Selasa, 14 April 2015

Tembus Tank Baja, Senapan ‘Sniper’ Indonesia Gegerkan Dunia

 
Ilustrasi Pindad
Ilustrasi Pindad

Penembak runduk. Istilah itu bisa ditelusuri sejak tahun 1770-an, di kalangan prajurit kolonial Inggris di India. Barang siapa mahir memburu burung snipe yang konon sulit ditembak, maka ia berhak mendapat julukan ‘sniper’.
Seiring berlalunya waktu, sniper mengalami pergeseran arti. Yakni, prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.
Indonesia baru kehilangan sniper legendaris yang diakui dunia, Tatang Koswara, yang meninggal dunia pada 3 Maret 2015. Namun, Bumi Pertiwi menghasilkan kebanggaan yang lain, senapan penembak runduk (SPR) yang diproduksi PT Pindad: SPR 2.
SPR ini bukan sembarang senjata. Pelurunya bisa menembus tank baja. Dan bahkan, ada peledak di balik munisi tersebut yang bisa menghancurkan kendaraan tempur dalam sekejap. Lebih hebat lagi, SPR 2 juga memiliki jangkauan tembak hingga 2 kilometer (km). Kemunculannya menggemparkan dunia sniper.
“Senjata yang mendunia, kalau kita fokus ke senjata, kita punya SS-1, SS-1 dan beberapa varian. Kita juga punya SPR-2 yang baru kita launching dan langsung dibeli oleh Kopassus,” kata Direktur PT Pindad Silmy Karim kepada Liputan6.com.
Mantan Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) itu menambahkan, senjata-senjata yang merupakan produk unggulan Pindad,  kualitasnya sudah teruji. Siap digunakan di medan tempur. “Dan ternyata memang bisa diterima dan malah lebih unggul dari pada produk impor,” ujar dia.
Secara rinci, SPR 2  berkaliber 12,7 mm x 99 mm, panjang senapan 1.755 mm, berat keseluruhan 19,5 kg, panjang barel 1.055 mm, kapasitas peluru antara 5-10 butir. Rifling atau alur spiral berulir pada bagian dalam laras senjata api ini yakni 8 grooves, RH 381 mm (15”) twist. Kecepatan rata-rata lesatan peluru 900 meter per detik dan jangkauan 2 km.
Menurut Silmy, keistimewaan SPR 2 ini dibanding senapan dari negara adalah terletak pada jangkauan, ketepatan, dan silencer atau peredam suara hentakan dari tembakan.
Silencer yang dipasang bisa menurunkan hentakan suara tembakan sekitar 20-30 desibel. Senjata ini juga dilengkapi perangkat night vision dan teleskop dengan pembesaran ukuran 5-25 kali.
“Senjata kita ini ada peredam dari recoil-nya (hentakan), yang ini cukup membuat kesulitan bagi produsen lain dalam mendesain produk yang digunakan oleh sniper. Di samping itu, senjata sniper ini relatif sangat khusus. Dalam arti tidak massal di mana tingkat ketelitiannya harus maksimal,” ungkap dia.
Direktur Pindad ini mengakui manfaat ekonomis dari pembuatan SPR 2 ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi ia menekankan, keberhasilan pembuatan senapan runduk tersebut membuktikan bahwa Indonesia mampu menciptakan alutsista yang inovatif dan mutakhir.
“Untuk membuat sniper ini, effort-nya (usahanya) banyak, tetapi secara ekonomis, manfaatnya tidak terlalu banyak. Tetapi kita dalam hal ini melakukan dalam konteks kemandirian. Dalam konteks kita mampu membuat senjata yang dapat digunakan oleh sniper,” kata Silmy.
Kepada Liputan6.com, teknisi Pindad Diding Sumardi menunjukkan wujud senapan SPR 2, aksesoris, dan berbagai pelurunya. Ada tiga jenis peluru yang bisa digunakan, yakni MU3 M yang dipakai untuk latihan menembak, MU 3 SAM yang bisa menembus kendaraan, dan MU 3 BLAM yang tidak hanya menembus kendaraan tapi juga bisa meledakkan target.
Atas kemampuannya yang luar biasa, Sniper SPR 2 mendapat pengakuan dari dunia internasional. Terbukti, senapan jitu ini masuk rekomendasi di situs alat utama sistem senjata (alutsista) Weaponsystems.net, bersanding dengan senjata canggih lainnya dari penjuru dunia, seperti senapan runduk Zastava M93 Black Arrow buatan Serbia.
Bahkan, tentara Singapura pernah melontarkan pujian untuk SPR 2. “Good!“, ujar seorang penembak kontingen Angkatan Darat Singapura, sambil terus memandangi dan melihat detail fitur senapan runduk anti material versi SPR-2, yang dipajang di stand PT Pindad di sela-sela kejuaraan tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-21, di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, dengan adanya SPR 2 ini, Indonesia bersanding dengan tiga negara lainnya yang mampu membuat senapan runduk serupa, yakni Amerika Serikat (AS) dan dua negara di Eropa.
Dunia militer Indonesia naik tingkat dari sebelumnya. Meski begitu, PT Pindah belum menjualnya kepada negara lain. Sejauh ini, baru Komando Pasukan Khusus (Koppasus) TNI AD yang sudah mengoperasikannya. Mengenai harga per unitnya, SPR 2 ini dibanderol sekitar Rp 200 juta per pucuknya.

Berawal dari Tank ‘Si Jablay’
Produk PT Pindad yang menghentakkan dunia internasional tidak hanya senapan SPR 2, tapi juga panser Anoa. Kendaraan taktis (rantis) ini telah diproduksi sebanyak ratusan unit dan tersebar di Indonesia maupun negara lain. Kepuasaan pelanggan membuat rantis, yang terdiri 5 varian yakni Armored Personnel Carrier, Ambulance, Logistic, Recovery dan Remote Control Weapon System, ini pun tidak pernah luput dari permintaan. Harganya berkisar Rp 25-30 miliar.
Armoured Personnel Carrier atau lebih dikenal dengan Anoa 6 x 6 APC yang khusus mengangkut tentara ini dilengkapi sejumlah peralatan seperti alat deret Winch dengan daya deret 6 ton, Pioneer Set atau tombol pengendali, alat pemadam kebakaran, alat penyejuk Udara, toolkit pengemudi, lampu dan peta, jaring kamuflase, hydraulic rear rampdoor system atau sistem pintu hidrolik, smoke grenade dischargers atau alat peluncur granat berkaliber 66 mm yang jumlahnya 3 di kanan dan 3 di kiri kendaraan.
Panser ini juga bisa dilengkapi beberapa fitur opsional seperti sistem komunikasi dan pergerakan AM, FM Radio dan Intercom Set, GPS, NVG, Add -on. Kemudian ada keramik lapis baja Armament; sistem remote control RCWS-Cal 7,62/12,7 mm (remote control weapon system), dan senjata di bagian belakang senapan mesin ringan 7,62 mm. Anot 6 x 6 APC ini berjalan naik hingga 45 derajat dan turun 10 derajat, serta memutar 360 derajat.
Anoa lain yang tak kalah canggih adalah Recovery dan Remote Control Weapon System (RCWS). Spesifikasinya serupa dengan Anoa APC. Hanya fungsinya berbeda. RCWS memiliki keunggulan dengan sistem remote control, sehingga tentara tidak perlu naik ke atap untuk menembakkan senjata.
Untuk Anoa Ambulance memiliki fungsi khusus mengangkut korban yang muatannya lebih banyak dan dilengkapi anti-peluru. Sedangkan Anoa Logistic untuk mengangkut berbagai macam barang, seperti peluru, makanan dan tenda. Anoa Recovery untuk memperbaiki persenjataan yang rusak, termasuk sebagai mobil derek.
Awal dibuatnya Anoa tidak lepas dari operasi militer yang dilakukan di Aceh pada tahun 2003. Saat itu, TNI Angkatan Darat (AD) meminta kendaraan lapis baja untuk transportasi pasukannya. Pindad pun merespons dan mengembangkan kendaraan angkut personal ringan atau APRV-1V yang berbasis chasis truk komersial pada tahun 2004. Sayangnya proyek 40 unit yang dipesan TNI AD ini terpaksa dibatalkan karena bencana tsunami pada akhir Desember 2014.
Tidak berputus asa, dengan dibantu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, PT Pindad terus menyempurnakan APR-1V varian 4X4 tersebut. Akhirnya mereka berhasil mengembangkan panser sesuai tantangan Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, Panglima TNI saat itu, bernama APS1-V1 atau yang dijuluki “Si Jablay” oleh PT Pindad.
Pengembangan berbagai varian pun terus dilakukan, hingga akhirnya di penghujung tahun 2007 terjadi momen kebangkitan PT Pindad, seperti yang dilontarkan Jusuf Kalla, Wakil Presiden saat itu. Pemerintah Indonesia memesan 150 panser ke PT Pindad dengan nilai kontrak Rp 1,1 triliun. Ratusan panser itu kemudian digunakan oleh TNI AD. Kejadian ini menjadi momen bersejarah karena menjadi order terbesar sejak Pindad berdiri pada tanggal 29 April 1983. Seperti yang disampaikan Direktur Teknologi dan Pengembangan, Ade Bagdja seperti tertulis di buku “Pijakan untuk Kemandirian Alutsista” 30 Tahun PT Pindad.
“Yang harus diketahui oleh generasi mendatang adalah perjuangan kita untuk membayar itu. Demi bangsa dan negara, kita mesti bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pada tahun itu (2008), kami hanya mendapat libur 1,5 hari. Sehari Idul Fitri, setengah hari Idul Adha. Bahkan, saya dan ada beberapa yang lain sempat dibekali koper oleh istri karena hanya pulang ke rumah untuk mandi dan makan saja,” ungkap pria berkaca mata itu.
Kerja keras dan perjuangan pengembangan Panser Anoa pun berbuah hasil. Saat ini. ada ratusan unit yang diproduksi PT Pindad. Pengembangan kendaraan ini pun dikembangkan salah satu perusahaan yang tergabung dalam BUMN Industri strategis ini.
Direktur Operasi Produk Hankam PT Pindad, Tri Hardjono mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan beberapa varian terbaru. Seperti panser Anoa menggunakan senjata kanon 20 mm, versi amphibious hingga menggunakan meriam canon 90 mm. Dalam pengembangan ini, PT Pindad tidak sendiri. Selain menggandeng mitra dari luar negeri, sejumlah perusahaan Tanah Air baik negeri maupun swasta turut membantu mengembangkannya.
“Ini sudah menggunakan system automatic, yang mahal di sistem senjata adalah sistem penembakannya. Nah ini yang harus kita kuasai dan Pindad untuk sementara belum masuk di elektronik dan optiknya. Ini akan didukung oleh instansi lain seperti BPPT, PT Inti, PT Len, dan lain-lain,” imbuh Tri.
Kini Panser Anoa buatan PT Pindad telah mendapat pengakuan dunia internasional. Sewaktu di Lebanon pada Oktober 2014 lalu, Panser Anoa yang dibawa TNI dinyatakan layak bertugas oleh (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) dalam misi perdamaian. Lapisan baja dan rangka Anoa dinyatakan memiliki tingkat Stanag 3, yang bisa menahan peluru kinetis hingga 7,62×51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30 meter dengan kecepatan 930 m/s. Anoa juga bisa menahan ledakan ranjau hingga massa 8 kg di bagian roda gardan dan di tengah-tengah badan.

Mimpi Pindad Jadi Produsen Senjata Besar 2023
Sepak terjang PT Pindad tak hanya berhenti di sini. Direktur PT Pindad Silmy Karim menargetkan perusahaannya akan menjadi produsen senjata besar dunia pada tahun 2023 mendatang. Ia berharap target itu bisa tercapai lebih cepat.
“Kalau bisa tidak sampai 2023, saya menargetkan untuk tahun depan sudah kelihatan full range (berbagai jenis senjata) produk pindad. Dan ini boleh dibilang kalau kita mandiri, kita memang sudah mandiri kok,” ujar Silmy.
Dijelaskan dia, PT Pindad baru bisa dikatakan sebagai produsen senjata besar dunia jika telah memproduksi berbagai senjata dan amunisi. Misalnya, ada peluru kaliber besar dan kecil serta peluru kendali (rudal) dan jet tempur mutakhir. Namun persero tersebut tentu butuh dukungan dana dari pemerintah yang lebih besar.
“Anggaran pertahanan Amerika Serikat adalah 30 persen dari US$ 700 ribu per tahun. (Anggaran di) Indonesia baru untuk total industri dalam negerinya paling 5 persen. Sudah kecil, besarannya kecil pula persentasinya,” papar Silmy. “Tapi kita nggak apa-apa dalam arti kan kita punya cita-cita didorong ataupun tidak didorong, kita harus maju. Kalau kita mau cepat maju ya harus didorong, harus cepat dibantu.”
Sejauh ini, langkah PT Pindad untuk ‘go internasional’ sudah dekat dengan banjir pesanan dari luar negeri, termasuk dari Thailand, Filipina, Timor-Timur, Singapura, dan Malaysia. Menurut Silmy, penjualan terbesar di PT Pindad adalah amunisi atau peluru. PT Pindah hingga kini telah menghasilkan hampir seluruh range ukuran kaliber.
“Sekarang kita mendalami amunisi berkaliber besar 105, 90, 76, 155, 30, 40. Untuk medium sedang, tahun ini kita rencananya untuk amunisi medium sedang dan medium besar,” kata Silmy.
Dalam mengembangkan amunisi ini, PT Pindad akan bekerja sama dengan perusahaan pembuat senjata dari negara lain dengan proses alih-teknologi dan juga menjaring market internasional. Setelah mendapat ilmu dari pihak luar, PT Pindad kemudian akan mengembangkannya menjadi lebih canggih.
Selain amunisi, PT Pindad juga tengah mengembangkan panser amfibi yang bisa bermanuver di air dan danau. Namun kendaraan taktis tersebut baru bisa tahan di laut dengan ombak pada level tertentu.
“Nanti pengembangannya kita bisa sendiri seperti halnya pada waktu kita berkerjasama dengan pihak luar. Itu kan dengan (pembuatan senapan) SS 1 awalnya, tetapi pada akhirnya kita bisa membuat SS2. Nah pola ini kan sudah proven, nah ini kita pakai. Tidak ada salahnya kan untuk kendaraan kita bisa kerjasama dengan luar negeri untuk yang roda rantai,” papar Silmy.
Untuk mewujudkan semua ini, selaku orang nomor 1 di Pindad saat ini, Silmy mengajak dan mengimbau jajarannya untuk lebih bersemangat untuk membuktikan kepada dunia bahwa produk lebih unggul dibanding negara lain. Selain itu, ia juga selalu memberikan kewenangan kepada bawahan yang muda dan enerjik yang bisa terus memperbaharui teknologi dan mengejar pasar penjualan senjata.
“Saya bilang sama teman-teman di sini kita jangan jago kandang gitu. Kita harus bisa menang di luar. Saya dorong itu dan saya pilih penanggungjawabnya yang memang enerjik dan masih muda. Bahkan saya bilang ke mereka, kenapa kamu nggak ke luar negeri gitu untuk mencari pasar. Dan itu adalah salah satu cara untuk memperkenalkan (produk Pindad),” jelas Silmy.
“Menurut saya, kita masih belum memperkenalkan produk-produk unggul kita keluar. Tapi kalau masalah harga, kualitas kita tidak kalah. Yang masih belum kita lakukan pembenahan adalah di layanan purnajual ini yang lagi saya tata.”
Silmy menjelaskan, karakteristik di industri senjata sangat berbeda dengan industri biasa. “Karena industri defence (pertahanan itu tidak seperti industri pada umumnya. Kedekatan network itu adalah salah satu kunci untuk melakukan ekspor,” imbuh dia.
Meski demikian, upaya keras PT Pindad untuk menjadi produsen senjata internasional dirintangi hambatan. Menurut Silmy, PT Pindad  yang berada di bawah naungan Kementerian BUMN sulit untuk berkembang lantaran keputusan dan kebijakan harus diputuskan melalui sejumlah proses yang disepakati bersama. “Saya daripada harus menunggu atau kendali di kita lebih baik saya bikin (kebijakan) sendiri. Kalau sudah jadi saya baru melapor, tolong di-support (dukung) produk ini untuk dibeli.”
Kendala lainnya adalah ketika yang melakukan riset adalah pihak lain, bukan Pindad. Silmy lebih memilih untuk melakukan riset secara mandiri dan bekerja sama dengan mitra asing. “Bukannya saya inginnya cepat-cepat, tapi karena kita sudah tidak ada waktu lagi untuk kita tidak berlari. Itu yang saya bilang ke teman-teman agar melakukan aktivitas yang lebih baik,” tandas Silmy.

Indonesia Makin Disegani
Wakil Komandan Satuan (Wadansat) 81 Penanggulangan Teror Kopassus Letkol Infanteri Murbianto yang ditemui Liputan6.com pada ajang Danjen Kopassus Cup 2015 mengungkapkan, perkembangan persenjataan di PT Pindad cukup membanggakan. Menurut dia, PT Pindad berhasil menunjukkan senjata produksi dalam negeri memiliki kualitas Internasional.
“Untuk saat ini akurasi dan daya tahan itu cukup bagus, kalau berat relatif ada juga memang yang beratkan tapi mungkin tapi kalau dibanding M-16 lebih berat SS-1. Tapi kalau akurasi terutama di jarak 100 -200 itu cukup bagus,” ungkap Murbianto di markasnya, Cijantung, Jakarta Timur.
Hal senada disampaikan Mayor Infanteri Faizal Izudin, Ketua tim kontingen TNI dalam ajang kompetisi nembak Internasional, ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-24 yang digelar di Vietnam pada tahun 2014 silam. Kata dia, menggunakan senjata produk dalam negeri dari PT Pindad membuat TNI disegani negara lain.
“Memang pada saat pelaksanaan AARM kemarin khususnya pada cabang Senapan maupun Carabine kita menggunakan produk dari Pindad. Ada SS1 maupun SS2 V2. Senjata ini kualitasnya tidak kalah dengan senjata-senjata lain seperti M-16  karena terbukti hasil penembakannya, kami masih bisa merebut juara umum,” ucap Pria yang bertugas di Komando Pasukan Khusus atau Kopassus ini.
Faizal menilai kemampuan individu dan skill TNI yang baik harus juga harus selalu bersinergi dengan persenjataan yang mendukung. Terbukti, apa yang telah diperjuangkan TNI dan PT Pindad mendapat apresiasi yang luar biasa. “Dengan nilai-nilai yang kita dapatkan selama latihan maupun pertandingan khususnya, otomatis secara tidak langsung membuat penembak negara lain melihat senjata kita,” tuturnya.
Dia berharap PT Pindad terus berinovasi, berkreasi dan tidak menutup komunikasi dengan para petembak di lapangan demi memperbaiki dan mengembangkan kualitas senjata. Terlebih, menurutnya, perkembangan persenjataan negara lain semakin di-upgrade kualitasnya.
“Sudah otomatis, sebagai anak bangsa kita cukup bangga senjata yang dibuat sendiri kualitasnya tidak kalah produk-produk yang kelas dunia. Kita makin bangga bukan hanya mampu menyaingi bahkan mampu mengungguli karena nilai-nilai kita dapatkan juga bisa bersaing, namun kita tidak harus berpuas diri dan selalu mengevaluasi agar ke depan makin baik lagi,” harap Faizal.
Selain Faizal, Murbianto juga berharap sejumlah kekurangan kualitas senjata yang ditemukan di lapangan diharapkan bisa menjadi pelajaran untuk teknisi PT Pindad dalam membuat lebih baik untuk ke depan. Pihaknya pun siap membantu PT Pindad menyempurnakan senjata-senjata tersebut.
“Mungkin masalah standarisasinya perlu diperhatikan lagi, jadi setiap senjata yang dibuat kalau bisa sama semua. Kadang-kadang kami temukan senjata ini bagus namun dengan tipe yang sama tapi berbeda kualitasnya. Kita harapkan standarisasi Pindad lebih diketatkan lagi dan betul-betul memiliki kualitas sama dan bagus,” tandas Murbianto. ( Liputan6.com )

PTDI dapat pesanan 75 pesawat N219


Pengunjung melihat maket pesawat N-219 yang dikembangkan PT Dirgantara Indonesia dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat Pameran Hari Ulang Tahun BPPT di Jakarta, Rabu (12/09/12). (FOTO ANTARA/Dhoni Setiawan)
Pengunjung melihat maket pesawat N-219 yang dikembangkan PT Dirgantara Indonesia dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat Pameran Hari Ulang Tahun BPPT di Jakarta, Rabu (12/09/12). (FOTO ANTARA/Dhoni Setiawan)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mendapatkan pesanan 75 pesawat jenis N219 dari PT Nusantara Buana Air (NBA), PT Aviastar Mandiri, dan PT Trigana Air Service.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman pembelian 75 unit pesawat N219 itu di Puspiptek Tangerang Selatan, Banten, Senin.
“Dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara PTDI dengan tiga perusahaan penerbangan Tanah Air menunjukkan tingkat kepercayaan calon pelanggan pada pesawat N219,” kata Direktur Utama PTDI Budi Santoso.
Penandatanganan nota kesepahaman pembelian N219, menurut dia, juga menunjukkan kecintaan pada karya anak bangsa yang bisa meningkatkan motivasi karyawan PTDI untuk menghasilkan produk-produk lainnya bagi masyarakat Indonesia dan dunia.
N219 merupakan pesawat kelas kecil serba guna berkapasitas 19 penumpang yang akan menjadi salah satu andalan PTDI.
Pesawat itu dilengkapi aplikasi teknologi mutakhir khususnya di bidang elektronik dan avionik, yang membuatnya bisa lepas landas dalam jarak pendek yakni sekitar 500-600 meter, yang dibutuhkan maskapai penerbangan rute perintis dengan kondisi lapangan terbang berperalatan minimal.
Budi berharap pesawat itu bisa menjadi sarana yang bisa menghubungkan semua titik di wilayah Indonesia.
Nota kesepahaman antara PTDI dan ketiga maskapai penerbangan Indonesia intinya menyatakan bahwa ketiga perusahaan berminat membeli pesawat N219 yang dirancang dan diproduksi oleh PTDI.
PT NBA menyatakan akan membeli 20 unit serta opsi 10 unit. PT Aviastar Mandiri menyatakan akan membeli 20 unit dengan opsi 10 unit. Sementara PT Trigana Air Service menyatakan akan membeli 10 unit dengan opsi 5 unit. (ANTARA News)

PT DI Rencanakan Kelahiran Pesawat Komersial Baru

Ilustrasi pesawat N-245
Ilustrasi pesawat N-245

PT Dirgantara Indonesia (DI) kini merencanakan kelahiran pesawat pesawat komersial baru yang digadang-gadang mampu bersaing dengan jenis ATR 42 dan Q 300.
“Sekarang sedang dalam tahap perencanaan. Kita akan evaluasi dulu kelayakan dan nilai ekonomisnya. Kalau layak kita akan mulai kembangkan tahun depan,” kata Presiden Direktur PT DI, Budi Santoso.
Direncanakan memiliki kapasitas angkut 50 orang, pesawat yang dinamai N-245 tersebut ditargetkan mampu melayani rute jarak dekat yang perlu pelayanan namun memiliki permintaan penumpang rendah.
“Contoh misalnya rute Tanjung Karang ke Palembang, tidak ada pesawatnya sekarang. Nanti kita layani dengan N-245. Ya targetnya untuk jarak antara 100-200 mil laut, 400 kilometer, setara Jakarta ke Semarang,” kata Budi.
Ditemui di sela National Innovation Forum 2015 yang diadakan di Puspiptek Serpong, Senin (13/4/2015), Budi mengungkapkan, N-245 bisa dibilang modifikasi karena beberapa rancangan bagian pesawatnya diambil dari CN-235.
“Sayapnya itu kita ambil dari desain CN-235 dan N-295. Sama. Sayap itu sudah bisa angkut beban 23 ton. Sudah proven. Untuk badannya kita sedang mikir ambil dari CN-235. Itu untuk bentuknya. Kalau panjang kan nanti bisa disambung,” jelas Budi.
Bagian yang dirancang baru adalah ekor. Menurut Budi, perancangan ulang bagian ekor diperlukan sebab ekor pesawat CN-235 atau pesawat lain tak bisa diaplikasikan karena terlalu berat.
Karena tidak merancang semua bagian dari awal, pengembangan N-245 bakal jauh lebih murah. “Kalau bikin pesawat dari nol, biayanya 1,5-2 miliar dollar AS. N-250 sekarang sudah hampir 2 miliar dollar AS. Untuk N-245 cuma 150 juta dollar AS sudah sampai prototipe,” kata Budi.
Budi percaya bahwa permintaan penumpang akan pesawat jarak dekat akan semakin tinggi seiring pertumbuhan ekonomi. Ia mengatakan, bila N-245 terwujud dan dijual, maskapai bisa mencapai break even point dengan hanya membeli 50 – 70 pesawat. (KOMPAS.com)

Senin, 13 April 2015

Ini Peran Kelompok Din Minimi yang Bunuh Dua TNI

Ini Peran Kelompok Din Minimi yang Bunuh Dua TNI
Kapolda Aceh Irjen Pol Husein Hamidi memperlihatkan barang bukti yang berhasil disita dari tersangka komplotan bersenjata pimpinan Din Minimi di Polres Lhokseumawe, Senin 13 April 2015. (VIVA.co.id/Zulfikar Husein)

Selama 2014 hingga April 2015 Polda Aceh berhasil menangkap sedikitnya 13 anggota kelompok bersenjata pimpinan Din Minimi. Komplotan ini terlibat sejumlah kasus kriminal bersenjata di Aceh, salah satunya penculikan dan pembunuhan dua anggota Kodim TNI Aceh Utara beberapa waktu lalu. Semua yang berhasil ditangkap memiliki peran yang berbeda-beda.

Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi, pada saat konferensi pers di Polres Lhokseumawe menjelaskan, polisi berhasil menangkap 13 tersangka di sejumlah wilayah di Aceh termasuk di wilayah Riau. Berikut kronologinya:

Pertama kali polisi berhasil membekuk DN dan NR, mereka anak buah Din Minimi. Kemudian polisi berhasil menangkap SH dan AR. Keduanya berperan sebagai penyuplai logistik untuk kelompom bersenjata tersebut.
Lalu polisi mencokol IR yang bertugas memantau lokasi dan pengawas dalam aksi penculikan di Dewantara, Aceh Utara, 18 Februari 2015.

Lalu polisi menangkap yang bertugas pemasok logistik. Juga MM yang juga bertugas memasok logistik dan mencari target atau korban yang akan diculik. “Dia (MM) juga penjemput Din Minimi dari Aceh Timur ke Aceh Utara,” kata Kapolda Aceh.

Sementara di Riau, polisi berhasil menangkap YM dan MD. Keduanya berperan sebagai penculik dan melakukan pengancaman. Kamudian pada 10 April 2015, polisi berhasil menangkap seorang kurir senjata api, MA. Juga DK yang bertugas menyimpan titipan senjata api untuk Din Minimi cs.

Setelahnya, polisi menangkap AR bersama seorang anak buahnya yang berperan sebagai penyuplai senjata api. Selain itu AR dan anak buahnya juga bertugas merekretu anggota baru. “Yang bersangkutan juga residivis. Bukan hanya 2014 dan 2015, tapi tahun-tahun sebelumnya dia juga sering melakukan kriminal,” kata Kapolda.

4 Pesawat Tempur Membawa Rudal Pintar Milik TNI AU Tiba Di Sumbar

 
Danlanud  Padang Ltk Pnb Muhammad Apon, ST, MPA menyambut kedatangan Ltk Pnb Jajang Setiwan Danskadron Udara 12 Lanud Rusmin Nuryadin Pakan Baru dalam rangka latihan Movrick di Bandara BIM Padang Pariaman Sumatera Barat, Sabtu
Hari ini Empat pesawat tempur jenis Hawk 100/200 dari Skadron Udara 12 Lanud Rusmin Nuryadin Pekan Baru lengkap dengan persenjataan rudal pintar jenis Maverick milik TNI AU tepat pukul 09.00 wib tiba  mendarat di Bandara Minangkabau Padang Pariaman Sumatera Barat untuk melaksakan simulasi latihan operasi udara diatas wilayah Sumatera Barat, Sabtu (11/4). Selama hampir sepekan ke depan para pilot tempur TNI Angkatan Udara ini berlatih penembakan dari udara ke sasaran di  darat dan laut  atau disebut juga air to groud dengan rudal maverick.
Danlanud Padang Ltk Pnb Muhammad Apon, ST, MPA menyambut kedatangan Ltk Pnb Jajang Setiwan Danskadron Udara 12 Lanud Rusmin Nuryadin Pakan Baru dalam rangka latihan Movrick di Bandara BIM Padang Pariaman Sumatera Barat, Sabtu, (11/4).
Danlanud Padang Ltk Pnb Muhammad Apon, ST, MPA menyambut kedatangan Ltk Pnb Jajang Setiwan Danskadron Udara 12 Lanud Rusmin Nuryadin Pakan Baru dalam rangka latihan Movrick di Bandara BIM Padang Pariaman Sumatera Barat, Sabtu, (11/4).

Menurut Danlanud Padang Letnan Kolonel Penerbang Muhammad Apon, ST, MPA menjelaskan, Kedatangan pesawat tempur TNI Angkatan Udara hari ini untuk dalam rangka memperkuat sistem pertahanan udara untuk menjaga kedaulatan NKRI khususnya di wilayah udara Indonesia. Sesuai Intruksi Pimpinan salah satunya adalah kehadiran kekuatan udara hingga di perairan Samudra Hindia. Lanud Padang yang memiliki posisi berhadapan langsung dengan Samudra ini memerlukan konsep dan persiapan yang jelas dalam penggelaran operasi udara untuk mendukung program Poros Maritim dunia. Dikatan lebih lanjut Pesawat tempur tersebut berada di Sumbar terhitung hari ini, Sabtu 12 April 2015 sampai 17 April 2015 mendatang, untuk memperagakan simulasi perang udara menggunakan smart Rudal jenis AGM-65 Maverick yang digelar di Pangkalan Udara Padang. Latihan itu juga dalam rangka persiapan menghadapi Indian Ocean Rim Association (IORA), yang akan diadakan di Sumbar yang sekaligus menjadi tuan rumah. Dengan melihat dinamika di lapangan dan pertimbangan strategis maka dalam latihan ini ada beberapa obyek vital di Sumbar akan menjadi area target central of grafity (sasaran utama) jelasnya.
Sementara itu Dan Skadron udara 12 Letkol Pnb Jajang Setiawan menambahkan, 4 pesawat tempur Hawk 100/200 yang tergabung dalam “Panther Flight, selama hampir sepekan ke depan akan melakukan penembakan Rudal dari udara ke sasaran yang ada di darat atau perairan menggunakan Rudal Maverick. Selain bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para penerbang, latihan yang menggunakan Smart Bombing ini juga bertujuan untuk mencapai Currancy dalam melaksanakan penembakan menggunakan Rudal Maverick atau Air Guided Misille (AGM/TGM) 65. Dakatan lebih lanjut, Pada saat merilis Rudal tersebut para penerbang menggunakan parameter yang ada di radar pesawat dan Multi Purpose Display (MPD). Latihan ini merupakan latihan rutin Skadron Udara 12 yang dilaksanakan secara periodik. Menurutnya ini pengalaman yang istimewa untuk pertama kali Pesawat tempur Hawk 100/200 landing di Padang. Kita disambut sejuknya udara pantai dan indahnya pegunungan yang membentang sepanjang kota Padang ini menambah semangat untuk berlatih pungkasnya.
Latihan Maverick yang berbasis di Lanud Padang itu diikuti 10 penerbang dan 62 ground crew. Selain itu untuk mengakut para pesonil dan logistic juga didukung 1 pesawat angkut jenis C-130 hercules dari skadron udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Sedangkan untuk kegiatan SAR telah di siaganka 1 unit Helikopter EC-120 Colibri dan 1 unit Brigade anjing serta I tim sarpur Paskhasau dari Yonko 462 Pakan Baru.
Rudal AGM 65 Maverick memiliki pemandu elektro-optik . Setelah kubah pelindung dicabut dan sirkuit videonya diaktifkan, tampilan yang dilihat oleh sistem pemandu akan muncul di layar kokpit. Pilot kemudian memilih target, mengunci target kemudian rudal ditembakkan. Sedangkan spesifikasi teknis Rudal AGM 65 Maverick dengan mesin : Thiokol TX-481 dengan motor roket berbahan bakar padat berpendorong ganda. Berat : 207,9 kg (AGM 65A/B), Panjang : 2,55 meter, Diameter : 30,48 cm, Bentan sayap : 71,12 cm,Kecepatan : 1.150 km/jam, Jangkauan : 27 km ( ketinggian tinggi ) dan 13 km ( ketinggian rendah )
Selain itu rudal ini memiliki Hulu ledak : 56,25 kg (AGM 65A/B), Sistem pemandu :elektro-optik, inframerah dan laser, Platform : Pesawat.
Sumber : tni-au.mil.id

Mantan Agen CIA: ISIS Dibentuk Israel, Amerika dan Inggris

 
(foto:nbcnews)
(foto:nbcnews)

Mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) dan agen Central Intelligence Agency (CIA), Edward Snowden mengungkapkan bahwa Islamic State of Irak and Syria (ISIS) bukan murni organisasi militan Islam. Organisasi ini merupakan bentukan Amerika, Israel dan Inggris.
Menurut media-media di Iran, sepeti dikutip Moroccantimes, pemimpin ISIS, Abu Bakr Al Baghadadi dilatih secara khusus oleh badan intelijen Israel, Mossad. Badan intelijen tiga negara tersebut sengaja membentuk kelompok teroris untuk menarik kelompok-kelompok garis keras di seluruh dunia dalam satu tempat. Mereka menyebut strategi ini “sarang lebah”.
Dengan strategi ini, kelompok-kelompok yang merupakan musuh Israel dan sekutunya itu jadi lebih mudah terdeteksi. Tujuan lainnya, untuk merawat instabilitas di negara-negara Arab.
Abu Bakr Al Baghdadi.(foto:mirror)
Abu Bakr Al Baghdadi.(foto:mirror)

“Satu-satunya solusi untuk melindungi negara Yahudi adalah untuk menciptakan musuh di sekitar perbatasan,” ujar Snowden.
Menurut Snowden, Abu Bakr Al Baghadadi tak hanya mendapat pelatihan militer, namun juga keterampilan komunikasi dan public speaking agar bisa tampil meyakinkan untuk menarik para pengikut garis keras lain di seluruh dunia. (moroccoantimes/ MetroTV).

Latihan Bersama Marinir Indonesia–Amerika Berakhir

 Latihan Bersama Marinir Indonesia–Amerika Berakhir
Wakil Asisten Operasi Kasal Laksma TNI Didik Wahyudi, SE mewakili Asisten Operasi Kasal Laksda TNI Arie H. Sembiring secara resmi menutup Latihan Bersama Marinir Indonesia - Amerika yang bersandikan Lantern Iron 15-5524 di Pusat Latihan Tempur Korps Marinir Lampon, Pesanggaran, Banyuwangi, Jumat (10/4).
Dalam amanat tertulis yang dibacakan Waasops Kasal, Asops Kasal mengatakan, kegiatan Lantern Iron 15-5524 merupakan latihan bersama antara Marinir Indonesia dengan Marinir Amerika yang telah dilaksanakan selama 27 hari di Puslatpur Marinir Karangtekok dan Puslatpur Lampon dengan aman dan lancar.
Dengan selesainya latihan ini, lanjutnya, diharapkan prajurit Taifib Korps Marinir dan US MARSOC banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru, sehingga pengalaman dan pengetahuan tersebut dapat dijadikan sebagai modal dalam menunjang pelaksanakan tugas pokok satuan  masing - masing.
Menurut Asops Kasal, latihan bersama tersebut disamping bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan dan profesionalisme prajurit, juga dalam rangka menciptakan hubungan persaudaraan yang erat antara pasukan dari kedua negara, sehingga kerjasama militer di bidang pertahanan dapat diwujudkan.
Hubungan kerjasama khususnya dalam bidang latihan sudah lama terjalin, namun diharapkan agar ke depan hubungan baik tersebut akan terus ditingkatkan dengan menyelenggarakan latihan demi latihan, sehingga doktrin dan persepsi tentang pelaksanaan operasi amfibi dapat disinergikan.
Dalam kesempatan tersebut Asops Kasal mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya bagi pihak-pihak yang terlibat mendukung dan mensukseskan latihan bersama tersebut, sehingga dapat berjalan sesuai yang direncanakan. Selain itu, ucapan selamat juga disampaikan kepada peserta latihan yang telah selesai melaksanakan latihan, khusus bagi prajurit US MARSOC, Asops Kasal mengucapkan selamat jalan dengan harapan bisa bertemu kembali dimasa yang akan datang.
Sebelum pelaksanaan upacara penutupan, dilaksanakan evaluasi latihan, tukar menukar cindera mata, peresmian prasasti latihan, penanaman pohon kelapa, usai upacara dilanjutkan dengan pelepasan anak penyu atau Tukik ke laut.

TNI.