Jumat, 10 April 2015

Hawk MK.53: Perjalanan dari Jet Latih, Penempur Taktis Hingga Andalan Tim Aerobatik TNI AU

1
Pasca berakhirnya pengabdian singkat jet latih Aero L-29 Delfin pada masa revolusi 1965, praktis TNI AU kehilangan sosok jet latih lanjut untuk melatih kader penerbang tempurnya. Dan seiring berubahnya haluan politik di Indonesia, maka poros pengadaan alutsista pun bergeser dari Eropa Timur ke AS dan Eropa Barat (NATO).
Kekosongan di lini jet latih lanjut nyatanya mendapat perhatian serius di era Soeharto. Lewat kontrak yang ditandatangani oleh KSAU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi dan wakil pabrik British Aerospace pada 1978, Indonesia resmi memesan 20 unit jet latih lanjut Hawk MK.53 dari Inggris.
Dua unit perdana Hawk MK.53 tiba dari Inggris tahun 1980, dan memperkuat Skadron Pendidikan (Skadik) 103 Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Dua pesawat ini bernomer ekor LL-5301 dan LL-5302. Kedua pesawat mendarat dengan mulus di Lanud Halim Perdanakusuma pada 29 September 1980. Kode LL di ekor pesawat menyiratkan “Latih Lanjut.” Kemudian seiring reorganisasi TNI AU pada Januari 1985, Hawk MK.53 mendapat ‘promosi’ dengan masuk di jajaran Wing Tempur 300 yang berkedudukan di Lanud Iswahjudi, Madiun. Rumah baru Hawk MK.53 pun berganti menjadi Skadron Udara 15. Selain tetap mengemban peran latih lanjut bagi calon penerbang tempur, Hawk MK.53 juga mengemban peran sebagai pesawat berlabel TT (Tempur Taktis).
81113
Meski menyandang label TT, sejatinya kemampuan tempur Hawk MK.53 amat terbatas, maklum kodrat aslinya memang sebagai pesawat latih. Meski begitu, Hawk MK.53 mampu dipasangi kanon eksternal ADEN 30 mm di bawah body, roket FFAR dan bom ringan pada sayapnya. Singkat kata, Hawk MK.53 lumayan untuk misi serang darat terbatas. Perlu dicatat, varian Hawk MK.53 tidak dipersiapkan untuk membawa rudal udara ke udara sekelas AIM-9 Sidewinder.
Sebagai pesawat latih, keluarga Hawk dikenal memberikan kenyamanan kepada para penerbang. Hawk amat cocok digunakan untuk pengenalan basic training di jet tempur. Desain sayapnya yang swept wing, menambah fleksibilitas dalam melakukan manuver di udara. Untuk menunjang keselamatan, pesawat dilengkapi zero zero rocket boosted ejection seat Martin Baker MK.10, dan dapat digunakan saat pesawat masih ada di landasan. Kanopinya dibekali Miniatur Detonating Cord (MDC) sebagai pemecah kanopi, menjadikan proses penyelamatan lebih sempurna. Sementara untuk urusan mesin, Hawk mengusung Rolls Royce Adour Turbofan dengan sistem modular, alhasil untuk pemeliharaan jadi lebih ringan.

Berikut beberapa warna yang pernah digunakan pada Hawk MK.53 TNI AU
Warna khusus ini pernah digunakan pada pembuatan film IMAX (Indonesia Indah).
Warna khusus ini pernah digunakan pada pembuatan film IMAX (Indonesia Indah).
Warna Hawk MK.53 saat digunakan untuk peran Latih Lanjut.
Warna Hawk MK.53 saat digunakan untuk peran Latih Lanjut.
Hawk MK.53 dengan kamuflase fungsi Tempur Taktis (TT). Warna ini juga yang digunakan oleh JAT.
Hawk MK.53 dengan kamuflase fungsi Tempur Taktis (TT). Warna ini juga yang digunakan oleh JAT.
Teknisi sedang memasang drag chute.
Teknisi sedang memasang drag chute.

Andalan Tim Aerobatik TNI AU
Keberadaan Hawk MK.53 juga mewarnai kebangkitan tim aeroabatik TNI AU. Dimulai dengan “Spirit 85” yang tampil perdana pada HUT ABRI 1985 di Kemayoran. Kemudian formasi tim aerobatic melebur dan kembali hidup kembali pada dekade 90-an dengan nama JAT (Jupiter Aerobatic Team). Kini JAT tetap eksis melakukan atraksi aerobatk, namun tak lagi mengandalkan pesawat jet, melainkan dengan pesawat turbo propeller KT-1B Wong Bee buatan Korea Selatan.
4512
Hingga tahun 2011, dari 20 unit Hawk MK.53 yang dibeli Indonesia, hanya tinggal beberapa unit saja yang beroperasi. Dalam keseharian, hanya satu atau dua pesawat saja yang terbang akibat suku cadang yang sudah langka, dan masa pakai pesawat yang sudah mendekati purna tugas. Kemudian pada Kamis, 12 Maret 2015 menjadi momen bersejarah dan mengharukan. Dalam cuaca yang sejuk, 2 unit Hawk MK.53 yang tersisa akan melakukan penerbangan terakhir (last glight) dari Lanud Iswahjudi ke Lanud Adisutjipto. Dimana nantinya Hawk MK.53 akan menjadi penghuni baru bagi Museum Dirgantara Mandala, menambah semarak heterogen koleksi museum, Hawk MK.53 akan berdampingan bersama A4-Skyhawk dan pembom Tu-16 Badger. (Bayu Pamungkas)

Spesifikasi Hawk MK.53
– Pabrik : British Aerospace
– Awak : 2 orang
– Panjang : 11,85 meter
– Rentang sayap : 9,39 meter
– Tinggi : 4,10 meter
– Berat kosong : 3.628 Kg
– Berat maksimum : 7.750 Kg
– Mesin : Rolls Royce/Turbomeca Adour
– Kecepatan max : 1.2 Mach
– Ketinggian max : 13.565 meter
– Jarak jelajah : 2.520 Km
– Kecepatan menanjak : 47 meter per detik

Rabu, 08 April 2015

Pindad PM-2: Generasi Sub Machine Gun dengan Sentuhan Senapan Serbu

LU012192
Meski sebagian besar berstatus prototipe, PT Pindad terbilang gigih dalam meluncurkan berbagai inovasi alutsista, salah satu segmen yang cukup kentara adalah pengembangan senjata perorangan, terkhusus di lini Sub Machine Gun (SMG). TNI dan Polri memang familiar dengan beragam SMG besutan luar negeri, sebut saja Daewook K7 dan keluarga H&K MP5 yang melegenda. Namun sebagai BUMN strategis, adalah keharusan bagi Pindad untuk terus menciptakan terobosan-terobosan baru.
Setelah kurang berhasil dalam pemasaran PM-1, karena paling banter hanya dibuat ke versi PM-1A1 ‘forest guard gun’ untuk para penjaga hutan (Korps Jagawarna), masih di kaliber 9 mm, Pindad kemudian bangkit dengan merilis desain orisinil untuk generasi SMG keduanya. Sesuai tren, SMG generasi baru yang diberi label PM-2 dibangun dengan memanfaatkan receiver SS-2, bahkan Pindad sentuhan Daewook K7 pada desain final PM-2. Pada awalnya muncul tiga prototipe PM-2, yakni mulai dari PM-2V1, PM-2V2, dan PM-2V3. Untuk PM-2V1 dan PM-2V2 terlihat mengadopsi bentuk receiver konvensional, sementara PM-2V3 menggunakan pengokang depan ala HK MP5, hingga varian ini RIS (Rail Interface System) Picatinny, mirip dengan yang digunakan pada SS-1 R5. Dengan adanya RIS, maka senjata ini dapat dipasangi perangkat optical sight.

Pindad PM-1 yang digunakan Korps Jagawana.
Pindad PM-1 yang digunakan Korps Jagawana.
PM-2V1
PM-2V1
PM-2V2
PM-2V2 dengan peredam terintegrasi

Pindad juga menawarkan beragam jenis popor untuk PM-2. Mulai dari popor lipat besi ala SS-1 yang diperpendek, hingga model popor teleskopik empat posisi yang mencomot carabine M4. Karena menggunakan kaliber 9 mm, Pindad melakukan perubahan minor, diperlihatkan dengan mengubah ukuran lubang magasin 5,56 mm. Ini memberi pengaruh positif pada rigiditas magasin, meski bibir lubang magasin lebih dipertebal agar penembak dapat memasukan magasin lebih mudah.
DSC_9889DSC_9891DSC_9896
Lebih detail, pada bagian tiang pejera dilinndugi cincin alias ghost ring, sementara pisirnya menganut model diopter biasa. Pada komponen dalam, PM-2 masih menganut mekanisme blowback yang sederhana. Menganut prinsip low velocity, Pindad merancang PM-2 dengan beberapa pilihan amunisi, diantaranya:
MU-1TJ : Peluru standar NATO tipe 9 x 19 mm FMJ
MU-1M : Peluru high accuracy, dibuat dengan kontrol kualitas yang lebih baik.
MU-1S : Peluru subsonic, dibuat khusus untuk operasi senyap.
MU-1H : Peluru hampa, dibuat berbentuk crimp (bintang) dilapisi lilin untuk menahan mesiu di dalamnya.
MU-1K : Peluru karet, untuk operasi anti huru hara.
PM2DANVARIAN

Spesifikasi Pindad PM-2
– Tahun rilis : 2007
– Kaliber : 9 x 19 mm
– Sistem operasi : blowback
– Panjang total : 625 mm (popor terentang), 417 mm (popor terlipat)
– Panjang laras : 195 mm
– Bobot kosong : 2,9 Kg
– Jarak tembak efektif : 150 meter
– Kecepatan tembak : 550 peluru per menit
– Kecepatan proyektil : Peluru MU-1TJ (380 meter/detik), MU-S (300 meter/detik)
– Magasin : 32 peluru

Fasilitas Produksi Kapal Selam Indonesia Dibangun

 
image
Pemenuhan Kapal Selam oleh Pemerintah Indonesia untuk pengamanan batas wilayah laut Indonesia terlaksana dengan pembelian 3 kapal selam dari Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, Korea Selatan (DSME) oleh Kementerian Pertahanan RI. Pembelian kapal selam turut disertai Transfer of Technology yang melibatkan sekitar 206 personil PT PAL INDONESIA, untuk mempelajari produksi kapal selam di Korea. Hal ini sejalan dengan implementasi Undang-Undang 16 Tahun 2012 tentang Industri pertahanan, dimana PT PAL INDONESIA diberikan mandat untuk dapat secara mandiri memproduksi kapal selam bagi Indonesia.
Groundbreaking Pembangunan Fasilitas produksi Kapal Selam dihadiri Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Asisten Deputi Usaha Industri Agro dan Industri Strategis Kementerian BUMN, Kapusada Baranahan Kementerian Pertahanan, Tim Pelaksana KKIP, Perwakilan Daewoo Logistics, Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero), Jajaran Dewan Komisaris dan Direksi PT PAL INDONESIA, serta para Insan PAL yang mengikuti TOT kapal selam. Pemancangan tiang pancang pertama (Groundbreaking) fasilitas produksi kapal selam ini, sebagai tanda dimulainya pekerjaan konstruksi di lokasi proyek pembangunan fasilitas kapal selam yang letaknya di area sekitar dermaga divisi Pemeliharaan dan Perbaikan (Harkan) PT PAL INDONESIA.
Direktur Utama PT PAL INDONESIA, M. Firmansyah Arifin menyampaikan, sesuai amanah yang diberikan oleh pemerintah melalui keputusan KKIP No. SKEP/04/KKIP/XII/2012 tanggal 20 Des 2012 tentang penguasaan teknologi kapal selam, maka PAL INDONESIA telah melakukan 2 kegiatan yakni penyiapan SDM melalui TOT dan juga pembangunan fasilitas produksi kapal selam. Tak lupa juga disampaikan terima kasih kepada Komisi 1 dan komisi 6 DPR RI, Kementerian Pertahanan, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan partner-partner strategis yang turut serta.
Pada kesempatan ini, Laksamana TNI (Purn) Sumardjono selaku Ketua Pelaksana KKIP menyampaikan beberapa kajian penting ; ”Kita berharap program ini dapat memberikan dampak positif baik dalam aspek ekonomi, aspek politik, pengembangan kekuatan TNI, maupun bagi pengembangan industri pertahanan di Indonesia,” ucapnya lantang. Acara ini bukan sekedar ceremonial biasa tetapi harus dapat kita jadikan sebagai momentum kebangkitan industri pertahanan dalam pemenuhan alutsista terutama untuk kapal kombatan.
image
Kapusada Baranahan Kementerian Pertahanan, Laksamana Pertama Listyanto memberikan arahan agar proyek pembangunan kapal selam ini dapat berjalan tepat waktu. Disampaikan juga mengenai permenhan yang sedang tahap finalisasi, bahwa seluruh kegiatan harus mengacu pada kebutuhan gelar di lapangan. Jadi akan ditarik mundur sejak kapan penyiapan dokumen, dana dari dimulainya proses pembangunan. Hal ini dirasa penting, agar proyek-proyek yang akan dikerjakan dapat dimulai dan selesai tepat waktu.
Pembangunan ini bersinergi dengan BUMN Karya, yakni PT Waskita Karya (Persero) yang siap membangun fasilitas produksi kapal selam dengan luas area 170 m x 110 m yang terdiri dari Bengkel utama dan Bengkel Pendukung dengan kapasitas 2.000 ton. Selain untuk pembangunan kapal selam, bengkel ini juga akan digunakan sebagai tempat pemeliharaan dan perbaikan nantinya. Pembangunan fasilitas produksi Kapal Selam selain perwujudan dari pemenuhan rencana strategis pertahanan, juga sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi untuk penguasaan sumber daya kelautan.
Produksi kapal selam akan menandai penguasaan teknologi termodern oleh putra-putri bangsa dalam pembangunan kapal bawah air sebagai wujud kebangkitan program kemandirian bangsa dalam mempertahankan dan mengamankan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Produksi ini akan menjadi kapal pertama karya putra-putri bangsa sebagai hasil dari kerjasama teknologi dengan Korea Selatan.
Acara diakhiri dengan peninjauan lokasi fasilitas produksi kapal selam, yang kemudian dilanjutkan dengan laporan progress pembangunan kapal selam oleh PT PAL INDONESIA pada Tim Pelaksana KKIP yang dilaksanakan di gedung PIP lantai IV. (pal.co.id)

Tahun ini, Kodam XVIII Kasuari Terbentuk

 
alfian kartono Pangdam asih, Mayjen TNI Fransen G. Siahaan didampingi Asintel Kasdam XVII Cenderawasih, Kol Inf Immanuel Ginting dalam keterangan pers di Makodam Cenderawasih, Kamis (29/1/2015) sore.
Pangdam XVII Cendrawasih, Mayjen TNI Fransen G. Siahaan didampingi Asintel Kasdam XVII Cenderawasih, Kol Inf Immanuel Ginting dalam keterangan pers di Makodam Cenderawasih, Kamis (29/1/2015) (Alfian Kartono)

Dalam waktu dekat Pemerintah Pusat membentuk Komando Daerah Militer (Kodam) yang baru di Provinsi Papua Barat, terpisah dari Kodam XVII Cenderawasih Papua. Panglima Kodam XVII/ Cenderawasih, Mayjen TNI Fransen G Siahaan mengatakan pembentukan Kodam Papua Barat sudah mendapat persetujuan dari Presiden Joko Widodo.
Menurut Fransen, pembangunan Markas Kodam sedang dibangun dan diperkirakan selesai akhir 2015.
“Kodam Papua Barat, akan diberi nama Kasuari dan harapannya Panglima Kodam XVIII/ Kasuari nantinya berasal dari putra asli Papua. Saat ini ada 2 putra Papua yang berpangkat jenderal TNI dan seorang lagi berpangkat Kolonel,” jelas Fransen dihadapan peserta Musrembang Provinsi Papua Barat di Manokwari, Papua Barat, Selasa (7/4/2015).
Dijelaskan Fransen, setelah terbentuk Kodam XVIII/ Kasuari akan membawahi Komando Resor Militer (Korem) 171/ Praja Wira Tama yang berkedudukan di Sorong dan Korem 173/ Praja Wira Braja yang berkedudukan di Biak.
“Untuk pembentukan Kodim dan Koramil akan mengikuti Kodam baru ini. Saat ini kami pun sedang menyiapkan personil yang akan bertugas di Kodam Papua Barat,” ungkap Fransen.
Saat kunjungan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jendral TNI Gatot Nurmantyo ke Manokwari, Papua Barat, beberapa waktu lalu, mengungkapkan rencana pembangunan Markas Kodam Papua Barat di lokasi Markas Kompi C dan D Kodim 1703 Manokwari di Kelurahan Arfai, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari. Sementara untuk Markas Kompi C dan D Kodim 1703 Manokwari akan dipindahkan ke Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari yang sebelumnya merupakan lahan yang diperuntukkan untuk pembangunan Markas Kodam dari Pemerintah Provinsi Papua Barat. (Kompas.com).

KSAD : Australia Dorong Timor Timur Merdeka, Incar Minyak

 
KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo
KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Gatot Nurmantyo, mengungkapkan motif di balik sikap Australia yang membantu Timor Timur merdeka dari Indonesia dan kemudian menjadi negara Timor Leste pada 20 Mei 2002.
Australia, kata Gatot Nurmantyo, mengincar cadangan minyak dan gas di lepas pantai Laut Timor atau dikenal dikenal dengan Celah Timor. Australia ingin menguasai cadangan minyak yang melimpah di Celah Timor.
“Itu adalah bentuk proxy war (perang dengan memanfaatkan pihak ketiga). Australia saat itu membantu Timor Timur untuk lepas dari Indonesia. Itu diakui Xanana Gusmao (Perdana Menteri Timor Leste), bahwa Australia ada di balik lepasnya Timor Timur,” ujar Gatot dalam acara pertemuan Forum Pimpinan ?Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Malang, Selasa, 7 April 2015.
Celah Timor adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kawasan perairan antara Pulau Timor, Indonesia dan Australia. Batas laut antara Australia dan Indonesia dinegosiasikan pada tahun 1972. Namun bagian batas itu masih dalam perselisihan karena Portugal yang waktu itu mengklaim wilayah atas Timor Leste memutuskan untuk membatalkan mengikuti negosiasi.
Namun Timor Leste belum menentukan batas perairannya dengan negara tetangganya, Indonesia dan Australia. Negosiasi dimulai sejak tahun 2002. Meski sejumlah persetujuan interim, batas-batas perairan yang permanen belum ditentukan.
Australia dan perusahaan minyak internasional dituduh menekan Timor Leste untuk menerima formula bagi-hasil minyak. Timor Leste dan Australia menandatangani traktat pada Januari 2006 namun belum diratifikasi oleh negara lain hingga delapan bulan ke depan. (Viva.co.id).

Selasa, 07 April 2015

Daeng Koro Tewas, Kasad Berterima Kasih kepada Polisi

Daeng Koro Tewas, Kasad Berterima Kasih kepada Polisi
Kepala Staf Angkatan Darat TNI AD, Jenderal Gatot Nurmantyo. (VIVA.co.id/ Dyah Ayu Pitaloka.)

Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, mengungkapkan rasa terima kasihnya pada aparat kepolisian yang berhasil menewaskan Sabar Subagio alias Daeng Koro di Pegunungan Sakina Jaya, Desa Pangi, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah pada Jumat 3 April 2015. Detasemen Khusus 88 Antiteror melepaskan timah panas ke tubuh Daeng Koro dan menyebabkan mantan anggota TNI AD tersebut tewas.

"Kita bersyukur dan berterima kasih kepada polisi. Kalau ada yang seperti itu habisin saja," kata KASAD TNI AD, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di GOR Ken Arok Kota Malang, Selasa 7 April 2015.

Gatot menuturkan Daeng Koro dulunya adalah anggota TNI AD yang sudah dipecat belasan tahun lalu lantaran berbagai pelanggaran berat. Pria kelahian Jepara tahun 1963 itu dipecat dari kesatuan tahun 1992.

Anggota kelompok Santoso itu diduga banyak terlibat dalam berbagai kegiatan kerusuhan di Poso dan ikut menjadi dalang dalam pembunuhan dua personel polisi, Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman di Pegunungan Tamanjeka, Poso.

"Dia bukan tentara itu, sudah dipecat karena pelanggaran berat," ujarnya.

Menurut Gatot, berbagai kelompok radikal tidak akan bisa hidup langgeng di Indonesia asalkan warganya kembali melaksanakan kearifan lokal, seperti bergotong royong, anjang sana dan menerapkan wajib lapor. KASAD juga meminta setiap perumahan untuk membuat ruang publik tempat untuk berdiskusi atau sekedar silaturahmi bagi masyarakatnya melibatkan Babinsa, Babinkabtibmas, RT dan RW.

"Jika seperti itu apakah ada tempat bagi ISIS untuk bersembunyi dan berkembang? Saya rasa tidak akan bisa," imbuhnya.

Gatot pun menambahkan, hingga saat ini, tak ada satu anggota mereka yang terlibat atau menjadi pengikut ISIS. Namun, jika diketahui ada yang terlibat organisasi radikal itu maka akan diberikan sanksi dan diproses sesuai hukum yang berlaku.

"Sampai saat ini tidak ada. Kalau ada langsung dipecat,” tegas dia.
 

TNI Angkatan Udara berencana tambah alutsista

TNI Angkatan Udara berencana tambah alutsista
Atraksi pesawat TNI Angkatan Udara saat gladi bersih upacara peringatan Hari Angkatan Udara ke-66 tahun 2012 di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (7/4). (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf)
 
TNI Angkatan Udara berencana menambah alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk mendukung pertahanan wilayah udara Indonesia.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan sampai akhir 2014 TNI Angkatan Udara sudah punya 16 unit pesawat Sukhoi SU-30 dan lima unit pesawat F-16.

"Kedepan kita punya rencana dan strategi ingin pesawat early warning (peringatan dini) yang bisa meng-cover kegiatan wilayah operasi udara," katanya usai gladi bersih persiapan peringatan ulang tahun TNI Angkatan Udara di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa.

TNI Angkatan Udara juga berencana memperbanyak radar supaya bisa mencakup seluruh wilayah, dari Sabang sampai Marauke.

KSAU mengatakan TNI Angkatan Udara membutuhkan 32 radar namun baru memiliki 22 radar.

"Dua radar juga sudah datang tahun ini. Setiap tahun terus bertambah, sampai kita bisa meng-cover seluruh wilayah NKRI," ucapnya.

TNI Angkatan Udara juga mengusulkan pengadaan dua jenis pesawat tempur generasi kelima, Sukhoi SU-35 buatan Rusia dan pesawat tempur F-16 Block 70 buatan Amerika, untuk menggantikan pesawat jenis F-5 yang sudah tidak layak terbang.

"TNI AU sudah mengkaji Sukhoi 35 dan pesawat F-16 Block 70. Ini generasinya jelas di atas pesawat-pesawat tempur yang kita punya saat ini," ujarnya.

TNI Angkatan Udara sudah menyampaikan kajian itu ke Kementerian Pertahanan dan sekarang sedang menunggu keputusan kementerian.

"Kita tidak beli langsung satu skuadron. Secara bertahap. Kan negara luar juga bikin pesawat tempur terbatas. Semua pabrikan di dunia misalnya, mereka bikin 20 unit, nah setelah negosiasi antara pemerintah maka empat unit bisa dijual untuk Indonesia," ucapnya.

Sebelum pesawat Sukhoi SU-35 atau F-16 Block 70, TNI Angkatan Udara menggunakan pesawat F-5 yang masih bisa beroperasi.

"F-5 masih bagus sampai 2020, tapi memang sudah tidak bisa combat," ucapnya.