Senin, 13 April 2015

Indonesia Tawarkan Pesawat dan Panser ke Afrika

Ilustrasi PT Pindad (ist)
Pemerintah bakal memanfaatkan momen Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika yang dilangsungkan pada 19-24 April 2015 untuk meningkatkan perdagangan internasional. Di hadapan ratusan perwakilan pejabat negara, Kementerian Perdagangan akan mempromosikan berbagai produk unggulan dalam negeri.
“Kami juga akan meningkatkan kerja sama bisnis, perdagangan, dan investasi,” kata Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Bachrul Chairi melalui rilis yang diterima Tempo pada Ahad, 12 April 2015. Topik ini akan dibicarakan dalam salah satu acara KAA 2015, Asia-Africa Business Summit yang berlangsung di Jakarta.
Empat agenda penting yang dibicarakan adalah infrastruktur, perdagangan, agribisnis, serta kemaritiman dan kelautan. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel akan memaparkan target peningkatan ekspor 300 persen.
Bachrul meyakini momentum ini tidak hanya bermanfaat untuk mengembangkan jaringan dan memperluas mitra usaha. Tapi juga untuk memperkenalkan potensi Indonesia dengan mempromosikan berbagai produk industri strategis.
Sejumlah produk badan usaha milik negara yang akan diperkenalkan adalah pesawat buatan PT Dirgantara, panser PT Pindad, dok kapal PT Kodja Bahari, perangkat pembangkit tenaga surya buatan PT LEN Industry, dan mobil pemadam kebakaran dari PT New Sentosa.
Data statistik 2014 menunjukkan volume perdagangan ekspor dan impor Indonesia dengan negara Asia dan Afrika hanya mencapai US$ 11 miliar per tahun. Sementara itu, perdagangan ekspor Asia ke Afrika mencapai 26 persen dari total ekspor Asia ke dunia, lebih besar dari ekspor Afrika ke Asia yang hanya 3 persen dari total ekspor mereka.
Melalui Asia Africa Business Summit, diharapkan nilai perdagangan antara kedua kawasan tersebut dapat lebih ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Direktur Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya Deny Wachyudi Kurnia menegaskan perdagangan dengan kawasan Afrika saat ini masih rendah. “Padahal Afrika merupakan pasar alternatif yang sangat potensial bagi Indonesia dan Asia,” katanya.(tempo)

SMG Sa Vz 61 Skorpion: Pernah Jadi Andalan Paskhas Dalam Misi CQB

1
Heckler & Koch MP5 kini lazim digunakan di setiap pasukan elit TNI, meski begitu, tak bisa dipungkiri SMG (Sub Machine Gun) besutan Jerman ini dipopulerkan oleh Kopassus (Komando Pasukan Khusus) yang mengawali adopsi MP5 pada awal tahun 80-an. Selain MP5, ada SMG lain yang awalnya populer oleh satuan khusus tertentu, tapi kemudian juga dipakai satuan lain. Salah satunya adalah Sa Vz 61 Skorpion, SMG buatan Cekoslovakia.
Bagi pemerhati alutsista, Sa Vz 61 Skorpion mungkin sudah tak asing, senjata yang sekilas mirip UZI ini kerap ditampilkan oleh satuan Paskhas TNI AU. Umumnya, Skorpion dibawa bagi pasukan khusus (Den Bravo) yang sedang melaksanakan misi penerjunan, misi pertempuran jarak dekat, dan anti teror. Saat ini, Skorpion bukan lagi sebagai SMG utama di lingkup Korps Baret Jingga, pasalnya eksistensinya kini telah diambil alih H&K MP5. Dikutip dari Commando – Sub Machine Gun, War Machine Series, perwira intelijen Kopassus yang bertuagas di Timor Timur saat jejak pendapat tahun 1999 juga membawa Skorpion, lantaran senjata ini mudah disembunyikan, dan juga untuk penyangkalan, lantaran Skorpion bukan senjata organik TNI.
Personel Den Bravo 90 Paskhas TNI AU dengan Skorpion ( pada pengendara motor)
Personel Den Bravo 90 Paskhas TNI AU dengan Skorpion ( pada pengendara motor). Foto: Tribunnews.com
Personel Paspampres Wanita menyandang Skorpion.
Personel Paspampres Wanita menyandang Skorpion.

Tak hanya Paskhas dan Kopassus, Korps Brimob Polri justru pernah menjadikannya sebagai senjata standar, tak hanya untuk misi pertempuran jarak dekat/close quarter battle (CQB), tapi juga untuk misi mengawal kiriman uang, seperti pada Brimob di Yogyakarta. Satuan Intai Amfibi Marinir (Taifib) TNI AL pernah terlihat menggunakannya pada Latgab Yudha Siaga di tahun 2008. Wikipedia malah menyebut Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL juga turut menggunakan Skorpion. Karena desain yang simpel dan ergonomis laksana pistol, Paspampres juga kepincut mengadopsi Skorpion.
Sa (Samoval) Vz (Vzor) (pistol mitraliur) 61 Skorpion boleh dibilang perpanduan unik antara SMG dengan pistol otomatis. Pihak pabrikan CZ merancang Skorpion sebagai pengganti pistol, dengan kemampuannya membawa magasin , plus layout SMG, menjadikan posisinya istimewa karena dipakai pula oleh satuan lintas udara dan pasukan khusus Ceko. Dengan keberadaan popor lipat model tabung kawat , semakin menegaskan citranya sebagai SMG.
2
Skorpion dibangun dengan model yang berbeda dari senjata kebanyakan. Posisi pengokang ditaruh ditempatkan di sisi kiri-kanan receiver, sementara lubang tempat keluarnya peluru berada di sisi atas. Dengan bodi kecil dan mekanisme delayed blowback, jelas hanya butuh waktu singkat bagi bolt untuk kembali ke depan, menciptakan masalah tingginya kecepatan tembak Skorpion yang dihadapkan pada keterbatasan kemampuan laras Skorpion yang pendek dan tipis untuk mampu menanganinya. Kecepatan tembak senjata ini mencapai 850 peluru per menit, dengan kemampuan laras yang pendek dan tipis, maka laras akan lebih cepat panas.
Guna mengatasi problem di seputar laras, CZ merancang sear dan delayed lever/plunger. Begitu bolt sampai ke belakang, sear akan ‘mematuk’ bolt, menghentikannya sementara sampai kuncian sear diungkit oleh tuas plunger. Dengan begitu, terhambatnya bolt kembali ke depan secara otomatis mengurangi kecepatan tembak Skorpion.
Skorpion dapat ditembakkan dengan gaya ala pistol.
Skorpion dapat ditembakkan dengan gaya ala pistol.
Gaya menembak dengan popor.
Gaya menembak dengan popor.
Juga dapat dipasangi peredam dan optical sight.
Juga dapat dipasangi peredam dan optical sight.

Untuk urusan varian, Skorpion versi awal keluar dengan kaliber 32. ACP, satu-satunya kaliber yang ada dio arsenal Barat dan Timur. Tahun 1982, Skorpion mengalami perubahan lagi dengan diperkenalkannya Sa Vz. 82 dalam kaliber 9 x 18 mm Makarov, kaliber pistol standar Pakta Warsawa. Versi ekspornya disebut Sa Vz 83, diisi dengan peluru .380 ACP. Kedua varian ini sudah menggunakan popor hitam sintetik menggantikan popor kayu. Untuk yang lebih menyukai Skorpion dengan aroma SMG yang kental, disediakan magasin lurus berkapasitas 20/30 peluru dan juga peredam untuk aplikasi pasukan khusus.
_vyrp11_694CZ-Skorpion-61S-20008518_czech-small-arms-csa-sa-vz-61-scorpion-carbine-semi-auto-rifle-765mm-browning-32-acp-45-blued-foldin
Karena ukurannya kompak dan ergonomis, Skorpion mendapat tempat tersendiri baik di kalangan militer dan teroris. Pembajak PLO yang meledakan pesawat komersial di Dawson Field, Yordania di tahun 1970-an nampak mengacung-acungkan Skorpion di kokpit pesawat. Di Indonesia Skorpion juga pernah digunakan dalam aksi perampokan sadis yang menimpa toko emas di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pelakunya Liem Wei Sing (53) berhasil digulung pada Oktober 2008. Lewat aksi baku tembak degan Polisi, Wein tewas dengan meninggalkan sepucuk Skorpion dan 60 butir peluru tergeletak di samping tubuhnya yang tak bernyawa.
Skorpion mulai dirancang pada tahun 1959 oleh Miroslav Rybář, dan mulai resmi digunakan pada tahun 1961. Dalam rentang 1961 – 1979, Skrorpion telah diproduksi sebanyak 200.000 unit dalam berbagai varian, dan cukup aktif dalam kancah perang Vietnam dan perang Bosnia.
Tampil sebagai senjata utama dalam film "Smokin Aces 2."
Tampil sebagai senjata utama dalam film “Smokin Aces 2.”
SkorpionVz61firing

Spesifikasi Sa Vz 61 Skorpion
– Kaliber : .32 ACP/9 x 18 mm dan Makarov /9 x 19 mm
– Sistem operasi : delayed blowback
– Panjang total : 517 (popor terentang) dan 270 mm (popor terlipat)
– Panjang laras : 115 mm
– Bobot kosong : 1,28 Kg
– Kecepatan proyektil : 310 meter per detik
– Jarak tembak efektif : 150 meter
– Kecepatan tembak : 850 peluru per menit
– Kapasitas magasin : 10/20/24 dan 30 peluru

Minggu, 12 April 2015

Analisa Di Balik Pengepungan Daeng Koro

  Latihan pasukan TNI di Poso sekaligus mengepung pasukan Daeng Koro
Latihan pasukan TNI di Poso sekaligus mengepung pasukan Daeng Koro

Dengan informasi yang terbatas, ijinkan saya sharing analisa pribadi mengenai Daeng Koro, yang mungkin berlawanan dengan informasi mainstream.
Di berbagai media di infokan bahwa Daeng Koro:
1. Dipecat dari TNI karena zina
2. Tidak lulus test jasmani Kopassus (waktu itu namanya Kopassandha)
3. Setelah dari Kopassus beralih ke Yonif Linud Makassar.
4. Baik di Kopassus dan Linud ditugasi mengurusi voli, bukan di main role sebagai pasukan khusus.

Dari berita, Daeng Koro awalnya masuk TNI di Kodam IV Diponegoro Jateng. Kemudian dari Kodam IV melamar masuk Kopassus. Namun tidak semua prajurit se-Indonesia bisa ikut test masuk Kopassus. Prajurit yang mendapat rekomendasi ikut test Kopassus tentunya harus yang benar-benar unggulan dari setiap kesatuan/Kodam, karena dituntut bisa menjaga nama baik tempat asal.
Di sini timbul pertanyaan. Kalau si Daeng gagal masuk Kopassus, mengapa tidak dikembalikan saja ke kesatuan asalnya yg tentunya masih sangat membutuhkannya, daripada hanya ditugaskan sebagai pengurus voli.
Tidak hanya itu, dipindah ke kesatuan elit berikutnya pun di Yonif Linud Makassar masih juga sebagai pengurus voli. Saya baru sadar, di dalam kesatuan elit kita ternyata voli menjadi kegiatan cukup penting (?).
Setelah tidak di TNI sejak 1992, kabar Daeng baru muncul di media sekitar 2005/6 dalam konflik Poso. Sejak itu sampai sepuluh tahun dikabarkan sudah melakukan banyak teror bahkan melawan Polri, walaupun diburu terus oleh ratusan Brimob dan Densus 88. Beberapa teknik teror yang dilakukan, dalam menangkap 2 anggota polisi ternyata di suatu tempat berupa killing ground. Untuk menemukan kedua jenazah ini dilakukan TNI dgn kualifikasi pelacak jejak.
Bentuk teror lain berupa sebuah ledakan jebakan agar polisi mendatangi TKP secara lengah. Sadar kemungkinan dijebak, 15 polisi datang dengan kendaraan lapis baja, yg ternyata benar disambut berondongan senjata.
Daeng Koro pada akhirnya berhasil ditembak Densus 88 minggu lalu. Inipun karena kelaparan, setelah puluhan kurir logistiknya ditangkap, setelah long march 150 km Poso – Parigi Moutong, sekitar 15 hari kalau melewati hutan. Dan pula setelah ada unsur deterrent jepitan TNI sebanyak 3,000+ pasukan khusus dari darat, laut, dan udara dengan dukungan ratusan roket yang diluncurkan dari darat, kapal perang, dan F-16.
Bisa kita timbang-timbang, seorang pemain voli pada akhirnya menantang langsung pasukan khusus Polri dan TNI. Bandingkan dengan Dr. Azhari, bomber dari tetangga sebelah, paling banter beraninya melawan turis dan pengunjung hotel.
Pertanyaan yang muncul, betulkah desertir ini hanya seorang pengurus voli nan flamboyan dan tidak lulus test jasmani Kopassus? Dia yg pada akhirnya, telah long march 150 km di usia 52 tahun setelah 10 tahun lebih menteror, baru bisa dikalahkan oleh serangan proxy berkekuatan 1 brigade pasukan khusus gabungan (Joint Special Forces) include marinir, with heavily armed.
Fiksi Hollywood pun tidak terpikir untuk menaikkan pamor Rambo dengan level perbandingan sebesar ini!
Kini saya baru tercenung, ternyata inilah makna 1 prajurit Kopassus dirancang utk mampu setara 10 tentara, dan 1 Kostrad/Raider utk setara 3 tentara (tolong koreksi kalau saya salah) dan lebih dari itu mereka dirancang untuk meladeni perang berlarut.
Secara demikian, implikasi “seorang pemain voli” vs 1 Brigade JSF ini menjadi point2 faktual sbb:
1. Bahwa Kopassus termasuk pasukan elit terbaik dunia bukan isapan jempol.
2. Banyak pasukan elit dunia ingin berlatih dgn pasukan khusus Indonesia.
3. Pasukan khusus Amerika ingin belajar perang gerilya dgn TNI … Tapi setelah latihan bareng, prajurit Ranger Amerika tidak mau lagi .. makan ular.
4. Pemekaran Kopassus menjadi 5 Group (5,000 prajurit) diprotes banyak negara Barat, karena bakal setara 50,000 prajurit (5 Divisi).
5. Di JKGR pernah diberitakan keenam Yonif di Papua akan ditingkatkan menjadi Raider. Kalau tiap Yonif Raider berkekuatan 700+ prajurit, maka ada 4,000+ prajurit setara 40,000+ prajurit (4 Divisi).
Pada akhirnya, tidak perlu orang pintar dan jenius untuk menyimpulkan. Message untuk tetangga sebelah sudah jelas: hati-hati! Kalian sebaiknya melakukan study comprehensive terhadap pemain voli di sini, seperti apa kemampuannya, dan resiko apa kalau ceroboh melakukan perang darat di tanah NKRI. Gitu aja kok bingung!
Wallahu’alam. Salam.
WH

Sabtu, 11 April 2015

TNI AU Berharap Dapat F-16 Block 70 atau Su-35

Pesawat F-5E TNI AU (Foto: Roni Sontani)

ANGKASA.CO.ID - TNI Angkatan Udara berharap pesawat pengganti F-5E/F Tiger II Skadron Udara 14 yang sudah berusia 35 tahun, adalah dari tipe pesawat yang selama ini sudah dioperasikan oleh TNI AU namun dari generasi yang lebih tinggi lagi. “Ya, kita sudah pakai F-16 Block 15 dan Block 25. Sekarang kami berharap kalau bisa F-16 Block 70. Sementara kalau Sukhoi, kita sudah pakai Su-27/30, ya kami harapkan Su-35,” ujar KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (7/3).

Pertimbangan memilih kedua pesawat tersebut, kata KSAU kepada Angkasa, adalah karena para teknisi TNI AU sudah familiar dengan perawatan kedua pesawat yang masing-masing berasal dari Amerika Serikat dan Rusia tersebut. “Kasihan adik-adik, kalau harus mulai lagi dengan tipe pesawat yang baru,” jelasnya. Sebagaimana diketahui TNI AU telah mengoperasikan pesawat F-16 sejak 1989 dan Su-27/30 sejak tahun 2003.

Meski demikian, Agus Supriatna menegaskan, baik F-16 Block 70 maupun Su-35, belum diputuskan secara resmi sebagai pengganti F-5E/F Tiger II walaupun sudah santer disebut-sebut dalam banyak pemberitaan. “Oh tidak, TNI AU hanya mengajukan spesifikasi. Sedangkan yang mengkaji adalah dari Kementerian Pertahanan,” ujarnya. “Belum, belum diputuskan,” tambahnya lagi.

Mengenai masa operasi F-5 di TNI AU, walaupun sudah mengabdi 35 tahun, KSAU menyatakan bahwa F-5 masih bisa dimaksimalkan hingga tahun 2020. “Rencananya memang hingga tahun 2020. F-5 akan dimaksimalkan. Kondisinya masih bagus, walaupun hanya tinggal beberapa saja.”

Asisten Logistik KSAU Marsda TNI M. Nurullah, kepada Angkasa mengatakan, F-5 akan dipensiunkan bila pesawat penggantinya sudah datang. “Harapannya F-5 masih bisa digunakan sampai tahun 2020. Suku cadang F-5 masih bisa dibeli dari luar,” ujarnya. Meski demikian, kalau pesawat penggantinya bisa datang lebih cepat, F-5 pun akan segera dipensiunkan. Sebaliknya, kalau pesawat pengganti datangnya lama, F-5 bisa juga dipensiunkan di tengah jalan. “Bisa tahun 2020 atau sebelum itu,” ujarnya.

Seperti diketahui, saat ini Kementerian Pertahanan tengah mencari dan mengkaji pesawat yang cocok untuk menggantikan peran pesawat interseptor F-5E/F Tiger II Skadron Udara 14 Lanud Iswhajudi, Madiun. Beberapa negara sudah menawarkan produk unggulan pesawat tempurnya. Amerika Serikat menawarkan F-16 generasi terbaru Block 60 (atau Block 70 seperti yang disampaikan KSAU --Red), Rusia dengan Su-35, Swedia dengan JAS-39 Gripen, Konsorsium Eropa dengan Eurofighter Typhoon, dan Perancis dengan Rafale.

Pabrik SAAB Swedia telah mengundang beberapa wartawan Indonesia ke Swedia untuk melakukan peliputan guna melihat dan mendapatkan paparan mengenai teknologi Gripen. Perancis telah menghadirkan dua Rafale B/C Angkatan Udara mereka dan mendemonstrasikan kapabilitasnya di langit Lanud Halim Perdanakusuma. Sementara pada April ini rencananya Eurofighter juga akan datang ke PT Dirgantara Indonesia dan mengundang wartawan untuk memaparkan keunggulan jet tempur Typhoon.

Dalam ajang Indo Defence 2014 di Jakarta, Eurofighter dan SAAB juga datang menghadirkan simulator jet tempur mereka untuk dicoba oleh para pengunjung. Tinggal Rusia yang hingga kini terkesan masih “tenang-tenang saja” dengan unggulan mereka Su-35. Diakui banyak kalangan, jet tempur Su-35 memiliki daya gentar yang sangat tinggi. “Jangankan Su-35, kita latihan bareng dengan beberapa negara di Australia pakai Su-27/30 saja, kehebatan pesawat ini sudah bisa terukur,” ujar seorang perwira tinggi TNI AU. “Banyak yang ingin tahu pesawat Sukhoi kita. Apalagi sekarang sudah lengkap dengan beragam senjatanya,” sambungnya.

Pertanyaannya kemudian, bila TNI AU sudah berharap terhadap F-16 terbaru dan/atau Su-35, lalu mengapa masih banyak negara maju lainnya ikut menawarkan jet tempur unggulannya kepada Indonesia? Pertama, pembelian pesawat tempur selain ditinjau dari matriks perbandingan teknis dan kemampuannya, juga ikut menentukan faktor-faktor lain seperti harga, kemudahan perawatan, transfer teknologi, imbal dagang, hingga hubungan baik dengan negara penjual. Pengalaman menggunakan pesawat dari negara tertentu ikut berperan juga dalam hal ini. Banyak kendala atau sebaliknya.

“Beli pesawat tempur atau alutsista lain yang belum bisa kita produksi sendiri, maka harus dibarengi dengan transfer teknologi, adanya jaminan tidak terkena embargo akibat penggunaannya, dan juga harus disertai imbal dagang minimal 85%. Itu bagian dari amanat Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Pemicu lainnya, tambahnya, karena TNI AU masih ada alokasi tiga skadron tempur baru hingga tahun 2024. “Belum lagi ke depannya, kita juga harus menyiapkan calon pengganti pesawat Hawk 100/200 Skadron Udara 1 dan Skadron Udara 12. Jadi total tiga skadron ditambah Skadron F-5 dan dua Skadron Hawk. Total masih ada enam skadron,” urainya.

Proses penggantian suatu pesawat di banyak negara membutuhkan waktu yang cukup lama. Mulai dari pengajuan kebutuhan, tinjauan, tender, perbandingan performa, kajian, penentuan pemenang, pembiayaan, kontrak efektif, produksi hingga ke realisasi pengiriman.

Skadron Udara 14 TNI AU sepertinya memang masih harus bersabar menanti pesawat pengganti F-5. Program pengadaan pengganti F-5 terdapat pada Rencana Strategis pemenuhan Minimum Essential Forces (MEF) periode dua, 2015-2019. Belajar dari pengalaman, pembelian pesawat butuh waktu yang cukup lama. Bisa jadi, paling cepat pengganti F-5 ini baru tiba di akhir periode MEF II. (roni sontani)

Yang Ditawarkan Rafale ke Indonesia

Sebagai peserta yang tampil paling akhir, Dassault Rafale tampak berupaya keras menyalip di tikungan akhir menjelang garis finish. Dan tidak main-main upaya yang dilakukan Dassault. Meski paling buncit, pabrikan Perancis ini langsung memboyong 2 unit jet tempur Rafale, untuk diujicobakan TNI-AU maupun Kementrian Pertahanan. Dan aksi yang dilakukan Rafale ini, sejujurnya mengundang decak kagum.


Namun, sebagaimana amanat Undang-Undang Industri Pertahanan, dan sekaligus pemanis kontrak, setiap pabrikan menawarkan sejumlah paket teknologi transfer. Dan untuk mencari tahu hal ini, ARCinc pun berkesempatan bertanya langsung kepada Executive Vice President America-Africa-Asia Military Sales dari Dassault Aviation, J.P.H.P Chabriol. Dan pertanyaan pertama tentunya paket transfer teknologi apa yang Dassault tawarkan ke pihak Indonesia.
Jawaban Chabriol cukup lugas. Ia menyatakan Dassault siap memberikan apapun yang Indonesia minta sebagai imbal pembelian Rafale. Mulai dari perawatan, produksi sub sistem hingga perakitan penuh (full assembly) jet tempur Rafale di Indonesia. Chabriol mencontohkan, pada penawaran dengan India, lebih dari 100 unit Rafale akan dibangun di dalam negeri India. "Meski jumlah pembelian Indonesia nantinya tidak sebanyak India, paket full assembly pun bisa saja dilakukan," papar Chabriol.

Selain itu, janji Dassault memberikan transfer teknologi bisa dilakukan lebih mudah lantaran Rafale merupakan jet tempur yang 100% murni buatan Perancis. Artinya tidak diperlukan persetujuan negara ketiga yang memasok subsistem dari Rafale. Bahkan Chabriol juga menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Industri Pertahanan lain seperti LEN, Pindad dan lain sebagainya.
Permasalahan lain yang kerap mengantui pembelian senjata oleh Indonesia adalah embargo. Untuk hal ini, Chabriol kembali mempertegas bahwa Rafale adalah 100% buatan Perancis. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran mengenai embargo dari negara ketiga sebagai pemasok subsistem. Alutsista buatan Perancis sendiri sudah banyak digunakan militer Indonesia, mulai dari Helikopter, Panser, Meriam, Radar, dan sebagainya tanpa adanya bayang-bayang embargo.
Bagaimana dengan harga Rafale yang dianggap cukup mahal. Sembari tersenyum, Chabriol menyatakan keberatannya membandingkan Rafale dengan jet tempur yang lebih murah. Namun, ia kembali mencontohkan saat tender di India, dimana Rafale dibandingkan dengan Typhoon. "Setelah melalui beragam kalkulasi meliputi biaya operasional, life cycle, perawatan, Rafale justru lebih murah dibanding Typhoon", klaim Chabriol.

Sementara itu, dari sisi Indonesia, ARCinc bertanya langsung kepada PT.DI , yang juga ternyata salah satu pemrakarsa kedatangan Rafale ini. Dirut PT.DI, Budi Santoso, menyatakan yang ia cari adalah kemampuan mengupdate dan mengupgrade pesawat tempur. Menurutnya, pesawat tempur berbeda dengan pesawat angkut, dimana dalam masa operasionalnya selama 20-30 tahun, harus selalu diupdate sehingga bisa memenangkan pertempuran. Namun demikian, pihaknya tetap menyerahkan kepada pemerintah dan pihak terkait mengenai transfer teknologi yang disepakati.
Lalu bagaimana dengan Typhoon? Bukankah PT.DI sebelumnya tampak bekerja sama dengan Konsorsium Eurofighter? "Oh.. itu hanya pancingan, buktinya Rafale mau datang kan", kata Budi Santoso sambil tersenyum.

ARC. 

Pindad Jajaki Pembuatan Meriam Kapal dengan Italia

  Meriam 76 mm buatan Oto Melara pada korvet Kelas SIGMA (photo : Saberwyn)
Meriam 76 mm buatan Oto Melara pada korvet Kelas SIGMA (photo : Saberwyn)

PT Pindad (Persero) menjajaki pengembangan senjata kapal laut atau meriam dengan sebuah perusahaan di Italia. “Kami sudah bertemu dengan perusahaan senjata untuk kapal laut di Italia, rencananya kami akan bekerjasama mengembangkan meriam kapal laut,” kata Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Bandung, Kamis (9/4).
Ia menyebutkan, Italia merupakan salah satu negara yang memiliki pengembangan senjata kapal laut yang baik di dunia, oleh karena itu Pindad menggandeng perusahaan itu.
Lebih lanjut ia menyebutkan, rencana kerja sama itu akan segera ditindak lanjuti oleh kedua belah pihak, namun yang jelas baik Pindad maupun pihak produsen senjata dari Italia itu sudah menemukan kecocokan untuk kerja sama lebih lanjut.
“Pokoknya dari kunjungan kami ke sana cukup strategis, dan itu selaras dengan progam Pindad untuk mengembangkan teknologi juga peningkatan kemampuan SDM,” katanya.
Ia menyebutkan, Pindad juga telah memproduksi beberapa munisi untuk kapal perang yang terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. “Selain mengembangkan senjata, kendaraan tempur dan munisi, kita juga kembangkan untuk munisi kapal laut serta engine,” kata Silmy.
Dia menyebutkan, selain mengunjungi Italia, Silmy juga menyatakan telah melakukan pertemuan dengan beberapa pihak di Prancis dan Jerman dalam rangka kerja sama pengembangan munisi dan kendaraan tempur. “Jerman memiliki perusahaan mesin untuk kendaraan tempur, kita jajaki ke sana untuk mesin-mesin itu.
Sedangkan dengan Prancis untuk pengembangan munisi kaliber sedang maupun kaliber besar,” katanya.
Lebih lanjut ia menyebutkan, pihaknya saat ini tengah mengembangkan munisi kaliber 105 milimeter untuk memenuhi kebutuhan munisi tank AMX-13 Retrofit TNI AD.
“Selain itu kami juga menjajagi pengembangan munisi kaliber 155 milimeter. Pasar munisi kaliber besar cukup potensial baik di dalam maupun luar negeri, meski target kita untuk memenuhi kebutuhan TNI,” kata Silmy. (Republika).

Lanud RSN Segera Terima Tambahan F-16

 
F-16CJ TNI AU (TS-1641), 21 Des 2014 di Lanud Soewondo Medan (Foto: Andang Tri Prabowo / http://jetphotos.net)
F-16CJ TNI AU (TS-1641), 21 Des 2014 di Lanud Soewondo Medan (Foto: Andang Tri Prabowo / Jetphotos.net)

Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin di Pekanbaru, Riau, menerima 16 unit pesawat jet tempur Fighting Falcon F-16 buatan AS pada tahun ini, untuk memperkuat pertahanan militer di barat Indonesia, khususnya Pulau Sumatera.
Komandan Pangkalan Udara Kolonel Muhammad Khairil Lubis mengatakan di Pekanbaru, Kamis 9/04/2015, bahwa pangkalan udara Roesmin Nurjadin akan mendapatkan lima unit jet tempur F-16 dari Kementerian Pertahanan pada bulan depan.
“Kami akan menerima lima jet tempur di bulan Mei,” ujar Kolonel Muhammad Khairil Lubis, seperti dikutip kantor berita Antara.
Dia menambahkan bahwa pangkalan udara itu saat ini rumah bagi lima unit jet tempur F-16 dan 16 unit pesawat Hawk 100 dan 200 berkemampuan serang darat, buatan Inggris.
Kolonel Lubis mengatakan pangkalan udara tersebut akan menerima lagi tambahan enam unit pesawat Pembom F-16, dari kementerian Pertahanan pada akhir tahun ini.
Penguatan pangkalan udara dengan mengoperasian dua skuadron pesawat pembom, sejalan dengan rencana pemerintah untuk meng-upgrade status pangkalan udara Roesmin Nurjadin dari Tipe B ke Tipe A, saat ini.
Dia menambahkan, dengan penguatan pangkalan udara yang dibutuhkan tidak hanya pesawat tempur baru dan persenjataan canggih, tetapi juga tentara profesional yang terampil dalam mengoperasikan dan memelihara teknologi militer modern. (thejakartapost.com).