Jumat, 08 Mei 2015

Ini Kekuatan Pasukan Elite TNI Setelah Disatukan

TNI/Merdeka
TNI/Merdeka
Mabes TNI berniat melebur pasukan elite di Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, dalam satu naungan Komando Operasi Pasukan Khusus TNI. Peleburan ini untuk mengantisipasi perkembangan situasi tanggap darurat yang datang baik dari dalam maupun luar negeri.
Panglima TNI, Jenderal Moeldoko berharap tim ini bisa mulai bekerja optimal secepatnya.
“Semua negara dalam menghadapi lingkungan seperti ini memiliki pasukan operasi khususnya. Pasukan operasi khususnya disiapkan betul-betul siaga,” kata Moeldoko, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (5/5).
Dia melanjutkan, untuk angkatan pertama Komando Operasi Pasukan Khusus akan ditempatkan di kawasan Sentul, Bogor. Di sana, mereka akan disiagakan atau standby force selama enam bulan.
“Tempatnya tertentu, diberikan akomodasi dan logistik jadi jika sewaktu-waktu diperlukan Panglima, bisa siap. Kalau ada ancaman di mana Panglima bisa peringatkan,” tuturnya.
Ditambahkan Moeldoko, Komando Operasi Khusus Gabungan ini dibentuk sebagai tanggung jawab TNI kepada negara. Dia yakin pasukan ini adalah orang-orang hebat yang memiliki kemampuan khusus dan cukup diperhitungkan.
“Panglima tinggal menggunakan demi kepentingan negara,” tuturnya.
Dia melanjutkan, lebih kurang ada 70 personel gabungan dalam tim ini. Untuk angkatan pertama, tongkat komando ada pada Komandan Jenderal Kopassus (Danjen Kopassus).
“Berikutnya mungkin akan dipimpin Komandan Marinir, selanjutnya dipimpin Komandan Paskhas. Itu berputar terus,” katanya.(Merdeka)

TNI akan Lebur Semua Pasukan Elite jadi Satu

ilustrasi (ist)
ilustrasi (ist)
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Moeldoko menyadari era teknologi yang semakin maju membuat medan pertempuran pun berubah haluan. Berbeda dengan perang kemerdekaan, perang tak lagi berhadap-hadapan. Perang saat ini adalah ‘within society’ yang juga kecenderungan diprovokasi oleh pertentangan etnis dan ideologi radikal. Dalam konteks ini, Moeldoko memandang perlu dilakukannya pengembangan kemampuan dan optimalisasi operasi khusus. Moeldoko menyebut, operasi khusus ini akan diawasi dan dikoordinasikan melalui Komando Operasi Pasukan Khusus TNI.
Keberadaan Kopassus pada komando operasi itu direpresentasikan oleh satuan 81 untuk menjadi kekuatan trimarta terpadu bersama dengan Denjaka TNI AL dan Denbravo TNI AU yang diformat dalam satuan tugas dengan paket rotasi penugasan.
“TNI akan membentuk Komando Operasi Pasukan Khusus TNI sebagai bagian dari optimalisasi interoperability TNI sekaligus sebagai kekuatan standby force TNI dalam penanggulangan terorisme,” jelas Moeldoko saat memaparkannya idenya di sela-sela syukuran HUT ke-63 Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (29/4).
Kira-kira seperti apa Komando Operasi Pasukan Khusus TNI ini nantinya?
Penelusuran merdeka.com, Senin (4/5), Komando Operasi Pasukan Khusus pertama kali didirikan di Amerika Serikat pada 15 Desember 1980. Pusat komando ini diberi nama Joint Special Operations Command atau disingkat menjadi JSOC.
JSOC ini dibentuk untuk mempelajari kebutuhan maupun teknik operasi, memastikan syarat dan kebutuhan standar, menyusun dan melaksanakan pelatihan operasi khusus gabungan, dan mengembangkan taktik operasi. JSOC sendiri membawahi unit khusus seperti Delta Force, Aktivitas Pendukung Intelijen (ISA), SEAL Team Six, Skadron Taktik Khusus ke-24, Unit Komunikasi Gabungan (JCU), Unit Penerbangan Gabungan, Unit Teknik Intelijen dan Badan Sinyal Intelijen.
JSOC memiliki keistimewaan, yakni bisa mengakses seluruh personel darat, laut, udara, marinir, intelijen bahkan warga sipil. Anggotanya pun berasal dari orang-orang terbaik di keempat matra tersebut.
Selain JSOC, AS juga memiliki Komando Operasi Khusus AS yang bernama resmi US Special Operations Command, disingkat USSOCOM. Berbeda dengan JSOC, USSOCOM dibentuk menyusul kegagalan AS dalam operasi penyelamatan sandera di Iran bersandi Cakar Elang.
Berbeda dengan JSOC, USSOCOM dapat menggerakkan hampir seluruh unit pasukan darat, laut, udara dan marinir. Lembaga inilah nantinya yang menggerakkan seluruh pasukan elite ke lokasi pertempuran, mulai dari penyediaan transportasi, anggota tim khusus, hingga menentukan target yang melibatkan seluruh matra.
Operasi Kehendak Ernest atau Operaton Ernest Will menjadi misi pertama yang digelar USSOCOM. Misi ini digelar untuk melindungi kapal-kapal Kuwait dari serangan serdadu Iran. Tak hanya itu, AS juga berniat mengganggu konsentrasi Iran dengan menguasai mesin bor minyak milik negara itu yang berada di tengah laut.
Keuntungan menyatukan seluruh pasukan khusus dengan sistem seperti ini di antaranya tak ada tumpang tindih dalam tugas. Mabes TNI tinggal memutuskan siapa yang dikirim kalau ada masalah. Keuntungan lain, pasukan elite TNI makin kompak dan solid karena satu komando.(Merdeka)

H&K HK416: Senapan Serbu dengan Akurasi Tinggi dan Kualitas ‘Sebandel’ AK-47

P_20150507_070703
Guna menghadapi tantangan di medan operasi yang dinamis, adalah wajar bila unit pasukan khusus dibekali aneka ragam senjata, mulai dari beberapa varian SMG (sub machine gun) dan senapan serbu (assault rifle). Agar selalu update dengan perkembangan, maka tak jarang jenis terbaru dan terbaik yang kondang di pasaran harus dibeli. Tak heran bila satuan elit seperti Kopaska, Denjaka, Kopassus, dan Den Bravo 90 punya racikan aneka senjata ‘lebih dari cukup.’
Di segmen senapan serbu, meski produk dalam negeri seperti varian SS-1 dan SS-2 cukup berkualitas, namun nyatanya tetap dibituhkan kehadiran assault rifle impor sebagai pelengkap unutk misi-misi khusus. Seperti dicontohkan oleh Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL yang mempercayakan jenis senjata serbu terbarunya ke jenis Heckler & Koch (H&K) HK416 besutan Jerman.
Kopaska14BiP4hvuCIAEx_Zh234a8f2e698c5991daae0425cfe8885b
Sebagai frogman team, Kopaska memang identik dengan senapan otomatis bawah air APS, tapi lepas dari itu, khususnya untuk misi di permukaan, satuan elit ini mensyaratkan kehadiran aneka senjata yang ‘bandel’ terhadap air. Di masa lalu, AK-47 menjadi rujukan untuk label senjata dengan kualitas tangguh, namun jaman telah berganti, dan kini Kopaska mengandalkan HK416 sebagai senjata termodern di segmen assault rifle.
Dari informasi di Wikipedia, HK416 juga menjadi senjata andalan untuk Kopassus, Denjaka, bahkan Densus 88 Polri pun terlihat menggunakan HK416. Di luar negeri, gaung popularitas HK416 terbilang santer dan banyak diadopsi satuan elit dunia. Situs Military Times Gear Scout Blog and the Soldier Systems bahkan menyebut HK416 sebagai senjata yang digunakan Navy SEALS untuk menewaskan Osama Bin Laden.
Dirancang oleh Ernst Mauch pada tahun 2004, sepak terjang HK416 terbilang moncer, prestasi tempurnya di Perang Afghanistan, Irak, dan Mali, menjadi promosi yang mujarab, terlebih HK416 terbukti lebih bandel ketimbang senjata karabin M4 buatan Colt. Dibandingkan M4, senapan buatanHeckler & Koch GmbH, Jerman ini memiliki beberapa keunggulan. Sosok H&K 416 berbeda dengan M4 atau M16 terutama pada bentuk laras. Sementara kemiripannya terletak pada kaliber 5,56 mm, panjang laras 14,5 inchi, kecepatan tembak 700-900 peluru per menit, dan sistem pilihan tembak semi otomatis serta otomatis.
Keunggulan HK416 diantaranya mengadopsi sistem modular, sehingga mudah disesuaikan dengan beragam misi tempur.
Keunggulan HK416 diantaranya mengadopsi sistem modular, sehingga mudah disesuaikan dengan beragam misi tempur.
Tampilan dari varian HK416. Penggunaan Picatinny rail seperti di senapan Pindad SS-1 R5 memberi fleksibilitas dalam adopsi aneka alat bidik.

Pada H&K 416 tersedia empat macam ukuren laras, yaitu 10.4 inchi, 14.5 inchi, 16.5 inchi, dan 20 inchi. Dari data tersebut tampak bahwa ukuran H&K 416 lebih besar, lebih berat, dan (bisa) lebih panjang. Dari segi harga, Defense News menyebutkan harga M4 US$800 per pucuk. Ini merupakan harga senjata standar tanpa perlengkapan yang lain. Jika ditambah berbagai macam perlengkapan lain sesuai dengan keperluan penugasan di medan tempur, harga tersebut dapat mencapai US$1.300 per pucuk. Di sisi lain, harga sepucuk H&K 416 berkisar antara US$800 hingga US$1.425.
Kehandalan utama H&K 416 terletak pada sistem piston gas langkah pendek. Sistem ini berbeda dengan sis-tem tabung gas Colt yang digunakan pada M4. Dengan sistem piston gas langkah pendek, maka cacat pada sistem pembuangan karbon dapat dihilangkan. Masalah pembuangan sisa karbon inilah yang sering mengakibatkan kemacetan pada M-16 dan M4.

Over The Beach
Untuk meningkatkan kehandalan, daya tahan dan keselamatan operator ketika menembakkan senjata secara ekstrim, HK416 menggunakan laras yang secara khusus dibuat dengan menggunakan proses cold hammer forging. Baja berkualitas tinggi diproduksi menggunakan proses yang sangat unik, untuk menghasilkan barel yang dapat memberikan tingkat akurasi tinggi bahkan ketika ditembakkan selama 20.000 kali tanpa mengalami macet.
HK416 juga tampil dalam film "The Raid 2."
HK416 juga tampil dalam film “The Raid 2.”

Beberapa varian HK416 mempunyai kemampuan OTB (Over the Beach) yang memungkinkan secara aman dapat ditembakkan setelah dibenamkan di air tanpa mengeringkan senjata tersebut. Bahkan, HK416 juga telah lolos uji tes dapat ditembakkan dengan aman setelah dikubur dalam pasir dan tanpa mengalami macet.
HK416 serasa menjadi sebuah jawaban bagi dunia persenjataan, yang menginginkan sebuah senjata yang mempunyai ketahanan dan kemampuan di segala kondisi yang paling ekstrim seperti AK-47, tetapi mempunyai tingkat akurasi yang sangat tinggi dikarenakan menggunakan peluru dengan kaliber 5,56 mm standar NATO.

Spesifikasi Utama H&K HK416
– Kaliber : 5,56 × 45 mm NATO
– Sistem operasi : Short-stroke piston, rotating bolt
– Kecepatan tembak : 700 – 900 peluru per menit
– Kecepatan proyektil : 788 meter/detik (10.4 in), 882 meter/detik (14.5 in), 890                                            meter/detik (16.5 in), dan 917 meter/detik (20 in)
– Jarak tembak efektif : 300 meter
– Jarak tembak maksimum : 400 meter
– Feed system : 20, 30-round detachable STANAG magazine, 100-round                                               detachable Beta C-Mag
– Pembidik : Rear rotary diopter sight dan front post yang dilengkapi Picatinny                                rail

H&K G3: Senapan Serbu Paskhas (PGT) Dalam Operasi Trikora

20110622_LANUDSJAMSUDINNOOR
Bila Korps Marinir (d/h KKO) dan Kopassus (d/h RPKAD) kondang menggunakan senapan serbu AK-47 dalam operasi Trikora. Maka, unsur pasukan komando TNI AU (d/h AURI) yakni Paskhas (d/h PGT – Pasukan Gerak Tjepat) saat itu juga punya atribut senjata yang khas, yakni battle rifle G3 kaliber 7,62 mm NATO.
Ada kesan tersendiri tentang G3, Indonesia merupakan salah satu pengguna pertama senjata ini. Jika dirunut, pada tahun 1962 Indonesia sudah menggunakan G3 dalam operasi Trikora, sementara Jerman sebagai anggota NATO tentu setia pada Belanda sebagai rekan satu pakta pertahanan. Sehingga pada saat itu Jerman tidak mungkin menjual senjata ini ke Indonesia.
Dan setelah ditelusuri, ternyata G3 yang masuk ke Indonesia pada tahun 60-an berasal dari Myanmar (d/h Birma). Ceritanya pada tahun 1953, perusahaan spesialis pembuat mesin industri persenjataan Fritz Werner dari Jerman mendirikan tiga pabrik amunisi, senjata, dan artileri di Rangoon, dengan alasan mencegah Myanmar jatuh ke tangan rezim komunis. Melalui Fritz Werner, Myanmar memperoleh hak eksklusif mengimpor 10.000 pucuk. Juga memproduksi G3 dari pabrikan Rheinmetall, serta mendatangkan empat juta butir peluru kaliber 7,62 mm NATO pada tahun 1961. Pada periode tersebut, antara Indonesia dan Myanmar terjalin kerjasama yang erat, termasuk secara idelogi yang cenderung ke kiri.
7033622735869192014-06-18-Rba-Tembak13cb0626c08fd58d567d7dd5065
Dari sini, jelaslah bahwa G3 yang digunakan Paskhas TNI AU pada tahun 60-an , semuanya menganut G3 lansiran Rheinmetall, bukan H&K. Dengan handguard baja, popor tarik, flash hider model drum berlubang-lubang kecil, serta pisir flip up sederhana. Tahun-tahun sesudahnya, kita jadi sangat akrab dengan G3. Setahun setelah diperoleh, G3 sudah langsung terjun dalam kampanye Trikora sebagai senjata infiltran PGT (Pasukan Gerak Tjepat) yang terjun kesana.
Dua dekade kemudian, giliran prajurit TNI dari ketiga angkatan yang justru harus berhadapan dengan keganasan G3 dalam operasi Seroja. Di tangan Fretilin dan Tropaz, G3 menjadi kombinasi yang maut, apalagi Tropaz mengoperasikannya dengan sangat baik, yang kerap menghasilkan tembakan jitu. Begitu mendengar letusan G3 yang berat dan keras, semua pasukan TNI yang berhadapan akan mengambil posisi tiarap.
Fretilin menyandang G3 (panah merah)
Fretilin menyandang G3 (panah merah).
Pasukan TNI saat operasi Seroja pun turut menggunakan G3.
Pasukan TNI saat operasi Seroja pun turut menggunakan G3 (paling kiri)
Harus diakui, postur tubuh orang Indonesia sebenernya tidak diciptakan untuk battle rifle. Bobot senjata yang berat, sentakan recoil yang keras, alhasil dapat cepat melelahkan prajurit TNI yang membawa. Belum lagi tentang keterbatasan jumlah peluru yang dibawa dibawa. Satu magasin standar G3 hanya menampung 20 butir peluru.
Meski saat ini sudah tidak digunakan dalam operasional, namun TNI, khususnya di lingkup TNI AU masih menggunakan secara terabatas G3 di pangkalan-pangkalan kecil, di Akademi Angkatan Udara, dan selebihnya tetap disimpan di gudang senjata. Sejak tahun 2008, seluruh G3 akhirnya digudangkan, dan TNI AU sepenuhnya melakukan konversi ke SS-1 buatan Pindad.
Serdadu Jerman dengan G3.
Serdadu Jerman dengan G3.
Komponen G3.
Komponen G3.
Jika dibutuhkan, G3 dapat dipasang magasin model drum. Tentu bobot jadi masalah tersendiri.
Jika dibutuhkan, G3 dapat dipasang magasin model drum. Tentu bobot jadi masalah tersendiri.

Sejarah G3
Di masa era Perang Dingin, sekitar tahun 1950-an pemerintah Jerman Barat merencanakan untuk mempunyai sendiri senapan standard dengan kaliber 7,62mm NATO. Saat itu ada 3 prototipe sebagai kandidat yang diajukan untuk diadopsi & diproduksi di Jerman Barat yaitu G1 (FN Fal), G2 (CETME) & G3 (Heckler&Koch).
Pada mulanya G1(FN Fal) adalah kandidat yang memang direncanakan oleh pemerintah Jerman Barat untuk diadopsi jadi senapan standar kaliber 7,62 mm NATO Bundeswehr atau angkatan bersenjata Jerman Barat. Tetapi G1 tidak bisa tercapai menjadi kandidat terpilih karena masalah negosiasi kontrak lisensinya dengan Fabrique Nationale (FN) Belgia berjalan alot dan tidak tercapai kesepakatan. Negosiasi dengan pabrik CETME atau CENTRO de ESTUDIOS TECNICOS de MATERIALES ESPECIALES (PINDAD-nya Spanyol) dirasakan terlalu mahal nilai kontrak yang ditawarkan, kemudian pemerintah Jerman memutuskan untuk membeli G3 dari pabrik baru yang masih dalam skala kecil di dalam negeri. Pabrik tersebut adalah Heckler and Koch (H&K). Pihak H&K membuat senapan G3 yang sebenarnya merupakan penyempurnaan dari senapan CETME-nya Spanyol.
Tampil dalam film "Last King of Scotland."
Tampil dalam film “Last King of Scotland.”
box magasin.
box magasin.
H&K didirikan oleh insinyur-insinyur bekas Mauser yang pada akhir WWII lari ke Spanyol dan membantu pabrik senjata CETME menciptakan senapan serbu CETME kaliber 7,62mm NATO. Senapan ini dibuat berdasarkan rancangan Strumgewehr 45 (St.Gw.45 atau StG44/45) yang belum sempat diproduksi massal oleh Jerman pada era perang dunia kedua. Itu sebabnya St.Gw.45, CETME & G3 memakai sistim operasi delayed-blow back yang menggunakan roller block.
Di babak selanjutnya, Deutsche Bundeswehr (AB Jerman) kemudian meminta H&K membuat senapan penembak runduk (sniper) dengan kaliber 7,62mm NATO. Maka dibuatlah varian G3/SG1 (SG adalah singkatan dari Scharfschützengewehr atau “sharp shooting rifle” atau “senapan penembak runduk”) yang menggunakan magasin G3 serta bentuk fisik tidak jauh berbeda dengan G3. Perbedaan yang paling terlihat dari luar adalah “cheek-piece” di popor G3/SG1 untuk menahan pipi jika sedang membidik melalui riflescope (teropong senapan) dan bipod. Dengan “trigger-group” yang serupa pula dengan H&K G3, G3/SG1 ini selain berfungsi sebagai senapan tembak jitu (sniper rifle) juga bisa berfungsi sebagai senapan serbu infantri karena mempunyai triger group “full-automatic” selain “semi-automatic”. Sebagaimana G3, G3/SG1 juga menganut sistem operasi delayed blow-back.
Di awal tahun 60-an, G3 resmi diproduksi oleh Rheinmetall. Baru berlangsung sebentar, di tahun 1969, Rheinmetall berhenti memproduksi G3 untuk memenuhi permintaan Heckler & Koch yang tidak bisa memproduksi MG3 ( Maschinengewehr 03 ). Barulah pada tahun 1977, Heckler & Koch resmi menjadi pabrik resmi pembuat G3 untuk menggantikan Rheinmetall. Varian G3 yang paling umum digunakan adalah G3 dengan varian berikut:
G3A3: merupakan varian G3 yang telah di-improvisasi dari versi sebelumnya (G3). G3A3 memiliki beberapa fitur seperti drum iron sight, buttstock/popor tetap yang terbuat dari plastik, dan handguard yang terbuat dari plastik, biasanya berwarna hijau. Varian G3A3 menampilkan pisir model drum dan pejera ghost ring, yang kelak menjadi trademark H&K. Varian ini juga dapatt dipasangi bipod.
G3A4: Sama seperti G3A3, namun menggunakan telescoping stock. Model ini dapat dipasangkan telescope.
Beberapa varian G3 yang di produksi secara lisensi oleh Turki.
Beberapa varian G3 yang di produksi secara lisensi oleh Turki.
g3
Tak kurang 40 negara telah mengoperasikan G3 dalam beberapa dekade terakhir. Situs Wikipedia menyebut G3 dalam berbagai varian telah diproduksi sebanyak 7 juta unit dalam rentang 1958 – 1997. G3 juga diproduksi di negara lain dibawah lisensi Heckler & Koch, seperti Saudi Arabia, Norwegia, Swedia, dan Turki. (Dirangkum dari beberap sumber)

Spesifikasi H&K G3
– Kaliber : 7,62 x 51 mm NATO
– Berat: 4,1 kg ( Netto )
– Panjang : 1025 mm
– Panjang laras : 450 mm
– Mekanisme : Roller-delayed blowback
– Kecepatan luncur proyektil : 800 meter per detik
– Jarak tembak efektif : 500 – 700 meter
– Kecepatan tembak : 500 – 600 butir peluru per menit
– Magasin : 20 butir peluru
– Alat bidik : Iron sight

Indonesia Tingkatkan Komitmen Pembangunan Jet Tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan

image109-e1415207611752
Setelah up and down, program kerjasama pembangunan pesawat tempur KFX/IFX antara Indonesia dan Korea Selatan nampak kembali bergairah. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemhan) mempunyai komitmen yang kuat dan sejauh ini kebijakan mengenai kerjasama program tersebut tidak berubah serta akan terus dilanjutkan.
Mengutip dari Kemhan.go.id (4/5/2015), Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Sekjen Kemhan RI) Letjen TNI Ediwan Prabowo saat menerima perwakilan dari Aircraft Program Departement Defense Acquisition Program Administration (DAPA) Korea Selatan, Baek Youn Hyeong, Kamis (30/4) di kantor Kemhan, Jakarta.
Sekjen Kemhan lebih lanjut mengatakan, program kerjasama pembangunan pesawat tempur KFX/IFX merupakan kerjasama yang sangat strategis antara Indonesia dan Korsel, dimana kedua negara memiliki hubungan baik yang panjang. Untuk itu, kedua negara perlu membangun suatu mekanisme dan sistem yang tidak hanya melalui Business to Business (B to B) tetapi juga Government to Government (G to G). Hal ini diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan dan kendala dihadapi bersama dalam program kerjasama ini. “Untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam implementasi kerjasama KFX/IFX, perlu adanya supervisi pemerintah dari kedua negara. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemhan telah memberikan arahan kepada pihak PT. Dirgantara Indonesia untuk melaksanakan program tersebut dengan baik”, ungkap Sekjen Kemhan.
ifx_1_by_n00bmodders-d5to4e6kfx_c103
Selain program kerjasama KFX/IFX, Indonesia dan Korsel juga melakukan kerjasama pembangunan kapal selam. Terkait kerjasama kapal selam ini, Sekjen Kemhan juga berharap kepada pihak DAPA Korsel untuk mengikuti secara seksama kerjasama pembangunan kapal selam yang dilakukan antara PT PAL dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME).
Menanggapi hal diatas, perwakilan dari DAPA Korea Selatan, Baek Youn Hyeong mengungkapkan bahwa Pemerintah Korsel juga berharap kerjasama yang telah terjalin baik antara Indonesia dan Korsel dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan. Pemerintah Korsel juga memiliki komitmen yang sama terkait kerjasama KFX/IFX. “Korsel tidak hanya ingin menjual Alutsista saja, tetapi juga ingin bekerjasama dalam membangun kemampuan industri pertahanan di kedua negara” ungkapnya.
Diungkapkannya bahwa pihak DAPA Korsel saat ini sedang melakukan negosiasi dengan Korea Aerospace Industries untuk membicarakan berbagai permasalahan terkait dengan program kerjasama KFX/IFX. “DAPA Korsel juga telah melakukan pembicaraan dengan pihak PT. DI yang telah membuahkan hasil yang sangat bermanfaat bagi kelanjutan dan perkembangan program kerjasama KFX/IFX”, tambahnya.
Terkait dengan proyek IFX, pihak peserta tender pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II TNI AU, yakni Eurofighter Typhoon yang juga merupakan divisi dari Airbus Group, menyatakan siap mendukung program pengembangan pesawat tempur KFX/IFX, khususnya dalam pengingkatan system assembly di fasiltas PT DI.

Senin, 04 Mei 2015

Tupolev Tu-2 Bat: Pembom Propeller TNI AU Yang Terlupakan

2
Tupolev adalah legenda besar bagi TNI AU, namanya begitu masyur mewakili kehadiran pembom jet jarak jauh Tu-16 pada dekade 60 dan 70-an di Indonesia. Meski terkesan terlupakan, namun sejarah telah mencatat tak hanya Tu-16 yang dirilis Tupolev di Indonesia, justru jauh sebelum hadirnya Tu-16, TNI AU (d/h AURI) telah mengoperasikan pembom medium Tu-2, yang oleh NATO diberi kode Bat.
Bila pembom Tu-16 dihadirkan Uni Soviet dalam menjawab eskalasi Perang Dingin dengan AS dan NATO. Maka Tu-2 hadir terkait upaya Soviet untuk menantang kehadiran pembom NAZI Jerman Junkers Ju 88 semasa Perang Dunia II. Sang perancang, Andrei Tupolev mempersiapkan pesawat ini sebagai pembom bermesin dua berkecepatan tinggi untuk berlaga di garis depan menghadapi Jerman. Untuk urusan kecepatan tinggi, Tupolev merancang kecepatan Tu-2 agar setara dengan kecepatan pesawat pemburu kursi tunggal. Kecepatan maksimum Tu-2 mencapai 521 kilometer per jam dengan kecepatan menanjak 8,2 meter per detik.
Tu 2 milik AURI dahulu. Tu-2 No seri 7 (ex 2250)
Tu 2 milik AURI dahulu. Tu-2 No seri 7 (ex 2250)
Dua penerbang AURI dengan latar Tu-2 di Cina.
Dua penerbang AURI dengan latar Tu-2 di Cina.

Dalam hal produksi, Tu-2 termasuk berhasil dengan jumlah yang dibuat mencapai 2.257 unit. Karir Tu-2 pun tak berhenti setelah berakhirnya Perang Dunia II. Tu-2 telah dibuat dalam beberapa varian, yakni sebagai varian peluncur torpedo, interceptor, dan varian intai udara. Meski Tu-2 buatan Uni Soviet, tapi Tu-2 yang hadir untuk TNI AU berasal dari hibah pemerintah Cina (RRC) pada tahun 1958. Maklum Cina saat itu tengah gencar melakukan pendekatan ke RI terkait urusan politik dan ideologi. Bagi TNI AU, hadirnya Tu-2 menambah angin segar lini pembom yang saat itu diperkuat B-25 Mitchell dan B-26 Invader bekas pakai AU Belanda.
Dirunut dari sejarahnya, Cina mendapatkan Tu-2 dari Soviet terkait hibah atas berlimpahnya stok armada Tu-2, sekaligus mendukung Tentara Pembebasan Rakyat Cina dalam Perang Saudara di Cina. Kiprah Tu-2 lainnya yakni pada kancang Perang Korea. Beberapa Tu-2s Cina ditembak jatuh oleh penerbang Inggris dan Amerika selama Perang Korea. Dalam misi penindakan kerusuhan pada periode 1958 – 1962 di Tibet, Tu-2s berperan untuk melaksanakan ground attack, Cina sendiri menggunakan Tu-2 hingga tahun 1970-an. Setelah Perang Dunia II, Tu-2 menjadi pesawat uji yang ideal untuk berbagai powerplants, termasuk generasi pertama dari mesin jet Soviet.
Ruang internal bomb (bombay) di Tu-2.
Ruang internal bomb (bombay) di Tu-2.
Tampilan tiga dimensi.
Tampilan tiga dimensi.

Sayangnya, di Indonesia karir Tu-2 begitu cepat redup, sejak pesawat diterima Skadron Udara 1, Tu-2 hanya beroperasi kurang dari satu tahun. Beberapa informasi menyebut Tu-2 mengalami kendala teknis saat beroperasi di Indonesia, diantaranya mesin tidak cocok dengan iklim tropis. Lebih disayangkan lagi, tak ada sisa Tu-2 yang dijadikan monumen di Tanah Air. Ada yang menyebut Tu-2 TNI AU dikembalikan ke negara asal pembuatnya (Uni Soviet) dan ada yang menyebut Tu-2 dibibahkan kembali ke salah satu negara aliansi Uni Soviet.
36
Dirunut dari sejarahnya, pada tahun 1937, Andrei Tupolev merancang Samolyet ( dalam Bahasa Rusia berarti “pesawat” ) -103, Tu-2 dirancang berdasarkan pada prototipe awal pembom ringan ANT-58, ANT-59 dan ANT-60. Tu-2 melakukan uji terbang pertama pada 29 Januari 1941 yang dipiloti oleh Mikhail Nukhtinov. Tu-2 resmi masuk armada udara Soviet pada 1942, sementara rentang masa produksinya mulai dari 1941 – 1948. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi Tu-2 Bat
– Kru: 4
– Panjang: 13,80 meter
– Lebar sayap: 18,86 meter
– Tinggi: 4,13 meter
– Berat kosong: 7.601 kg
– Berat terisi: 10.538 kg
– Max berat lepas landas: 11.768 kg
– Mesin: 2 × mesin radial Shvetsov Ash-82, masing-masing 1.380 kW (1.850 hp)
– Kecepatan maksimum: 521 km / jam
– Jarak tempuh: 2.020 km
– Service ceiling: 9.000 meter
– Tingkat menanjak: 8,2 meter per detik
Persenjataan :
– 2 × kanon ShVAK 20 mm (0.79 in) mengarah ke depan yang terpasang di sayap.
– 3 × senapan mesin ShKAS 7,62 mm (0,30 di) menembak ke belakang (kemudian digantikan oleh senapan mesin UB Berezin 12,7 mm pada kanopi, punggung dan perut Tu-2.
– Bom : internal (bombay) 1.500 kg (3.300 lb) dan eksternal 2.270 kg (5.000 lb).

CMS Mandhala, Produk LEN Penjaga Maritim Indonesia

 

KRI Diponegoro (365)

Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terluas di dunia, yang memiliki 18.307 pulau, luas perairan 93.000 km2 serta garis pantai 54.716 km, mengharuskan negara maritim ini memiliki sistem pertahanan yang kokoh, baik menghadapi ancaman dari dalam maupun dari luar negeri.
Untuk itu, seperti dikemukakan Direktur Komersial PT LEN (Persero) Adi Sufiardi Yusuf, salah satu parameter yang digunakan untuk menentukan kekuatan pertahanan maritim adalah sejauh mana kekuatan Kapal Republik Indonesia (KRI) sebagai salah satu armada TNI Angkatan Laut (AL), mampu melakukan sistem deteksi serta memberikan reaksi terhadap ancaman secara efektif dan efisien.
Di sinilah LEN pada tahun 2000 mulai merintis sistem manajemen combat yang dinamakan Combat Management System (CMS) Mandhala atau Sistem Manajemen Tempur Mandhala, yang mampu mendeteksi dan memberikan reaksi terhadap ancaman yang datang. Sistem ini memiliki kemampuan teknologi berdasarkan sensordan persenjataan yang dimiliki oleh KRI.
Sedangkan efektivitas dan efisiensinya sangat ditentukan oleh sistem yang mengintegrasikan sensor dan senjata tersebut. Karena itu sebagai satu sistem, CMS harus mampu memenuhi berbagai kebutuhan operasional yang diperlukan dalam sistem pertempuran, seperti melakuan pengolahan data yang berasal dari berbagai sensor menjadi informasi yang dikaitkan dengan unsur navigasi, potensi ancaman, serta berbagai reaksi yang dapat dilakukan untuk melumpuhkan berbagai ancaman tersebut.
Len 1
Pada tahap awal pengembangannya oleh LEN, TNI AL mensyaratkan agar konsep operasional CMS tersebut sejalan atau mengikuti konsep operasional CMS kelas Diponegoro yang dibuat oleh Belanda. Namun apabila ditinjau berdasarkan teknologinya, mulai dari penggunaan perangkat keras (hardware), sistem operasi (operating system), maupun bahasa pemrograman, maka terlihat CMS  yang dikembangkan LEN sangat berbeda  dengan CMS pada kelas Diponegoro tersebut.
Selain itu, alat yang pada awal  pengembangannya dilakukan melalui  kerjasama litbang, baik dengan TNI AL maupun dengan Kementerian Riset dan Teknologi ini juga mampu memberikan visual secara menyeluruh terhadap  situasi taktis pertempuran. Alat ini juga digunakan untuk  mengetahui, apakah mampu menyediakan sarana guna melakukan reaksi secara efektif dan efisien, melalui sistem persenjataan yang dimiliki.
Dengan demikian, sistem manajemen pertempuran ini sekaligus menyediakan sarana guna melakukan koordinasi dengan unit lain dalam satu gugus tempur, seperti melakukan pertukaran data sasaran dan juga perintah. sertifikasi Dislitbang AL pada tahun 2012, Dinas Litbang TNI  AL telah mengeluarkan sertifikasi untuk produk CMS yang dihasilkan PT LEN (Persero). Namun pihak LEN mengakui saat ini belum menemukan standar kalkulasi Tingkat Kandungan Dalam  Negeri (TKDN) yang tepat, karena ada perbedaan konfigurasi (baik softwaredan juga hardware) untuk setiap proyek, sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan biaya produksi antara satu proyek dengan proyek lainnya.
Namun secara garis besar, hampir semua sistem softwaredan hardwaremekanik dikembangkan secara mandiri oleh PT LEN (Persero). Berdasarkan kepercayaan dari Kementerian Pertahanan dan TNI AL, tahun 2014 sudah dilaksanakan kontrak pengadaan CMS dalam negeri pada dua kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) milik TNI AL yaitu masing-masing pada KRI Rencong dan KRI Mandau, serta dua kapal jenis Kapal Cepat Torpedo (KCT) yakni KRI Ajak dan KRI Singa.

KRI Mandau

Rencananya tahun ini PT LEN berencana menggarap empat proyek CMS pesanan TNI AL, masing-masing dua proyek untuk Kapal Cepat Rudal, dan dua proyek untuk jenis Kapal Perusak. Karena itu, untuk menggarap satu proyek CMS beserta integrasinya pada sistem kapal, sangat bervariasi tergantung dari karakteristik proyeknya.
Misalnya apakah ditujukan untuk memodernisasi kapal yang sudah ada atau semacam meng-upgrade kapal, apakah ada penggantian sensor/senjata kapal, ataukah mempertahankan sensor  ataupun senjata existing. Sementara untuk membuat bangunan kapal baru, yang diperlukan untuk sistem CMS, menyangkut perlu adanya mapping responsibility antara galangan kapal dan Combat System Integrator(CSI).
Di luar hal tersebut, masih banyak faktor-faktor lain yang menentukan waktu pengerjaan satu sistem CMS. Namun idealnya untuk kegiatan pengadaan, instalasi, dan integrasi combat system (sistem tempur, termasuk CMS, sistem sensor, dan senjata) setidaknya membutuhkan waktu pengerjaan antara dua sampai tiga tahun pada proyek pembuatan kapal baru.
Sistem manajemen tempur ini sebenarnya juga merupakan bagian dari perangkat pertahanan di bidang elektronika. Sebagai satu sistem, maka untuk pengerjaan satu proyek CMS, biasanya dihargai pada kisaran antara Rp40-60 miliar, bergantung pada jenis keunikan kapal. Untuk penguasaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), 75% sudah berasal dari dalam negeri khususnya pada bidang garapan unit bisniselektronika pertahanan, termasuk juga sejumlah perangkat lunak dan berbagai partisi sudah dikuasai dari dalam negeri.
Namun demikian, untuk perlengkapan elektronika, hampir seluruhnya masih diimpor seperti komputer dan perlengkapannya, dan juga Input/Output Card, karena masih terbatasnya pasokan dari dalam negeri.

Sumber : Kemenperin