negara dalam menghadapi lingkungan seperti ini memiliki pasukan operasi khususnya. Pasukan operasi khususnya disiapkan betul-betul siaga,” kata Moeldoko, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (5/5).
Dia melanjutkan, untuk angkatan pertama Komando Operasi Pasukan Khusus akan ditempatkan di kawasan Sentul, Bogor. Di sana, mereka akan disiagakan atau standby force selama enam bulan.
“Tempatnya tertentu, diberikan akomodasi dan logistik jadi jika sewaktu-waktu diperlukan Panglima, bisa siap. Kalau ada ancaman di mana Panglima bisa peringatkan,” tuturnya.
Ditambahkan Moeldoko, Komando Operasi Khusus Gabungan ini dibentuk sebagai tanggung jawab TNI kepada negara. Dia yakin pasukan ini adalah orang-orang hebat yang memiliki kemampuan khusus dan cukup diperhitungkan.
“Panglima tinggal menggunakan demi kepentingan negara,” tuturnya.
Dia melanjutkan, lebih kurang ada 70 personel gabungan dalam tim ini. Untuk angkatan pertama, tongkat komando ada pada Komandan Jenderal Kopassus (Danjen Kopassus).
“Berikutnya mungkin akan dipimpin Komandan Marinir, selanjutnya dipimpin Komandan Paskhas. Itu berputar terus,” katanya.(Merdeka)

TNI akan Lebur Semua Pasukan Elite jadi Satu

ilustrasi (ist)
ilustrasi (ist)
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Moeldoko menyadari era teknologi yang semakin maju membuat medan pertempuran pun berubah haluan. Berbeda dengan perang kemerdekaan, perang tak lagi berhadap-hadapan. Perang saat ini adalah ‘within society’ yang juga kecenderungan diprovokasi oleh pertentangan etnis dan ideologi radikal. Dalam konteks ini, Moeldoko memandang perlu dilakukannya pengembangan kemampuan dan optimalisasi operasi khusus. Moeldoko menyebut, operasi khusus ini akan diawasi dan dikoordinasikan melalui Komando Operasi Pasukan Khusus TNI.
Keberadaan Kopassus pada komando operasi itu direpresentasikan oleh satuan 81 untuk menjadi kekuatan trimarta terpadu bersama dengan Denjaka TNI AL dan Denbravo TNI AU yang diformat dalam satuan tugas dengan paket rotasi penugasan.
“TNI akan membentuk Komando Operasi Pasukan Khusus TNI sebagai bagian dari optimalisasi interoperability TNI sekaligus sebagai kekuatan standby force TNI dalam penanggulangan terorisme,” jelas Moeldoko saat memaparkannya idenya di sela-sela syukuran HUT ke-63 Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (29/4).
Kira-kira seperti apa Komando Operasi Pasukan Khusus TNI ini nantinya?
Penelusuran merdeka.com, Senin (4/5), Komando Operasi Pasukan Khusus pertama kali didirikan di Amerika Serikat pada 15 Desember 1980. Pusat komando ini diberi nama Joint Special Operations Command atau disingkat menjadi JSOC.
JSOC ini dibentuk untuk mempelajari kebutuhan maupun teknik operasi, memastikan syarat dan kebutuhan standar, menyusun dan melaksanakan pelatihan operasi khusus gabungan, dan mengembangkan taktik operasi. JSOC sendiri membawahi unit khusus seperti Delta Force, Aktivitas Pendukung Intelijen (ISA), SEAL Team Six, Skadron Taktik Khusus ke-24, Unit Komunikasi Gabungan (JCU), Unit Penerbangan Gabungan, Unit Teknik Intelijen dan Badan Sinyal Intelijen.
JSOC memiliki keistimewaan, yakni bisa mengakses seluruh personel darat, laut, udara, marinir, intelijen bahkan warga sipil. Anggotanya pun berasal dari orang-orang terbaik di keempat matra tersebut.
Selain JSOC, AS juga memiliki Komando Operasi Khusus AS yang bernama resmi US Special Operations Command, disingkat USSOCOM. Berbeda dengan JSOC, USSOCOM dibentuk menyusul kegagalan AS dalam operasi penyelamatan sandera di Iran bersandi Cakar Elang.
Berbeda dengan JSOC, USSOCOM dapat menggerakkan hampir seluruh unit pasukan darat, laut, udara dan marinir. Lembaga inilah nantinya yang menggerakkan seluruh pasukan elite ke lokasi pertempuran, mulai dari penyediaan transportasi, anggota tim khusus, hingga menentukan target yang melibatkan seluruh matra.
Operasi Kehendak Ernest atau Operaton Ernest Will menjadi misi pertama yang digelar USSOCOM. Misi ini digelar untuk melindungi kapal-kapal Kuwait dari serangan serdadu Iran. Tak hanya itu, AS juga berniat mengganggu konsentrasi Iran dengan menguasai mesin bor minyak milik negara itu yang berada di tengah laut.
Keuntungan menyatukan seluruh pasukan khusus dengan sistem seperti ini di antaranya tak ada tumpang tindih dalam tugas. Mabes TNI tinggal memutuskan siapa yang dikirim kalau ada masalah. Keuntungan lain, pasukan elite TNI makin kompak dan solid karena satu komando.(Merdeka)

H&K HK416: Senapan Serbu dengan Akurasi Tinggi dan Kualitas ‘Sebandel’ AK-47

P_20150507_070703
Guna menghadapi tantangan di medan operasi yang dinamis, adalah wajar bila unit pasukan khusus dibekali aneka ragam senjata, mulai dari beberapa varian SMG (sub machine gun) dan senapan serbu (assault rifle). Agar selalu update dengan perkembangan, maka tak jarang jenis terbaru dan terbaik yang kondang di pasaran harus dibeli. Tak heran bila satuan elit seperti Kopaska, Denjaka, Kopassus, dan Den Bravo 90 punya racikan aneka senjata ‘lebih dari cukup.’
Di segmen senapan serbu, meski produk dalam negeri seperti varian SS-1 dan SS-2 cukup berkualitas, namun nyatanya tetap dibituhkan kehadiran assault rifle impor sebagai pelengkap unutk misi-misi khusus. Seperti dicontohkan oleh Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL yang mempercayakan jenis senjata serbu terbarunya ke jenis Heckler & Koch (H&K) HK416 besutan Jerman.
Kopaska14BiP4hvuCIAEx_Zh234a8f2e698c5991daae0425cfe8885b
Sebagai frogman team, Kopaska memang identik dengan senapan otomatis bawah air APS, tapi lepas dari itu, khususnya untuk misi di permukaan, satuan elit ini mensyaratkan kehadiran aneka senjata yang ‘bandel’ terhadap air. Di masa lalu, AK-47 menjadi rujukan untuk label senjata dengan kualitas tangguh, namun jaman telah berganti, dan kini Kopaska mengandalkan HK416 sebagai senjata termodern di segmen assault rifle.
Dari informasi di Wikipedia, HK416 juga menjadi senjata andalan untuk Kopassus, Denjaka, bahkan Densus 88 Polri pun terlihat menggunakan HK416. Di luar negeri, gaung popularitas HK416 terbilang santer dan banyak diadopsi satuan elit dunia. Situs Military Times Gear Scout Blog and the Soldier Systems bahkan menyebut HK416 sebagai senjata yang digunakan Navy SEALS untuk menewaskan Osama Bin Laden.
Dirancang oleh Ernst Mauch pada tahun 2004, sepak terjang HK416 terbilang moncer, prestasi tempurnya di Perang Afghanistan, Irak, dan Mali, menjadi promosi yang mujarab, terlebih HK416 terbukti lebih bandel ketimbang senjata karabin M4 buatan Colt. Dibandingkan M4, senapan buatanHeckler & Koch GmbH, Jerman ini memiliki beberapa keunggulan. Sosok H&K 416 berbeda dengan M4 atau M16 terutama pada bentuk laras. Sementara kemiripannya terletak pada kaliber 5,56 mm, panjang laras 14,5 inchi, kecepatan tembak 700-900 peluru per menit, dan sistem pilihan tembak semi otomatis serta otomatis.
Keunggulan HK416 diantaranya mengadopsi sistem modular, sehingga mudah disesuaikan dengan beragam misi tempur.
Keunggulan HK416 diantaranya mengadopsi sistem modular, sehingga mudah disesuaikan dengan beragam misi tempur.
Tampilan dari varian HK416. Penggunaan Picatinny rail seperti di senapan Pindad SS-1 R5 memberi fleksibilitas dalam adopsi aneka alat bidik.

Pada H&K 416 tersedia empat macam ukuren laras, yaitu 10.4 inchi, 14.5 inchi, 16.5 inchi, dan 20 inchi. Dari data tersebut tampak bahwa ukuran H&K 416 lebih besar, lebih berat, dan (bisa) lebih panjang. Dari segi harga, Defense News menyebutkan harga M4 US$800 per pucuk. Ini merupakan harga senjata standar tanpa perlengkapan yang lain. Jika ditambah berbagai macam perlengkapan lain sesuai dengan keperluan penugasan di medan tempur, harga tersebut dapat mencapai US$1.300 per pucuk. Di sisi lain, harga sepucuk H&K 416 berkisar antara US$800 hingga US$1.425.
Kehandalan utama H&K 416 terletak pada sistem piston gas langkah pendek. Sistem ini berbeda dengan sis-tem tabung gas Colt yang digunakan pada M4. Dengan sistem piston gas langkah pendek, maka cacat pada sistem pembuangan karbon dapat dihilangkan. Masalah pembuangan sisa karbon inilah yang sering mengakibatkan kemacetan pada M-16 dan M4.

Over The Beach
Untuk meningkatkan kehandalan, daya tahan dan keselamatan operator ketika menembakkan senjata secara ekstrim, HK416 menggunakan laras yang secara khusus dibuat dengan menggunakan proses cold hammer forging. Baja berkualitas tinggi diproduksi menggunakan proses yang sangat unik, untuk menghasilkan barel yang dapat memberikan tingkat akurasi tinggi bahkan ketika ditembakkan selama 20.000 kali tanpa mengalami macet.
HK416 juga tampil dalam film "The Raid 2."
HK416 juga tampil dalam film “The Raid 2.”

Beberapa varian HK416 mempunyai kemampuan OTB (Over the Beach) yang memungkinkan secara aman dapat ditembakkan setelah dibenamkan di air tanpa mengeringkan senjata tersebut. Bahkan, HK416 juga telah lolos uji tes dapat ditembakkan dengan aman setelah dikubur dalam pasir dan tanpa mengalami macet.
HK416 serasa menjadi sebuah jawaban bagi dunia persenjataan, yang menginginkan sebuah senjata yang mempunyai ketahanan dan kemampuan di segala kondisi yang paling ekstrim seperti AK-47, tetapi mempunyai tingkat akurasi yang sangat tinggi dikarenakan menggunakan peluru dengan kaliber 5,56 mm standar NATO.

Spesifikasi Utama H&K HK416
– Kaliber : 5,56 × 45 mm NATO
– Sistem operasi : Short-stroke piston, rotating bolt
– Kecepatan tembak : 700 – 900 peluru per menit
– Kecepatan proyektil : 788 meter/detik (10.4 in), 882 meter/detik (14.5 in), 890                                            meter/detik (16.5 in), dan 917 meter/detik (20 in)
– Jarak tembak efektif : 300 meter
– Jarak tembak maksimum : 400 meter
– Feed system : 20, 30-round detachable STANAG magazine, 100-round                                               detachable Beta C-Mag
– Pembidik : Rear rotary diopter sight dan front post yang dilengkapi Picatinny                                rail

H&K G3: Senapan Serbu Paskhas (PGT) Dalam Operasi Trikora

20110622_LANUDSJAMSUDINNOOR
Bila Korps Marinir (d/h KKO) dan Kopassus (d/h RPKAD) kondang menggunakan senapan serbu AK-47 dalam operasi Trikora. Maka, unsur pasukan komando TNI AU (d/h AURI) yakni Paskhas (d/h PGT – Pasukan Gerak Tjepat) saat itu juga punya atribut senjata yang khas, yakni battle rifle G3 kaliber 7,62 mm NATO.
Ada kesan tersendiri tentang G3, Indonesia merupakan salah satu pengguna pertama senjata ini. Jika dirunut, pada tahun 1962 Indonesia sudah menggunakan G3 dalam operasi Trikora, sementara Jerman sebagai anggota NATO tentu setia pada Belanda sebagai rekan satu pakta pertahanan. Sehingga pada saat itu Jerman tidak mungkin menjual senjata ini ke Indonesia.
Dan setelah ditelusuri, ternyata G3 yang masuk ke Indonesia pada tahun 60-an berasal dari Myanmar (d/h Birma). Ceritanya pada tahun 1953, perusahaan spesialis pembuat mesin industri persenjataan Fritz Werner dari Jerman mendirikan tiga pabrik amunisi, senjata, dan artileri di Rangoon, dengan alasan mencegah Myanmar jatuh ke tangan rezim komunis. Melalui Fritz Werner, Myanmar memperoleh hak eksklusif mengimpor 10.000 pucuk. Juga memproduksi G3 dari pabrikan Rheinmetall, serta mendatangkan empat juta butir peluru kaliber 7,62 mm NATO pada tahun 1961. Pada periode tersebut, antara Indonesia dan Myanmar terjalin kerjasama yang erat, termasuk secara idelogi yang cenderung ke kiri.
7033622735869192014-06-18-Rba-Tembak13cb0626c08fd58d567d7dd5065
Dari sini, jelaslah bahwa G3 yang digunakan Paskhas TNI AU pada tahun 60-an , semuanya menganut G3 lansiran Rheinmetall, bukan H&K. Dengan handguard baja, popor tarik, flash hider model drum berlubang-lubang kecil, serta pisir flip up sederhana. Tahun-tahun sesudahnya, kita jadi sangat akrab dengan G3. Setahun setelah diperoleh, G3 sudah langsung terjun dalam kampanye Trikora sebagai senjata infiltran PGT (Pasukan Gerak Tjepat) yang terjun kesana.
Dua dekade kemudian, giliran prajurit TNI dari ketiga angkatan yang justru harus berhadapan dengan keganasan G3 dalam operasi Seroja. Di tangan Fretilin dan Tropaz, G3 menjadi kombinasi yang maut, apalagi Tropaz mengoperasikannya dengan sangat baik, yang kerap menghasilkan tembakan jitu. Begitu mendengar letusan G3 yang berat dan keras, semua pasukan TNI yang berhadapan akan mengambil posisi tiarap.
Fretilin menyandang G3 (panah merah)
Fretilin menyandang G3 (panah merah).
Pasukan TNI saat operasi Seroja pun turut menggunakan G3.
Pasukan TNI saat operasi Seroja pun turut menggunakan G3 (paling kiri)
Harus diakui, postur tubuh orang Indonesia sebenernya tidak diciptakan untuk battle rifle. Bobot senjata yang berat, sentakan recoil yang keras, alhasil dapat cepat melelahkan prajurit TNI yang membawa. Belum lagi tentang keterbatasan jumlah peluru yang dibawa dibawa. Satu magasin standar G3 hanya menampung 20 butir peluru.
Meski saat ini sudah tidak digunakan dalam operasional, namun TNI, khususnya di lingkup TNI AU masih menggunakan secara terabatas G3 di pangkalan-pangkalan kecil, di Akademi Angkatan Udara, dan selebihnya tetap disimpan di gudang senjata. Sejak tahun 2008, seluruh G3 akhirnya digudangkan, dan TNI AU sepenuhnya melakukan konversi ke SS-1 buatan Pindad.
Serdadu Jerman dengan G3.
Serdadu Jerman dengan G3.
Komponen G3.
Komponen G3.
Jika dibutuhkan, G3 dapat dipasang magasin model drum. Tentu bobot jadi masalah tersendiri.
Jika dibutuhkan, G3 dapat dipasang magasin model drum. Tentu bobot jadi masalah tersendiri.

Sejarah G3
Di masa era Perang Dingin, sekitar tahun 1950-an pemerintah Jerman Barat merencanakan untuk mempunyai sendiri senapan standard dengan kaliber 7,62mm NATO. Saat itu ada 3 prototipe sebagai kandidat yang diajukan untuk diadopsi & diproduksi di Jerman Barat yaitu G1 (FN Fal), G2 (CETME) & G3 (Heckler&Koch).
Pada mulanya G1(FN Fal) adalah kandidat yang memang direncanakan oleh pemerintah Jerman Barat untuk diadopsi jadi senapan standar kaliber 7,62 mm NATO Bundeswehr atau angkatan bersenjata Jerman Barat. Tetapi G1 tidak bisa tercapai menjadi kandidat terpilih karena masalah negosiasi kontrak lisensinya dengan Fabrique Nationale (FN) Belgia berjalan alot dan tidak tercapai kesepakatan. Negosiasi dengan pabrik CETME atau CENTRO de ESTUDIOS TECNICOS de MATERIALES ESPECIALES (PINDAD-nya Spanyol) dirasakan terlalu mahal nilai kontrak yang ditawarkan, kemudian pemerintah Jerman memutuskan untuk membeli G3 dari pabrik baru yang masih dalam skala kecil di dalam negeri. Pabrik tersebut adalah Heckler and Koch (H&K). Pihak H&K membuat senapan G3 yang sebenarnya merupakan penyempurnaan dari senapan CETME-nya Spanyol.
Tampil dalam film "Last King of Scotland."
Tampil dalam film “Last King of Scotland.”
box magasin.
box magasin.
H&K didirikan oleh insinyur-insinyur bekas Mauser yang pada akhir WWII lari ke Spanyol dan membantu pabrik senjata CETME menciptakan senapan serbu CETME kaliber 7,62mm NATO. Senapan ini dibuat berdasarkan rancangan Strumgewehr 45 (St.Gw.45 atau StG44/45) yang belum sempat diproduksi massal oleh Jerman pada era perang dunia kedua. Itu sebabnya St.Gw.45, CETME & G3 memakai sistim operasi delayed-blow back yang menggunakan roller block.
Di babak selanjutnya, Deutsche Bundeswehr (AB Jerman) kemudian meminta H&K membuat senapan penembak runduk (sniper) dengan kaliber 7,62mm NATO. Maka dibuatlah varian G3/SG1 (SG adalah singkatan dari Scharfschützengewehr atau “sharp shooting rifle” atau “senapan penembak runduk”) yang menggunakan magasin G3 serta bentuk fisik tidak jauh berbeda dengan G3. Perbedaan yang paling terlihat dari luar adalah “cheek-piece” di popor G3/SG1 untuk menahan pipi jika sedang membidik melalui riflescope (teropong senapan) dan bipod. Dengan “trigger-group” yang serupa pula dengan H&K G3, G3/SG1 ini selain berfungsi sebagai senapan tembak jitu (sniper rifle) juga bisa berfungsi sebagai senapan serbu infantri karena mempunyai triger group “full-automatic” selain “semi-automatic”. Sebagaimana G3, G3/SG1 juga menganut sistem operasi delayed blow-back.
Di awal tahun 60-an, G3 resmi diproduksi oleh Rheinmetall. Baru berlangsung sebentar, di tahun 1969, Rheinmetall berhenti memproduksi G3 untuk memenuhi permintaan Heckler & Koch yang tidak bisa memproduksi MG3 ( Maschinengewehr 03 ). Barulah pada tahun 1977, Heckler & Koch resmi menjadi pabrik resmi pembuat G3 untuk menggantikan Rheinmetall. Varian G3 yang paling umum digunakan adalah G3 dengan varian berikut:
G3A3: merupakan varian G3 yang telah di-improvisasi dari versi sebelumnya (G3). G3A3 memiliki beberapa fitur seperti drum iron sight, buttstock/popor tetap yang terbuat dari plastik, dan handguard yang terbuat dari plastik, biasanya berwarna hijau. Varian G3A3 menampilkan pisir model drum dan pejera ghost ring, yang kelak menjadi trademark H&K. Varian ini juga dapatt dipasangi bipod.
G3A4: Sama seperti G3A3, namun menggunakan telescoping stock. Model ini dapat dipasangkan telescope.
Beberapa varian G3 yang di produksi secara lisensi oleh Turki.
Beberapa varian G3 yang di produksi secara lisensi oleh Turki.
g3
Tak kurang 40 negara telah mengoperasikan G3 dalam beberapa dekade terakhir. Situs Wikipedia menyebut G3 dalam berbagai varian telah diproduksi sebanyak 7 juta unit dalam rentang 1958 – 1997. G3 juga diproduksi di negara lain dibawah lisensi Heckler & Koch, seperti Saudi Arabia, Norwegia, Swedia, dan Turki. (Dirangkum dari beberap sumber)

Spesifikasi H&K G3
– Kaliber : 7,62 x 51 mm NATO
– Berat: 4,1 kg ( Netto )
– Panjang : 1025 mm
– Panjang laras : 450 mm
– Mekanisme : Roller-delayed blowback
– Kecepatan luncur proyektil : 800 meter per detik
– Jarak tembak efektif : 500 – 700 meter
– Kecepatan tembak : 500 – 600 butir peluru per menit
– Magasin : 20 butir peluru
– Alat bidik : Iron sight

Indonesia Tingkatkan Komitmen Pembangunan Jet Tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan

image109-e1415207611752
Setelah up and down, program kerjasama pembangunan pesawat tempur KFX/IFX antara Indonesia dan Korea Selatan nampak kembali bergairah. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemhan) mempunyai komitmen yang kuat dan sejauh ini kebijakan mengenai kerjasama program tersebut tidak berubah serta akan terus dilanjutkan.
Mengutip dari Kemhan.go.id (4/5/2015), Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Sekjen Kemhan RI) Letjen TNI Ediwan Prabowo saat menerima perwakilan dari Aircraft Program Departement Defense Acquisition Program Administration (DAPA) Korea Selatan, Baek Youn Hyeong, Kamis (30/4) di kantor Kemhan, Jakarta.
Sekjen Kemhan lebih lanjut mengatakan, program kerjasama pembangunan pesawat tempur KFX/IFX merupakan kerjasama yang sangat strategis antara Indonesia dan Korsel, dimana kedua negara memiliki hubungan baik yang panjang. Untuk itu, kedua negara perlu membangun suatu mekanisme dan sistem yang tidak hanya melalui Business to Business (B to B) tetapi juga Government to Government (G to G). Hal ini diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan dan kendala dihadapi bersama dalam program kerjasama ini. “Untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam implementasi kerjasama KFX/IFX, perlu adanya supervisi pemerintah dari kedua negara. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemhan telah memberikan arahan kepada pihak PT. Dirgantara Indonesia untuk melaksanakan program tersebut dengan baik”, ungkap Sekjen Kemhan.
ifx_1_by_n00bmodders-d5to4e6kfx_c103
Selain program kerjasama KFX/IFX, Indonesia dan Korsel juga melakukan kerjasama pembangunan kapal selam. Terkait kerjasama kapal selam ini, Sekjen Kemhan juga berharap kepada pihak DAPA Korsel untuk mengikuti secara seksama kerjasama pembangunan kapal selam yang dilakukan antara PT PAL dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME).
Menanggapi hal diatas, perwakilan dari DAPA Korea Selatan, Baek Youn Hyeong mengungkapkan bahwa Pemerintah Korsel juga berharap kerjasama yang telah terjalin baik antara Indonesia dan Korsel dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan. Pemerintah Korsel juga memiliki komitmen yang sama terkait kerjasama KFX/IFX. “Korsel tidak hanya ingin menjual Alutsista saja, tetapi juga ingin bekerjasama dalam membangun kemampuan industri pertahanan di kedua negara” ungkapnya.
Diungkapkannya bahwa pihak DAPA Korsel saat ini sedang melakukan negosiasi dengan Korea Aerospace Industries untuk membicarakan berbagai permasalahan terkait dengan program kerjasama KFX/IFX. “DAPA Korsel juga telah melakukan pembicaraan dengan pihak PT. DI yang telah membuahkan hasil yang sangat bermanfaat bagi kelanjutan dan perkembangan program kerjasama KFX/IFX”, tambahnya.
Terkait dengan proyek IFX, pihak peserta tender pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II TNI AU, yakni Eurofighter Typhoon yang juga merupakan divisi dari Airbus Group, menyatakan siap mendukung program pengembangan pesawat tempur KFX/IFX, khususnya dalam pengingkatan system assembly di fasiltas PT DI.