Jumat, 13 Maret 2015

JAS39 Gripen C/D paling cocok untuk Indonesia

JAS39 Gripen C/D paling cocok untuk Indonesia
Pesawat tempur multiperan buatan Swedia, Gripen (saabgroup.com)
 
Jika Indonesia berniat mendapatkan pesawat tempur JAS39 Gripen buatan SAAB AB, maka varian yang paling mungkin untuk bisa diserahkan dalam waktu cepat adalah JAS39 Gripen C/D, lengkap dengan semua sistem pendukung dan skema bisnisnya.

Hal itu dinyatakan Wakil Presiden Bisnis Aeronotika SAAB AB Jerker Ahlqvist kepada ANTARA News  di Stokholm, Kamis waktu setempat.

Indonesia sendiri dikabarkan dalam waktu dekat ini akan segera mengganti armada F-5E/F Tiger II dari daftar arsenal TNI AU.

Satu skuadron F-5E/F Tiger II itu tergabung dalam Skuadron Udara 14 TNI AU yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.

Pesawat-pesawat tempur itu berasal dari generasi 1980-an yang sebenarnya pernah diremajakan lewat Program MACAN, di Belgia, awal 2000.

Menurut Ahlqvist, lini produksi JAS39 Gripen serie yang diproduksi di hanggar pembuatan di Linkopping, Swedia, paling cepat bisa dibuat secara lengkap adalah JAS39 Gripen C/D.

Dia menilai, kedua varian itu  --selain JAS39 Gripen A/B-- juga yang menjadi andalan Wing Pendidikan 7 Angkatan Udara Kerajaan Swedia.

Varian JAS39 Gripen C memiliki kursi tunggal, sedangkan Gripen D bertipe kursi ganda. Varian C/D adalah pengembangan dari varian A/B.

Ahlqvist menyatakan, sejak kontrak pasti pembelian ditandatangani pemesan, maka penyerahan pertama bisa dilakukan kurang dari lima tahun kemudian.

"Waktu sesingkat itu termasuk cepat untuk kontrak pembelian pesawat tempur," kata dia.

Jika yang dipilih varian terkini yang masuk daftar pengembangan SAAB AB, maka itu adalah JAS39 Gripen NG (Next Generation) alias JAS39 Gripen E/F yang basis avionika dan fuselage-nya adalah JAS39 Gripen C/D.

Penyebutan kode varian NG adalah untuk kepentingan eksport dan investasi SAAB AB bagi JAS39 Gripen E/F untuk Angkatan Udara Brasil yang mulai empat tahun lagi.

Negara itu menempuh skema kemitraan lengkap dengan SAAB AB untuk memperkuat armada udara kelas multiperanini setelah membuka tender pengadaan yang juga diikuti Dassault Rafale dari Prancis.

"Akan tetapi, tahun penyerahannya menjadi 2020 atau 2030. Apa pun yang akan diputuskan, masih dalam tahap pembicaraan dengan Indonesia,” kata Ahlqvist.
 

KBRI di Swedia positif soal kerja sama dengan SAAB AB

KBRI di Swedia positif soal kerja sama dengan SAAB AB
Pesawat tempur JAS39 Gripen D diterbangkan pilot uji SAAB AB, Fredrik Muchler, di sarana uji coba pabrikan pesawat tempur itu, di Linkoping, Swedia, Rabu waktu setempat. JAS39 Gripen dapat mendarat pada jarak hanya 500 meter sejak "touch down" dengan biaya operasi rendah, sekitar 4.600 dolar Amerika Serikat perjam pada semua aspek. (www.antaranews.com/Ade P Marboen)

Stockholm, Swedia (ANTARA News) - Duta Besar Indonesia untuk Swedia, Dewa Made Sastrawan, positif terhadap kemungkinan kerja sama industri pertahanan dengan SAAB AB ataupun perusahaan lain Swedia bergerak di bidang ini. 

“Dari banyak negara yang memiliki industri pertahanan, cuma Swedia yang menawarkan skema kerja sama seperti ini. Konsep kerja sama yang ditawarkan membantu kita mempercepat penguasaan teknologi tinggi dan penerapannya di bidang lain,” katanya, kepada www.antaranews.com, di Stokholm, Swedia, Rabu waktu setempat. 

SAAB AB dari Swedia berniat turut dalam tender pengadaan pengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II dari Skuadron Udara 14 TNI AU. Pesawat tempur yang diajukan adalah JAS39 Gripen C/D atau JAS39 Gripen NG.

Seri JAS39 Gripen digadang-gadang akan bersaing dengan Sukhoi Su-35 Flanker, F-16 Block 60 Fighting Falcon, dan Eurofighter Typhoon. Sejauh ini proses tender dan pemberitahuan spesifikasi keperluan belum dinyatakan secara resmi oleh Indonesia. 

Dalam paket tawarannya, SAAB AB menawarkan produk industri pertahanan itu (JAS39 Gripen serie), skema penelitian dan pengembangan serta desain, peningkatan mutu SDM terkait dan pelatihan, dan transfer teknologi. 

Pada besaran investasi alias pembelian tertentu JAS39 Gripen, SAAB AB juga akan membantu memasarkan produk yang dihasilkan dari mitranya di Indonesia. 

Dalam berbisnis, SAAB AB memiliki pilar bisnis penelitian dan pengembangan, kualitas produk dan komitmen, ketersediaan, dan pelibatan mitra setempat. 

“Misalnya untuk mitra setempat di satu negara dan pengembangan kualitas SDM setempat. Kami ingin mendekatkan kehadiran produk kami kepada pengguna. Dengan begitu, mereka bisa melakukan perawatan dan perbaikan di tempat,” kata Deputi CEO SAAB, Lennart Sindahl, secara terpisah. 

"Dengan begitu, bisa semakin mengefektifkan anggaran biaya yang dimiliki kostumer kami," katanya. Hal serupa inilah yang mereka lakukan kepada pengguna JAS39 Gripen serie, di antaranya Brazil dan Thailand. 

Menurut Sastrawan, ada hal strategis yang bisa diraih Indonesia jika menjalin kerja sama industri pertahanan dengan Swedia. “Dalam hal material komposit atau teknologi radar, mereka sangat menguasai hal ini dan menjadi pemain penting di dunia,” katanya. 

Jika Indonesia menguasai hal ini maka pemanfaatannya secara bisnis dan praktis untuk substansi lain, kata dia, sangat bisa dilakukan Indonesia untuk kepentingan Indonesia sepenuhnya. 

“Mereka tidak menerapkan batasan apapun tentang ini. Saya pribadi telah beberapa kali membahas ini dengan para petinggi mereka,” katanya.

Satu Skuadron Sukhoi Su-35 Jaga Langit Indonesia

pesawat tempur buantan Rusia, Sukhoi Su-35
Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan membeli satu skuadron pesawat tempur buantan Rusia, Sukhoi Su-35. Pesawat tempur generasi kelima itu menggantikan pesawat F-5 yang dinilai sudah tidak layak terbang.
Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya membenarkan pesawat tempur Su-35 sudah masuk dalam rencana pembelian. Jumlah pesawat yang dibeli sebanyak 16 unit pesawat atau satu skuadron berikut persenjataannya.
“Iya benar, itu memang sudah masuk dalam rencana strategi (renstra) pembelian dan sudah sesuai dengan kebutuhan kita,” ujar Tantowi, Kamis 13 Maret 2015.
Saat disinggung anggaran yang dihabiskan untuk membeli pesawat tersebut, politikus Partai Golkar itu mengaku tidak mengetahui secara rinci.
Menurut Tantowi, pesawat tersebut akan tiba ke Indonesia secara bertahap. “Anggarannya beda dengan pembelian sebelumnya, tapi saya lupa berapa, tapi apa yang disampaikan Panglima TNI itu benar,” tegasnya.
Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengakui rencana pembelian Su-35. keputusan pembelian pesawat tempur tersebut melalui proses yang panjang
“Itu sudah menjadi pilihan bersama antara TNI dengan Kemhan dan sudah menjadi kesepakatan,” ujar Moeldoko usai mengikuti kegiatan TNI Mendengar dengan tema Ketahanan di Bidang Energi dengan Berbagai Permasalahan dan Solusinya di Aula Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2015). (Sindonews)

Panglima TNI: Percuma Beli Leopard kalau Tak Ada Bahan Bakarnya

Panglima TNI Jenderal Moeldoko. (ist)
Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, menyebut konsumsi bahan bakar untuk operasional TNI sepanjang 2014 mencapai 1 juta kilo liter. Untuk itu, ia menganggap persoalan energi akan berdampak serius terhadap prajuritnya jika tidak ditangani secara serius.
“Akan percuma kita beli (tank) Leopard, pesawat tempur kalau tidak ada bahan bakarnya, karena hanya bisa dipanasi, itupun memakai matahari,” bebernya usai Talkshow TNI Mendengar di Mabes TNI, Cilangkap, Kamis (12/3/2015).
Moeldoko menambahkan, ketergantungan TNI terhadap bahan energi sangat besar, terlebih hal tersebut termasuk syarat agar prajuritnya semakin profesional. Caranya dengan menggelar latihan serta patroli rutin.
“Ya kita pakai latihan, operasi juga kita ada tiga, yakni operasi perbatasan, operasi alur laut kepulauan, serta operasi flash poin seperti di Ambalat,” imbuhnya.
Hingga saat ini pun, kata Moeldoko, pihaknya juga tengah menyiapkan pembelian pesawat tempur generasi ke-4, Sukhoi SU-35 dari Rusia. Tentu, hal tersebut menambah kebutuhan bakar dari pemerintah.
“Sedang dipersiapkan, kan prosesnya goverment to goverment (untuk pembelian Sukhoi), jadi itu tanggung jawab pemerintah juga (menyiapkan energi),” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Moeldoko menyampaikan bahwa ia telah memerintahkan prajuritnya yang bertugas di perbatasan untuk menanam kemiri sunan. Fungsinya, agar mereka bisa mandiri dan dan tidak bergantung sepenuhnya kepada pemerintah.
“Ya minta yang diperbatasan untuk mulai mandiri, tanam kemiri sunan, itukan bisa dibuat bahan bakar,” pungkasnya. (Okezone)

White Dollar Sering Dipakai Untuk Danai Aksi Teroris

Panglima Moeldoko Serahkan 69.000 Black Dollar ke Wakapolri/Puspen TNI
Selain uang dolar yang diketahui masyarakat, ternyata di dunia beredar uang dolar tak lazim, yakni black dollar dan white dollar. Black dollar digunakan untuk transaksi narkoba, sementara white dollar digunakan untuk pembiayaan perang, terorisme dan aksi mata-mata.
Pengamat terorisme, Al Chaidar membenarkan pembiayaan terorisme menggunakan white dollar. “Iya benar (white dollar untuk danai terorisme),” jelas Chaidar seperti dilansir merdeka.com, Jumat (13/3).
Namun, Chaidar menjelaskan bahwa white dollar tersebut hanya kiasan. White dollar sebenarnya adalah uang yang diperoleh dari jual beli minyak bumi di pasar gelap.
“Oh enggak, white dollar itu hanya istilah. Itu sebenarnya uang yang diperoleh dari penjualan minyak ilegal di pasar gelap,” jelas Chaidar.
Lebih lanjut Chaidar menjelaskan, white dollar ini merupakan uang resmi yang dikeluarkan oleh bank sentral dan memiliki nomor seri sehingga bisa digunakan untuk bertransaksi. Namun, nomor seri white dollar ini sudah ditandai oleh otoritas keuangan.
“Itu adalah uang-uang yang nomor serinya sudah ditandai karena digunakan untuk transaksi ilegal. Itu bukan uang palsu, memang teregister, ini adalah uang yang diperdagangkan untuk hal-hal ilegal,” papar Chaidar.
The Fed, selaku otoritas keuangan yang mencetak dolar AS, menurut Chaidar sudah mengetahui peredaran white dollar tersebut. Namun, Chaidar meyakini AS juga turut andil dalam kegiatan terorisme dengan motif untuk menguasai ladang minyak di wilayah Arab.
“Mereka (The Fed) tahu peredarannya, mungkin mereka juga sengaja (membiarkan white dollar beredar), kan mereka juga kesulitan untuk mendapatkan minyak,” jelas Chaidar.
Untuk jumlah white dollar yang beredar, Chaidar mengaku tidak mengetahui secara pasti, namun diyakini nilainya spektakuler.(merdeka)

Panglima Moeldoko Serahkan 69.000 Black Dollar ke Wakapolri

Panglima Moeldoko Serahkan 69.000 Black Dollar ke Wakapolri/Puspen TNI
Panglima TNI Jendral Moeldoko menyerahkan 69.000 lembaran black dollar dengan uang pecahan USD100 atau senilai Rp8 miliar kepada Wakapolri Komjen Badrodin Haiti di Markas Komando Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal).
Dansatgasopssus TNI AL, Kolonel Laut (P) S. Irawan mengatakan, uang palsu ini merupakan hasil temuan anggota Denintelarmabar yang memperoleh informasi ada prilaku dari oknum TNI AL, Mayor Laut (P) Zaid Joko Utomo, yang berdomisili di Komplek TNI Sunter, Jakarta Utara, yang diduga menggunakan narkoba.
“Kita melakukan kontrol terhadap anggota dan mengikutinya sampai ke diskotik, dari situ langsung kita lakukan penangkapan di rumahnya pada 4 Maret 2015,” kata Irawan kepada wartawan, di Mako Pomal, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (13/3/2015).
Setelah melakukan penangkapan, sambung Irwan, petugas melakukan pengembangan kasus. “Dari hasil pengembangan yang bersangkutan, diperoleh keterangan bahwa dirinya menerima black dollar dari I Made Gede Markadiwan yang berdomisili di Bali yang kemudian diketahui dollar tersebut berasal dari Ketut Srianing,” bebernya.
Selanjutnya, Petugas melaksanakan penjemputan pada 12 Maret 2015 ke kediaman Ketut Sraning di Bali. “Kita bawa ke Puspomal dan dari hasil penyelidikan yang bersangkutan mengakui dolar tesebut merupakan miliknya,” ungkapnya.
Jendral TNI Moeldoko mengapresiasi anggotanya yang berhasil melakukan pengungkapan atas kasus ini. Dia pun berjanji akan menindak tegas anggotanya yang terlibat kasus narkoba.
“Ditemukan satu anggota berpangkat Mayor dan kita akan melakukan pemecatan terhadap yang bersangkutan. Tidak ada cerita, dia positif narkoba dan dari hasil pengungkapan ini ditemukan barang bukti sebanyak 69.000 lembar black dollar,” jelas Moeldoko.
Sementara, Wakapolri Badrodin haiti, menjelaskan, telah menerima barang bukti tersebut. Dia menuturkan anggota TNI yang terlibat akan dilakukan penyelidikan oleh POM TNI.
“Namun ada dua orang sipil yang terlibat terkait uang palsu itu yang berdomisili di Bali dan kita akan berikan sanksi,” tandasnya.(okezone)

Operasi Senyap ala Inggris di Balik Terpidana Mati Bali Nine

Masih soal kontroversi Bali Nine. Sebenarnya Australia mendesak dibatalkannya eksekusi hukuman mati warganya yang terpidana kasus narkoba sudah pada tingkat yang tidak wajar. Karena sepertinya sudah pada taraf ngotot dan ngancam-ngancam segala, sehingga jadi tanda tanya.

Apa benar yang mau dieksekusi ini memang murni pelaku kejahatan narkoba, atau jangan jangan agen intelijen Australia yang kebuka kedoknya dalam sebuah operasi rahasia.


Sebab gejalanya itu sampai segitunya Australia mendesak warganya untuk dibatalkan hukuman matinya. Kalau soal desakan untuk mengubah hukuman mati, sebenarnya Indonesia juga sering.

Tapi kan soal TKI yang biasanya meski ujungnya terkena kasus pembunuhan, tapi pemicunya juga akibat penindasan oleh majikan-majikannya di tempat kerjanya.

Tapi dalam kasus Bali Nine, ini kan kasus narkoba, yang di negerinya sendiri ini merupakan kejahatan kategori serius. Baik terkait pengguna, apalagi pemasok dan pengedar yang mengendalikan jaringna silumannya.

Jadi, kenapa begitu ngototnya? Sampai-sampai, Menlu Australia ngancam, kalau sampai pemerintah kita eksekusi, tahu sendiri resikonya. Wah.

Ada dugaan kuat bahwa Andrew Chan dan Sukumaran merupakan Agen intelijen Australia, karena sikap pembelaan Tony Abott dan Bishop sudah tak wajar, janggal, aneh dan membabi buta hingga mau melakukan barter untuk keduanya.

Padahal Andrew dan Sukumaran bukan warga asli Australia, sementara publik Australia sendiri menganggap wajar hukuman mati. Indonesia memang merupakan sasaran intelijen asing untuk dihancurkan, apabila dibiarkan kekuatan bisa membahayakan kekuatan AS, Inggris dan negara sekutunya seperti Australia.

Kalangan intelijen asing sudah memprediksi Indonesia bakal menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia baru setelah Cina dan india
Tapi, mungkinkah agen intelijen asing berkedok sebagai pengedar atau pemasok narkoba sebagai kegiatan tersamar untuk sebuah misi rahasia yang tentunya dilakukan melalui sebuah operasi intelijen?

Terlepas apa misi rahasia dan tujuan operasi intelijen berkedok sebagai penjahat narkoba, saya teringat ucapan almarhum Jenderal Hario Kecik. Beliau bilang:
"Dan saya juga tidak akan lupa, bahwa kolonialis Belanda dan Inggris masih membina keturunan kader Van Mook dari Angkatan 1947 yang pada saat ini pasti ada dalam jumlah yang cukup besar. Mereka itu malahan berada di lapisan atas masyarakat kita. Mungkin bahkan mereka berada di dalam kelompok pengedar besar Narkoba (Mayor Jenderal purnawirawan Hario Kecik)."
Nah, bisa juga kan kegiatan penyelundupan narkoba sebagai kejahatan lintas negara, merupakan pintu masuk yang efektif untuk sebuah operasi intelijen Australia, ataupun negara-negara lain. Apapun misi dan tujuannya.

Masih ingat Perang Candu? Melalui Perang Candu, Inggris mampu merusak generasi Cina hingga terjadi lost generation di abad ke 18 lalu. Lha, Australia itu 'kan hingga kini masih berada dalam kendali Inggris melalui Perhimpunan Negara-Negara Persemakmuran alias Commin Wealth, yang merupakan perhimpunan negara-negara eks jajahan Inggris seperti India, Malaysia, Singapore, Pakistan, Brunei Darussalam, dan lain-lain.

Dengan demikian, operasi intelijen Australia bermodus penyelundupan narkoba bisa jadi merupakan bagian integral dari skema operasi intelijen Inggris.

Karena itu masuk akal bukan jika dua terpidana mati asal Australia tersebut merupakan agen-agen intelijen Australia?

theglobal-review.com