Jumat, 17 April 2015

F-16 terbakar sebelum take off, TNI AU makin minati Su-35

 
Su-35S-KnAAPO
Su-35S-KnAAPO.jpg

Insiden terbakarnya F-16 di Landasan Udara Halim Perdanakusuma membuat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) mengkaji ulang kebijakannya mengenai pembelian pesawat bekas. Satuan dengan semboyan Swa Bhuwana Paksa ini tak mau kejadian serupa terulang kembali.
Kita ada rencana penggantian, dengan kejadian ini sudah jelas menjadi pengalaman dan introspeksi, jangan sampai kita membeli lagi pesawat F-16 bekas,” kata Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Agus Supriatna saat konferensi pers di Mabes TNI AU, Jakarta, Kamis (16/4).
Atas alasan itu, TNI AU menginginkan dua pesawat baru untuk menggantikan F-5F/E Tiger yang sudah saatnya dipensiunkan. Sedangkan, opsi membeli pesawat bekas tak akan masuk dalam program jangka panjang maupun pendek.
“Dua hasil kajian kita, antara Sukhoi Su-35 dan F-16 tipe 70 Viper,” katanya.
Agus mengharapkan tidak ada lagi pemberian hibah pesawat bekas untuk TNI AU, agar insiden kecelakaan pesawat tak terulang kembali. Namun, dia memastikan program ini tetap berlanjut mengingat TNI AU sudah mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkannya.
Hibah pesawat F-16 tetap berlanjut Karena ini adalah program, sudah berjalan, sudah kontrak dan sudah kita bayar. Hanya kita akan lebih mengevaluasi dengan ada pengalaman ini,” tukasnya. (Merdeka.com)

Hikmah dibalik Insiden “engine fire” pada F-16 CD TNI AU TS-1643

 
@SonoraFM92
@SonoraFM92
Insiden terbakarnya pesawat F-16 di Halim Perdanakusuma  menurut Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna kepada wartawan di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (16/4/2015), Marsekal Agus Supriatna mengatakan pesawat tersebut merupakan hibah dari Amerika. Insiden engine fire, kata Agus, sangat jarang terjadi.
Pesawat itu baru datang, hibah dari Amerika, blok 25, pada saat take off, pada saat rolling, terjadi engine fire. Penerbangnya langsung melaksanakan abort pesawat. Karena engine-nya kebakaran,” kata Agus
Demikian berita “F-16 Tahun 80-an Terbakar, KSAU: Kalau Beli Pesawat Lebih Baik yang Baru”, yang dikutip di detikNews.
Mari kita menengok ke belakang Release resmi dari DSCA , dengan judul ” Indonesia – Regeneration and Upgrade of F-16C/D Block 25 Aircraft”,  (http://www.dsca.mil)

WASHINGTON, Nov. 17, 2011 – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress Nov. 16 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D Block 25 aircraft and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $750 million.
The Government of Indonesia has requested a sale for the regeneration and upgrade of 24 F-16C/D Block 25 aircraft and 28 F100-PW-200 or F100-PW-220E engines being granted as Excess Defense Articles. The upgrade includes the following major systems and components: LAU-129A/A Launchers, ALR-69 Radar Warning Receivers, ARC-164/186 Radios, Expanded Enhanced Fire Control (EEFC) or Commercial Fire Control, or Modular Mission Computers, ALQ-213 Electronic Warfare Management Systems, ALE-47 Countermeasures Dispenser Systems, Cartridge Actuated Devices/Propellant Actuated Devices (CAD/PAD), Situational Awareness Data Link, Enhance Position Location Reporting Systems (EPLRS), LN-260 (SPS version, non-PPS), and AN/AAQ-33 SNIPER or AN/AAQ-28 LITENING Targeting Systems. Also included are tools, support and test equipment, spare and repair parts, publications and technical documentation, personnel training and training equipment, U.S. Government and contractor engineering, technical and logistics support services, and other related elements of logistical and program support. The estimated cost is $750 million.
The proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by improving the security of a strategic partner that has been, and continues to be, an important force for economic progress in Southeast Asia.
Indonesia desires the F-16 aircraft to modernize the Indonesian Air Force (IAF) fleet with aircraft more capable of conducting operations in the outermost border regions of Indonesia. The IAF’s current fleet of F-16 Block 15 aircraft is not capable of fulfilling that role, and the aging F-5 aircraft are expensive to maintain and operate due to diminishing resources existing to support the aircraft. The avionics upgrade will provide the IAF an additional capability benefitting security by modernizing the force structure, and enhancing interoperability by greater use of U.S.-produced equipment. Indonesia, which already has F-16 Block 15 and F-5 aircraft in its inventory, will have no difficulty absorbing these upgraded systems.
The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.
Indonesia requested the regeneration be sole sourced to the 309th Maintenance Wing, Hill Air Force Base, in Ogden, Utah, and Pratt Whitney, in East Hartford, Connecticut for the engine overhaul. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.
Implementation of this proposed sale will not require the assignment of any additional U.S. Government or contractor representatives to Indonesia.
There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.
This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.
Dari release resmi DSCA, ada pengadaan 28 F100-PW-200 or F100-PW-220E engines.
F100-PW-200 engine ( f-16.net)
F100-PW-200 engine ( f-16.net)

28 F100-PW-200/ F100-PW-220E engines, (f16.net)
F100-PW-200/ F100-PW-220E engines, (f16.net)

Klo melihat realese resmi DSCA,  engine untuk proses Regeneration and Upgrade of F-16C/D Block 25 Aircraft adalah baru dan pengadaannya ada 28 unit. Berarti ada 4 engine untuk suku cadang.
Berita lainnya :
“Sementara seluruh mesin pesawat F-16 C/D TNI AU ini  yaitu F100-PW-220/E menjalani upgrade di pabrik Pratt & Whitney di Old Kelly AFB, sehingga memiliki umur komponen dua kali lebih lama dari mesin standar…………..
Selanjutnya pesawat menjalani upgrading dan refurbished rangka serta sistem avionik dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center di Hill AFB, Odgen, Utah. Rangka pesawat diperkuat, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua sistem lama direkondisi menjadi baru dan sistem baru ditambahkan agar pesawat lahir kembali, siap menjadi pesawat baru dengan kemampuan jauh lebih hebat dari saat kelahirannya.” (angkasa.co.id)
Karena mesin tersebut baru , pasti ada garansi pabrikan. Dan klo terjadi engine fire pastinya proses “regenerasi dan meng-upgrade pesawat F-16C/D blok 25” di Ogden Air Logistics Center di Hill AFB, Odgen, Utah ini  bermasalah.
Kita tidak ingin mencari mana yang salah dan mana yang benar ,  dan Yang pastinya mabes TNI dan kemhan khususnya TNI AU akan membentuk team untuk menyelidiki insiden terbakarnya pesawat F-16 ini.  Dan alhamdulillah , pilot TNI AU yang mengawaki pesawat naas tsb bisa Selamat. Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, yang memegang rekor 2.000 jam terbang dengan menggunakan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon merupakan salat satu ASET yang sangat berharga bagi TNI AU khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya.
Semoga kejadian ini bisa menjadi hikmah dan interopeksi semua pihak yang terlibat didalam . Dan pernyataan tsb sudah keluar dari pernyataan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna menyatakan ada ‘hikmah’ di balik insiden terbakarnya pesawat F-16 di Halim Perdanakusuma pagi ini. Menurut Agus, sebaiknya mendatangkan pesawat tempur baru.

Ini senjata legendaris Kopassus dari masa ke masa

Senjata Kopassus. (ist)
Seperti halnya pasukan reguler, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) juga mengandalkan senjata untuk melaksanakan berbagai operasi. Tentunya, senapan-senapan yang digunakan berbeda dari tentara pada umumnya, sehingga dipilih senjata yang mampu dibawa ke medan-medan berat sekaligus ringan dibawa.
Sejak pertama kali dibentuk, Kopassus diberikan berbagai senjata khusus. Salah satunya senapan AK-47 yang terkenal bandel dan disukai pasukan gerilyawan di dunia.
Tak hanya itu, senapan Uzi buatan Israel ini menjadi andalan saat Kopassus menjalankan operasi pembebasan sandera dalam sebuah pembajakan pesawat Garuda Indonesia di Woyla, Thailand. Meski ada yang menyebut saat itu sebagian besar justru menggunakan MP5.
Berikut senjata-senjata legendaris yang pernah dan masih dipakai Kopassus dari masa ke masa:

1. Uzi
IMI Uzi atau bernama internasional MP-2, merupakan jenis senjata mesin ringan yang menyerupai pistol. Senjata ini dikembangkan sejak 1949 dan mulai digunakan militer Israel sejak tahun 1954.
Titik berat senjata ini terletak di atas grip pistol, perubahan massa berat senjata saat ditembakkan relatif kecil. Alhasil, saat ditembakkan dengan salvo panjang pun kestabilannya tetap terjamin.
Menembak dengan senjata ini boleh dikatakan sama tenangnya dengan menembakkan pistol jenis otomatis seperti FN 9 mm, bahkan mungkin lebih tenang. Peluru yang dipergunakan adalah Parabellum 9×19 mm, dengan magasen mulai dari isi 25 peluru sampai 32 peluru.
Kecepatan menembaknya mencapai 60 butir peluru per menit, sedangkan ketika melakukan tembakan beruntun akan mencapai 100 sampai 120 peluru per menit. Jarak menembak otomatis mencapai 100 meter dan akan meningkat ketika melakukan tembakan salvo hingga 200 meter.
Karena keefektifannya dalam menembak, senjata ini pernah digunakan Kopassus dalam operasi pembebasan sandera di Woyla, Thailand. Dalam misi tersebut, korps baret merah ini berhasil menembak mati tiga dari lima orang teroris, dan melukai pemimpinnya. Sedangkan sisanya ditembak mati saat terdorong keluar pesawat.

2. Bren
Senapan Bren, merupakan jenis Senapan Mesin Ringan (SMR) buatan Inggris pada 1930-an, dan sempat dipakai hingga tahun 1991. Senapan ini mulai terkenal berkat daya gempurnya selama berlangsungnya Perang Dunia II dan sempat dipakai dalam Perang Korea maupun Perang Falkland.
Sebenarnya, Bren adalah versi modifikasi dari Senapan Mesin Ringan ZB vz. 26 buatan Cekoslowakia, yang diuji Angkatan Darat Inggris selama kompetisi senjata api pada tahun 1930-an. Bren tahap selanjutnya kemudian menggunakan magazen peluru box (kotak) melengkung yang khas, pelindung pijar kerucut dan laras rubah-cepat.
Senjata ini dibawa Inggris yang tergabung bersama pasukan sekutu ke Indonesia tak lama setelah kekalahan Jepang. Senapan ini digunakan tentara Allied Forces Netherlands East Indies atau AFNEI untuk menghadapi para pejuang kemerdekaan, termasuk peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
Kopassus yang baru terbentuk pada 1953 membutuhkan sejumlah senjata untuk mendukung operasi-operasi mereka. Alhasil, Bren menjadi salah satu senjata andalan saat menghadapi pasukan pemberontak di seluruh Tanah Air.

Jelang Babak Akhir Kompetisi, Eurofighter Typhoon Hadirkan Full Mockup di PT Dirgantara Indonesia

6
Sampai tulisan ini dibuat, belum juga ada keputusan final dari pemerintah Indonesia terkait pemenang tender pengadaan jet tempur pengganti F-5 E/F Tiger II Skadron Udara 14. Di sisi lain, publik pemerhati alutsista, pengambil keputusan, dan pihak user (TNI AU) telah mulai mengkristal pada ‘pilihannya’ masing-masing. Nama-nama besar seperti Sukhoi Su-35BM, Rafale, JAS 39 Gripen NG, F-16 Block 60, dan Typhoon masih harap-harap cemas menunggu putusan final dari Kementerian Pertahanan.
Sejak event Indo Defence 2014 digelar, hingga kini aura kompetisi kian terasa kencang. Contoh seperti Rafale yang belum lama unjuk demo di langit Jakarta, kini giliran Eurofighter Typhoon yang tak ingin kehilangan momentum. Bertempat di hangar PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Eurofighter menampilkan full mockup jet tempur multirole bermesin dua tersebut kepada kalangan media Tanah Air, termasuk Indomiliter.com yang mendapat undangan khusus dari PT DI. Sebagai full mockup, wujud jet tempur dihadirkan utuh dengan ukuran persis seperti aslinya.
Telah digunakan di 7 negara (Inngris, Spanyol, Italia, Jerman, Austria, Arab Saudi, dan Oman) jadi modal kuat untuk pemasaran Typhoon.
Telah digunakan di 7 negara (Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Austria, Arab Saudi, dan Oman) jadi modal kuat untuk pemasaran Typhoon.

Full mockup Typhoon juga memberi gambaran yang cukup jelas, pasalnya 13 hard point untuk cantelan senjata (rudal dan bom) semua dalam kondisi terpasang. Beberapa replika rudal yang dipasang pada mockup Typhoon seperti rudal udara ke udara IRIS-T (Infra Red Imaging system Tail/Thrust Vector Controlled), ASRAAM (Advanced Short Ranged Air to Air Missile) dan Meteor.
IRIS-T besutan Diehl BGT Defence, Jerman, digadang sebagai rudal udara ke udara jarak dekat, perannnya mirip dengan AIM-9 Sidewinder. Rudal ini memiliki pemandu infra red denga daya lacak tinggi, serta dapat menyajikan output gambar dengan resolusi tinggi. IRIS-T dapat melakukan manuver 360 derajat, dan dapat dikendalikan lewat radar maupun lewat bidikan dari helm sang pilot. Sementara ASRAAM buatan MBDA juga di dapuk untuk serangan jarak dekat, rudal ini mampu melesat lebih dari 3 Mach. Dengan kemampuan advanced, rudal ini bisa melesat hingga jarak 50 Km. Lalu untuk misi serang udara ke udara jarak menengah ditampilkan Meteor yang juga besutan MBDA. Rudal ini masuk kelas beyond-visual-range air-to-air missile (BVRAAM) dengan kecepatan luncur di awal hingga 2 Mach.
Replika rudal IRIS-T
Replika rudal IRIS-T
Rudal RBS-15 yang mampu digotong Typhoon.
Rudal RBS-15 yang mampu digotong Typhoon.

Varian jenis rudal dan bom yang bisa digotong Typhoon cukup banyak, tapi yang juga menarik perhatian adalah rudal anti kapal RBS-15 buatan Saab Bofors Dynamic, Swedia. Meski tak dipasangkan dalam hard point, rudal ini terbilang paling tambun, maklum bobot aslinya mendekat 800 Kg. Varian navy-nya, yakni RBS-15 MK3 rencananya akan dipasang melengkapi KCR (Kapal Cepat Rudal) Klewang Class TNI AL.
Semua panel senjata ditampilkan serupa dengan wujud aslinya, kecuali ujung laras kanon 1 × 27 mm Mauser BK-27 yang tak terlihat pada mockup. Selebihnya suguhan mockup Typhoon lumayan mampu membetot perhatian, seperti bagian kokpit yang memperlihatkan panel instrumen navigasi lengkap, dan kursi lontar Martin Baker MK16A.
Teknologi kendali pada kokpit mengandalkan fly by optics.
Teknologi kendali pada kokpit mengandalkan fly by optics.
5
Kursi Typhoon dirancang dengan ergonomis.

Masih terkait mockup, sebelumnya Eurofighter telah cockpit demonstrator di ajang Indo Defence 2014. Dengan menghadirkan mockup, pihak pabrikan dapat memperlihatkan secara lebih jelas tampilan penuh dari sebuat pesawat. Menghadirkan mockup juga dapat me-reduce biaya promosi, ketimbang mendatangkan pesawat demo ke negara tujuan yang jaraknya cukup jauh. Rencananya, mockup Typhoon di Bandung juga akan diperlihatkan ke kalangan mahasiswa.
Banyak hal menarik yang dapat dituangkan dari perjalanan selama dua hari bersama tim Eurofighter di Jakarta dan Bandung. Simak kelanjutan artikel terkait Typhoon dalam upayanya memenangkan kompetisi di Indonesia. Bagaimana setting misi Typhoon dalam menunjang kepentingan maritim Indonesia, dan tawaran pembuatan comformal fuel tank sebagai bagian dari offset dalam skema ToT (transfer of technology)? Nantikan ulasannya di artikel kami selanjutnya. Stay Tuned! (Haryo Adjie)

Rabu, 15 April 2015

Pesawat Nirawak Awasi Wilayah Perbatasan

KOMPAS Ilustrasi pesawat nirawak

Puluhan drone atau pesawat nirawak dioperasikan di perbatasan Kalimantan-Malaysia dan Papua-Papua Niugini untuk pemetaan dan menjaga wilayah perbatasan. Penggunaan pesawat nirawak dianggap sangat efektif karena cakupan wilayah yang dipetakan lebih luas dan mobilitas lebih tinggi serta waktu pengerjaan lebih cepat.
Direktur Direktorat Topografi TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Dedy Hadria yang ditemui di sela Lomba Orienteering di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (14/4/2015), mengatakan, jumlah pesawat nirawak yang tersedia saat ini 18 unit dan ditambah 16 unit.
"Pada tahun anggaran 2015 diajukan lagi 60 drone. Sedang dikembangkan pula drone fixed wing dengan daya jelajah 300 kilometer buatan dalam negeri," kata Dedy.
Saat ini, drone fixed wing milik TNI AD mempunyai daya jelajah 200 kilometer dan ketinggian terbang 1.200 meter. Penggunaan pesawat nirawak sangat penting untuk pemutakhiran data peta topografi yang harus dilakukan setiap lima tahun, terutama di wilayah perbatasan. Sebelumnya, survei topografi dilakukan secara konvensional dengan berjalan kaki atau di permukaan.
Untuk tahap awal, menurut Dedy, sudah ada 50-an awak pengendali pesawat nirawak di lingkungan Direktorat Topografi TNI AD dan kodam-kodam di perbatasan.
Selain itu, Pasukan Pengamanan Perbatasan (Pamtas) TNI AD yang ditugaskan untuk bergilir juga akan mendapat pelatihan sebagai operator pesawat nirawak pada pra-penugasan. Tugas pengamanan mereka dibantu dengan mengoperasikan pesawat itu sebagai "mata di udara".
Pada tahap awal pengamanan perbatasan, pesawat nirawak digelar di Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Papua. Menurut rencana, pengawasan perbatasan NTT-Timor Leste juga akan dilengkapi dengan pesawat nirawak.

Langkah strategis
Dihubungi secara terpisah, anggota Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan hubungan luar negeri, Prananda Paloh, memuji langkah strategis penggunaan pesawat nirawak dalam survei pemetaan dan pengawasan perbatasan.
"Pada hakikatnya penggunaan alat dan sistem harus memudahkan dan murah serta meningkatkan efisiensi kegiatan manusia. Demikian juga penggunaan drone untuk kepentingan pertahanan dan keamanan, yakni keperluan intai ataupun tempur oleh TNI adalah sebuah hal yang tak terhindarkan," ujar Prananda.
Namun, dia mengusulkan sebaiknya TNI AD menggunakan pesawat nirawak buatan dalam negeri yang dirancang oleh berbagai pihak, baik swasta, kampus, maupun lembaga riset negara. "Memang untuk peranti elektronik optik harus didatangkan dari luar negeri, tetapi setidaknya sistem pesawat nirawak dan fisik pesawatnya dapat dibangun di dalam negeri," kata Prananda.
Pesawat nirawak yang umumnya dirancang untuk keperluan dalam negeri masih berkisar pesawat nirawak dengan fungsi dasar dan masih kelas pesawat nirawak taktis, belum untuk pengamatan strategis yang lebih jauh dan lebih tinggi. Untuk perangkat yang dibutuhkan tetapi tidak bisa dibuat dalam negeri, bisa didatangkan dari luar negeri.
"Dengan demikian, Indonesia bisa melaksanakan tugas menjaga wilayah sambil belajar pada sistem drone yang lebih tinggi teknologinya. Dengan harapan, satu saat kita dapat melakukan reverse engineering dan memproduksinya sendiri," kata Prananda.

Kompas.

Hacker Tiongkok Diduga Mata-matai Pemerintahan SBY dan Jokowi

Ilustrasi (ist)
Aksi mata-mata ke Indonesia ternyata tidak hanya datang dari negara seperti Amerika Serikat, Inggris, atau Australia. Tetangga dari Asia pun diketahui juga melakukan hal yang serupa.
Ini diketahui setelah pemerintah Tiongkok dinilai telah menjadi dalang sejumlah serangan siber yang dilakukan kelompok hacker terhadap instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan jurnalis di India dan Asia Tenggara.
Menurut riset yang dilakukan perusahaan keamanan FireEye, dikatakan bahwa serentetan kegiatan spionase terhadap India, Malaysia, Vietnam, Thailand, Singapura dan Indonesia, sudah dilakukan Pemerintah Beijing sejak tahun 2005 dan masih berlangsung hingga kini.
“Memang tidak ada tanda yang menunjukkan langsung serangan ini adalah operasi dari pemerintah Tiongkok, namun semua tanda mengarah ke sana. Ini seperti medan pertempuran baru,” kata Chief Technology Officer FireEye Byrce Boland, seperti dikutip Tech Crunch.
Bukti yang telah dilakukan ditemukan oleh FireEye, seperti keberadaan petunjuk manual operasi ditulis dalam bahasa Tiongkok, basis kode yang tampaknya dikembangkan oleh pengembang Tiongkok, dan domain terkait didaftarkan adalah perusahaan bergerak di bidang pembuataan teh di pedesaan Tiongkok.
FireEye mengatakan juga bahwa sifat target yang tetap dirahasiakan menawarkan informasi dan menjadi petunjuk penting.
“Target mereka memiliki informasi yang paling mungkin melayani kebutuhan pemerintah Tiongkok untuk intelijen tentang isu-isu kunci di Asia Tenggara soal politik, ekonomi, dan militer, wilayah yang disengketakan, dan diskusi terkait dengan legitimasi Partai Komunis Tiongkok,” kata perusahaan FireEye.
Bila pengamatan FireEye benar dimulai dari tahun 2005 dan masih berlangsung hingga saat ini, maka sejak Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo, Tiongkok berupaya mendapatkan informasi penting negara Indonesia.
FireEye menyebut serangan para hacker itu mengincar informasi politik, ekonomi, dan militer. Jika dilihat dari upaya yang berkelanjutan dan bermisi, FireEye percaya kegiatan ini disponsori oleh negara.
“Upaya pembangunan berkelanjutan seperti yang direncanakan dan ditambah dengan target peretasan regional oleh sebuah kelompok bermisi, membawa kita percaya bahwa kegiatan ini disponsori oleh negara, kemungkinan besar pemerintah Tiongkok,” tulis DireEye dalam penelitiannya.
Sektor komersial yang menjadi sasaran peretasan ini menurut FireEye adalah konstruksi, energi, transportasi, telekomunikasi, dan penerbangan.
Metode yang dilakukan adalah pengelabuan dengan mengirim email bersama sebuah tautan atau program jahat yang kemudian bakal menyusup ke jaringan komputer milik pemerintah atau kalangan bisnis. Dari sana mereka akan mencuri dokumen penting yang relevan dengan kepentingan mereka.
Meski Tiongkok terus dituding gencar melakukan peretasan, tetapi pemerintah membantah tuduhan yang menyebut mereka melakukan mata-mata terhadap pemerintah, organisasi, dan perusahaan. (CNN Indonesia)

Amankan KAA, TNI Kerahkan Pesawat Tempur & Kapal Perang

Panglima TNI Jenderal Moeldoko. (ist)

TNI dan Polri melakukan apel terakhir di Silang Monas, Jakarta Pusat, sebagai upaya persiapan pengamanan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang akan berlangsung pada 19-24 April 2015 di Jakarta dan Bandung.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan baik kepada seluruh satuan yang ada di TNI dan Polri. Dia menambahkan, kesiapan pengamanan KAA sudah 100 persen.
“Saya telah koordinasi dengan baik, semua peralatan sudah dilengkapi dan ada persenjataan lain diperlukan kendaraan taktis dan tempur. Kemudian pengamaman Presiden dan Kepala negara juga kita telah mengerahkan sejumlah pesawat tempur dan sejumlah kapal perang, semua itu untuk memberikan rasa aman dan nyaman,” ujar Moeldoko di Silang Monas, Jakarta, Rabu (15/4/2015).
Moeldoko menegaskan, menerjunkan sekira 16.631 personel TNI untuk mengamankan perhelatan KAA. “Pengamanan kepentingan memiliki standar yang baku dan tidak boleh dikurangi sedikit pun,” jelasnya.
Dia juga merasa bangga lantaran Indonesia bisa dipercaya menjadi tuan rumah dalam KAA ke-60 tersebut. Sebab, tidak mudah mengawal pelaksanaan tersebut. Karenanya, Moeldoko mengaku akan total dalam mengantisipasi segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
“Saya bangga menjadi tuan rumah, dan di Bandung juga sudah siap, hanya tinggal pelaksanaanya saja,” terangnya.
Sebelumnya, pada 19 April 2015 akan dilangsungkan pertemuan pejabat tinggi di Jakarta dan Pertemuan Tingkat Menteri pada 20 April 2015. Sedangkan, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) KAA akan berlangsung di Jakarta pada 22 hingga 23 April 2015.
Rangkaian peringatan 60 tahun KAA akan berakhir pada 24 April di Bandung, di mana para kepala negara akan melakukan historical walk dari Hotel Savoy Homman ke Gedung Merdeka.
KTT KAA tahun ini diharapkan menghasilkan tiga dokumen yaitu Bandung Message, Deklarasi Penguatan Kemitraan Strategis Asia dan Afrika (NAASP) dan deklarasi mendukung kemerdekaan Palestina.
Kekuatan personel pada pelaksanaan pengamanan VIIP KAA ke-60 tahun 2015 berjumlah 16.631 personel, dengan rincian 300 dari Komando Gabungan Pengamanan (Kogabpam), 500 Kosatgapam TNI, 4.256 dari Satgaspam VIIP, 3.550 daru Satgaspam VIP-2, 750 dari Satgas Pamwil-2, 5416 Satgaspam VIP-1, 3136 Satgaspam BIP-2, 750 Satgas Passus, 100 Satgas Laut, 600 Satgas Hanud, 1300 Satgas Udara (Koppsau-I), 762 Satgas Intel, 150 Satgas Kodam II/Sriwijaya, 150 Satgas Kodam IV Dipenogoro, dan 750 pasukan standby.
Personel tersebut akan disiagakan pada 2 dan 3, lalu untuk pengamanan ring 1 dilakukan oleh Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Pengamanan dilakukan mulai dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur dan di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. (Okezone)